Posts

Beasiswa Alumni – MTI UII

Beasiswa Alumni dari Program Studi (Prodi) S1 Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) adalah program bagi Alumninya untuk melanjutkan Studi S2 di Magister Teknik Industri (MTI) Program Pascasarjana FTI UII. Adapun pendaftaran sampai dengan Sabtu, 24 Maret 2018, Perkulihan mulai tanggal Senin, 2 April 2018.

Hal tersebut disampaikan Dr Ir Elisa Kusrini MT CPIM CSCP, Sekretaris Program Pascasarjana FTI UII di ruang kerjanya Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km 14,4 Sleman Daerah istimewa Yogyakarta (16 Maret 2018)

Baca : Berma, Kuliah di MTI Sangat Menyenangkan 

Dr. Ir. Elisa Kusrini, menambahkan Keunggulan Kuliah di MTI PPs FTI UII, adalah  selain Akreditasi B dari BAN PT, juga dapat meraih Double Designation: gelar Magister Teknik (MT) dan gelar Sertifikasi Internasional – Certified International Project Manager (CPIM) atau Accredited Supply Chain Analyst (ASCA) (Optional). “Mahasiswa juga mendapatkan kesempatan mengambil Sertifikasi Keahlian dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi / BNSP – (Certified Risk management Officer) dan tersedia Beasiswa dalam bentuk SPP dan Bantuan Biaya Riset (Tesis)” pungkasnya

Adapun info detail Beasiswa Alumni – MTI UII  hubungi sdr Jerri Irgo – 0813.9246.9391

Jerri Irgo

Berma, Kuliah di MTI Sangat Menyenangkan

Berma Septiyanda, Mahasiswa Magister Teknik Industri (MTI) Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta,  ungkapkan alasan mengapa kuliah di MTI.

“Selain memiliki Konsentrasi yang sesuai dengan minat dan ter-update seperti Logistik, Supply Chain dan Ergonomi K3. MTI memiliki metode belajar yang menarik, fleksibel memungkinkan  untuk Mahasiswa dan Dosen selalu berinteraksi walaupun diluar ruang kelas” ungkapnya saat ditemui di ruang kuliah PPs 1 FTI UII Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII Yogyakarta (24 Februari 2018).

Baca : Tantangan Profesional Teknik Industri

Hal tersebut sangat beralasan karena MTI PPs FTI UII saat ini memiliki 4 konsentrasi yaitu Teknik Industri, Manajemen Industri, Ergonomi dan Keselamatan & Kesehatan Industri dan Logistic & Supply Chain Management. Serta dukungan staf pengajar dari profesional salah satunya Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia juga menjabat Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) periode 2018-2023.

Berma Septiyanda, menambahkan “Selain itu, banyak program yang dapat menunjang kebutuhan untuk kedepannya, seperti pelatihan, kunjungan. Pastinya Kuliah di MTI sangat menyenangkan” tutur mahasiswa MTI angkatan 2016 tersebut

Baca Juga : Knowledge, Skill dan Attitude

Secara terpisah Dr. Ir. Elisa Kusrini, MT, CPIM, CSCP, Sekretaris PPs FTI UII melengkapi keunggulan mengapa Kuliah di MTI PPs FTI UII, diantaranya selain Akreditasi B dari BAN PT, juga dapat meraih Double Designation: gelar Magister Teknik (MT) dan gelar Sertifikasi Internasional – Certified International Project Manager (CPIM) atau Accredited Supply Chain Analyst (ASCA) (Optional). “Mahasiswa juga mendapatkan kesempatan mengambil Sertifikasi Keahlian dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi / BNSP – (Certified Risk management Officer) dan tersedia Beasiswa dalam bentuk SPP dan Bantuan Biaya Riset (Tesis)” pungkasnya

Jerri Irgo.

Jalan Panjang Implementasi Green Logistics di Indonesia

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  CEO Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Inti dari aktivitas logistik adalah memindahkan material dari pemasok ke produsen untuk proses produksi, dan memindahkan barang dari produsen ke konsumen. Aktivitas logistik memerlukan transportasi, peralatan penanganan material (material handling equipment), dan gudang. Selain itu, untuk mendukung aktivitas transportasi, diperlukan bahan bakar dan infrastruktur berupa jalan raya, rel kereta api, terminal, depo, stasiun, dermaga, pelabuhan, dan bandar udara. Lebih dari 70% aktivitas logistik berasal dari transportasi.

 

Peningkatan aktivitas sektor ekonomi, baik sektor primer seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan pertambangan, sektor sekunder seperti manufaktur dan industri pengolahan, maupun sektor tersier seperti jasa, akan mendorong peningkatan aktivitas logistik. Transportasi pun semakin meningkat, baik jumlah kendaraan, volume barang yang diangkut, frekuensi angkutan, maupun rute yang dilayani.

 

Transportasi berdampak pada penurunan kualitas lingkungan dan kesehatan melaui polusi udara, kemacetan, dan kebisingan suara. Peningkatan jejak karbon, terutama karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), dan particular matter (PM) yang dihasilkan dari emisi pembakaran bahan bakar di mesin kendaraan berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Selain itu, aktivitas transportasi berisiko pada kecelakaan.

 

Peningkatan pemasanan global, perubahan iklim dunia, dan efek gas rumah kaca (GRK) atau greenhouse gas emission (GGH) telah menjadi kecemasan global penduduk bumi menyangkut masa depan bumi dan masa depan manusia. Data dari Bank Dunia, kontribusi Indonesia dalam emisi gas rumah kaca saat ini berkisar 4,47% atau setara 2.161 metric ton CO2 (MtCO2e) dari emisi total di negara-negara seluruh dunia yang sebanyak 48.257 MtCO2e (bandingkan dengan Tiongkok 11,7% atau setara 5.646 MtCO2e).

 

Bila dihitung emisi per kapita, kontribusi Indonesia di atas rata-rata emisi per kapita penduduk dunia, yaitu 8,6 MtCO2e, sementara rata-rata emisi per kapita penduduk dunia 6,72 MtCO2e. Karenanya, upaya penurunan emisi GRK selalu menjadi perhatian serius berbagai kalangan, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat secara luas. Sektor logistik salah satunya.

 

Dalam konteks logistik, kontribusi emisi CO2 terbanyak dihasilkan dari aktivitas transportasi, menyumbang hampir 90%. Perbaikan manajemen transportasi untuk penurunan emisi CO2 perlu dilakukan secara kontinu dan konsisten.

 

Perbaikan Transportasi

Proses perbaikan transportasi untuk logistik dilakukan secara komprehensif dan efektif. Langkah pertama adalah menetapkan sasaran utama fokus perbaikan transportasi logistik, yaitu penurunan emisi CO2. Pemikiran selanjutnya dapat dikembangkan dengan mengidentifikasi apa saja pemicu (driver) emisi CO2 dalam aktivitas transportasi logistik? Jelasnya, peningkatan emisi CO2 itu disebabkan apa? Jumlah kendaraan yang digunakan dalam transportasi? Jenis kendaraan? Teknologi mesin kendaraan? Bahan bakar yang

 

digunakan? Perilaku sopir dalam mengendarai truck? Kualitas infrastruktur jalan? Utilisasi kapasitas kendaraan? Pengaturan rute? Frekuensi? Desain jaringan transportasi? Dan masih banyak lagi penyebab emisi CO2 yang dihasilkan dari aktivitas transportasi logistik.

 

Sasaran penurunan emisi CO2 perlu dieloborasi dalam penetapan indikator kinerja emisi, seperti rata-rata jumlah liter bahan bakar per ton kilometer, jumlah kilometer kendaraan kosong (empty container atau truck), tingkat utilisasi kendaraan, jumlah kendaraan yang digunakan, sampai kepada pengukuran yang lebih spesifik, yaitu jumlah emisi CO2.

 

Ukuran indikator kinerja emisi ini dijadikan KPIs (key performance indicators). KPIs ini dijadikan tolok ukur target penurunan emisi oleh para operator penyedia jasa logistik – baik transporter, pemilik barang (produsen), maupun perusahaan 3rd-party logistics (3PL). Pemerintah melalui kementerian atau dinas terkait seperti Dinas Perhubungan dan Dinas Lingkungan memonitor pencapaian indikator penurunan emisi CO2.

 

Setelah KPI penurunan emisi ditetapkan, langkah selanjutnya adalah menilai (assessment) setiap KPIs saat ini. Berapa nilai untuk setiap KPI penurunan emisi? Kemudian, berapa target KPIs untuk penurunan emisi CO2? Selisih atau gap antara nilai KPIs saat ini (current state KPIs emission) dengan target KPIs yang diinginkan (future state KPIs emission) merupakan target perbaikan. Dari target perbaikan ini selanjutnya dikembangkan berbagai alternatif perbaikan logistik untuk menurunkan emisi CO2 sesuai KPI penurunan emisi yang ditetapkan.

 

Sejatinya, penurunan emisi CO2 dari aktivitas transportasi logistik dilakukan dengan mengurangi pemakaian bahan bakar dan optimalisasi penggunaan kendaraan. Ini sejalan dengan prinsip reduce pada strategi 3R (reduce, reuse, dan recycle) dalam mengurangi limbah dan emisi CO2.

 

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan transporter, produsen, dan perusahaan 3PL untuk mengurangi emisi CO2.

 

  1. Distribution Center (DC) dengan Sistem Hub & Spoke. Sasaran dari strategi ini adalah pengurangan jumlah truck sehingga akan mengurangi pemakaian bahan bakar. Pengurangan pemakaian bahan bakar akan mengurangi emisi CO2. Seringkali perusahaan, baik itu produsen, distributor, maupun grosir menggunakan banyak truck secara langsung dari produsen ke distributor dan ke pengecer untuk melayani distribusi barang.

 

Pengurangan jumlah truck dalam transportasi pada saluran distribusi dilakukan dengan strategi jaringan hub & spoke. Dalam rantai pasokan untuk saluran distribusi ditetapkan beberapa hub atau lebih populer dengan istilah distribution center (DC) yang dibangun untuk melayani beberapa grosir atau toko pengecer. Penetapan berapa banyak DC dan di lokasi mana didasarkan pada pertimbangan volume, frekuensi pengiriman, jarak, dan waktu tempuh pengiriman. Semakin sedikit penggunaan truck dalam desain distribusi, semakin baik.

 

  1. Konsolidasi Pengiriman. Strategi ini sejalan dengan DC sistem hub & spoke. Konsolidasi pengiriman dilakukan dengan cara mengkonsolidasi barang yang akan

 

dikirim dalam volume besar, untuk selanjutnya diangkut dengan menggunakan truck yang memiliki kapasitas lebih besar. Efisiensi dicapai melalui skala ekonomi. Penurunan pemakaian truck terjadi, sehingga penurunan emisi CO2 pun dapat diwujudkan.

 

  1. Pengalihan Moda Transportasi. Penggunaan truck untuk transportasi logistik berdampak pada peningkatan emisi CO2. Kapasitas truck relatif sedikit bila dibandingkan dengan moda transportasi lain seperti kereta api dan kapal. Karena kapasitas truck sedikit, untuk mengangkut volume barang dalam jumlah besar diperlukan banyak truck. Tentu, penggunaan truck yang banyak, selain peningkatan emisi CO2, juga menimbulkan kemacetan yang semakin parah, baik di jalan perkotaan maupun jalan antarkota.

 

Pada jarak yang lebih dari 500 kilometer, penggunaan moda kereta api lebih efektif dan efisien. Utamanya dari pertimbangan ramah lingkungan, karena emisi CO2 yang dihasilkan kereta api lebih sedikit bila dibandingkan dengan truck dalam satuan emisi CO2 per ton per kilometer. Demikian juga, penggunaan moda kapal laut untuk jarak angkut lebih dari 1.000 kilometer akan lebih efektif, karena pengurangan emisi CO2, mengurangi kemacetan di jalan raya, dan menurunkan biaya transportasi per ton.

 

  1. Perilaku Safety dan Eco-driving. Perilaku sopir dalam mengemudikan truck memengaruhi tingkat keselamatan dan pemakaian bahan bakar. Pengkomunikasian dan pelatihan mengenai safety dan eco-driving perlu dilakukan, agar para sopir memahami dan mampu mengemudikan truck dengan selamat, aman, dan hemat bahan bakar.

 

  1. Penerapan Transport Management System. Aplikasi ini akan dapat dicapai efisiensi dan efektivitas transportasi, melalui optimalisasi rute, jenis kapasitas truck, jumlah truck yang digunakan, jarak dan waktu tempuh truck, dan utilisasi kapasitas truk dengan pengisian barang kembali (balen). Selain itu, aplikasi TMS yang terhubung dengan GPS dan CCTV di dalam truck yang dapat memonitor perilaku sopir selama mengemudikan kendaraan akan dapat memastikan pelaksanaan safety dan eco- driving.

 

  1. Penggunaan Moda Transportasi Bersama. Di era resources sharing ini memungkinkan untuk dilakukan kolaborasi antarpemilik barang, baik produsen, distributor, maupun grosir untuk berbagi kapasitas transportasi dalam pengiriman barang. Efisiensi akan dicapai dari kolaborasi resource sharing ini.

 

  1. Penggunaan Bahan Bakar atau Energi Alternatif. Bahan bakar jenis fosil menjadi penyebab utama peningkatan emisi CO2. Karenanya, bahan bakar alternatif untuk transportasi mulai dikembangkan dan digunakan. Bahan bakar alternatif seperti Compressed Natural Gas (CNG), Liquefied Natural Gas (LNG), Liquefied Petroleum Gas (LPG), bio-diesel, electric power, Dimethyl Ether (DME), dan Ethanol, menjadi alternatif pengganti bahan bakar dari fosil untuk mengurangi emisi CO2.

 

 

Jalan Panjang

Keberhasilan implementasi strategi dan program-program penurunan emisi CO2dalam sektor logistik, yang dikenal dengan green logistics atau logistik hijau, logistik yang ramah lingkungan

– memerlukan komitmen dan keseriusan dari pengusaha, pemerintah, dan masyarakat.

 

Dari kalangan pengusaha di sektor logistik, kontribusi nyata yang dapat dilakukan untuk turut mengurangi emisi CO2, adalah pengurangan jumlah kendaraan dan penggunaan energi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.

 

Kesungguhan para pengusaha, utamanya produsen pemilik barang dan pengusaha operator kendaraan untuk menerapkan desain jaringan hub & spoke, konsolidasi pengiriman, pengalihan moda transportasi dari truck ke kereta api dan kapal untuk jarak transportasi jauh, dan pelatihan secara intensif ke para sopir untuk berperilaku safety & eco-driving, menjadi kunci keberhasilan green logistics ini.

 

Kerelaan untuk berbagi resource, utamanya penggunaan bersama kendaraan dengan produsen pemilik barang lain, sehingga dapat dicapai skala ekonomis dan optimaliasi kapasitas kendaraan, juga menjadi kunci keberhasilan green logistics.

 

Pemerintah perlu secara intensif melakukan pemutakhiran regulasi dan kebijakan pelaksanaan green logistics ini, dengan peraturan yang lebih sederhana dan mudah dilaksanakan. Tolok ukur peran pemerintah bukanlah dari ukuran banyaknya peraturan yang telah dihasilkan, namun yang lebih penting adalah efektivitas pelaksanaan dari peraturan tersebut. Pengawasan dan penegakan peraturan menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan green logistics. Selain itu, pemberian insentif berupa penurunan bunga pembiayaan, insentif pajak, dan lain-lain dapat diterapkan bagi perusahaan yang berhasil menurunkan emisi CO2.

 

Konsumen sebagai bagian dari masyarakat dapat berkontribusi untuk turut mendorong implementasi green logistics ini dengan cara memilih produk yang dihasilkan dari produsen yang menerapkan green logistics. Selain itu, membiasakan perilaku 3R (reduce, reuse, dan recycle) atas produk-produk yang digunakan sehari-hari, dengan sasaran mengurangi emisi CO2.

 

***

 

Bumi dan seisinya perlu kita jaga keasrian dan keberlangsungnnya. Lingkungan yang asri, bersih, dan sehat merupakan tanggung jawab bersama. Kesadaran global dalam menjaga kelestarian lingkungan bumi dan alam semesta mendorong para pemimpin organisasi bisnis, pemerintah, dan masyarakat untuk memerhatikan dampak lingkungan.

 

Kesadaran bahwa bumi yang kita huni saat ini perlu kita rawat dan jaga kelestariannya, agar anak-anak generasi mendatang tetap dapat tinggal nyaman dan damai di bumi. Sebab, bukankah sejatinya kita meminjam bumi ini dari mereka?

 

Bandung, 2 Desember 2017

 

 

Tips dan Trik Retno, Dapatkan Nilai Maksimal

Danar Retno Sari

Danar Retno Sari, Mahasiswi Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri (PPs FTI UII) berkesempatan membagi tips dan triks untuk mendapatkan nilai (IPK) secara maksimal atau meraih predikat Cum Laude.

Cum Laude adalah predikat tertinggi yang diberikan Perguruan Tinggi untuk prestasi akademik mahasiswanya. Ada beberapa predikat yang termasuk ke dalam Cum Laude seperti magna cum laude yang berarti lulus dengan banyak pujian dan summa cum laude yang artinya lulus dengan pujian terbanyak. “Sebenarnya sederhana sekali tips dan trik untuk dapat nilai yang maksimal” ujar Retno, melalui pesan singkatnya  (1 Shafar 1438 H/1 November 2016).

Mahasiswi asal Balikpapan, Kalimantan Timur, yang sedang menempuh semester 2 di konsentrasi Sistem Informasi Enterprise (SIE), saat ini tercatat meraih nilai maksimal di Kartu Hasil Studinya.

Alhamdulillah, semua berangkat dari pengalaman waktu kuliah S1, di semester akhir saya hanya ambil mata kuliah Skripsi dan 1 mata kuliah, sehingga saya hanya ke kampus 1 kali dalam seminggu, selebihnya hanya bimbingan yang saat itu juga dilakukan secara online, kemudian saya diberikan nasihat dari kakak sepupu saya yang alumni FTI UII juga, yang bilang ini waktu saya lagi mengerjakan skripsi .

“Skripsi walaupun tidak ada tatap muka dikelas, ada baiknya harus diperlakukan seperti mata kuliah yang lain. Apalagi Skripsi 6 SKS, jadi usahakan, satu hari itu kamu meluangkan waktu untuk mengerjakan Skripsi sama kayak kamu tiap hari kuliah” ujar Retno mengutip pesan kakak sepupunya.

“Hal itu terbawa hingga sekarang, walaupun mata kuliah S2 lebih sedikit, tapi ternyata tugasnya lebih banyak dari pada kuliahnya, sehingga walaupun kuliah hanya 2 kali dalam seminggu, tapi seolah olah saya kuliahnya 6 kali seminggu, 5 kalinya dipakai untuk “ngeliatin” tugas. Walaupun sehari paling hanya efektif 3-4 jam saja buat ngeliatin tugasnya, karena saya tidak sambil bekerja” jelas

“Tapi saya lebih salut lagi sama teman-teman yang kuliah sambil bekerja, teman-teman tersebut pasti manajemen waktunya keren banget. Membagi waktu untuk, kerja, kuliah, ngerjain tugas dan istirahat. Semoga saya dapat lebih banyak belajar dari mereka” pungkasnya.

Jerri Irgo

Videotron dan Pornografi di Jakarta Selatan

Yudi Prayudi Digital Forensik Magister Teknik Informatika PPs FTI UII

Munculnya tayangan video porno pada videotron yang terpasang pada salah satu sudut jalan di wilayah Jakarta Selatan. Kesengajaan ataukah bukan tentunya tidak bisa disimpulkan secara cepat, namun memerlukan penyelidikan lebih lanjut. “Demikian juga dengan dugaan apakah ini kedua kejadian tersebut merupakan sebuah modus dari cybercrime ataupun bukan juga tidak bisa disimpulkan begitu saja tanpa melihat fakta yang terungkap dari proses penyelidikan tersebut” ujar Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom, Direktur Pusat Studi Forensika Digital (PUSFID) UII Yogyakarta.

Yudi, menambahkan “Dalam kasus videotron di Jakarta Selatan ini, dugaan sementaranya adalah admin atau operator dari komputer tersebut, tengah menonton/memutar video porno di komputer melalui layanan streaming video dari alamat tertentu. Namun tanpa disadari, komputer yang digunakan untuk mengakses layanan streaming video tersebut ternyata sedang terhubung ke videotron tertentu yang terletak di Jakarta Selatan tersebut”

“Dengan fakta tersebut maka ada beberapa kemungkinan munculnya konten tersebut pada videotron, yang pertama Operator /admin computer tidak sengaja melakukannya, yang bersangkutan sedang membuka videostreaming alamat tertentu dan tidak menyadari kalau komputernya sebenarnya sedang terkoneksi pada videotron yang berdampak apa yang dilihat pada komputernya akhirnya terlihat pula di videotron” ujarnya.

Kemungkinan lain, katanya “adalah komputer operator/admin terkena sebuah virus semacam RAT (remote access Trojan) yang memungkinkan computer tertentu dapat mengakses computer lainnya dan kemudian menjalankan aktivitas tertentu. Hal ini sejalan dengan klaim dari pihak manajemen pengelola videotron yang mengklaim bahwa terjadi penyusupan file tertentu yang mengakibatkan videotron tersebut tidak dapat dikendalikan oleh admin dan diarahkan oleh pihak tertentu untuk akhirnya mengakses alamat tertentu dan akhirnya menampilkan konten illegal.”

“Dan yang ketiga adanya aktifitas hacking yang sangat canggih yang dikenal istilah air gap hacking, yaitu hacking peralatan elektronik (umumnya adalah alat-alat yang dikendalikan secara remote misalnya : videotron, traffic lalu lintas bahkan kendaraan yang sudah menerapkan system computer).

Teknik yang dilakukan adalah memanfaatkan frekuensi gelombang untuk melakukan transfer data atau pengambil alihan control alat. Jadi tidak lagi digunakan koneksi internet namun memanfaatkan celah frekuensi yang ada pada alat elektronik tersebut. Bila ini yang terjadi, berarti memang sedang ada seseorang yang sedang mencoba untuk menerapkan teknik hacking ini pada alat videotron yang menjadi target tersebut.

“Dapat dipastikan orang tersebut memiliki skill computer dan elektronika yang sangat baik karena menerapkan teknik hacking yang cukup canggih. Mana yang paling benar adalah wewenang dari tim penyidik serta mempertimbangkan berbagai temuan artefak digital yang terdapat pada videotron maupun computer perusahaannya” ” pungkas Yudi yang juga Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri UII

Berita Terkait

Media Indonesia Ini Kemungkinan Penyebab Kasus Videotron 

Republika : Kominfo Dinilai Sudah Tangkal Situs Porno Secara Maksimal

Metro News : Analisa Ahli Soal Misteri Video Porno Muncul di Papan Iklan

Jerri Irgo

Manajemen Risiko Picu Ilmu Praktis

teduh_dirgahayu_muhammad_zamkhani_asuransi_jiwasraya_pps_fti_uii_2016

YOGYAKARTA– Pengetahuan akan manajemen risiko dinilai perlu diketahui oleh mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja. Melalui penguasaan manajemen risiko, diharapkan mahasiswa memiliki keilmuan praktis saat menghadapi berbagai tantangan dan persoalan. “Bagi kami sendiri di program magister, pengetahuan akan ma najemen risiko cukup penting. Karenanya, baik di prodi magister teknik industri maupun di magister teknik informatika, kami memiliki mata kuliah khusus manajemen risiko.

Dengan memahaminya kami berharap mahasiswa kami bisa meningkatkan pengetahuan teknis secara komprehensif,” kata Direktur Program Pascasarjana FTI Universitas Islam Indonesia (UII)  Dr Teduh Dirgahayu ST MSc,  kemarin. Kepada wartawan di Kampus UII, Teduh menuturkan, asumsi pertumbuhan ekonomi nasional ke depan dapat lebih baik dari saat ini. Untuk itu berbagai perusahaan dapat berkembang lebih baik.

Dengan strategi manajemen risiko yang baik, perusahaan dapat berjalan dan tidak akan terlalu terganggu dengan tantangan-tantangan yang ada ataupun akan dihadapi. “Manajemen risiko tidak hanya sebagai strategi ke depan, tapi bisa juga meninjau kembali strategi yang telah diterapkan. Sehingga dapat lebih relevan dengan situasi yang berkembang. Kami ingin para mahasiswa kami bisa memiliki pengalaman teori maupun praktis terkait manajemen risiko ini,” ucapnya.

Guna membuka wawasan yang luas terkait manajemen risiko, Pascasarjana FTI UII pun menggelar kuliah perdana bertajuk Penerapan Manajemen Risiko pada Perkembangan Perusahaan Asuransi di Indonesia . Salah satu pembicara dalam kuliah perdana tersebut ialah Direktur PT Asuransi Jiwasraya, Muhamad Zamkhani. “Manajemen risiko merupakan hal yang wajib diterapkan oleh seluruh perusahaan ataupun industri, termasuk perbankan.

Hal ini untuk mengubah budaya yang biasanya reaktif menjadi budaya antisipatif. Apalagi seperti kami di industri perbankan, di mana dana dari publik dikumpulkan. Manajemen risiko inilah untuk mencegah kegelisahan atau kegoncangan,” ungkap Zamkhani.

Menurut dia, perusahaan di industri perbankan setiap tahunnya wajib melaporkan strategi manajemen risiko mereka ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Manajemen risiko sendiri baginya sangat perlu guna mengetahui mana saja risiko yang bisa dihindari, diantisipasi atau bahkan ditransfer. Dengan manajemen risiko pula, risiko yang tidak dapat dihindari bisa diminimalisasi.

“Kami hadir untuk berbagi pengetahuan praktis dengan mahasiswa UII. Dengan mengetahui apa dan bagaimana itu manajemen risiko, harapannya para mahasiswa bisa memiliki gambaran terkait karier dan peran mereka dalam dunia kerja. Apalagi di tiap keilmuan, sebenarnya manajemen risiko selalu punya peran,” tuturnya.

Diberitakan Sindo 

Jerri Irgo

Periode Pertama, Penerimaan Mahasiswa Baru PPs FTI UII

Pembukaan Penerimaan Mahasiswa Baru S2 Periode Pertama Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII), telah dimulai 19 September sampai dengan 21 Oktober 2016. Adapun Ujian Kolektif akan dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2016, selanjutnya Pengumuman hasil Ujian Periode Pertama tanggal 31 Oktober 2016

Hal tersebut sebagaimana release dari Surat Keputusan Direktur Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia No: 244/Dir/20/PPs.FTI/IX/2016, ditetapkan tanggal 19 September 2016 tentang Periode Pendaftaran Seemester Ganjil Tahun 2016/2017

tanggal

Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) berdiri pada tahun 2006, dengan diselenggarakannya Program Magister Teknik Industri. Pada tahun 2010, PPs FTI UII mulai menyelenggarakan Program Magister Teknik Informatika.

Magister Teknik Industri terakreditasi “B” dari BAN-PT dengan SK BAN-PT nomor 343/SK/BAN-PT/Akred/M/V/2015. Program magister ini menawarkan tiga konsentrasi studi, yaitu Teknik Industri, Manajemen Industri dan Ergonomi dan Keselamatan & Kesehatan Industri.

Sedangkan Magister Teknik Informatika terakreditasi “B” dari BAN-PT dengan SK BAN-PT nomor 003/BAN-PT/Ak-X/S2/V/2012. Program magister ini menawarkan tiga konsentrasi studi, yaitu Informatika Medis, Sistem Informasi Enterprise dan Forensika Digital.

Jerri Irgo

Selamat Datang Mahasiswa Baru PPs FTI UII

Mahasiswa Magister Teknik Informatika Angk 14 - PPs FTI UII

Photo session Mahasiswa Magister Teknik Informatika PPs FTI UII – Angkatan 14

Mahasiswa Magister Teknik Industri Angk 21 - PPs FTI UII

Photo session Mahasiswa Magister Teknik Industri PPs FTI UII – Angkatan 21

Sebanyak 40 Mahasiswa Baru Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta, mulai mengikuti perkuliahan 14 Dzul Hijjah 1437 H / 16 September 2016.  Mahasiswa tersebut terdiri dari Magister Teknik Industri angkatan 21 terdapat sejumlah 17 mahasiswa dan Mahasiswa Magiter Teknik Informatika angkatan 14 terdapat sejumlah 23 mahasiswa.

Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) berdiri pada tahun 2006, dengan diselenggarakannya Program Magister Teknik Industri. Pada tahun 2010, PPs FTI UII mulai menyelenggarakan Program Magister Teknik Informatika.

Magister Teknik Industri terakreditasi “B” dari BAN-PT dengan SK BAN-PT nomor 343/SK/BAN-PT/Akred/M/V/2015. Program magister ini menawarkan tiga konsentrasi studi, yaitu Teknik Industri, Manajemen Industri dan Ergonomi dan Keselamatan & Kesehatan Industri.

Sedangkan Magister Teknik Informatika terakreditasi “B” dari BAN-PT dengan SK BAN-PT nomor 003/BAN-PT/Ak-X/S2/V/2012. Program magister ini menawarkan tiga konsentrasi studi, yaitu Informatika Medis, Sistem Informasi Enterprise dan Forensika Digital.

Jerri Irgo