Posts

Order Fulfillment

Dr, Zaroni CISCP, CFMP – Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistik Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Order Fulfillment

Pada bisnis ritel konvensional, kastemer mendatangi toko, kemudian melakukan transaksi pembeliaan, pembayaran, dan selanjutnya kastemer membawa barang yang dibelinya. Pengiriman barang dalam jumlah besar (bulky) hanya dilakukan dari gudang distributor ke toko-toko pengecer secara one-to-one. Tidak banyak alamat tujuan barang yang harus diantar. Transaksi dilakukan secara business-to-business (B2B).

Ini sangat berbeda dengan model bisnis e-dagang. Dalam e-dagang, pengiriman barang dilakukan dalam volume per kiriman (shipment) kecil, namun alamat tujuan sangat banyak. Umumnya, transaksi ritel e-dagang dilakukan secara business-to-consumer (B2C). Penjual melayani order penjualan yang dilakukan dalam market place. Pengiriman barang sesuai alamat pemesanan dilakukan segera setelah proses order penjualan dan verifikasi pembayaran selesai dilakukan. Bisnis ritel dengan menggunakan platform e-dagang menuntut pemenuhan pesanan penjualan (sales order) secara cepat dan akurat. Akses pasar yang dijangkau e-dagang sangat luas dengan waktu layanan pelanggan selama 24/7, memungkinkan volume transaksi order penjualan sangat besar.

Perusahaan e-dagang seperti Amazon, Alibaba, Tokopedia, Lazada, Blibli, blanja.com dalam sehari mereka memproses transaksi penjualan yang sangat besar dengan lead time yang sangat pendek. Lead time ini dihitung sejak kastemer melakukan order pembelian sampai barang diterima. Dalam hitungan jam penjual harus mengirim barang ke alamat penerima yang menjangkau ke seluruh penjuru nusantara, bahkan dunia.

Model bisnis e-dagang memerlukan sistem logistik yang cepat, akurat, dan andal. Dalam e-dagang, kastemer menginginkan barang diantar ke rumah, kantor, atau alamat tujuan sesuai yang mereka inginkan. Umumnya volume kiriman (shipment) sangat kecil, namun alamat tujuan sangat banyak dan tersebar. Ketersediaan inventory setiap saat untuk memenuhi pemesanan dari kastemer merupakan hal yang sangat penting dalam model bisnis e-dagang.

Logistik berperan penting dalam model bisnis e-dagang. Logistik yang andal memungkinkan pengelolaan inventory dalam jumlah item (SKUs) yang sangat banyak dan pengiriman kiriman ke kastemer ke berbagai alamat dalam jumlah sangat banyak secara akurat dan tepat waktu. Bagaimana mengelola sistem logistik e-dagang merupakan isu penting untuk keberhasilan bisnis e-dagang. Amazon merupakan salah satu contoh perusahaan e-dagang atau sering dikenal dengan e-tailing, yang telah berhasil mengelola sistem logistik untuk mendukung proses order penjualan berbagai barang dalam market place.

Pada tahun 1994, Amazon memulai bisnisnya dengan menjalankan model bisnis “virtual retailing” dalam arti yang sebenarnya. Saat itu, di Amozon tidak ada inventory, tidak ada ware- house, dan tidak ada pengantaran kiriman ke kastemer. Amazon memfokuskan pada pengelo- laan bisnis retail secara virtual dalam market place. Semua aktivitas kunci dalam bisnis retail seperti pengelolaan inventory dan pengiriman inventory untuk memenuhi order pembelian dari kastemer dilakukan oleh pihak lain. Amazon benar-benar hanya memfokuskan pada pen- gelolaan market place, utamanya pada penempatan produk di market place dan pengelolaan order pembelian dari kastemer. Ketika order pembelian dan pembayaran telah dilakukan oleh kastemer, Amazon menyerahkan pemenuhan pemesanannya ke pihak lain seperti pemilik pro- duk atau brand, distributor pengelola warehouse, dan perusahaan kurir.

Semula tidak ada masalah dalam model bisnis e-dagang seperti ini karena skala bisnis Amazon ketika itu relatif masih kecil. Namun, manakala SKUs produk dan transaksi order pembelian kastemer per hari sangat banyak, Amazon tidak dapat lagi menjalankan model bisnis dengan cara seperti itu.

Tahun 1997 merupakan tonggak peristiwa penting bagi Amazon. Amazon mulai men- gelola sendiri inventory dan pengantaran kiriman. Amazon mulai memberikan perhatian se- rius terhadap logistik untuk keberhasilan bisnis e-dagang yang dijalankan. Amazon pun mem- bangun warehouse sebagai tempat pengelolaan inventory. Tidak tanggung-tanggung, Amazon menginvestasikan modalnya untuk pembangunan warehouse di Seatle dan Delaware dengan ukuran warehouse yang sangat besar dan dilengkapi dengan otomatisasi MHE (material handling equipment) bahkan menggunakan teknologi robotic.

Sampai tahun 1999, Amazon banyak melakukan ekspansi pembangunan warehouse di berbagai negara, utamanya di kawasan Eropa dan Asia. Amazon memfungsikan warehousenya sebagai fulfillment center. Sebuah istilah baru dalam dunia logistik dan distribusi, karena sebe- lumnya di dunia logistik lebih mengenal warehouse sebagai distribution center yang memfasi- litasi pengelolaan inventory antara produsen dengan konsumen.

Menarik untuk dipelajari, bagaimana Amazon mengelola warehouse yang diposisikan sebagai fulfillment center ini. Amazon menamakannya sebagai fulfillment center karena fungsi warehouse di Amazon untuk memenuhi order pembelian dan pengantaran kiriman ke alamat yang diinginkan kastemer. Bagaimana Amazon mengelola order pembelian dalam jumlah banyak setiap harinya secara efisien, akurat, dan cepat?

Proses bisnis fulfillment yang dijalankan Amazon sejatinya sederhana yang menggambarkan proses perjalanan kastemer mulai dari order pembelian, pembayaran, penerimaan kiriman, dan dalam beberapa case ada return kiriman. Model bisnis e-dagang yang dijalankan Amazon secara sederhana dijelaskan seperti berikut ini.
Manakala kastemer melakukan pemesanan, sistem komputer Amazon mengenali apa jenis produk yang dipesan, di mana order pembelian dilakukan, dan ke mana pengantaran kiriman dilakukan. Selanjutnya komputer akan menginformasikan dari lokasi atau distribution center mana pengiriman produk dilakukan.

Amazon terhubung dengan sistem komputer pemasok yang menjadi mitra usahanya (sel- ler atau merchant). Integrasi sistem pengelolaan inventory seller dengan Amazon memungkin- kan setiap order pemesanan barang dari kastemer selalu terhubung dengan informasi keterse- diaan stock di sistem inventory seller. Amazon memasarkan setiap produk seller di market place amazon.com. Seller melakukan pengisian (replenishment) stock sesuai informasi kebutuhan stock dari sistem komputer Amazon. Seller memiliki pilihan, apakah pengiriman barang ke alamat pemesan langsung dilakukan dari lokasi seller atau fulfillment center-nya Amazon.

Proses pemenuhan order di fulfillment center Amazon dilakukan sesuai tahapan berikut. Setiap order diproses secara elektronik. Sistem komputer akan menginformasikan ke picker untuk mengambil stock sesuai lokasi penyimpanan. Setiap item stock (buku, fashion, CD, ga- wai, dll) disimpan di rak dengan tanda lampu merah. Bila suatu item barang harus diambil (picking), maka lampu merah tersebut menyala. Picker melakukan picking item barang terse- but. Bila item barang sudah diambil, maka picker akan mematikan lampu merah tersebut.
Selanjutnya, setiap item barang yang sudah diambil, kemudian ditaruh di keranjang yang ditandai barcode sesuai order pemesanan dari kastemer. Barcode menginformasikan alamat pengantararan. Barcode memberikan petunjuk untuk proses penyortiran paket sesuai delivery point. Pembacaan barcode menggunakan barcode reader. Petugas memastikan bahwa item dan box sesuai barcode pemesanan. Selanjutnya paket siap diantarkan ke alamat tujuan. Amazon bekerjasama dengan beberapa perusahaan kurir seperti UPS, Fedex, USPS, dan lain- lain.

Dengan pertimbangan perkembangan dan kompleksitas bisnis Amazon, sejak tahun 1997 Amazon mengelola logistik sendiri termasuk pengantarannya. Amazon juga melakukan riset dan inovasi secara intensif, baik teknologi material handling equipment di fulfillment center, dengan penggunaan automasi atau robotic, maupun teknologi pengantaran. Amazon telah melakukan riset dan inovasi penggunaan drone, terutama untuk pengantaran di daerah rural dan daerah-daerah yang sulit dijangkau dengan kendaraan.

Saat ini Amazon memiliki beberapa infrastruktur dan fasilitas untuk logistik e-commerce seperti: fulfillment center dengan berbagai ukuran dan produk lengkap dengan fasilitas penge- pakan; replenishment center untuk penerimaan produk dari pemasok; customer return center untuk pengelolaan produk return dari kastemer; sortation center untuk pemrosesan sortir paket dari fulfillment center kemudian diserahkan ke perusahaan kurir untuk last mile delivery; deli- very stations untuk pemrosesan same day delivery; speciality sites untuk pemrosesan paket pro- duk tertentu seperti textbooks, pakaian, perhiasan, dan sepatu; prime now & flexi hub untuk penanganan pengantaran produk premium dalam waktu 1 s.d 2 jam di wilayah perkotaan (Del Rey, 2013).

Pembelajaran dari case keberhasilan Amazon dalam mengelola ritel on line karena Amazon mampu mengintegrasikan dan mengendalikan supply chain mulai dari pemasok, perusahaan kurir, dan pelanggan. Aktivitas kunci proses bisnis Amazon adalah akuisisi pelanggan, penyimpanan, picking, pengepakan, dan pengantaran produk yang dipesan kastemer untuk dikirim ke alamat di seluruh penjuru dunia.

Model operasi order fulfillment

Pada pembahasan berikut ini diuraikan konsep penting order fulfillment dalam e-dagang yang mencakup model operasi fulfillment center, aktivitas kunci dalam order fulfillment, dan integrasi e-logistics dalam e-commerce.

Order fulfillment merupakan salah satu aktivitas penting dalam e-commerce. Secara se- derhana, order fulfillment didefinisikan sebagai proses penerimaan order dari pelanggan sam- pai pengiriman produk ke alamat yang diinginkan kastemer. Dalam transaksi e-dagang, order fulfillment ini sering disebut sebagai back-office operations yang melibatkan beberapa aktivitas untuk pemenuhan pesanan kastemer, seperti pengepakan (packing), pengantaran (delivery), akuntansi, pengelolaan inventory, dan pengiriman (shipping). Order fulfillment sangat terkait dengan front-office operations atau customer-facing activities, seperti advertising dan pengambilan pesa- nan (order taking) yang secara nyata dapat dirasakan oleh kastemer.

Turban, Outland, King, et al dalam buku Electronic Commerce 2018, menjelaskan pentaha- pan dalam proses order fulfillment:
1. Kastemer melakukan order dan membayar atas ordernya;
2. Verifikasi pembayaran oleh penjual jika diperlukan;
3. Memeriksa ketersediaan stock dan memberikan notifikasi ke kastemer;
4. Menentukan apakah inventory sebaiknya harus diisi kembali atau apakah diperlukan produksi tambahan untuk mengganti pengurangan stock karena pemenuhan order;
5. Menentukan lokasi warehouse dimana order tersebut akan dipenuhi. Menginforma- sikan proses pemenuhan order ke warehouse atau fulfillment center;
6. Pengambilan order di lokasi penyimpanan dan pengepakan (pick & pack);
7. Pengiriman barang ke kastemer;
8. Penerimaan barang oleh kastemer;
9. Penjual mengelola barang return jika diperlukan.

Proses order fulfillment bisa saja bervariasi, tergantung pada karakteristik produk (seperti jenis, ukuran, kategori perishability, dll), apakah pihak ketiga terlibat dalam proses di warehousing dan pengiriman, apakah model bisnis B2C atau B2B, dan model operasi masing- masing perusahaan. Namun demikian, umumnya model operasi fulfillment memiliki bentuk sebagai berikut (Turban, et al, 2018):
1. Engineer-to-order (ETO). Produk dirancang sesuai spesifikasi keinginan kastemer. Umumnya produk-produk perhiasan menggunakan model operasi ETO.
2. Make-to-order (MTO). Produk baru dibuat bila benar-benar ada pemesanan dari kastemer.
3. Assemble-to-order (ATO). Produk dibuat berdasarkan modular, yang dirakit dari berbagai komponen yang tersedia.
4. Make-to-stock (MTS). Produk-produk yang standar dan kategori mass-production umumnya diproduksi untuk mengisi stock dalam inventory.
5. Digital copy (DC). Copy produk dilakukan dengan cara mengunduh produk-produk dalam bentuk digital dan inventory dihasilkan dari digital master.
Karena umumnya produk-produk yang diperdagangkan dalam e-dagang berupa pakaian, apparel, makanan dalam kemasan, peralatan elektronik, maka model operasi fulfillment dalam e-dagang paling banyak adalah MTS dan ATO.

Sembilan aktivitas dalam proses order fulfillment memerlukan integrasi supply chain. Order fulfillment memerlukan integrasi aliran keuangan (payment), informasi, material, dan komponen, yang memerlukan koordinasi antardepartemen dalam perusahaan dan antarperusahaan yang terlibat dalam supply chain.

Peran warehousing

Warehousing memainkan peran penting dalam order fulfillment, khususnya untuk model MTS atas produk-produk standar. Aktivitas warehousing mencakup:
1. Penerimaan barang
2. Penyimpanan barang
3. Pengambilan barang bila order diterima
4. Pengepakan barang
5. Pengaturan pengiriman atau delivery..

Untuk mendukung proses order fulfillment dalam e-dagang diperlukan operasional warehousing yang cepat, akurat, dan fleksibel, dengan biaya yang paling efisien. Dalam beberapa dekade terakhir, teknologi warehousing telah dikembangkan seperti yang dilakukan oleh Newegg, e-dagang elektronik yang sangat besar di AS:
• Hybrid of OPEX perfect pick;
• High-velocity picking menggunakan pick to light;
• Pick to voice;
• Automated print & apply system untuk order dan pengiriman;
• Human Machine Interface untuk sistem visibility dan monitoring;
• Exacta Warehouse Control System (WCS).

Pengembangan dan penerapan teknologi warehousing di Newegg memberikan hasil perbaikan kinerja warehousing yang signifikan sebagai berikut:
– High system throughput: rata-rata 18.000 order per hari selama peak season, 8.000 per hari untuk hari biasa;
– Pengurangan order cycle time menjadi 20 menit;
– High system accuracy;
– Biaya pengiriman semakin murah;
– Security;
– Scalability.

Peran delivery

Sebagai bagian penting dalam order fulfillment model bisnis e-dagang, delivery akan menjadi tahapan penyelesaian transaksi e-dagang. Para pengelola e-dagang menghadapi permasalahan delivery dalam jumlah items banyak untuk alamat tujuan pengantaran yang sangat banyak dan tersebar luas. Umumnya mereka bekerja sama dengan perusahaan kurir seperti Pos Indonesia, JNE, TIKI, J&T, dan lain-lain untuk pengantaran barang.

Tuntutan utama dalam delivery adalah kecepatan (speed). Kastemer menginginkan ba- rang yang dipesan harus segera diterima dalam waktu secepat mungkin. Saat ini, kastemer menginginkan waktu pengantaran tidak lagi dalam hitungan hari. Kastemer menginginkan waktu pengantaran dalam hitungan jam. Standar waktu pengiriman same day delivery telah menjadi hanya beberapa jam (few hours). Karenanya, tren kedepan pengantaran menggunakan drone dan robot.

Idealnya, e-tailer mengharapkan pengantaran barang lebih cepat daripada pelanggan mendapatkan produknya melalui pergi ke toko dan melakukan pembelian di sana. Solusi di masa depan adalah pengiriman paket melalui drone yang memerlukan waktu dalam beberapa menit. Drone merupakan pesawat tanpa awak (self-flying vehicle), sama halnya seperti mobil tanpa pengemudi (self-driving car) yang dikendalikan melalui remote. Di Auckland, New Zealand, di mana lalu lintas cukup padat, penggunaan drone banyak dimanfaatkan untuk pengantaran pizza. Sementara itu, Amazon telah melakukan riset secara intensif penggunaan drone untuk pengantaran paket. Beberapa kendala penggunaan drone untuk pengantaran seperti yang diidentifikasi oleh Black (2014) antara lain aspek legal, teknologi sensor, dan lain- lain.

Senada dengan Black, Mehra (2015) mengatakan bahwa kendala utama penggunaan drone untuk pengantaran paket adalah isu keamanan dan regulasi lalu lintas udara. Lebih jauh Mehra melihat beberapa kendala drone untuk pengantaran paket:
1. Keterbatasan berat.
2. Keterbatasan jarak tempuh pengantaran.
3. Kendala cuaca yang menyebabkan kemungkinan delay.
4. Kemungkinan penghentian layanan karena drone merupakan flying machines. Drone bisa jatuh karena kecelakaan, kondisi cuaca, masalah mesin, dan lain-lain.

Mempertimbangkan kendala penggunaan drone untuk pengantaran, menjadi pertanyaan kita, apakah drone tetap menjadi masa depan pengantaran dalam model bisnis e- dagang? Banyak yang menyatakan optimis, lihat misalnya Marsh (2016) dan Wings (2016) yang mengatakan bahwa Google dan US Postal Service telah berhasil melakukan uji coba pengantaran paket menggunakan drone. Demikian juga Amazon yang telah berhasil mengembangkan layanan Prime Air, pengantaran paket menggunakan drone. Meski demikian, beberapa pengamat pesimis masa depan drone untuk pengantaran paket. Kahl (2016) lebih meyakini penggunaan robot untuk pengantaran paket e-dagang, dibandingkan dengan drone. Robot menggunakan sepeda elektrik untuk pengantaran paket dan grocery.

Penggunaan robot untuk pengantaran grocery telah diterapkan di beberapa kota besar seperti di Washington DC, dan di sejumlah negara seperti di Tiongkok dan Switzerland.

Sejumlah tantangan
Order fulfillment diyakini menjadi kunci keberhasilan dalam bisnis e-dagang. Performa order fulfillment yang tidak baik akan memengaruhi kepuasan kastemer. Beberapa tantangan kerap dihadapi dalam operasional order fulfillment sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian Van Landingham (2014) berikut ini:
• Order flexibility. Perubahan dan pembatalan order seringkali terjadi dalam menit- menit terakhir;
• Order accuracy. Keakuratan pemrosesan dan pemenuhan order dalam e-dagang merupakan hal yang penting. Keliru dalam pemrosesan order akan berakibat kehilangan kastemer;
• Multichannel order management. Saat ini hampir semua perusahaan menyediakan multichannel order secara terintegrasi, yang dikenal dengan Omni-channel;
• Complex distribution. Berbeda dengan offline order, setiap order dalam e-dagang biasanya dalam ukuran kecil dan sangat banyak, sehingga delivery menjadi kompleks.

Ketidakpuasan kastemer terjadi sebagai hasil dari ketidakakuratan order, proses order yang memerlukan waktu lama, dan skedul pengantaran yang tidak sesuai (Kinnison, 2015). Permasalahan ini umumnya disebabkan oleh perencanaan dan eksekusi manajemen supply chain yang kurang efektif. Beberapa penyebab utamanya antara lain:
• Ketidakpastian dalam permintaan;
• Kesenjangan dalam information sharing;
• Infrastruktur logistik yang tidak memadai;
• Aliran keuangan yang tidak efisien.

Solusi perbaikan

Permasalahan umum dalam order fulfillment adalah ketidakakuratan dalam aktivitas order ta- king. Karenanya, perbaikan aktivitas order taking perlu dilakukan dan mengintegrasikan akti- vitas order taking dengan logistik. Dalam e-dagang, order taking diperoleh melalui e-mail dan webstore.

Perbaikan order taking untuk memastikan proses aktivitas order taking dapat dilakukan dengan lebih cepat, lebih efisien, dan proses pergerakan inventory dapat termonitor setiap saat (visibility). Desain supply chain dalam proses order taking perlu diubah dari linear menjadi hub structure (Turban, et al, 2018). Dalam model hub structure, konektivitas antarpihak dalam rangkaian supply chain lebih pendek. Demikian juga, kontrol dan koordinasi antarpihak dapat dilakukan lebih efektif. Umumnya, proses order fulfillment dalam e-dagang melibatkan procurement secara global. Karenanya, perlu integrasi global logistik secara efektif. Global logistics melibatkan banyak pihak seperti customs, forwarder, dan shipping line atau carrier antarnegara (cross-border).

Sumber: Digital supply chains (Turban, 2018)

Untuk meningkatkan inventory visibility, perusahaan e-dagang sebaiknya menerapkan RFID (Radio Frequency Identification). RFID merupakan tag technology yang disematkan ke suatu obyek atau item barang. Tag technology ini berisi data lengkap dengan obyek atau item barang yang dapat dibaca oleh RFID reader, kemudian datanya dapat ditransmisikan melalui teknologi wireless gelombang radio. Sejatinya tag ini mirip dengan barcode, hanya informasi yang disajikan lebih banyak.

Data dalam tag dibaca secara transmisi gelombang radio yang dapat dijangkau oleh RFID reader dalam jarak 50 feet atau sekitar 15 meter. Dengan RFID memungkinkan proses order taking dapat dilakukan secara collaborative antarpihak dalam col- laborative business network.

 

Urban Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

Dunia mengalami peningkatan urbanisasi. Lebih dari separuh penduduk dunia kini tinggal di perkotaan. Tren ini semakin meningkat dalam beberapa dekade ke depan. Pada tahun 2050 diprediksi dua pertiga penduduk dunia tinggal di kota. Pada tahun 2020 diperkirakan kota dengan penduduk lebih dari 5 juta meningkat dari 50 kota menjadi 70 kota.

Sebagian besar kota-kota dengan penduduk lebih 5 juta tersebut berada di negara-negara Asia dan Afrika. Banyak pemicu yang menyebabkan terjadinya peningkatan penduduk di kota, antara lain pertumbuhan ekonomi, peningkatan kegiatan dan produksi di sektor industri, jasa, dan perdagangan baik domestik maupun internasional. Selain itu, faktor penting lainnya sebagai pemicu peningkatan penduduk kota adalah kemajuan internet yang mendorong pertumbuhan e-commerce.

Warga kota memerlukan berbagai infrastruktur untuk mendukung kehidupannya sesuai perkembangan sosial, gaya hidup, tren teknologi, dan lingkungan. Transportasi massal disediakan untuk mobilisasi warga kota dari rumah ke tempat kerja, sekolah, toko, pasar, pabrik, tempat rekreasi, dan lain-lain.

Penyediaan transportasi massal dalam bentuk kereta dan bis memerlukan pembangunan infrastruktur seperti terminal, stasiun, dan jalur kereta bawah tanah (subway). Di beberapa kota besar di negara-negara maju, sistem dan infrastruktur transportasi massal sudah berjalan dengan andal dan efektif sehingga dapat memenuhi kebutuhan mobilitas warga kotanya tanpa menimbulkan kemacetan di jalan raya.

Namun di banyak kota di negara-negara sedang berkembang misalnya, sistem dan infrastruktur transportasi massal ini masih belum memadai, sehingga belum memenuhi dan menjadi pilihan warga kota untuk menggunakan transportasi massal. Akibatnya, kemacetan terjadi karena warga kota memilih menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil pribadi untuk kebutuhan transportasi.

Selain transportasi orang, untuk mendukung kehidupan warga kota memerlukan logistik yang dapat menyediakan barang-barang, utamanya barang kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, dan pakaian. Dengan jumlah penduduk yang banyak, antara 2 sampai 5 juta, setiap harinya perlu disediakan makanan dan minuman dalam jumlah yang besar.

Warga kota mendapatkan makanan dan minuman di toko ritel modern, warung, dan pasar tradisional yang terdekat dengan mereka, baik di lokasi perumahan, perkantoran, sekolah, kampus, pabrik, dan lain-lain.

Barang-barang, produk, dan komoditi didatangkan dari berbagai wilayah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga kota. Komoditi hasil pertanian seperti beras, jagung, kedelai, dan sayuran didatangkan dari pedesaan. Komoditi perikanan dipasok dari daerah pesisir. Produk- produk hasil industri dikirim dari kawasan industri yang biasanya berada di pinggiran kota.

Selain kebutuhan transportasi orang, di kota memerlukan transportasi barang. Di kota setiap hari selama 24 jam dan 7 hari dalam seminggu terjadi kesibukan pengiriman barang dan bongkar muat barang dari truk untuk didistribusikan ke toko ritel, pasar raya, warung, pasar tradisional, dan mal. Kegiatan transportasi dan bongkar muat barang untuk memenuhi penyediaan barang-barang, produk, dan komoditi di kota dikenal dengan logistik perkotaan (urban logistics atau city logistics).

Pergeseran gaya hidup warga kota dalam berbelanja dari belanja konvensional ke belanja melalui e-commerce semakin meningkat. Belanja melaui e-commerce memberikan banyak kemudahan dan kepraktisan. Pilihan produk beragam yang disediakan oleh merchant di beberapa marketplace.

Pertumbuhan transaksi e-commerce B2C (Business-to-Consumer) dan C2C (Consumer-to- Consumer) yang pesat dan penggunaan mobile commerce memerlukan layanan logistik – sering dikenal dengan e-commerce logistics, utamanya layanan fulfillment dan last-mile delivery. Tak ayal lagi, kebutuhan e-commerce logistics untuk transaksi e-commerce konsumen di perkotaan memerlukan pengelolaan urban logistics yang efektif.

Data dari UN menyebutkan bahwa selama tahun 2016 tidak kurang dari 55% transaksi e- commerce berasal dari warga kota, sementara 46% berasal dari warga pedesaan. Persentase ini diprediksi akan meningkat pada tahun 2030, dari transaksi e-commerce total, 60%-nya berasal dari warga kota. Sisanya 40% berasal dari warga pedesaan.

Peningkatan belanja e-commerce ini memerlukan layanan urban logistics yang cepat, fleksibel, informatif, dan efisien. Di suatu kota, saat ini urban logistics terutama diperlukan untuk menyediakan solusi logistik ritel dan logistik e-commerce.

Logistik Ritel

Logistik ritel untuk mengelola penyediaan barang dan bahan pokok kebutuhan warga kota di setiap toko ritel. Pengelolaan logistik ritel ini mencakup transportasi, pergudangan, dan distribusi.

Umumnya sasaran logistik ritel ini adalah memenuhi permintaan pengisian barang di toko ritel dengan 7 kriteria tepat: jenis barang, kuantitas, kualitas, lokasi, penerima, waktu, dan biaya.

Barang, bahan pokok, material, dan produk diangkut dari pemasok ke gudang. Gudang ini bisa berupa distribution center yang berfungsi sebagai fulfillment center untuk memenuhi permintaan pengiriman barang ke toko-toko ritel. Selanjutnya dari fulfillment center, barang didistribusikan ke toko-toko ritel.

Dalam konteks desain urban logistics, jumlah dan lokasi toko ritel perlu direncanakan dengan mempertimbangkan keterjangkauan konsumen dan accessibility kendaraan pengiriman barang. Perencanaan logistik ritel untuk urban logistics meliputi:

  1. Penentuan gudang fulfillment. Fungsi gudang fulfillment untuk penerimaan barang- barang produk ritel dari pemasok, penempatan barang di rak-rak gudang, penyimpanan, picking sesuai order pemenuhan (replenishment), pengepakan, penyiapan pengiriman barang, dan pemuatan barang ke truck untuk pendistribusian barang ke toko-toko pengecer. Perencanaan gudang fulfillment mencakup: berapa banyak gudang fulfillment, jenis gudang apakah gudang umum atau gudang khusus, kapasitas gudang, dan lokasi gudang. Beberapa perusahaan ritel modern mengelola gudang fulfillment sendiri, namun banyak diantara mereka menyerahkan pengelolaan gudang fulfillment ini ke perusahaan penyedia jasa logistik (third-party logistics). Perusahaan 3rd party logistics yang mengelola gudang fulfillment untuk logistik ritel misalnya Pos Logistik yang mengelola pergudangan dan distribusi produk-produk ritel ke toko-toko ritel LEU Mart, dan Wira Logistik yang memberikan layanan logistik ritel Matahari. Pengelolaan gudang fulfillment saat ini menggunakan teknologi dan otomatisasi peralatan pemindahan barang (material handling equipment) baik handling system yang berbasis palletized dan non-palletized. Penentuan lokasi gudang fulfillment dalam logistik ritel untuk urban logistics sebaiknya di kawasan pergudangan yang berada di luar kota (suburban). Truck-truck yang digunakan untuk transportasi barang ritel dari pemasok ke gudang fulfillment umumnya menggunakan truck kapasitas besar, sehingga seringkali ada pembatasan akses truck untuk jalan di perkotaan. Oleh karena itu, lokasi gudang fulfillment di luar kota akan memudahkan akses truck untuk pengiriman barang ke gudang fulfillment.
  2. Pemilihan moda atau jenis dan kapasitas kendaraan. Transportasi dalam logistik ritel meliputi transportasi produk-produk ritel dari pemasok ke gudang fulfillment. Umumnya pengelolaan transportasi ini dikelola oleh pemasok bekerjasama dengan perusahaan transporter atau 3rd party logistics. Perbaikan sistem transportasi untuk logistik ritel ini utamanya efisiensi penggunaan truck dengan mengoptimalkan kapasitas truck. Upaya ini dicapai dengan melakukan penggabungan atau konsolidasi pengiriman untuk mendapatkan efisiensi biaya transportasi per unit (ton per kilometer). Selain itu, konsolidasi pengiriman dimaksudkan untuk mengurangi jumlah truck yang digunakan, sehingga mengurangi tingkat kemacetan dan polusi udara. Dengan demikian, sasaran perbaikan sistem transportasi untuk logistik ritel ini adalah penurunan biaya transportasi, mengurangi kemacetan di jalan raya, dan mengurangi pencemaran udara.
  3. Pengaturan rute dan jadwal keberangkatan kendaraan. Jalur mana yang akan ditempuh truck dan kapan jadwal keberangkatan dan kedatangan truck perlu dirancang dengan baik. Beberapa model yang diajarkan dalam Operation Research dapat digunakan untuk mensolusikan rute atau jalur transportasi dari pemasok ke gudang fulfillment dengan rute terpendek dan waktu tempuh tercepat. Dalam konteks urban logistics, pembatasan jalur dan jam-jam akses truck perlu dilakukan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di perkotaan.
  4. Lokasi bongkar muat barang. Di lokasi mana sebaiknya bongkar muat barang dilakukan perlu menjadi perhatian perancang logistik ritel dalam konteks urban logistics. Kita menjumpai banyak kegiatan bongkar muat barang ritel dilakukan di lokasi-lokasi yang menyebabkan kemacetan. Tidak ada pengaturan waktu dan lokasi bongkar muat barang. Akibatnya, kegiatan bongkar muat logistik ritel ini menyumbang tingkat kemacetan di beberapa titik di kawasan perkotaan.

Logistik E-Commerce

Logistik e-commerce termasuk dalam logistik ritel. Produk-produk yang diperdagangkan dalam e-commerce umumnya produk-produk ritel, produk yang digunakan consumer akhir.

Dalam beberapa tahun terakhir, e-commerce menjadi kontributor perkembangan urban logistics, khususnya layanan city courier atau parcel delivery. Peningkatan transaksi perdagangan e-commerce memerlukan solusi last-mile delivery – pengiriman barang ke penerima akhir.

Belanja melalui e-commerce telah menjadi bagian dari gaya hidup warga perkotaan. Menariknya, bila dicermati dari kategori usia, umumnya generasi milenial paling banyak menggunakan e-commerce dalam belanja kebutuhan mereka seperti fashion, gadget, buku, dan produk-produk accessoris lainnya.

Model operasi logistik e-commerce melibatkan serangkaian aktivitas transportasi, fulfillment, dan delivery. Transportasi produk-produk e-commerce dari pemasok ke gudang fulfillment. Beberapa produk-produk e-commerce dikirim dari luar negeri (cross-border) yang memerlukan layanan pengurusan kepabeanan (customs clearance).Produk yang diterima di gudang fulfillment, selanjutnya ditempatkan di rak-rak gudang, disimpan, dan dilakukan picking untuk dilakukan pengantaran ke penerima.

Peningkatan transaksi e-commerce memerlukan ruang, gudang, dan kendaraan untuk aktivitas urban logistics. Penelitian tentang urban logistics yang dipublikasikan oleh Cushman & Wakefield (2017) menyebutkan bahwa kebutuhan jumlah kendaraan (van) dan ruang (space) untuk bongkar muat dapat ditentukan dengan model perhitungan sebagai berikut:

  1. Pertama, menghitung Volume parcel per kota:
    Jumlah eShopper X Transaksi per eShopper X Rata-rata parcel per transaksi
  2. Selanjutnya, kita dapat menghitung berapa banyak van yang diperlukan untuk pengantaran parcel:
    Volume parcel per kota X Rata-rata loading per van
  3. Akhirnya, kita bisa menghitung kebutuhan space yang diperlukan:
    Jumlah van yang diperlukan X Rasio van

Setelah kebutuhan space untuk urban logistics diketahui, keputusan berikutnya adalah menentukan tingkat pelayanan (service level) berapa jam proses penanganan order sampai paket diterima penerima. Dalam terminologi logistics, hal ini disebut lead time, yaitu waktu yang diperlukan sejak sampai produk diterima.

Evolusi Pengantaran

Saat ini lead time untuk transaksi e-commerce semakin pendek. Pelanggan semakin menuntut proses pengiriman barang semakin cepat. Sejak pelanggan melakukan order pembelian sampai penerimaan barang, mereka mengingkat waktu yang sesingkat-singkatnya. Kalau dulu lead time ini hitungannya hari, sekarang pelanggan mengingkan hitungan jam. Banyak pelanggan saat ini menginginkan penerimaan barang pada hari yang sama (same-day delivery)

Studi yang dilakukan McKinsey (Maret, 2014) dengan publikasi yang diberi judul “Same-day delivery: The next evolutionary step in parcel logistics” menjelaskan evolusi pengantaran parcel dalam model B2C:

Kebutuhan layanan same-day delivery semakin meningkat, terutama untuk transaksi belanja produk-produk yang dijual di convenience store yang semakin banyak melalui e-Commerce atau e-Shopping.

Survei McKinsey (2014) mengenai fitur yang paling diperlukan pelanggan dalam e-Commerce, menyajikan temuan sebagai berikut:

  • Kecepatan, misalnya same-day delivery, 28%
  • Harga, 28%
  • Alternatif tujuan delivery, misalnya pengantaran di alamat kantor, rumah, atau locker, 15%
  • Fleksibilitas waktu pengantaran, misalnya pengantaran dilakukan pada malam hari ketika penerima sudah di rumah setelah pulang dari kantor, 11%
  • Lain-lain, 18%.

Fitur kecepatan, harga, dan alternatif tujuan delivery menjadi preferensi konsumen dalam memilih layanan last-mile delivery untuk belanja melalui e-Commerce.

Bagaimana penyedia jasa logistik memenuhi permintaan pelanggan dengan lead time delivery dalam waktu 12 jam, sejak dari order pembelian sampai barang-barang belanjaan diterima di depan pintu rumah mereka, merupakan tantangan tersendiri. Karenanya, penyedia jasa urban logistics perlu merancang sistem operasi yang memungkinkan dapat memenuhi lead time 12 jam.

Saat ini penyedia jasa logistik/kurir di kota-kota Indonesia tidak banyak yang menyediakan layanan same-day delivery, bahkan dengan skala volume yang relatif masih sedikit dan

pengantaran dalam kota (intracity). Beberapa penyedia jasa logistik yang dapat memberikan layanan same-day delivery masih mengelola proses operasinya secara khusus dengan kapasitas volume delivery yang sangat terbatas.

Ketika volume parcel yang diantar dalam jumlah besar tentu pemenuhan lead time 12 jam dengan pengantaran pada hari yang sama tidak bisa dilakukan. Alternatif solusi dan perbaikan pola operasi perlu dilakukan untuk menjamin same-day delivery.

  1. Penyedia jasa logistik atau kurir dapat memanfaatkan crowded-delivery seperti Uber, Go-Jek, Grab, dan logistics market place lainnya berdasarkan on-demand. Di era sharing economy dan disrupsi teknologi, crowded-delivery mampu memberikan solusi pengantaran same-day. Pengelola e-commerce logistics bekerjasama dengan beberapa operator crowded-delivery untuk melakukan pick-up parcel di fulfillment center atau merchant sesuai order pembelian dari market place, untuk selanjutnya dilakukan pengantaran ke penerima.  Penerimaan order pembelian melalui market place diproses oleh sistem aplikasi e- commerce, untuk selanjutnya perintah penyiapan pengantaran ke penyedia jasa logistik e-commerce. Produk pesanan di-picking sesuai order, packing, sortir, dan pengaturan rute dan skedul pengantaran. Konsolidasi kiriman parcel tetap dilakukan untuk mengoptimalkan kapasitas pengantaran. Sortir kiriman parcel dilakukan sesuai rute dan skedul pengantaran agar memenuhi lead time 12 jam.Kelebihan pemanfaatan crowded-delivery adalah semua biaya pengantaran dapat dikonversi secara variabel, tidak perlu investasi yang cukup besar baik investasi kendaraan maupun rekruitmen pengantar. Namun demikian, kapasitas crowded- delivery masih terbatas. Diperlukan pola kemitraan yang stratejik antara operator logistik e-commerce dengan pengelola crowded-delivery untuk memastikan keandalan pencapaian lead-time 12 jam dengan volume pengantaran parcel yang sangat besar.
  2. Mengelola sendiri pengantaran same-day. Bila same-day delivery dikelola sendiri, operator logistik perlu merancang desain dan pola operasi yang menjamin lead time 12 jam, sejak proses order pembelian sampai pengantaran parcel ke penerima. Desain operasi perusahaan penyedia jasa logistik/pos yang menyediakan layanan same-day delivery sebagai berikut:
  • Menentukan jumlah dan lokasi distribution center di lokasi dengan radius tertentu untuk memastikan dapat melakukan pick-up ke outlet merchant dengan jangkauan waktu sesuai lead time.
  • Melakukan cross-docking dan konsolidasi pengantaran di distribution center, sesuai lokasi titik antaran.
  • Melakukan pengantaran ke penerima.
  • Pengaturan jam order pembelian perlu dilakukan, misalnya DHL menerapkan jadwal order pembelian belanja melalui e-commerce pada jam 06.00 sampai jam 08.00 dan jam 08.00 sampai jam 10.00 dapat dilakukan pengantaran same-day.

Pilihan Moda Pengantaran

Beberapa moda pengantaran parcel dalam urban logistics dapat dipilih sesuai dengan service level dan karakteristik wilayah kota masing-masing.

  1. Kendaraan van. Penggunaan kendaraan van lazim digunakan oleh perusahaan penyedia jasa logistik/pos untuk pengantaran parcel di wilayah perkotaan. Kendaraan van dapat menampung sejumlah parcel sesuai dengan kapasitas kendaraannya. Kelebihan penggunaan van untuk pengantaran parcel mampu membawa parcel dalam jumlah cukup banyak untuk diantar penerima secara multi-drop. Namun demikian, tingkat kemacetan di beberapa kota, khususnya di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Yogyakarta, dan lain-lain, penggunaan kendaraan van untuk pengantaran dalam kota tidak dapat memberikan kepastian sesuai lead time yang distandarkan, khususnya untuk pengantaran same-day. Selain itu, polusi udara yang ditimbulkan dari kendaraan van dan penggunaan bahan bakar menjadi isu go green.
  2. Sepeda motor. Kemudahan akses pengantaran dan kecepatan dengan menggunakan sepeda motor menjadi pertimbangan dalam pengantaran parcel di perkotaan, meskipun kapasitas jumlah parcel yang dapat diantar terbatas.
  3. Sepeda. Beberapa penyedia jasa logistik/pos saat ini menggunakan kembali sepeda untuk pengantaran parcel di wilayah perkotaan. Bila zaman dulu Pak Pos identik dengan sepeda untuk pengantaran surat, paket, dan wesel, saat ini penggunaan sepeda untuk pengantaran parcel di wilayan perkotaan kembali diterapkan. Umumnya kemudahan akses pengantaran dan go green menjadi pertimbangan dalam penggunaan sepeda untuk pengantaran.
  4. Drone. Pengantaran dengan “pesawat tanpa awak” atau yang dikenal dengan “drone” mulai popular digunakan oleh beberapa perusahaan seperti Amazon dan DHL. Penggunaan drone merupakan lompatan dari konvergensi teknologi internet, satelit, geografi spasial, dan pesawat untuk pengantaran parcel di wiayah perkotaan tanpa awak dengan tingkat keakuratan sangat tinggi dan dapat menjangkau ke titik lokasi pengantaran secara luas. Teknologi drone dan regulasi implementasinya masih terus disempurnakan.
  5. Autonomous ground vehicles (AGVs) Di kota-kota negara maju seperti Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Singapura, dan Cina mulai dikenalkan penggunaan AGV untuk pengantaran parcel dengan locker tanpa perlu intervensi manusia. Semuanya dilakukan secara otomatis. Cara kerja AGV seperti ini, penerima diberikan notifikasi kapan jadwal pengantaran dilakukan. Penempatan parcel di kendaraan AGV menggunakan locker. Begitu AGV tiba di lokasi penerima, penerima mengambil parcel sesuai kode locker di AGV tersebut. AGV merupakan penerapan teknologi kendaraan tanpa sopir yang saat ini mulai digunakan di beberapa negara.

***
Dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi pergeseran konsentrasi penduduk dan pusat ekonomi dari kawasan pedesaan ke kawasan kota. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi kawasan perkotaan mengalami peningkatan. Peningkatan pertumbuhan ekonomi perkotaan memerlukan keandalan pasokan barang dan komoditas untuk memenuhi kebutuhan sektor industri dan sektor rumah tangga. Jenis barang dan komoditas ini sangat beragam, mulai dari komoditas pangan, produk-produk kesehatan, barang industri, bahan bangunan, dan lain sebagainya.

Kondisi ini menyebabkan aktivitas logistik perkotaan semakin meningkat. Peningkatan aktivitas logistik perkotaan melibatkan peningkatan arus transportasi barang, penyediaan gudang untuk distribution center dan fulfillment center, dan last-mile delivery.

Pertumbuhan ekonomi perkotaan yang semakin meningkat, perlu solusi logistik perkotaan yang efisien dan ramah terhadap lingkungan. Implementasi kebijakan kawasan logistik perkotaan sebagai gudang pusat konsolidasi dengan prinsip cross-docking, dan penggunaan perusahaan penyedia jasa logistik untuk melayani pengelolaan pergudangan, pengelolaan pengiriman barang-barang dari pemasok, dan distribusi barang-barang ke pengecer atau konsumen, merupakan beberapa cara praktik-praktik terbaik untuk mencapai efisiensi logistik perkotaan.

Bandung, Jln. Riau, 12 Maret 2018

 

Referensi

Cushman & Wakefield, Urban Logistics. 2017
Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Urban Freight and Logistics: The State of Practices in India, 2016
McKinsey, Parcel Delivery The Future of Last Mile. Transport and Logistics, September 2016.
McKinsey, Same-Day Delivery The Next Evolutionary Step in Parcel Logistics. Transport and Logistics, March 2014.

 

 

Logistics & Supply Chain Review

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

Materi : Logistics & Supply Chain Review 

 

Jika Bencana Terjadi

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

 

Jika Bencana Terjadi: Working Group Pendidikan dan Pelatihan Logistik Kebencanaan, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana – Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Sebagai negara yang rawan bencana, Indonesia perlu melakukan pengelolaan penanggulangan bencana dengan baik.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merujuk Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 mendefinisikan bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam, faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Bencana alam diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Bencana nonalam diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam, antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

Sementara bencana sosial merupkan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.

BNPB mendefinisikan kejadian bencana sebagai peristiwa bencana yang terjadi dan dicatat berdasarkan tanggal kejadian, lokasi, jenis bencana, korban dan/ataupun kerusakan. Jika terjadi bencana pada tanggal yang sama dan melanda lebih dari satu wilayah, maka dihitung sebagai satu kejadian.

Jenis bencana yang berpotensi terjadi di Indonesia adalah: gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, tanah longsong, banjir, banjir bandang, kekeringan, kebakaran, kebakaran hutan, angina puting beliung, gelombang pasang, abrasi, kecelakaan transportasi, kecelakaan industri, kejadian luar biasa, konflik sosial, aksi teror, dan sabotase.

Potensi dan Ancaman Bencana
Tren kejadian bencana di Indonesia tahun 2003 – 2017 menunjukkan peningkatan. Tidak kurang dari 2.373 kejadian bencana melanda berbagai daerah di Indonesia selama tahun 2017. Banjir, longsor, dan puting beliung masih tetap mendominasi kejadian bencana di Indonesia (BNPB, 2018).

Sumber: BNPB (2018)

Ada baiknya kita perlu mengenal jenis, potensi, dan ancaman bencana tersebut. Pemahaman yang baik mengenai setiap jenis bencana, akan membuat kita dapat mengelola dan “bersahabat” dengan bencana.

Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang disebabkan oleh tumbukan antarlempeng bumi, patahan aktif, akitivitas gunung api atau runtuhan batuan.

Letusan gunung api merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”. Bahaya letusan gunung api dapat berupa awan panas, lontaran material (pijar), hujan abu lebat, lava, gas racun, tsunami dan banjir lahar.

Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan (“tsu” berarti lautan, “nami” berarti gelombang ombak). Tsunami adalah serangkaian gelombang ombak laut raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi.

Tanah longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng.

Banjir adalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat. Banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba dengan debit air yang besar yang disebabkan terbendungnya aliran sungai pada alur sungai.

Kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Adapun yang dimaksud kekeringan di bidang pertanian adalah kekeringan yang terjadi di lahan pertanian yang ada tanaman (padi, jagung, kedelai dan lain-lain) yang sedang dibudidayakan.

Kebakaran adalah situasi dimana bangunan pada suatu tempat seperti rumah/pemukiman, pabrik, pasar, gedung dan lain-lain dilanda api yang menimbulkan korban dan/atau kerugian. Kebakaran hutan dan lahan adalah suatu keadaan di mana hutan dan lahan dilanda api, sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan lahan yang menimbulkan kerugian ekonomis dan atau nilai lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan seringkali menyebabkan bencana asap yang dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat sekitar.

Angin puting beliung adalah angin kencang yang datang secara tiba-tiba, mempunyai pusat, bergerak melingkar menyerupai spiral dengan kecepatan 40-50 km/jam hingga menyentuh permukaan bumi dan akan hilang dalam waktu singkat (3-5 menit).

Gelombang pasang atau badai adalah gelombang tinggi yang ditimbulkan karena efek terjadinya siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia dan berpotensi kuat menimbulkan bencana alam. Indonesia bukan daerah lintasan siklon tropis tetapi keberadaan siklon tropis akan memberikan pengaruh kuat terjadinya angin kencang, gelombang tinggi disertai hujan deras. Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipicu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut. Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, namun ulah manusia sering disebut sebagai penyebab utama abrasi.

Kecelakaan transportasi adalah kecelakaan moda transportasi yang terjadi di darat, laut dan udara. Kecelakaan industri adalah kecelakaan yang disebabkan oleh dua faktor, yaitu perilaku kerja yang berbahaya (unsafe human act) dan kondisi yang berbahaya (unsafe conditions). Adapun jenis kecelakaan yang terjadi sangat bergantung pada macam industrinya, misalnya bahan dan peralatan kerja yang dipergunakan, proses kerja, kondisi tempat kerja, bahkan pekerja yang terlibat di dalamnya.

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Konflik sosial atau kerusuhan sosial atau huru hara adalah suatu gerakan massal yang bersifat merusak tatanan dan tata tertib sosial yang ada, yang dipicu oleh kecemburuan sosial, budaya dan ekonomi yang biasanya dikemas sebagai pertentangan antar suku, agama, ras (SARA).

Aksi teror adalah aksi yang dilakukan oleh setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan sehingga menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat masal, dengan cara merampas kemerdekaan sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda, mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik internasional.

Sabotase adalah tindakan yang dilakukan untuk melemahkan musuh melalui subversi, penghambatan, pengacauan dan/ atau penghancuran. Dalam perang, istilah ini digunakan untuk mendiskripsikan aktivitas individu atau grup yang tidak berhubungan dengan militer, tetapi dengan spionase. Sabotase dapat dilakukan terhadap beberapa sruktur penting, seperti infrastruktur, struktur ekonomi, dan lain-lain.

Lebih lanjut BNPB menambahkan bahwa bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster). United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) mengidentifikasi faktor-faktor penyebab bencana: (1) Bahaya geologi (geological hazards), bahaya hidrometeorologi (hydro meteorological hazards), bahaya biologi (biological hazards), bahaya teknologi (technological hazards), dan penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation), (2) Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, dan (3) Infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kota atau kawasan yang berisiko bencana, dan (4) Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat.

Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera-Jawa- Nusa Tenggara-Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).

BNPB menjelaskan bahwa gempa bumi yang disebabkan karena interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan gelombang pasang apabila terjadi di samudera. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini, Indonesia sering mengalami tsunami. Tsunami yang terjadi di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya (Puspito, 1994).

Sementara itu, wilayah pantai di Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana tsunami terutama pantai barat Sumatera, pantai selatan Pulau Jawa, pantai utara dan selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Irian Jaya dan hampir seluruh pantai di Sulawesi.

Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur.

Sebaliknya, kondisi itu dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Seiring dengan berkembangnya waktu dan meningkatnya aktivitas manusia, kerusakan lingkungan hidup cenderung semakin parah dan memicu meningkatnya jumlah kejadian dan intensitas bencana hidrometeorologi (banjir, tanah longsor, dan kekeringan) yang terjadi secara silih berganti di banyak daerah di Indonesia.

Pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam (terutama dalam skala besar) menyebabkan hilangnya daya dukung sumber daya ini terhadap kehidupan mayarakat. Dari tahun ke tahun sumber daya hutan di Indonesia semakin berkurang, sementara itu pengusahaan sumber daya mineral juga mengakibatkan kerusakan ekosistem yang secara fisik sering menyebabkan peningkatan risiko bencana.

Pada sisi lain laju pembangunan mengakibatkan peningkatan akses masyarakat terhadap ilmu dan teknologi. Namun, karena kurang tepatnya kebijakan penerapan teknologi, sering terjadi kegagalan teknologi yang berakibat fatal seperti kecelakaan transportasi, industri dan terjadinya wabah penyakit akibat mobilisasi manusia yang semakin tinggi.

Potensi bencana lain yang tidak kalah seriusnya adalah faktor keragaman demografi di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2017 mencapai lebih dari 260 juta jiwa yang terdiri dari beragam etnis, kelompok, agama dan adat istiadat. Keragaman tersebut merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain. Namun karena pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak diimbangi dengan kebijakan dan pembangunan ekonomi, sosial dan infrastruktur yang merata dan memadai, terjadi kesenjangan pada beberapa aspek dan terkadang muncul kecemburuan sosial. Kondisi ini berpotensi menyebabkan terjadinya konflik dalam masyarakat yang dapat berkembang menjadi bencana nasional.

Manajemen Bencana
Pengelolaan penanggulangan bencana dimulai pada saat prabencana, tanggap darurat, dan pemulihan.

Penanggulangan bencana pada saat prabencana dengan cara melakukan identifikasi jenis bencana, peluang terjadinya bencana di suatu lokasi, dampak bencana, dan mitigasi risiko bencana.

Pemetaan potensi dan ancaman bencana perlu dilakukan di setiap daerah. Dari pemetaan ini kita dapat melakukan upaya mitigasi risiko bencana sesuai dengan jenis dan karakteristik bencana. Pengukuran assessment ketangguhan bencana di setiap daerah perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana suatu daerah termasuk penduduknya mampu bertahan dan melakukan pemulihan bila terjadi suatu bencana.

Teknologi peringatan dini perlu diterapkan di setiap daerah rawan bencana, agar penduduk di daerah tersebut dapat mengetahui lebih dini bila akan terjadi bencana, sehingga mereka dapat segera melakukan evakuasi untuk penyelematan jiwa.

Edukasi penanggulangan bencana perlu dikenalkan ke anak-anak, siswa sekolah, ibu rumah tangga, pekerja kantor, pekerja pabrik, dan masyarakat secara luas. Edukasi ini setidaknya mencakup pemahaman jenis dan potensi ancaman bencana, mitigasi risiko dampak bencana, pencegahan bahaya bencana, evakuasi, dan penyelamatan pada saat terjadinya bencana.

Pembangunan konstruksi rumah, perkantoran, gedung pabrik, jembatan, dan infrastruktur publik sebaiknya memerhatikan dan mempertimbangkan jenis dan karakteristik potensi

ancaman bencana. Pemilhan material dan penggunaan teknologi kontruksi bangunan dan gedung agar fleksibel terhadap kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana.

Perspektif Logistik
Tidak kalah pentingnya, pada tahap prabencana ini perlu disiapkan sistem manajemen penanggulangan bencana yang efektif. Upaya penanggulangan bencana memerlukan sistem manajemen logistik untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan dan peralatan penanggulangan bencana.

BNPB perlu membangun dan mengelola gudang (warehouse) tempat penyimpanan barang bantuan kemanusiaan. Gudang-gudang ini perlu dibangun di lokasi strategis yang mendekati daerah rawan bencana. Lokasi gudang BNPB agar mudah diakses oleh sarana atau moda transportasi, baik transportasi darat, laut, sungai, dan udara.

Pada saat kondisi normal atau prabencana, BNPB perlu mengidentifikasi kebutuhan minimal barang bantuan kemanusiaan ini, baik dari aspek jenis bantuan kemanusiaan dan jumlah setiap jenis bantuan kemanusiaan tersebut. Sumber pendanaan pengadaan bantuan kemanusian ini dapat diperoleh dari APBN, masyarakat, atau dunia usaha.

Pada saat terjadi bencana – sering kita kenal dengan tanggap darurat, perlu respon dan tindakan cepat evakuasi penduduk terdampak bencana, evakuasi binatang ternak, penyiapan tempat pengungsi, dan distribusi bantuan kemanusiaan untuk para pengungsi.

Efektivitas dari penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat ini adalah kecepatan dalam melakukan evakuasi dan penyiapan lokasi pengungsi. Bila terjadi suatu bencana, seringkali terjadi banyak pihak yang terlibat – seperti BASARNAS, TNI, Polri, BNPB, BPBD, PMI, dan relawan dalam upaya pencarian korban bencana, proses evakuasi, dan penampungan penduduk terdampak bencana di lokasi pengungsian.

Penyiapan lokasi pengungsi memerlukan penataan infrastruktur darurat yang memadai untuk menopang kegiatan dan kebutuhan para pengungsi selama masa tanggap darurat. Penyediaan shelter, sarana MCK, dapur umum, sarana listrik, air, gas, sarana komunkasi, pengobatan, media center, trauma center, dan lain-lain perlu disiapkan di tempat pengungsian. Kebutuhan bantuan kemanusian yang berisi makanan, minuman, dan pakaian sesuai keperluan penduduk di lokasi pengungsi perlu disiapkan dengan baik.

Dalam hal ini, sistem manajemen logistik bantuan kemanusiaan berperan penting untuk memastikan kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan dari gudang BNPB dan para donor dapat diterima dengan baik ke lokasi pengungsi atau penduduk terdampak bencana.

Penyiapan dan pengelolaan gudang darurat pada saat tanggap darurat perlu dilakukan segera di lokasi terdekat dan aman dari ancaman bencana. Gudang darurat ini disiapkan dan dikelola dengan tetap mempertimbangkan desain dan tata cara pergudangan, seperti penerimaan barang, penempatan, penyimpanan, pengambilan, pengepakan, pengeluaran, layout, dan alur pergerakan barang. Pemahaman petugas BPBD sebagai pengelola gudang darurat di lokasi bencana mengenai manajemen pergudangan perlu terus ditingkatkan, agar mereka dapat menyiapkan dan mengelola pergudangan bantuan kemanusiaan secara efektif.

Bila bencana sudah mulai berakhir, tahap berikutnya dalam manajemen penanggulangan bencana adalah pemulihan (recovery). Inti dari tahap ini adalah aktivitas rekonstruksi dan rehabilitasi.

Rekonstruktusi berupa pembangunan kembali infrastruktur yang rusak akibat bencana untuk pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi penduduk terdampak bencana. Pembangunan jalan, jembatan, sekolah, tempat ibadah, listrik, air, rumah, pasar, perkantoran, dan lain-lain dilakukan pada tahap pemulihan ini.

Dari perspektif logistik, jika bencana terjadi, maka infrastruktur dan sistem logistik suatu desa, kota, provinsi, atau bahkan negara yang terdampak bencana akan terganggu. Seberapa besar terganggunya infrastruktur dan sistem logistik ini tergantung pada jenis, karakteristik, dan skala dampak bencana.

Infrastruktur utama logistik berupa jalan raya, pelabuhan, bandar udara, gudang, kendaraan, listrik, dan telekomunikasi. Umumnya pada saat terjadi bencana, infrastruktur logistik tersebut rusak bahkan lumpuh, tidak bisa digunakan lagi untuk mendukung aktivitas utama logistik seperti transportasi dan distribusi.

Bila bencana terjadi, perlu segera dilakukan identifikasi infrastruktur logistik mana yang rusak dan apa implikasinya terhadap aktivitas logistik. Perlu dicari alternatif atau kontinjensi untuk penggunaan infrastruktur logistik lainnya yang masih berfungsi.

Pasokan bahan baku dan komponen sangat mungkin terganggu, demikian pula distribusi produk jadi yang diproduksi oleh pabrikan di daerah terdampak bencana. Perlu segera dilakukan pemulihan agar kelancaran produksi dan perdagangan normal kembali.

***

Bisa jadi bencana merupakan bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Bangsa yang ditakdirkan lahir, hidup, dan besar di tanah air Indonesia yang rawan terhadap bencana.

Bencana tidak dapat ditolak, namun dapat dikelola dengan cara bersahabat dengan bencana. Pengelolaan bencana mencakup upaya penanggulangan bencana pada saat prabencana atau kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan. Penanggulangan bencana yang efektif akan menghasilkan pencegahan bencana, pengurangan risiko dampak bencana, dan upaya pemulihan bencana secara cepat.

Kerjasama antarsemua komponen bangsa, utamanya Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha untuk kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan upaya melakukan rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana, akan menghasilkan bangsa yang tangguh dalam penanggulangan bencana.

Bandung, 25 Februari 2018

– – –

Referensi

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana, BNPB, Manajemen Bencana, 2018.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana, BNPB, Manajemen Logistik Penanggulangan Bencana, 2018.

Sideney A. Schreiner, Jr., Urban Transport and Logistics in Cases of Natural Disasters, CRC Press Taylor & Francis Group, 2014

Hariyanto: Supply Chain Manajemen Berbantuan Teknologi Informasi

Hariyanto, SE, MM, Direktur Utama PT Pos Logistik Indonesia, akan hadir sebagai Pembicara Kuliah Perdana Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII), bertempat di Auditorium Gedung KH Mas Mansur, FTI UII, Kampus Terpadu UII, Jl Kaliurang Km 14,4 Sleman Yogyakarta pada hari Sabtu 25 April 2015.

“Adapun tema Kuliah Perdananya adalah Supply Chain Manajemen Berbantuan Teknologi Informasi”, hal tersebut disampaikan oleh Zaroni, Chief Head of Planning and Business Development PT Pos Logistik Indonesia melalui pesan singkatnya (14/4/2015)

Hariyanto bukan lah sosok yang baru di dunia jasa pengiriman dan logistik di Indonesia. Putra Makassar ini telah berpuluh tahun malang melintang di PT Pos Indonesia (Persero) dalam berbagai penugasan. Dunia jasa pengiriman surat dan paket (jasa pos) yang membawa dirinya naik menjadi Direktur Utama PT Pos Logistik atau yang disingkat dengan PosLog.

PT Pos Logistik Indonesia adalah Anak perusahaan PT Pos Indonesia (Persero), mempunyai visi Pos Logistik “Menjadi penyedia solusi logistik terpadu yang terpercaya, terluas, dan terkemuka di Indonesia”. Sebagai profesional, Hariyanto selalu berusaha meninggalkan legacy yang baik bagi organisasi yang dipimpinnya.

Jerri Irgo