Posts

Tren Hijab: Perspektif Supply Chain & Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

Dalam satu dekade terakhir, kita menyaksikan kaum perempuan banyak memakai hijab. Hijab tidak hanya menunjukkan jati diri pemakainya sebagai muslimah, namun hijab telah menjadi bagian dari fashion yang semakin stylish, trendi, modern, dan colorful. Semakin banyak wanita muslimah memakai hijab ketika pergi ke sekolah, kampus, kantor, pasar, mal, dan bersosialisasi dengan komunitas. Hijab tidak sekadar kerudung, namun hijab sebagai busana muslimah sesuai kaidah-kaidah ajaran Islam. Fenomena seperti ini berbeda sepuluh atau lima belas tahun lalu. Dulu pemakai hijab identik dengan santriwati atau ibu-ibu yang memakainya saat pengajian.

Menarik untuk kita cermati, banyaknya pemakai hijab ini tidak lepas dari perubahan nilai-nilai yang terjadi pada konsumen muslim, utamanya konsumen muslim kelas menengah (Yuswohady et al, 2015). Menurut Yuswohady, ada dua perubahan nilai-nilai yang paling mendasar pada konsumen kelas menengah muslim saat ini.

Pertama, semakin pentingnya nilai-nilai religiusitas dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran kaum muslim untuk menerapkan syariah ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari semakin meningkat, termasuk kesadaran dalam memakai hijab bagi kaum perempuan. Selain itu, kita juga melihat kaum muslim semakin menyadari pentingnya pilihan produk makanan-minuman dan kosmetik yang halal dan thoyib – berkualitas baik dan hygienic.

Kedua, terjadinya fenomena kaum muslimah memakai hijab karena didorong oleh cara berpikir yang semakin terbuka terhadap berbagai perubahan yang ada, seperti teknologi dan fesyen. Wawasan atau pengetahuan perempuan muslim yang semakin tinggi dan koneksi sosial yang luas membuat pola pikir mereka semakin terbuka. Keterbukaan dalam cara berpikir ini memengaruhi mereka dalam memilih produk dengan pertimbangan rasional dan memerhatikan kaidah-kaidah ajaran Islam.

Selain itu, di tempat kerja, sekolah, kampus, bahkan kini di lingkungan kerja TNI dan Polri semakin menerima dan toleran terhadap pemakai hijab. Tidak ada lagi larangan dan batasan perempuan muslimah yang berhijab. Akibatnya, kini kita menyaksikan hampir sebagian besar perempuan muslimah memakai hijab untuk berbagai aktivitas. Hijab telah menjadi suatu kebutuhan dan kesadaaran.

Permintaan hijab yang semakin meningkat mendorong penawaran produk hijab yang beragam. Baik dari kualitas, mode, motif, maupun harga. Permintaan telah menciptakan penawaran, demikian ekonom John Maynard Keynes (1883 – 1946) pernah berujar. Kenaikan permintaan hijab memicu pasar untuk memproduksi hijab, mulai dari produksi skala home industry, usaha kecil dan menengah sampai produksi pabrikan. Bahkan kita menyaksikan berbagai busana muslimah bermerek bermunculan seperti Dian Pelangi, Aprilia, Normamoi, Irna La Perle, Zoya, Shafira, Rabbani, Ukhti, dan lain-lain. Produk busana muslimah dengan merek-merek ini sangat diminati pasar, sehingga harganya pun cukup mahal.

Kunci Keberhasilan

Di Indonesia, pasar produk hijab – termasuk busana muslimah memang sangat menarik. Tidak saja karena populasi perempuan muslimah yang cukup besar di negeri ini (kini jumlah konsumen muslim mencapai 87% dari seluruh penduduk Indonesia) serta kesadaran perempuan muslimah untuk memakai busana muslim, namun saat ini banyak penduduk muslim berada di kelas menengah (middle-class Muslim). Mereka, konsumen muslim kelas menengah ini, memiliki daya beli, wawasan, pengetahuan, dan komunitas sosial yang luas, sehingga permintaan produk hijab, kosmetik, dan asesoris busana muslimah yang berkualitas dan brand ternama terus meningkat.

Produk hijab telah memberikan banyak kesempatan bagi pengusaha kecil dan pemula (start- up) untuk memproduksi dan memasarkan hijab dan busana muslimah. Lapangan kerja pun terbuka, karena sebagian besar hijab dan busana muslimah diproduksi dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja, mulai dari desainer, penjahit, distributor, dan penjual retailer.

Permintaan produk hijab dan busana muslimah tetap ada dan kecenderungannya semakin meningkat. Tingkat kompetisi produsen hijab dan busana muslimah pun semakin tinggi dengan banyaknya pelaku usaha di produk ini. Karenanya, produsen produk hijab dan busana muslimah perlu meningkatkan keunggulan daya saingnya agar produknya tetap diminati konsumen.

Bagaimana meningkatkan daya saing produk? Porter (1985), ahli manajemen strategi dari Harvard University, memberikan nasihat bahwa untuk unggul dalam pasar, produk harus unik (differentiation) dan diproduksi dengan biaya rendah (cost leadership).

Produk dikatakan unik bila konsumen pemakai produk tersebut memposisikan berbeda dengan produk lain yang ditawarkan oleh produsen lain. Keunikan produk ini bisa disebabkan oleh kualitas, karakteristik produk, bahan baku produk, motif, corak warna, mode, style, dan lain-lain. Terlebih produk fashion, keunikan produk menjadi hal penting.

Selain produk harus unik, produsen harus mampu memproduksi suatu produk dengan biaya yang paling rendah. Biaya rendah memungkinkan produsen memeroleh margin yang mencukupi meski dengan harga jual yang sama dengan pesaing. Dengan margin yang memadai, produsen dapat mengalokasikan bagian margin ini untuk riset, pengembangan, dan inovasi produk.

Saat ini, keunggulan daya saing produk tidak cukup hanya kualitas dan biaya yang rendah. Dalam perspektif supply chain dan logistics, selain produk yang berkualitas dan biaya yang rendah, perusahaan harus responsif, andal (reliable), dan lincah (agile) dalam memenuhi dan mengantisipasi perubahan pasar (Fernie & Spark, 2014).

Produk hijab dan busana muslimah termasuk kategori produk fashion. Produk fashion selain memberikan manfaat fungsional, produk fashion harus mewakili aspirasi dan nilai-nilai pemakainya. Dalam beberapa konsumen, bahkan produk fashion menunjukkan kemewahan (luxury).

Pengusaha produk hijab dan busana muslimah perlu menetapkan siapa target konsumennya untuk perumusan strategi positioning, branding dan differentiation produk. Pemahaman nilai-nilai (psychographics), perilaku (behavior) dari konsumen pemakai hijab dan busana muslimah menjadi hal penting, tidak sekadar data demografis seperti kelompok umur, status sosial dan ekonomi, pekerjaan, pendidikan, dan lain-lain. Kondisi demografis bersifat statis dan kurang insightful untuk perumusan strategi dan program branding.

Dari analisis target konsumen ini, selanjutnya menjadi referensi tim produksi dalam membuat produk hijab dan busana muslimah sesuai dengan kualitas produk yang diinginkan dari target konsumen. Konsumen muslim kelas menengah, umumnya mereka menginginkan hijab dan busana muslimah dengan kualitas bahan baku yang baik, desain, warna, dan style yang memberikan rasa kenyamanan dan kemewahan bila dipakai.

Pilihan bahan baku yang tepat menjadi kunci keberhasilan dalam menghasilkan produk hijab dan busana muslimah yang memenuhi selera target konsumen. Selain itu, kontinuitas pasokan dan keandalan pemasok bahan baku seperti kain, aksesoris, kemasan, dan lain-lain, menjadi perhatian pengusaha produk hijab agar bahan baku dapat memenuhi standar kuantitas, kualitas, dan ketepatan waktu untuk proses produksi.

Bahan baku yang kurang berkualitas akan mengakibatkan banyak produk defect. Kuantitas pasokan bahan baku yang tidak tepat akan mengganggu produksi. Bahan baku yang overstock akan berisiko rusak atau hilang, selain tentu saja mengakibatkan modal kerja yang idle. Demikian juga understock, produksi akan terganggu karena kekurangan pasokan bahan baku pada saat dibutuhkan.

Jadwal kedatangan bahan baku yang terlambat akan mengakibatkan produksi terhenti, karena harus menunggu bahan baku. Bahan baku yang tiba terlalu cepat akan menimbulkan biaya penyimpanan bahan baku yang lebih besar, selain risiko kerusakan, kehilangan, dan penurunan kualitas bahan baku. Karenanya, ketepatan pengiriman bahan baku menjadi hal penting dalam keberhasilan produksi produk hijab dan busana muslimah.

Untu menjamin pasokan dan kualitas bahan baku, pengusaha produk hijab perlu membangun kemitraan dengan pemasok dalam jangka panjang, tidak sekadar hubungan bisnis transaksional. Secara berkala perlu dilakukan evaluasi dan perbaikan hubungan kemitraan, baik evaluasi kualitas, kuantitas, harga, dan ketepatan pengiriman bahan baku.

Umumnya, banyak pengusaha produk hijab dan busana muslimah memilih strategi “maklon”, yaitu pengusaha mensubkontrakkan pekerjaan pembuatan produk ke pihak lain, sementara pemilihan bahan baku, desain, dan standar kualitas produk jadi ditetapkan dan diawasi oleh pemberi kerja, dalam hal ini pemegang merek produk. Strategi maklon ini dapat membuka kesempatan kerja yang luas dengan melibatkan para ibu rumah tangga untuk menjadi mitra maklon. Pengusaha produk hijab perlu melakukan pemilihan mitra maklon dan penerapan standar kualitas produk hijab yang diproduksi oleh maklon.

Berapa banyak produk hijab dan busana muslimah yang harus diproduksi sangat bergantung pada peramalan permintaan produk. Penggunaan data pasar, data historis, dan data permintaan musiman (seasonal), seperti tahun ajaran sekolah atau perkuliahan, bulan puasa,
lebaran, dan musim umrah/haji, menjadi referensi penting dalam penentuan kuantitas produksi hijab dan busana muslimah.

Produk hijab dan busana muslimah sangat dipengaruhi oleh trend dan mode, sesuai dengan selera konsumen. Ada produk hijab dan busana muslimah dengan mode, desain, dan corak yang awet (everlasting), sehingga menjadi mode legacy dan legenda. Produk seperti ini dapat diproduksi sepanjang masa. Sebaliknya, produk hijab yang desainnya kekinian sangat terpengaruh oleh selera konsumen, sehingga kecepatan dalam merespon selera konsumen, lalu mewujudkannya menjadi produk hijab dan busana muslimah yang dapat dibeli konsumen sesuai market timing, merupakan kunci keberhasilan bisnis produk ini.

Pengusaha produk hijab dan busana muslimah sebaiknya membangun dan mengelola brand produk dengan tepat. Brand produk mewakili persepsi dan positioning seperti yang diharapkan konsumen. Sejatinya, banyak konsumen lebih memilih brand dalam memutuskan pembelian suatu produk. Karenanya, pengelolaan brand menjadi penting. Pengelolaan brand ini harus konsisten, artinya antara yang dijanjikan (promise) dengan yang disampaikan (deliver) harus selaras.

Selain brand, untuk mengadvokasi dan mendorong pemakaian produk hijab dengan brand anda, ada baiknya mengajak artis, ustadzah, atau tokoh tertentu yang menjadi role model untuk meng-endorse produk hijab anda. Ini penting untuk meng-endorse target konsumen muda metropop. Banyak sederet nama artis yang telah mengenakan hijab dan menjadi trendsetter seperti Dewi Sandra, Inneke Koesherawati, Zaskia Adya Mecca, Nuri Maulida, Zaskia Sungkar, Risty Tagor, dan lainnya. Mereka dapat banyak dijadikan endorse suatu produk hijab brand tertentu, khususnya produk hijab luxury.

Bila anda yang masih pengusaha pemula, tentu tidak perlu harus mengeluarkan banyak biaya untuk iklan dengan endorse para artis tersebut. Anda bisa memanfaatkan celebrities lokal seperti siswi atau mahasiswi berprestasi di kampus, untuk meng-endorse brand produk hijab anda.

Membangun komunikasi dengan target konsomen hijaber ini perlu dilakukan. Anda sebaiknya masuk di komunitas hijaber baik online maupun offline, untuk mendengarkan aspirasi, keinginan, harapan, dan penilaian mereka atas suatu produk hijab dan busana muslimah.

Setelah brand dan membangun komunikasi dengan pelanggan, keberhasilan bisnis produk hijab dan busana muslimah ditentukan oleh keandalan dan jangkauan distribusi. Anda perlu menetapkan strategi distribusi dengan tepat. Pemilihan model saluran distribusi, baik melalui online maupun distribusi konvensional perlu mempertimbangkan target pasar yang anda tuju.

Yuswohady mengungkapkan bahwa salah satu perubahan penting pada nilai-nilai konsumen kelas menengah muslim adalah tingginya koneksi sosial (high socially-connected). Penyebabnya adalah pendidikan tinggi dan pergaulan yang luas. Mereka aktif di berbagai komunitas hijab dan banyak berinteraksi di dunia internet. Salah satu perilaku menarik mereka adalah perilaku membeli secara online.

Yuswohady menambahkan, mereka pun tidak sekadar memiliki marketplace di internet, tapi juga gerai fisik seperti toko atau butik. Menariknya, seperti yang disampaikan pendiri Hijup.com, Diajeng Lestari, bahwa tipe pembeli konsumen Indonesia tidak hanya bisa memesan di online shop, melainkan juga perlu melihat dan mengecek kualitas sendiri barang yang akan dibeli. Karenanya, selain anda menjual produk hijab dan busana muslimah di marketplace, anda tetap harus memiliki outlet yang buka setiap hari untuk melayani pembeli konsumen.

Penjualan produk hijab dan busana muslimah melalui online mensyaratkan keandalan pengiriman produk ke alamat penerima secara tepat. Anda bisa menjalin kerjasama dengan kantor pos atau perusahaan kurir lainnya untuk mempercayakan pengiriman produk hijab anda ke konsumen.

Peningkatan penjualan produk hijab anda dilakukan melalui program pemasaran yang efektif seperti membangun brand, meng-endorse brand, menyelenggarakan event, tutorial memakai hijab, membangun komunikasi dengan pelanggan dan hijabers community, serta menjaga keandalan distribusi dan pengiriman produk, sehingga produk hijab anda selalu tersedia di pasar dan diterima konsumen tepat waktu. Integrasi pemasaran dengan supply chain dan logistics menjadi kunci keberhasilan bisnis hijab dan busana muslimah.

***

Menarik untuk disampaikan hasil penelitian Gallup pada tahun 2009, Indonesia masuk dalam daftar 10 negara paling religius. Gallup menemukan bahwa 99 persen orang Indonesia menilai agama merupakan hal penting dalam kehidupan keseharian mereka. Gallup menyebut Indonesia sebagai paradoks. Mengapa? Umumnya, demikian kata Gallup, ketika suatu negara mengalami peningkatan pendapatan per kapita, maka masyarakat di dalamnya akan semakin sekuler.

Pandangan ini tidak terjadi di Indonesia. Tatkala penduduk Indonesia semakin meningkat pendapatannya, mereka justru semakin religius. Agama dinilai sebagai faktor penting dalam kehidupan sehari-hari mereka. Fenomena ini kita saksikan dalam tren perempuan muslimah berhijab, seiring dengan semakin banyak penduduk muslim kelas menengah.

Tren berhijab mendorong semakin banyak pengusaha memasuki bisnis produk hijab dan busana muslimah. Peluang ini perlu diwujudkan dengan membangun dan mengembangkan bisnis produk hijab dan busana muslimah dengan mengintegrasikan pemasaran dan supply chain management. Logistik berperan penting di dalamnya untuk memastikan perencanaan produksi, keandalan pasokan bahan baku, proses produksi, distribusi, dan pengiriman produk hijab dan busana muslimah dengan tepat.

Bandung, 18 Maret 2018,

Artikel ini saya tulis untuk Jerri Irgo, Merisha Hastarina dan Hijab Start-up Entrepreneurs

Retail Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

Hampir semua produsen tidak menjual produk-produknya secara langsung ke konsumen akhir. Antara produsen dan konsumen akhir ada perantara (intermediary) yang berfungsi sebagai saluran pemasaran (marketing channel). Saluran pemasaran ini dikenal juga sebagai saluran perdagangan (trade channel) atau saluran distribusi (distribution channel)

Saluran pemasaran banyak macamnya. Kita mengenal pedagang besar (wholesaler), grosir, distributor, dan pengecer (retailer). Saluran pemasaran memainkan peran penting dalam kesuksesan perusahaan dan memengaruhi semua faktor keputusan strategi pemasaran.

Saluran pemasaran yang menjual produk-produk langsung ke konsumen personal atau rumah tangga sebagai pengguna akhir produk dikenal retailer atau retailer store. Pengecer menjual aneka produk, mulai dari pakaian, makanan, peralatan rumah tangga, buku, peralatan elektronik, dan lain-lain

Tidak masalah bagaimana produk-produk atau jasa tersebut dijual. Apakah penjualan produkproduk tersebut melalui tenaga penjualan, katalog, email, telepon, surat, vending machine, atau penjualan secara online. Demikian pula, di mana penjualan produkproduk dilakukan, apakah penjualan produk dilakukan di toko, jalan, atau bahkan di rumah konsumen.

Sektor ritel bergerak dan tumbuh sangat cepat, secepat perputaran penjualan produk-produknya.

Beberapa peritel melakukan inovasi layanan, mengembangkan strategi jangka panjang, penggunaan teknologi terkini, penerapan sistem informasi yang canggih, dan pemanfaatan marketing tools secara efektif. Sebut saja misalnya, peritel global seperti Uniqlo, Zara, Zappos, H&M, Mango, Topshop, Walmart, dan lain-lain.

Bentuk toko ritel yang lain adalah toko swalayan (supermarket), toko serba ada (department store), toko kombinasi (combination store), hypermarket, toko diskon, factory outlet, dan katalog showroom (Kotler dan Keller, 2015).

Peran Logistik

Logistik ritel (retail logistics) akan menjamin ketersediaan produk-produk dari manufaktur dan pemasok lainnya untuk dijual di toko-toko ritel dalam jumlah yang mencukupi sesuai kebutuhan permintaan pasar, dengan kualitas produk yang terjaga, dan biaya logistik yang efisien.

Saat ini banyak toko ritel – terutama pasar swalayan, yang menjual produk-produk kategori produk-produk yang mudah rusak (perishable goods), seperti ikan segar, buahbuahan, sayur mayur, dan lain-lain. Produk-produk ini memerlukan sistem penyimpanan, transportasi, dan tempat dengan pengaturan temperatur dan kelembaban tertentu.

Logistik ritel telah bertrans formasi, dari sekadar penyimpanan, pengangkutan, dan distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, namun logistik ritel saat ini mencakup pengelolaan demand chain dan supply chain.

Dalam mengelola logistik ritel, kita perlu memahami dan mengidentifikasi kebutuhan konsumen akan jenis produk, berapa banyak kuantitas produk yang diperlukan, dan kapan
produk-produk tersebut diperlukan. Ini yang dikenal dengan demand chain.

Selain mengelola demand chain, logistik ritel mengelola supply chain. Pengelolaan supply chain dalam sektor ritel mencakup order pembelian, distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, pembayaran ke pemasok, dan pengelolaan informasi jenis produk, lokasi, dan kualitas produk yang perlu dipasok dari pemasok ke toko-toko peritel.

Fernie dan Sparks (2014) menyebutkan lima komponen penting dalam logistik ritel, yang dikenal dengan logistics mix sebagai berikut:

  1. Fasilitas penyimpanan (storage facilities). Logistik ritel memerlukan fasilitas penyimpanan berupa gudang (warehouse) atau Distribution Center (DC) atau secara sederhana mungkin sekadar stock point yang menyimpan produk-produk dalam jumlah yang mencukupi untuk menjaga persediaan produk yang optimal, untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan permintaan. Selain itu, fasilitas penyimpanan diperlukan untuk menjaga kualitas dan keamanan produk.
  2. Persediaan (inventory). Umumnya semua peritel menahan atau menyimpan persediaan. Pengelolaan persediaan ini mencakup keputusan penentuan berapa jumlah stock atau persediaan yang harus disimpan, lokasi penyimpanan, kapan melakukan order pembelian, dan berapa jumlah barang setiap order pembelian, untuk menjamin ketersediaan produk dengan biaya penyimpanan persediaan yang paling efisien.
  3. Pengangkutan (transportation). Hampir semua produk memerlukan transportasi untuk
    memindahkan produk dari lokasi produksi ke lokasi konsumsi. Karenanya, peritel harus mengelola transportasi yang dihadapkan pada berbagai jenis moda transportasi, ukuran
    container, jenis armada kendaraan, jadwal keberangkatan dan kedatangan transportasi, ketersediaan dan kesiapan kendaraan termasuk sopirnya.
  4. Unitisasi dan pengepakan (unitization dan packaging) Produk-produk consumer umumnya dijual di toko ritel dalam jumlah dan ukuran yang kecil. Sementara produk-produk yang dipasok dari manufaktur dalam ukuran dan jumlah besar seperti container. Karenanya, dalam logistik ritel diperlukan unitisasi dan pengepakan. Unitisasi akan menyatukan produkproduk ritel dalam satuan kecil menjadi ukuran yang lebih besar. Produk dalam kemasan dengan satuan kaleng atau piece misalnya, akan disatukan menjadi satuan karton, box, atau pallet. Selain itu, untuk kepentingan handling dalam logistik ritel menuntut pengepakan produk yang kuat, mudah, dan efisien ketika dilakukan handling selama proses transportasi, penyimpanan, material handling, dan pemajangan produk di rak (shelves management).
  5. Komunikasi (communications). Komunikasi memegang peran penting dalam sistem logistik ritel. Untuk mendapatkan informasi dimana produk dijual, jenis produk, berapa banyak, kapan, dan siapa pembeli produk-produk ritel, diperlukan sistem informasi dan komunikasi yangmemadai. Tidak hanya informasi mengenai sisi permintan dan penawaran produk, melainkan informasi mengenai volume, stock, harga, dan pergerakan atau fluktuasi penjualan produk. Informasi ini penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem operasi logistik ritel.

Kelima komponen logistik ritel ini saling berkaitan. Kinerja logistik ritel ditentukan oleh
koordinasi, harmonisasi, dan integrasi antarkomponen. Pengepakan dan unitisasi produk dari manufaktur akan menentukan kinerja pengangkutan dan penyimpanan. Informasi demand dan supply chain akan menentukan jumlah persediaan, jenis produk, dan fasilitas dan lokasi penyimpanan untuk pendistribusian produk-produk di toko-toko ritel.

Tolok ukur keberhasilan logistik ritel sejatinya ditentukan oleh logistics cost dan service level. Logistics cost berhubungan dengan biaya logistik total mulai dari biaya pemesanan, pengangkutan, penyimpanan, distribusi, dan penataan produk di toko-toko ritel. Sementara service level terkait erat dengan ketepatan jenis produk, waktu, lokasi, keamanan, keutuhan, dan kualitas produk selama proses aktivitas logistik sampai produk digunakan consumer. Dalam pengelolaan logistik ritel, sebagian dikelola sendiri (in-house logistics) dan sebagian diserahkan ke pihak ketiga (outsourcing logistics) ke 3PL company

Desain Logistik Ritel

Di era kompetisi bisnis yang semakin ketat, daya saing perusahaan tidak hanya ditentukan oleh keunggulan komparatif yang mengandalkan sumber daya dan kapabilitas organisasi. Saat ini kompetisi didasarkan pada kompetisi berbasis waktu (timebased competition).

Setidaknya ada tiga dimensi dalam time-based competition seperti diujarkan oleh Christopher dan Peck (2003). Organisasi perusahaan harus mengelola time-based competition secara efektif untuk merespon perubahan lingkungan bisnis. Ketiga time-based competition tersebut adalah:

  • time to market : kecepatan perusahaan untuk mengkomersialisasi peluang bisnis ke pasar;
  • time to serve : kecepatan perusahaan dalam memenuhi order pelanggan; dan
  • time to react : kecepatan perusahaan dalam menyesuaikan perubahan permintaan yang berfluktuasi secara cepat.

Pendekatan kompetisi berbasis waktu mendorong perusahaan untuk mengembangkan strategi lead-time dalam pengelolaan bisnis. Semakin cepat dan pendek lead-time, maka perusahaan akan unggul.

Kunci keberhasilan bisnis sektor ritel terletak pada pengelolaan strategi lead-time ini. Logistik ritel tidak hanya persoalan pengelolaan inventory, penyimpanan, dan transportasi. Logistik ritel mencakup pengelolaan supply chain dan customer chain. Bila perusahaan berhasil dalam mengelola supply chain dan customer chain, maka penciptaan nilai akan dihasilkan. Ini yang
dikenal dengan value chain sebagaimana dicetuskan pertama kali oleh Porter (1985).

Dalam logistik ritel, distribusi dibedakan menjadi primary distribution dan secondary distribution. Primary distribution merupakan distribusi produk dari pabrik ke warehouse atau DC. Sementara secondary distribution merupakan distribusi produk dari warehouse atau DC ke toko peritel.

Kotler dan Keller memberikan penamaan market logistics untuk menyebut logistik ritel ini. Dalam pandangan Kotler dan Keller (2015), market logistics mencakup perencanaan infrastruktur logistik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, untuk selanjutnya mengimplementasikan dan mengendalikan aliran produk-produk consumer dari titik asal ke titik tujuan sesuai kebutuhan pelanggan secara efisien dan efektif.

Alan McKinnon (1996) dalam Fernie dan Sparks (2014) memberikan rekomendasi untuk peningkatan kinerja logistik ritel dalam era time-based competition.

  1. Perusahaan ritel harus meningkatkan pengendalian atas secondary distribution dengan
    cara menggunakan DC dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang
    andal. Saat ini produk-produk ritel dipasok dari berbagai negara, selain itu
    ketergantungan antaraliran produk semakin tinggi. Karenanya, operasional
    logistik harus terintegrasi, utamanya dalam pemenuhan order, pengisian
    stock, dan pengendalian aliran informasi pergerakan dan penyimpanan barang.
  2. Perusahaan ritel harus melakukan restrukturisasi sistem logistiknya dengan cara
    mengurangi tingkat persediaan barang, meningkatkan efisiensi melalui
    pengembangan “composite distribution”, yaitu distribusi produk-produk yang
    memerlukan tingkat temperature sama dalam satu DC dan satu kendaraan.
    Selain itu, perusahaan harus menerapkan sentralisasi warehouse untuk produk-produk yang slower moving dengan cara penggunaan warehouse bersama (common stock
    rooms).
  3. Perusahaan hendaknya mengadopsi “Quick Response” (QR). Tujuan dari penerapan QR untuk memangkas tingkat persediaan dan meningkatkan kecepatan aliran produk. Penerapan QR dapat mengurangi order lead time dan frekuensi pergerakan delivery barang antara DC dan toko.
  4. Perusahaan harus meningkatkan utilisasi aset dan infrastruktur logistik dengan cara mengintegrasikan sistem jaringan primary distribution dan secondary distribution melalui penerapan Electronic Data Interchange (EDI). Penerapan EDI ini akan mengurangi waste karena perencanaan aliran fisik produk, dokumen, dan keuangan
    dapat diatur dengan baik.
  5. Perusahaan harus meningkatkan aliran return packaged material and handling equipment untuk recycling atau re-use dengan cara mengembangkan “reverse logistics”.
  6. Perusahaan mulai mengenalkan pendekatan Supply Chain Management (SCM) and Efficient Consumer Response (ECR) untuk meningkatkan efisiensi operasi logistik. Kolaborasi antarpemasok untuk memaksimalkan kapasitas logistik akan dicapai efisiensi logistik ritel. Penggunaan fasilitas pergudangan dan moda transportasi bersama akan meningkatkan skala ekonomis sistem logistik.

Perkembangan dan tantangan logitistik ritel semakin meningkat terutama dipicu oleh
teknologi internet yang memungkinkan perusahaan menerapkan strategi penjualan
produk secara online, online dan offline, dan bahkan strategi ritel telah berkembang menjadi
strategi Omni-channel.

Kemajuan teknologi internet memang dapat mendisrupsi bisnis sektor ritel, utamanya para pebisnis ritel konvensional, yang masih menggunakan satu saluran penjualan dalam berinteraksi dengan pelanggannya. Atau, kalaupun mereka telah mulai mengembangkan berbagai saluran penjualan (multichannel), antarsaluran tersebut tidak terintegrasi.

Akibatnya, perusahaan tidak dapat menangkap dan memberikan pelayanan penjualan secara maksimal ke pelanggannya, utamanya pelanggan yang telah menggunakan berbagai saluran media komunikasi: media sosial online sebagai netizens.

Keberhasilan bisnis ritel sejatinya ditentukan oleh empat faktor: ketepatan (pacing), pandangan global (span), ketersediaan (availability), dan informasi (Fernie dan
Sparks, 2014).

Peritel pakaian yang telah memiliki jaringan global dan sukses seperti Zara contohnya, kunci keberhasilannya terletak pada kecepatan dalam time to market, time to service, dan time to react. Toko-toko Zara ramai dikunjungi pelanggannya dan produk-produknya selalu dibeli karena desain produk pakaian Zara selalu baru, tidak jarang produk-produk tersebut tidak produksi dan dijual lagi.

Akibatnya, pelanggan Zara selalu datang dan membeli produk-produk pakaian Zara.
Bila para produsen pakaian hanya meluncurkan mode pakaian satu tahun sekali, tidak seperti Zara. Zara selalu meluncurkan produk pakaian mode baru setiap 2 minggu sekali. Dalam mendesain produk-produk pakaian, Zara mendengar dan melibatkan pelanggannya. Zara mencari tahu banyak mode pakaian apa yang diinginkan pelanggannya, serta mode pakaian apa yang saat ini menjadi tren.

Zara mengintegrasikan desainer, pemasok, dan toko ritelnya melalui pendekatan SCM yang andal. Akibatnya, Zara dapat mempendek lead time dan mendeliver produk-produk pakaian ke pasar dengan tepat.

Sekali lagi, kunci keberhasilan Zara terletak di pacing atau speed-nya. Selain pacing, para peritel harus mengembangkan pandangan global. Saat ini komponen produk dipasok dari
berbagai negara. Produsen dan peritel harus mencari sumber pasokan produk yang paling murah dan biaya logistik yang paling efisien.

Ketersediaan (availability) menjadi kunci keberhasilan. Para peritel harus memastikan produk tersedia baik di toko maupun online. Logistik berperan penting dalam menjamin ketersediaan produk di toko dan ketepatan dalam pengiriman produk ke konsumen.

Informasi, bukan hanya pergerakan fisik produk, yang perlu menjadi perhatian dalam logistik ritel. Informasi aliran produk sangat penting untuk perencanaan forecasting penjualan, pemesanan produk, penentuan tingkat inventory, penyimpanan produk di gudang, pengelonaan transportasi, dan penyimpanan produk di rak-rak toko ritel.

Penerapan ICT sistem logistik yang andal menjadi kunci keberhasilan dalam sistem informasi manajemen logistik ritel.

Peran bisnis ritel sangat penting dalam penjualan produk-produk yang dihasilkan dari
sektor primer dan sekunder, seperti manufaktur, pertanian, dan perikanan. Produk-produk
tersebut didistribusikan ke toko-toko ritel secara tepat jenis produk, tepat waktu, tepat lokasi,
dengan kondisi atau kualitas tetap terjaga, dan dengan biaya distribusi yang paling efisien.

Seringkali kita sebagai konsumen beranggapan bahwa ketersediaan produk di toko ritel dalam jumlah yang mencukupi dan dengan kualitas yang baik merupakan sesuatu yang biasa. Padahal, untuk menjamin ketersediaan produk (product availability) dengan tepat, baik tepat kuantitas maupun kualitas memerlukan solusi sistem logistik yang andal. Dalam hal ini, logistik berperan penting dalam bisnis ritel.

Detail : Artikel ini dimuat  di Truck Magz – 45 / IV / MARCH 2018 (page 42 – 47)

Tren Sosial, Bisnis, dan Teknologi: Implikasinya terhadap Logistik Masa Depan

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –
Logistik selalu diperlukan dalam setiap organisasi dan perusahaan. Sepanjang ada perdagangan barang, selamanya perusahaan memerlukan logistik. Logistik memainkan peran penting dalam perekonomian saat ini. Diperkirakan bahwa Sektor Logistik & Pos di Indonesia bernilai Rp2.953 triliun atau mencapai 23,8% dari GDP Indonesia tahun 2017 (BPS, 2017).

Logistik sering dipandang sebagai aktivitas yang menimbulkan biaya. Biaya logistik ini utamanya terdiri dari biaya pergudangan, biaya pengelolaan inventory, biaya transportasi, biaya distribusi, dan biaya logistik lainnya seperti pengepakan, pelabelan, dan lain-lain.

Dalam perspektif makro, biaya logistik seringkali diukur berdasarkan persentase dari Produk Domestik Bruto atau Gross Domestics Product (GDP). Di Indonesia, biaya logistik secara nasional tidak kurang dari 24% dari GDP. Banyak kalangan menilai, biaya logistik Indonesia cukup tinggi. Bandingkan dengan biaya logistik di negara-negara ASEAN. Data menurut Bisnis Indonesia yang dirilis 25 Juli 2017, biaya logistik Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan Vietnam (25%), Thailand (13,2%), Malaysia (13%), dan Singapura (8,1%).

Meski logistik hanya akan menambah biaya pada harga produk, namun aktivitas logistik sangat diperlukan. Dari perspektif ekonomi, logistik mampu memberikan nilai suatu produk, setidaknya dalam hal kegunaan tempat (place utility), kegunaan waktu (time utility), dan kegunaan kuantitas (quantity utility).

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Republik Indonesia memberikan perhatian serius dalam penurunan biaya logistik nasional dan menjamin ketersediaan barang-barang pokok/penting di seluruh wilayah Republik Indonesia. Berbagai perbaikan telah dilakukan, utamanya mencakup perbaikan infrastruktur logistik, pembenahan regulasi dan pelayanan birokrasi pemerintah, penurunan dwelling time, dan pelancaran proses logistik perdagangan barang lintas negara (cross-border).

Kinerja logistik diukur dengan berbagai pendekatan. Dalam konteks makro misalnya, Bank Dunia setiap tahunnya merilis Logistics Performance Index (LPI). Sementara di tingkatan mikro, kinerja logistik diukur dari dua dimensi: kualitas layanan logistik dan biaya logistik.

Dinamika logistik mengikuti perubahan lingkungan perusahaan, utamanya perkembangan kemajuan teknologi dan perubahan sosial dan bisnis. Implikasi dari perubahan lingkungan bisnis ini memengaruhi tren logistik dalam 5 sampai dengan 10 tahun mendatang.

Tren logistik dalam beberapa tahun mendatang dipengaruhi oleh tren sosial, bisnis, dan tren teknologi. Tren sosial & bisnis dipicu oleh perubahan perilaku masyarakat dan pebinis. Sementara tren teknologi muncul sebagai akibat perkembangan dan kemajuan teknologi ICT (Information, Communication, dan Technology). Tren perubahan sosial, bisnis, dan teknologi ini memberikan peluang dan sekaligus tantangan prospek logistik dalam 5 sampai 10 tahun mendatang.

TREN TEKNOLOGI
Perkembangan teknologi sedemikian pesat. Konvergensi teknologi telah melahirkan lompatan kemajuan teknologi baru. Perangkat mobile computing memberikan peluang di logistik dan setiap rantai pasokan untuk menyediakan informasi yang semakin transparan dan integrity mengenai ketepatan jenis produk, ketepatan waktu penyediaan produk, ketepatan penerimaan produk di suatu tempat, ketepatan kuantitas dan kondisi produk, serta ketepatan biaya pengiriman produk.

Teknologi sensor semakin canggih dengan harga yang sangat terjangkau untuk diterapkan dalam logistik. Akibatnya, tuntutan pelanggan semakin tinggi terhadap penelusuran dan jejak lacak kiriman secara real time.

Kemajuan teknologi jaringan komunikasi internet 5G dan komunikasi nirkabel yang akan menjangkau keterhubungan orang dari setiap perangkat komunikasi (smartphone, PC, laptop, dan lain-lain), kapan pun, dan di mana pun. Perubahan tren teknologi jaringan komunikasi ini mendorong perubahan tuntutan pelanggan, khususnya pelanggan bisnis untuk mendapatkan informasi control setiap pergerakan barang, utamanya barang-barang yang sensitif terhadap kerusakan dan barang-barang yang bernilai tinggi.

Terakhir, perubahan tren teknologi internet dan penyimpanan data. Penerapan cloud computing dan big data memungkinkan layanan data base dan analisis data untuk mendapatkan optimalisasi, efisiensi, dan utilisasi penggunaan jaringan.

Implikasi tren teknologi terhadap logistik dan rantai pasokan dalam 5 tahun mendatang diprediksi mengalami perubahan yang sangat pesat, dan adakalanya teknologi akan “mengganggu” (disruption) tatanan bisnis yang sudah ada.

Omni-Channel Logistics
Perkembangan bisnis ritel memerlukan jaringan logistik yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap saluran pemasaran. Konvergensi perdagangan offline dan online telah menghasilkan perilaku ‘kapan saja, di mana saja, dari siapa pun’ bagi konsumen yang menginginkan pengalaman Omni-channel.

Sebagian besar konsumen tidak lagi mengakses toko online melalui komputer, namun melalui smartphone dan tablet mereka yang memungkinkan mereka mendapatkan mobilitas untuk berbelanja 24/7. Permintaan fleksibilitas ini akan memberikan peluang kebutuhan akan layanan fulfillment yang semakin cepat dan bervariasi.

Penerapan Omni-channel logistics akan memberikan manfaat bagi perusahaan:
•    Peningkatan volume pengiriman B2C.
•    Peluang bisnis baru di layanan penyimpanan, fulfillment, dan transportasi.
•    Visibilitas inventory lintas saluran mengurangi biaya melalui pengoptimalan persediaan.

Tantangan kunci Omni-channel logistics:
•    Keragaman saluran pemasaran dan akses pelanggan memerlukan pengintegrasian perdagangan online dan offline.
•    Investasi di proses hilir yang sangat besar diperlukan untuk memungkinkan pilihan pengiriman produk sampai ke penerima.

On-Demand Logisitics
Disrupsi teknologi memungkinkan perubahan model bisnis kurir dan logistik, utamanya layanan penjemputan (pick-up) dan pengantaran (delivery) barang. Konvergensi dan kemajuan teknologi internet yang secara masif menyediakan layanan App dalam smartphone telah mendisrupsi layanan kurir dan logistik konvensional.

Layanan App logistics memungkinkan pick-up dan delivery barang dilakukan seketika dan dapat diakses di mana pun sesuai kebutuhan pelanggan. Disrupsi teknologi ini memberikan peluang bagi pengusaha kecil (small business) untuk memanfaatkan jasa penyedia on- demand logistics dengan biaya murah dan tingkat fleksibilitas yang tinggi.

Biaya logistik, utamanya biaya pick-up dan delivery semakin murah, karena penyedia jasa on- demand logistics ini menggunakan model bisnis sumber daya berbagi (resource sharing). Penyedia jasa on-demand logistics tidak perlu lagi menyediakan kendaraan dan tenaga kerja khusus untuk melakukan pick-up dan delivery seperti halnya perusahaan penyedia jasa logistik konvensional.

Alih-alih mereka menyediakan kendaraan dan tenaga kerja, mereka cukup mengelola aplikasi on-demand logistics, yang mengintegrasikan optimalisasi pengemudi mobil, sepeda motor, atau bahkan sepeda untuk melakukan pick-up dan delivery barang ke konsumen.

Semua biaya operasional akan menjadi biaya variabel. Tidak ada lagi biaya tetap yang menjadi beban perusahaan penyedia jasa on-demand logistics, seperti biaya sewa, depresiasi kendaraan, biaya bunga pinjaman investasi, dan biaya gaji tenaga kerja. Biaya operasional akan linier dengan peningkatan volume atau pendapatan yang dihasilkan. Akibatnya, tingkat break even atau profit dapat dicapai lebih cepat.

Selain itu, on-demand logistics memberikan fleksibilitas tinggi, baik bagi pengusaha sebagai pengirim barang maupun konsumen sebagai penerima barang. Fleksibilitas ini dimungkinkan karena keduanya dapat mengakses dan melakukan order transaksi pembelian atau pengiriman barang dalam waktu 24/7, kapan pun dan di mana pun mereka berada. Pemilik barang dan konsumen juga dapat melacak status kiriman barang secara real time dengan menggunakan smartphone dalam genggaman tangan mereka.

Dalam beberapa tahun mendatang, pengiriman tidak lagi dimiliki hanya oleh pemain besar yang menetapkan batasan waktu pengiriman dan lokasi. Konsep pengiriman last-mile on- demand memanfaatkan tenaga kerja kurir yang fleksibel, sehingga memungkinkan pelanggan melakukan pengiriman saat mereka membutuhkannya.

Dengan teknologi terbaru untuk lokasi real-time, perutean, dan analisis berbasis aplikasi akan membawa perubahan signifikan pada pengiriman barang selama beberapa tahun ke depan.

Di Uber telah menerapkan layanan On-Demand Logistics untuk melayani para pengusaha UKM, yang dikenal dengan layanan UberRUSH. Layanan ini secara mudah menghubungkan konsumen dan pebisnis UKM dengan kurir Uber yang mengambil dan mengantarkan barang ke pelanggannya. Menariknya, profil setiap driver termasuk peringkat kinerja driver terlihat dan konsumen dapat memilih. Selain itu, pengiriman barang dapat dilacak melalui aplikasi dan akan dikirim langsung ke penerima yang dituju.

3D Printing
Pencetakan 3D (atau manufaktur aditif) akan mendisrupsi logistik dengan menambahkan keragaman baru pada strategi manufaktur. Penyedia logistik inovatif dapat mengatur jaringan manufaktur hibrida yang kompleks, serta memanfaatkan jaringan printer 3D untuk menawarkan layanan logistik baru.

Pencetakan 3D telah menjadi teknologi tepercaya di sektor kesehatan untuk mencetak peralatan prostetik dan medis yang disesuaikan, serta di sektor penerbangan untuk produksi komponen pesawat terbang. Meskipun teknologi manufaktur konvensional tidak akan digantikan oleh pencetakan 3D, pada segmen di mana produk tersebut diterapkan (seperti produksi suku cadang), secara signifikan akan berdampak pada beberapa layanan logistik.

Penyedia logistik dapat menjadi orkestra rantai pasokan yang kompleks dan terfragmentasi untuk bahan baku dan produk akhir. Pencetakan 3D menciptakan segmen pasar baru dan peluang penciptaan nilai (misalnya gudang digital, penyediaan layanan data, dan pertukaran data 3D). Perusahaan dapat mengurangi biaya transportasi dan waktu dengan menciptakan produk yang mendekati titik penggunaan.

Augmented Reality
Mengaburkan garis antara dunia digital dan fisik, augmented reality (AR) memberikan perspektif baru dalam perencanaan logistik, pelaksanaan proses, dan transportasi.

AR memungkinkan pengguna secara cerdas memahami lingkungan mereka dengan mengintegrasikan informasi kontekstual ke bidang pandang mereka melalui kacamata cerdas.

Perkembangan terkini dalam komputasi kontekstual, AR terus muncul sebagai aset logistik penting yang mampu meningkatkan efisiensi proses dan kualitas, mengurangi risiko, dan menurunkan tekanan penanganan manual.

Robotics & Automation
Logistik berada di ambang gelombang otomasi. Didorong oleh kemajuan teknologi yang pesat, robot dan solusi otomatis telah berperan sebagai tenaga kerja logistik yang mampu bekerja secara zero-defect untuk meningkatkan produktivitas.

Robot akan mengadopsi peran kolaboratif dalam rantai pasokan, membantu pekerja gudang, transportasi, dan bahkan kegiatan pengantaran (last-mile delivery).

Selain itu, munculnya e-commerce menggantikan model distribusi tradisional (push-driven)
dengan dorongan konsumen untuk barang langsung dari gudang, yang mengharuskan

penyedia logistik beroperasi lebih cepat dan lebih efisien untuk memproses pesanan individual dengan cepat.

Peluang kunci penerapan robotic & automation:
•    Solusi otomasi mampu meningkatkan kelincahan dan elastisitas infrastruktur logistik untuk memenuhi fluktuasi pasar.
•    Mengotomasi tugas seperti packing membantu meningkatkan efisiensi dan mengurangi tingkat persediaan dan biaya.
•    Ketika robot ditempatkan pada tugas berulang dan berat secara fisik, pekerja gudang dapat fokus pada tugas yang lebih kompleks dan penanganan penyimpangan.

Tantangan kunci penerapan robotic & automation:
•    Batasan hukum penggunaan robot di dekat pekerja manusia.
•    Meningkatkan peraturan, akuntabilitas, etika, dan masalah hukum baru, seperti tingkat otomasi yang tepat vs keamanan kerja manusia.

Self-Driving Vehicles
Terobosan teknologi sensor dan pencitraan telah menghasilkan generasi baru kendaraan penggerak sendiri yang lebih fleksibel dan dapat diandalkan daripada sebelumnya. Dari forklift otonom di gudang ke truk tanpa sopir dalam transportasi darat, kendaraan penggerak sendiri akan mengubah logistik dengan membuka tingkat keamanan, efisiensi, dan kualitas baru.

Peluang kunci
•    Peningkatan produktivitas operasional dan uptime aset melalui penggunaan 24/7.
•    Keandalan dan kualitas yang lebih besar dengan menghilangkan kesalahan manusia.
•    Efisiensi bahan bakar yang lebih baik melalui routing yang optimal dengan dampak yang lebih rendah terhadap lingkungan.

Tantangan kunci
•    Teknologi harus matang sebelum kendaraan pengemudi sendiri dapat digunakan di lingkungan yang dinamis.
•    Pembatasan hukum ada di banyak negara terkait kendaraan tanpa sopir.
•    Potensi risiko dari hacker dan software bug.
•    Pertanyaan asuransi dan liability harus diselesaikan.
•    Penerimaan sosial oleh pekerja dan masyarakat.

Unmanned Aerial Vehicles
Unmanned Aerial Vehicles (UAV) atau ‘pesawat tak berawak’ bisa mengubah logistik masa depan untuk pengiriman ekspres melalui udara.

Sementara UAV tidak akan mengganti transportasi darat, melainkan UAA dapat memberikan nilai di daerah dengan kemacetan lalu lintas tinggi dan di lokasi terpencil. UAV dapat berpotensi meningkatkan kecepatan dan kepuasan pelanggan, menurunkan biaya, dan dalam lingkungan yang tidak bersahabat dapat membantu menyelamatkan nyawa.

Peluang kunci penggunaan UAV:
•    Efisiensi operasional jaringan logistik first-mile dan last-mile bisa meningkat.
•    Pengurangan risiko dan kecelakaan melalui pengiriman otomatis di daerah terpencil.
•    Peningkatan fleksibilitas dan kecepatan pengiriman, terutama di kota-kota besar yang ramai.

Tantangan kunci dalam penggunaan UAV:
•    Peretasan UAV.
•    Masalah privasi dan keamanan dari masyarakat.
•    Integrasi lalu lintas UAV di jaringan udara yang ramai pembatasan peraturan.

TREN SOSIAL DAN BISNIS
Bila tren teknologi akan mendisrupsi dan memberikan peluang dalam prospek logistik, tren sosial dan bisnis akan menghadirkan solusi logistik sesuai dinamika sosial dan organisasi bisnis.

Tren sosial ini lebih banyak dipicu oleh perubahan perilaku citizen sesuai zaman generasinya dan perilaku penggunaan teknologi ICT yang dalam berbagai kehidupan.

Fair & Responsible Logistics
Dunia menghadapi perubahan iklim dan pemanasan global. Emisi CO2 salah satu penyebab peningkatan pemanasan global yang ditimbulkan dari gas rumah kaca. Sektor industri dan logistik turut berkontribusi terhadap pemanasan global dalam emisi CO2. Kesadaran para pemimpin organisasi untuk turut menjaga keberlangsungan lingkungan dengan memproduksi dan menggunakan produk yang ramah lingkungan.

Di sisi lain, kompetisi bisnis semakin meningkat. Perusahaan dituntut untuk tetap membangun keunggulan bersaing melalui penyediaan produk dan layanan dengan biaya yang paling efisien.

Saat ini perusahaan semakin efisien dalam penggunaan sumber daya, terutama sumber daya alam yang tidak terbarukan. Eliminasi pemborosan (waste atau “muda” dalam Bahasa Jepang) menjadi perhatian para pemimpin organisasi perusahaan.

Kesadaran ini memberikan peluang dalam solusi supply chain dan logistics yang ramah lingkungan, dikenal dengan istilah sustainable logistics atau lebih popular dengan nama green logistics. Ke depan, kebutuhan solusi green supply chain dan logistics semakin meningkat.

Perusahaan penyedia jasa logistik dapat memberikan layanan desain green supply chain melalui perancangan supply chain ramah lingkungan, yang mencakup pemilihan material yang berasal dari daur ulang produk, pengurangan penggunaan material, energi, dan penggunaan kembali kemasan, agar dapat mengurangi kontribusi emisi CO2, dan pemilihan pemasok yang telah menerapkan standar ramah lingkungan.

Perusahaan penyedia jasa logistik juga dapat memberikan solusi layanan transportasi, pergudangan, dan distribusi dengan biaya operasional yang paling efisien dan penggunaan energi terbarukan, seperti pemanfaatan energi surya melalui pemasangan panel surya di

gudang, penggunaan moda transportasi dengan sumber energi gas atau listrik, dan pengoptimalan kapasitas angkutan melalui konsolidasi kiriman.

Grey Power Logistics
Dalam lima tahun atau lebih, gelombang pertama penduduk asli digital akan memasuki segmen populasi lansia. Logistik grey power – logistik untuk masyarakat lanjut usia – akan menawarkan layanan baru (misal pengiriman obat di rumah) untuk menjawab tantangan yang timbul dari perkembangan demografis ini.

Populasi yang menua merupakan salah satu tantangan sosial utama yang dihadapi industri logistik. Saat ini, kira-kira seperempat dari populasi di Indonesia berusia di atas 60 tahun dan ini akan meningkat menjadi lebih dari sepertiga pada tahun 2050. Segmen demografi yang berkembang ini akan meningkatkan permintaan akan saluran baru untuk mengakses layanan pengobatan, makanan, dan perawatan khusus di kota-kota juga seperti di daerah terpencil.

Di masa depan, kondisi ini akan membutuhkan layanan logistik khusus yang diperuntukkan untuk kebutuhan masyarakat lanjut usia seperti pengiriman obat yang dikendalikan suhu ke rumah dan perawatan kesehatan yang didukung oleh logistik pengantaran terjadwal.

Grey Power Logistics merupakan solusi logistik untuk memenuhi kebutuhan generasi senior, seperti pemesanan dan pengiriman obat resep dokter secara home delivery menggunakan layanan e-commerce atau setidaknya pemesanan obat-obatan secara on- line.

Dalam lima tahun mendatang, kebutuhan layanan Grey Power Logistics ini semakin meningkat. Peningkatan demografi penduduk usia senior mendorong kebutuhan logistik e- commerce untuk home delivery produk-produk medis, makanan, dan perawatan kesehatan. Layanan logistik yang perlu disediakan untuk Grey Power Logistics ini adalah penyediaan gudang dengan pengendali temperatur dan pengantaran terskedul ke rumah.

Shareconomy Logistics
Pergeseran sosial dari kepemilikan ke pembagian aset telah menjadi salah satu tren yang paling mendasar dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari mobil, tempat parkir dan peralatan elektronik rumah tangga sekarang bisa dibagi melalui platform khusus. Penyedia logistik dapat berbagi sumber daya perusahaan (seperti container dan rute yang dilayani) agar dapat lebih menghemat waktu dan biaya.

Logistik dapat berpartisipasi dalam shareconomy dengan berbagi aset, kapasitas pergudangan, dan bahkan muatan truk. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menjembatani kesenjangan efisiensi, menghindari kekurangan dan kelebihan kapasitas, mengurangi biaya layanan khusus, dan mendorong kolaborasi horizontal.

PERUBAHAN PARADIGMA
Tren perubahan sosial, bisnis, dan teknologi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan akan terus terjadi dalam beberapa tahun ke depan, selain memberikan peluang-peluang dalam penyediaan layanan logistik juga akan mendisrupsi bisnis logistik.

Perusahaan penyedia jasa logistik harus terus melakukan inovasi, eksplorasi strategi baru, pemanfaatan teknologi ICT, dan pengelolaan bisnis secara lincah (agile) dan seamless untuk memberikan solusi logistik yang tetap relevan dengan dinamika perubahan zaman.

Redefinisi bisnis, peninjauan model bisnis, dan upaya peningkatan hubungan dengan pelanggan agar tercipta kepuasan, loyalitas, dan pengalaman mengesankan dalam menggunakan jasa logistik, perlu menjadi paradigma baru para pemimpin perusahaan penyedia jasa logistik saat ini dan di masa mendatang.

Referensi
Badan Pusat Statistik, 2017
DHL Customer Solutions & Innovation, 3D Printing and The Future of Supply Chains, 2016 DHL Customer Solutions & Innovation, Fair and Responsible Logistics, 2015
DHL Customer Solutions & Innovation, Logistics Trend Radar, 2016 DHL Customer Solutions & Innovation, Omni-Channel Logistics, 2015
DHL Customer Solutions & Innovation, Self-Driving Vehicles in Logistics, 2014

Retail Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Hampir semua produsen tidak menjual produk-produknya secara langsung ke konsumen akhir. Antara produsen dan konsumen akhir ada perantara (intermediary) yang berfungsi sebagai saluran pemasaran (marketing channel). Saluran pemasaran ini dikenal juga sebagai saluran perdagangan (trade channel) atau saluran distribusi (distribution channel).

Saluran pemasaran banyak macamnya. Kita mengenal pedagang besar (wholesaler), grosir, distributor, dan pengecer (retailer). Saluran pemasaran memainkan peran penting dalam kesuksesan perusahaan dan memengaruhi semua faktor keputusan strategi pemasaran.

Saluran pemasaran yang menjual produk-produk langsung ke konsumen personal atau rumah tangga sebagai pengguna akhir produk dikenal retailer atau retailer store. Pengecer menjual aneka produk, mulai dari pakaian, makanan, peralatan rumah tangga, buku, peralatan elektronik, dan lain-lain.

Tidak masalah bagaimana produk-produk atau jasa tersebut dijual. Apakah penjualan produk-produk tersebut melalui tenaga penjualan, katalog, email, telepon, surat, vending machine, atau penjualan secara online. Demikian pula, di mana penjualan produk-produk dilakukan, apakah penjualan produk dilakukan di toko, jalan, atau bahkan di rumah konsumen.

Sektor ritel bergerak dan tumbuh sangat cepat, secepat perputaran penjualan produk-produknya. Beberapa peritel melakukan inovasi layanan, mengembangkan strategi jangka panjang, penggunaan teknologi terkini, penerapan sistem informasi yang canggih, dan pemanfaatan marketing tools secara efektif. Sebut saja misalnya, peritel global seperti Uniqlo, Zara, Zappos, H&M, Mango, Topshop, Walmart, dan lain-lain.

Mereka telah berhasil mengidentifikasi siapa segmen dan target pasar yang dituju, positioning, differentiation, membangun hubungan dengan pelanggan, menciptakan kesan dan pengalaman pelanggan, dan tentu saja mereka mampu menyediakan produk dan pelayanan dengan tepat.

Sektor ritel berperan penting dalam penjualan barang. Sektor ritel menjadi tempat penjualan berbagai barang kebutuhan konsumen rumah tangga, perkantoran, sekolahan, pemerintahan, dan lain-lain. Pelaku usaha di sektor ritel dikenal dengan pengecer atau peritel (retailer). Peritel mengelola toko. Jenis toko pengecer banyak macamnya. Kita mengenal peritel tradisional dan modern. Contoh peritel tradisional adalah kios di pasar-pasar tradisional, toko-toko, dan warung-warung kelontong. Sementara peritel modern, contohnya hypermarket, department store, supermarket, dan minimarket.

Umumnya jenis perputaran barang-barang yang dijual di toko ritel sangat cepat. Karenanya, barang-barang ini dikenal dengan sebutan fast moving consumer goods (FMCG). Barang-barang yang dijual di toko ritel banyak ragamnya sesuai jenis penamaan toko ritel.

Kita mengenal toko ritel khusus (specialty store). Toko ritel khusus adalah toko yang menjual jenis barang tertentu dengan berbagai macam variannya dengan jumlah persediaan barang dagangan yang cukup. Contoh toko khusus: toko buku, toko alat olah raga, toko kue, toko sepatu, dan lain-lain.

Selain itu, kita mengenal toko kelontong (convenience store). Toko kelontong adalah toko kecil yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari, makanan dan minuman kecil serta majalah dan koran. Toko kelontong terletak di dekat pemukiman penduduk. Contoh toko kelontong: Indomaret, Alfamart, Yomart, Circle K, Seven Eleven, dan lain-lain.

Bentuk toko ritel yang lain adalah toko swalayan (supermarket), toko serba ada (department store), toko kombinasi (combination store), hypermarket, toko diskon, factory outlet, dan katalog showroom (Kotler dan Keller, 2015).

Peran Logistik

Logistik ritel (retail logistics) akan menjamin ketersediaan produk-produk dari manufaktur dan pemasok lainnya untuk dijual di toko-toko ritel dalam jumlah yang mencukupi sesuai kebutuhan permintaan pasar, dengan kualitas produk yang terjaga, dan biaya logistik yang efisien.

Saat ini banyak toko ritel – terutama pasar swalayan, yang menjual produk-produk kategori produk-produk yang mudah rusak (perishable goods), seperti ikan segar, buah-buahan, sayur mayur, dan lain-lain. Produk-produk ini memerlukan sistem penyimpanan, transportasi, dan tempat dengan pengaturan temperatur dan kelembaban tertentu.

Logistik ritel telah bertransformasi, dari sekadar penyimpanan, pengangkutan, dan distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, namun logistik ritel saat ini mencakup pengelolaan demand chain dan supply chain.

Dalam mengelola logistik ritel, kita perlu memahami dan mengidentifikasi kebutuhan konsumen akan jenis produk, berapa banyak kuantitas produk yang diperlukan, dan kapan produk-produk tersebut diperlukan. Ini yang dikenal dengan demand chain.

Selain mengelola demand chain, logistik ritel mengelola supply chain. Pengelolaan supply chain dalam sektor ritel mencakup order pembelian, distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, pembayaran ke pemasok, dan pengelolaan informasi jenis produk, lokasi, dan kualitas produk yang perlu dipasok dari pemasok ke toko-toko peritel.

Fernie dan Sparks (2014) menyebutkan lima komponen penting dalam logistik ritel, yang dikenal dengan logistics mix sebagai berikut:

  1. Fasilitas penyimpanan (storage facilities)

Logistik ritel memerlukan fasilitas penyimpanan berupa gudang (warehouse) atau Distribution Center (DC) atau secara sederhana mungkin sekadar stock point yang menyimpan produk-produk dalam jumlah yang mencukupi untuk menjaga persediaan produk yang optimal, untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan permintaan. Selain itu, fasilitas penyimpanan diperlukan untuk menjaga kualitas dan keamanan produk.

  1. Persediaan (inventory)

Umumnya semua peritel menahan atau menyimpan persediaan. Pengelolaan persediaan ini mencakup keputusan penentuan berapa jumlah stock atau persediaan yang harus disimpan, lokasi penyimpanan, kapan melakukan order pembelian, dan berapa jumlah barang setiap order pembelian, untuk menjamin ketersediaan produk dengan biaya penyimpanan persediaan yang paling efisien.

  1. Pengangkutan (transportation)

Hampir semua produk memerlukan transportasi untuk memindahkan produk dari lokasi produksi ke lokasi konsumsi. Karenanya, peritel harus mengelola transportasi yang dihadapkan pada berbagai jenis moda transportasi, ukuran container, jenis armada kendaraan, jadwal keberangkatan dan kedatangan transportasi, ketersediaan dan kesiapan kendaraan termasuk sopirnya.

  1. Unitisasi dan pengepakan (unitization dan packaging)

Produk-produk consumer umumnya dijual di toko ritel dalam jumlah dan ukuran yang kecil. Sementara produk-produk yang dipasok dari manufaktur dalam ukuran dan jumlah besar seperti container. Karenanya, dalam logistik ritel diperlukan unitisasi dan pengepakan. Unitisasi akan menyatukan produk- produk ritel dalam satuan kecil menjadi ukuran yang lebih besar. Produk dalam kemasan dengan satuan kaleng atau piece misalnya, akan disatukan menjadi satuan karton, box, atau pallet. Selain itu, untuk kepentingan handling dalam logistik ritel menuntut pengepakan produk yang kuat, mudah, dan efisien ketika dilakukan handling selama proses transportasi, penyimpanan, material handling, dan pemajangan produk di rak (shelves management).

  1. Komunikasi (communications)

Komunikasi memegang peran penting dalam sistem logistik ritel. Untuk mendapatkan informasi dimana produk dijual, jenis produk, berapa banyak, kapan, dan siapa pembeli produk-produk ritel, diperlukan sistem informasi dan komunikasi yang memadai. Tidak hanya informasi mengenai sisi permintan dan penawaran produk, melainkan informasi mengenai volume, stock, harga, dan pergerakan atau fluktuasi penjualan produk. Informasi ini penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem operasi logistik ritel.

 

Kelima komponen logistik ritel ini saling berkaitan. Kinerja logistik ritel ditentukan oleh koordinasi, harmonisasi, dan integrasi antarkomponen. Pengepakan dan unitisasi produk dari manufaktur akan menentukan kinerja pengangkutan dan penyimpanan. Informasi demand dan supply chain akan menentukan jumlah persediaan, jenis produk, dan fasilitas dan lokasi penyimpanan untuk pendistribusian produk-produk di toko-toko ritel.

Tolok ukur keberhasilan logistik ritel sejatinya ditentukan oleh logistics cost dan service level. Logistics cost berhubungan dengan biaya logistik total mulai dari biaya pemesanan, pengangkutan, penyimpanan, distribusi, dan penataan produk di toko-toko ritel. Sementara service level terkait erat dengan ketepatan jenis produk, waktu, lokasi, keamanan, keutuhan, dan kualitas produk selama proses aktivitas logistik sampai produk digunakan consumer. Dalam pengelolaan logistik ritel, sebagian dikelola sendiri (in-house logistics) dan sebagian diserahkan ke pihak ketiga (outsourcing logistics) ke 3PL company.

Desain Logistik Ritel

Di era kompetisi bisnis yang semakin ketat, daya saing perusahaan tidak hanya ditentukan oleh keunggulan komparatif yang mengandalkan sumber daya dan kapabilitas organisasi. Saat ini kompetisi didasarkan pada kompetisi berbasis waktu (time-based competition).

Setidaknya ada tiga dimensi dalam time-based competition seperti diujarkan oleh Christopher dan Peck (2003). Organisasi perusahaan harus mengelola time-based competition secara efektif untuk merespon perubahan lingkungan bisnis. Ketiga time-based competition tersebut adalah:

  • time to market: kecepatan perusahaan untuk mengkomersialisasi peluang bisnis ke pasar;
  • time to serve: kecepatan perusahaan dalam memenuhi order pelanggan; dan
  • time to react: kecepatan perusahaan dalam menyesuaikan perubahan permintaan yang berfluktuasi secara

Pendekatan kompetisi berbasis waktu mendorong perusahaan untuk mengembangkan strategi leadtime dalam pengelolaan bisnis. Semakin cepat dan pendek lead-time, maka perusahaan akan unggul.

Kunci keberhasilan bisnis sektor ritel terletak pada pengelolaan strategi lead-time ini. Logistik ritel tidak hanya persoalan pengelolaan inventory, penyimpanan, dan transportasi. Logistik ritel mencakup pengelolaan supply chain dan customer chain. Bila perusahaan berhasil dalam mengelola supply chain dan customer chain, maka penciptaan nilai akan dihasilkan. Ini yang dikenal dengan value chain sebagaimana dicetuskan pertama kali oleh Porter (1985).

Dalam logistik ritel, distribusi dibedakan menjadi primary distribution dan secondary distribution. Primary distribution merupakan distribusi produk dari pabrik ke warehouse atau DC. Sementara secondary distribution merupakan distribusi produk dari warehouse atau DC ke toko peritel.

Kotler dan Keller memberikan penamaan market logistics untuk menyebut logistik ritel ini. Dalam pandangan Kotler dan Keller (2015), market logistics mencakup perencanaan infrastruktur logistik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, untuk selanjutnya mengimplementasikan dan mengendalikan aliran produk-produk consumer dari titik asal ke titik tujuan sesuai kebutuhan pelanggan secara efisien dan efektif.

Alan McKinnon (1996) dalam Fernie dan Sparks (2014) memberikan rekomendasi untuk peningkatan kinerja logistik ritel dalam era time-based competition.

  1. Perusahaan ritel harus meningkatkan pengendalian atas secondary distribution dengan cara menggunakan DC dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang Saat ini produk-produk ritel dipasok dari berbagai negara, selain itu ketergantungan antaraliran produk semakin tinggi. Karenanya, operasional logistik harus terintegrasi, utamanya dalam pemenuhan order, pengisian stock, dan pengendalian aliran informasi pergerakan dan penyimpanan barang.
  2. Perusahaan ritel harus melakukan restrukturisasi sistem logistiknya dengan cara mengurangi tingkat persediaan barang, meningkatkan efisiensi melalui pengembangan “composite distribution”, yaitu distribusi produk-produk yang memerlukan tingkat temperature sama dalam satu DC dan satu kendaraan. Selain itu, perusahaan harus menerapkan sentralisasi warehouse untuk produk-produk yang slower moving dengan cara penggunaan warehouse bersama (common stock rooms).
  3. Perusahaan hendaknya mengadopsi “Quick Response” (QR). Tujuan dari penerapan QR untuk memangkas tingkat persediaan dan meningkatkan kecepatan aliran produk. Penerapan QR dapat mengurangi order lead time dan frekuensi pergerakan delivery barang antara DC dan
  4. Perusahaan harus meningkatkan utilisasi aset dan infrastruktur logistik dengan cara mengintegrasikan sistem jaringan primary distribution dan secondary distribution melalui penerapan Electronic Data Interchange (EDI). Penerapan EDI ini akan mengurangi waste karena perencanaan aliran fisik produk, dokumen, dan keuangan dapat diatur dengan
  5. Perusahaan harus meningkatkan aliran return packaged material and handling equipment untuk recycling atau re-use dengan cara mengembangkan “reverse logistics”.
  6. Perusahaan mulai mengenalkan pendekatan Supply Chain Management (SCM) and Efficient Consumer Response (ECR) untuk meningkatkan efisiensi operasi logistik. Kolaborasi antarpemasok untuk memaksimalkan kapasitas logistik akan dicapai efisiensi logistik ritel. Penggunaan fasilitas pergudangan dan moda transportasi bersama akan meningkatkan skala ekonomis sistem

Perkembangan dan tantangan logitistik ritel semakin meningkat terutama dipicu oleh teknologi internet yang memungkinkan perusahaan menerapkan strategi penjualan produk secara online, online dan offline, dan bahkan strategi ritel telah berkembang menjadi strategi Omni-channel.

Kemajuan teknologi internet memang dapat mendisrupsi bisnis sektor ritel, utamanya para pebisnis ritel konvensional, yang masih menggunakan satu saluran penjualan dalam berinteraksi dengan pelanggannya. Atau, kalaupun mereka telah mulai mengembangkan berbagai saluran penjualan (multichannel), antarsaluran tersebut tidak terintegrasi.

Akibatnya, perusahaan tidak dapat menangkap dan memberikan pelayanan penjualan secara maksimal ke pelanggannya, utamanya pelanggan yang telah menggunakan berbagai saluran media komunikasi: media sosial online sebagai netizens.

Keberhasilan bisnis ritel sejatinya ditentukan oleh empat faktor: ketepatan (pacing), pandangan global (span), ketersediaan (availability), dan informasi (Fernie dan Sparks, 2014).

Peritel pakaian yang telah memiliki jaringan global dan sukses seperti Zara contohnya, kunci keberhasilannya terletak pada kecepatan dalam time to market, time to service, dan time to react. Toko-toko Zara ramai dikunjungi pelanggannya dan produk-produknya selalu dibeli karena desain produk pakaian Zara selalu baru, tidak jarang produk-produk tersebut tidak produksi dan dijual lagi. Akibatnya, pelanggan Zara selalu datang dan membeli produk-produk pakaian Zara.

Bila para produsen pakaian hanya meluncurkan mode pakaian satu tahun sekali, tidak seperti Zara. Zara selalu meluncurkan produk pakaian mode baru setiap 2 minggu sekali. Dalam mendesain produk-produk pakaian, Zara mendengar dan melibatkan pelanggannya. Zara mencari tahu banyak mode pakaian apa yang diinginkan pelanggannya, serta mode pakaian apa yang saat ini menjadi tren.

Zara mengintegrasikan desainer, pemasok, dan toko ritelnya melalui pendekatan SCM yang andal. Akibatnya, Zara dapat mempendek lead time dan men-deliver produk-produk pakaian ke pasar dengan tepat. Sekali lagi, kunci keberhasilan Zara terletak di pacing atau speed-nya.

Selain pacing, para peritel harus mengembangkan pandangan global. Saat ini komponen produk dipasok dari berbagai negara. Produsen dan peritel harus mencari sumber pasokan produk yang paling murah dan biaya logistik yang paling efisien.

Ketersediaan (availability) menjadi kunci keberhasilan. Para peritel harus memastikan produk tersedia baik di toko maupun online. Logistik berperan penting dalam menjamin ketersediaan produk di toko dan ketepatan dalam pengiriman produk ke konsumen.

Informasi, bukan hanya pergerakan fisik produk, yang perlu menjadi perhatian dalam logistik ritel. Informasi aliran produk sangat penting untuk perencanaan forecasting penjualan, pemesanan produk, penentuan tingkat inventory, penyimpanan produk di gudang, pengelonaan transportasi, dan penyimpanan produk di rak-rak toko ritel. Penerapan ICT sistem logistik yang andal menjadi kunci keberhasilan dalam sistem informasi manajemen logistik ritel.

***

Peran bisnis ritel sangat penting dalam penjualan produk-produk yang dihasilkan dari sektor primer dan sekunder, seperti manufaktur, pertanian, dan perikanan. Produk-produk tersebut didistribusikan ke toko-toko ritel secara tepat jenis produk, tepat waktu, tepat lokasi, dengan kondisi atau kualitas tetap terjaga, dan dengan biaya distribusi yang paling efisien.

Seringkali kita sebagai konsumen beranggapan bahwa ketersediaan produk di toko ritel dalam jumlah yang mencukupi dan dengan kualitas yang baik merupakan sesuatu yang biasa. Padahal, untuk menjamin ketersediaan produk (product availability) dengan tepat, baik tepat kuantitas maupun kualitas memerlukan solusi sistem logistik yang andal. Dalam hal ini, logistik berperan penting dalam bisnis ritel.

Referensi

Fernie & Sparks (Editor), Logistics and Retail Management: Emerging Issues and New Challenges in the Retail Supply Chain, 2014.

Kotler & Keller, Marketing Management, Global Edition, 2015.