Posts

Pohon Imitasi 8 Milyar: Fenomena Post-Truth?

Ismail Fahmi, Ph.D – Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia
– – – – – –

Pohon Imitasi 8 Milyar: Fenomena Post-Truth?

Dalam sebuah artikel tertanggal 28 November 2017 di situs resmi Kantor Staf Presiden (KSP) yang berjudul “Media Sosial dan Fenomena Post-truth” dijelaskan bahwa: Post-Truth menunjukkan suatu keadaan dimana fakta obyektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding dengan emosi dan keyakinan pribadi. Singkatnya, orang lebih mengikuti “emosi” dan “keyakinan” pribadinya dibanding mencari “fakta sesungguhnya.”

Latar Belakang

Dua hari ini, media sosial diramaikan oleh berita dan opini tentang “pohon imitasi seharga 8M” yang dipasang di trotoar ibu kota. Ada dua narasi dalam percakapan warganet ini: (1) pemasangan pohon imitasi sangat mengganggu pejalan kaki, dan (2) harga pengadaan pohon imitasi ini sangat mahal, yaitu 8 Milyar rupiah.

Fakta: pemasangan pohon imitasi ini memang mengganggu pejalan kaki. Trotoar yang sudah sempit membuat pejalan kaki tidak bisa melewati pohon dengan mudah. Tentunya ini merupakan masukan penting bagi Suku Dinas DKI terkait.

Fakta atau Misinformasi: harga pohon imitasi adalah 8 M. Berita dari Viva yang menyatakan soal harga ini menjadi referensi atau pembenaran bagi warganet yang berujung pada bullying pada Gubernur dan Wagubnya.

Pada akhirnya terungkap bahwa pohon yang dipasang itu adalah pohon imitasi bekas pengadaan tahun 2017, dan sudah pernah dipasang sebelumnya untuk hiasan tahun baru (Tempo, Kompas). Saat itu tidak ada keluhan sama sekali.

Pertanyaan

Apakah kesalahan tudingan soal harga pohon imitasi sebesar 8M, yang dilakukan secara masif oleh warganet di media sosial ini, merupakan salah satu contoh dari fenomena post-truth?

Kita akan lihat data dari Drone Emprit. Jika tudingan itu dilakukan oleh sekelompok warganet secara masif dan bersama-sama dimana mereka memiliki “emosi” dan “perasaan/keyakinan” yang negatif terhadap target narasi, maka “very likely” ini adalah contoh dari “post-truth.” Mengapa demikian? Karena harga pohon imitasi sebesar 8M itu jelas tidak masuk akal, sehingga otomatis akan cocok dengan emosi dan keyakinan mereka, bahwa Gubernur DKI memang “gabener.”

Data

Kita gunakan kata kunci “pohon plastik” dan “pohon imitasi” untuk menangkap percakapan sejak kemaren hingga hari ini (31 Mei – 1 Juni).

Terdapat total 12K mention di twitter dan 535 mention di media online. Dari sisi trend, percakapan ini mulai muncul kemaren (31 Mei) dan hari ini (1 Juni) masih sangat tinggi. Kita lihat apakah besok masih tinggi setelah ada klarifikasi.

SNA dan Narasi

Langsung kita buka peta SNA untuk melihat cluster atau kelompok warganet mana yang banyak membahas isu ini. Kita bagi SNA dalam 3 bagian:

  1. Sebelum ada klarifikasi: 31 Mei – 1 Juni jam 12.00;
  2. Setelah ada klarifikasi: 31 Mei – 1 Juni jam 23:00;
  3. Setelah klarifikasi: 1 Juni jam 17.00 – 23.00.

Dari peta SNA (1), kita lihat hanya ada satu cluster besar yang membahas soal pohon imitasi ini. Narasi besar yang mereka bawa adalah “pohon imitasi mengganggu pejalan kaki” dan “pohon imitasi harganya 8M.” Dilihat dari profile warganet di sana, secara “emosi” dan “perasaan/keyakinan” selama ini dikenal berseberangan dengan Gub-Wagub DKI sekarang. Kelompok warganet yang mendukung Gub-Wagub tidak tampak dalam SNA ini.

Setelah ada klarifikasi soal asal-usul pohon imitasi sekitar jam 12.00 (1 Juni), peta SNA (2) memperlihatkan adanya cluster baru. Dari profile warganet cluster ini, mereka yang secara “emosi” dan “perasaan/keyakinan” dikenal mendukung Gub-Wagub, ramai-ramai mengamplifikasi klarifikasi dari Pemprov DKI bahwa “pohon imitasi itu bekas tahun 2017” seperti yang diberitakan oleh Tempo dan Kompas.

Yang menarik, di antara kedua cluster tersebut, terdapat media-media online yang banyak dijadikan referensi oleh kedua cluster. Media ini menjadi “information arbitrage” atau juru penengah. Apa yang mereka tulis sangat menentukan narasi dan opini warganet. Jadi mereka punya tanggung jawab besar dalam meluruskan hoax dan memberitakan fakta yang benar.

Sekarang kita lihat SNA (3), khusus 1 juni setelah pukul 17.00. Kita asumsikan setelah klarifikasi ini harusnya tidak ada lagi warganet yang menyebarkan opini salah soal harga pohon imitasi tersebut. Dari peta SNA ini ternyata kita masih lihat ada 2 cluster. Warganget dalam cluster yang secara “emosi” berseberangan dengan Gub-Wagub DKI ternyata masih meretweet status dari key opinion leader mereka yang dibuat pada saat-saat sebelum klarifikasi. Ukuran cluster mereka sudah lebih kecil. Sedangkan cluster yang mendukung Gub-Wagub jadi lebih besar ukurannya, dan terus mengamplifikasi klarifikasi yang diberitakan oleh media online.

Detail narasi, siapa influencer masing-masing cluster, silahkan dilihat dalam slide terlampir.

Fenomena Post-Truth?

Dari data berupa pola clustering, emosi warganet dalam cluster yang aktif dalam perdakapan, dan narasi yang berkembang di atas, kita bisa simpulkan kalau ramainya pembahasan isu “pohon imitasi 8M” merupakan sebuah fenomena post-truth. Informasi ini tidak benar, namun secara berulang-ulang dan berjejaring diperbincangkan secara masif.

Memang ada “bukti” screenshot yang mereka buat, namun bukti yang salah itu dipercaya oleh hampir semua warganet. Bahkan pembicaraan ini sudah melebar pada isu-isu lain yang tak berhubungan misal “air minum dari tinja,” dan “kunjungan gubernur ke luar negeri.”

 

Fenomena post-truth ini dikuatkan oleh pola retweet status lama yang terbukti tidak benar, yang masih terus dilakukan oleh para follower dalam cluster pertama, meski sudah ada klarifikasi. Hal ini menunjukkan, informasi yang salah masih diamplifikasi karena cocok dengan “emosi” dan “perasaan/keyakinan” mereka bahwa Gubernur memang “gabener.” Adanya klarifikasi tidak mengurangi keyakinan mereka ini.

Closing

Tampaknya upaya untuk menghindari post-truth, dimana publik lebih cenderung mengikuti perasaan mereka dari pada kebenaran, akan tetap menjadi PR besar kita semua, bangsa Indonesia.

Yang bisa dilakukan ketika sebuah informasi yang salah sudah terlanjut menyebar luas adalah: segera buat dan sebarkan klarifikasi atau kontra narasi positif yang benar. Hal ini harus dilakukan oleh pihak yang punya otoritas, sesuai dengan isu yang menyebar.

Semakin cepat kontra narasi berdasarkan fakta yang sebenarya dibuat dan disebarkan, maka semakin cepat pula misinformasi bisa diredam. Bukti-bukti kuat sebagai pendukung diperlukan untuk meyakinkan publik. Jika dibiarkan, atau dihalau dengan “disinformasi” baru, maka yang terjadi adalah noise lawan noise yang tiada henti.

Dari data Drone Emprit di atas, tampak bahwa media mainstream online ternyata masih memegang peranan penting dalam menyebarkan klarifikasi atau kontra narasi positif. Otoritas bisa memilih media yang sering menjadi “information arbitrage,” sebagai penengah kedua cluster. Media-media ini cenderung bisa dipercaya oleh keduanya.

Sekedar pemikiran saja, mungkin ada baiknya teman-teman “turnback hoax” juga aktif muncul di Twitter, selain menggunakan Facebook Forum sebagai media utama, untuk menjadi “information arbitrage” bersama media mainstream.

Aturan Komen

MOHON maaf kalau komen2 yang mengandung kata2 berikut akan dihapus otomatis: cebong, iq200 sekolam, kampret, kacung, anjing, bego, koplak, tolol, idiot, iq jongkok, dan sejenisnya yang bermaksud MENGHINA.

Kalau belum dihapus, silahkan diedit, atau tinggal tunggu waktu pas saya scan, nemu komen yang tidak/kurang sopan, akan dihapus.

Mari sopan dalam berkomentar. Terima kasih.

The War on MCA

Ismail Fahmi, Ph.D – Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia
– – – – – –

Baiklah.. Drone Emprit awalnya lagi sibuk dengan pengembangan fitur baru, jadi jarang bikin analisis. Namun terkait isu terbaru ini, yaitu tentang MCA, dan belum adanya analisis yang menggunakan data untuk rentang waktu yang panjang, sementara Drone Emprit masih menyimpan rekaman data ini, maka diputuskan untuk membuat analisa singkat.

Warning: tulisan ini agak panjang. Deskripsi dan analisis merefer ke slide2 yang dilampirkan sebagai gambar. Kalau ndak kebayang yang dimaksud dalam deskripsi, sempatkan lihat slide yang relevan di bawahnya. Atau bisa download PDF slidenya :

PENDAHULUAN

Setelah sebelumnya Polri melakukan “shock therapy” dengan mengumumkan penangkapan anggota “Sindikat Saracen”, kali ini Polri lebih berani lagi, yaitu mengumumkan penangkapan anggota “MCA”, sebuah jaringan yang jauh lebih besar dari Saracen.

Landasan penangkapan ini sangat kuat: “pembuatan dan penyebaran hoax yang sangat meresahkan masyarakat, yaitu tentang maraknya ‘orang gila’ yang meneror ulama” dan isu PKI oleh anggota MCA.

Kejutan kedua ini bisa dilihat setidaknya memiliki 2 tujuan:

  1. meredam hoax khususnya yang menyerang pemerintah,
  2. melemahkan MCA.

PERTANYAAN

Analisis kali ini ingin menjawab beberapa pertanyaan berikut:

  • Siapakan MCA itu?
  • Kapan MCA mulai muncul?
  • Bagaimana peta pertempuran “War on MCA” di media social?
  • Apakah ada indikasi kekuatan MCA bakal melemah setelah gempuran ini?
  • Bagaimana strategi MCA dalam melawan tekanan dan deligitimasi terhadap mereka?

Yang tidak akan dijawab oleh Drone Emprit adalah:

  • Apakah ada struktur organisasi terpusat atau jaringan terstruktur yang dimiliki MCA?
  • Apakah ada penyandang dananya, kalau ada siapa?

Yang terakhir ini bisa dijawab oleh pak Polisi.

KEYWORD

Untuk menangkap percakapan terkait MCA, saya gunakan dua kata kunci, yaitu “MCA” (kapital) dan “Muslim Cyber Army”. Filter bahasa tidak diaktifkan, sehingga kalau ada MCA yang merupakan kependekan dari nama lain di luar negeri, akan muncul juga dalam data. Namun ini tidak masalah, selama kemunculannya tidak dominan. Lewat SNA akan bisa dipisahkan.

DATA

Drone Emprit menampilkan data Twitter dan News sejak Mei 2016 hingga 4 Maret 2018 (hari ini). Data khusus untuk kata kunci MCA baru dikumpulkan sejak seminggu lalu. Namun sejak bulan Mei 2016, Drone Emprit sudah mengumpulkan data untuk berbagai topik dan isu. Salah satunya adalah soal “PKI”, yang sejak bulan itu hingga sekarang masih dikumpulkan. Juga soal Pilkada, dll, dimana kemungkinan besar MCA muncul.

Di sini kita tidak hendak melihat total absolut percakapan yang mengandung kata kunci MCA untuk periode Mei 2016 sd 23 Feb 2018. Dalam periode sebelum Drone Emprit memonitor khusus tentang MCA, kita hanya akan melihat trend kemunculan MCA dalam berbagai isu yang sempat dimonitor.

TREND DAN VOLUME DATA

Dari grafik trend sejak 1 Mei 2016 sd 4 Maret 2018, kita lihat pada awalnya mention tentang MCA sangat sedikit. Yang tertinggi adalah bulan Maret 2018, yaitu sejak penangkapan anggota MCA diumumkan polri.

Dalam periode tersebut, kita mendapatkan 237K mention di Twitter, dan 5,9K mention di media online. Kita tidak akan membahas percakapan di media online. Hanya yang di media sosial yang akan kita analisis leibh dalam untuk menjawab pertanyaan di atas.

KAPAN “MCA” MUNCUL?

Untuk melihat awal mula munculnya nama “MCA” atau “muslim cyber army”, kita zoom data dari 1 Mei 2016 sd 25 Maret 2018. Dengan menghilangkan periode dimana pemberitaan MCA meningkat, kita bisa melihat skala trend volume lebih jelas untuk periode awal. Dan dengan mengklik setiap puncak dalam grafik trend Drone Emprit, kita bisa lihat percakapan apa yang terjadi saat itu. Dari situ kita bisa tahu apakah topik percakapannya.

Dari hasil eksplorasi setiap puncak grafik trend, kita bisa lihat bahwa nama MCA atau muslim cyber army mulai digunakan pada bulan Desember 2016. Tepatnya tanggal berapa?

Kita zoom lagi grafik trend untuk untuk periode 1 Mei 2016 sd 31 Desember 2016. Di sana kita temukan bahwa ternyata semua puncak dalam grafik sebelum 13 Desember berbicara soal “MCA” yang merupakan nama sebuah partai ras tunggal di Malaysia (Malaysian Chinese Association).

Pada tanggal 13 Desember 2016 itulah, sebuah twit pertama kali menggunakan nama “Muslim Cyber Army”:

“Saya bangga menjadi bagian Muslim Cyber Army…#PenjarakanAhok” – @ahmadyani1178, 4:45 AM – 13 Dec 2016

Twit tersebut meretweet status sebelumnya pada hari yang sama:

“[Perang Media Sosial] Muslim Mega-Cyber Army Meluluhlantakkan Ahok Cyber Army https://goo.gl/fb/uGq0e9” – @maspiyuuu, 3:49 AM – 13 Dec 2016

Apakah ada penyebutan sebelum itu? Kemungkinan ada, karen data Drone Emprit terbatas. Namun, dari nama yang digunakan oleh akun @maspiyuuu, dia belum menyebut nama MCA atau kepanjangannya. Dia masih menyebut nama “Muslim Mega-Cyber Army”, dan memberi nama lawannya “Ahok Cyber Army”.

TONGGAK LAHIRNYA “MCA”

Selanjutnya pada tanggal 14 Desember, sebuah status dari @sineasmuslim (sekarang bernama @khoyyr) menulis:

“muslim cyber army bergerakalah cc : @hafidz_ary @SiBonekaKayu @perisiden @TerorisSocmed @TofaLemon @Gemacan70 @ronavioleta @CondetWarrior” – @sineasmuslim, 10:57 AM – 14 Dec 2016

Status ini berisi potongan video dari ceramah HRS, yang mengajak umat Islam untuk melakukan “perang cyber” melawan musuh-musuh Islam yang selalu membuat fitnah dan menyerang Islam. (URL: https://twitter.com/khoyyr/status/808974067101409281)

Dalam periode bulan Desember 2016, status ini mendapat retweet paling tinggi terkait MCA.

Twit berikutnya yang paling banyak diretwet adalah dari Adam Harveys, jurnalis ABC untuk Asia Tenggara:

“Radical Indonesian cleric Habib Rizieq says Jokowi is blocking him online. Calls for help from ‘Muslim Cyber Army'” – @adharves, 6:43 AM – 20 Dec 2016

Dalam twitnya, Adam menyatakan bahwa HRS menginformasikan kepada jamaah tentang akun-akun media sosialnya yang diblok oleh pemerintah. HRS mengajak umat untuk melakukan “perang cyber”, dan memanggail “Muslim Cyber Army” untuk turun.

Menurut catatan Drone Emprit, ini adalah awal munculnya MCA, dan pidato HRS itu adalah tonggak lahirnya MCA.

Hal ini atas terkonfirmasi dari grafik trend dari 1 Januari 2017 hingga 31 Desember 2017. Penyebutan MCA atau “muslim cyber army” secara konsisten muncul dalam setiap bulannya.

JEJAK “MCA” SELAMA 2017

Selama periode 2017, kita bisa melihat mention terkait MCA bersama isu yang lain secara konsisten selalu muncul. Di sana ada beberapa puncak trend, yang kalau kita lihat, itu menandakan peristiwa2 besar yang melibatkan MCA.

Misalnya, 17 Januari, ada seruan HRS terkait GMBI; 20 Mei dengan peak tertinggi di tahun itu, soal kasus chat mesum HRS; 23 Agustus juga peak tinggi, dimana warming-up Polri dalam menumpas hoax, dengan mengumumkan penangkapan sindikat Saracen; dan di akhir tahun tentang aksi bela Palestina.

MASA SEBELUM “MCA”

Sebelum nama MCA muncul, apakah yang menjadi cikal bakal jaringan ini?

Kita lihat SNA dari peristiwa Aksi 411 dan Aksi 212. Dalam persiapan Aksi 411, dari 17-31 Oktober 2016, kita lihat cluster Pro Aksi dikomandoi oleh akun-akun terkait FPI dan HRS. Akun yang lain adalah buzzer yang akan mengamplifiksi pesan kepada publik. Demikian juga dalam persiapan Aksi 212, akun HRS merupakan akun penting di sana. Pernyataan HRS dan ceramahnya yang mengajak umat melakukan perang cyber, menjadi motivator dari cluster ini.

Dari situ kita bisa lihat bahwa sebelum MCA, akun FPI dan HRS adalah sentral dari cluster yang sering mengkritik pemerintah di media sosial. Bersama akun ini, ada akun2 lain dari berbagai kalangan yang mengamplifikasi.

POSISI “MCA” DALAM PILKADA DKI

Kita ambil contoh salah satu SNA yang pernah dipublish Drone Emprit, yaitu pada tanggal 7-8 Februari pada saat debat pilkada. Dalam peta itu, kita lihat ada 4 cluster. Bukankah seharusnya ada 3 cluster, yang masing-masing adalah tim dari paslon yang bertanding?

Ternyata ada cluster keempat. Cluster ini secar jelas terpisah dari ketiga cluster lainnya. Dari analisis lebih dalam, cluster ini ternyata fokusnya hanya satu: menyerang cluser Ahok. Goal mereka adalah “asal bukan Ahok”.

Cluster ini tak tampak dalam mempromosikan dua paslon lawan Ahok. Ini dalah cluster MCA, dimana di dalamnya bergabung warganet dari berbagai kalangan yang memiliki goal yang sama.

THE WAR ON “MCA”

Sekarang kita analisis kejadian seminggu terakhir, dimana Polri mengumumkan penangkapan anggota MCA.

Dari grafik trend antara 23 Feb sd 4 Maret 2018, kita lihat trend naik tentang MCA terjadi mulai tanggal 27 Feb. Saat itu diberitakan bahwa Polri menangkap 14 anggota MCA dari berbagai kota di Indonesia. Berita itu langsung viral.

Kita lihat dan analisis percakapan ini dari hari per hari. Mulai tanggal 26 Feb. Saat itu, dunia MCA masih aman damai. Bahkan cluster MCA mendiskusikan ide untuk membuat aplikasi setara FB khusus untuk dakwah umat Islam di Indonesia. Sedangkan cluster Pro Pemerintah dimotori oleh @digembok, banyak mengungkap hasil profiling terhadap anggota dan motor MCA. Tujuannya untuk mendelegitimasi MCA dan menjatuhkan.

Pada tanggal 27 Feb 2018, hari H penangkapan anggota MCA yang dituduh menyebarkan hoax, top retweet didominasi oleh akun-akun yang pro pemerintah. Mereka secara massif memberi label bahwa MCA adalah “produsen hoax” yang tidak bisa lagi dipercaya.

Tentunya berita penangkapan ini akan membuat anggota MCA malu, karena jaringan, motif dan rahasia mereka terbongkar seiring dengan ditangkapnya pentolan mereka. Ini yang diharapkan. Dan kemudian publik tidak lagi percaya pada MCA.

Apakah benar seperti itu? Dari grafik SNA tanggal 27 Feb, kita lihat ternyata polarisasi cluster di sana hampir sama kuatnya. Cluster yang Pro Pemerintah memang lebih besar. Namun, untuk ukuran masifnya berita penangkapan, harusnya cluster MCA jauh lebih kecil. Kenyataannya, cluster MCA tetap besar.

Pada hari-hari berikutnya, kita bisa lihat SNA pada tanggal 28 Feb, 2 Maret, dan 3 Maret. Dalam setiap peta SNA, kita lihat cluster MCA bukannya makin kecil. Tetapi malah makin besar, mengimbangi cluster Pro Pemerintah. Dan bahkan kadang melebihi cluster lawannya.

Untuk tujuan “melemahkan MCA”, peta SNA tersebut memperlihatkan bahwa tujuan ini sulit tercapai. Sejak hari H penangkapan, warganet dalam cluster MCA bukannya malu menyatakan dirinya sebagai anggota MCA lalu bersembunyi, malah sebaliknya mereka diserukan oleh akun HRS untuk tetap maju dan tidak takut dalam pertempuran. Cluster MCA bukannya mengecil, tetapi tetap seimbang melawan cluster Pro Pemerintah, bahkan kadang lebih besar.

STRATEGI MASING-MASING CLUSTER

Cluster Pro Pemerintah berusaha membangun asosiasi “MCA pembuat Hoax” agar tidak dipercaya lagi oleh public. Dan sebaliknya, cluster MCA melakukan kontra narasi dengan menyatakan bahwa “MCA yang asli itu melawan fitnah.”

Cluster Pro Pemerintah membongkar profile mereka yang ditangkap oleh Polri, melalui jejak digital yang mereka kumpulkan. Ada beberapa akun khusus yang bertugas untuk membukanya. Sedangkan cluster MCA melihat titik celah dari tuduhan, serangan dan informasi yang dibuka oleh lawannya, lalu menggunakan celah yang ditemukan untuk menyerang balik. Misal, pernyataan Polri bahwa “salah satu anggota yang ditangkap sudah bergabung dengan MCA sejak 5 tahun yang lalu,” ini dimanfaatkan baik-baik untuk menyerang, dengan kontra narasi bahwa MCA baru ulang tahun sekali.

Polri menunjukkan bahwa MCA memiliki admin salah satunya “M Luth”. Cluster MCA melakukan kontra narasi dengan menyatakan bahwa akun @Cak_Luth itu adalah milik orang yang ditangkap Polri, yang ternyata adalah anggota Jasmev dan PSI. Tidak tahu apakah klaim MCA ini benar atau tidak.

AS dari cluster Pro Pemerintah turut menyebar foto yang memperlihatkan “sosok” mirip salah satu admin MCA yang ditangkap ternyata memiliki “asosiasi” dengan salah satu tokoh (FZ dan PS) dan partai tertentu. Cluster MCA melihat ada celah untuk melakukan kontra narasi, dengan menyatakan bahwa orang itu adalah salah satu fans PS yang rela berjalan kaki jauh-jauh ke Jakarta untuk bertemu dengan PS. Dan celah ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh FZ, dengan melaporkan AS ke kepolisian atas hoax/fitnah yang diserbar AS.

Dari tik-tak strategi tempur seperti di atas, akhirnya tak tampak lagi tujuan “memerangi hoax”. Tembakan jadi semakin liar, kemana-mana. Mungkin itu tujuannya?

CLOSING

Menurut saya, penangkapan anggota MCA yang dilakukan oleh Polri ini sebuah pertaruhan serius. Jika Polri bisa membuktikan bahwa MCA adalah sebuah jaringan yang ada penyandang dananya, ada tim inti, operator di lapangan, dan simpatisan, maka ini bisa mendelegitimasi MCA. MCA bisa diasosiasikan oleh public sebagai “pabrik hoax” yang tidak lagi dipercaya.

Namun jika ternyata MCA yang asli itu berbeda (sedikit atau banyak) dari yang dituduhkan oleh Polri, maka MCA akan bisa mendapatkan momentumnya untuk bangkit kembali dan lebih solid.

Hal positif yang saya lihat dari kasus ini adalah soal “perang melawan hoax”. Harusnya ini yang lebih dominan, lebih ditekankan oleh Polri dan semua pihak. Jika ini dilakukan, maka kita bisa bersama-sama, kedua cluster satu pandangan, untuk menghentikan pembuatan dan penyebaran hoax. Efek jera bisa menjadi fungsi control, karena hukum akan ditegakkan oleh Polri terhadap siapapun yang membuat hoax dan fitnah. Siapapun, artinya dari cluster manapun.

Namun yang saya tangkap, perang ini sepertinya lebih condong sebagai “The War on MCA”. Perang pembangunan asosiasi bahwa “MCA = Pabrik Hoax”. Bukan “The War On Hoax”, dimana siapapun, cluster manapun, punya potensi menjadi “Pabrik Hoax.”

Jika ternyata memang ada 2 jenis MCA, karena sifatnya yang terbuka dan tak terkontrol anggotanya, yaitu “produsen kritik” dan “produsen hoax”, maka ini adalah momentum untuk menghabisi ”MCA produsen hoax” dan ke depan MCA bisa lebih serius menjadi “produsen kritik.” Kritik yang cerdas, berbasis data. Mungkinkah?

RKUHP, Polemik Pasal Penghinaan Kepada Presiden, Mayoritas Publik Menolak

Ismail Fahmi, Ph.D

Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia
– – – – – –

Di dalam rancangan KHUP terbaru, pemerintah dan DPR sepakat untuk memasukkan kembali pasal penghinaan terhadap presiden dan wapres. KontraS khawatir kalau pasal ini akan berdampak buruk bagi kebebasan berpendapat, karena definisi ‘penghinaan’ dan ‘kritik atau protes’ tidak jelas.

Misalnya, jika protes Ketua BEM UI dengan mengacungkan kartu kuning ke Jokowi tempo hari dianggap sebagai penghinaan, maka dia bisa dipidana. Dan maksimal hukuman adalah 5 tahun. Tergantung siapa yang menerjemahkan, sebuah aksi bisa dianggap penghinaan atau protes.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-1

Bagaimana publik dan media menanggapi bakal dihidupkannya lagi pasal ini? Kita lihat data dari Drone Emprit. Kita gunakan kata kunci RKUHP, yang difilter dengan “penghina, penghinaan”, serta dua hashtag pro-kontra yang digunakan oleh tim pendukung dan penolak, yaitu #JagaMarwahPresidenRI dan #TolakPasalPenghinaanPresiden.

VOLUME DAN TREND

Dari grafik volume, tampak bahwa percakapan di media sosial sangat tinggi dalam seminggu terakhir (2,9K mention), jauh lebih tinggi dibanding di media online (488 mention). Dan dari grafik tren, kita lihat percakapan itu mulai naik kemaren (6 Feb) dan hingga hari ini terus naik volumenya.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-2Organisasi yang paling konsisten dalam mengingatkan publik akan bahaya pasal ini adalah KontraS. Sejak awal bulan (1 Feb) sudah membuat sosialiasi tentang bahaya pasal ini, serta apa saran dan solusi yang diusulkan KontraS.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-3

KONTRAS SEPAKAT ADA PASAL PENGHINAAN, TETAPI…

KontraS menilai, pasal penghinaan ini masih diperlukan dalam KUHP. Namun, seharusnya tidak spesifik hanya untuk presiden dan wapres. Lembaga ini menyarankan agar pasal ini untuk seluruh warga negara, melindungin setiap warga dari penghinaan, dalam konteks personalnya.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-4

Seseorang, termasuk presiden, jika membuat kebijakan lalu ada yang mengkritik kebijakannya dengan keras, tdk bisa dikategorikan sebagai penghinaan. Penghinaan berlaku kepada serangan terhadap personalnya.

PETA SNA DAN PERANG HASHTAG

Bagaimana peta pro-kontra publik? Dari grafik SNA, ternyata kita lihat hanya ada 1 cluster besar, dan KontraS yang berada di luar cluster itu. Meski demikian, mereka mengangkat narasi yang serupa.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-5

Cluster besar ini berisi netizen yang selama ini kritis dan berjarak dari pemerintah. Dari grafik SNA Topik, kita lihat narasi mereka satu, yaitu #TolakPasalPenghinaanPresiden. Sedangkan KontraS mempromosikan hashtag #JanganPaksakan RKUHP.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-6

Kita tidak melihat adanya cluster yang pro pemerintah di situ. Hashtag #JagaMarwahPresidenRI yang dipromosikan oleh buzzer yang pro RKUHP tak cukup besar volumenya.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-7

Akun RadioElshinta merupakan salah satu key influencer dalam cluster besar tersebut. Itu didorong oleh polling yang dibuatnya, yang rupanya mendapat banyak suara dari cluster ini. Hasilnya, 70% dari 6,823 resonden menganggap pasal tersebut tidak perlu, 26% berpendapat perlu, dan sisanya 4% tidak tahu.

CLOSING

Saya tampilkan data ini apa adanya. Silahkan dimanfaatkan oleh mereka yang pro dan kontra dalam menyusun strategi masing-masing.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-8

Poin penting yang ingin saya tambahkan adalah, perlunya publik untuk aware, peduli, dan kepo terhadap rencana aturan dan undang-undang yg dibuat pemerintah bersama DPR, yang akan diberlakukan kepada mereka.

Melihat diskursus para tokoh parpol di DPR dimana tidak ada pro-kontra yang berarti, tampaknya pasal ini akan lolos. Tidak banyak wakil rakyat yang benar-benar bersuara menolak. Penolakan keras hanya terjadi di media sosial.

Untuk itu, strategi yang bisa diambil oleh publik agar pasal ini tidak merugikan mereka kelak adalah: mendukung usulan dari KontraS, agar definisi penghinaan itu dibuat jelas bedanya dengan kritik dan protes. Memastikan agar publik masih tetap bisa mengkritik dan memprotes “kebijakan” presiden dan wapres tanpa takut dipidana.

Sedangkan, penghinaan terhadap personal presiden dan wapres, misal mengedit2 gambar dan menggabungkan dengan gambar binatang dll, bisa masuk dalam definisi penghinaan. Bisa kena pidana.

Pertanyaannya, bagaimana jika pendukung presiden, buzzer pemerintah, membuat penghinaan kepada tokoh lawan presiden? Misal memasang hidung dan telinga babi kepada tokoh bukan presiden/wapres, dan seterusnya. Bagaimana KUHP ini bisa melindungi mereka?

Banjir, Saatnya Ramai-Ramai Keluar

Ismail Fahmi, Ph.D,  Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia,

– – –

“Banjir” adalah sebuah kata magic saat ini. Dia merupakan sebuah diksi yang membawa makna tertentu. Ada diksi lain yang dulu sering digunakan, yaitu “genangan”. Keduanya mengandung makna yang berbeda, namun dalam kurun waktu tertentu, pernah digunakan untuk menggambarkan kondisi yang sama.

Kejadian banjir di ibu kota beberapa hari ini, tentu telah menarik perhatian yang teramat sangat. Karena bagaimana banjir terjadi dan ditangani, menggambarkan bagaimana kerennya sang pemimpin daerah pada saat itu, di mata pendukungnya; atau betapa buruknya dia dibanding yang sebelumnya.

Nah, lansung saja, kita lihat bagaimana banjir dan genangan ini terjadi. Bukan di ibu kota, tetapi di dunia maya, di media sosial Twitterland. Di Twitter, saat ini apakah yang terjadi? Banjir atau genangan?

DATA DRONE EMPRIT

Untuk periode seminggu terakhir, Drone Emprit mengamati dan mengumpulkan data tentang penggunaan kedua kata ini: banjir dan genangan. Hasilnya?

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (4)

Secara total, baik percakapan di media sosial dan online, penggunaan kata banjir jauh lebih besar dibanding kata genangan. Terdapat 58 kilo percakapan untuk ‘banjir’, sedangkan ‘genangan’ hanya 4,5 kilo.

Trend di media sosial untuk penggunaan kata banjir, jauh lebih pesat naiknya dibanding kata ‘genangan’.

 

SIAPA YANG MASIH MENGGUNAKAN ISTILAH GENANGAN?

Kita lihat peta SNA, untuk percakapan tentang ‘genangan’. Ternyata hasilnya menarik. Tidak banyak dan tidak terlalu umum penggunaan kata genangan di sini. Hanya sedikit orang saja yang masih menggunakan. Dan sebagian besar dari mereka adalah akun-akun yang dulu pendukung gubernur sebelum Anies. Seolah masih sungkan kalau langsung menggunakan istilah ‘banjir’. Jadi, ada semacam eufemisme, disamakan dengan sebelumnya, dengan sebutan ‘genangan’. Di cluster ini ada @tolakbigotri, @tsamaraDKI, @kangdede78, dan beberapa lainnya.

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (3)

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (1)

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (2)

Cluster pendukung gubernur sekarang, hampir tak tampak di sana. Hanya ada satu akun @prijantorobbani, dengan sedikit amplifikasi yg masih menyebut istilah genangan.

 

BAGAIMANA PETA PENGGUNAAN ISTILAH BANJIR?

Peta SNA tentang ‘banjir’ ternyata jauh lebih menarik untuk dianalisis. Hampir semua percakapan tentang melimpahnya air di atas permukaan tanah, warganet menyebutnya dengan istilah ‘banjir’. Dari cluster kanan yang pro gubernur sekarang, juga ndak pake eufemisme. Mereka langsung aja bilang kalau yang sedang terjadi adalah banjir, bukan genangan. Jika dibandingkan dengan kekuatan mereka pada saat Reuni 212, di sini ukuran clusternya tampak hanya separuh. Isu banjir mungkin tak terlalu krusial buat mereka untu turun dengan formasi lengkap.

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (7)

Cluster kiri, pendukung gubernur sebelumnya, hampir semua menyebut dengan istilah ‘banjir’. Dan ukuran cluster kiri ini, lebih besar dari pada cluster kanan. Kalau dilihat akun-akun paling berpengaruh di sana, sepertinya para key opinion leader kawakan muncul semua dalam formasi lengkap. Seolah banjir telah membuat mereka semua keluar.

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (8)

Gambaran awal kekuatan menjelang 2019 rasanya bisa dilihat di sini. Formasi cluster kiri dan kanan sepertinya akan tetap seperti sebelum-sebelumnya. Hanya nanti akan semakin besar saja tentunya.

TOP TWIT

Dalam percakapan tentang ‘genangan’, top twit kebanyakan berasal dari cluster pendukung gubernur sebelumnya. Sementara tentang ‘banjir’, top twitnya merata antar kedua cluster.

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (5)

Twit paling populer tentang ‘genangan’ ditulis oleh @tolakbigotri, “Di Salah Satu XXI Jakarta pun ikut menderita. Masih tak habis pikir XXI jadi korban genangan air. Hanya di era Anies-Sandi.”

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (6)

Dan yang kontras, top twit nomor dua ditulis Kompas bahwa, “Anies: Banjir dan Genangan di Jakarta Kemarin, Itu Tanggung Jawab Saya”. Ini memberi kesan bahwa Anies gentlemen.

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (9)

Sedangkan untuk diksi ‘banjir’, top twit ditulis oleh @hnurwahid, “Ingat banjir di Jkt,ingat bukan pd @jokowi gub DKI yg salahkan pemerintah pusat, tapi terutama pada pernyataan bahwa lebih mudah atasi banjir&masalah Jkt bila terpilih sbg Presiden Indonesia. Sudah >3th pak@jokowi jadi Presiden RI, bila bersama2 dpt atasi banjir Jkt,tentu bagus skali.” Hingga saat ini sudah diretweet 1324 kali.

Twit tersebut seolah mempertanyakan pernyataan lama, yang saat ini belum juga terwujud.

Lemparan lambung twit di atas kemudian disambut dengan baik oleh @haikal_hassan, “Lucu membaca sibuknya orang menyalahkan @aniesbaswedan (yg baru bbrp waktu dilantik) soal banjir, sementara ada yg janji kalau jadi presiden bisa atasi banjir (padahal sudah lama dilantik), tapi didiamkan.
Tak usah sakit hati…
Nanti sakit liver lho…”

Isinya sama soal janji Jokowi, namun lebih banyak untuk mempertanyakan para pendukungnya yang sibuk menyalahkan anies yang baru dilantik, dan melupakan Jokowi yang sudah 3 tahun menjadi presiden.

DISKUSI PALING ILMIAH

Di twitter ternyata tidak melulu pro-kontra dalam bentuk flame war. Namun, ada juga diskusi yang lumayan ilmiah. Twit paling populer adalah dari @sutopo_BNPB bahwa, “Hujan deras yang menyebabkan banjir/genangan di Jakarta pada 11/12/2017 ternyata jauh lebih kecil dibandingkan hujan yang pernah menyebabkan Jakarta banjir besar. Hujan di Pasar Minggu pada 10/2/1996 = 300 mm/hari, di Ciledug 1/2/2007 = 340 mm/hari. Kemarin hanya 83 mm saja.” Data yang disampaikan ini seolah mempertanyakan gubernur sekarang kenapa mambiarkan jakarta banjir, padahal curahnya tidak deras dibanding sebelumnya.

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (10)Sontak, pernyataan ini medapat banyak tanggapan, yg mempertanyakan data yang dibaca, metode perbandingan yang tidak head-to-head dengan data sebelumnya, dan sebagainya. Diskusi yang cukup serius terjadi di sana.

INFORMATION ARBITRAGE

Di antara kedua cluster, terdapat akun @sutop_bnpb, @alldolj, @detikcom, dan @kompascom. Mereka posisinya relatif berada di tengah, diapit kedua cluster. Posisi seperti ini terjadi ketika twit mereka diretwet oleh anggota kedua cluster, yang menandakan akun-akun ini relatif bisa diterima oleh kedua kubu.

Itu lah yang disebut dengan information arbitrage. Juru penengah sumber informasi dari dua atau lebih kubu yang sedang terpolarisai.

Menarik jika melihat akun @Kompascom ternyata juga diretweet oleh cluster kanan. Biasanya dan naturalnya, berita @kompascom lebih cocok dan disukai oleh cluster kiri saja. Bagaimana bisa berada ditengah?

Kalau melihat salah satu top twit di atas, ternyata @kompaskom juga memberitakan pernaytaan Anies yang ‘gentlemen’, yang menerima segala tanggung jawab atas terjadinya banjir. Dalam berita itu, Anies tak tampak menyalahkan siapapun, namun mengambil tanggung jawab ke pundaknya. Berita yang sama juga ditulis oleh REpublika.

Tentu berita seperti ini akan disukai oleh cluster pendukung Anies. Mereka akan meretweet, meski secara historis dan sifat, media sumber ini biasanya lebih disukai oleh cluster kiri.

CLOSING

Saya lihat saat ini, para buzzer sudah tidak lagi merasa perlu melakukan eufemisme, mengganti istilah ‘banjir’ dengan ‘genangan’. Mereka sebut banjir sebagai banjir. Tidak perlu ada yang ditutup-tutupin. Bahkan, cluster pendukung Anies pun tak muncul dalam peta ‘genangan’. Mereka kompak menggunakan istilah ‘banjir’.

Bagi saya ini hal yang bagus dan patut diapresiasi. Siapapun pemimpinnya, seyogyanya buzzer berperan sebagai promotor sekaligus pengingat kalau ada yang salah. Tidak menutupi kekurangan atau hal-hal yang bisa menurunkan citra dengan melakukan manuver diksi, pilihan kata. Pemilihan kata ini bisa membuat publik menjadi tidak kritis lagi atau tidak bisa melihat kekurangan yang ada.

Hal menarik kedua yang saya lihat adalah, ternyata ‘banjir’ ini telah membuat para key opinion leader dari cluster kiri pada muncul semua, dengan formasi lengkap. Topik banjir tampaknya sangat penting buat mereka. Berbeda sekali dengan topik ILC yang lalu, dimana DS dan AJ seolah sendirian tanpa dukungan kawan-kawannya. Di sini, semua bersatu.

Banyak yang bisa dianalisis, misalnya bagaimana media mengangkat dan menggunakan pilihan kata. Namun sampai di sini aja ya, bahasannya.

Semoga bapak presiden Jokowi dan gubernur DKI bisa bekerjasama dengan baik, untuk mengeradikasi banjir atau genangan dari Jakarta.

 

ILC Reuni 212: Panggung ini Milik Siapa?

Ismail Fahmi, Ph.D,  Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia,

– – –

Acara ILC kemaren mengangkat tema “212: Perlukah Reuni?”

THE POWER OF ILC

Saya perhatikan, ILC ini merupakah sebuah acara yang sangat berpengaruh. Terlepas ada yang berpendapat bahwa ILC sekarang sudah tidak seperti dahulu, sekarang lebih banyak jadi ajang curhat, namun dalam banyak tema, ILC telah berhasil memberi panggung kepada tokoh-tokoh yang selama ini lantang namun tersembunyi. Publik yang lebih banyak membaca kegarangan para tokoh itu di media maya, lewat ILC ini publik bisa melihat dan membandingkan kualitas, kapasitas, dan apa yang sebenarnya ada di dalam kepala mereka.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (6)Para tokoh yang berkualitas, dia akan bisa membawa dirinya, menyampaikan gagasannya dengan runut, berisi, dan tak terpengaruh oleh bias rendahan. Sebaliknya, tokoh yang kurang berkualitas atau bermasalah, tanpa mereka sadari, akan mempertontonkah kualitas pribadi mereka yang ekonomis dalam nalar maupun moral. Ada juga yang setelah ILC, tokohnya diciduk.

Inilah kekuatan ILC. Dengan memberi panggung dan waktu berbicara kepada mereka yang pro dan kontra, hal-hal yang tersembunyi menjadi terbuka. ILC bukan ajang diskusi, tapi ajang membuka kualitas dan isi pikiran masing-masing kubu.

SIAPA BINTANG ILC KALI INI?

Baiklah sodara-sodara, kita lihat data dari Drone Emprit untuk menjawab pertanyaan ini. Dari kata kunci “ILC” saja, dengan filter harus huruf kapital dan berbahasa Indonesia, didapat trend percakapan yang naik pesat pada tanggal 6 kemaren.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (7)

Dari word cloud berita online, ada 4 tokoh yang menjadi bintang dalam ILC kali ini. Mereka adalah: Abu Janda, Felix Siauw, Denny Siregar, dan Mahfud MD. Yang lain adalah pemeran pendukung.

Dan dari most retweeted status di Twitter, mereka yang paling banyak dibicarakan bintangnya adalah Denny Siregar, Abu Janda, Fahri, Felix, dan Mahfud MD.

NETIZEN PALING POPULER

Siapa netizen di Twitter yang paling banyak mendapat ‘engagement’? Bentuk engagement bisa berupa ‘retweet’ atau ‘reply’. Lima orang paling populer dalam kategori ini adalah: @maspiyuuu, @karniilyas, @NetizenTofa, @mohmahfudmd, dan @darwistriadi.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (4)

Dalam pengukuran ini, Emprit ndak membedakan apakah retweet yang didapat itu dari robot atau dari real user. Kalau toh ada yang pakai robot, itu menunjukkan dia serius untuk mempromosikan dirinya dan opininya. Masih bermanfaat juga untuk membaca adanya niatan untuk melakukan propaganda.

THE RISE AND FALL OF ACTORS

Pasca ILC, diskusi ramai di media sosial dan online, membahas penampilan para tokoh itu. Aktor yang paling jelas mendapat sorotan yang kurang menyenangkan bagi mereka ada 3: Denny Siregar, Abu Janda, dan Aan Anshori.

Komentar Denny tentang ILC yang jadi ajang curhat, sontak dibalas oleh Karni Ilyas dengan sebuah pepatah “Kalau kamu tak pandai menari, jangan lantai kamu salahkan.” Netizen pun mendukung Karni. Siapapun yang selama ini pernah nonton ILC, pasti melihat komentar itu aneh. ILC adalah kesempatan bagi siapapun yang diundang untuk merek bersuara, menyampaikan posisi dia, opini, argumen tanpa disela. Hanya mereka yang tak mampu menyampaikan argumen kuat saja yang akan melihat kesempatan itu kurang bernilai.

Yang paling kurang beruntung adalah Abu Janda. Garangnya dia selama ini di media sosial, setelah diberi kesempatan menyampaikan argumennya langsung kepada opponen, ternyata 180 derajat kesan yang dibangunnya di ILC ini. Pasca ILC, cukup banyak yang kemudian membuat jarak darinya. Misalnya Yaqut Cholil bilang bahwa dia tidak mewakili banser. Ada juga yang menyebut dia bukan ustadz.

Apa yang terjdi di ILC tampaknya tidak berhenti di sana. Jika ada tokoh yang pendapatnya cukup kontroversial, setelah ILC, netizen yang berseberangan berusaha membuka profilenya. Misalnya Aan Anshori, oleh netizen banyak digali peran dan sepak terjangnya terkait LGBTQ dan liberalisme. Tulisannya tentang “Apakah Homoseksual Masuk Surga?” diungkit.

Kondisi sebaliknya dari mereka bisa dilihat pada Felix Siauw. Jawabannya yang dianggap telak atas pendapat Abu Janda, tentang bendera Rasulullah, Topkapi Palace, dan hadist, telah mendapat pujian dari netizen yang mendukungnya. The “rise” paling besar saya kira didapat oleh Felix, karena head to head dengan Abu Janda dan Denny Siregar, yang selama ini dianggap dua key opinion leader dari salah satu cluster.

Fahri Hamzah juga mendapat applaus luar biasa dari pendukungnya, yang kebanyakan dari MCA.

Di antara dua kubu di atas, ada Prof Mahmud MD, yang berdiri independen. Beliau mengkritik pandangan Abu Janda soal hadis, dan juga mengkritik Felix Siauw soal khilafah dan HTI. Akun Militan Jokowi merangkum pendapat beliau, “Menurut Mahfud MD tidak ada ajaran Khilafah didalam Islam. Hukum Primer Islam tidak mengenal konsep Khilafah. Dan jika ada yang memperjuangkan Khilafah untuk mengganti Pancasila yang telah disepakati oleh pendiri bangsa hal tersebut sudah melanggar hukum. Catet !!”

SNA: PETA YANG TAK SEIMBANG

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (5)

Kita lihat peta SNA untuk tanggal 6-7 Desember. Disitu tampak adanya dua cluster yang sangat-sangat tidak seimbang. Di sebelah kiri ada cluster @maspiyuuu, @netizentofa, @fadlizon, dll yang selama ini identik dengan MCA. Di antara mereka ada @Karniilyas sang presiden ILC. Cluster kiri ini sangat besar dibanding cluster kanan yang kecil.

Di kanan ada @dennysiregar7, @chicohakim, dkk. Tak tampak akun-akun lain yang selama ini bersama mereka. Mungkin karena jalannya dialog ILC malam itu kurang menguntungkan?

Yang menarik, di sini ada akun yang beru saya lihat, yaitu @darwistriadi. Kenapa dia mendapat begitu banyak retweet? Ternyata satu twitnya yang mengkritik Felix Siauw, mendapat dukungan besar dari cluster kanan. “ILC td malam, itu yg namanya Felix baru ngerti ilmu agama dikit, udh komen kaya gitu, ga sadar bahwa negara indonesia ini pancasila dan direbut dr penjajah dgn spirit pancasila..” Namun karena twit ini pula, dia mendapat begitu banyak response dan serangan dari cluster kiri.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (9)

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (2)

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (3)

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (8)

CLOSING

Dari peta SNA tampak jelas, siapa pemilik panggung ILC tentang “212: Perlukah Reuni?” Mereka yang di cluster besar di sebelah kiri lah yang memilikinya.

Dan kembali ke pertanyaan yang diangkat ILC, “Perlukah Reuni”, seolah ini tak terjawab. Malah muncul jawaban-jawaban baru atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini muncul di media sosial, tentang para tokoh di baliknya cuitan di media sosial itu.

ILC tak menjawab apakah reuni diperlukan. Tapi dia menjawab pertanyaan: “Siapakah Abu Janda?”, “Siapakah Denny Siregar?”, “Siapakah Felix Siauw”, dan “Mengapa HTI Berbahaya?”

Jadi, kalau anda diundang Karni Ilyas untuk ikut acara ILC, tapi khawatir tidak bisa memenangkan opini di sana, maka tinggal di rumah bisa jadi pilihan yang terbaik buat anda.

 

 

Akun Bot Twitter: Studi Kasus Setnov

Ismail Fahmi, Ph.D

Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia,

 

Di dunia Twitter, kita pernah dengar istilah “akun bot” atau “akun-akun robot”. Maksudnya, akun jumlahnya ribuan, ratusan ribu, dan bahkan ada yang mencapai jutaan, dan dikontrol oleh sebuah program tertentu, dan dioperasikan oleh satu orang atau tim. Tujuan akun bot ini dalah untuk menaikkan tren sebuah isu atau percakapan di Twitter.

Bagaimana wujud dari akun bot ini? Kita akan gunakan Drone Emprit untuk melihat pola yang ditampilkan oleh akun bot dalam sebuah percakapan. Untuk studi kasus, kita gunakan kata kunci “Novanto” atau “Setnov” yang sedang ramai beberap hari ini.

Data Twitter Ini

Ismal Fahmi - Akun Bot Twitter - Studi Kasus Setnov 1Ini data seminggu terakhir dari pantauan Drone Emprit untuk keyword “novanto” atau “setnov”. Trend percakapan dan pemberitaan di kedua kanal media sosial dan online, samasama tinggi. Ini menunjukkan isu papa masih sangat menjual, dan tampaknya akan terus menghiasi media dan sosial.

SNA: Pasukan Papa yang Kesepian

Langsung aja kita lihat peta SNA. Di situ tampak ada sebuah cluster besar, yang didominiasi oleh akun-akun media online seperti Detikcom, Kompascom, KompasTV, Tribune, dll. Ada juga akun-akun tokoh seperti mohmahfudmd, FaisalBasri, dll.

Di dalam cluster besar tersebut, tampak adanya pasukan MCA, yang bersama-sama dengan para tokoh dan media; seperti maspiyuu, firaun_id, netizenTofa, dll. Di seberang lain dari cluster ini, teradapat akun-akun rival mereka, seperti partaisocmed, digembok, TetapAhokDjarot, dkk. Mereka semua disatukan dalam sebuah nada yang sama: mendukung KPK dan menghadapi papa.

Nah, apakah papa diam saja? Tentu tidak. Di dunia maya, kita dari peta SNA ini, sebuah akun yang begitu besar mendapat retweet, di kelilingi oleh ratusan atau ribuan akun lain: BNewsCoID. Akun dan pengikutnya ini, begitu ramai dan kompak memberi dukungan pada papa. Bisa dilihat contoh2 twit akun ini, yang rata-rata setiap twit dishare/retweet sebanyak 300 kali.

Namun sayang, cluster BNewsCoID ini seolah ‘ngerumpi’ sendiri. Ibarat sebuah gugusan tata surya, yang menyendiri dan kesepian di pinggiran galaxy.

Ismal Fahmi - Akun Bot Twitter - Studi Kasus Setnov 2

Wait, ternyata cluster pendukung papa tidak itu sendirian. Ada akun lain yang mendapat retweet yang tinggi, yaitu Indonesia194508. Cukup banyak twitnya yang diamplifikasi. Namun sama nasibnya, mereka tidak memiliki engagement dengan akun-akun riil dalam cluster besar di tengah semesta ini.

Akun Robot

Kalau anda ingin melihat bagaimana robot Twitter bekerja, anda bisa lihat contoh kedua akun pendukung papa di atas. Robot yang bodoh, hanya menjalankan satu tugas saja: meretweet tuannya.

Saran saya, sebaiknya para robot itu diajarin, agar sedikit lebih cerdas, yaitu melakukan engagement yang agak natural sedikit, dengan akun riil yang kontra papa. Biar tampak seolah mereka adalah makhluk hidup.

Kalau seperti ini, meskipun volumenya tinggi, begitu diplot di SNA Drone Emprit, akan langsung kelihatan betapa kesepian mereka.

Ismal Fahmi - Akun Bot Twitter - Studi Kasus Setnov 3

Closing

Kekuatan papa di dunia ‘lain’ yang tak tersentuh Drone Emprit mungkin sangat kuat. KPK, seperti dikatakan Bambang W, seolah menjelang sakaratul maut karena diserang sana-sini.

Satu-satunya dukungan yang membuat KPK tetap kuat adalah dukungan publik.

Drone Emprit melihat, dukungan publik kepada KPK masih sangat kuat dalam kasus e-ktp melawan papa ini. Media online menjadi sumber utama informasi yang akan diamplifikasi publik. Dan kelompok warganet yang biasanya membantuk polarisasi cluster yang diametral, di sini mereka disatukan, satu suara.

Namun publik tidak boleh kecolongan atau lengah. Karena kita lihat di media dan sosial, papa juga mengerahkan pasukannya. Meski pasukan bayaran ini belum cerdas, namun tak seyogyanya kekuatan mereka diabaikan.

Publik bersatu di belakang KPK!

Analisis Teks Media Online dan Sosial

sie-dan-analisis-teks-media-online-dan-sosial

Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise, Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta, akan selenggrakan Kuliah Umum dengan Topik Analisis Teks Media Online dan Sosial. Kegiatan akan di helat pada hari Sabtu, 19 November 2016, dimulai jam 13.00 sd 15,.00 WIB. Kegiatan ini sekalian perkenalan dengan dosen baru Magister Informatika UII, Ismail Fahmi, Ph.D.

Dikutip dari berbagai sumber, Ismail Fahmi, Ph.D adalah seorang tokoh dibalik perkembangan perpustakaan digital dan jaringan perpustakaan digital One search di Indonesia, mengembangkan Teknologi Semantic Web di Perpustakaan Universitas Groningen (University of Groningen / Rijksuniversiteit Groningen) Belanda semasa menjadi Mahasiswa Program Doktoral di Universitas tersebut

Ismail Fahmi meraih Ph.D nya setelah menyelesaikan riset mengenai Natural Language Processing (NLP), dimana ia belajar bagaimana komputer dapat memahami bahasaalamiah manusia, dan dengan pengetahuannya ini komputer dapat memproses teks.

Sebagai contohnya, dari sebuah string kalimat, komputer bisa mengetahui mana subjek, predikat, atau objek. Juga tahu sebuah kata itu kata benda, kata kerja, kata sifat, atau yang lainnya. Dengan kemampuan menganalisa teks ini, komputer akhirnya dapat mengolah dokumen yang tidak terstruktur, bukan berbentuk data, menjadi data yang dapat dipahami oleh komputer. Bagaimana kita dapat membaca pola, trend, peta aktor, dan aktivitas dalam teks dimedia Online dan Sosial tersebut? Natural Language Processing (NLP) akan kita gunakan untuk melakukan analisa teks ini.

Jerri Irgo