Dinamika Logistik di Jepang: Pemikiran Profesor Hirohito Kuse

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Prof Hirohito Kuse, Guru Besar Fakultas Sistem Distribusi dan Logistik Universitas Ryutsu Keizai mengajarkan kepada kami di sesi pertama pelatihan IDLM AOTS, 2 November 2017.

Profesor Kuse, demikian biasa dipanggil, menjelaskan secara mendasar peran penting logistik sebagai penggerak ekonomi dan sosial di negara Jepang. Pemikiran Kuse tentang logistik sederhana namun sejatinya visioner.

“Logistik tidak hanya memiliki nilai ekonomi bagi bisnis, namun logistik memiliki peran penting dalam sosial yang seharusnya dikelola secara efisien dan efektif dengan tetap menjaga keberlangsungan alam semesta”, demikian Kuse mengawali pembelajarannya.

Kata logistik pertama kali digunakan di kalangan militer. Tujuan dari logistik militer ini adalah untuk meningkatkan pertahanan nasional, utamanya pada saat mobilisasi tentara, persenjataan, perbekalan, dan makanan pada saat perang maupun damai.

Saat ini, di Jepang logistik banyak digunakan di dunia usaha. Adalah hal yang jamak bila setiap bisnis mengejar keuntungan. Perusahaan-perusahaan mengembangkan banyak strategi dalam mengejar keuntungan, caranya dengan meminimalkan biaya logistik dan memaksimalkan nilai tambah. Bagi dunia bisnis, logistik diperlukan untuk memaksimalkan keuntungan melalui pengelolaan yang efektif dan efisien atas persediaan, transportasi, pergudangan, dan distribusi agar dapat meningkatkan kepuasan pelanggan.

Logistik semakin berkembang tidak hanya di militer dan bisnis, namun logistik mulai berkembang di ranah sosial. Seiring dengan kesadaran masyarakat Jepang mengenai lingkungan dan kesejahteraan masyarakat (social welfare). Duapuluh tahun lalu, di Jepang mulai dikenalkan istilah social logistics – logistik untuk kesejahteraan masyarakat.

Logistik sosial mencakup green logistics dan reverse logistics. Infrastrutur untuk logistik sosial meliputi pembangunan dan penyediaan fasilitas, teknologi, dan sistem untuk menjalankan aktivitas logistik sosial. Fokus dari logistik sosial adalah meminimalkan dampak terhadap kerusakan lingkungan.

Di Jepang, institusi yang aktif untuk logistik bisnis adalah sektor swasta. Sementara untuk logistik sosial lebih banyak diinisiasi dan dijalankan secara aktif oeh pemerintah.

Aktivitas logistik di Jepang awalnya difokuskan pada distribusi fisik barang. Dalam distribusi barang ini diperlukan kegiatan transportasi, penyimpanan, pengepakan, bongkar muat, dan pengantaran.

Berangkat dari Perencanaan Kota
Di Jepang, logistik berkembang dalam konteks perencanaan kota. Sebuah kota di Jepang, demikian Kuse mengungkapkan, sistem transportasi, area perkantoran, bisnis, manufaktur, jasa, perumahan, pendidikan, olah raga, rekreasi, dan fasilitas publik selalu dirancang secara komprehensif dan terpadu.

Sistem transportasi di Jepang awalnya diarahkan untuk memberikan solusi transportasi manusia secara masal dan nyaman. Pembangunan infrastruktur dan sistem transportasi manusia dilakukan secara intensif sejak perang dunia kedua, terutama sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan ekonomi pada era industrialisasi di Jepang.

Transportasi diperlukan untuk mengantarkan orang-orang dari desa ke kota, dari kawasan perumahan ke kawasan industri, perkantoran, dan pusat bisnis. Jepang telah berhasil mengatasi persoalan transportasi manusia dengan trasportasi massal secara efektif. Penggunaan transportasi kereta api, baik commuter line yang menghubungkan antardistrik di kota-kota dan antarkota-kota di Jepang. Boleh dibilang, transportasi manusia di Jepang sudah sangat mapan.

Transportasi Manusia dan Barang
“Mengurus transportasi manusia lebih mudah daripada transportasi barang”, ujar Profesor Kuse. Dalam transportasi manusia, satuan ukuran yang digunakan hampir semua sama. Demikian jenis atau klasifikasi manusia tidak banyak. Satuan ukuran manusia umumnya hanya jumlah orang atau berat. Sementara satuan barang, ukurannya sangat beragam. Ukuran berat seperti kilogram dan tonase. Ukuran volume seperti kubik, liter, dan lain-lain.

Jumlah manusia nilainya diskrit, tidak kontinu, seperti 1 orang, 20 orang, 100 orang, 200 orang, dan seterusnya. Tidak ada nilai 1,5 orang, 2,3 orang, 10,8 orang, dan seterusnya. Berbeda dengan barang, nilai barang bisa 1,2 kg, 2,8 ton, 10,8 liter, dan seterusnya.

Belum satuan ukuran barang yang bervariasi, misalnya 1 dozen isinya ada 12 buah. Jenis barang juga banyak sekali. Contoh di Jepang ada convenience store, mereka menjual lebih dari 3.000 items (Stock Keeping Unit’s). Transportasn manusia sangat sederhana. Pembedaannya hanya laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak. Klasifikasinya paling banyak hanya 3 variasi. Berat manusia pun tidak banyak bervariasi. Paling berkisar antara 50 sampai dengan 100 kg untuk berat manusia dewasa. Sementara berat barang sangat bervariasi.

Kuse yang juga menjadi Guru Besar Kehormatan di Tokyo University of Marine Science and Technology, menambahkan, bahwa dalam mengangkut manusia, kita bisa menanyanainya, mau dibawa ke mana? Sedangkan ketika kita mengangkut barang, kita tidak dapat menanyai barang tersebut, mau diangkut ke mana?

Inti dari aktivitas logistik adalah transportasi. Logistik sangat berhubungan dengan barang. Transportasi dalam logistik adalah transportasi barang, bukan transportasi manusia. Namun, untuk sampai barang siap diangkut, diperlukan pemilahan atau sortir, pengepakan, pemuatan barang (loading), dan penyiapan dokumen pengiriman barang.

Menurut pemikiran Kuse, yang paling merepotkan adalah pengepakan dan bongkar muat barang. Dalam logistik, jarak tidak memengaruhi kerepotan. Karena begitu barang sudah diangkut, barang diserahkan ke perusahaan pengangkutan.

Manusia gerakannya sama. Pagi mereka berangkat, sore pulang. Tidak banyak variasi. Sementara angkutan barang sangat bervariasi. “Barang seperti bayi”, demikian Kuse menganalogikan. “Jadi harus diperlakukan sangat berhati-hati”, ujarnya.

Barang bisa berubah pada saat bergerak. Barang 1 dosen, bisa berubah di tengah jalan, ketika dipisah menjadi 5 atau 7 buah. Namun demikian, ungkap Kuse, “Repotnya menangani transportasi manusia, mereka bisa complaint. Panas, dingin, lambat, dan sebagainya. Transportasi barang tidak ada yang protes”.

Menciptakan Nilai Tambah
Untuk memahami logistik, perlu dipahami lingkup dan keterkaitan rantai pasokan (supply chain), logistik, dan sistem distribusi. Rantai pasokan dapat dipandang dari perspektif jenis industri, jenis fasilitas, dan jenis daerah.

Dari perspektif jenis industri, rantai pasokan mengintegrasikan aliran barang, informasi, dan uang dari serangkai proses bahan baku menjadi produk jadi yang digunakan konsumen akhir. Contoh rantai pasokan pakaian. Pakaian yang kita gunakan proses rantai pasokannya mulai dari produsen kain, produsen jahit, penjual pakaian, dan dibeli oleh konsumen akhir.

Sementara dari perspektif jenis fasilitas, rantai pasokan dipandang sebagai pengelolaan fasilitas pabrik, gudang kain, pabrik penjahitan, gudang baju, dan toko ritel. Rantai pasokan mengintegrasikan aliran barang, informasi, dan uang dari berbagai fasilitas pabrik, gudang, distributor, dan toko ritel.

Rantai pasokan juga dapat dipandang dari perspektif geografi atau region. Dalam hal ini, rantai pasokan dilihat dari integrasi aliran barang, informasi, dan uang dari region. Pasokan bahan baku dari pemasok kain dari daerah Yangzhou, misalnya, kemudian kain diproses menjadi baju di Shanghai. Baju dari pabrik penjahitan di Shanghai selanjutnya diangkut ke gudang distribusi Yangon untuk didistribusikan ke toko ritel di Nagoya, Osaka, dan Kobe.

Logistik menghubungkan antara penerimaan pesan dan pemesanan. Di antara fasilitas terdapat rantai penghubung, yang diperankan oleh logistik. Dengan demikian logistik berperan penting dalam fungsi mengintegrasikan sistem rantai pasokan.

Dalam setiap proses rantai pasokan, perusahaan menciptakan nilai tambah. Contoh proses nilai tambah dalam rantai pasokan: terigu, tepung terigu, roti, sandwich, lunch box, lunch set. Untuk mengubah nilai tambah suatu produk diperlukan bahan dan teknologi.

Zaman dahulu, proses transportasi banyak pada tahap produk primer. Namun saat ini transportasi produk banyak produk akhir yang tidak tahan lama. Tidak mungkin kita siapkan sandwich hari ini untuk dikonsumsi tahun depan? Logistik hari ini memerlukan kecepatan.

Penciptaan nilai tambah ini dilakukan dengan mengubah sedikit bentuk produk atau bahkan hanya mengubah ukuran berat dan kemasan produk. Kuse mengilustrasikan bagaimana penciptaan nilai tambah dalam rantai pasokan di Jepang dengan mengambil contoh penjualan kol.

“Di Jepang, kol dijual Y200/buah. Produsen bisa menciptakan nilai tambah berupa peningkatan profit hanya dengan cara mengubah ukuran kol menjadi Y110/0.5 buah, Y100/plastics, Y100/kol ditaruh mayones, dan Y200/100 gram untuk salad lengkap”, papar Kuse.

Kuse yang mantan Ketua Asosiasi Distribusi Jepang melanjutkan, “Toyota Corolla tahun 2017 seharga Y1,500,000/dengan berat 1,5 ton atau Y100/100 gram. Jadi Toyota Corolla lebih murah daripada salad”, ujar Kuse serius.

“Orang-orang Jepang bisa membeli salad dengan harga Y200/100 gr, namun tidak bisa membeli Corola yang harganya lebih murah”, imbuh Kuse. Apa artinya, pengelolana rantai pasok memerlukan solusi yang lebih tinggi, karena rantai pasok akan memberikan nilai tambah yang tinggi.

“Kenapa vending machine yang menjual aneka minuman di Jepang laku? Karena ketika orang- orang memerlukan minum, mereka mendapatkan aneka minuman di vending machine dengan mudah sesuai dengan kebutuhan”, terang Kuse.

Jadi kalau mau untung, saran Kuse, “Ubah bentuk barang agar memiliki nilai tambah. Baik mengubah bentuk (utility form), ubah kuantitas (quantity form), dan ubah tempat (place form). Itulah value atau manfaat dari logistik”, pungkas Kuse.

Tantangan Logistik
Teknologi berkembang, proses pengerjaan bersama, dan respon terhadap lingkungan, keselamatan dan keamanan. Kedepan, penggunaan sumber daya bersama, penumpang dan muatan bercampur).

Perusahaan selalu berusaha meningkatkan omzet dan menurunkan cost dan risiko. Peningkatan pasar dilakukan dengan melakukan ekspansi ke pasar domestik dan internasional.

Cost semakin meningkat. Perusahaan mengeluarkan biaya lokasi, biaya produksi, dan biaya distribusi. Perusahaan Jepang, KAO melakukan ekspansi ke Indonesia, kenapa membangun pabrik di Indonesia meskipun upah buruh di Indonesia tinggi dibandingkan dengan negara- negara di Afrika misalnya. Dalam hal ini, selain pertimbangan cost, faktor risiko dan infrastruktur.juga perlu dipertimbangkan.

Dulu banyak perusahaan-perusahaan Jepang membangun di Indonesia, namun sekarang banyak dipindahkan ke negara Indonesia. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan utamanya adalah pasar, cost, infrastruktur dan risiko. Umumnya, pada saat mereka datang yang menjadi pertimbangan adalah pasar dan cost. Sementara pada saat mereka meninggalkan Indonesia, pertimbangan utamanya faktor risiko.

Kedepan, tantangan logistik adalah pelancaran logistik (seamless logistics). Setiap perpindahan barang dari negara satu ke negara lain akan berhenti di customs, gudang, dan laon-lain. Proses seamless logistics menjadi penting. Tantangan kedua adalah logistik yang ramah lingkungan. Ketiga, adalah logistik bencana (humanitarian logistics).

Di Jepang, paket kebijakan yang diambil pemerintah Jepang untuk perbaikan sistem logistik dilakukan setiap 4 tahun sekali. Paket kebijakan logistik tersebut benar-benar dijalankan. Umumnya, pertimbangan yang mendasari paket kebijakan logistik di Jepang adalah proses efisiensi, ramah lingkungan, dan keamanan.

Dari segi keamanan, saat ini fokus terhadap aman terhadap bencana atau gempa. Ramah lingkungan selalu ada dalam setiap kebijakan.

***

Pada akhir sesi pembelajaran, Profesor Kuse mengingatkan. Bahwa misi dari sebuah logistik adalah membuat agar kehidupan normal. Kehidupan yang tanpa ada masalah, sehingga orang-orang dapat melaksanakan peran dan aktivitasnya dalam kehidupan.

Sistem logistik harus tetap bergerak, meskipun kehadirannya kadang tidak disukai. “Orang Jepang paling suka sandwich, namun mereka tidak suka atau tidak mau merima kehadiran truck yang membawa sandwich ke convenient store di dekat rumah-rumah atau perkantoran. Logisticians atau insan logistik harus bekerja tanpa terlihat atau sebisa mungkin tanpa dirasakan kehadirannya. Demi sebuah misi mulia, menyediakan produk-produk yang yang diperlukan warga. Demikian Profesor Kuse menutup perkuliahan pengantar logistik pada pertama sesi perkuliahan kami. Sebuah pembelajaran yang menyenangkan dan menginspirasi. Arigatou gozaimasu, Profesor Hirohito Kuse san.

Tokyo, 2 November 2017.

Bagaimana (WiFi) Internet di UII bisa mencapai 200-an Mbps

Dr. Andri Setiawan, Pengajar pada Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia
– – –

 

Setiap kali saya menceritakan kalau kecepatan internet menggunakan WiFi di UII bisa mencapai 200an Mbps, sering kali ada wajah-wajah tidak percaya. Kok bisa? Sampai kemudian saya mendemokan speedtest di depan mereka (ketika berkunjung ke UII), dan malah membikin “jaw dropping” banyak orang, kalau orang Jawa bilang, bikin ngowoh hehe.

Pernah pada suatu ketika ada tamu dari salah satu universitas negeri di Jakarta berkunjung ke UII, kebetulan kami mendemokan beberapa sistem, dan browsing beberapa website, pertanyaan yang muncul berikutnya,”Kok membuka website di sini bisa cepat ya? Kok di tempat kami lambat ya?”. Yang lebih mengherankan, ketika saya tanya, berapa kapasitas bandwidth yang mereka miliki, ternyata jawabnya adalah sekitar dua kali lipat yang dimiliki oleh UII. Jadi, mengapa di UII bisa mendapatkan kecepatan sampai secepat ini, dan di kampus lain tidak?

Speedtest WiFi di kampus UII dengan menggunakan Mi 6 yang support 802.11ac

Dua tahun lalu (2016), sebenarnya di UII nasibnya tidak jauh berbeda dengan kebanyakan kampus di Indonesia pada umumnya. Kalau dicek di Twitter atau media sosial lain, tidak jarang mahasiswa UII mengeluh, macam “Ini internet kok kayak keong !!! lambat, dlsb”. Segala macam sumpah serapah, rasa frustrasi, dan berbagai macam hal sejenis seperti menjadi sebuah rutinitas. Terkoneksi wifi, tapi tidak bisa membuka website, dan kadang lebih parah, untuk sekedar memasukkan login saja, halaman login tidak muncul. Padahal UII sebenarnya saat itu sudah berlangganan hingga 400Mbps, tapi konsumsi se kampus paling banyak sebesar 150Mbps. Sounds familiar? Ya karena memang begitulah kebanyakan koneksi di kampus-kampus Indonesia.

Perubahan signifikan mulai terjadi pada pertengahan 2016. Yang tadinya kecepatan internet berkisar 1Mbps per pengguna, mulai beranjak naik secara bertahap, dari 2Mbps hingga pada akhirnya sekarang bisa lebih dari 200Mbps per pengguna. Kembali ke pertanyaan awal, mengapa bisa naik begitu cepat dalam jangka waktu tidak terlalu lama?

Jawaban pertama adalah filosofi atau value yang hendak kami capai. Internet, saat ini sudah seperti di hukum Maslow tentang kebutuhan dasar manusia, sandang, papan, dan pangan. Dia menjadi kebutuhan mendasar setiap stakeholder di UII, terutama MAHASISWA. Di sini perlu saya highlight kata kuncinya, MAHASISWA. Perubahan internet harus dirasakan pertama kali oleh mahasiswa, bukan dosen, dan bukan pula staf. Seringkali pihak kampus di banyak tempat melihat mahasiswa menempati prioritas terakhir, dosen beralasan mereka butuh kerja yang baik, sehingga wajar dapat prioritas tinggi di koneksi, sementara mahasiswa tidak. Padahal jumlah mahasiswa pasti lebih banyak daripada dosen, sehingga prioritas seharusnya ada di mereka. Dari sinilah kemudian perubahan mulai terjadi.

Kampus kami adalah kampus swasta, uang berasal dari mahasiswa, dan setiap semester mereka harus membayar biaya IT. Biaya inilah yang HARUS kami kembalikan ke mahasiswa, agar mereka mendapatkan balik fasilitas atas apa yang mereka bayarkan.

Perencanaan kemudian kami lakukan agar kami bisa mendapatkan yang terbaik. Maka langkah kedua yang dilakukan adalah, think like enterprise. Kampus sering mengira mereka bukanlah enterprise, padahal kampus adalah lebih enterprise daripada enterprise. Sehingga, seringkali perencanaan masih dibuat ala kadarnya. Pengelola IT kampus masih melihat koneksi WiFi seperti membangun hotspot warnet atau cafe. Padahal user base kampus berjumlah ribuan, bahkan puluhan ribu, bukan di angka puluhan saja. Ketika kemudian cara berfikir enterprise ini hadir, maka seluruh pendekatan pun akan berbeda.

Konsekuensi berfikir enterprise apa? Tentu di antaranya akan muncul angka-angka modal yang sedikit fantastis. Tapi, tentu melihatnya jangan melihat angka di awal. Melihatnya dengan cari membagi angka enterprise tadi dengan jumlah mahasiswa. Insya Allah harga akan menjadi murah. Implikasi teknis di lapangan seperti apa?

Ibarat sebuah tubuh, untuk menjamin lancarnya aliran darah, maka kolesterol-kolesterol pengganggu harus dibereskan. Begitu pula dengan network. Di UII, dilakukan perubahan besar-besaran (recabling WiFi), sampai titik terakhir. Kami menggunakan kabel jaringan Cat6A untuk menjamin kualitas link dan future proof. Begitu pula perangkat switch yang kami pilih adalah kelas enterprise. Kembali di sini, kampus harus sadar diri, kelas enterprise jangan memakai perangkat kelas SMB (small medium business).

Access Point (AP). Ini adalah hal terpenting kedua. Satu, dia harus berkelas enterprise, bisa dijejali hingga ratusan user, dan kapasitas alat per buah harus > 1 Gbps. Harga tentu saja akan menyesuaikan, tidak ada lagi AP di UII seharga satu juta per buah. Yang jelas, hasil berbicara 😀

Single SSID multiple VLAN. Di UII, kami hanya membroadcast beberapa sinyal SSID, baik dosen maupun mahasiswa akan terhubung ke SSID yang sama, akanb tetapi mereka akan mendapatkan VLAN berbeda-beda. Tidak ada lagi WiFi fakultas X, Wifi fakultas Y, dst. Yang ada adalah UIIConnect, eduroam dan UIIGuest. User internal bisa terhubung ke UIIConnect atau pun eduroam, sementara tamu bisa menggunakan eduroam (jika memungkinkan) atau UIIGuest.

802.1x. Konsep WiFi di UII adalah set and forget. Cukup sekali saja memasukkan username dan password, kemudian pengguna tidak akan pernah diminta kembali, kecuali mereka mangganti password mereka. Autentikasi dilakukan selanjutnya di belakang layar, tanpa interaksi user sama sekali. Perngkat yang akan otomatis melakukan proses autentikasi di belakang layar. Dengan konsep seperti ini, tidak ada lagi captive portal yang mengganggu user, dan menghambat user untuk terhubung ke jaringan. Dengan konsep ini, bahkan yang dahulu tidak merasa membutuhkan koneksi WiFi jadi merasa butuh, contohnya Satpam 🙂 Mengapa? Karena koneksi sangat mudah sekali. Saat ini, begitu user masuk ke kampus UII, smartphone mereka akan langsung terhubung secara otomatis.

Upstream internet yang besar. Begitu jalur di bawah (ke user) sudah lancar, maka sekarang tugas yang di atas untuk membesarkan kanal. Hingga tulisan ini dibuat, konsumsi internet UII telah mencapai > 2Gbps (total) di siang hari. Kemudian untuk menjamin kelancaran, koneksi harus dibuat redundan dari beberapa ISP.

Masih banyak lagi tips yang lain, tapi terlalu panjang untuk ditulis di sini. There, I’ve done it  kalau masih ada pertanyaan, silakan datang ke UII untuk diskusi infrastruktur dengan kami. Kami akan sangat senang berdiskusi.

Selamat datang internet cepat!

Yogyakarta,  2 February 2018

Meningkatkan Daya Saing Profesional TI di Era Global

Dr. R Teduh Dirgahayu, ST, M.Sc, Ketua Program pascasarjana FTI UII, Pengajar pada Magister Teknik Infirmatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia

– – –

Materi :

  1. Meningkatkan Daya Saing Profesional TI di Era Global
  2. Peta Okupasi TIK Nasional

Disampaikan di Kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (1 Februari 2018)

Kami Mencari Orang Yang Terus Bertanya Dan Mau Berkembang

Bisnis digital ekonomi di Indonesia masih kekurangan pasokan sumberdaya manusia, saat ini Indonesia mengalami talent shortage di bidang Teknologi Informasi, bahkan kesulitan mendapatkan programmer”

Silaturahmi UMP Purwokerto - 01022018 - Ver 2

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Ketua Program Pascasarjana FTI UII, ungkapkan hal tersebut saat kunjungan silaturahmi dan share session bersama Dosen dan Mahasiswa Program Studi Informatika di Ruang Sidang Fakultas Teknik & Sains, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (1 Februari 2018)

“Hal tersebut sangat beralasan, Indonesia masih kesulitan mencukupi kebutuhan tenaga ahli karena sekitar  75% lulusan sarjana tidak mengembangkan kemampuan atau terlibat dalam pengembangan Teknologi Informasi” ujarnya

“Di Indonesia mencari programer itu susah setengah mati, Tiap beberapa bulan metode teknis berganti dan selalu ada hal baru, banyak perusahaan mencari orang yang terus bertanya dan mau berkembang.  Berbeda dengan tim engineering dari India sudah sangat mapan, bukan semata-mata dari segi kemampuan dan kecerdasan, melainkan juga pola pikir (mindset)” jelas Dr. R Teduh Dirgahayu

Sementara itu, Hindayati Mustafidah, S.Si., M.Kom, Wakil Dekan I, Fakultas Teknik & Sains, Universitas Muhammadiyah Purwokerto menyambut baik kunjungan silaturahmi dan share session “Semoga apa yang direncanakan bersilaturahmi dan seminar berjalan lancar” tuturnya saat membuka kegiatan bersama tersebut.

Materi : Meningkatkan Daya Saing Profesional TI di Era Global

Jerri Irgo

Silaturahmi & Sharing Session ITTelkom Purwokerto

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Ketua Program Pascasarjana FTI UII bersama Delegasi melakukan kunjungan silaturahmi ke Kampus Institut Teknologi Telkom Purwokerto. Delegasi PPs FTI UII disambut langsung Alfin Hikmaturokhman, M.T. Wakil Rektor I (Akademik dan Riset) di Kampus Jl. D. I. Panjaitan No. 128 Purwokerto Jawa Tengah. Selain silaturahmi sekaligus melakukan sharing session Tantangan Profesional Bidang Logistic & Supply Chain di Indonesia (1 Februari 2018)

Silaturahmi ITTelkom Purwokerto - 001022018

Sharing session menghadirkan narasumber Dr.Ir. Elisa Kusrini, MT, CPIM, CSCP., Sekretaris Program Pascasarjana FTI UII, juga sebagai Pengajar pada Magister Teknik Industri PPs FTI UII memaparkan Tantangan dan Peluang di Industri dan Riset.

“Tantangan Profesional salah satu tantangan terberat menghadapi pasar terbuka Asean tersebut adalah pemanfaatan tenaga ahli bidang logistik. Saat ini kebutuhan tenaga ahli logistik sekitar 17.000 orang per tahun, untuk memenuhi minimal dua ahli logistik di setiap perusahaan besar dan menengah yang bergerak baik di bidang manufacturing, perdagangan, retail, dan distribusi” ungkap Dr.Ir. Elisa Kusrini.

Kegiatan sharing session dihadiri Dosen dan Mahasiswa ITTelkom.

Materi : Logistic & SCM – Tantangan dan Peluang di Industri dan Riset

Jerri Irgo