Banjir, Saatnya Ramai-Ramai Keluar

Ismail Fahmi, Ph.D,  Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia,

– – –

“Banjir” adalah sebuah kata magic saat ini. Dia merupakan sebuah diksi yang membawa makna tertentu. Ada diksi lain yang dulu sering digunakan, yaitu “genangan”. Keduanya mengandung makna yang berbeda, namun dalam kurun waktu tertentu, pernah digunakan untuk menggambarkan kondisi yang sama.

Kejadian banjir di ibu kota beberapa hari ini, tentu telah menarik perhatian yang teramat sangat. Karena bagaimana banjir terjadi dan ditangani, menggambarkan bagaimana kerennya sang pemimpin daerah pada saat itu, di mata pendukungnya; atau betapa buruknya dia dibanding yang sebelumnya.

Nah, lansung saja, kita lihat bagaimana banjir dan genangan ini terjadi. Bukan di ibu kota, tetapi di dunia maya, di media sosial Twitterland. Di Twitter, saat ini apakah yang terjadi? Banjir atau genangan?

DATA DRONE EMPRIT

Untuk periode seminggu terakhir, Drone Emprit mengamati dan mengumpulkan data tentang penggunaan kedua kata ini: banjir dan genangan. Hasilnya?

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (4)

Secara total, baik percakapan di media sosial dan online, penggunaan kata banjir jauh lebih besar dibanding kata genangan. Terdapat 58 kilo percakapan untuk ‘banjir’, sedangkan ‘genangan’ hanya 4,5 kilo.

Trend di media sosial untuk penggunaan kata banjir, jauh lebih pesat naiknya dibanding kata ‘genangan’.

 

SIAPA YANG MASIH MENGGUNAKAN ISTILAH GENANGAN?

Kita lihat peta SNA, untuk percakapan tentang ‘genangan’. Ternyata hasilnya menarik. Tidak banyak dan tidak terlalu umum penggunaan kata genangan di sini. Hanya sedikit orang saja yang masih menggunakan. Dan sebagian besar dari mereka adalah akun-akun yang dulu pendukung gubernur sebelum Anies. Seolah masih sungkan kalau langsung menggunakan istilah ‘banjir’. Jadi, ada semacam eufemisme, disamakan dengan sebelumnya, dengan sebutan ‘genangan’. Di cluster ini ada @tolakbigotri, @tsamaraDKI, @kangdede78, dan beberapa lainnya.

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (3)

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (1)

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (2)

Cluster pendukung gubernur sekarang, hampir tak tampak di sana. Hanya ada satu akun @prijantorobbani, dengan sedikit amplifikasi yg masih menyebut istilah genangan.

 

BAGAIMANA PETA PENGGUNAAN ISTILAH BANJIR?

Peta SNA tentang ‘banjir’ ternyata jauh lebih menarik untuk dianalisis. Hampir semua percakapan tentang melimpahnya air di atas permukaan tanah, warganet menyebutnya dengan istilah ‘banjir’. Dari cluster kanan yang pro gubernur sekarang, juga ndak pake eufemisme. Mereka langsung aja bilang kalau yang sedang terjadi adalah banjir, bukan genangan. Jika dibandingkan dengan kekuatan mereka pada saat Reuni 212, di sini ukuran clusternya tampak hanya separuh. Isu banjir mungkin tak terlalu krusial buat mereka untu turun dengan formasi lengkap.

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (7)

Cluster kiri, pendukung gubernur sebelumnya, hampir semua menyebut dengan istilah ‘banjir’. Dan ukuran cluster kiri ini, lebih besar dari pada cluster kanan. Kalau dilihat akun-akun paling berpengaruh di sana, sepertinya para key opinion leader kawakan muncul semua dalam formasi lengkap. Seolah banjir telah membuat mereka semua keluar.

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (8)

Gambaran awal kekuatan menjelang 2019 rasanya bisa dilihat di sini. Formasi cluster kiri dan kanan sepertinya akan tetap seperti sebelum-sebelumnya. Hanya nanti akan semakin besar saja tentunya.

TOP TWIT

Dalam percakapan tentang ‘genangan’, top twit kebanyakan berasal dari cluster pendukung gubernur sebelumnya. Sementara tentang ‘banjir’, top twitnya merata antar kedua cluster.

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (5)

Twit paling populer tentang ‘genangan’ ditulis oleh @tolakbigotri, “Di Salah Satu XXI Jakarta pun ikut menderita. Masih tak habis pikir XXI jadi korban genangan air. Hanya di era Anies-Sandi.”

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (6)

Dan yang kontras, top twit nomor dua ditulis Kompas bahwa, “Anies: Banjir dan Genangan di Jakarta Kemarin, Itu Tanggung Jawab Saya”. Ini memberi kesan bahwa Anies gentlemen.

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (9)

Sedangkan untuk diksi ‘banjir’, top twit ditulis oleh @hnurwahid, “Ingat banjir di Jkt,ingat bukan pd @jokowi gub DKI yg salahkan pemerintah pusat, tapi terutama pada pernyataan bahwa lebih mudah atasi banjir&masalah Jkt bila terpilih sbg Presiden Indonesia. Sudah >3th [email protected] jadi Presiden RI, bila bersama2 dpt atasi banjir Jkt,tentu bagus skali.” Hingga saat ini sudah diretweet 1324 kali.

Twit tersebut seolah mempertanyakan pernyataan lama, yang saat ini belum juga terwujud.

Lemparan lambung twit di atas kemudian disambut dengan baik oleh @haikal_hassan, “Lucu membaca sibuknya orang menyalahkan @aniesbaswedan (yg baru bbrp waktu dilantik) soal banjir, sementara ada yg janji kalau jadi presiden bisa atasi banjir (padahal sudah lama dilantik), tapi didiamkan.
Tak usah sakit hati…
Nanti sakit liver lho…”

Isinya sama soal janji Jokowi, namun lebih banyak untuk mempertanyakan para pendukungnya yang sibuk menyalahkan anies yang baru dilantik, dan melupakan Jokowi yang sudah 3 tahun menjadi presiden.

DISKUSI PALING ILMIAH

Di twitter ternyata tidak melulu pro-kontra dalam bentuk flame war. Namun, ada juga diskusi yang lumayan ilmiah. Twit paling populer adalah dari @sutopo_BNPB bahwa, “Hujan deras yang menyebabkan banjir/genangan di Jakarta pada 11/12/2017 ternyata jauh lebih kecil dibandingkan hujan yang pernah menyebabkan Jakarta banjir besar. Hujan di Pasar Minggu pada 10/2/1996 = 300 mm/hari, di Ciledug 1/2/2007 = 340 mm/hari. Kemarin hanya 83 mm saja.” Data yang disampaikan ini seolah mempertanyakan gubernur sekarang kenapa mambiarkan jakarta banjir, padahal curahnya tidak deras dibanding sebelumnya.

Ismail Fahmi - drone emprit - Banjir - saatnya ramai-ramai keluar - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (10)Sontak, pernyataan ini medapat banyak tanggapan, yg mempertanyakan data yang dibaca, metode perbandingan yang tidak head-to-head dengan data sebelumnya, dan sebagainya. Diskusi yang cukup serius terjadi di sana.

INFORMATION ARBITRAGE

Di antara kedua cluster, terdapat akun @sutop_bnpb, @alldolj, @detikcom, dan @kompascom. Mereka posisinya relatif berada di tengah, diapit kedua cluster. Posisi seperti ini terjadi ketika twit mereka diretwet oleh anggota kedua cluster, yang menandakan akun-akun ini relatif bisa diterima oleh kedua kubu.

Itu lah yang disebut dengan information arbitrage. Juru penengah sumber informasi dari dua atau lebih kubu yang sedang terpolarisai.

Menarik jika melihat akun @Kompascom ternyata juga diretweet oleh cluster kanan. Biasanya dan naturalnya, berita @kompascom lebih cocok dan disukai oleh cluster kiri saja. Bagaimana bisa berada ditengah?

Kalau melihat salah satu top twit di atas, ternyata @kompaskom juga memberitakan pernaytaan Anies yang ‘gentlemen’, yang menerima segala tanggung jawab atas terjadinya banjir. Dalam berita itu, Anies tak tampak menyalahkan siapapun, namun mengambil tanggung jawab ke pundaknya. Berita yang sama juga ditulis oleh REpublika.

Tentu berita seperti ini akan disukai oleh cluster pendukung Anies. Mereka akan meretweet, meski secara historis dan sifat, media sumber ini biasanya lebih disukai oleh cluster kiri.

CLOSING

Saya lihat saat ini, para buzzer sudah tidak lagi merasa perlu melakukan eufemisme, mengganti istilah ‘banjir’ dengan ‘genangan’. Mereka sebut banjir sebagai banjir. Tidak perlu ada yang ditutup-tutupin. Bahkan, cluster pendukung Anies pun tak muncul dalam peta ‘genangan’. Mereka kompak menggunakan istilah ‘banjir’.

Bagi saya ini hal yang bagus dan patut diapresiasi. Siapapun pemimpinnya, seyogyanya buzzer berperan sebagai promotor sekaligus pengingat kalau ada yang salah. Tidak menutupi kekurangan atau hal-hal yang bisa menurunkan citra dengan melakukan manuver diksi, pilihan kata. Pemilihan kata ini bisa membuat publik menjadi tidak kritis lagi atau tidak bisa melihat kekurangan yang ada.

Hal menarik kedua yang saya lihat adalah, ternyata ‘banjir’ ini telah membuat para key opinion leader dari cluster kiri pada muncul semua, dengan formasi lengkap. Topik banjir tampaknya sangat penting buat mereka. Berbeda sekali dengan topik ILC yang lalu, dimana DS dan AJ seolah sendirian tanpa dukungan kawan-kawannya. Di sini, semua bersatu.

Banyak yang bisa dianalisis, misalnya bagaimana media mengangkat dan menggunakan pilihan kata. Namun sampai di sini aja ya, bahasannya.

Semoga bapak presiden Jokowi dan gubernur DKI bisa bekerjasama dengan baik, untuk mengeradikasi banjir atau genangan dari Jakarta.