Dr. Elisa Kusrini, terpilih Sekretaris PPs FTI UII.

pemilihan_sekretaris_pps_fti_uii_2016

“Alhamdulillah, proses pemilihan berjalan lancar berkat partisipasi aktif para Dosen yang menjadi pemilih, kerja keras Panitia Pemilihan dan dukungan Pimpinan Fakultas”. Beni Suranto, S.T., M.Soft.Eng, Ketua Panitia Pemilihan Sekretaris Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta menyampaikan sesaat perhitungan suara, bertempat di Lantai 3 Gedung KH Mas Mansur, FTI UII, Kampus Terpadu UII, Yogyakarta

“Berdasarkan hasil rekap, Dr. Elisa Kusrini mengumpulkan 21 suara sedangkan Dr. Taufiq Immawan, mengumpulkan 9 suara. Terdapat 30 pemilih yang hadir dan menggunakan hak suaranya dari 41 jumlah pemilih” tegas Beni Suranto.

“Harapannya dengan terpilihnya Sekretaris PPs FTI UII yang baru adalah mampu melanjutkan amanah dan fungsi sebagai bagian dari pimpinan PPs FTI bersama Ketua (Direktur – red) Program dan Koordinator Bidang Keilmuan untuk mewujudkan Organisasi PPs FTI UII yang unggul dalam aspek profil institusi, good governance dan produk inovasi dalam bidang Teknik Informatika dan Teknik Industri” ujarnya melalui pesan singkat (3 November 2016).

Secara terpisah, Dr. R Teduh, Direktur PPs FTI UII menyampaikan “Alhamdulillah, telah terpilihnya Sekretaris PPs FTI UII (antar waktu – red), selamat bertugas untuk Dr. Elisa Kusrini dan terima kasih kepada Dr. Taufiq Immawan atas partisipasinya, tetap diharapkan kontribusinya untuk pengembangan PPs FTI UII” ujarnya

Dr. R Teduh Dirgahayu, juga menyampaikan “terima kasih kepada Agus Mansur, S.T., M.Eng.Sc selaku Sekretaris PPs FTI UII sebelumnya, juga terima kasih kepada Muhammad Ragil Suryoputro, S.T., M.Sc, sebagai Pelaksana Tugas Harian Sekretaris PPs FTI UII”.

Sebagaimana disampaikan release sebelumnya Agus Mansur, S.T., M.Eng.Sc, saat ini sedang menempuh Studi Lanjut program Doktoral. Semoga PPs FTI UII semakin maju dan kompak selalu.

Jerri Irgo

Tips dan Trik Retno, Dapatkan Nilai Maksimal

Danar Retno Sari

Danar Retno Sari, Mahasiswi Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri (PPs FTI UII) berkesempatan membagi tips dan triks untuk mendapatkan nilai (IPK) secara maksimal atau meraih predikat Cum Laude.

Cum Laude adalah predikat tertinggi yang diberikan Perguruan Tinggi untuk prestasi akademik mahasiswanya. Ada beberapa predikat yang termasuk ke dalam Cum Laude seperti magna cum laude yang berarti lulus dengan banyak pujian dan summa cum laude yang artinya lulus dengan pujian terbanyak. “Sebenarnya sederhana sekali tips dan trik untuk dapat nilai yang maksimal” ujar Retno, melalui pesan singkatnya  (1 Shafar 1438 H/1 November 2016).

Mahasiswi asal Balikpapan, Kalimantan Timur, yang sedang menempuh semester 2 di konsentrasi Sistem Informasi Enterprise (SIE), saat ini tercatat meraih nilai maksimal di Kartu Hasil Studinya.

Alhamdulillah, semua berangkat dari pengalaman waktu kuliah S1, di semester akhir saya hanya ambil mata kuliah Skripsi dan 1 mata kuliah, sehingga saya hanya ke kampus 1 kali dalam seminggu, selebihnya hanya bimbingan yang saat itu juga dilakukan secara online, kemudian saya diberikan nasihat dari kakak sepupu saya yang alumni FTI UII juga, yang bilang ini waktu saya lagi mengerjakan skripsi .

“Skripsi walaupun tidak ada tatap muka dikelas, ada baiknya harus diperlakukan seperti mata kuliah yang lain. Apalagi Skripsi 6 SKS, jadi usahakan, satu hari itu kamu meluangkan waktu untuk mengerjakan Skripsi sama kayak kamu tiap hari kuliah” ujar Retno mengutip pesan kakak sepupunya.

“Hal itu terbawa hingga sekarang, walaupun mata kuliah S2 lebih sedikit, tapi ternyata tugasnya lebih banyak dari pada kuliahnya, sehingga walaupun kuliah hanya 2 kali dalam seminggu, tapi seolah olah saya kuliahnya 6 kali seminggu, 5 kalinya dipakai untuk “ngeliatin” tugas. Walaupun sehari paling hanya efektif 3-4 jam saja buat ngeliatin tugasnya, karena saya tidak sambil bekerja” jelas

“Tapi saya lebih salut lagi sama teman-teman yang kuliah sambil bekerja, teman-teman tersebut pasti manajemen waktunya keren banget. Membagi waktu untuk, kerja, kuliah, ngerjain tugas dan istirahat. Semoga saya dapat lebih banyak belajar dari mereka” pungkasnya.

Jerri Irgo

Ojek: Dunia Paralel atau Kesenjangan Digital?

fathul_wahid

Di Indonesia, ojek telah menjadi salah satu layanan transportasi publik informal sejak beberapa dekade lalu, mulai sekitar awal 1970an. Yang dulunya, ojek dilayani menggunakan sepeda, akhirnya beralih ke sepeda motor. Ojek telah memberikan alternatif menyenangkan ketika layanan transportasi publik formal yang cukup dan handal tidak tersedia. Layanan serupa ojek juga dapat ditemukan di beberapa negara Asia lain, seperti Thailand dan Vietnam.

Mulai sekitar lima tahun lalu, layanan ojek di Indonesia, mendapatkan warna baru, dengan hadirnya layanan ojek berbantuan aplikasi bergerak. Di awal kemunculannya, beberapa gejolak penolakan terekam dalam media cetak dan digital. Namun, saat ini berita serupa sudah tidak banyak ‘terdengar’.

Pesatnya kepemilikan ponsel pintar menjadi salah satu peluang yang dimanfaatkan pemain bisnis ini. Sampai kini, telah banyak pemain yang mencoba peruntungan di sektor ini.
Pertanyaannya adalah: apakah kehadiran ojek berbasis aplikasi ini mengganggu ojek tradisional? Jawaban singkatnya: bisa ya, bisa tidak. Tergantung. Obrolan saya dengan beberapa pengojek memberikan jawaban yang lebih realistis.

“Dulu, saya mengira kalau kehadiran ojek berbasis aplikasi akan banyak mengganggu,” ungkap Fulan, seorang pengojek. Fulan merasakan dua dunia ‘perojekan’ tersebut di atas. “Namun, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan,” lanjutnya. Mengapa?

Pertama, pasar ojek tradisional dan berbasis aplikasi berbeda. Yang pertama biasanya mempunyai paguyuban dan tempat mangkal bersama, seperti di dekat stasiun kereta api atau terminal bis. Pasar mereka adalah penumpang moda transportasi publik tersebut yang ingin melanjutkan perjalanan atau yang tidak mempunyai aplikasi terinstal di ponselnya. Ojek berbasis aplikasi mempunyai pasar spesifik, seperti kalangan muda dan mahasiswa. Kata Fulan, mereka tidak pernah atau jarang menggunakan layanan transportasi publik.

Kedua, penghasilan normal per hari tidak berbeda jauh. Fulan menyebut kisaran angka. Memang ketika menjalankan ojek berbasis aplikasi, uang yang didulang per hari lebih tinggi. Namun, ojek jenis ini membutuhkan biaya tambahan seperti potongan sekian persen untuk pengelola, dan biaya sewa jaket atau helm. Selain itu, ojek jenis ini harus ‘berkeliaran’ yang membutuhkan bensin 1,5 sampai 2 kali lipat daripada ojek yang ‘mangkal’.

Ketiga, Fulan menyebutkan bahwa pengojek tradisional mempunyai ritme yang lebih santai. Pengojek berbasis aplikasi, kata Fulan, sering mengejar bonus dengan mengumpulkan poin. Pengejaran ini seringkali tidak selalu mulus, karena banyak hal, seperti pesanan fiktif dan pembatalan pesanan. Aturan yang semakin ketat dari pengelola, menjadikan pengojek berbasis aplikasi kadang harus berpikir dua kali.

Tentu, pengojek lain mungkin mempunyai pengalaman yang berbeda dengan Fulan. Yang jelas, selain harus mempunyai ponsel pintar, pengojek berbasis aplikasi harus mampu mengoperasikan aplikasi di ponsel. Sebagian besar pengojek adalah muhajir digital (digital migrant) yang tidak mengenal ponsel sejak kecil. Namun di lapangan ditemukan, meski mempunyai dua kemampuan tersebut, tidak semua pengojek tradisional tertarik menjadi pengojek berbasis aplikasi, karena beragam alasan. Ini adalah pilihan sukarela.

Jika ini kasusnya, apakah fenomena ini merupakan kesenjangan digital ataukah pilihan sukarela, yang membentuk ‘dunia paralel’: dua dunia yang berjalan dengan asumsi dan caranya masing-masing. Paling tidak, sampai saat ini dan beberapa tahun ke depan.

Mengapa? Fulan percaya, bahwa ke depan, bisnis ojek berbasis aplikasi lebih menjanjikan. Ojek jenis ini melampaui layanan yang dapat diberikan oleh ojek tradisional. Bantuan pengantaran beragam produk dan layanan lain, adalah contohnya. Ketika ojek berbasis aplikasi semakin meluas di setiap pojok Indonesia, cerita lain bisa jadi akan muncul. Ketika para pribumi digital (digital native) masuk bisnis ini, bukan tidak mungkin kesenjanganlah yang membesar. Kehadiran teknologi informasi, alih-alih membawa semangat inklusi yang merangkul semua kalangan, justru akan memperlebar kesenjangan digital. Ujungnya, kesenjangan sosial yang tidak diharapkan. Wallahu a’lam.

Tulisan Fathul Wahid, Ph.D, Dosen Magister Teknik Informatika PPs FTI UII ini telah dimuat dalam Kolom Analisis Harian Kedaulatan Rakyat pada 29 Oktober 2016 dengan judul yang lebih pendek “Kesenjangan Digital”

Jerri Irgo

Prospektif Industri Properti 2017

Okt 25 - Prospektif Industri Properti 2017

Perekonomian Indonesia tahun depan (2017) akan lebih menjanjikan dan membaik, sehingga sejumlah bank menggenjot penyaluran kredit yang dinilai potensial, diantaranya infrastruktur, properti dan konstruksi, pada triwulan IV-2016 dan tahun depan. Langkah ini diyakini bakal mendorong kenaikan laba perbankan di samping tetap melaksanakan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dengan menjaga rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL).

Demikian rangkuman pendapat Harsya Kamra Sutan Maradjo, Kepala Cabang Sleman PT BPR Danagung Bakti Yogyakarta, saat melakukan silaturhami ke Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta (25 Oktober 2016).

Kunjungan silaturahmi yang diterima Dr. R. Teduh Dirgahayu, ST, M.Sc, Direktur Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia di Ruang Kerjanya, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII, Yogyakarta.

Salah satu agenda yang didiskusikan adalah tentang prospektif industri properti tahun 2017 di Yogyakarta. Secara umum sangat baik, apalagi saat ini sebagian masyarakat tidak lagi mempertimbangkan jarak lokasi perumahan incaran mereka yang umumnya sekitar 15-30 km dari pusat kota Yogyakarta.

“Bisnis properti tetap menunjukkan prospek yang baik, dengan indikator salah satunya kenaikan harga dari waktu ke waktu, oleh karena itu PT Danagung Bakti Yogyakarta berinisitif menggandeng PPs FTI UII memberikan apresiasi kepada Developer DIY dengan mengadakan Diskusi Terbatas Prospektif Industri Properti 2017, yang insha Allah akan dilaksanakan pada bulan November 2016” pungkas Harsya Kamra.

Jerri Irgo

SIE Kenalkan Tata Kelola Teknologi Informasi Perbankan

 

Okt 22 - SIE Kenalkan Tata Kelola Teknologi Informasi Perbankan-2

Dr. R. Teduh Dirgahayu, ST, M.Sc, Kepala Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise melakukan kunjungan ke PT BPR Danagung Bakti Yogyakarta, selain silaturahmi juga memperkenalkan Proses Tata Kelola Berbasis Teknologi Informasi di Sektor Perbankan. Proses Tata Kelola Teknologi Informasi dapat berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain, apalagi implementasi di sektor perbankan, unsur keamanan dan prosedur berlapis dapat saja digunakan. (22 Oktober 2016).

 

“Alhamdulillah, kami senang sekali, PT BPR Danagung Bakti memberikan respon baik dan bersedia melakukan kerjasama, diantaranya bersedia menjadi mitra program BootCamp. yaitu salah satu cara Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise memperkenalkan Tata Kelola Teknologi Informasi di Sektor Perbankan” ujar Dr. R. Teduh Dirgahayu yang juga sebagai Direktur PPs FTI UII.

Delegasi Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise (SIE), yang terdiri dari Jerri Irgo, Liaison Officer PPs FTI UII dan Ria Devina, Mahasiswa Magister Teknik Informatika PPs FTI UII diterima langsung Tedy Alamsyah, Direktur Utama PT BPR Danagung Bakti di Resto Hot Hot Crispy (H2C).

Secara terpisah Tedy Alamsyah “PT BPR Danagung Bakti menyatakn selalu berkomitmen untuk melakukan upaya pertumbuhan bisnis dengan menciptakan nilai tambah sehingga sangat tertarik dengan adanya Program BootCamp yang melibatkan S2 Mahasiswa Magister Teknik Informatika PPs FTI UII, setidaknya sebagai langkah awal dapat memetakan permasalahan, khususnya dalam proses tata kelola berbasis teknologi informasi di Danagung Bakti” ujar Tedy Alamsyah yang juga pemilik H2C, salah satu Resto di kawasan Demangan Yogyakarta.

Jerri Irgo

Internet of Things (IoT) di Industri Manufaktur

Materi presentasi di Universitas Pancasakti Tegal tanggal 19 Oktober 2016 oleh Dr. R. Teduh Dirgahayu (Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise Universitas Islam Indonesia).

Silakan diunduh.

Internet of Things in Manufactur

Okt 19 - Smart Manufacturing 2

Internet of Things (IoT) telah menjadi topik yang hangat untuk dibicarakan akhir-akhir ini, termasuk yang menjadi suatu konsep yang mempengaruhi proses di Manufactur. Dr. R Teduh Dirgahayu, Kepala Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise Universitas Islam Indonesia (SIE UII), menjadikan Internet of Things in Manufactur sebagai tema Kuliah Umum bagi Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Panca Sakti, Tegal, Jawa Tengah (19 Oktober 2016).

Internet of Thing (IoT) adalah sebuah konsep dimana suatu objek yang memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke komputer. IoT telah berkembang dari konvergensi teknologi nirkabel, micro-electromechanical systems (MEMS), dan Internet.

Dr. R. Teduh Dirgahayu, dalam paparannya menyampaikan “Industri Internet of Things (IOT) adalah penggunaan Internet of Things (IOT) teknologi di industri, termasuk di Manufactur dengan tujuan agar dapat menjadikan Smart Manufacturing” ujarnya.

Smart Manufacturing membutuhkan teknologi untuk memastikan semua mesin bekerja, materi mengalir terlihat secara real-time, dan tim pekerja mengatur seluruh proses.

“Manfaat dari penggunaan Internet of Things (IOT) teknologi di bidang manufaktur, adalah efisiensi operasional jauh lebih baik melalui pemeliharaan prediktif dan manajemen remote, selanjutnya munculnya hasil secara ekonomi, yang didorong oleh layanan software-driven; inovasi dalam hardware; peningkatan visibilitas produk, proses produksi, layanan pelanggan dan mitra” pungkas Dr. R Teduh.

Materi Internet of Things Dr. R Teduh Dirgahayu

Jerri Irgo

PPs FTI UII – UPS Tandatangani Kerjasama

Okt 19 PPs FTI UII - UPS (2)

Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta bekerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Panca Sakti (UPS) Tegal dalam bidang Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu bidang pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Penandatangan Memorandum of (MoU) dilakukan di Ruang Dekanat, Gedung Fakultas Teknik Universitas Panca Sakti (UPS) Kampus Jl. Halmahera Km. 01, Kota Tegal, Jawa Tengah (19 Oktober 2016)

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Direktur Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia dan Dekan Fakultas Teknik UPS, Mustaqim, ST., M.Eng keduanya menyambut baik kerjasama tersebut. Kerjasama PPs FTI UII dan FT UPS yang merupakan sinergi yang sangat strategis dan saling menguntungkan.

Kerjasama yang dilakukan dalam ranah Tridarma Perguruan Tinggi. Nantinya tidak hanya melibatkan dosen namun juga mahasiswa. Kerjasama ini diharapkan dapat berujung pada masyarakat dan memberikan tambahan manfaat yang besar untuk masyarakat.

Jerri Irgo

BootCamp, Rancang Sistem Informasi Rumah Sakit

Okt 19 - BootCamp Rancang Sistem Informasi Rumah Sakit (2)
Mahasiswa Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri (PPs FTI UII) Yogyakarta, mendapat challenge dari Zaki Afiff, SE, Ketua Yayasan Rumah Sakit Umum Islam (RSUI) Harapan Anda Tegal saat Kunjungan Industri – Hospital Tour. berupa kegiatan penelitian yang dapat yang mendukung Sistem Informasi Rumah Sakit, Sudah banyak hasil penelitian Mahasiswa dan Dosen PPs FTI UII yang sangat menarik, sehingga bila dapat dikembangkan, maka sangat membantu Sistem Informasi Rumah Sakit, khususnya RSUI Harapan Anda.

Challenge tersebut disambut baik Dr. R Teduh Dirgahayu, Direktur Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) dengan melakukan diskusi terbatas di ruang kerja Zaki Afiff, SE, Gedung Utama RSUI Harapan Anda Jl. Ababil No.42, Randugunting, Tegal Sel., Kota Tegal, Jawa Tengah. Agenda diskusi diantaranya menjajaki kerjasama dalam hal penelitian bersama dengan program BootCamp bagi Mahasiswa yang mengambil konsentrasi Informatika Medis dan Sistem Informasi Enterprise. (19 Oktober 2016)

Hadir dalam diskusi, dokter Shahabiyah MMR, Direktur RSUI Harapan Anda dan dokter Silvia Wakil Direktur RSUI Harapan Anda serta Jerri Irgo, Liaison Officer PPs FTI UII.

Selain program BootCamp, juga disepakti untuk melakukan kegiatan penelitian bersama dan publikasi hasil penelitian serta seminar dengan topik kekinian. “Insha Allah, periode pertama akan dilaksanakan pada bulan November 2016, ditawarkan kepada 5 Mahasiswa, untuk mengikuti program BootCamp : Rancang Sistem Informasi Rumah Sakit ini” ujar Dr R Teduh

Jerri Irgo

Empat Ilmu Dasar Yang Wajib Kita Kuasai.

Empat Ilmu  Dasar  Yang Wajib  Kita  Kuasai.  M Nuh MI PPs FTI UII

“Ada 4 ilmu dasar yang wajib kita kuasai untuk dapat menjadi orang hebat, yaitu menguasai listening, reading, speaking, dan writing. Dengan 4 hal tersebut, maka kita dapat menggapai apa yang kita inginkan dan semua hal tersebut tidak instan datang, melainkan harus dilatih sejak sekarang” ujar Didik Sudyana mengutip pesan Ketua Asosiasi Forensik Digital Indonesia (AFDI) periode 2014 – 2019, .AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, MSc., CHFI., CEI., ECIH.

Didik Sudyana, Mahasiswa Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) konsentrasi studi Forensika Digital menyampaikan hal tersebut seusai diskusi terbatas, yang diselenggarakan Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) UII di Ruang PPs 1, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII (9 Muharam 1438 Hi/11 Oktober 2016)

“Diskusi bersama AKBP Muhammad Nuh banyak memberikan beberapa ilmu tentang forensika digital diantaranya beberapa ilmu dasar mulai dari apa itu deleted file, lost file, dan jujur untuk hal ini saya juga lupa, untung diingatkan kembali” ujar Didik

Didik menambahkan “Selain itu juga materi-materi tentang apa itu pixel, dan juga pembahasan tentang bagaimana melakukan forensik terhadap sebuah CCTV. Kemudian juga ada membahas terkait mobile forensik. Tidak hanya memberikan pembahasan tentang beberapa teori dan praktis dalam forensika digital”

Selain mendapatkan ide baru terkait penelitian, kami semua mendapat ilmu forensika digital kekinian, bahkan dapat kembali mengingat teori dasar yang mungkin sudah terlupakan. Selain hal-hal teknis tentang forensika digital, beliau juga memberikan ilmu soft skills untuk kami semua yang sangat bermanfaat” ujarnya.

AKBP Muhammad Nuh yang didampingi Yudi Prayudi, M.Kom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital UII, juga memberikan saran dan nasihat yang sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. “Diantaranya saran tentang dalam hidup ini terdapat 5 kategori seseorang itu dapat dihormati, yaitu dari harta, keturunan, jabatan, paras wajah, dan terakhir ilmu pengetahuan. Keempat hal pertama dapat hilang, tapi ilmu pengetahuan tidak akan pernah hilang., oleh karena itu kami dituntut untuk terus dan tidak bosan belajar mencari ilmu pengetahuan” pungkas Didik.

Jerri Irgo