Posts

Tren Sosial, Bisnis, dan Teknologi: Implikasinya terhadap Logistik Masa Depan

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –
Logistik selalu diperlukan dalam setiap organisasi dan perusahaan. Sepanjang ada perdagangan barang, selamanya perusahaan memerlukan logistik. Logistik memainkan peran penting dalam perekonomian saat ini. Diperkirakan bahwa Sektor Logistik & Pos di Indonesia bernilai Rp2.953 triliun atau mencapai 23,8% dari GDP Indonesia tahun 2017 (BPS, 2017).

Logistik sering dipandang sebagai aktivitas yang menimbulkan biaya. Biaya logistik ini utamanya terdiri dari biaya pergudangan, biaya pengelolaan inventory, biaya transportasi, biaya distribusi, dan biaya logistik lainnya seperti pengepakan, pelabelan, dan lain-lain.

Dalam perspektif makro, biaya logistik seringkali diukur berdasarkan persentase dari Produk Domestik Bruto atau Gross Domestics Product (GDP). Di Indonesia, biaya logistik secara nasional tidak kurang dari 24% dari GDP. Banyak kalangan menilai, biaya logistik Indonesia cukup tinggi. Bandingkan dengan biaya logistik di negara-negara ASEAN. Data menurut Bisnis Indonesia yang dirilis 25 Juli 2017, biaya logistik Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan Vietnam (25%), Thailand (13,2%), Malaysia (13%), dan Singapura (8,1%).

Meski logistik hanya akan menambah biaya pada harga produk, namun aktivitas logistik sangat diperlukan. Dari perspektif ekonomi, logistik mampu memberikan nilai suatu produk, setidaknya dalam hal kegunaan tempat (place utility), kegunaan waktu (time utility), dan kegunaan kuantitas (quantity utility).

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Republik Indonesia memberikan perhatian serius dalam penurunan biaya logistik nasional dan menjamin ketersediaan barang-barang pokok/penting di seluruh wilayah Republik Indonesia. Berbagai perbaikan telah dilakukan, utamanya mencakup perbaikan infrastruktur logistik, pembenahan regulasi dan pelayanan birokrasi pemerintah, penurunan dwelling time, dan pelancaran proses logistik perdagangan barang lintas negara (cross-border).

Kinerja logistik diukur dengan berbagai pendekatan. Dalam konteks makro misalnya, Bank Dunia setiap tahunnya merilis Logistics Performance Index (LPI). Sementara di tingkatan mikro, kinerja logistik diukur dari dua dimensi: kualitas layanan logistik dan biaya logistik.

Dinamika logistik mengikuti perubahan lingkungan perusahaan, utamanya perkembangan kemajuan teknologi dan perubahan sosial dan bisnis. Implikasi dari perubahan lingkungan bisnis ini memengaruhi tren logistik dalam 5 sampai dengan 10 tahun mendatang.

Tren logistik dalam beberapa tahun mendatang dipengaruhi oleh tren sosial, bisnis, dan tren teknologi. Tren sosial & bisnis dipicu oleh perubahan perilaku masyarakat dan pebinis. Sementara tren teknologi muncul sebagai akibat perkembangan dan kemajuan teknologi ICT (Information, Communication, dan Technology). Tren perubahan sosial, bisnis, dan teknologi ini memberikan peluang dan sekaligus tantangan prospek logistik dalam 5 sampai 10 tahun mendatang.

TREN TEKNOLOGI
Perkembangan teknologi sedemikian pesat. Konvergensi teknologi telah melahirkan lompatan kemajuan teknologi baru. Perangkat mobile computing memberikan peluang di logistik dan setiap rantai pasokan untuk menyediakan informasi yang semakin transparan dan integrity mengenai ketepatan jenis produk, ketepatan waktu penyediaan produk, ketepatan penerimaan produk di suatu tempat, ketepatan kuantitas dan kondisi produk, serta ketepatan biaya pengiriman produk.

Teknologi sensor semakin canggih dengan harga yang sangat terjangkau untuk diterapkan dalam logistik. Akibatnya, tuntutan pelanggan semakin tinggi terhadap penelusuran dan jejak lacak kiriman secara real time.

Kemajuan teknologi jaringan komunikasi internet 5G dan komunikasi nirkabel yang akan menjangkau keterhubungan orang dari setiap perangkat komunikasi (smartphone, PC, laptop, dan lain-lain), kapan pun, dan di mana pun. Perubahan tren teknologi jaringan komunikasi ini mendorong perubahan tuntutan pelanggan, khususnya pelanggan bisnis untuk mendapatkan informasi control setiap pergerakan barang, utamanya barang-barang yang sensitif terhadap kerusakan dan barang-barang yang bernilai tinggi.

Terakhir, perubahan tren teknologi internet dan penyimpanan data. Penerapan cloud computing dan big data memungkinkan layanan data base dan analisis data untuk mendapatkan optimalisasi, efisiensi, dan utilisasi penggunaan jaringan.

Implikasi tren teknologi terhadap logistik dan rantai pasokan dalam 5 tahun mendatang diprediksi mengalami perubahan yang sangat pesat, dan adakalanya teknologi akan “mengganggu” (disruption) tatanan bisnis yang sudah ada.

Omni-Channel Logistics
Perkembangan bisnis ritel memerlukan jaringan logistik yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap saluran pemasaran. Konvergensi perdagangan offline dan online telah menghasilkan perilaku ‘kapan saja, di mana saja, dari siapa pun’ bagi konsumen yang menginginkan pengalaman Omni-channel.

Sebagian besar konsumen tidak lagi mengakses toko online melalui komputer, namun melalui smartphone dan tablet mereka yang memungkinkan mereka mendapatkan mobilitas untuk berbelanja 24/7. Permintaan fleksibilitas ini akan memberikan peluang kebutuhan akan layanan fulfillment yang semakin cepat dan bervariasi.

Penerapan Omni-channel logistics akan memberikan manfaat bagi perusahaan:
•    Peningkatan volume pengiriman B2C.
•    Peluang bisnis baru di layanan penyimpanan, fulfillment, dan transportasi.
•    Visibilitas inventory lintas saluran mengurangi biaya melalui pengoptimalan persediaan.

Tantangan kunci Omni-channel logistics:
•    Keragaman saluran pemasaran dan akses pelanggan memerlukan pengintegrasian perdagangan online dan offline.
•    Investasi di proses hilir yang sangat besar diperlukan untuk memungkinkan pilihan pengiriman produk sampai ke penerima.

On-Demand Logisitics
Disrupsi teknologi memungkinkan perubahan model bisnis kurir dan logistik, utamanya layanan penjemputan (pick-up) dan pengantaran (delivery) barang. Konvergensi dan kemajuan teknologi internet yang secara masif menyediakan layanan App dalam smartphone telah mendisrupsi layanan kurir dan logistik konvensional.

Layanan App logistics memungkinkan pick-up dan delivery barang dilakukan seketika dan dapat diakses di mana pun sesuai kebutuhan pelanggan. Disrupsi teknologi ini memberikan peluang bagi pengusaha kecil (small business) untuk memanfaatkan jasa penyedia on- demand logistics dengan biaya murah dan tingkat fleksibilitas yang tinggi.

Biaya logistik, utamanya biaya pick-up dan delivery semakin murah, karena penyedia jasa on- demand logistics ini menggunakan model bisnis sumber daya berbagi (resource sharing). Penyedia jasa on-demand logistics tidak perlu lagi menyediakan kendaraan dan tenaga kerja khusus untuk melakukan pick-up dan delivery seperti halnya perusahaan penyedia jasa logistik konvensional.

Alih-alih mereka menyediakan kendaraan dan tenaga kerja, mereka cukup mengelola aplikasi on-demand logistics, yang mengintegrasikan optimalisasi pengemudi mobil, sepeda motor, atau bahkan sepeda untuk melakukan pick-up dan delivery barang ke konsumen.

Semua biaya operasional akan menjadi biaya variabel. Tidak ada lagi biaya tetap yang menjadi beban perusahaan penyedia jasa on-demand logistics, seperti biaya sewa, depresiasi kendaraan, biaya bunga pinjaman investasi, dan biaya gaji tenaga kerja. Biaya operasional akan linier dengan peningkatan volume atau pendapatan yang dihasilkan. Akibatnya, tingkat break even atau profit dapat dicapai lebih cepat.

Selain itu, on-demand logistics memberikan fleksibilitas tinggi, baik bagi pengusaha sebagai pengirim barang maupun konsumen sebagai penerima barang. Fleksibilitas ini dimungkinkan karena keduanya dapat mengakses dan melakukan order transaksi pembelian atau pengiriman barang dalam waktu 24/7, kapan pun dan di mana pun mereka berada. Pemilik barang dan konsumen juga dapat melacak status kiriman barang secara real time dengan menggunakan smartphone dalam genggaman tangan mereka.

Dalam beberapa tahun mendatang, pengiriman tidak lagi dimiliki hanya oleh pemain besar yang menetapkan batasan waktu pengiriman dan lokasi. Konsep pengiriman last-mile on- demand memanfaatkan tenaga kerja kurir yang fleksibel, sehingga memungkinkan pelanggan melakukan pengiriman saat mereka membutuhkannya.

Dengan teknologi terbaru untuk lokasi real-time, perutean, dan analisis berbasis aplikasi akan membawa perubahan signifikan pada pengiriman barang selama beberapa tahun ke depan.

Di Uber telah menerapkan layanan On-Demand Logistics untuk melayani para pengusaha UKM, yang dikenal dengan layanan UberRUSH. Layanan ini secara mudah menghubungkan konsumen dan pebisnis UKM dengan kurir Uber yang mengambil dan mengantarkan barang ke pelanggannya. Menariknya, profil setiap driver termasuk peringkat kinerja driver terlihat dan konsumen dapat memilih. Selain itu, pengiriman barang dapat dilacak melalui aplikasi dan akan dikirim langsung ke penerima yang dituju.

3D Printing
Pencetakan 3D (atau manufaktur aditif) akan mendisrupsi logistik dengan menambahkan keragaman baru pada strategi manufaktur. Penyedia logistik inovatif dapat mengatur jaringan manufaktur hibrida yang kompleks, serta memanfaatkan jaringan printer 3D untuk menawarkan layanan logistik baru.

Pencetakan 3D telah menjadi teknologi tepercaya di sektor kesehatan untuk mencetak peralatan prostetik dan medis yang disesuaikan, serta di sektor penerbangan untuk produksi komponen pesawat terbang. Meskipun teknologi manufaktur konvensional tidak akan digantikan oleh pencetakan 3D, pada segmen di mana produk tersebut diterapkan (seperti produksi suku cadang), secara signifikan akan berdampak pada beberapa layanan logistik.

Penyedia logistik dapat menjadi orkestra rantai pasokan yang kompleks dan terfragmentasi untuk bahan baku dan produk akhir. Pencetakan 3D menciptakan segmen pasar baru dan peluang penciptaan nilai (misalnya gudang digital, penyediaan layanan data, dan pertukaran data 3D). Perusahaan dapat mengurangi biaya transportasi dan waktu dengan menciptakan produk yang mendekati titik penggunaan.

Augmented Reality
Mengaburkan garis antara dunia digital dan fisik, augmented reality (AR) memberikan perspektif baru dalam perencanaan logistik, pelaksanaan proses, dan transportasi.

AR memungkinkan pengguna secara cerdas memahami lingkungan mereka dengan mengintegrasikan informasi kontekstual ke bidang pandang mereka melalui kacamata cerdas.

Perkembangan terkini dalam komputasi kontekstual, AR terus muncul sebagai aset logistik penting yang mampu meningkatkan efisiensi proses dan kualitas, mengurangi risiko, dan menurunkan tekanan penanganan manual.

Robotics & Automation
Logistik berada di ambang gelombang otomasi. Didorong oleh kemajuan teknologi yang pesat, robot dan solusi otomatis telah berperan sebagai tenaga kerja logistik yang mampu bekerja secara zero-defect untuk meningkatkan produktivitas.

Robot akan mengadopsi peran kolaboratif dalam rantai pasokan, membantu pekerja gudang, transportasi, dan bahkan kegiatan pengantaran (last-mile delivery).

Selain itu, munculnya e-commerce menggantikan model distribusi tradisional (push-driven)
dengan dorongan konsumen untuk barang langsung dari gudang, yang mengharuskan

penyedia logistik beroperasi lebih cepat dan lebih efisien untuk memproses pesanan individual dengan cepat.

Peluang kunci penerapan robotic & automation:
•    Solusi otomasi mampu meningkatkan kelincahan dan elastisitas infrastruktur logistik untuk memenuhi fluktuasi pasar.
•    Mengotomasi tugas seperti packing membantu meningkatkan efisiensi dan mengurangi tingkat persediaan dan biaya.
•    Ketika robot ditempatkan pada tugas berulang dan berat secara fisik, pekerja gudang dapat fokus pada tugas yang lebih kompleks dan penanganan penyimpangan.

Tantangan kunci penerapan robotic & automation:
•    Batasan hukum penggunaan robot di dekat pekerja manusia.
•    Meningkatkan peraturan, akuntabilitas, etika, dan masalah hukum baru, seperti tingkat otomasi yang tepat vs keamanan kerja manusia.

Self-Driving Vehicles
Terobosan teknologi sensor dan pencitraan telah menghasilkan generasi baru kendaraan penggerak sendiri yang lebih fleksibel dan dapat diandalkan daripada sebelumnya. Dari forklift otonom di gudang ke truk tanpa sopir dalam transportasi darat, kendaraan penggerak sendiri akan mengubah logistik dengan membuka tingkat keamanan, efisiensi, dan kualitas baru.

Peluang kunci
•    Peningkatan produktivitas operasional dan uptime aset melalui penggunaan 24/7.
•    Keandalan dan kualitas yang lebih besar dengan menghilangkan kesalahan manusia.
•    Efisiensi bahan bakar yang lebih baik melalui routing yang optimal dengan dampak yang lebih rendah terhadap lingkungan.

Tantangan kunci
•    Teknologi harus matang sebelum kendaraan pengemudi sendiri dapat digunakan di lingkungan yang dinamis.
•    Pembatasan hukum ada di banyak negara terkait kendaraan tanpa sopir.
•    Potensi risiko dari hacker dan software bug.
•    Pertanyaan asuransi dan liability harus diselesaikan.
•    Penerimaan sosial oleh pekerja dan masyarakat.

Unmanned Aerial Vehicles
Unmanned Aerial Vehicles (UAV) atau ‘pesawat tak berawak’ bisa mengubah logistik masa depan untuk pengiriman ekspres melalui udara.

Sementara UAV tidak akan mengganti transportasi darat, melainkan UAA dapat memberikan nilai di daerah dengan kemacetan lalu lintas tinggi dan di lokasi terpencil. UAV dapat berpotensi meningkatkan kecepatan dan kepuasan pelanggan, menurunkan biaya, dan dalam lingkungan yang tidak bersahabat dapat membantu menyelamatkan nyawa.

Peluang kunci penggunaan UAV:
•    Efisiensi operasional jaringan logistik first-mile dan last-mile bisa meningkat.
•    Pengurangan risiko dan kecelakaan melalui pengiriman otomatis di daerah terpencil.
•    Peningkatan fleksibilitas dan kecepatan pengiriman, terutama di kota-kota besar yang ramai.

Tantangan kunci dalam penggunaan UAV:
•    Peretasan UAV.
•    Masalah privasi dan keamanan dari masyarakat.
•    Integrasi lalu lintas UAV di jaringan udara yang ramai pembatasan peraturan.

TREN SOSIAL DAN BISNIS
Bila tren teknologi akan mendisrupsi dan memberikan peluang dalam prospek logistik, tren sosial dan bisnis akan menghadirkan solusi logistik sesuai dinamika sosial dan organisasi bisnis.

Tren sosial ini lebih banyak dipicu oleh perubahan perilaku citizen sesuai zaman generasinya dan perilaku penggunaan teknologi ICT yang dalam berbagai kehidupan.

Fair & Responsible Logistics
Dunia menghadapi perubahan iklim dan pemanasan global. Emisi CO2 salah satu penyebab peningkatan pemanasan global yang ditimbulkan dari gas rumah kaca. Sektor industri dan logistik turut berkontribusi terhadap pemanasan global dalam emisi CO2. Kesadaran para pemimpin organisasi untuk turut menjaga keberlangsungan lingkungan dengan memproduksi dan menggunakan produk yang ramah lingkungan.

Di sisi lain, kompetisi bisnis semakin meningkat. Perusahaan dituntut untuk tetap membangun keunggulan bersaing melalui penyediaan produk dan layanan dengan biaya yang paling efisien.

Saat ini perusahaan semakin efisien dalam penggunaan sumber daya, terutama sumber daya alam yang tidak terbarukan. Eliminasi pemborosan (waste atau “muda” dalam Bahasa Jepang) menjadi perhatian para pemimpin organisasi perusahaan.

Kesadaran ini memberikan peluang dalam solusi supply chain dan logistics yang ramah lingkungan, dikenal dengan istilah sustainable logistics atau lebih popular dengan nama green logistics. Ke depan, kebutuhan solusi green supply chain dan logistics semakin meningkat.

Perusahaan penyedia jasa logistik dapat memberikan layanan desain green supply chain melalui perancangan supply chain ramah lingkungan, yang mencakup pemilihan material yang berasal dari daur ulang produk, pengurangan penggunaan material, energi, dan penggunaan kembali kemasan, agar dapat mengurangi kontribusi emisi CO2, dan pemilihan pemasok yang telah menerapkan standar ramah lingkungan.

Perusahaan penyedia jasa logistik juga dapat memberikan solusi layanan transportasi, pergudangan, dan distribusi dengan biaya operasional yang paling efisien dan penggunaan energi terbarukan, seperti pemanfaatan energi surya melalui pemasangan panel surya di

gudang, penggunaan moda transportasi dengan sumber energi gas atau listrik, dan pengoptimalan kapasitas angkutan melalui konsolidasi kiriman.

Grey Power Logistics
Dalam lima tahun atau lebih, gelombang pertama penduduk asli digital akan memasuki segmen populasi lansia. Logistik grey power – logistik untuk masyarakat lanjut usia – akan menawarkan layanan baru (misal pengiriman obat di rumah) untuk menjawab tantangan yang timbul dari perkembangan demografis ini.

Populasi yang menua merupakan salah satu tantangan sosial utama yang dihadapi industri logistik. Saat ini, kira-kira seperempat dari populasi di Indonesia berusia di atas 60 tahun dan ini akan meningkat menjadi lebih dari sepertiga pada tahun 2050. Segmen demografi yang berkembang ini akan meningkatkan permintaan akan saluran baru untuk mengakses layanan pengobatan, makanan, dan perawatan khusus di kota-kota juga seperti di daerah terpencil.

Di masa depan, kondisi ini akan membutuhkan layanan logistik khusus yang diperuntukkan untuk kebutuhan masyarakat lanjut usia seperti pengiriman obat yang dikendalikan suhu ke rumah dan perawatan kesehatan yang didukung oleh logistik pengantaran terjadwal.

Grey Power Logistics merupakan solusi logistik untuk memenuhi kebutuhan generasi senior, seperti pemesanan dan pengiriman obat resep dokter secara home delivery menggunakan layanan e-commerce atau setidaknya pemesanan obat-obatan secara on- line.

Dalam lima tahun mendatang, kebutuhan layanan Grey Power Logistics ini semakin meningkat. Peningkatan demografi penduduk usia senior mendorong kebutuhan logistik e- commerce untuk home delivery produk-produk medis, makanan, dan perawatan kesehatan. Layanan logistik yang perlu disediakan untuk Grey Power Logistics ini adalah penyediaan gudang dengan pengendali temperatur dan pengantaran terskedul ke rumah.

Shareconomy Logistics
Pergeseran sosial dari kepemilikan ke pembagian aset telah menjadi salah satu tren yang paling mendasar dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari mobil, tempat parkir dan peralatan elektronik rumah tangga sekarang bisa dibagi melalui platform khusus. Penyedia logistik dapat berbagi sumber daya perusahaan (seperti container dan rute yang dilayani) agar dapat lebih menghemat waktu dan biaya.

Logistik dapat berpartisipasi dalam shareconomy dengan berbagi aset, kapasitas pergudangan, dan bahkan muatan truk. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menjembatani kesenjangan efisiensi, menghindari kekurangan dan kelebihan kapasitas, mengurangi biaya layanan khusus, dan mendorong kolaborasi horizontal.

PERUBAHAN PARADIGMA
Tren perubahan sosial, bisnis, dan teknologi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan akan terus terjadi dalam beberapa tahun ke depan, selain memberikan peluang-peluang dalam penyediaan layanan logistik juga akan mendisrupsi bisnis logistik.

Perusahaan penyedia jasa logistik harus terus melakukan inovasi, eksplorasi strategi baru, pemanfaatan teknologi ICT, dan pengelolaan bisnis secara lincah (agile) dan seamless untuk memberikan solusi logistik yang tetap relevan dengan dinamika perubahan zaman.

Redefinisi bisnis, peninjauan model bisnis, dan upaya peningkatan hubungan dengan pelanggan agar tercipta kepuasan, loyalitas, dan pengalaman mengesankan dalam menggunakan jasa logistik, perlu menjadi paradigma baru para pemimpin perusahaan penyedia jasa logistik saat ini dan di masa mendatang.

Referensi
Badan Pusat Statistik, 2017
DHL Customer Solutions & Innovation, 3D Printing and The Future of Supply Chains, 2016 DHL Customer Solutions & Innovation, Fair and Responsible Logistics, 2015
DHL Customer Solutions & Innovation, Logistics Trend Radar, 2016 DHL Customer Solutions & Innovation, Omni-Channel Logistics, 2015
DHL Customer Solutions & Innovation, Self-Driving Vehicles in Logistics, 2014

Dinamika Logistik di Jepang: Pemikiran Profesor Hirohito Kuse

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Prof Hirohito Kuse, Guru Besar Fakultas Sistem Distribusi dan Logistik Universitas Ryutsu Keizai mengajarkan kepada kami di sesi pertama pelatihan IDLM AOTS, 2 November 2017.

Profesor Kuse, demikian biasa dipanggil, menjelaskan secara mendasar peran penting logistik sebagai penggerak ekonomi dan sosial di negara Jepang. Pemikiran Kuse tentang logistik sederhana namun sejatinya visioner.

“Logistik tidak hanya memiliki nilai ekonomi bagi bisnis, namun logistik memiliki peran penting dalam sosial yang seharusnya dikelola secara efisien dan efektif dengan tetap menjaga keberlangsungan alam semesta”, demikian Kuse mengawali pembelajarannya.

Kata logistik pertama kali digunakan di kalangan militer. Tujuan dari logistik militer ini adalah untuk meningkatkan pertahanan nasional, utamanya pada saat mobilisasi tentara, persenjataan, perbekalan, dan makanan pada saat perang maupun damai.

Saat ini, di Jepang logistik banyak digunakan di dunia usaha. Adalah hal yang jamak bila setiap bisnis mengejar keuntungan. Perusahaan-perusahaan mengembangkan banyak strategi dalam mengejar keuntungan, caranya dengan meminimalkan biaya logistik dan memaksimalkan nilai tambah. Bagi dunia bisnis, logistik diperlukan untuk memaksimalkan keuntungan melalui pengelolaan yang efektif dan efisien atas persediaan, transportasi, pergudangan, dan distribusi agar dapat meningkatkan kepuasan pelanggan.

Logistik semakin berkembang tidak hanya di militer dan bisnis, namun logistik mulai berkembang di ranah sosial. Seiring dengan kesadaran masyarakat Jepang mengenai lingkungan dan kesejahteraan masyarakat (social welfare). Duapuluh tahun lalu, di Jepang mulai dikenalkan istilah social logistics – logistik untuk kesejahteraan masyarakat.

Logistik sosial mencakup green logistics dan reverse logistics. Infrastrutur untuk logistik sosial meliputi pembangunan dan penyediaan fasilitas, teknologi, dan sistem untuk menjalankan aktivitas logistik sosial. Fokus dari logistik sosial adalah meminimalkan dampak terhadap kerusakan lingkungan.

Di Jepang, institusi yang aktif untuk logistik bisnis adalah sektor swasta. Sementara untuk logistik sosial lebih banyak diinisiasi dan dijalankan secara aktif oeh pemerintah.

Aktivitas logistik di Jepang awalnya difokuskan pada distribusi fisik barang. Dalam distribusi barang ini diperlukan kegiatan transportasi, penyimpanan, pengepakan, bongkar muat, dan pengantaran.

Berangkat dari Perencanaan Kota
Di Jepang, logistik berkembang dalam konteks perencanaan kota. Sebuah kota di Jepang, demikian Kuse mengungkapkan, sistem transportasi, area perkantoran, bisnis, manufaktur, jasa, perumahan, pendidikan, olah raga, rekreasi, dan fasilitas publik selalu dirancang secara komprehensif dan terpadu.

Sistem transportasi di Jepang awalnya diarahkan untuk memberikan solusi transportasi manusia secara masal dan nyaman. Pembangunan infrastruktur dan sistem transportasi manusia dilakukan secara intensif sejak perang dunia kedua, terutama sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan ekonomi pada era industrialisasi di Jepang.

Transportasi diperlukan untuk mengantarkan orang-orang dari desa ke kota, dari kawasan perumahan ke kawasan industri, perkantoran, dan pusat bisnis. Jepang telah berhasil mengatasi persoalan transportasi manusia dengan trasportasi massal secara efektif. Penggunaan transportasi kereta api, baik commuter line yang menghubungkan antardistrik di kota-kota dan antarkota-kota di Jepang. Boleh dibilang, transportasi manusia di Jepang sudah sangat mapan.

Transportasi Manusia dan Barang
“Mengurus transportasi manusia lebih mudah daripada transportasi barang”, ujar Profesor Kuse. Dalam transportasi manusia, satuan ukuran yang digunakan hampir semua sama. Demikian jenis atau klasifikasi manusia tidak banyak. Satuan ukuran manusia umumnya hanya jumlah orang atau berat. Sementara satuan barang, ukurannya sangat beragam. Ukuran berat seperti kilogram dan tonase. Ukuran volume seperti kubik, liter, dan lain-lain.

Jumlah manusia nilainya diskrit, tidak kontinu, seperti 1 orang, 20 orang, 100 orang, 200 orang, dan seterusnya. Tidak ada nilai 1,5 orang, 2,3 orang, 10,8 orang, dan seterusnya. Berbeda dengan barang, nilai barang bisa 1,2 kg, 2,8 ton, 10,8 liter, dan seterusnya.

Belum satuan ukuran barang yang bervariasi, misalnya 1 dozen isinya ada 12 buah. Jenis barang juga banyak sekali. Contoh di Jepang ada convenience store, mereka menjual lebih dari 3.000 items (Stock Keeping Unit’s). Transportasn manusia sangat sederhana. Pembedaannya hanya laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak. Klasifikasinya paling banyak hanya 3 variasi. Berat manusia pun tidak banyak bervariasi. Paling berkisar antara 50 sampai dengan 100 kg untuk berat manusia dewasa. Sementara berat barang sangat bervariasi.

Kuse yang juga menjadi Guru Besar Kehormatan di Tokyo University of Marine Science and Technology, menambahkan, bahwa dalam mengangkut manusia, kita bisa menanyanainya, mau dibawa ke mana? Sedangkan ketika kita mengangkut barang, kita tidak dapat menanyai barang tersebut, mau diangkut ke mana?

Inti dari aktivitas logistik adalah transportasi. Logistik sangat berhubungan dengan barang. Transportasi dalam logistik adalah transportasi barang, bukan transportasi manusia. Namun, untuk sampai barang siap diangkut, diperlukan pemilahan atau sortir, pengepakan, pemuatan barang (loading), dan penyiapan dokumen pengiriman barang.

Menurut pemikiran Kuse, yang paling merepotkan adalah pengepakan dan bongkar muat barang. Dalam logistik, jarak tidak memengaruhi kerepotan. Karena begitu barang sudah diangkut, barang diserahkan ke perusahaan pengangkutan.

Manusia gerakannya sama. Pagi mereka berangkat, sore pulang. Tidak banyak variasi. Sementara angkutan barang sangat bervariasi. “Barang seperti bayi”, demikian Kuse menganalogikan. “Jadi harus diperlakukan sangat berhati-hati”, ujarnya.

Barang bisa berubah pada saat bergerak. Barang 1 dosen, bisa berubah di tengah jalan, ketika dipisah menjadi 5 atau 7 buah. Namun demikian, ungkap Kuse, “Repotnya menangani transportasi manusia, mereka bisa complaint. Panas, dingin, lambat, dan sebagainya. Transportasi barang tidak ada yang protes”.

Menciptakan Nilai Tambah
Untuk memahami logistik, perlu dipahami lingkup dan keterkaitan rantai pasokan (supply chain), logistik, dan sistem distribusi. Rantai pasokan dapat dipandang dari perspektif jenis industri, jenis fasilitas, dan jenis daerah.

Dari perspektif jenis industri, rantai pasokan mengintegrasikan aliran barang, informasi, dan uang dari serangkai proses bahan baku menjadi produk jadi yang digunakan konsumen akhir. Contoh rantai pasokan pakaian. Pakaian yang kita gunakan proses rantai pasokannya mulai dari produsen kain, produsen jahit, penjual pakaian, dan dibeli oleh konsumen akhir.

Sementara dari perspektif jenis fasilitas, rantai pasokan dipandang sebagai pengelolaan fasilitas pabrik, gudang kain, pabrik penjahitan, gudang baju, dan toko ritel. Rantai pasokan mengintegrasikan aliran barang, informasi, dan uang dari berbagai fasilitas pabrik, gudang, distributor, dan toko ritel.

Rantai pasokan juga dapat dipandang dari perspektif geografi atau region. Dalam hal ini, rantai pasokan dilihat dari integrasi aliran barang, informasi, dan uang dari region. Pasokan bahan baku dari pemasok kain dari daerah Yangzhou, misalnya, kemudian kain diproses menjadi baju di Shanghai. Baju dari pabrik penjahitan di Shanghai selanjutnya diangkut ke gudang distribusi Yangon untuk didistribusikan ke toko ritel di Nagoya, Osaka, dan Kobe.

Logistik menghubungkan antara penerimaan pesan dan pemesanan. Di antara fasilitas terdapat rantai penghubung, yang diperankan oleh logistik. Dengan demikian logistik berperan penting dalam fungsi mengintegrasikan sistem rantai pasokan.

Dalam setiap proses rantai pasokan, perusahaan menciptakan nilai tambah. Contoh proses nilai tambah dalam rantai pasokan: terigu, tepung terigu, roti, sandwich, lunch box, lunch set. Untuk mengubah nilai tambah suatu produk diperlukan bahan dan teknologi.

Zaman dahulu, proses transportasi banyak pada tahap produk primer. Namun saat ini transportasi produk banyak produk akhir yang tidak tahan lama. Tidak mungkin kita siapkan sandwich hari ini untuk dikonsumsi tahun depan? Logistik hari ini memerlukan kecepatan.

Penciptaan nilai tambah ini dilakukan dengan mengubah sedikit bentuk produk atau bahkan hanya mengubah ukuran berat dan kemasan produk. Kuse mengilustrasikan bagaimana penciptaan nilai tambah dalam rantai pasokan di Jepang dengan mengambil contoh penjualan kol.

“Di Jepang, kol dijual Y200/buah. Produsen bisa menciptakan nilai tambah berupa peningkatan profit hanya dengan cara mengubah ukuran kol menjadi Y110/0.5 buah, Y100/plastics, Y100/kol ditaruh mayones, dan Y200/100 gram untuk salad lengkap”, papar Kuse.

Kuse yang mantan Ketua Asosiasi Distribusi Jepang melanjutkan, “Toyota Corolla tahun 2017 seharga Y1,500,000/dengan berat 1,5 ton atau Y100/100 gram. Jadi Toyota Corolla lebih murah daripada salad”, ujar Kuse serius.

“Orang-orang Jepang bisa membeli salad dengan harga Y200/100 gr, namun tidak bisa membeli Corola yang harganya lebih murah”, imbuh Kuse. Apa artinya, pengelolana rantai pasok memerlukan solusi yang lebih tinggi, karena rantai pasok akan memberikan nilai tambah yang tinggi.

“Kenapa vending machine yang menjual aneka minuman di Jepang laku? Karena ketika orang- orang memerlukan minum, mereka mendapatkan aneka minuman di vending machine dengan mudah sesuai dengan kebutuhan”, terang Kuse.

Jadi kalau mau untung, saran Kuse, “Ubah bentuk barang agar memiliki nilai tambah. Baik mengubah bentuk (utility form), ubah kuantitas (quantity form), dan ubah tempat (place form). Itulah value atau manfaat dari logistik”, pungkas Kuse.

Tantangan Logistik
Teknologi berkembang, proses pengerjaan bersama, dan respon terhadap lingkungan, keselamatan dan keamanan. Kedepan, penggunaan sumber daya bersama, penumpang dan muatan bercampur).

Perusahaan selalu berusaha meningkatkan omzet dan menurunkan cost dan risiko. Peningkatan pasar dilakukan dengan melakukan ekspansi ke pasar domestik dan internasional.

Cost semakin meningkat. Perusahaan mengeluarkan biaya lokasi, biaya produksi, dan biaya distribusi. Perusahaan Jepang, KAO melakukan ekspansi ke Indonesia, kenapa membangun pabrik di Indonesia meskipun upah buruh di Indonesia tinggi dibandingkan dengan negara- negara di Afrika misalnya. Dalam hal ini, selain pertimbangan cost, faktor risiko dan infrastruktur.juga perlu dipertimbangkan.

Dulu banyak perusahaan-perusahaan Jepang membangun di Indonesia, namun sekarang banyak dipindahkan ke negara Indonesia. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan utamanya adalah pasar, cost, infrastruktur dan risiko. Umumnya, pada saat mereka datang yang menjadi pertimbangan adalah pasar dan cost. Sementara pada saat mereka meninggalkan Indonesia, pertimbangan utamanya faktor risiko.

Kedepan, tantangan logistik adalah pelancaran logistik (seamless logistics). Setiap perpindahan barang dari negara satu ke negara lain akan berhenti di customs, gudang, dan laon-lain. Proses seamless logistics menjadi penting. Tantangan kedua adalah logistik yang ramah lingkungan. Ketiga, adalah logistik bencana (humanitarian logistics).

Di Jepang, paket kebijakan yang diambil pemerintah Jepang untuk perbaikan sistem logistik dilakukan setiap 4 tahun sekali. Paket kebijakan logistik tersebut benar-benar dijalankan. Umumnya, pertimbangan yang mendasari paket kebijakan logistik di Jepang adalah proses efisiensi, ramah lingkungan, dan keamanan.

Dari segi keamanan, saat ini fokus terhadap aman terhadap bencana atau gempa. Ramah lingkungan selalu ada dalam setiap kebijakan.

***

Pada akhir sesi pembelajaran, Profesor Kuse mengingatkan. Bahwa misi dari sebuah logistik adalah membuat agar kehidupan normal. Kehidupan yang tanpa ada masalah, sehingga orang-orang dapat melaksanakan peran dan aktivitasnya dalam kehidupan.

Sistem logistik harus tetap bergerak, meskipun kehadirannya kadang tidak disukai. “Orang Jepang paling suka sandwich, namun mereka tidak suka atau tidak mau merima kehadiran truck yang membawa sandwich ke convenient store di dekat rumah-rumah atau perkantoran. Logisticians atau insan logistik harus bekerja tanpa terlihat atau sebisa mungkin tanpa dirasakan kehadirannya. Demi sebuah misi mulia, menyediakan produk-produk yang yang diperlukan warga. Demikian Profesor Kuse menutup perkuliahan pengantar logistik pada pertama sesi perkuliahan kami. Sebuah pembelajaran yang menyenangkan dan menginspirasi. Arigatou gozaimasu, Profesor Hirohito Kuse san.

Tokyo, 2 November 2017.

Kapabilitas Jasa Logistik Inovatif

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Selamat siang, salam sukses mulia untuk kita semua

Perkenankan saya mewakili praktisi pelaku usaha perusahaan jasa logistik, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Sdr. Darjat Sudrajat, Promovendus Program Doktor Ilmu Manajemen Binus.

Penelitian Sdr. Darjat mengenai Kapabilitas Jasa Logistik Inovatif ini sangat relevan dan memberikan insight bagi kami, para pelaku perusahaan jasa logistik Indonesia, di tengah era disrupsi berbagai bisnis, tidak kecuali perusahaan jasa logistik.

Izinkan saya menyampaikan pandangan pentingnya peningkatan kapabilitas jasa logistik inovatif ini, dari sisi konteks maupun praktik-praktik terbaiknya.

Bapak, Ibu, hadirin yang saya hormati,
Perubahan lingkungan bisnis sangat cepat. Utamanya perubahan ini dipicu oleh perkembangan kemajuan teknologi dan perubahan sosial dan bisnis. Implikasi dari perubahan lingkungan bisnis ini memengaruhi tren logistik dalam 5 sampai dengan 10 tahun mendatang.

Logistik dipandang sebagai bagian dari aktivitas supply chain, berperan dalam perencanaan, implementasi, dan pengendalian arus barang dan informasi, dari titik asal ke titik tujuan secara efisien dan efektif. Dalam banyak perusahaan, aktivitas logistik ini sebagian dialihdayakan (outsource) ke perusahaan penyedia jasa logistik, yang dikenal dengan perusahaan 3PL (third- party logistics). Inti dari aktivitas logistik ini adalah pengelolaan transportasi, pergudangan, dan distribusi, baik untuk tujuan domestik maupun internasional.

Dari perspektif strategi, perubahan lingkungan bisnis dipetakan menjadi dua dimensi. Dimensi pertama adalah dampak perubahannya terhadap perubahan model bisnis. Dimensi lainnya adalah dampak perubahannya dari sisi waktu. Dimensi waktu ini dibedakan menjadi rentang waktu kurang dari 5 tahun dan lebih dari 5 tahun.

Tren logistik dalam beberapa tahun mendatang dipengaruhi oleh tren sosial, bisnis, dan tren teknologi. Tren sosial & bisnis dipicu oleh perubahan perilaku masyarakat dan pebinis.

Pemerintah telah menerbitkan Paket Kebijakan XV dengan fokus untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan daya saing perusahaan penyedia jasa logistik nasional. Pertimbangan penerbitan paket kebijakan ini didasari fakta bahwa rasio biaya logistik Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih cukup tinggi, yaitu berkisar antara 24% sampai dengan 26%.

Dibandingkan dengan negara-negara lain biaya logistik Indonesia relatif tinggi. Biaya logistik di Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman antara 8% sampai 9%. India 11% dan Tiongkok 17% (ADB, 2012).

Sementara dari komponen harga jual produk-produk ritel (consumer goods), di Indonesia biaya logistik menyerap 40% dari harga jual produk ritel. Komponen terbesar biaya logistik 72%-nya merupakan biaya transportasi.

Perhatian Pemerintah untuk mengembangkan usaha dan peningkatan daya saing perusahaan penyedia jasa logistik nasional sangat tepat. Perusahaan penyedia jasa logistik berperan penting dalam turut berkontribusi terhadap biaya logistik secara agregat di Indonesia.

Umumnya, perusahaan menyerahkan pengelolaan aktivitas logistiknya ke perusahaan penyedia jasa logistik. Kualitas layanan dan efisiensi biaya dalam pengelolaan logistik oleh perusahaan penyedia jasa logistik ini akan menentukan kinerja logistik dan biaya logistik perusahaan secara mikro dan biaya logistik nasional secara agregrat.

Paket Kebijakan XV ini juga menunjukkan perhatian pemerintah terhadap perusahaan- perusahaan penyedia jasa logistik nasional, alih-alih perusahaan penyedia jasa logistik asing.

Perusahaan penyedia jasa logistik hadir untuk memberikan solusi pengelolaan logistik. Perkembangan perusahaan logistik semakin pesat seiring dengan adanya kebutuhan perusahaan-perusahaan untuk meng-out source-kan aktivitas logistik ke perusahaan penyedia jasa logistik.

Peningkatan kinerja logistik dan penurunan biaya logistik nasional dapat dilakukan dengan melakukan continuous improvement dan inovasi layanan perusahaan-perusahaan penyedia jasa logistik nasional, utamanya perusahaan 2PL dan 3PL.

Fokus continuous improvement dilakukan pada peningkatan kualitas layanan dan cost reduction perusahaan penyedia jasa logistik. Peningkatan kinerja perusahaan penyedia jasa logistik

mencakup performance level (1) reliability, (2) responsiveness, (3) flexibility, (4) costs, dan (5) assets management.

Perusahaan penyedia jasa logistik nasional perlu membangun dan meningkatkan kualitas relationship management dengan pelanggannya. Perusahaan penyedia jasa logistik perlu memahami perspektif dan aspirasi pelanggan:
•    Pelanggan menuntut kualitas layanan logistik yang superior;
•    Pelanggan menuntut kepercayaan, keterbukaan, dan information sharing;
•    Pelanggan menuntut inovasi solusi atas permasalahan logistics dan supply chain yang mereka hadapi;
•    Sistem IT yang capable dan andal;
•    Pelanggan menuntut kejelasan service level  agrements;
•    Pelanggan menuntut service offering yang selaras dengan customer strategy dan pemahaman industri pelanggan secara mendalam.

Penerapan dan pengembangan ICT (information and communication technology) dalam pengelolaan logistics dan supply chain yang advanced, baik penerapan ICT untuk core logistics service seperti transportation management system (TMS), warehouse management system (WMS), freight management system (FMS), order management system (OMS), maupun penerapan supply chain technology innovations seperti internet of things, mobile connectivity, dan functional automation.

Inovasi dan pengembangan layanan logistik yang berbasis logistics & supply chain solution menjadi kebutuhan pelanggan saat ini, tidak hanya layanan basic logistics services. Perusahaan penyedia jasa logistik nasional perlu melakukan inovasi dan pengembangan layanan logistik seperti reverse logistics, cross-docking, freight bill auditing and payment, transportation planning and management, inventory management, product labeling, packaging, assembly, kitting, order management and fulfillment, service part logistics, fleet management, information technology (IT) services, supply chain consultancy services, dan customer service untuk memberikan solusi supply chain management pelanggan.

Dalam konteks makro, menjadi tugas pemerintah untuk menciptakan iklim usaha sektor perusahaan penyedia jasa logistik nasional agar efisien dan memiliki daya saing tinggi. Penyediaan dan perbaikan kualitas infrastruktur logistik seperti jalan, pelabuhan, rel kereta api, stasiun, terminal, teknologi telekomunikasi, dan lain-lain untuk meningkatkan kinerja layanan perusahaan penyedia jasa logistik nasional, dan meningkatkan connectivity desa-kota, pusat dan hub logistics domestik dan international.

Perbaikan sistem dan prosedur birokrasi pemerintah, mulai proses perizinan, pengawasan dan pembinaan, customs, perpajakan, perbankan, dan pasar modal, yang memungkinkan perusahaan penyedia jasa logistik nasional mampu bersaing dengan perusahaan penyedia jasa logistik asing, serta mendorong agar perusahaan penyedia jasa logistik nasional go to global market.

Tidak kalah penting, peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan organisasi perusahaan penyedia jasa logistik nasional melalui pengajaran dan riset keilmuan logistics dan supply chain management, pendidikan vokasi logistik, dan sertifikasi perlu menjadi perhatian pemerintah untuk membangun kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia dan organisasi sebagai “inti daya saing” perusahaan penyedia jasa logistik nasional.

Hadirin yang terhormat,
Dalam konteks inilah hasil penelitian Sdr. Darjat memberikan panduan stratejik bagi kami, dari aspek manajerial, untuk selalu mengembangan inovasi layanan logistik, agar perusahaan jasa logistik Indonesia mampu memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggannya dan turut berkontribusi dalam peningkatkan kinerja logistik nasional.

Tren perubahan sosial, bisnis, dan teknologi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan akan terus terjadi dalam beberapa tahun ke depan, selain memberikan peluang-peluang dalam penyediaan layanan logistik juga akan mendisrupsi bisnis logistik.

Perusahaan penyedia jasa logistik harus terus melakukan inovasi, eksplorasi strategi baru, pemanfaatan teknologi ICT, dan pengelolaan bisnis secara lincah (agile) dan seamless untuk memberikan solusi logistik yang tetap relevan dengan dinamika perubahan zaman.

Redefinisi bisnis, peninjauan model bisnis, dan upaya peningkatan hubungan dengan pelanggan agar tercipta kepuasan, loyalitas, dan pengalaman mengesankan dalam menggunakan jasa logistik, perlu menjadi paradigma baru para pemimpin perusahaan penyedia jasa logistik saat ini dan di masa mendatang.

Demikian pandangan kami, terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh Jakarta, 29 Januari 2018
Zaroni

 

Sumber : Sambutan Dr Zaroni saat Sidang Promosi Doktor Darjat Sudrajat di Binus Jakarta

Strategi Logistik dan Implikasinya Terhadap Keuangan

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Strategi logistik yang dieksekusi perusahaan banyak ragamnya. Antarperusahaan bisa saja berbeda strategi logistik yang dijalankan. Keputusan strategi logistik yang diambil akan berimplikasi pada kinerja keuangan perusahaan. Para pemimpin organisasi bisa menggunakan strategi logistik untuk menentukan kinerja keuangan.

Umumnya perusahaan menggunakan return on investment (ROI) sebagai ukuran kinerja keuangan. ROI mengukur kinerja keuangan perusahaan dari perspektif investor, baik investor ekuitas maupun investor kreditor.

ROI merupakan rasio yang mengukur profitabilitas perusahaan dari return yang dihasilkan atas penggunaan aset untuk menghasilkan penjualan (capital employed). Secara sederhana, ROI dihitung dengan membagi laba bersih dengan aset.

Dari rumus tersebut, untuk meningkatkan ROI, paling tidak ada dua faktor yang harus dikendalikan perusahaan, yaitu laba dan aset. Laba merupakan selisih antara penjualan dengan biaya total. Sementara aset dalam penghitugan ROI adalah aset yang digunakan untuk menghasilkan penjualan. Dalam banyak buku literatur keuangan, aset yang digunakan (capital employed) terdiri dari kas, piutang, persediaan, dan aset tetap.

Para pemimpin organisasi perusahaan berusaha meningkatkan ROI, meskipun tidak ada standar yang pasti berapa ROI yang harus dicapai. Standar ROI untuk setiap perusahaan berbeda, tergantung dari sektor industri, ukuran perusahaan, dan ekspektasi investor.

Umumnya investor menetapkan standar ROI sesuai dengan tingkat return yang diharapkan dengan mempertimbangkan risiko bisnis sesuai sektor industrinya. Dalam hal ini berlaku hukum “high risk, high return”. Semakin tinggi risiko bisnis, investor mengharapkan return atau imbal hasil yang tinggi.

Dalam literatur keuangan, return ini diproksikan dengan beberapa pendekatan atau proksi. Salah satunya adalah CAPM (Capital Asset Pricing Model). Model ini memproksikan return yang

ditentukan dari parameter tingkat return pada investasi bebas risiko (risk free), beta imbal hasil pasar, dan tingkat return premium yang merupakan selisih antara return pasar dan return investasi aset bebas risiko.

Investor akan menempatkan dananya pada perusahaan yang menghasilkan ROI tinggi. Karenanya, menjadi tugas manajer perusahaan untuk selalu menjaga dan meningkatkan ROI, agar perusahaan yang dikelola menjadi pilihan para investor.

Peran Strategi Logistik
Menariknya, pilihan strategi logistik yang dijalankan perusahaan dapat menentukan ROI. Mengapa demikian? Penjelasannya sangat mudah dengan memahami rumus ROI kita dapat melakukan simulasi atas pilihan strategi logistik yang akan dieksekusi perusahaan dan apa implikasinya terhadap kinerja keuangan yang diproksikan dengan ROI ini.

Sejatinya strategi logistik dimaksudkan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas logistik. Efisiensi diartikan pencapaian biaya logistik yang paling rendah. Sementara efektif merujuk pada ketepatan dan keandalan pengelolaan aktivitas logistik, seperti transportasi, pergudangan, dan distribusi, untuk memastikan material atau barang tersedia pada saat diperlukan.

Aktivitas logistik ini mencakup inbound logistics atau sering disebut dengan production logistics dan outbound logistics atau marketing logistics. Inbound logistics ini untuk memastikan material dan komponen (part) tersedia dengan tepat sesuai kebutuhan produksi. Outbound logistics, pengelolaan logistik distribusi produk jadi (finished goods) dari gudang pabrik atau produsen ke konsumen akhir.

Pengelolaan aktivitas logistik memerlukan investasi infrastruktur seperti gudang, kendaraan, peralatan pemindahan material (material handling equipment), ICT, dan biaya operasional. Jenis dan berapa infrastruktur logistik yang harus disiapkan perusahaan dipengaruhi oleh strategi logistik yang dipilih.

Strategi merupakan salah satu bagian dari perencanaan. Dalam perspektif horizon waktu perencanaan, kita mengenal perencanaan stratejik (strategic planning), perencaan taktis (tactical planning), dan perencanaan operasional (operational planning).

Perencanaan stratejik memiliki implikasi jangka panjang, setidaknya keputusan stratejik yang diambil perusahaan dalam strategi logistik akan berimplikasi terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan sampai 5 tahun mendatang. Keputusan dalam perencanaan strategi

logistik ini contohnya saluran distribusi (channel of distribution), titik pasokan (supply points), lokasi produksi (production locations), konfigurasi gudang, jenis dan jumlah gudang, lokasi dan ukuran gudang, jenis dan moda transportasi, pengelolaan logistik secara dikelola sendiri (inhouse logistics) atau menggunakan penyedia jasa logistik (third party logistics), strategi distribusi, dan kebijakan tingkat persediaan.

Pilihan strategi logistik ini akan menentukan perencanaan taktis dan operasional logistik yang berakibat pada investasi dan biaya operasional logistik perusahaan. Investasi dan biaya operasional ini merupakan dua komponen penting dalam ROI. Karenanya, pilihan keputusan perencanaan logistik berdampak terhadap kinerja keuangan perusahaan.

Pertanyaannya, bagaimana keputusan strategi logistik berdampak pada keuangan? Bagaimana meningkatkan kinerja keuangan melalui strategi logistik?

Komponen pertama ROI adalah laba atau profit. Secara sederhana, profit dihitung dari penjualan dikurangi biaya total. Dalam perusahaan manufaktur, umumnya biaya terdiri dari beban pokok penjualan, biaya penjualan dan pemasaran, biaya administrasi dan umum, dan biaya non usaha.

Beban pokok penjualan dihitung dari persediaan produk jadi awal ditambah beban pokok produksi dikurangi dengan persediaan produk jadi akhir. Sementara biaya penjualan dan pemasaran merupakan semua biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproses order penjualan, pengiriman dan pendistribusian produk sampai ke konsumen. Termasuk dalam biaya penjualan dan pemasaran ini adalah biaya untuk mendapatkan pelanggan baru, meretensi pelanggan, dan promosi.

Biaya administrasi dan umum biasanya merupakan biaya penyelenggaraan organisasi perusahaan, contohnya biaya gaji karyawan non produksi, biaya sewa gedung kantor, biaya penyusutan gedung kantor, dan lain-lain. Sementara biaya non usaha merupakan biaya selain biaya operasional perusahaan, contohnya biaya bunga pinjaman.

Dalam konteks peningkatan ROI, perhatian manajemen terutama adalah meningkatkan profit dan mengoptimalkan penggunaan aset secara efisien.

Peningkatan profit dilakukan dengan menaikkan penjualan atau mengurangi biaya. Penjualan dapat dinaikkan dengan menaikkan harga jual atau meningkatkan volume penjualan barang. Dalam ilmu pemasaran, harga jual bisa dinaikkan dengan meningkatkan “value” produk dan service sehingga konsumen bersedia membayar lebih.

Value produk dan service ini mencakup antar lain upaya peningkatan kualitas produk, fitur, daya guna produk, aspek emosional, pelayanan, dan pengalaman konsumen dalam menggunakan produk.

Para pemimpin organisasi perusahaan harus selalu meningkatkan value produk ini melalui inovasi dan peningkatan pelayanan agar konsumen menikmati pengalaman yang mengesankan. Peningkatan harga jual produk tanpa diimbangi dengan peningkatan value produk tidak akan dapat meningkatkan penjualan, alih-alih konsumen berpaling ke produk kompetitor.

Selain peningkatan harga jual dan penjualan, peningkatan profit juga dapat dilakukan dengan pengurangan biaya. Perhatian para pemimpin organisasi perusahaan untuk meningkatkan profit dengan cara mengurangi beban pokok penjualan, biaya penjualan, biaya pemasaran, biaya administrasi, dan biaya non usaha.

Dalam konteks strategi logistik, peningkatan penjualan dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

  • menaikkan OTIF (on time in full) deliveries, yaitu peningkatan kinerja pengiriman barang secara tepat waktu.
  • peningkatan service level dari semua aspek kualitas produk dan service.
  • membangun hubungan dengan pelanggan untuk menciptakan kepuasan dan intimacy.
  • layanan purna jual.

Pengurangan biaya dilakukan melalui upaya penyederhanaan proses bisnis, pengurangan aktivitas dan sumber daya yang tidak memberikan nilai tambah bagi pelanggan, dan penggunaan sumber daya bersama (resources sharing).

Dalam perspektif logistik, perhatian manajemen adalah melalukan pengurangan biaya logistik. Pengurangan biaya logistik dilakukan dengan cara:

  • pengelolaan transportasi secara efisien, melalui penetapan desain transportasi, penentuan rute, skedul, moda, jenis dan kapasitas armada transportasi, safety driving, dan konsolidasi kiriman. Pengelolaan transportasi yang efisien akan berdampak langsung terhadap penurunan biaya operasional transportasi.
  • pengelolaan pergudangan secara efisien, melalui penggunaan warehouse management system untuk penyimpanan, pengambilan, dan pengiriman barang. Selain itu, kebijakan lokasi persediaan (stock location) dan pengendalian persediaan perlu ditetapkan yang dapat mengoptimalkan inventory management.
  • pengurangan tingkat inventory melalui penerapan EOQ (economic order quantity), ABC inventory system, dan pendekatan JIT (just-in time). Pengurangan inventory akan berdampak langsung pada pengurangan modal kerja yang harus disediakan untuk stock.

Tidak kalah pentingnya, selain peningkatan penjualan dan pengurangan biaya, pemimpin perusahaan harus mengoptimalkan penggunaan aset, baik aset lancar seperti kas, piutang, maupun aset tetap seperti warehouse, MHE, dan transport.

Pengoptimalan aset ini dimaksudkan untuk meningkatkan perputaran (turnover) aset. Upaya yang harus dilakukan pemimpin perusahaan untuk menaikkan asset turnover ini adalah:

  • peningkatan cash cycle, pengurangan collection periods melalui pengelolaan piutang usaha.
  • peningkatan oder cycle time.
  • peningkatan inventory accuracy.
  • pengoptimalan warehouse space dan transportasi.
  • outsourcing logistik ke third party logistics company.

Keputusan manajemen perusahaan atas berbagai pilihan strategi logistik akan berdampak pada investasi infrastruktur dan biaya operasional logistik. Dua hal terakhir ini ujungnya memengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Para pemimpin organisasi perlu mempertimbangkan dengan cermat setiap keputusan strategi logistik yang akan dieksekusi.

 

Referensi

Berk, DeMarzo, Corporate Finance, 4th Edition, Person, 2018.

Rushton, Croucher, Baker, The Handbook of Logistics & Distribution Management: Understanding The Supply Chain, 5th Editon, The Chartered of Logistics and Transport (UK), Kogan Page, 2014.

 

Bandung, 13 January 2018

Retail Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Hampir semua produsen tidak menjual produk-produknya secara langsung ke konsumen akhir. Antara produsen dan konsumen akhir ada perantara (intermediary) yang berfungsi sebagai saluran pemasaran (marketing channel). Saluran pemasaran ini dikenal juga sebagai saluran perdagangan (trade channel) atau saluran distribusi (distribution channel).

Saluran pemasaran banyak macamnya. Kita mengenal pedagang besar (wholesaler), grosir, distributor, dan pengecer (retailer). Saluran pemasaran memainkan peran penting dalam kesuksesan perusahaan dan memengaruhi semua faktor keputusan strategi pemasaran.

Saluran pemasaran yang menjual produk-produk langsung ke konsumen personal atau rumah tangga sebagai pengguna akhir produk dikenal retailer atau retailer store. Pengecer menjual aneka produk, mulai dari pakaian, makanan, peralatan rumah tangga, buku, peralatan elektronik, dan lain-lain.

Tidak masalah bagaimana produk-produk atau jasa tersebut dijual. Apakah penjualan produk-produk tersebut melalui tenaga penjualan, katalog, email, telepon, surat, vending machine, atau penjualan secara online. Demikian pula, di mana penjualan produk-produk dilakukan, apakah penjualan produk dilakukan di toko, jalan, atau bahkan di rumah konsumen.

Sektor ritel bergerak dan tumbuh sangat cepat, secepat perputaran penjualan produk-produknya. Beberapa peritel melakukan inovasi layanan, mengembangkan strategi jangka panjang, penggunaan teknologi terkini, penerapan sistem informasi yang canggih, dan pemanfaatan marketing tools secara efektif. Sebut saja misalnya, peritel global seperti Uniqlo, Zara, Zappos, H&M, Mango, Topshop, Walmart, dan lain-lain.

Mereka telah berhasil mengidentifikasi siapa segmen dan target pasar yang dituju, positioning, differentiation, membangun hubungan dengan pelanggan, menciptakan kesan dan pengalaman pelanggan, dan tentu saja mereka mampu menyediakan produk dan pelayanan dengan tepat.

Sektor ritel berperan penting dalam penjualan barang. Sektor ritel menjadi tempat penjualan berbagai barang kebutuhan konsumen rumah tangga, perkantoran, sekolahan, pemerintahan, dan lain-lain. Pelaku usaha di sektor ritel dikenal dengan pengecer atau peritel (retailer). Peritel mengelola toko. Jenis toko pengecer banyak macamnya. Kita mengenal peritel tradisional dan modern. Contoh peritel tradisional adalah kios di pasar-pasar tradisional, toko-toko, dan warung-warung kelontong. Sementara peritel modern, contohnya hypermarket, department store, supermarket, dan minimarket.

Umumnya jenis perputaran barang-barang yang dijual di toko ritel sangat cepat. Karenanya, barang-barang ini dikenal dengan sebutan fast moving consumer goods (FMCG). Barang-barang yang dijual di toko ritel banyak ragamnya sesuai jenis penamaan toko ritel.

Kita mengenal toko ritel khusus (specialty store). Toko ritel khusus adalah toko yang menjual jenis barang tertentu dengan berbagai macam variannya dengan jumlah persediaan barang dagangan yang cukup. Contoh toko khusus: toko buku, toko alat olah raga, toko kue, toko sepatu, dan lain-lain.

Selain itu, kita mengenal toko kelontong (convenience store). Toko kelontong adalah toko kecil yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari, makanan dan minuman kecil serta majalah dan koran. Toko kelontong terletak di dekat pemukiman penduduk. Contoh toko kelontong: Indomaret, Alfamart, Yomart, Circle K, Seven Eleven, dan lain-lain.

Bentuk toko ritel yang lain adalah toko swalayan (supermarket), toko serba ada (department store), toko kombinasi (combination store), hypermarket, toko diskon, factory outlet, dan katalog showroom (Kotler dan Keller, 2015).

Peran Logistik

Logistik ritel (retail logistics) akan menjamin ketersediaan produk-produk dari manufaktur dan pemasok lainnya untuk dijual di toko-toko ritel dalam jumlah yang mencukupi sesuai kebutuhan permintaan pasar, dengan kualitas produk yang terjaga, dan biaya logistik yang efisien.

Saat ini banyak toko ritel – terutama pasar swalayan, yang menjual produk-produk kategori produk-produk yang mudah rusak (perishable goods), seperti ikan segar, buah-buahan, sayur mayur, dan lain-lain. Produk-produk ini memerlukan sistem penyimpanan, transportasi, dan tempat dengan pengaturan temperatur dan kelembaban tertentu.

Logistik ritel telah bertransformasi, dari sekadar penyimpanan, pengangkutan, dan distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, namun logistik ritel saat ini mencakup pengelolaan demand chain dan supply chain.

Dalam mengelola logistik ritel, kita perlu memahami dan mengidentifikasi kebutuhan konsumen akan jenis produk, berapa banyak kuantitas produk yang diperlukan, dan kapan produk-produk tersebut diperlukan. Ini yang dikenal dengan demand chain.

Selain mengelola demand chain, logistik ritel mengelola supply chain. Pengelolaan supply chain dalam sektor ritel mencakup order pembelian, distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, pembayaran ke pemasok, dan pengelolaan informasi jenis produk, lokasi, dan kualitas produk yang perlu dipasok dari pemasok ke toko-toko peritel.

Fernie dan Sparks (2014) menyebutkan lima komponen penting dalam logistik ritel, yang dikenal dengan logistics mix sebagai berikut:

  1. Fasilitas penyimpanan (storage facilities)

Logistik ritel memerlukan fasilitas penyimpanan berupa gudang (warehouse) atau Distribution Center (DC) atau secara sederhana mungkin sekadar stock point yang menyimpan produk-produk dalam jumlah yang mencukupi untuk menjaga persediaan produk yang optimal, untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan permintaan. Selain itu, fasilitas penyimpanan diperlukan untuk menjaga kualitas dan keamanan produk.

  1. Persediaan (inventory)

Umumnya semua peritel menahan atau menyimpan persediaan. Pengelolaan persediaan ini mencakup keputusan penentuan berapa jumlah stock atau persediaan yang harus disimpan, lokasi penyimpanan, kapan melakukan order pembelian, dan berapa jumlah barang setiap order pembelian, untuk menjamin ketersediaan produk dengan biaya penyimpanan persediaan yang paling efisien.

  1. Pengangkutan (transportation)

Hampir semua produk memerlukan transportasi untuk memindahkan produk dari lokasi produksi ke lokasi konsumsi. Karenanya, peritel harus mengelola transportasi yang dihadapkan pada berbagai jenis moda transportasi, ukuran container, jenis armada kendaraan, jadwal keberangkatan dan kedatangan transportasi, ketersediaan dan kesiapan kendaraan termasuk sopirnya.

  1. Unitisasi dan pengepakan (unitization dan packaging)

Produk-produk consumer umumnya dijual di toko ritel dalam jumlah dan ukuran yang kecil. Sementara produk-produk yang dipasok dari manufaktur dalam ukuran dan jumlah besar seperti container. Karenanya, dalam logistik ritel diperlukan unitisasi dan pengepakan. Unitisasi akan menyatukan produk- produk ritel dalam satuan kecil menjadi ukuran yang lebih besar. Produk dalam kemasan dengan satuan kaleng atau piece misalnya, akan disatukan menjadi satuan karton, box, atau pallet. Selain itu, untuk kepentingan handling dalam logistik ritel menuntut pengepakan produk yang kuat, mudah, dan efisien ketika dilakukan handling selama proses transportasi, penyimpanan, material handling, dan pemajangan produk di rak (shelves management).

  1. Komunikasi (communications)

Komunikasi memegang peran penting dalam sistem logistik ritel. Untuk mendapatkan informasi dimana produk dijual, jenis produk, berapa banyak, kapan, dan siapa pembeli produk-produk ritel, diperlukan sistem informasi dan komunikasi yang memadai. Tidak hanya informasi mengenai sisi permintan dan penawaran produk, melainkan informasi mengenai volume, stock, harga, dan pergerakan atau fluktuasi penjualan produk. Informasi ini penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem operasi logistik ritel.

 

Kelima komponen logistik ritel ini saling berkaitan. Kinerja logistik ritel ditentukan oleh koordinasi, harmonisasi, dan integrasi antarkomponen. Pengepakan dan unitisasi produk dari manufaktur akan menentukan kinerja pengangkutan dan penyimpanan. Informasi demand dan supply chain akan menentukan jumlah persediaan, jenis produk, dan fasilitas dan lokasi penyimpanan untuk pendistribusian produk-produk di toko-toko ritel.

Tolok ukur keberhasilan logistik ritel sejatinya ditentukan oleh logistics cost dan service level. Logistics cost berhubungan dengan biaya logistik total mulai dari biaya pemesanan, pengangkutan, penyimpanan, distribusi, dan penataan produk di toko-toko ritel. Sementara service level terkait erat dengan ketepatan jenis produk, waktu, lokasi, keamanan, keutuhan, dan kualitas produk selama proses aktivitas logistik sampai produk digunakan consumer. Dalam pengelolaan logistik ritel, sebagian dikelola sendiri (in-house logistics) dan sebagian diserahkan ke pihak ketiga (outsourcing logistics) ke 3PL company.

Desain Logistik Ritel

Di era kompetisi bisnis yang semakin ketat, daya saing perusahaan tidak hanya ditentukan oleh keunggulan komparatif yang mengandalkan sumber daya dan kapabilitas organisasi. Saat ini kompetisi didasarkan pada kompetisi berbasis waktu (time-based competition).

Setidaknya ada tiga dimensi dalam time-based competition seperti diujarkan oleh Christopher dan Peck (2003). Organisasi perusahaan harus mengelola time-based competition secara efektif untuk merespon perubahan lingkungan bisnis. Ketiga time-based competition tersebut adalah:

  • time to market: kecepatan perusahaan untuk mengkomersialisasi peluang bisnis ke pasar;
  • time to serve: kecepatan perusahaan dalam memenuhi order pelanggan; dan
  • time to react: kecepatan perusahaan dalam menyesuaikan perubahan permintaan yang berfluktuasi secara

Pendekatan kompetisi berbasis waktu mendorong perusahaan untuk mengembangkan strategi leadtime dalam pengelolaan bisnis. Semakin cepat dan pendek lead-time, maka perusahaan akan unggul.

Kunci keberhasilan bisnis sektor ritel terletak pada pengelolaan strategi lead-time ini. Logistik ritel tidak hanya persoalan pengelolaan inventory, penyimpanan, dan transportasi. Logistik ritel mencakup pengelolaan supply chain dan customer chain. Bila perusahaan berhasil dalam mengelola supply chain dan customer chain, maka penciptaan nilai akan dihasilkan. Ini yang dikenal dengan value chain sebagaimana dicetuskan pertama kali oleh Porter (1985).

Dalam logistik ritel, distribusi dibedakan menjadi primary distribution dan secondary distribution. Primary distribution merupakan distribusi produk dari pabrik ke warehouse atau DC. Sementara secondary distribution merupakan distribusi produk dari warehouse atau DC ke toko peritel.

Kotler dan Keller memberikan penamaan market logistics untuk menyebut logistik ritel ini. Dalam pandangan Kotler dan Keller (2015), market logistics mencakup perencanaan infrastruktur logistik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, untuk selanjutnya mengimplementasikan dan mengendalikan aliran produk-produk consumer dari titik asal ke titik tujuan sesuai kebutuhan pelanggan secara efisien dan efektif.

Alan McKinnon (1996) dalam Fernie dan Sparks (2014) memberikan rekomendasi untuk peningkatan kinerja logistik ritel dalam era time-based competition.

  1. Perusahaan ritel harus meningkatkan pengendalian atas secondary distribution dengan cara menggunakan DC dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang Saat ini produk-produk ritel dipasok dari berbagai negara, selain itu ketergantungan antaraliran produk semakin tinggi. Karenanya, operasional logistik harus terintegrasi, utamanya dalam pemenuhan order, pengisian stock, dan pengendalian aliran informasi pergerakan dan penyimpanan barang.
  2. Perusahaan ritel harus melakukan restrukturisasi sistem logistiknya dengan cara mengurangi tingkat persediaan barang, meningkatkan efisiensi melalui pengembangan “composite distribution”, yaitu distribusi produk-produk yang memerlukan tingkat temperature sama dalam satu DC dan satu kendaraan. Selain itu, perusahaan harus menerapkan sentralisasi warehouse untuk produk-produk yang slower moving dengan cara penggunaan warehouse bersama (common stock rooms).
  3. Perusahaan hendaknya mengadopsi “Quick Response” (QR). Tujuan dari penerapan QR untuk memangkas tingkat persediaan dan meningkatkan kecepatan aliran produk. Penerapan QR dapat mengurangi order lead time dan frekuensi pergerakan delivery barang antara DC dan
  4. Perusahaan harus meningkatkan utilisasi aset dan infrastruktur logistik dengan cara mengintegrasikan sistem jaringan primary distribution dan secondary distribution melalui penerapan Electronic Data Interchange (EDI). Penerapan EDI ini akan mengurangi waste karena perencanaan aliran fisik produk, dokumen, dan keuangan dapat diatur dengan
  5. Perusahaan harus meningkatkan aliran return packaged material and handling equipment untuk recycling atau re-use dengan cara mengembangkan “reverse logistics”.
  6. Perusahaan mulai mengenalkan pendekatan Supply Chain Management (SCM) and Efficient Consumer Response (ECR) untuk meningkatkan efisiensi operasi logistik. Kolaborasi antarpemasok untuk memaksimalkan kapasitas logistik akan dicapai efisiensi logistik ritel. Penggunaan fasilitas pergudangan dan moda transportasi bersama akan meningkatkan skala ekonomis sistem

Perkembangan dan tantangan logitistik ritel semakin meningkat terutama dipicu oleh teknologi internet yang memungkinkan perusahaan menerapkan strategi penjualan produk secara online, online dan offline, dan bahkan strategi ritel telah berkembang menjadi strategi Omni-channel.

Kemajuan teknologi internet memang dapat mendisrupsi bisnis sektor ritel, utamanya para pebisnis ritel konvensional, yang masih menggunakan satu saluran penjualan dalam berinteraksi dengan pelanggannya. Atau, kalaupun mereka telah mulai mengembangkan berbagai saluran penjualan (multichannel), antarsaluran tersebut tidak terintegrasi.

Akibatnya, perusahaan tidak dapat menangkap dan memberikan pelayanan penjualan secara maksimal ke pelanggannya, utamanya pelanggan yang telah menggunakan berbagai saluran media komunikasi: media sosial online sebagai netizens.

Keberhasilan bisnis ritel sejatinya ditentukan oleh empat faktor: ketepatan (pacing), pandangan global (span), ketersediaan (availability), dan informasi (Fernie dan Sparks, 2014).

Peritel pakaian yang telah memiliki jaringan global dan sukses seperti Zara contohnya, kunci keberhasilannya terletak pada kecepatan dalam time to market, time to service, dan time to react. Toko-toko Zara ramai dikunjungi pelanggannya dan produk-produknya selalu dibeli karena desain produk pakaian Zara selalu baru, tidak jarang produk-produk tersebut tidak produksi dan dijual lagi. Akibatnya, pelanggan Zara selalu datang dan membeli produk-produk pakaian Zara.

Bila para produsen pakaian hanya meluncurkan mode pakaian satu tahun sekali, tidak seperti Zara. Zara selalu meluncurkan produk pakaian mode baru setiap 2 minggu sekali. Dalam mendesain produk-produk pakaian, Zara mendengar dan melibatkan pelanggannya. Zara mencari tahu banyak mode pakaian apa yang diinginkan pelanggannya, serta mode pakaian apa yang saat ini menjadi tren.

Zara mengintegrasikan desainer, pemasok, dan toko ritelnya melalui pendekatan SCM yang andal. Akibatnya, Zara dapat mempendek lead time dan men-deliver produk-produk pakaian ke pasar dengan tepat. Sekali lagi, kunci keberhasilan Zara terletak di pacing atau speed-nya.

Selain pacing, para peritel harus mengembangkan pandangan global. Saat ini komponen produk dipasok dari berbagai negara. Produsen dan peritel harus mencari sumber pasokan produk yang paling murah dan biaya logistik yang paling efisien.

Ketersediaan (availability) menjadi kunci keberhasilan. Para peritel harus memastikan produk tersedia baik di toko maupun online. Logistik berperan penting dalam menjamin ketersediaan produk di toko dan ketepatan dalam pengiriman produk ke konsumen.

Informasi, bukan hanya pergerakan fisik produk, yang perlu menjadi perhatian dalam logistik ritel. Informasi aliran produk sangat penting untuk perencanaan forecasting penjualan, pemesanan produk, penentuan tingkat inventory, penyimpanan produk di gudang, pengelonaan transportasi, dan penyimpanan produk di rak-rak toko ritel. Penerapan ICT sistem logistik yang andal menjadi kunci keberhasilan dalam sistem informasi manajemen logistik ritel.

***

Peran bisnis ritel sangat penting dalam penjualan produk-produk yang dihasilkan dari sektor primer dan sekunder, seperti manufaktur, pertanian, dan perikanan. Produk-produk tersebut didistribusikan ke toko-toko ritel secara tepat jenis produk, tepat waktu, tepat lokasi, dengan kondisi atau kualitas tetap terjaga, dan dengan biaya distribusi yang paling efisien.

Seringkali kita sebagai konsumen beranggapan bahwa ketersediaan produk di toko ritel dalam jumlah yang mencukupi dan dengan kualitas yang baik merupakan sesuatu yang biasa. Padahal, untuk menjamin ketersediaan produk (product availability) dengan tepat, baik tepat kuantitas maupun kualitas memerlukan solusi sistem logistik yang andal. Dalam hal ini, logistik berperan penting dalam bisnis ritel.

Referensi

Fernie & Sparks (Editor), Logistics and Retail Management: Emerging Issues and New Challenges in the Retail Supply Chain, 2014.

Kotler & Keller, Marketing Management, Global Edition, 2015.

Shared Service Center

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

Peter F. Drucker, sang mahaguru manajemen pernah mengingatkan para pemimpin organisasi perusahaan bahwa alasan perusahaan ada sejatinya untuk melayani pelanggan melalui produk dan layanan.

Penciptaan produk dan layanan pelanggan memerlukan serangkaian aktivitas inti (core activities), seperti riset pasar, desain produk, produksi, pemasaran, dan penjualan. Tidak cukup hanya aktivitas tersebut, perusahaan perlu menjalankan aktivitas layanan pelanggan (customer services), pengelolaan keuangan, pencatatan transaksi keuangan dan pelaporan keuangan, pengelolaan sumber daya manusia, pengembangan dan pengelolaan ICT, pemeliharaan infrastruktur perusahaan seperti gedung, kendaraan, gudang, dan lain-lain. Aktivitas ini sering kita kenal sebagai aktivitas pendukung (support activities)

Banyak perusahaan mulai fokus pada pengelolaan aktivitas inti agar dapat memberikan pelayanan pelanggan secara maksimal. Upaya peningkatan peran dari aktivitas pendukung pun terus dilakukan, selain mengoptimalkan sumber dayanya agar dicapai efisiensi.

Aktivitas keuangan, pengelolaan keuangan, akuntansi, ICT, dan pengelolaan aset sering diselenggarakan secara bersama, atau disentralisasi pada lokasi tertentu untuk memberikan pelayanan kepada banyak cabang atau unit di beberapa kota. Model pengelolaan aktivitas support dengan memberikan pelayanan bersama ini sering kita kenal dengan shared service center (SSC).

Dalam beberapa tahun terakhir, kecenderungan perusahaan untuk mengembangkan SSC semakin meningkat. Ini terutama dipicu oleh kemajuan teknologi ICT, baik aplikasi, teknologi jaringan, maupun penggunaan berbagai perangkat cerdas.

Kantor pos dan Telkom, misalnya, telah menyelenggarakan SSC untuk pengelolaan fungsi keuangan, akuntansi, SDM, ICT, dan aset. Dulu setiap kantor pos menyelenggarakan fungsi support tersebut masing-masing. Sekarang, fungsi support disentralisasi berdasarkan regional tertentu yang memberikan pelayanan ke banyak cabang kantor pos di beberapa kota.

Dengan model SSC seperti ini, kantor pos pun mendapatkan banyak manfaat. Tidak perlu lagi di setiap kantor pos ada bagian (department) akuntansi, keuangan, pengelolaan SDM, ICT, dan aset. Pengurangan pegawai dapat dilakukan. Realokasi pegawai yang biasa menyelenggarakan aktivitas fungsi support dialihkan ke fungsi bisnis, seperti penerimaan layanan pelanggan di loket, layanan penjemputan barang, pemrosesan, dan pengantaran barang. Kantor pos lebih fokus pada pelayanan pelanggan, sementara pengelolaan fungsi support dilakukan bersama (common activities) dalam unit shared-service center.

Pengalokasian Biaya

Implementasi SSC memerlukan solusi pengalokasian biaya (cost allocation) yang akurat. Bila tidak akurat, alokasi biaya SSC akan over costing atau under costing. Setiap cost harus dibebankan (cost assignment) ke obyek biaya (cost object). Cost merupakan pemakaian sumber daya untuk tujuan tertentu. Sumber daya ini bisa berupa tenaga kerja, kendaraan, bahan bakar minyak (fuel), gedung, peralatan dan perlengkapan kantor, ICT, dan lain-lain untuk menyelenggarakan aktivitas inti dan support yang diperlukan dalam penciptaan produk dan layanan pelanggan.

Pemakaian tenaga kerja misalnya, menimbulkan biaya upah dan gaji. Pemakaian kendaraan akan menimbulkan biaya sewa kendaraan atau biaya penyusutan kendaraan. Pemakaian bahan bakar menimbulkan biaya bahan bakar. Penggunaan gedung menimbulkan biaya sewa gedung atau biaya penyusutan gedung. Demikian juga pemakaian perlengkapan kantor, perusahaan mencatat biaya pemakaian perlengkapan kantor.

Semua biaya pada akhirnya harus dibebankan ke obyek biaya. Obyek biaya ini dapat berupa department seperti produksi, pemasaran, atau administrasi. Atau obyek biaya berupa produk dan pelanggan.

Pembebanan biaya (cost assignment) ke obyek biaya dilakukan dengan cost tracing atau cost allocation. Pembedaannya terletak pada jenis biaya. Biaya langsung (direct cost) dibebankan secara langsung ke obyek biaya karena dapat ditelusuri setiap pemakaian biaya secara akurat. Contoh biaya langsung untuk produksi adalah biaya pemakaian bahan baku (direct material cost) dan biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost). Kedua biaya ini sering disebut sebagai prime cost.

Sebaliknya, kita tidak dapat menelusuri pemakaian biaya tidak langsung (indirect cost) untuk setiap obyek biaya. Karenanya, pembebanan biaya tidak langsung ini umumnya dilakukan dengan pengalokasian biaya (cost allocation). Biaya tidak langsung untuk produk, misalnya biaya overhead pabrik seperti biaya penyusutan pabrik, biaya gaji mandor, biaya asuransi pabrik, biaya pemakaian suku cadang mesin, dan lain-lain.

Biaya SSC merupakan biaya bersama (common cost), sehingga pembebanan biaya ke obyek biaya dilakukan dengan pengalokasian biaya. Dalam literature akuntansi biaya (cost accounting), banyak dikenalkan metode pengalokasian biaya, yang dapat dikelompokkan menjadi dua pendekatan pengalokasian biaya, yaitu: pendekatan tradisional (traditional approach) dan pendekatan activity-based costing.

Pendekatan tradisional menggunakan dasar tertentu yang masuk akal secara proposional dalam pengalokasian biaya. Dikatakan masuk akal karena dalam pengalokasian biaya ini menggunakan basis tertentu yang rasional, memiliki hubungan yang rasional antara biaya dan obyek biaya. Contoh pendekatan tradisional dalam alokasi biaya SSC: luas meter persegi penggunaan ruangan kantor sebagai dasar dalam alokasi biaya sewa gedung.

Sementara pendekatan activity-based costing (ABC), pengalokasian biaya didasarkan pada biaya aktivitas yang dilaksanakan untuk memberikan pelayanan kepada unit tertentu. Pengalokasian biaya SSC dengan menggunakan pendekatan ABC diyakini akan menghasilkan pengalokasian biaya yang lebih akurat dibandingkan dengan pendekatan tradisional.

Keakuratan pengalokasian biaya menjadi penting, agar pembebanan biaya ke obyek biaya tidak over costing atau under costing. Baik over costing atau under costing, akan menyebabkan pengambilan keputusan biaya tidak tepat (misleading).

Penerapan Activity-Based Costing

Ide activity-based costing sejatinya sederhana. SSC melayani unit atau kantor lain dengan menyelenggarakan serangkaian aktivitas SSC. Pelaksanaan aktivitas memerlukan sumber daya. Pemakaian sumber daya menimbulkan biaya. Perubahan biaya ditentukan oleh pemicu biaya (cost driver). Bila pemicu biaya ini meningkat, maka biaya aktivitas juga meningkat.

Penggunaan ABC untuk pengalokasian biaya SSC dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1, Identifikasi dan klasifikasikan aktivitas yang berhubungan dengan produk dan layanan Perlu disusun kamus aktivitas yang diturunkan dari produk, proses bisnis, aktivitas, dan pemicu biaya. Aktivitas diklasifikasikan menjadi aktivitas inti dan aktivitas pendukung.

Dr Zaroni - share service center - magister teknik industri UII (1)

Proses bisnis untuk fungsi SSC mencakup:

  • Proses bisnis fungsi keuangan
  • Proses bisnis fungsi pengelolaan SDM
  • Proses bisnis fungsi pengelolaan ICT
  • Proses bisnis fungsi pengelolaan

Dari setiap proses bisnis tersebut selanjutnya diidentifikasi aktivitas masing-masing.  Umumnya untuk mengidentifikasi aktivitas, perusahaan menggunakan beberapa pendekatan antara lain: top-down, wawancara atau partisipasi, dan penggunaan dokumen sekunder.

Berikut ini template isian identifikasi aktivitas dan activity drivers untuk setiap proses bisnis SSC.

Dr Zaroni - share service center - magister teknik industri UII (3)

2. Mengestimasi biaya total untuk setiap aktivitas yang telah diidentifikasi pada langkah pertama. Estimasi biaya total menggunakan pendekatan data historis, penganggaran, atau biaya standar.

3. Menghitung tarif pemicu biaya (cost-driver rate) untuk setiap aktivitas. Dari biaya total dapat dihitung tarif pemicu biaya setiap aktivitas. Caranya dengan membagi biaya total dan estimasi volume aktivitasnya.

Dr Zaroni - share service center - magister teknik industri UII (2)

Implementasi SSC

SSC menjanjikan banyak kemanfaatan baik efisiensi dan peningkatan kualitas layanan pendukung (support services). Efisiensi dicapai melalui konsolidasi sumber daya pendukung sehingga dicapai skala ekonomis volume aktivitas tertentu. Pemanfaatan ICT sangat membantu dalam keberhasilan implementasi SSC.

Tahap awal dapat dibentuk tim penyusun SSC. Tugas tim ini sebagai change management untuk mengawal perubahan dalam implementasi SSC. Sebaiknya tim SSC ini direkrut dari berbagai fungsi atau department, baik fungsi bisnis maupun pendukung. Komitmen top management sangat penting dalam keberhasilan implementasi SSC ini.

Implementasi SSC tidak hanya di organisasi bisnis seperti perusahaan. SSC dapat diterapkan di organisasi pemerintahan, publik, dan organisasi nirlaba. Pemahaman mengenai produk, layanan, siapa pelanggan internal dan eksternal perusahaan, apa proses bisnis dan aktivitas kunci perusahaan, berapa estimasi biaya aktivitas total, apa pemicu biaya, berapa tarif pemicu biaya aktivitas, dan bagaimana membebankan biaya aktivitas SSC ke pengguna, sangat penting bagi tim dalam mengimplementasi SSC.

Kini sudah saatnya para pemimpin organisasi berani mengimplementasikan SSC di tempat kerjanya, agar dapat meningkatkan efisiensi organisasi dan peningkatan kualitas pelayanan ke pelanggan internal maupun eksternal.

Bandara Juanda, Surabaya, 21 Desember 2017

Humanitarian Logistics, Sisi Lain Peran Logistik dalam Penanggulangan Bencana

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  CFO Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Dalam beberapa pekan ini, di beberapa daerah mengalami bencana. Indonesia sebagai
negara yang rawan bencana, seperti bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami,
erupsi gunung berapi, kebakaran hutan, kekeringan, dan angin puting beliung, kerap
menghampiri kita. BNPB menyebutkan tidak kurang dari 2000 bencana nasional telah terjadi
selama 11 bulan di tahun 2017.

Bencana alam dapat dicegah dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk
memohon perlindungan dan keselamatan dari marabahaya bencana serta selalu menjaga
keseimbangan lingkungan dan ekosistem semesta. Namun bila bencana terjadi, kita tidak bisa
menghindari. Kita bisa melakukan pengelolaan bencana dengan cara mengurangi dampak
korban jiwa dan kerugian materi dan psikhis akibat bencana.

Pengelolaan bencana dilakukan pada berbagai kondisi sesuai dengan waktu atau fase
penanggulangan bencana, mulai dari kesiapsiagaan (emergency preparedness), tanggap
darurat (emergency), rehabilitasi (rehabilitation), dan pembangunan (development).
Logistik berperan penting dalam setiap fase penanggulangan bencana. Dampak korban
bencana seringkali semakin parah bila manajemen logistik tidak cukup efektif untuk secara
cepat dan tepat menanggulangi bencana.

Ketika bencana terjadi diperlukan tanggap darurat. Logistik bencana akan memastikan
distribusi bantuan kemanusiaan (humanitarian aids) dan peralatan dapat menjangkau secara
cepat ke sasaran. Logistik yang menangani bantuan kemanusiaan ini sering disebut dengan
logistik bantuan kemanusiaan (humanitarian logistics).

Berbeda dengan logistik komersial, logistik bantuan kemanusiaan menghadapi tantangan
yang kompleks sesuai dengan karakteristik kondisi bencana. Balcik dan Beamon (2008)
mengidentifikasi karakteristik logistik bantuan kemanusiaan yang membedakan dengan
logistik komersial:

  • Pola permintaan yang tidak dapat diprediksi, baik dari aspek waktu, lokasi geografi,
    jenis dan kuantitas kebutuhan jenis barang bantuan kemanusiaan yang diperlukan.
  • Lead time yang sangat pendek dan permintaan mendadak dalam jumlah besar untuk jenis barang bantuan kemanusiaan dan layanan yang sangat bervariasi.
  • Bantuan kemanusiaan seringkali mendapat tekanan dan perhatian dari media global, utamanya para donor.
  • Keterbatasan sumber daya, seperti teknologi, kapasitas transportasi, peralatan penanganan bantuan, dan sumber daya manusia untuk operasional logistik bantuan kemanusiaan.

Sasaran dari logistik bantuan kemanusiaan adalah pendistribusian bantuan kemanusiaan dan
peralatan penanggulangan bencana ke penerima dan lokasi bencana secara tepat waktu,
tepat jenis dan kuantitas bantuan kemanusiaan, dalam kondisi atau kualitas yang baik, dan
biaya yang efisien dan dapat dipertanggungjawabkan.

Umumnya bantuan kemanusiaan yang diperlukan untuk penanggulangan bencana terdiri dari makanan, pakaian, perlengkapan mandi, perlengkapan memasak, obat-obatan, dan
peralatan. Sementara peralatan yang sering diperlukan dalam penanggulangan bencana
antara lain (BNPB, 2017):

  • Peralatan pencarian, penyelamatan, pertolongan dan evakuasi, seperti mobil
    evakuasi, lampu senter, alat komunikasi, urban SAR, dan lain-lain;
  • Peralatan untuk kebutuhan air bersih dan sanitasi, seperti tangki air, flexible tank,
    water treatment portable, dan lain-lain;
  •  Peralatan kesehatan, seperti mobil ambulans, tenda rumah sakit lapangan,dan lainlain;
  • Peralatan penampungan dan tempat hunian sementara, seperti tenda, velbed, mobil
    dapur lapangan, dan lain-lain;
  • Peralatan pengelolaan data, informasi, dan komunikasi, seperti SSB, repeater, RIG,
    dan lain-lain;
  • Peralatan untuk pengendalian bencana, seperti EWS, dan lain-lain;
  • Peralatan untuk perbaikan darurat sarana dan prasarana vital, seperti jembatan belly,
    becho, dan lain-lain.

Persoalan logistik bantuan kemanusiaan kerap dihadapi ketika penanggulangan bencana,
seperti bantuan kemanusiaan yang menumpuk di suatu pos komando penanggulangan
bencana, bandar udara, pelabuhan, dan gudang darurat. Persoalan lain misalnya bantuan
kemanusiaan yang rusak, daluarsa, atau bahkan bantuan kemanusiaan yang sebenarnya tidak
diperlukan penduduk terdampak bencana.

Perspektif Supply Chain

Dalam perspektif supply chain, rantai pasok bantuan kemanusiaan (humanitarian supply
chain) sangat kompleks. Ia melibatkan banyak pihak. Mata rantai pasokan ini mulai dari
perencanaan dan penilaian kebutuhan bantuan kemanusiaan, pengadaan (procurement),
pergudangan dan persediaan, transportasi, manajemen kendaraan, rantai pendingin (cold
chain), customs, distribusi, evaluasi dan monitoring (Rushton et al, 2014).

Dr Zaroni Humanitarian Logistics Magister Teknik Industri UII

Perencanaan dan penilaian kebutuhan (demand planning) bantuan kemanusiaan dan
peralatan dilakukan untuk menentukan data kebutuhan bantuan kemanusiaan, peralatan,
dan facility. Data ini meliputi: jenis, spesifikasi, jumlah, lokasi, kapan, dan tingkat
urgensi/critically.

Persediaan penyangga (buffer stock) harus disediakan, mengingat persediaan diperlukan
untuk berjaga-jaga dalam pemenuhan bantuan kemanusiaan pada kondisi tanggap darurat
yang tidak dapat diprediksi dengan tepat. Buffer stock ini sebaiknya dihitung lebih cermat,
agar persediaan optimal. Tidak berlebihan dan tidak kekurangan.

Dalam perencanaan kebutuhan bantuan kemanusiaan dilakukan dengan metode kuantitatif
dan kualitatif. Estimasi berapa kebutuhan bantuan kemanusiaan dengan mempertimbangkan
paramater dan kontekstual, data historis, prediksi, dan lain-lain.

Umumnya, parameter yang digunakan antara lain: jenis dan karakteristik bencana
berdasarkan potensi kerawanan bencana daerah, potensi daerah dan penduduk yang
terdampak bencana, akses transportasi, dan infrastruktur jalan raya, dan topografi wilayah
terdampak bencana. Sementara pendekatan kualitatif dalam perencanaan kebutuhan
bantuan kemanuisaan didasarkan pada kebijakan organisasi penyelenggara penanggulangan
bencana.

Dari analisis kebutuhan ini selanjutnya dilakukan pengadaan untuk pemenuhan stock
kebutuhan bantuan pemanusiaan. Sumber pengadaan bantuan kemanusiaan dari donor,
pemerintah (BNPB), dunia usaha, dan masyarakat. Dalam pengadaan ditentukan kapan
pengadaan dilakukan, berapa banyak, dan frekuensi pengadaan untuk mendapatkan bantuan
kemanusiaan dengan biaya pengadaan yang paling efisien.

Bantuan kemanusian yang diperoleh dari kegiatan pengadaan selanjutnya disimpan di
gudang. Transportasi dan distribusi bantuan kemanusiaan ke penerima di lokasi terdampak
pada saat bencana. Bantuan kemanusiaan yang diperoleh dari bantuan luar negeri
memerlukan proses pengurusan customs.

Siklus rantai pasokan bantuan kemanusiaan terus bergulir, untuk mengisi stock di gudang
penyimpanan dan memenuhi kebutuhan dalam rangka penanggulangan bencana. Evaluasi
dan monitoring perlu dilakukan untuk memastikan kelancaran arus bantuan kemanusiaan,
informasi, dan keuangan yang merupakan tiga pilar penting dalam setiap proses manajemen
rantai pasokan.

Perbaikan Logistik Bantuan Kemanusiaan

Misi utama logistik penanggulangan bencana adalah menyediakan bantuan kemanusiaan
secara cepat dan tepat. Cepat menjangkau sasaran penerima ke lokasi terdampak bencana.
Tepat waktu sesuai kebutuhan tanggap darurat untuk meminimalkan korban jiwa dan
kerugian.

Desain logistik perlu disiapkan untuk kesiapsiagaan (preparedness) menghadapi bencana.
Pemetaan potensi bencana di setiap daerah untuk memeroleh informasi jenis, karakteristik,
dan potensi risiko terdampak bencana. Setiap bencana memerlukan kebutuhan bantuan

kemanusiaan yang berbeda. Bencana kebakaran hutan misalnya, memerlukan bantuan
kemanusiaan berupa masker, sementara bencana banjir memerlukan pakaian. Berdasarkan
pemetaan tersebut, selanjutnya didesain jaringan logistik untuk penanggulangan bencana
yang mencakup:

  1. Desain pergudangan: jumlah, lokasi, kapasitas, dan spesifikasi gudang. Gudang
    diperlukan untuk menyimpan bantuan kemanusiaan dan peralatan untuk
    penanggulangan bencana. Selain untuk penyimpanan, gudang difungsikan sebagai
    hub dan cross-docking barang-barang bantuan kemanusiaan dan peralatan. Dalam
    kondisi tertentu, seringkali diperlukan gudang berpendigin (cold storage) untuk
    menyimpan bantuan kemanusian berupa vaksin dan obat-obatan. Jumlah dan lokasi
    gudang penyimpanan bantuan kemanusiaan perlu ditetapkan dengan optimal untuk
    kecepatan dalam merespon penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat
    (emergency).
  2. Desain jaringan transportasi dan distribusi: perencanaan rute, skedul, dan moda
    transportasi untuk distribusi bantuan kemanusiaan secara cepat dan tepat ke lokasi
    penerima terdampak.

Pengadaan bantuan kemanusiaan sebaiknya dilakukan secara cermat, tidak hanya bersumber
dari APBN, namun perlu melibatkan dunia usaha dan masyarakat secara luas. Kepedulian dan antusias dunia usaha dan masyarakat untuk berkontribusi dalam pemberian bantuan
kemanusiaan pada saat bencana perlu dikelola dengan baik.

Pengumpulan bantuan kemanusiaan dari dunia usaha dan masyarakat dapat dilakukan setiap
hari, sepanjang tahun. Tidak hanya sporadis ketika bencana terjadi. Penentuan jenis bantuan
kemanusiaan dan standardisasi kemasan perlu disampaikan.

Pengkomunikasian jenis bantuan kemanusiaan yang tepat sesuai karakteristik bencana perlu
disampaikan ke masyrakat agar pemberian donasi bantuan kemanusiaan sesuai kebutuhan.

Demikian pula standar kemasan bantuan kemanusiaan, selain kemasan yang cukup kuat
untuk melindungi isi bantuan kemanusiaan, juga standar kemasan akan dapat memudahkan
dalam penanganan proses logistik pada saat transportasi, bongkar muat, maupun
penyimpanan.

Sering terjadi pada saat bencana pengiriman bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar
dengan lead time yang sangat ketat, kondisi infrastruktur transportasi mungkin terganggu,
sehingga dapat memengaruhi kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan. BNPB sebagai
badan pemerintah yang menyelenggarakan penanggulangan bencana perlu melakukan
koordinasi dan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan penyedia jasa transportasi, baik
transportasi darat, laut, dan udara. Demikian juga koordinasi dan kerjasama dengan bandar
udara, pelabuhan, dan customs untuk kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan.

***

Logistik memilik peran penting dalam upaya penanggulangan bencana terutama pada saat
prabencana, kesiapsiagaan, dan respon penanganan bencana. Pengelolaan logistik yang
efektif, efisien, dan andal menjadi faktor penting dalam penanggulangan bencana.

Logistik penanggulangan bencana perlu melibatkan banyak pihak untuk mengurangi risiko
dampak bencana. Sinergi dan kolaborasi dari pemerintah, BUMN dan perusahaan swasta di
sektor penyedia jasa logistik perlu dibangun. Pemanfaatan seluruh kapasitas dan kapabilitas
BUMN sektor logistik dapat dilakukan pada setiap tahapan proses logistik penanggulangan
bencana, mulai dari prabencana, darurat, dan pascabencana.

Dampak risiko bencana dapat diminimalkan dengan perencanaan, implementasi, dan
pengendalian sistem logistik penanggulangan bencana yang efektif. Keberhasilan
penanggulangan bencana merupakan salah satu wujud kehadiran negara dan kepedulian
dunia usaha, masyarakat, dan semua komponen bangsa untuk bersama mengatasi
penderitaan warga dan keluarga terdampak bencana dengan uluran bantuan kemanusiaan.
Humanitarian logistics memainkan peran penting dalam penanggulangan bencana. Sisi lain
peran logistik untuk kehidupan (logistics for life).

Jakarta, 7 Desember 2017.

Dr. Zaroni, CISCP, CFMP – Logistik dan Supply Chain Management

Dr, Zaroni CISCP, CFMP – Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Materi :

  1. Manajemen Logistik dan Penanggulangan Bencana 
  2. Daya Saing Perusahaan Penyedia Jasa Logistik Nasional

Catatan : Apabila meng copy materi tersebut, tidak lupa menuliskan sumbernya