Posts

Mengelola Piutang

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistik Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Mengelola Piutang

Umumnya, perusahaan penyedia jasa logistik melayani pelanggan kategori bisnis atau sering dikenal dengan Business to Business (B2B). Karakteristik pelanggan B2B ini adalah melakukan pembelian secara kredit. Bagi perusahaan penyedia jasa logistik, penjualan secara kredit akan menimbulkan piutang. Piutang merupakan sumber utama modal kerja perusahaan. Piutang menjadi sumber likuiditas perusahaan untuk mendanai kegiatan operasional. Pengelolaan piutang yang efektif akan dapat menjamin ketersediaan kas untuk menjaga likuiditas dan kelangsungan operasional perusahaan.

Sebagian besar perusahaan melakukan transaksi penjualan barang dan jasa ke pelanggannya secara kredit. Kebijakan penjualan secara kredit selain memberikan manfaat bagi pelanggan – karena mereka dapat memperoleh barang dan jasa terlebih dahulu, baru pelanggan melakukan pembayaran kemudian, juga perusahaan dapat mengikat pelanggan dalam jangka panjang melalui perjanjian kerjasama.

Penjualan barang dan jasa secara kredit umumnya didasarkan pada kesepakatan dalam kontrak yang menyebutkan ketentuan dan syarat pembayaran (term of payment). Ketentuan term of payment (ToP) “Net 30”, artinya pembayaran dilakukan dalam waktu sampai 30 hari dari tanggal invoice. Net 30 bisa diganti dengan Net 15 atau Net 40.

Ketentuan term of payment dapat juga dinyatakan dalam “2/10, Net 30”, artinya pembeli akan mendapatkan diskon sebesar 2% bila pembeli melakukan pembayaran dalam waktu 10 hari sejak tanggal invoice, dan jatuh tempo seluruh pembayaran sampai 30 hari sejak tanggal invoice.

Bagi perusahaan sebagai pembeli, keputusan apakah akan menggunakan diskon atau tidak dapat didasarkan pada pertimbangan cost of fund. Dalam term of payment 2/10, Net 30, misalnya, perusahaan dapat menghitung effective annual rate (EAR). Contoh, transaksi pembelian Rp100 juta, dengan ToP 2/10, Net 30, bila perusahaan mengambil diskon, maka perusahaan harus melakukan pembayaran maksimal 10 hari sejak tanggal invoice agar mendapatkan diskon 2% x Rp100 juta = Rp2 juta. Dalam hal ini perusahaan hanya membayar sebesar Rp100 juta – Rp2 juta = Rp98 juta.

Perusahaan akan membandingkan apakah mengambil diskon 2% dengan pinjam modal kerja dari bank atau tidak mengambil diskon. Perhitungan effective annual rate (EAR) sebagai berikut:

  • Mengambil diskon 2%, dengan pinjam modal kerja dari bank Rp98 juta, interest rate selama (30 – 10 = 20 hari) adalah Rp 2 juta/Rp98 juta = 2,04%, maka EAR selama 365 hari adalah: EAR = (1 + r)n -1 atau EAR = (1,0204)365/20 – 1 = 44,6%.
  • Bila interest rate pinjaman modal kerja bank rata-rata per tahun 11%, maka perusahaan sebaiknya mengambil diskon 2% tersebut, dengan cara pinjam modal kerja Rp98 juta selama jangka waktu 20 hari, dengan membayar bunga pinjaman 2% x 20/365 x Rp98 juta = 397, jauh lebih kecil daripada Rp2.000.000 dari diskon yang diperoleh.

Akuntansi Piutang

Penjualan barang dan jasa secara kredit akan berimplikasi piutang (receivable). Piutang merupakan aset lancar perusahaan yang cukup signifikan. Implikasinya, perusahaan harus memberikan perhatian serius terhadap pengelolaan piutang. Piutang yang telah tertagih menjadi sumber penerimaan kas untuk menjaga likuiditas perusahaan.

Istilah piutang merujuk hak perusahaan atas sejumlah nilai tagih yang telah jatuh tempo baik dari individual maupun perusahaan. Piutang diharapkan dapat ditagih untuk menjadi kas.

Dari perspektif keuangan, piutang dikelompokkan berdasarkan estimasi jangka waktu tertagihnya. Berdasarkan jangka waktu penagihan piutang, piutang dibedakan menjadi piutang lancar (current receivables) dan piutang tidak lancar atau jangka panjang (non-current receivables).

Piutang lancar atau piutang jangka pendek merupakan piutang yang diharapkan dapat tertagih dalam waktu paling lama satu tahun, atau sesuai siklus operasi perusahaan, mana yang lebih cepat. Sementara piutang tidak lancar atau piutang jangka panjang merupakan piutang yang diperkirakan tidak dapat tertagih dalam waktu 1 tahun atau siklus operasi perusahaan.

Selain pengelompokkan piutang berdasarkan jangka waktu penagihan, perusahaan juga mengelompokkan piutang berdasarkan jenis piutang atau sumber piutang: (1) piutang yang berasal dari kegiatan operasional bisnis (trade receivable) dan (2) piutang yang berasal bukan dari operasional bisnis (non-trade receivable).

Trade receivable, umumnya nilainya cukup signifikan, perusahaan membaginya ke dalam piutang dagang (accounts receivable) dan piutang wesel atau wesel tagih (notes receivable). Bedanya accounts receivable dengan notes receivable, kalau accounts receivable hanya didasarkan pada tagihan (invoice) yang menyebutkan hak tagih perusahaan atas sejumlah nilai nominal tertentu sesuai dengan jatuh tempo term of payment yang disepakati dalam transaksi penjualan barang dan jasa. Sementara notes receivable, hak tagih perusahaan dinyatakan secara tertulis dalam promissory note yang menyebutkan nilai nominal, tanggal jatuh tempo, dan tingkat bunga.

Isu accounting yang terkait dengan accounts receivable mencakup: (1) Pengakuan accounts receivable dan (2) Penilaian dan pelaporan accounts receivable.

Pengakuan accounts receivable. Prinsipnya, pencatatan pengakuan accounts receivable dilakukan pada saat barang diserahkan dan jasa diselesaikan. Pada perusahaan jasa, pencatatan pengakuan accounts receivable dilakukan dengan mendebit Accounts Receivable dan mengkredit Revenue. Sementara pada perusahaan dagang dan manufaktur, pencatatan pengakuan accounts receivable dilakukan dengan cara mendebit Accounts Receivable dan mengkredit Sales.

Penilaian dan pelaporan accounts receivable. Manakala perusahaan telah mencatat pengakuan accounts receivable atas penjualan secara kredit, persoalan berikutnya adalah bagaimana menilainya atau mengukurnya pada pelaporan keuangan di Laporan Posisi Keuangan. Perusahaan melaporan account receivable sebagai aset lancar pada Laporan Posisi Keuangan. Penentuan berapa nilai accounts receivable yang harus dicatat didasarkan pada nilai accounts receivable yang diperkirakan dapat ditagih (net realizable value). Standar akuntansi keuangan mensyaratkan bahwa accounts receivable dilaporkan sebagai aset lancar dalam Laporan Posisi Keuangan sesuai dengan net realizable value.

Berdasarkan standar akuntansi keuangan ini, perusahaan mengalokasikan provisi atas nilai accounts receivable yang diperkirakan tidak dapat tertagih. Pertimbangannya, tidak semua accounts receivable perusahaan dapat ditagih pada saat jatuh tempo sesuai dengan kesepakatan term of payment dengan pelanggan.

Dalam beberapa kondisi, perusahaan mengalami kesulitan untuk melakukan penagihan accounts receivable. Penyebabnya antara lain, pelanggan mengalami kesulitan likuiditas, sehingga pelanggan tidak dapat membayar kewajiban penyelesaian piutang tepat waktu. Selain itu, banyak piutang yang tidak dapat ditagih karena ketidaklengkapan administrasi kontrak transaksi penjualan, keakuratan dan kelengkapan lampiran invoice, dan lain-lain.

Provisi atas piutang yang tidak dapat ditagih menggunakan dua metode (Kimmel, Weygandt, dan Kieso, 2017), yaitu: (1) metode penghapusan langsung (direct write-off method), dan (2) metode pencadangan (allowance method).

Pada metode penghapusan langsung, perusahaan melakukan penghapusan langsung atas piutang yang diperkirakan tidak dapat ditagih per pelanggan. Penghapusan langsung atas piutang yang tidak dapat ditagih dengan mendebit sebagai bad debt expense dan mengkredit accounts receivable pelanggan. Metode ini mencatat penghapusan piutang secara langsung sesuai nilai aktual kerugian dari piutang pelanggan yang diperkirakan tidak dapat ditagih.

Penggunaan metode langsung dalam pencatatan uncollectible accounts akan dapat mengurangi nilai kegunaan informasi akuntansi, baik dalam laporan posisi keuangan maupun laporan laba rugi komprehensif. Karenanya, standar akuntansi tidak membolehkan menggunakan metode direct write- off ini dalam pencatatan uncollectible accounts.

Umumnya penghitungan berapa estimasi uncollectible accounts dapat didasarkan pada nilai penjualan atau nilai piutang.

Penghitungan uncollectible accounts dari penjualan dengan pertimbangan bahwa dari penjualan kredit total selama tahun berjalan, berapa persen yang diperkirakan tidak dapat tertagih. Nilai penjualan kredit tahun berjalan yang tidak dapat tertagih ini selanjutnya diperhitungkan sebagai “Beban Penyisihan Piutang” atau “Bad Debts Expense” dan menambahkan “Cadangan Penyisihan Piutang” atau “Allowance for Doubtful Accounts”.

Sementara penghitungan uncollectible accounts dari piutang didasarkan pada persentase dari umur piutang (aging the accounts receivable). Perusahaan perlu menyiapkan daftar umur piutang per pelanggan, kemudian menentukan persentase piutang yang diperkirakan tidak dapat tertagih dari setiap kelompok umur piutang.

Contoh penghitungan uncollectible accounts dari umur piutang. PT Jasa Logistik Indonesia (JLI) menyusun Daftar Umur Piutang untuk menentukan estimasi piutang yang tidak dapat tertagih posisi 31 Desember 2017. Kebijakan akuntansi PT Jasa Logistik Indonesia menetapkan persentase piutang yang tidak dapat teragih sesuai kelompok umur piutang sebagai berikut:

Berdasarkan tabel tersebut, estimasi piutang tidak tertagih total posisi 31 Desember 2017 sebesar Rp2.228. Bila saldo “Allowance for doubtful accounts” PT Jasa Logistik Indonesia per 31 Desember 2017 sebesar saldo kredit Rp528, “Allowance for Doubtful Accounts” di-adjust sebesar Rp1.700 (Rp2.228 – 528), maka JLI mencatat jurnal penyesuaian sebagai berikut:

Manajemen piutang
Perusahaan perlu mengelola piutang secara efektif. Piutang yang tidak tertagih akan mengganggu likuiditas perusahaan. Perusahaan menggantungkan sumber penerimaan kasnya dari penagihan piutang.

Berk dan DeMarzo (2017) memberikan panduan pengelolaan piutang sebagai berikut:
1. Menetapkan kebijakan kredit.
2. Menetapkan ketentuan term of payment.
3. Menetapkan kebijakan penagihan piutang.

Kebijakan kredit. Perusahaan perlu menetapkan kebijakan kredit dalam keputusan transaksi penjualan kepada pelanggan. Transaksi penjualan merupakan hasil closing proses penjualan yang dilakukan oleh tim sales force perusahaan. Dalam memberikan fasilitas pembayaran kredit, perusahaan perlu memastikan tingkat risiko kredit setiap pelanggan.

Analisis risiko kredit pelanggan didasarkan pada pertimbangan antara lain tingkat likuiditas pelanggan, prospek dan risiko bisnis pelanggan, rekam jejak pelanggan, dan bila memungkinkan perusahaan agar mendapatkan informasi peringkat kredit (credit rating) pelanggan.

Ketentuan term of payment. Kebijakan berapa lama jangka waktu pembayaran seringkali didasarkan pada siklus operasi atas transaksi penjualan barang dan jasa. Pada perusahaan dagang, siklus operasi mulai dari saat pembelian merchandise inventory sampai dengan transaksi penjualan. Kebijakan penetapan ToP umumnya dapat ditentukan dengan pasti, misalnya 10 hari, 20 hari, atau 30 hari sejak tanggal invoice.

Pada perusahaan manufaktur, siklus operasi lebih lama, karena dimulai dari pembelian raw material, proses produksi, sampai transaksi penjualan finished goods. Kebijakan penetapan ToP pada perusahaan manufaktur agar memperhitunghkan kecukupan modal kerja perusahaan. Umumnya, perusahaan manufaktur menetapkan kebijakan ToP “Net 30”.

Sementara perusahaan jasa, siklus operasinya relatif bervariasi, tergantung pada jenis jasanya. Pada perusahaan logistik, siklus operasi dimulai pada saat pick-up sampai penyerahan kiriman di lokasi penerima. Siklus operasi perusahaan logistik bisa 10 hari, 30 hari, bahkan sampai 40 hari. Penetapan ToP pada perusahaan jasa umumnya 15 hari dan30 hari.

Kebijakan term of payment perlu mempertimbangkan kebijakan diskon. Diskon diberikan kepada pelanggan dengan maksud untuk mempercepat pembayarannya. Perusahaan perlu menetapkan kebijakan diskon baik ketentuan berapa persentase diskon maupun periode diskon.

Kebijakan penagihan piutang. Manakala barang telah diserahkan atau pekerjaan telah selesai dilaksanakan, perusahaan mengirimkan invoice kepada pelanggan. Perusahaan perlu memonitor pembayaran tagihan dari pelanggan dan menetapkan unit atau pihak mana yang secara intensif melakukan tugas penagihan ke pelanggan.

Pengukuran kinerja pengelolaan piutang
Perusahaan perlu mengukur kinerja pengelolan piutang. Pengukuran kinerja pengelolaan piutang dilakukan dengan evaluasi kinerja accounts receivable days dan aging schedule.

Accounts receivable days. Accounts receivable days atau sering dikenal dengan collection periods merupakan rata-rata jumlah hari piutang yang dihitung sejak tanggal invoice sampai dengan penerimaan kas dapat diperoleh dari penagihan piutang. Jika kebijakan term of payment katakanlah “Net 30”, namun ternyata rata-rata outstanding piutang 50 hari, maka pelanggan terlambat 20 hari dalam melakukan pembayaran tagihan.

Accounts receivable days dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: (kiri) Sementara receivable turnover ratio dihitung dengan cara (kanan)

Accounts receivable days menunjukkan likuiditas dan efektivitas pengelolaan piutang. Semakin kecil
accounts receivable days, maka perusahaan semakin likuid dan efektif dalam mengelola piutangnya.

Aging schedule. Aging schedule mengelompokkan piutang berdasarkan kategori umur piutang. Aging schedule sebaiknya disusun secara periodik. Perusahaan harus memonitor aging schedule untuk memastikan efektivitas pengelolaan piutang.

Contoh aging schedule disajikan sebagai berikut:

Perusahaan dapat menganalisis efektivitas pengelolaan piutang berdasarkan aging schedule tersebut. Bila persentase piutang lebih banyak kategori “bottom-heavy”, yaitu days outstanding lebih dari 31 hari, sementara ToP-nya Net 30, maka perusahaan perlu segera melakukan evaluasi dan perbaikan atas pemberian kredit, ketentuan term of payment, dan penagihan piutang.

 

Zaroni, Indonesia Masih Sulit Temukan Produk Halal

Dr. Zaroni Samadi, Peneliti Senior Supply Chain Indonesia mengatakan produk yang ada sekarang hanya dijamin halal dari isi produk. “Saya belum menemukan makanan bisa halal atau tidak dan menjamin proses logistik dari angkutan sampai kontainer yang halal prosesnya,” katanya kepada Bisnis, Minggu (6 Mei 2018).

“Ternyata, sampai saat ini sulit menemukan makanan halal sesuai syariat Islam yang benar-benar terjamin dari ladang sampai dihidangkan di meja makan” ungkap Dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana FTI UII tersebut

Berdasarkan syariat ajaran agama, produk yang boleh dimakan memiliki kriteria halal dari sisi zat yang sudah ditetapkan berdasarkan kitab suci. Bukan hanya itu, makanan tersebut juga halal dari cara perolehan dan pengolahannya.

Jika ditafsir lebih dalam, ini berarti pangan yang halal mencakup rangkaian kegiatan untuk penyediaan bahan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, penjualan, dan penyajian produk.

Zaroni menjelaskan permintaan produk halal di Indonesia sangat besar. Berdasarkan data State of the Global Islamic Economy tahun 2016/2017, pada 2015 pertumbuhan pasar halal dunia mencapai US$1,9 triliun.

Sementara itu tahun 2019 diharapkan bisa tumbuh di kisaran US$2,54 triliun atau 21,2% dari total belanja dunia. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia belum melihat potensi besar ini.

Masih berdasarkan penelitian yang sama, Indonesia berada pada posisi ke-10 dengan poin 36 sebagai negara industri halal. Posisi Ini kalah jauh dari Malaysia yang berada di tempat pertama dengan skor 121.

Diberitakan Bisnis

Jerri Irgo

Tren Hijab: Perspektif Supply Chain & Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

Dalam satu dekade terakhir, kita menyaksikan kaum perempuan banyak memakai hijab. Hijab tidak hanya menunjukkan jati diri pemakainya sebagai muslimah, namun hijab telah menjadi bagian dari fashion yang semakin stylish, trendi, modern, dan colorful. Semakin banyak wanita muslimah memakai hijab ketika pergi ke sekolah, kampus, kantor, pasar, mal, dan bersosialisasi dengan komunitas. Hijab tidak sekadar kerudung, namun hijab sebagai busana muslimah sesuai kaidah-kaidah ajaran Islam. Fenomena seperti ini berbeda sepuluh atau lima belas tahun lalu. Dulu pemakai hijab identik dengan santriwati atau ibu-ibu yang memakainya saat pengajian.

Menarik untuk kita cermati, banyaknya pemakai hijab ini tidak lepas dari perubahan nilai-nilai yang terjadi pada konsumen muslim, utamanya konsumen muslim kelas menengah (Yuswohady et al, 2015). Menurut Yuswohady, ada dua perubahan nilai-nilai yang paling mendasar pada konsumen kelas menengah muslim saat ini.

Pertama, semakin pentingnya nilai-nilai religiusitas dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran kaum muslim untuk menerapkan syariah ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari semakin meningkat, termasuk kesadaran dalam memakai hijab bagi kaum perempuan. Selain itu, kita juga melihat kaum muslim semakin menyadari pentingnya pilihan produk makanan-minuman dan kosmetik yang halal dan thoyib – berkualitas baik dan hygienic.

Kedua, terjadinya fenomena kaum muslimah memakai hijab karena didorong oleh cara berpikir yang semakin terbuka terhadap berbagai perubahan yang ada, seperti teknologi dan fesyen. Wawasan atau pengetahuan perempuan muslim yang semakin tinggi dan koneksi sosial yang luas membuat pola pikir mereka semakin terbuka. Keterbukaan dalam cara berpikir ini memengaruhi mereka dalam memilih produk dengan pertimbangan rasional dan memerhatikan kaidah-kaidah ajaran Islam.

Selain itu, di tempat kerja, sekolah, kampus, bahkan kini di lingkungan kerja TNI dan Polri semakin menerima dan toleran terhadap pemakai hijab. Tidak ada lagi larangan dan batasan perempuan muslimah yang berhijab. Akibatnya, kini kita menyaksikan hampir sebagian besar perempuan muslimah memakai hijab untuk berbagai aktivitas. Hijab telah menjadi suatu kebutuhan dan kesadaaran.

Permintaan hijab yang semakin meningkat mendorong penawaran produk hijab yang beragam. Baik dari kualitas, mode, motif, maupun harga. Permintaan telah menciptakan penawaran, demikian ekonom John Maynard Keynes (1883 – 1946) pernah berujar. Kenaikan permintaan hijab memicu pasar untuk memproduksi hijab, mulai dari produksi skala home industry, usaha kecil dan menengah sampai produksi pabrikan. Bahkan kita menyaksikan berbagai busana muslimah bermerek bermunculan seperti Dian Pelangi, Aprilia, Normamoi, Irna La Perle, Zoya, Shafira, Rabbani, Ukhti, dan lain-lain. Produk busana muslimah dengan merek-merek ini sangat diminati pasar, sehingga harganya pun cukup mahal.

Kunci Keberhasilan

Di Indonesia, pasar produk hijab – termasuk busana muslimah memang sangat menarik. Tidak saja karena populasi perempuan muslimah yang cukup besar di negeri ini (kini jumlah konsumen muslim mencapai 87% dari seluruh penduduk Indonesia) serta kesadaran perempuan muslimah untuk memakai busana muslim, namun saat ini banyak penduduk muslim berada di kelas menengah (middle-class Muslim). Mereka, konsumen muslim kelas menengah ini, memiliki daya beli, wawasan, pengetahuan, dan komunitas sosial yang luas, sehingga permintaan produk hijab, kosmetik, dan asesoris busana muslimah yang berkualitas dan brand ternama terus meningkat.

Produk hijab telah memberikan banyak kesempatan bagi pengusaha kecil dan pemula (start- up) untuk memproduksi dan memasarkan hijab dan busana muslimah. Lapangan kerja pun terbuka, karena sebagian besar hijab dan busana muslimah diproduksi dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja, mulai dari desainer, penjahit, distributor, dan penjual retailer.

Permintaan produk hijab dan busana muslimah tetap ada dan kecenderungannya semakin meningkat. Tingkat kompetisi produsen hijab dan busana muslimah pun semakin tinggi dengan banyaknya pelaku usaha di produk ini. Karenanya, produsen produk hijab dan busana muslimah perlu meningkatkan keunggulan daya saingnya agar produknya tetap diminati konsumen.

Bagaimana meningkatkan daya saing produk? Porter (1985), ahli manajemen strategi dari Harvard University, memberikan nasihat bahwa untuk unggul dalam pasar, produk harus unik (differentiation) dan diproduksi dengan biaya rendah (cost leadership).

Produk dikatakan unik bila konsumen pemakai produk tersebut memposisikan berbeda dengan produk lain yang ditawarkan oleh produsen lain. Keunikan produk ini bisa disebabkan oleh kualitas, karakteristik produk, bahan baku produk, motif, corak warna, mode, style, dan lain-lain. Terlebih produk fashion, keunikan produk menjadi hal penting.

Selain produk harus unik, produsen harus mampu memproduksi suatu produk dengan biaya yang paling rendah. Biaya rendah memungkinkan produsen memeroleh margin yang mencukupi meski dengan harga jual yang sama dengan pesaing. Dengan margin yang memadai, produsen dapat mengalokasikan bagian margin ini untuk riset, pengembangan, dan inovasi produk.

Saat ini, keunggulan daya saing produk tidak cukup hanya kualitas dan biaya yang rendah. Dalam perspektif supply chain dan logistics, selain produk yang berkualitas dan biaya yang rendah, perusahaan harus responsif, andal (reliable), dan lincah (agile) dalam memenuhi dan mengantisipasi perubahan pasar (Fernie & Spark, 2014).

Produk hijab dan busana muslimah termasuk kategori produk fashion. Produk fashion selain memberikan manfaat fungsional, produk fashion harus mewakili aspirasi dan nilai-nilai pemakainya. Dalam beberapa konsumen, bahkan produk fashion menunjukkan kemewahan (luxury).

Pengusaha produk hijab dan busana muslimah perlu menetapkan siapa target konsumennya untuk perumusan strategi positioning, branding dan differentiation produk. Pemahaman nilai-nilai (psychographics), perilaku (behavior) dari konsumen pemakai hijab dan busana muslimah menjadi hal penting, tidak sekadar data demografis seperti kelompok umur, status sosial dan ekonomi, pekerjaan, pendidikan, dan lain-lain. Kondisi demografis bersifat statis dan kurang insightful untuk perumusan strategi dan program branding.

Dari analisis target konsumen ini, selanjutnya menjadi referensi tim produksi dalam membuat produk hijab dan busana muslimah sesuai dengan kualitas produk yang diinginkan dari target konsumen. Konsumen muslim kelas menengah, umumnya mereka menginginkan hijab dan busana muslimah dengan kualitas bahan baku yang baik, desain, warna, dan style yang memberikan rasa kenyamanan dan kemewahan bila dipakai.

Pilihan bahan baku yang tepat menjadi kunci keberhasilan dalam menghasilkan produk hijab dan busana muslimah yang memenuhi selera target konsumen. Selain itu, kontinuitas pasokan dan keandalan pemasok bahan baku seperti kain, aksesoris, kemasan, dan lain-lain, menjadi perhatian pengusaha produk hijab agar bahan baku dapat memenuhi standar kuantitas, kualitas, dan ketepatan waktu untuk proses produksi.

Bahan baku yang kurang berkualitas akan mengakibatkan banyak produk defect. Kuantitas pasokan bahan baku yang tidak tepat akan mengganggu produksi. Bahan baku yang overstock akan berisiko rusak atau hilang, selain tentu saja mengakibatkan modal kerja yang idle. Demikian juga understock, produksi akan terganggu karena kekurangan pasokan bahan baku pada saat dibutuhkan.

Jadwal kedatangan bahan baku yang terlambat akan mengakibatkan produksi terhenti, karena harus menunggu bahan baku. Bahan baku yang tiba terlalu cepat akan menimbulkan biaya penyimpanan bahan baku yang lebih besar, selain risiko kerusakan, kehilangan, dan penurunan kualitas bahan baku. Karenanya, ketepatan pengiriman bahan baku menjadi hal penting dalam keberhasilan produksi produk hijab dan busana muslimah.

Untu menjamin pasokan dan kualitas bahan baku, pengusaha produk hijab perlu membangun kemitraan dengan pemasok dalam jangka panjang, tidak sekadar hubungan bisnis transaksional. Secara berkala perlu dilakukan evaluasi dan perbaikan hubungan kemitraan, baik evaluasi kualitas, kuantitas, harga, dan ketepatan pengiriman bahan baku.

Umumnya, banyak pengusaha produk hijab dan busana muslimah memilih strategi “maklon”, yaitu pengusaha mensubkontrakkan pekerjaan pembuatan produk ke pihak lain, sementara pemilihan bahan baku, desain, dan standar kualitas produk jadi ditetapkan dan diawasi oleh pemberi kerja, dalam hal ini pemegang merek produk. Strategi maklon ini dapat membuka kesempatan kerja yang luas dengan melibatkan para ibu rumah tangga untuk menjadi mitra maklon. Pengusaha produk hijab perlu melakukan pemilihan mitra maklon dan penerapan standar kualitas produk hijab yang diproduksi oleh maklon.

Berapa banyak produk hijab dan busana muslimah yang harus diproduksi sangat bergantung pada peramalan permintaan produk. Penggunaan data pasar, data historis, dan data permintaan musiman (seasonal), seperti tahun ajaran sekolah atau perkuliahan, bulan puasa,
lebaran, dan musim umrah/haji, menjadi referensi penting dalam penentuan kuantitas produksi hijab dan busana muslimah.

Produk hijab dan busana muslimah sangat dipengaruhi oleh trend dan mode, sesuai dengan selera konsumen. Ada produk hijab dan busana muslimah dengan mode, desain, dan corak yang awet (everlasting), sehingga menjadi mode legacy dan legenda. Produk seperti ini dapat diproduksi sepanjang masa. Sebaliknya, produk hijab yang desainnya kekinian sangat terpengaruh oleh selera konsumen, sehingga kecepatan dalam merespon selera konsumen, lalu mewujudkannya menjadi produk hijab dan busana muslimah yang dapat dibeli konsumen sesuai market timing, merupakan kunci keberhasilan bisnis produk ini.

Pengusaha produk hijab dan busana muslimah sebaiknya membangun dan mengelola brand produk dengan tepat. Brand produk mewakili persepsi dan positioning seperti yang diharapkan konsumen. Sejatinya, banyak konsumen lebih memilih brand dalam memutuskan pembelian suatu produk. Karenanya, pengelolaan brand menjadi penting. Pengelolaan brand ini harus konsisten, artinya antara yang dijanjikan (promise) dengan yang disampaikan (deliver) harus selaras.

Selain brand, untuk mengadvokasi dan mendorong pemakaian produk hijab dengan brand anda, ada baiknya mengajak artis, ustadzah, atau tokoh tertentu yang menjadi role model untuk meng-endorse produk hijab anda. Ini penting untuk meng-endorse target konsumen muda metropop. Banyak sederet nama artis yang telah mengenakan hijab dan menjadi trendsetter seperti Dewi Sandra, Inneke Koesherawati, Zaskia Adya Mecca, Nuri Maulida, Zaskia Sungkar, Risty Tagor, dan lainnya. Mereka dapat banyak dijadikan endorse suatu produk hijab brand tertentu, khususnya produk hijab luxury.

Bila anda yang masih pengusaha pemula, tentu tidak perlu harus mengeluarkan banyak biaya untuk iklan dengan endorse para artis tersebut. Anda bisa memanfaatkan celebrities lokal seperti siswi atau mahasiswi berprestasi di kampus, untuk meng-endorse brand produk hijab anda.

Membangun komunikasi dengan target konsomen hijaber ini perlu dilakukan. Anda sebaiknya masuk di komunitas hijaber baik online maupun offline, untuk mendengarkan aspirasi, keinginan, harapan, dan penilaian mereka atas suatu produk hijab dan busana muslimah.

Setelah brand dan membangun komunikasi dengan pelanggan, keberhasilan bisnis produk hijab dan busana muslimah ditentukan oleh keandalan dan jangkauan distribusi. Anda perlu menetapkan strategi distribusi dengan tepat. Pemilihan model saluran distribusi, baik melalui online maupun distribusi konvensional perlu mempertimbangkan target pasar yang anda tuju.

Yuswohady mengungkapkan bahwa salah satu perubahan penting pada nilai-nilai konsumen kelas menengah muslim adalah tingginya koneksi sosial (high socially-connected). Penyebabnya adalah pendidikan tinggi dan pergaulan yang luas. Mereka aktif di berbagai komunitas hijab dan banyak berinteraksi di dunia internet. Salah satu perilaku menarik mereka adalah perilaku membeli secara online.

Yuswohady menambahkan, mereka pun tidak sekadar memiliki marketplace di internet, tapi juga gerai fisik seperti toko atau butik. Menariknya, seperti yang disampaikan pendiri Hijup.com, Diajeng Lestari, bahwa tipe pembeli konsumen Indonesia tidak hanya bisa memesan di online shop, melainkan juga perlu melihat dan mengecek kualitas sendiri barang yang akan dibeli. Karenanya, selain anda menjual produk hijab dan busana muslimah di marketplace, anda tetap harus memiliki outlet yang buka setiap hari untuk melayani pembeli konsumen.

Penjualan produk hijab dan busana muslimah melalui online mensyaratkan keandalan pengiriman produk ke alamat penerima secara tepat. Anda bisa menjalin kerjasama dengan kantor pos atau perusahaan kurir lainnya untuk mempercayakan pengiriman produk hijab anda ke konsumen.

Peningkatan penjualan produk hijab anda dilakukan melalui program pemasaran yang efektif seperti membangun brand, meng-endorse brand, menyelenggarakan event, tutorial memakai hijab, membangun komunikasi dengan pelanggan dan hijabers community, serta menjaga keandalan distribusi dan pengiriman produk, sehingga produk hijab anda selalu tersedia di pasar dan diterima konsumen tepat waktu. Integrasi pemasaran dengan supply chain dan logistics menjadi kunci keberhasilan bisnis hijab dan busana muslimah.

***

Menarik untuk disampaikan hasil penelitian Gallup pada tahun 2009, Indonesia masuk dalam daftar 10 negara paling religius. Gallup menemukan bahwa 99 persen orang Indonesia menilai agama merupakan hal penting dalam kehidupan keseharian mereka. Gallup menyebut Indonesia sebagai paradoks. Mengapa? Umumnya, demikian kata Gallup, ketika suatu negara mengalami peningkatan pendapatan per kapita, maka masyarakat di dalamnya akan semakin sekuler.

Pandangan ini tidak terjadi di Indonesia. Tatkala penduduk Indonesia semakin meningkat pendapatannya, mereka justru semakin religius. Agama dinilai sebagai faktor penting dalam kehidupan sehari-hari mereka. Fenomena ini kita saksikan dalam tren perempuan muslimah berhijab, seiring dengan semakin banyak penduduk muslim kelas menengah.

Tren berhijab mendorong semakin banyak pengusaha memasuki bisnis produk hijab dan busana muslimah. Peluang ini perlu diwujudkan dengan membangun dan mengembangkan bisnis produk hijab dan busana muslimah dengan mengintegrasikan pemasaran dan supply chain management. Logistik berperan penting di dalamnya untuk memastikan perencanaan produksi, keandalan pasokan bahan baku, proses produksi, distribusi, dan pengiriman produk hijab dan busana muslimah dengan tepat.

Bandung, 18 Maret 2018,

Artikel ini saya tulis untuk Jerri Irgo, Merisha Hastarina dan Hijab Start-up Entrepreneurs

Tren Industri Jilbab di Indonesia

Tidak pantas rasanya bagi kita untuk melupakan perintah-Nya jika kita ingin selalu diingat-Nya. Tidak pantas rasanya jika membuka aurat kita, jika kelak kita ingin bertemu dengan yang Maha Suci. Tidak kah kita merasa malu jika menginginkan begitu banyak kebahagiaan dan cinta dari- Nya, tanpa memberikan apapun bahkan tak mengikuti apa-apa yang telah menjadi seruan-Nya.

Goresan tangan Merisha Hastarina, ST., M.Eng, Sekretaris Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Palembang, tersebut meraih Juara III Lomba Esai PPM (Pemberdayaan dan Pemuliaan Muslimah) bekerja sama dengan Divisi Dakwah Indonesian Muslim Society in Korea (IMUSKA) diposting 2011.

“Jilbab bukan hanya budaya semata, dikenakan bukan karena sekarang ini sedang banyak orang yang memakainya, bukan agar kita dipandang sebagai orang yang lebih beriman, bukan pula hanya karena satu peraturan yang harus kita patuhi. Kerudung adalah sebuah pilihan, komitmen diri untuk berpegang dan terus berjalan dalam kehidupan Islami”, ungkapnya melalui pesan singkatnya seusia  penandatangan Nota Kesepahaman antara FTI UII dan FT Universitas Muhammadiyah Palembang tentang Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (14 Maret 2018).

Baca : UII dan UMP, Kerjasama Pengembangan IPTEK 

Tulisan Merisha tersebut ikut menggaungkan bahwa Indonesia akan menjadi pusat mode Muslim dunia pada 2020. Ada yang mendukung, ada pula yang meragukan dan faktanya tren industri Hijab pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini mengalami tren positif naik secara dinamis.

Trend tersebut tentu patut untuk diapresiasi tinggi, karena sangat beralasan, dimana industri fashion kreatif ini pada umumnya didominasi oleh orang-orang muda yang berada di usia 18-35 tahun. Bidang fashion ini tidak hanya menyerap banyak tenaga kerja, tetapi juga secara sistematik dan berkelanjutan meningkatkan perekonomian Indonesia semakin baik.

Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perekonomian pernah  merilis “Industri fashion menyumbangkan hampir tujuh milyar dollar, dan mengalami peningkatan 2-3% dari sisi ekspor dan fashion busana muslim, menjadi salah satu penyumbang terbesar untuk pertumbuhan ekonomi”.

Mendukung rilis tersebut, mengutip Perkembangan Fashion Hijab Indonesia yang Mendunia yang direlease (7 Februari 2018) oleh Kara Indonesia yang termasuk kedalam salah satu Industri Fashion Kreatif bergerak di bidang fashion muslim yang berkembang pesat. Brand (Kara Indonesia) ini berdiri tahun 2012 bersama Hijaber Community dengan berbagai macam fashion style juga hijab.

Baca : Trend Industri Jilbab di Indonesia dalam Perspektif Logistic & Supply Chain Management, analisis Dr, Zaroni CISCP, CFMP

“Untuk kalian yang baru memulai berjilbab sedikit demi sedikit perbaiki jilbab dan pemahaman kita tentang agama. Jangan takut dicela. Mudah-mudahan Allah nanti kasih pemahaman ke kita”. Pesan dari Ambu selaku CEO dari Kara Indonesia dengan koleksi Kara Indonesia yang memadukan beberapa warna yang dianggap tidak terlalu mencolok, seperti warna-warna pastel, hitam putih yang terkesan soft.

Jerri Irgo

Urban Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

Dunia mengalami peningkatan urbanisasi. Lebih dari separuh penduduk dunia kini tinggal di perkotaan. Tren ini semakin meningkat dalam beberapa dekade ke depan. Pada tahun 2050 diprediksi dua pertiga penduduk dunia tinggal di kota. Pada tahun 2020 diperkirakan kota dengan penduduk lebih dari 5 juta meningkat dari 50 kota menjadi 70 kota.

Sebagian besar kota-kota dengan penduduk lebih 5 juta tersebut berada di negara-negara Asia dan Afrika. Banyak pemicu yang menyebabkan terjadinya peningkatan penduduk di kota, antara lain pertumbuhan ekonomi, peningkatan kegiatan dan produksi di sektor industri, jasa, dan perdagangan baik domestik maupun internasional. Selain itu, faktor penting lainnya sebagai pemicu peningkatan penduduk kota adalah kemajuan internet yang mendorong pertumbuhan e-commerce.

Warga kota memerlukan berbagai infrastruktur untuk mendukung kehidupannya sesuai perkembangan sosial, gaya hidup, tren teknologi, dan lingkungan. Transportasi massal disediakan untuk mobilisasi warga kota dari rumah ke tempat kerja, sekolah, toko, pasar, pabrik, tempat rekreasi, dan lain-lain.

Penyediaan transportasi massal dalam bentuk kereta dan bis memerlukan pembangunan infrastruktur seperti terminal, stasiun, dan jalur kereta bawah tanah (subway). Di beberapa kota besar di negara-negara maju, sistem dan infrastruktur transportasi massal sudah berjalan dengan andal dan efektif sehingga dapat memenuhi kebutuhan mobilitas warga kotanya tanpa menimbulkan kemacetan di jalan raya.

Namun di banyak kota di negara-negara sedang berkembang misalnya, sistem dan infrastruktur transportasi massal ini masih belum memadai, sehingga belum memenuhi dan menjadi pilihan warga kota untuk menggunakan transportasi massal. Akibatnya, kemacetan terjadi karena warga kota memilih menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil pribadi untuk kebutuhan transportasi.

Selain transportasi orang, untuk mendukung kehidupan warga kota memerlukan logistik yang dapat menyediakan barang-barang, utamanya barang kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, dan pakaian. Dengan jumlah penduduk yang banyak, antara 2 sampai 5 juta, setiap harinya perlu disediakan makanan dan minuman dalam jumlah yang besar.

Warga kota mendapatkan makanan dan minuman di toko ritel modern, warung, dan pasar tradisional yang terdekat dengan mereka, baik di lokasi perumahan, perkantoran, sekolah, kampus, pabrik, dan lain-lain.

Barang-barang, produk, dan komoditi didatangkan dari berbagai wilayah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga kota. Komoditi hasil pertanian seperti beras, jagung, kedelai, dan sayuran didatangkan dari pedesaan. Komoditi perikanan dipasok dari daerah pesisir. Produk- produk hasil industri dikirim dari kawasan industri yang biasanya berada di pinggiran kota.

Selain kebutuhan transportasi orang, di kota memerlukan transportasi barang. Di kota setiap hari selama 24 jam dan 7 hari dalam seminggu terjadi kesibukan pengiriman barang dan bongkar muat barang dari truk untuk didistribusikan ke toko ritel, pasar raya, warung, pasar tradisional, dan mal. Kegiatan transportasi dan bongkar muat barang untuk memenuhi penyediaan barang-barang, produk, dan komoditi di kota dikenal dengan logistik perkotaan (urban logistics atau city logistics).

Pergeseran gaya hidup warga kota dalam berbelanja dari belanja konvensional ke belanja melalui e-commerce semakin meningkat. Belanja melaui e-commerce memberikan banyak kemudahan dan kepraktisan. Pilihan produk beragam yang disediakan oleh merchant di beberapa marketplace.

Pertumbuhan transaksi e-commerce B2C (Business-to-Consumer) dan C2C (Consumer-to- Consumer) yang pesat dan penggunaan mobile commerce memerlukan layanan logistik – sering dikenal dengan e-commerce logistics, utamanya layanan fulfillment dan last-mile delivery. Tak ayal lagi, kebutuhan e-commerce logistics untuk transaksi e-commerce konsumen di perkotaan memerlukan pengelolaan urban logistics yang efektif.

Data dari UN menyebutkan bahwa selama tahun 2016 tidak kurang dari 55% transaksi e- commerce berasal dari warga kota, sementara 46% berasal dari warga pedesaan. Persentase ini diprediksi akan meningkat pada tahun 2030, dari transaksi e-commerce total, 60%-nya berasal dari warga kota. Sisanya 40% berasal dari warga pedesaan.

Peningkatan belanja e-commerce ini memerlukan layanan urban logistics yang cepat, fleksibel, informatif, dan efisien. Di suatu kota, saat ini urban logistics terutama diperlukan untuk menyediakan solusi logistik ritel dan logistik e-commerce.

Logistik Ritel

Logistik ritel untuk mengelola penyediaan barang dan bahan pokok kebutuhan warga kota di setiap toko ritel. Pengelolaan logistik ritel ini mencakup transportasi, pergudangan, dan distribusi.

Umumnya sasaran logistik ritel ini adalah memenuhi permintaan pengisian barang di toko ritel dengan 7 kriteria tepat: jenis barang, kuantitas, kualitas, lokasi, penerima, waktu, dan biaya.

Barang, bahan pokok, material, dan produk diangkut dari pemasok ke gudang. Gudang ini bisa berupa distribution center yang berfungsi sebagai fulfillment center untuk memenuhi permintaan pengiriman barang ke toko-toko ritel. Selanjutnya dari fulfillment center, barang didistribusikan ke toko-toko ritel.

Dalam konteks desain urban logistics, jumlah dan lokasi toko ritel perlu direncanakan dengan mempertimbangkan keterjangkauan konsumen dan accessibility kendaraan pengiriman barang. Perencanaan logistik ritel untuk urban logistics meliputi:

  1. Penentuan gudang fulfillment. Fungsi gudang fulfillment untuk penerimaan barang- barang produk ritel dari pemasok, penempatan barang di rak-rak gudang, penyimpanan, picking sesuai order pemenuhan (replenishment), pengepakan, penyiapan pengiriman barang, dan pemuatan barang ke truck untuk pendistribusian barang ke toko-toko pengecer. Perencanaan gudang fulfillment mencakup: berapa banyak gudang fulfillment, jenis gudang apakah gudang umum atau gudang khusus, kapasitas gudang, dan lokasi gudang. Beberapa perusahaan ritel modern mengelola gudang fulfillment sendiri, namun banyak diantara mereka menyerahkan pengelolaan gudang fulfillment ini ke perusahaan penyedia jasa logistik (third-party logistics). Perusahaan 3rd party logistics yang mengelola gudang fulfillment untuk logistik ritel misalnya Pos Logistik yang mengelola pergudangan dan distribusi produk-produk ritel ke toko-toko ritel LEU Mart, dan Wira Logistik yang memberikan layanan logistik ritel Matahari. Pengelolaan gudang fulfillment saat ini menggunakan teknologi dan otomatisasi peralatan pemindahan barang (material handling equipment) baik handling system yang berbasis palletized dan non-palletized. Penentuan lokasi gudang fulfillment dalam logistik ritel untuk urban logistics sebaiknya di kawasan pergudangan yang berada di luar kota (suburban). Truck-truck yang digunakan untuk transportasi barang ritel dari pemasok ke gudang fulfillment umumnya menggunakan truck kapasitas besar, sehingga seringkali ada pembatasan akses truck untuk jalan di perkotaan. Oleh karena itu, lokasi gudang fulfillment di luar kota akan memudahkan akses truck untuk pengiriman barang ke gudang fulfillment.
  2. Pemilihan moda atau jenis dan kapasitas kendaraan. Transportasi dalam logistik ritel meliputi transportasi produk-produk ritel dari pemasok ke gudang fulfillment. Umumnya pengelolaan transportasi ini dikelola oleh pemasok bekerjasama dengan perusahaan transporter atau 3rd party logistics. Perbaikan sistem transportasi untuk logistik ritel ini utamanya efisiensi penggunaan truck dengan mengoptimalkan kapasitas truck. Upaya ini dicapai dengan melakukan penggabungan atau konsolidasi pengiriman untuk mendapatkan efisiensi biaya transportasi per unit (ton per kilometer). Selain itu, konsolidasi pengiriman dimaksudkan untuk mengurangi jumlah truck yang digunakan, sehingga mengurangi tingkat kemacetan dan polusi udara. Dengan demikian, sasaran perbaikan sistem transportasi untuk logistik ritel ini adalah penurunan biaya transportasi, mengurangi kemacetan di jalan raya, dan mengurangi pencemaran udara.
  3. Pengaturan rute dan jadwal keberangkatan kendaraan. Jalur mana yang akan ditempuh truck dan kapan jadwal keberangkatan dan kedatangan truck perlu dirancang dengan baik. Beberapa model yang diajarkan dalam Operation Research dapat digunakan untuk mensolusikan rute atau jalur transportasi dari pemasok ke gudang fulfillment dengan rute terpendek dan waktu tempuh tercepat. Dalam konteks urban logistics, pembatasan jalur dan jam-jam akses truck perlu dilakukan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di perkotaan.
  4. Lokasi bongkar muat barang. Di lokasi mana sebaiknya bongkar muat barang dilakukan perlu menjadi perhatian perancang logistik ritel dalam konteks urban logistics. Kita menjumpai banyak kegiatan bongkar muat barang ritel dilakukan di lokasi-lokasi yang menyebabkan kemacetan. Tidak ada pengaturan waktu dan lokasi bongkar muat barang. Akibatnya, kegiatan bongkar muat logistik ritel ini menyumbang tingkat kemacetan di beberapa titik di kawasan perkotaan.

Logistik E-Commerce

Logistik e-commerce termasuk dalam logistik ritel. Produk-produk yang diperdagangkan dalam e-commerce umumnya produk-produk ritel, produk yang digunakan consumer akhir.

Dalam beberapa tahun terakhir, e-commerce menjadi kontributor perkembangan urban logistics, khususnya layanan city courier atau parcel delivery. Peningkatan transaksi perdagangan e-commerce memerlukan solusi last-mile delivery – pengiriman barang ke penerima akhir.

Belanja melalui e-commerce telah menjadi bagian dari gaya hidup warga perkotaan. Menariknya, bila dicermati dari kategori usia, umumnya generasi milenial paling banyak menggunakan e-commerce dalam belanja kebutuhan mereka seperti fashion, gadget, buku, dan produk-produk accessoris lainnya.

Model operasi logistik e-commerce melibatkan serangkaian aktivitas transportasi, fulfillment, dan delivery. Transportasi produk-produk e-commerce dari pemasok ke gudang fulfillment. Beberapa produk-produk e-commerce dikirim dari luar negeri (cross-border) yang memerlukan layanan pengurusan kepabeanan (customs clearance).Produk yang diterima di gudang fulfillment, selanjutnya ditempatkan di rak-rak gudang, disimpan, dan dilakukan picking untuk dilakukan pengantaran ke penerima.

Peningkatan transaksi e-commerce memerlukan ruang, gudang, dan kendaraan untuk aktivitas urban logistics. Penelitian tentang urban logistics yang dipublikasikan oleh Cushman & Wakefield (2017) menyebutkan bahwa kebutuhan jumlah kendaraan (van) dan ruang (space) untuk bongkar muat dapat ditentukan dengan model perhitungan sebagai berikut:

  1. Pertama, menghitung Volume parcel per kota:
    Jumlah eShopper X Transaksi per eShopper X Rata-rata parcel per transaksi
  2. Selanjutnya, kita dapat menghitung berapa banyak van yang diperlukan untuk pengantaran parcel:
    Volume parcel per kota X Rata-rata loading per van
  3. Akhirnya, kita bisa menghitung kebutuhan space yang diperlukan:
    Jumlah van yang diperlukan X Rasio van

Setelah kebutuhan space untuk urban logistics diketahui, keputusan berikutnya adalah menentukan tingkat pelayanan (service level) berapa jam proses penanganan order sampai paket diterima penerima. Dalam terminologi logistics, hal ini disebut lead time, yaitu waktu yang diperlukan sejak sampai produk diterima.

Evolusi Pengantaran

Saat ini lead time untuk transaksi e-commerce semakin pendek. Pelanggan semakin menuntut proses pengiriman barang semakin cepat. Sejak pelanggan melakukan order pembelian sampai penerimaan barang, mereka mengingkat waktu yang sesingkat-singkatnya. Kalau dulu lead time ini hitungannya hari, sekarang pelanggan mengingkan hitungan jam. Banyak pelanggan saat ini menginginkan penerimaan barang pada hari yang sama (same-day delivery)

Studi yang dilakukan McKinsey (Maret, 2014) dengan publikasi yang diberi judul “Same-day delivery: The next evolutionary step in parcel logistics” menjelaskan evolusi pengantaran parcel dalam model B2C:

Kebutuhan layanan same-day delivery semakin meningkat, terutama untuk transaksi belanja produk-produk yang dijual di convenience store yang semakin banyak melalui e-Commerce atau e-Shopping.

Survei McKinsey (2014) mengenai fitur yang paling diperlukan pelanggan dalam e-Commerce, menyajikan temuan sebagai berikut:

  • Kecepatan, misalnya same-day delivery, 28%
  • Harga, 28%
  • Alternatif tujuan delivery, misalnya pengantaran di alamat kantor, rumah, atau locker, 15%
  • Fleksibilitas waktu pengantaran, misalnya pengantaran dilakukan pada malam hari ketika penerima sudah di rumah setelah pulang dari kantor, 11%
  • Lain-lain, 18%.

Fitur kecepatan, harga, dan alternatif tujuan delivery menjadi preferensi konsumen dalam memilih layanan last-mile delivery untuk belanja melalui e-Commerce.

Bagaimana penyedia jasa logistik memenuhi permintaan pelanggan dengan lead time delivery dalam waktu 12 jam, sejak dari order pembelian sampai barang-barang belanjaan diterima di depan pintu rumah mereka, merupakan tantangan tersendiri. Karenanya, penyedia jasa urban logistics perlu merancang sistem operasi yang memungkinkan dapat memenuhi lead time 12 jam.

Saat ini penyedia jasa logistik/kurir di kota-kota Indonesia tidak banyak yang menyediakan layanan same-day delivery, bahkan dengan skala volume yang relatif masih sedikit dan

pengantaran dalam kota (intracity). Beberapa penyedia jasa logistik yang dapat memberikan layanan same-day delivery masih mengelola proses operasinya secara khusus dengan kapasitas volume delivery yang sangat terbatas.

Ketika volume parcel yang diantar dalam jumlah besar tentu pemenuhan lead time 12 jam dengan pengantaran pada hari yang sama tidak bisa dilakukan. Alternatif solusi dan perbaikan pola operasi perlu dilakukan untuk menjamin same-day delivery.

  1. Penyedia jasa logistik atau kurir dapat memanfaatkan crowded-delivery seperti Uber, Go-Jek, Grab, dan logistics market place lainnya berdasarkan on-demand. Di era sharing economy dan disrupsi teknologi, crowded-delivery mampu memberikan solusi pengantaran same-day. Pengelola e-commerce logistics bekerjasama dengan beberapa operator crowded-delivery untuk melakukan pick-up parcel di fulfillment center atau merchant sesuai order pembelian dari market place, untuk selanjutnya dilakukan pengantaran ke penerima.  Penerimaan order pembelian melalui market place diproses oleh sistem aplikasi e- commerce, untuk selanjutnya perintah penyiapan pengantaran ke penyedia jasa logistik e-commerce. Produk pesanan di-picking sesuai order, packing, sortir, dan pengaturan rute dan skedul pengantaran. Konsolidasi kiriman parcel tetap dilakukan untuk mengoptimalkan kapasitas pengantaran. Sortir kiriman parcel dilakukan sesuai rute dan skedul pengantaran agar memenuhi lead time 12 jam.Kelebihan pemanfaatan crowded-delivery adalah semua biaya pengantaran dapat dikonversi secara variabel, tidak perlu investasi yang cukup besar baik investasi kendaraan maupun rekruitmen pengantar. Namun demikian, kapasitas crowded- delivery masih terbatas. Diperlukan pola kemitraan yang stratejik antara operator logistik e-commerce dengan pengelola crowded-delivery untuk memastikan keandalan pencapaian lead-time 12 jam dengan volume pengantaran parcel yang sangat besar.
  2. Mengelola sendiri pengantaran same-day. Bila same-day delivery dikelola sendiri, operator logistik perlu merancang desain dan pola operasi yang menjamin lead time 12 jam, sejak proses order pembelian sampai pengantaran parcel ke penerima. Desain operasi perusahaan penyedia jasa logistik/pos yang menyediakan layanan same-day delivery sebagai berikut:
  • Menentukan jumlah dan lokasi distribution center di lokasi dengan radius tertentu untuk memastikan dapat melakukan pick-up ke outlet merchant dengan jangkauan waktu sesuai lead time.
  • Melakukan cross-docking dan konsolidasi pengantaran di distribution center, sesuai lokasi titik antaran.
  • Melakukan pengantaran ke penerima.
  • Pengaturan jam order pembelian perlu dilakukan, misalnya DHL menerapkan jadwal order pembelian belanja melalui e-commerce pada jam 06.00 sampai jam 08.00 dan jam 08.00 sampai jam 10.00 dapat dilakukan pengantaran same-day.

Pilihan Moda Pengantaran

Beberapa moda pengantaran parcel dalam urban logistics dapat dipilih sesuai dengan service level dan karakteristik wilayah kota masing-masing.

  1. Kendaraan van. Penggunaan kendaraan van lazim digunakan oleh perusahaan penyedia jasa logistik/pos untuk pengantaran parcel di wilayah perkotaan. Kendaraan van dapat menampung sejumlah parcel sesuai dengan kapasitas kendaraannya. Kelebihan penggunaan van untuk pengantaran parcel mampu membawa parcel dalam jumlah cukup banyak untuk diantar penerima secara multi-drop. Namun demikian, tingkat kemacetan di beberapa kota, khususnya di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Yogyakarta, dan lain-lain, penggunaan kendaraan van untuk pengantaran dalam kota tidak dapat memberikan kepastian sesuai lead time yang distandarkan, khususnya untuk pengantaran same-day. Selain itu, polusi udara yang ditimbulkan dari kendaraan van dan penggunaan bahan bakar menjadi isu go green.
  2. Sepeda motor. Kemudahan akses pengantaran dan kecepatan dengan menggunakan sepeda motor menjadi pertimbangan dalam pengantaran parcel di perkotaan, meskipun kapasitas jumlah parcel yang dapat diantar terbatas.
  3. Sepeda. Beberapa penyedia jasa logistik/pos saat ini menggunakan kembali sepeda untuk pengantaran parcel di wilayah perkotaan. Bila zaman dulu Pak Pos identik dengan sepeda untuk pengantaran surat, paket, dan wesel, saat ini penggunaan sepeda untuk pengantaran parcel di wilayan perkotaan kembali diterapkan. Umumnya kemudahan akses pengantaran dan go green menjadi pertimbangan dalam penggunaan sepeda untuk pengantaran.
  4. Drone. Pengantaran dengan “pesawat tanpa awak” atau yang dikenal dengan “drone” mulai popular digunakan oleh beberapa perusahaan seperti Amazon dan DHL. Penggunaan drone merupakan lompatan dari konvergensi teknologi internet, satelit, geografi spasial, dan pesawat untuk pengantaran parcel di wiayah perkotaan tanpa awak dengan tingkat keakuratan sangat tinggi dan dapat menjangkau ke titik lokasi pengantaran secara luas. Teknologi drone dan regulasi implementasinya masih terus disempurnakan.
  5. Autonomous ground vehicles (AGVs) Di kota-kota negara maju seperti Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Singapura, dan Cina mulai dikenalkan penggunaan AGV untuk pengantaran parcel dengan locker tanpa perlu intervensi manusia. Semuanya dilakukan secara otomatis. Cara kerja AGV seperti ini, penerima diberikan notifikasi kapan jadwal pengantaran dilakukan. Penempatan parcel di kendaraan AGV menggunakan locker. Begitu AGV tiba di lokasi penerima, penerima mengambil parcel sesuai kode locker di AGV tersebut. AGV merupakan penerapan teknologi kendaraan tanpa sopir yang saat ini mulai digunakan di beberapa negara.

***
Dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi pergeseran konsentrasi penduduk dan pusat ekonomi dari kawasan pedesaan ke kawasan kota. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi kawasan perkotaan mengalami peningkatan. Peningkatan pertumbuhan ekonomi perkotaan memerlukan keandalan pasokan barang dan komoditas untuk memenuhi kebutuhan sektor industri dan sektor rumah tangga. Jenis barang dan komoditas ini sangat beragam, mulai dari komoditas pangan, produk-produk kesehatan, barang industri, bahan bangunan, dan lain sebagainya.

Kondisi ini menyebabkan aktivitas logistik perkotaan semakin meningkat. Peningkatan aktivitas logistik perkotaan melibatkan peningkatan arus transportasi barang, penyediaan gudang untuk distribution center dan fulfillment center, dan last-mile delivery.

Pertumbuhan ekonomi perkotaan yang semakin meningkat, perlu solusi logistik perkotaan yang efisien dan ramah terhadap lingkungan. Implementasi kebijakan kawasan logistik perkotaan sebagai gudang pusat konsolidasi dengan prinsip cross-docking, dan penggunaan perusahaan penyedia jasa logistik untuk melayani pengelolaan pergudangan, pengelolaan pengiriman barang-barang dari pemasok, dan distribusi barang-barang ke pengecer atau konsumen, merupakan beberapa cara praktik-praktik terbaik untuk mencapai efisiensi logistik perkotaan.

Bandung, Jln. Riau, 12 Maret 2018

 

Referensi

Cushman & Wakefield, Urban Logistics. 2017
Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Urban Freight and Logistics: The State of Practices in India, 2016
McKinsey, Parcel Delivery The Future of Last Mile. Transport and Logistics, September 2016.
McKinsey, Same-Day Delivery The Next Evolutionary Step in Parcel Logistics. Transport and Logistics, March 2014.

 

 

Logistics & Supply Chain Review

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

Materi : Logistics & Supply Chain Review 

 

Jika Bencana Terjadi

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

 

Jika Bencana Terjadi: Working Group Pendidikan dan Pelatihan Logistik Kebencanaan, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana – Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Sebagai negara yang rawan bencana, Indonesia perlu melakukan pengelolaan penanggulangan bencana dengan baik.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merujuk Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 mendefinisikan bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam, faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Bencana alam diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Bencana nonalam diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam, antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

Sementara bencana sosial merupkan bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.

BNPB mendefinisikan kejadian bencana sebagai peristiwa bencana yang terjadi dan dicatat berdasarkan tanggal kejadian, lokasi, jenis bencana, korban dan/ataupun kerusakan. Jika terjadi bencana pada tanggal yang sama dan melanda lebih dari satu wilayah, maka dihitung sebagai satu kejadian.

Jenis bencana yang berpotensi terjadi di Indonesia adalah: gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, tanah longsong, banjir, banjir bandang, kekeringan, kebakaran, kebakaran hutan, angina puting beliung, gelombang pasang, abrasi, kecelakaan transportasi, kecelakaan industri, kejadian luar biasa, konflik sosial, aksi teror, dan sabotase.

Potensi dan Ancaman Bencana
Tren kejadian bencana di Indonesia tahun 2003 – 2017 menunjukkan peningkatan. Tidak kurang dari 2.373 kejadian bencana melanda berbagai daerah di Indonesia selama tahun 2017. Banjir, longsor, dan puting beliung masih tetap mendominasi kejadian bencana di Indonesia (BNPB, 2018).

Sumber: BNPB (2018)

Ada baiknya kita perlu mengenal jenis, potensi, dan ancaman bencana tersebut. Pemahaman yang baik mengenai setiap jenis bencana, akan membuat kita dapat mengelola dan “bersahabat” dengan bencana.

Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang disebabkan oleh tumbukan antarlempeng bumi, patahan aktif, akitivitas gunung api atau runtuhan batuan.

Letusan gunung api merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”. Bahaya letusan gunung api dapat berupa awan panas, lontaran material (pijar), hujan abu lebat, lava, gas racun, tsunami dan banjir lahar.

Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan (“tsu” berarti lautan, “nami” berarti gelombang ombak). Tsunami adalah serangkaian gelombang ombak laut raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi.

Tanah longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng.

Banjir adalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat. Banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba dengan debit air yang besar yang disebabkan terbendungnya aliran sungai pada alur sungai.

Kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Adapun yang dimaksud kekeringan di bidang pertanian adalah kekeringan yang terjadi di lahan pertanian yang ada tanaman (padi, jagung, kedelai dan lain-lain) yang sedang dibudidayakan.

Kebakaran adalah situasi dimana bangunan pada suatu tempat seperti rumah/pemukiman, pabrik, pasar, gedung dan lain-lain dilanda api yang menimbulkan korban dan/atau kerugian. Kebakaran hutan dan lahan adalah suatu keadaan di mana hutan dan lahan dilanda api, sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan lahan yang menimbulkan kerugian ekonomis dan atau nilai lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan seringkali menyebabkan bencana asap yang dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat sekitar.

Angin puting beliung adalah angin kencang yang datang secara tiba-tiba, mempunyai pusat, bergerak melingkar menyerupai spiral dengan kecepatan 40-50 km/jam hingga menyentuh permukaan bumi dan akan hilang dalam waktu singkat (3-5 menit).

Gelombang pasang atau badai adalah gelombang tinggi yang ditimbulkan karena efek terjadinya siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia dan berpotensi kuat menimbulkan bencana alam. Indonesia bukan daerah lintasan siklon tropis tetapi keberadaan siklon tropis akan memberikan pengaruh kuat terjadinya angin kencang, gelombang tinggi disertai hujan deras. Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipicu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut. Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, namun ulah manusia sering disebut sebagai penyebab utama abrasi.

Kecelakaan transportasi adalah kecelakaan moda transportasi yang terjadi di darat, laut dan udara. Kecelakaan industri adalah kecelakaan yang disebabkan oleh dua faktor, yaitu perilaku kerja yang berbahaya (unsafe human act) dan kondisi yang berbahaya (unsafe conditions). Adapun jenis kecelakaan yang terjadi sangat bergantung pada macam industrinya, misalnya bahan dan peralatan kerja yang dipergunakan, proses kerja, kondisi tempat kerja, bahkan pekerja yang terlibat di dalamnya.

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Konflik sosial atau kerusuhan sosial atau huru hara adalah suatu gerakan massal yang bersifat merusak tatanan dan tata tertib sosial yang ada, yang dipicu oleh kecemburuan sosial, budaya dan ekonomi yang biasanya dikemas sebagai pertentangan antar suku, agama, ras (SARA).

Aksi teror adalah aksi yang dilakukan oleh setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan sehingga menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat masal, dengan cara merampas kemerdekaan sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda, mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik internasional.

Sabotase adalah tindakan yang dilakukan untuk melemahkan musuh melalui subversi, penghambatan, pengacauan dan/ atau penghancuran. Dalam perang, istilah ini digunakan untuk mendiskripsikan aktivitas individu atau grup yang tidak berhubungan dengan militer, tetapi dengan spionase. Sabotase dapat dilakukan terhadap beberapa sruktur penting, seperti infrastruktur, struktur ekonomi, dan lain-lain.

Lebih lanjut BNPB menambahkan bahwa bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster). United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) mengidentifikasi faktor-faktor penyebab bencana: (1) Bahaya geologi (geological hazards), bahaya hidrometeorologi (hydro meteorological hazards), bahaya biologi (biological hazards), bahaya teknologi (technological hazards), dan penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation), (2) Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari masyarakat, dan (3) Infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kota atau kawasan yang berisiko bencana, dan (4) Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat.

Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera-Jawa- Nusa Tenggara-Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).

BNPB menjelaskan bahwa gempa bumi yang disebabkan karena interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan gelombang pasang apabila terjadi di samudera. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini, Indonesia sering mengalami tsunami. Tsunami yang terjadi di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya (Puspito, 1994).

Sementara itu, wilayah pantai di Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana tsunami terutama pantai barat Sumatera, pantai selatan Pulau Jawa, pantai utara dan selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Irian Jaya dan hampir seluruh pantai di Sulawesi.

Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur.

Sebaliknya, kondisi itu dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Seiring dengan berkembangnya waktu dan meningkatnya aktivitas manusia, kerusakan lingkungan hidup cenderung semakin parah dan memicu meningkatnya jumlah kejadian dan intensitas bencana hidrometeorologi (banjir, tanah longsor, dan kekeringan) yang terjadi secara silih berganti di banyak daerah di Indonesia.

Pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam (terutama dalam skala besar) menyebabkan hilangnya daya dukung sumber daya ini terhadap kehidupan mayarakat. Dari tahun ke tahun sumber daya hutan di Indonesia semakin berkurang, sementara itu pengusahaan sumber daya mineral juga mengakibatkan kerusakan ekosistem yang secara fisik sering menyebabkan peningkatan risiko bencana.

Pada sisi lain laju pembangunan mengakibatkan peningkatan akses masyarakat terhadap ilmu dan teknologi. Namun, karena kurang tepatnya kebijakan penerapan teknologi, sering terjadi kegagalan teknologi yang berakibat fatal seperti kecelakaan transportasi, industri dan terjadinya wabah penyakit akibat mobilisasi manusia yang semakin tinggi.

Potensi bencana lain yang tidak kalah seriusnya adalah faktor keragaman demografi di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2017 mencapai lebih dari 260 juta jiwa yang terdiri dari beragam etnis, kelompok, agama dan adat istiadat. Keragaman tersebut merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain. Namun karena pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak diimbangi dengan kebijakan dan pembangunan ekonomi, sosial dan infrastruktur yang merata dan memadai, terjadi kesenjangan pada beberapa aspek dan terkadang muncul kecemburuan sosial. Kondisi ini berpotensi menyebabkan terjadinya konflik dalam masyarakat yang dapat berkembang menjadi bencana nasional.

Manajemen Bencana
Pengelolaan penanggulangan bencana dimulai pada saat prabencana, tanggap darurat, dan pemulihan.

Penanggulangan bencana pada saat prabencana dengan cara melakukan identifikasi jenis bencana, peluang terjadinya bencana di suatu lokasi, dampak bencana, dan mitigasi risiko bencana.

Pemetaan potensi dan ancaman bencana perlu dilakukan di setiap daerah. Dari pemetaan ini kita dapat melakukan upaya mitigasi risiko bencana sesuai dengan jenis dan karakteristik bencana. Pengukuran assessment ketangguhan bencana di setiap daerah perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana suatu daerah termasuk penduduknya mampu bertahan dan melakukan pemulihan bila terjadi suatu bencana.

Teknologi peringatan dini perlu diterapkan di setiap daerah rawan bencana, agar penduduk di daerah tersebut dapat mengetahui lebih dini bila akan terjadi bencana, sehingga mereka dapat segera melakukan evakuasi untuk penyelematan jiwa.

Edukasi penanggulangan bencana perlu dikenalkan ke anak-anak, siswa sekolah, ibu rumah tangga, pekerja kantor, pekerja pabrik, dan masyarakat secara luas. Edukasi ini setidaknya mencakup pemahaman jenis dan potensi ancaman bencana, mitigasi risiko dampak bencana, pencegahan bahaya bencana, evakuasi, dan penyelamatan pada saat terjadinya bencana.

Pembangunan konstruksi rumah, perkantoran, gedung pabrik, jembatan, dan infrastruktur publik sebaiknya memerhatikan dan mempertimbangkan jenis dan karakteristik potensi

ancaman bencana. Pemilhan material dan penggunaan teknologi kontruksi bangunan dan gedung agar fleksibel terhadap kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana.

Perspektif Logistik
Tidak kalah pentingnya, pada tahap prabencana ini perlu disiapkan sistem manajemen penanggulangan bencana yang efektif. Upaya penanggulangan bencana memerlukan sistem manajemen logistik untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan dan peralatan penanggulangan bencana.

BNPB perlu membangun dan mengelola gudang (warehouse) tempat penyimpanan barang bantuan kemanusiaan. Gudang-gudang ini perlu dibangun di lokasi strategis yang mendekati daerah rawan bencana. Lokasi gudang BNPB agar mudah diakses oleh sarana atau moda transportasi, baik transportasi darat, laut, sungai, dan udara.

Pada saat kondisi normal atau prabencana, BNPB perlu mengidentifikasi kebutuhan minimal barang bantuan kemanusiaan ini, baik dari aspek jenis bantuan kemanusiaan dan jumlah setiap jenis bantuan kemanusiaan tersebut. Sumber pendanaan pengadaan bantuan kemanusian ini dapat diperoleh dari APBN, masyarakat, atau dunia usaha.

Pada saat terjadi bencana – sering kita kenal dengan tanggap darurat, perlu respon dan tindakan cepat evakuasi penduduk terdampak bencana, evakuasi binatang ternak, penyiapan tempat pengungsi, dan distribusi bantuan kemanusiaan untuk para pengungsi.

Efektivitas dari penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat ini adalah kecepatan dalam melakukan evakuasi dan penyiapan lokasi pengungsi. Bila terjadi suatu bencana, seringkali terjadi banyak pihak yang terlibat – seperti BASARNAS, TNI, Polri, BNPB, BPBD, PMI, dan relawan dalam upaya pencarian korban bencana, proses evakuasi, dan penampungan penduduk terdampak bencana di lokasi pengungsian.

Penyiapan lokasi pengungsi memerlukan penataan infrastruktur darurat yang memadai untuk menopang kegiatan dan kebutuhan para pengungsi selama masa tanggap darurat. Penyediaan shelter, sarana MCK, dapur umum, sarana listrik, air, gas, sarana komunkasi, pengobatan, media center, trauma center, dan lain-lain perlu disiapkan di tempat pengungsian. Kebutuhan bantuan kemanusian yang berisi makanan, minuman, dan pakaian sesuai keperluan penduduk di lokasi pengungsi perlu disiapkan dengan baik.

Dalam hal ini, sistem manajemen logistik bantuan kemanusiaan berperan penting untuk memastikan kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan dari gudang BNPB dan para donor dapat diterima dengan baik ke lokasi pengungsi atau penduduk terdampak bencana.

Penyiapan dan pengelolaan gudang darurat pada saat tanggap darurat perlu dilakukan segera di lokasi terdekat dan aman dari ancaman bencana. Gudang darurat ini disiapkan dan dikelola dengan tetap mempertimbangkan desain dan tata cara pergudangan, seperti penerimaan barang, penempatan, penyimpanan, pengambilan, pengepakan, pengeluaran, layout, dan alur pergerakan barang. Pemahaman petugas BPBD sebagai pengelola gudang darurat di lokasi bencana mengenai manajemen pergudangan perlu terus ditingkatkan, agar mereka dapat menyiapkan dan mengelola pergudangan bantuan kemanusiaan secara efektif.

Bila bencana sudah mulai berakhir, tahap berikutnya dalam manajemen penanggulangan bencana adalah pemulihan (recovery). Inti dari tahap ini adalah aktivitas rekonstruksi dan rehabilitasi.

Rekonstruktusi berupa pembangunan kembali infrastruktur yang rusak akibat bencana untuk pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi penduduk terdampak bencana. Pembangunan jalan, jembatan, sekolah, tempat ibadah, listrik, air, rumah, pasar, perkantoran, dan lain-lain dilakukan pada tahap pemulihan ini.

Dari perspektif logistik, jika bencana terjadi, maka infrastruktur dan sistem logistik suatu desa, kota, provinsi, atau bahkan negara yang terdampak bencana akan terganggu. Seberapa besar terganggunya infrastruktur dan sistem logistik ini tergantung pada jenis, karakteristik, dan skala dampak bencana.

Infrastruktur utama logistik berupa jalan raya, pelabuhan, bandar udara, gudang, kendaraan, listrik, dan telekomunikasi. Umumnya pada saat terjadi bencana, infrastruktur logistik tersebut rusak bahkan lumpuh, tidak bisa digunakan lagi untuk mendukung aktivitas utama logistik seperti transportasi dan distribusi.

Bila bencana terjadi, perlu segera dilakukan identifikasi infrastruktur logistik mana yang rusak dan apa implikasinya terhadap aktivitas logistik. Perlu dicari alternatif atau kontinjensi untuk penggunaan infrastruktur logistik lainnya yang masih berfungsi.

Pasokan bahan baku dan komponen sangat mungkin terganggu, demikian pula distribusi produk jadi yang diproduksi oleh pabrikan di daerah terdampak bencana. Perlu segera dilakukan pemulihan agar kelancaran produksi dan perdagangan normal kembali.

***

Bisa jadi bencana merupakan bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Bangsa yang ditakdirkan lahir, hidup, dan besar di tanah air Indonesia yang rawan terhadap bencana.

Bencana tidak dapat ditolak, namun dapat dikelola dengan cara bersahabat dengan bencana. Pengelolaan bencana mencakup upaya penanggulangan bencana pada saat prabencana atau kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan. Penanggulangan bencana yang efektif akan menghasilkan pencegahan bencana, pengurangan risiko dampak bencana, dan upaya pemulihan bencana secara cepat.

Kerjasama antarsemua komponen bangsa, utamanya Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha untuk kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan upaya melakukan rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana, akan menghasilkan bangsa yang tangguh dalam penanggulangan bencana.

Bandung, 25 Februari 2018

– – –

Referensi

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana, BNPB, Manajemen Bencana, 2018.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana, BNPB, Manajemen Logistik Penanggulangan Bencana, 2018.

Sideney A. Schreiner, Jr., Urban Transport and Logistics in Cases of Natural Disasters, CRC Press Taylor & Francis Group, 2014

Berma, Kuliah di MTI Sangat Menyenangkan

Berma Septiyanda, Mahasiswa Magister Teknik Industri (MTI) Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta,  ungkapkan alasan mengapa kuliah di MTI.

“Selain memiliki Konsentrasi yang sesuai dengan minat dan ter-update seperti Logistik, Supply Chain dan Ergonomi K3. MTI memiliki metode belajar yang menarik, fleksibel memungkinkan  untuk Mahasiswa dan Dosen selalu berinteraksi walaupun diluar ruang kelas” ungkapnya saat ditemui di ruang kuliah PPs 1 FTI UII Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII Yogyakarta (24 Februari 2018).

Baca : Tantangan Profesional Teknik Industri

Hal tersebut sangat beralasan karena MTI PPs FTI UII saat ini memiliki 4 konsentrasi yaitu Teknik Industri, Manajemen Industri, Ergonomi dan Keselamatan & Kesehatan Industri dan Logistic & Supply Chain Management. Serta dukungan staf pengajar dari profesional salah satunya Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia juga menjabat Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) periode 2018-2023.

Berma Septiyanda, menambahkan “Selain itu, banyak program yang dapat menunjang kebutuhan untuk kedepannya, seperti pelatihan, kunjungan. Pastinya Kuliah di MTI sangat menyenangkan” tutur mahasiswa MTI angkatan 2016 tersebut

Baca Juga : Knowledge, Skill dan Attitude

Secara terpisah Dr. Ir. Elisa Kusrini, MT, CPIM, CSCP, Sekretaris PPs FTI UII melengkapi keunggulan mengapa Kuliah di MTI PPs FTI UII, diantaranya selain Akreditasi B dari BAN PT, juga dapat meraih Double Designation: gelar Magister Teknik (MT) dan gelar Sertifikasi Internasional – Certified International Project Manager (CPIM) atau Accredited Supply Chain Analyst (ASCA) (Optional). “Mahasiswa juga mendapatkan kesempatan mengambil Sertifikasi Keahlian dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi / BNSP – (Certified Risk management Officer) dan tersedia Beasiswa dalam bentuk SPP dan Bantuan Biaya Riset (Tesis)” pungkasnya

Jerri Irgo.

Meningkatkan Ekspor Indonesia

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023.

– – –

 

Perdagangan antarnegara telah lama dilakukan oleh berbagai bangsa di dunia. Keunggulan komparatif menjadi salah satu motif perdagangan antarnegara atau sering dikenal perdagangan internasional. Ekspor dan impor merupakan bentuk perdagangan internasional. Banyak manfaat yang diperoleh dari perdagangan internasional ini, utamanya adalah mengangkat branding suatu negara.

Sebagai contoh, kita mengenal Korea Selatan dengan branding negara pembuat smartphone dan peralatan elektronik canggih lainnya. Branding smartphone yang disematkan ke negara Korea Selatan ini karena kita tahu negara tersebut pengekspor smartphone seperti Samsung dan LG. Dua produk smartphone yang kini banyak digunakan pengguna smartphone di seluruh dunia.

Kita juga mengenal Jepang sebagai negara dengan branding otomotif. Jepang sebagai produsen dan pengekspor terbesar otomotif dunia dengan merek terkenal mobil seperti Toyota, Honda, Mitsubishi, Suzuki, Daihatsu, dan Nissan. Selain otomotif, Jepang juga telah lama menyandang branding negara elektronik. Merek produk elektronik seperti Toshiba, Sharp, Panasonic, Sony, Sanyo, dan lain-lain telah lama menjadi brand produk peralatan elektronik rumah tangga dan perkantoran.

Indonesia dikenal dunia dengan brand Bali-nya, sebagai negara tujuan wisata menarik untuk dikunjungi para wisatawan dari berbagai mancanegara. Selain Bali, Indonesia juga dikenal sebagai negara kopi, teh, karet, dan berbagai komoditi lainnya. Zaman dulu, Indonesia telah lama dikenal sebagai negara rempah-rempah karena memperdagangkan rempah-rempah ke berbagai negara, terutama Eropa.

Suatu negara menyandang branding produk atau jasa tertentu karena negara tersebut mengekspor produk, jasa, atau komoditi ke negara lain dalam perdagangan internasional. Ekspor mampu menciptakan branding dan positioning suatu negara di benak bangsa-bangsa lain.

Penciptaan branding suatu negara karena perdagangan ekspor juga menghasilkan surplus perdagangan internasional atau sering kita kenal penciptaan devisa negara. Ekspor akan menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa.

Dinamika Strategi Ekspor

Kementerian Koordinator Perekonomian Republik Indonesia (Kemenko Perekonomian) mencatat bahwa selama sepuluh tahun terakhir – tahun 2006 sampai dengan tahun 2016, kecenderungan nilai ekspor Indonesia terus meningkat, namun di sisi lain volume impor dunia berkembang lebih tinggi. Akibatnya, pangsa ekspor Indonesia terhadap impor dunia relatif hanya kurang dari 1%.

Sementara itu dalam kancah perdagangan internasional di kawasan ASEAN, pangsa pasar ekspor tertinggi hampir didominasi oleh Malaysia. Pangsa ekspor Thailand dan Malaysia relatif stabil di atas 1% dari nilai perdagangan impor di dunia. Pangsa ekspor Vietnam cenderung meningkat signifikan, sedangkan Indonesia cenderung fluktuatif.

Dalam komposisi ekspor Indonesia, pangsa ekspor produk manufaktur mengalami penurunan tajam dari tahun ke tahun. Pangsa ekspor migas juga mulai mengalami penurunan. Sementara itu pangsa ekspor komoditas primer relatif stabil terbantu oleh harga komoditas yang tinggi.

Kinerja ekspor manufaktur menjadi salah satu determinan kinerja transaksi berjalan. Negara-Negara yang mampu mengekspor produk-produk yang mempunyai nilai tambah tinggi akan mempunyai kinerja transaksi berjalan yang lebih baik. Partisipasi Global Value Chain (GVC)
Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Kemenko Perekonomian juga memberi catatan, dilihat dari volume perdagangan, terjadi konsentrasi ekspor yang lebih banyak ke Tiongkok.Hal ini menciptakan ketergantungan yang lebih tinggi pada dinamika ekonomi Tiongkok.

Negara-negara tetangga, terutama Vietnam memiliki tujuan ekspor yang semakin terdiversifikasi dengan pasar yang luas. Salah satunya karena banyaknya perjanjian perdagangan internasional yang dilakukan dan transportasi direct call (angkutan samudera
langsung) yang memudahkan akses dan penetrasi pasar ekspor.

Banyak negara memfokuskan pada sektor tertentu untuk mendorong kinerja ekspor negaranya. Para ekonom telah lama mengingatkan bahwa dalam jangka waktu panjang, negara yang punya strategi dan fokus ekonomi yang jelas akan memiliki kemakmuran yang lebih dibandingkan dengan negara yang tidak mempunyai fokus pembangunan yang jelas.

Karenanya, setiap negara harus mencari potensi keunggulan kompatatif dan kompetitif yang dimiliki negara masing-masing, diiringi dengan terus mengembangkan keunggulan tersebut. Jika tidak dikembangkan – demikian para ekonomi berpesan, maka negara tersebut menghadapi risiko menjadi negara yang ingin unggul di semua bidang, namun tidak tangguh atau unggul dalam satu bidang apa pun. Oleh karena itu, strategi ekonomi menjadi sangat penting sebagai blueprint dari pembangunan di semua hal.

Saat ini, Indonesia mengembangkan lima sektor industri sebagai penggerak roda perekonomian Indonesia. Kelima sektor tersebut adalah industri pertambangan minyak dan gas, agribisnis dan perikanan, industri unggulan Indonesia, industri padat karya, dan industri pariwisata dan kreatif. Pemerintah Indonesia memberi perhatian serius dan dukungan pengembangan kelima sektor tersebut untuk orientasi ekspor.

Menariknya, negara-negara yang unggul kinerja perdagangan ekspornya justru hanya memfokuskan beberapa sektor ekonomi. Jepang misalnya, industri penggerak roda perekonomiannya ditopang pada sektor industri otomotif, elektronik, dan shipping. Oleh karena itu, Jepang hanya memfokuskan strategi ekspor pada ketiga sektor tersebut.

Bahkan Thailand terang-terangan hanya memfokuskan pada pengembangan sektor pariwista dan agribisnis. Kedua sektor ini pula yang selama ini menjadi andalan Thailand dalam ekspornya.

E-commerce memiliki potensi yang sangat besar. Diperkirakan, di Indonesia jumlah orang yang berbelanja online pada tahun 2025 akan mencapai paling tidak sebesar 65 juta orang atau 22% dari total penduduk Indonesia dengan nilai perdagangan mencapai US$46 miliar. Nilai perdagangan ini meningkat pesat dari tahun 2015 yang hanya berkisar US$1,7 miliar.

Menurut Alibaba.com, sebenarnya ada 10 industri dan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memiliki potensi untuk dikembangkan di Indonesia karena memiliki permintaan ekspor yang cukup besar di pasar global.

Potensi ekspor di Indonesia terbuka luas. Permintaan ekspor di pasar global akan produk-produk Indonesia seperti furniture, kerupuk, biskuit, lada hitam, kopi, sarang burung wallet,pakaian, kosmetik, peralatan plastik, arang, marmer, granit, tekstil, dan komponen elektronik.

Mengenai produk arang sebagai komoditi ekspor Indonesia ini, di banyak negara menjadikan
arang sebagai sumber energi alternatif. Produk arang Indonesia utamanya dihasilkan dari tempurung kelapa sangat diminati konsumen Arab Saudi.

Kita tahu, masyarakat Arab Saudi sangat menghargai cita rasa makanan yang diolah denganstandar proses yang tinggi dan menghindari sisa pembakaran dari bahan bakar yang berasaldari fosil. Oleh karena, itu makanan khas di daerah jazirah Arab seperti nasi kebuli, nasi bukhori, nasi briani, dan nasi madzi lebih banyak diolah dengan menggunakan pembakaran dari arang kayu, salah satunya dari Indonesia. Tidak mengherankan, berdasarkan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di Jeddah nilai ekspor arang satu perusahaan asal Indonesia ke Arab Saudi ada yang mencapai US$197,808.

Pengembangan usaha sektor UMKM terus dilakukan pemerintah melalui ekspansi penjualan produk UMKM ke luar negeri. Dalam meningkatkan ekspor produk UMKM, standardisasi produk yang dihasilkan usaha-usaha kecil adalah hal yang mutlak agar produknya dapat dijadikan input bahan baku bagi perusahaan global.

Dalam upaya meningkatkan ekspor Indonesia, Pemerintah telah melakukan perjanjian kerjasama perdagangan regional dan internasional, baik kerjasama bilateral maupun multirateral. Umumnya sifat kerjasama perdagangan internasional ini adalah blok pasar, perluasan pasar melalui Free Trade Agreement (FTA), dan pertukaran potensi ekonomi (Comprehensive Economic Partnership – CEP). Selama tahun 2017, Indonesia telah melakukan perundingan kerjasama perdagangan internasional dengan berbagai negara, antara lain Jepang, Pakistan, Chile, Australia, Iran, dan Uni Eropa.

Selain itu, promosi terintegrasi untuk mendorong peningkatan ekspor Indonesia telah dilakukan Pemerintah melalui Kementerian dan Lembaga antara lain Kementerian Pariwisata, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Perdagangan.

Peran Manajemen Supply Chain dan Logistik

Perdagangan ekspor mutlak memerlukan manajemen rantai pasokan dan sistem logistik ekspor yang andal. Selain standar dan kualitas produk yang ketat, perdagangan ekspor mensyaratkan pengiriman produk secara tepat waktu dengan kondisi produk yang sangat baik.

Standar dan kualitas produk ekspor memerlukan pengelolaan rantai pasokan yang efektif. Produk-produk olahan dari komoditas pertanian seperti kripik singkong misalnya, mensyaratkan kualitas singkong yang baik dan pasokan singkong yang mencukupi dan kontinu. Karenanya, pemilihan pemasok bahan baku dan menjamin kontinuitasnya perlu menjadi perhatian para pengusaha ekspor.

Inventory bahan baku untuk menjaga kontinuitas produksi, pemilihan lokasi fasilitas produksi dan pergudangan, dan strategi distribusi produk ekspor perlu dikelola dengan baik. Logistik berperan penting dalam perdagangan ekspor. Dua sisi penting pengaruh logistik terhadap kinerja perdagangan ekspor adalah ketepatan pengiriman produk dan biaya logistik ekspor.

Banyak perusahaan ekspor Indonesia, utamanya sektor UMKM yang menghadapi kendala dalam pengiriman produk ke luar negeri, selain permasalahan perizinan dan penerapan standar mutu produk. Penggunaan perusahaan penyedia jasa logistik (3rd Party Logistics) seperti freight forwarder membantu pengurusan pengiriman produk ekspor, termasuk pengurusan dokumen pengiriman. Perusahaan freight forwarder ini memberikan pelayanan berupa pengurusan dokumen ekspor, konsolidasi kiriman, air freight atau sea freight, dan delivery.

Proses pengiriman barang ekspor dimulai saat eksportir mempersiapkan barang yang akan diekspor dengan dilakukan packaging, stuffing ke kontainer hingga barang siap untuk dikirim.

Setelah barang siap dan sudah ada jadwal kapal yang akan mengangkut barang tersebut, eksportir dapat mengajukan dokumen kepabeanan yang dikenal dengan Pemberitahuan Barang Ekspor (PEB). PEB tersebut berisi data barang ekspor:

  • Data eksportir,
  • Data penerima barang,
  • Data customs broker (bila ada),
  • Sarana pengangkut yang akan mengangkut,
  • Negara tujuan, dan
  • Uraian barang, seperti jumlah dan jenis barang, dokumen yang menyertai, dan nomor kontainer yang dipakai.

Persoalan biaya pengiriman produk ekspor juga menjadi kendala bagi sebagian pengusaha ekspor. Seringkali biaya pengiriman produk ekspor melebih harga produknya sendiri. Perlu perbaikan sistem logistik ekspor agar biaya pengiriman produk ekspor semakin efisien, sehingga produk ekspor Indonesia mampu bersaing di pasar global.

Perbaikan sistem logistik ini dilakukan dalam perspektif makro dan mikro. Perspektif makro menjadi peran Pemerintah. Penyediaan dan perbaikan infrastruktur logistik ekspor seperti layanan pelabuhan dan bandar udara untuk pelancaran proses pengiriman ekspor, pengurangan waktu dan biaya. Perbaikan proses birokrasi, utamanya perizinan ekspor menjadi tindakan nyata yang harus dilakukan Pemerintah. Layanan perizinan ekspor terpadu seperti penerapan portal Indonesia National Single Window (INSW) sebagai single submission.

Exporter hanya cukup satu kali melakukan permohonan izin dan akan mendapatkan satu identitas dan terintegrasi di berbagai kementerian.

Seperti kita ketahui bahwa portal INSW adalah sistem elektronik yang terintegrasi secara nasional, yang dapat diakses melalui jaringan Internet, yang akan melakukan integrasi informasi berkaitan dengan proses penanganan dokumen kepabeanan dan dokumen lain yang terkait dengan ekspor-impor.

Portal INSW menjamin keamanan data dan informasi, memadukan alur dan proses informasi
antar sistem internal secara otomatis meliputi sistem kepabeanan, perizinan, kepelabuhanan/kebandarudaraan, dan sistem lain yang terkait dengan proses pelayanan dan pengawasan kegiatan ekspor-impor.

Perspektif mikro, perbaikan logistik ekspor agar difokuskan pada peningkatan kinerja logistik, dari aspek on-time delivery dan penurunan biaya logistik ekspor. Pendataan dan pemetaan asal titik ekspor, jenis dan karakteristik produk, kuantitas produk, negara tujuan ekspor, dan pelabuhan keberangkatan ekspor perlu dilakukan.Optimalisasi kapasitas infrastruktur dan sarana logistik mutlak dilakukan agar dicapai efisiensi biaya logistik ekspor. Konsolidasi kiriman, utamanya ekspor kategori kargo LCL (less than container loaded) dengan melakukan kerjasama antarpemilik barang untuk mendapatkanbiaya logistik yang termurah.

Peran asosiasi seperti Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) ditunjukkan dengan melakukan edukasi ke para anggotanya, pelatihan dan penggunaan teknologi produsi, pemasaran, dan pemberian solusi logistik ekspor.

***

Arahan Presiden Jokowi kepada para Menterinya dan semua pemangku kepentingan untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia sangat tegas. Tidak tanggung-tanggung, target pertumbuhan ekspor Indonesia sebesar 11% per tahun harus dicapai mulai tahun 2018 ini. Semua komponen bangsa, baik Pemerintah, masyarakat, asosiasi usaha, dan perusahaan ekspor harus bekerjasama mewujudkan peningkatan ekspor Indonesia. Kemandirian ekonomi dan kesejahteraan rakyat akan dicapai dengan peningkatan ekspor ini, utamanya mendorong pengusaha UMKM untuk mengembangkan pasar ekspor.

Sumber penulisan:
Paparan Kementerian Koordinator Perekonomian Republik Indonesia pada Talk Show Acara
Pengukuhan Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Jakarta, 21 Februari 2018.

Manajemen Logistik Dan Peralatan

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

Materi Pelatihan Manajemen Logistik dan Peralatan :