Posts

Memahami Skandal Data Facebook dan Cambridge Analytica

Yudi Prayudi, M.Kom ; Kepala Pusat Studi Forensika Digital (PUSFID) Universitas Islam Indonesia; Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII)

Memahami Skandal Data Facebook dan Cambridge Analytica

Kekuatan Facebook : Social Graph
Kekuatan dari data yang dihimpun oleh Facebook adalah dalam sebuah konsep keterhubungan yang dikenal dengan Social Graph. Melalui konsep ini, maka Facebook berusaha untuk memetakan apapun yang dilakukan dalam ruang siber ketika seseorang aktif membuka Facebook. Respon terhadap apa yang diunggah oleh seseorang dalam bentuk : like atau symbol emosi lainnya serta komen dan tag akan secara otomatis membentuk graph (garis keterhubungan) yang menunjukkan relasi antara orang, tempat serta sesuatu yang menyebabkan seseorang berinteraksi saat online.

Prinsipnya hampir semua layanan aplikasi online melakukan upaya untuk pengumpulan data pengguna untuk kepentingan targeting informasi. Namun kedalaman data dan informasi yang diberikan berbeda satu sama lainnya. Google hanya akan memberikan data bahwa satu produk baju telah dicari oleh seseorang yang berada di jalan x kota y. Namun kekuatan Sosial Graph dari Facebook akan memberikan informasi bahwa si A telah membeli baju di toko z di jalan x kota y dan baju yang dibeli di A juga dibeli oleh si B dan si C. Data Social Graph ini muncul karena si A melakukan checkin di toko z serta foto bajunya diposting kemudian dilike dan di- komentari oleh si B dan si C.

Graph keterhubungan tersebut tidak murni dalam bentuk sebuah garis keterhubungan, namun pada prinsipnya adalah sebuah informasi yang tersimpan dalam sebuah struktur data yang sangat komplek yang kemudian dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan output yang diharapkan. Berdasarkan Social Graph inilah iklan yang muncul di halaman Facebook kita akan sesuai dengan kecenderungan minat, aktivitas, respon saat kita membuka Facebook. Dari aspek marketing, maka beriklan di Facebook akan sangat menguntungkan karena iklan yang dipasang akan muncul pada user yang relevan dengan konten pada iklan tersebut. Dengan kata lain, aktivitas seseorang saat membuka Facebook akan menjadi trigger dari munculnya iklan ataupun informasi yang relevan dengan kecenderungan aktivitas si penggunanya. Salah satu pendapatan terbesar dari Facebook adalah biaya pemasangan iklan.

Selain itu, data yang terkumpul melalui konsep Social Graph ternyata memiliki akurasi yang tinggi dalam melakukan prediksi sesuatu. Aleksandr Kogan dan beberapa koleganya dari
Cambridge University’s Psychometric Centre termasuk yang respek dengan kemampuan Social Graph dari Facebook dan dalam beberapa riset yang dijalankannya, data yang didapat dari Social Graph ini ternyata memiliki akurasi yang sangat baik. Para peneliti ini menyimpulkan bahwa pilihan dan kecenderungan seseorang dapat dilihat dari rekam jejak digital kebiasaan sehari-harinya dalam ruang siber. Dalam hal ini Kogan menyimpulkan bahwa hasil profiling terhadap data pengguna Facebook maka terdapat akurasi 95 % untuk hal yang terkait dengan Ras dan akurasi 85 % terkait dengan pilihan politik.

Kesuksesan Facebook dalam menerapkan konsep Social Graph kemudian mendorong pengembang Facebook untuk meningkatkan kemampuannya. Maka kemudian konsep dasar tersebut dikembangkan lagi melalui konsep Open Graph yang memungkinkan pihak ketiga di luar Facebook untuk juga memanfaatkan data social graph yang dimiliki oleh Facebook untuk membangun social graph bagi kepentingan aplikasinya. Demikian juga sebaliknya, bagi Facebook, konsep Open Graph akan membuat data social graph yang dikelola oleh Facebook menjadi semakin lengkap sehingga apapun aktivitas seseorang di internet akan dapat dipetakan dalam social graph yang dikelola oleh Facebook.

Open Graph API yang dikenalkan oleh Facebook pada tahun 2010 ini pada prinsipnya adalah memberikan ijin pengembang aplikasi di luar Facebook untuk juga dapat mengakses data user dari Facebook. Hal inilah yang kemudian mendasari Pemerintah Amerika pada tahun 2011, melalui Departement Perdagangannya (US Federal Trade Commission – FTC) untuk memberikan perlindungan kepada user dengan memaksa Facebook untuk mendatangi sebuah perjanjian yang intinya pernyataan setuju untuk tidak membagikan data penggunanya tanpa persetujuan mereka (user). Perjanjian ini secara umum mengatur tentang berbagai kewajiban Facebook untuk menjaga data dan privacy dari penggunanya. Dan disebutkan pula bahwa apabila terjadi pelanggaran terhadap kewajiban tersebut maka Facebook akan dikenakan denda sebesar 40.000 US$ per data user yang dilanggarnya. Sehingga bila kasus Cambridge Analytica yang melibatkan penggunaan 50 juta data pengguna Facebook adalah merupakan salah satu bentuk pelanggaran dari perjanjian tersebut, maka bisa dibayangkan berapa besar denda yang harus dibayarkan oleh Facebook. Hal inilah yang memunculkan issue bahwa Facebook akan bangkrut.

Selain kekuatannya dalam hal Social Graph, hal lain yang juga dimiliki oleh Facebook adalah kemampuannya dalam merekam semua aktivitas pengguna selama dirinya aktif menggunakan Facebook. Facebook menyimpan dengan baik semua history dari aktivitas yang pernah dilakukan oleh penggunanya. Setiap saat pengguna bisa meminta rekaman dari history tersebut. Dengan demikian, sekali data ini bisa diakses maka profile seseorang akan dapat diketahui sepenuhnya.

Quizz Online
Adalah seorang peneliti dari Cambridge University’s Psychometric Centre yang bernama Aleksandr Kogan yang menjadi pintu masuk dari skandal penyalahgunaan data pengguna Facebook. Sejak tahun 2007, Kogan telah sangat familiar dengan aplikasi Quiz dari Facebook dan telah memanfaatkannya untuk mendapatkan data personal dari user Facebook untuk kepentingan riset akademiknya. Sejalan dengan munculnya API dari Facebook maka kemudian Kogan memanfaatkannya untuk mengembangkan aplikasi sendiri yang mirip dengan aplikasi Quizz Facebook tersebut dan menjalankan terus proyek riset dan pengumpulan data akademiknya melalui perusahaannya sendiri yaitu Global Science Research (aplikasi bernama : thisisyourdigitallife).

Kemampuan Kogan dalam mengumpulkan data melalui API Facebook ini kemudian dimanfaatkan oleh perusahaan Cambridge Analytica untuk meminta dibuatkan Quiz Kepribadian yang kelak akan dipasang pada aplikasi Amazon. Dengan iming-iming bayaran 1-2 US$, dan dengan komitment data hanya untuk kepentingan akademik, maka Quiz tersebut telah mampu menarik pengguna sekitar 270.00 user. Namun tanpa disadari oleh pengguna Quiz tersebut, ternyata data yang mereka isikan pada Quiz tersebut, ternyata juga menjadi pintu masuk untuk akses terhadap data kawan-kawan dan pertemanan yang terkoneksi dengan akun pengguna Quiz tersebut. Hal inilah yang kemudian memunculkan angka hampir 50 juta data pengguna Facebook. Dalam hal ini, Aleksandr Kogan menyatakan bahwa tugas dia hanya mengumpulkan data saja untuk kepentingan analisis politik, sementara bagaimana penggunaan data tersebut diluar kepentingan analisis politik adalah tanggung jawab sepenuhnya dari Cambridge Analytica.

Restriksi API
Facebook mulai menyadari adanya hal yang diluar control dari akses dan penggunaan data pengguna Facebook yang didapat dari Open Graph API. Karenanya maka pada bulan April 2014, dilakukan redesign ulang kemampuan dari Open Graph API dengan sejumlah pembatasan akses kedalam data pengguna. Namun sayangnya hal ini tidak berlaku surut untuk aplikasi-aplikasi yang memanfaatkan API sebelum April 2014. Hal ini sangat menguntungkan Cambridge Analytica karena masih mampu melakukan akses terhadap data-data user Facebook walaupun sudah menerapkan berbagai pembatasan akses data. Bahkan seorang pegawai Cambridge Analytica yang bernama Christopher Wylie yang kemudian keluar dan mendirikan perusahaan Eunoia Technologies, hingga tahun 2015 masih dapat memanfaatkan data-data pengguna Facebook yang didapat sebelumnya ketika masih bekerja pada Cambridge Analytica. Wylie merupakan saksi penting yang menjadi kunci bagi terbukanya skandal data Cambridge Analytica ini.

Facebook sendiri mengklaim bahwa sejak April 2014 model bisnis yang mereka terapkan untuk pemanfaatan Open Graph API bagi pihak ketiga sudah sedemikian rupa dirancang untuk melindungi privacy dari pengguna Facebook. Salah satu bentuknya adalah disediakannya menu dimana user sendiri dapat mengontrol aplikasi mana saja yang diijinkan untuk akses data dan user bisa setiap saat menon-aktifkan aplikasi tersebut. Melalui pilihan menu Pengaturan – kemudian sub menu Aplikasi, maka terlihat daftar aplikasi yang diijinkan oleh pengguna untuk mengakses data dirinya yang disediakan oleh Facebook. Bila dirasakan list aplikasi tersebut tidak dikenal atau sudah tidak digunakan lagi, maka user bisa segera menghapus aplikasi tersebut.

Sanggahan dari Facebook
Upaya penyalahgunaan data pengguna Facebook oleh pihak ketiga melalui celah Open Graph API sudah mulai terdeteksi sejak tahun 2015. Saat itu, Facebook menyatakan bahwa Kogan dan Cambridge Analytica telah menyalahi kesepakatan yang dibuat antara mereka dengan Facebook dengan cara menjual data user Facebook yang mereka dapatkan kepada pihak lain. Facebook berusaha untuk menegaskan yang terjadi bukanlah pencurian data ataupun pelanggaran terhadap privacy dan adanya celah keamanan, namun semata-mata adanya pihak yang menyalahgunakan data yang didapat untuk tujuan yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

Untuk itu, Facebook telah memita kepada Kogan dan Cambridge Analytica untuk segera menghapus semua data yang diperoleh dari Facebook dengan cara yang tidak benar tersebut. Pihak Kogan dan Cambridge Analytica sendiri menyatakan bahwa mereka dan semua staff mereka telah berusaha untuk mematuhi permintaan tersebut. Sayangnya, karena sifat dan karakteristik dokumen digital, mereka sendiri tidak bisa memastikan sepenuhnya bahwa semua data yang dimaksud telah benar-benar dihapus. Hal ini didukung oleh hasil investigasi beberapa lembaga audit independen bahwa data yang dimaksud belum sepenuhnya dihapus sama sekali, dan diyakini masih disimpan oleh beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab.

Sanggahan dari Facebook menyatakan bahwa kesalahan penggunaan data user ini ada pada pihak Kogan dan Cambridge Analytica juga banyak dikritik oleh pengamat, mereka tidak yakin kalau Facebook tidak tahu ketika Cambridge Analytica menjadi konsultan politik dari kampanye Presiden Donald Trump telah memanfaatkan data-data Facebook yang didapat sebelumnya untuk kepentingan strategi pemenangan Donald Trump. Lambatnya respon Mark Zukerberg terhadap issue Cambridge Analytica itu sendiri baik secara personal maupun secara institusinal telah menimbulkan berbagai kecurigaan terhadap hubungan sesungguhnya yang terjadi antara Facebook dan Cambridge Analytica serta Presiden Donald Trump itu sendiri. Walaupun kemudian Mark sendiri menbantah semua kecurigaan tersebut dan menegaskan kembali bahwa apa yang terjadi adalah semata-mata karena adanya kebijakan Facebook yang dilanggar oleh pihak Kogan dan Cambridge Analytica. Hal yang disayangkan oleh banyak pihak, hingga saat ini Mark tidak pernah menyatakan hal yang terkait dengan permintaan maaf kepada pengguna Facebooknya namun Mark lebih banyak menjelaskan tentang berbagai perubahan kebijakan yang signifikan yang secara substansial akan mengubah apa yang pengembang pihak ketiga dapat lakukan dengan data pribadi yang terdapat pada Facebook. Mark menyampaikan sejumlah kebijakan baru dalam pemanfaatan Open Graph API serta kebijakan yang lebih ketat dalam hal keterlibatan pihak ketiga yang akan memanfaatkan Open Graph API dari Facebook. Kebijakan tersebut diharapkan akan mengembalikan rasa percaya dan trust pengguna Facebook terhadap keamanan dan privacy data mereka.

Penolakan terhadap Facebook
Sejak terungkapnya skandal data Facebook dan Cambridge Analytica pada pertengahan Maret 2018, maka Mark Zukerberg serta Facebook mendapat tekanan yang luar biasa dari sesama pebisnis digital dilingkungan Silicon Valley Amerika. Tidak hanya dari masyarakat luas, Mark juga mendapat tekanan dari mitra bisnis dari Facebook sendiri. Salah satu tekanan tersebut datang dari Brian Acton, salah satu pendiri Whatssap yang telah diakuisisi oleh Facebook. Acton menginisiasi sebuah tagar #deletefacebook.Sementara Tim Cook dari Apple sangat menyayangkan rendahnya komitmen Facebook dalam menjaga privacy dan data pengggunanya bila dibandingkan dengan Apple dan Iphone. Demikian juga dengan Roger McNamee, banyak berperan dalam pengembangan Facebook pada saat awal namun kemudian memilih keluar dari Facebook. McNamee membuka alasan dirinya hengkang dari Facebook adalah karena kecewa dengan strategi yang dijalankan oleh Mark Zukerberg dalam hal privacy dan keamanan.

Beberapa analis program keamanan computer bahkan menyatakan program API yang disediakan oleh Facebook tidak hanya mampu merekam aktivitas user didunia maya saja bahwa sms dan call record dari handphone yang digunakan untuk menjalankan aplikasi Facebook juga mampu direkam dengan baik. Sehingga Facebook benar-benar telah mampu menembus dinding privacy dari seseorang. Selain itu, pengguna Facebook juga tidak memiliki pilihan untuk menyembunyikan data dirinya dari upaya targeting iklan yang dipasang di Facebook. Hal inilah yang sangat disayangkan dan baru disadari oleh sebagian besar pengguna Facebook.

Beberapa produk dan perusahaan yang selama ini memanfaatkan Page Facebook sebagai media promosi utamanya juga menyayangkan rendahnya komitmen Facebook dalam menjaga privacy dan data user. Majalah dewasa Playboy memiliki Page di Facebook dengan lebih dari 25 juta followers menyatakan bersiap untuk meninggalkan Facebook. Demikian juga beberapa perusahaan lainnya yang selama ini memanfaatkan Page Facebook untuk kepentingan promosinya. Namun apakah gerakan #deletefacebook benar-benar terwujud ataukah hanya sekedar tekanan moral kepada Facebook untuk lebih aware dengan masalah privacy dan keamanan datanya, masih perlu dibuktikan dalam beberapa minggu kedepannya.

Sementara dari sisi para pemasang iklan itu sendiri, berbagai kebijakan terbaru dan pembatasan dalam hal penggunaan data Facebook oleh pihak ketiga belum sepenuhnya dirasakan oleh mereka. Namun bila kebijakan baru tersebut nantinya akan menurunkan efisiensi dan efektivitas mereka dalam pemasangan iklan tentunya mereka akan mempertimbangkan untuk mencari media lain yang lebih efektif dan efisien untuk kepentingan pemasangan iklan mereka.

Preventif dan Solusi Bagi Pengguna Facebook
Pada tahun 2018 ini, jumlah pengguna Facebook di Indonesia yang dikeluarkan oleh statistika.com menungkkan angka 96, 41 juta pengguna. Sementara data yang dicatat oleh internetworldstats.com menunjukkan angka 130 juta pengguna. Wajarlah bila kemudian dimata Facebook, Indonesia adalah sebuah pasar sangat besar untuk menjaga keberlanjutan
dari Facebook itu sendiri. Sebagai bentuk komitmennya, maka mulai Agustus 2017, Facebook membuka kantor perwakilannya di Jakarta.

Adalah sulit dan mustahil bagi pengguna aktif Facebook untuk dengan serta merta meninggalkan Facebook. Apalagi hingga saat ini belum ada aplikasi yang setara dengan Facebook dalam hal kenyamanan menjalankan aktivitas media social. Walaupun banyak aplikasi media social lainnya, seperti Instagram, Twitter, LinkedIn, namun ciri khas Facebook tetap tidak digantikan oleh aplikasi media social lainnya.

Bagi pengguna Facebook di Indonesia, issue skandal data Cambridge Analytica kelihatannya tidak terlalu berpengaruh. Hal ini terlihat dari postingan dan komentar status linimasa di Indonesia tidak banyak yang membahas tentang dampak Cambridge Analytica terhadap eksistensi dirinya dalam hal privacy dan keamanan. Hal ini berbeda dengan warga negara Amerika Serikat dimana data-data merekalah yang digunakan oleh Cambridge Analytica untuk kepentingan pemenangan kampanye Donald Trump. Barangkali karena ada praduga bahwa 50 juta data pengguna Facebook yang dipermsalahkan adalah pengguna Facebook di Amerika, bukannya di Indonesia sehingga hal ini tidak menimbulkan gejolak dan penolakan Facebook di Indonesia.

Namun demikian, apa yang dilakukan oleh Cambridge Analytica sebenarnya sangat mungkin dilakukan juga oleh perusahaan lainnya. Baik yang saat ini beroperasi didalam ataupun diluar negeri. Ada ratusan bahkan mungkin ribuan aplikasi pihak ketiga yang dijalankan dengan memanfaatkan Open Graph API dari Facebook. Sehingga potensi penggunaan data untuk hal yang tidak sesuai sangatlah terbuka.

Untuk itu ada 3 langkah keamanan dan 2 langkah preventif yang harus diperhatikan untuk pengguna Facebook. Tiga langkah adalah :

  1. Tinjau kembali semua setting privacy yang telah kita buat untuk akun Facebook kita. Setting privacy akan mengatur apa yang bisa dishare oleh kita kemudian siapa yang menerima sharing, kemudian bagaimana orang lain bisa berkomunikasi dengan kita. Termasuk mekanisme approve bila seseorang melakukan tag terhadap akun kita pada komentar ataupun foto sebelum bisa muncul dalam dinding Facebook kita.
  2. Lakukan setting privacy yang tepat untuk data yang berhubungan dengan privacy kita seperti: tempat dan tanggal lahir, lokasi tempat tinggal, nomor telepon. Data tersebut sebaiknya di setting sebagai hidden dari akses public.
  3. Perhatikan juga daftar aplikasi yang telah kita ijinkan untuk dapat mengakses data Facebook kita. Bila aplikasi tersebut sudah tidak lagi dipake atau malah tidak kita kenal maka segera hapus aplikasi tersebut dari daftar tersebut.

 

Sementara 2 langkah preventif yang harus dilakukan adalah :

  1. Bila akan bergabung dengan suatu web atau menjalankan sebuah aplikasi dengan memanfaatkan data Facebook (biasanya ada pilihan apakah login/daftar manual atau login/daftar dengan akun Facebook) maka pastikan bahwa web atau aplikasi tersebut benar-benar aplikasi yang terpercaya. Bila diragukan maka sebaiknya tidak menggunakan pilihan login dengan akun Facebook namun lakukan login dengan data manual. Minimalkan upaya untuk mengintegrasi Facebook dengan aplikasi external lainnya.
  2. Tidak mudah tergiur untuk menjalankan aplikasi yang berjalan dengan cara mengakses data dan aktivitas Facebook kita. Aplikasi lucu-lucuan seperti aplikasi yang memprediksi bagaimana wajah kita ketika tua, aplikasi yang memprediksi siapa artis yang mirip dengan kita, siapa sahabat terbaik kita dan sejenisnnya secara tidak langsung akan melakukan mekanisme akses terhadap foto, posting komentar, like comment, checkin lokasi yang kita lakukan di Facebook untuk kemudian diolah menjadi ouput yang diharapkan. Aplikasi sejenis ini, sifatnya walaupun hanya sekedar gurauan namun memiliki dampak yang sangat dalam terhadap akses privacy dan data kita. Sebaiknya kita hindari apliasi sejenis ini. Termasuk didalamnya adalah aplikasi Quis/survey yang banyak ditemukan dalam Facebook atupun di internet secara umum.

Yogyakarta, 30 Maret 2018

Sharing Session, FKTI Unmul & PPs FTI UII

Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (FKTI) Universitas Mulawarman, yang beralamat di Jl. Panajam Kampus Gn. Kelua Universitas Mulawarman Samarinda Kalimantan Timur melakukan silaturahmi dan sharing session ke Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta. (28 Maret 2018)

Ragam konsentrasi dan kurikulum yang ada di PPs FTI UII, yaitu Forensika Digital, Sistem Informasi Enterprise dan Informatika Medis menjadi salah satu agenda pembahasan di sharing session dilanjutkan kunjungan ke Laboratorium Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid)

Delegasi dipimpin Ramadiani, Ph. D, Ketua Jurusan Ilmu Komputer, beranggotakan Septia maharani, M. Kom, Sekretaris Ketua Jurusan Ilmu Komputer beserta Koordinator Program Studi Teknik Informatika, Masna Wati, MT, Kepala Unit GJMF : Novianti Puspitasari, M. Eng, Kepala Unit kerjasama Islamiyah, M. Kom. Juga tampak hadir juga Medi Taruk, M. Cs dan Hario Jati Setiayadi, M. Kom, keduanya Dosen Teknik Informatika serta Rika Panca Wahyuni, SE, Sekretariat dan Kerjasama diterima langsung Dr. R. Teduh Dirgahayu, Ketua PPs FTI UII di ruang PPs 1 Lantai 1 Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII Jalan Kaliurang Km 14,4 Sleman, Yogyakarta

Sedangkan Delegasi PPs FTI UII, tampak Fathul Wahid, Ph.D, Kepala Badan Sistem Informasi Universitas Islam Indonesia, Yudi Prayudi, Ph.D Candidate, Kepala Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) dan Fietyata Yudha. S.Kom, M.Kom, Peneliti Pusat Studi Forensika Digital(Pusfid) yang ketiganya juga Dosen Magister Teknik Informatika PPs FTI UII serta Jerri Irgo, Liaison Officer & Marketing PPs FTI UII.

Jerri Irgo

Kejahatan ATM Skimming

Yudi Prayudi, M.Kom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital FTI UII ; Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana FTI UII

ATM Skimming adalah sebuah bentuk kejahatan modern yang terorganisasi, yaitu sebuah upaya untuk melakukan pencurian informasi kartu kredit atau debit dengan cara menyalin informasi pada strip magnetik kartu yang digunakan pada mesin ATM. Proses untuk menyalin informasi biasanya dilakukan dengan menngunakan bantuan sejumlah alat baik yang menempel langsung pada ATM ataupun yang dipasang berdekatan dengan ATMnya.

Data yang direlease oleh The British Press, di wilayah Inggris saja setiap tahun tercatat hampir 100.000 nasabah yang melaporkan menjadi korban dari aktivitas Skimming. Berdasarkan data yang direlease tersebut setiap tahun jumlah uang nasabah yang dicuri melalui kejahatan Skimming meningkat hampir 20% tiap tahunnya.

Selain ATM Skimming yang saat ini populer, sebenarnya terdapat jenis skimming lainnya yang juga harus diwaspadai karena berpotensi memakan korban nasabah perbankan. Pertama adalah apa yang disebut dengan Hand-Held POS Skimming, yaitu sebuah alat yang bisa mencopy langsung / duplikasi kartu debit/credit. Kedua adalah apa POS Swaps, yaitu proses copy data kartu debit/credit dari mesin pembayaran yang sering terpasang di toko – toko. Dan ketiga adalah Dummy ATM, umumnya mesin ATM yang digunakan hanya untuk transaksi online, alih-alih mau melakukan transaksi online lewat mesin ATM, malah data-data kartu debit/kredit yang akan diambil oleh mesin dummy ATM ini.

ATM Skimming standar umumnya berbentuk perangkat elektronik yang diletakkan di atas alat pembaca kartu ATM, bagi seseorang yang sudah mahir, perangkat ini bisa dipasang dengan cepat hanya dalam waktu kurang dari 3 menit saja. Ada banyak merek dan model mesin ATM, maka pembuat alat Skimming akan menyiapkan alatnya sedemikian rupa sehingga sesuai bentuk, warna dan ukurannya dengan mesin ATM tertentu agar tidak mudah terdeteksi sehingga si pemilik ATM ataupun si korban sama sekali tidak menyadari kalau pada ATM tersebut telah terpasang mesin skimming.

Ketika sebuah kartu ATM dimasukkan kedalam tempat pembaca kartu ATM, maka Skimming akan melakukan proses copy data-data perbankan yang tersedia pada kartu ATM si korban. Kemudian pada waktu tertentu si pelaku akan melakukan control alat skimming yang dipasangnya kemudian mengambil datanya dan akhirnya menduplikasi ATM korban dengan cara menyalin data yang sudah didapat dari mesin skimmer kedalam kartu ATM kosong. Dalam perkembangannya, kecanggihan teknik skimming ini akan langsung mengcopy data yang didapat dari alat skimmingnya secara online atau remote, teknologi GSM, Bluetooth memungkinkan untuk mengirimkan data yang didapat dari skimming ke komputer atau smartphone yang dipasang pada lokasi tertentu. Dengan teknik yang canggih ini maka alat skimming dapat diakses dari manapun oleh si pelaku.

Umumnya cara kerja paling sederhana dari kejahatan ATM Skimming terdiri dari tiga tahap. Pertama si Pelaku akan mencari target mesin ATM yang akan dipasangi alat skimmer. Target mesin ATM biasanya adalah lokasi ATM yang agak sepi atau dilokasi yang kurang penjagaan dan pengawasannya. Lokasi ATM yang jauh dari kantor bank adalah lokasi yang menjadi incaran pelaku skimming. Setelah didapat lokasi ATM yang dimaksud maka langkah berikutnya adalah memasang alat skimming pada mesin ATM tersebut. Selanjutnya alat skimming akan bekerja untuk mengcopy data-data ATM korban dan tahap terakhir adalah proses pengambilan dana milik si korban. Umumnya dana milik si korban akan diambil di lokasi yang berbeda dengan lokasi tempat proses skimming dilakukan. Bahkan tidak jarang dana ditarik oleh orang lain pada ATM yang berbeda lokasi negaranya.

Alat dan teknologi untuk melakukan kejahatan ATM Skimming itu sendiri berevoluasi dari tahun ke tahun. Ilustrasi standard ATM Skimming dengan menjelaskan adanya alat yang dipasang pada lubang untuk memasukkan kartu ATM adalah alat dan teknologi skimming yang paling lama (tahun 2002-2007). Periode tahun 2008 mulai terdeteksi adanya alat skimming berupa micro spy camera untuk merekam pin yang dimasukkan oleh korban. Tahun 2009 micro spy camera menjadi lebih kecil lagi ditambah dengan adanya alat baru yang terpasang menggunakan USB untuk merekam data. Tahun 2010 mulai terdeteksi adanya pin- pad overlay untuk merekam pin, tahun 2012 mulai banyaknya produk skimming yang dijual secara online dengan teknologi pin-pad yang semain tipis. Tahun 2014 mulai diterapkan teknologi skimming yang dapat mem-bypas alat-alat anti skimming. Pada tahun tahun terakhir ini teknologi skimming diintegrasikan dengan alat-alat yang terhubung langsung dengan internet sehingga aktivitas skimming dapat dikendalikan dari jarak jauh.

Kejahatan ATM Skimming termasuk dalam katagori organized crime. Sangat jarang pelaku ATM Skimming beroperasi sendiri. Mereka akan tersebar dalam beberapa lokasi dan membagi peran yang berbeda satu sama lainnya. Setidak ada yang bertindak sebagai otak utamanya sebagai coordinator, kemudian yang bertugas untuk melakukan pengadaan alat skimmingnya, kemudian yang bertugas untuk memasang alat tersebut pada lokasi mesin ATM target, kemudian yang bertugas untuk mengontrol data yang didapat dari ATM, selanjutnya yang bertugas untuk melakukan duplikasi kartu ATM dan yang terkahir adalah yang yang bertugas untuk menarik dana menggunakan ATM yang telah diduplikasi.

Mesin ATM sebuah bank umumnya dioperasikan oleh pihak ketiga, sehingga upaya untuk mencegah terjadinya ATM Skimming harus dilakukan secara komprehensif baik oleh pihak bank itu sendiri maupun oleh pihak vendor yang menyediakan mesin ATM. Pihak bank harus secara rutin melakukan upaya kearah edukasi nasabahnya untuk selalu berhati-hati dalam menggunakan kartu ATMnya, informasi seputar bagaimana mengenali ruang ATM standard, cara menggunakan ATM yang aman serta call center untuk layanan informasi pengaduan terhadap pemilik kartu ATM harus secara intensif dilakukan oleh pihak bank. Pada sisi lainnya, pihak penyedia mesin ATM juga harus melakukan sejumlah upaya pencegahan kejahatan ATM skimming ini dengan cara : melakukan checking secara intensif dan rutin terhadap mesin-mesin ATM yang dioperasikannya. Inspeksi terhadap bentuk fisik dari ATM dan ruangan disekitarnya harus dilakukan secara rutin dan intensif agar bisa dengan cepat terdeteksi apabila terdapat alat-alat non standard yang terpasang di sekitar lokasi mesin ATM. Selain itu, maka penggunaan alat-alat anti skimming juga harus mulai diperhatikan oleh pengelola mesin ATM. Alat yang dimaksud dapat terpasang langsung pada mesin ATMnya ataupun diluar mesin ATM seperti halnya video / cctv yang terpasang.

Salah satu solusi lain adalah meningkatkan standard pengamanan pada kartu ATM/Debitnya itu sendiri. Dalam hal ini standard EMV (Europay Mastercard Visa), yaitu sebuah standard yang dibangun oleh konsorsium penyedia kartu bayar Mastercard dan Visa telah dijadikan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan standard bagi transaksi elektronik dan mencegah kejahatan skimming. Kartu EMV dirancang untuk mengurangi kejahatan skimming. Kartu dengan chip EMV memberikan kode unik untuk setiap transaksi – tidak seperti halnya kartu strip magnetik yang menggunakan informasi kartu Anda untuk memproses setiap pembayaran. Sayangnya migrasi dari model kartu berbasis magnetic ke system chip EMV cukup mahal sehingga tidak semua penyedia jasa kartu ATM memilih teknologi EMV pada kartu ATMnya.

Walaupun demikian, Skimming adalah sebuah industry black market yang sangat besar, sehingga dari tahun ke tahun selalu muncul update teknologi terbaru untuk aktivitas skimming, termasuk ATM skimming. Selain itu, dari banyak kasus ATM skimming yang terungkap ternyata kasus skimming satu pelaku dengan pelaku lainnya sangat unik dan variatif. Sehingga dikalangan skimmer dikenal istilah “no two skimmers are alike”, tidak ada dua pelaku skimmer yang sama. Pelaku skimmer selalu berusaha untuk membuat aktivitas skimming yang berbeda dengan skimmer lainnya. Hal inilah yang menjadi tantangan dari aparat dalam mengungkapkan kasus-kasus skimming. Alat, perilaku dan modus ATM skimming akan selalu berbeda dari satu kasus ke kasus lainnya sehingga upgrade skill dan pengetahuan dari apparatpun harus selalu ditingkatkan.

Dengan demikian dari sisi pengguna kartu ATM, langkah sederhana untuk menjaga diri dari aktivitas ATM skimming adalah :

  1. Usahakan gunakan kartu ATM dari yang telah menggunakan Chip EMV.
  2. Lakukan transaksi hanya pada ATM yang lokasinya terpantau keamanannya, dianjurkan gunakan ATM yang terpasang di kantor-kantor bank.
  3. Pantau dengan seksama kondisi sekitar ruang ATM, bila ada benda yang mencurigakan dan tidak yakin dengan fungsi benda tersebut maka sebaiknya tidak melakukan transaksi di mesin ATM tersebut.
  4. Monitor dengan seksama akun perbankan milik kita, bila ada transaksi penarikan uang yang mencurigakan dan diragukan, segera laporkan kepada pihak bank.

 

Yogyakarta, 17 Maret 2018

 

PUSFID, Deteksi Berita Hoax Sultan HB X

Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital, mendeteksi pembuat berita hoax yang seolah-seolah menyatakan pendapat Sultan HB X tentang SARA. Berdasarkan deteksi pusat studi tersebut, berita yang ditulis menggunakan nama Rosa Linda itu terdapat kemiripan dengan konten tulisan Ferdiansyah tentang menyampaikan pendapat dari seseorang bernama Salim A Fillah.

Yudi Prayudi Digital Forensik Magister Teknik Informatika PPs FTI UII

Hal tersebut, disampaikan Yudi Prayudi di ruang kerjanya di Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII Yogyakarta (20 April 2017).

Menurut Yudi Prayudi, konten pada berita yang dikabarkan hoax itu merujuk pada sebuah link http://www.metronews.tk/2017/04/sri-sultan-hamengkubuwono-maaf-bukan.html. Berita itu diposting di sebuah website yang patut diduga palsu dan seolah-olah mirip dengan portal resmi http://www.metronews.com.

Baca : Metro TV Jadi Korban ‘Web Phising’

“Teknik semacam itu dikenal dengan nama phising yaitu mengelabui pengguna dengan website yang mirip dengan tujuan mendapatkan data-data si pengguna,” ujar Yudi,
Dalam kasus metronews ini, web phising digunakan untuk mengelabui seolah-olah bahwa berita yang ditampilkan resmi. Top level domain dot tk pada http://www.metronews.tk merupakan top level domain yang sifatnya gratisan. Siapa pun dapat dengan mudah mendaftarkan domain pada top level itu.

Baca Pula : Analisis Peneliti Forensik Digital Soal Berita Palsu Catut Nama Sultan

“Dilihat dari logo website tampak website aslinya sebuah blog yang dibuat dengan engine blogspot. Domain itu digunakan sebagai alamat awal, namun kemudian diredirect ke salah satu alamat blog pada blogspot. Apa alamat blogspotnya dan atas nama siapa perlu didalami lagi,” papar Yudi.

Isi berita yang ditulis, memakai nama Rosa Linda dibuat pada 17 April 2017 dengan waktu unggah ke website pukul 20.45 WIB. Ia mencermati konten pada tulisan memiliki kemiripan dengan konten lain yang diposting pada alamat: http://teropongsenanyan.com/50868-ini-alasan-warga-tionghoa-tak-boleh-punya-hak-milik-tanah-di-yogyakarta.

Baca Juga : Penyebar Berita Hoax Sultan Terdeteksi

Postingan pada website di atas ditulis oleh seseorang dengan identitas Ferdiansyah pada hari Minggu 30 Oktober 2016 pukul 06.27.09 WIB. Berdasarkan cek kemiripan konten diperoleh angka 76 persen kemiripan. “Konten yang ditulis Ferdiansyah ini sebenarnya menyampaikan pendapat dari seseorang yang bernama Salim A Fillah. Terlepas bagaimana fakta sejarahnya, konten tersebut sifatnya pendapat pribadi,” jelasnya.

Siapa sebenarnya pemilik nama Rosa Linda, perlu pendalaman lebih lanjut apakah benar-benar itu orangnya atau bukan,” pungkas Yudi.

Jerri Irgo

Prof. Zarlis, 3 Prinsip rangkul Generasi Muda

Prof. Dr. Muhammad. Zarlis, M.Sc. mempunyai gaya tersendiri menyampaikan nasehat sekaligus untuk merangkul generasi muda, selain memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari, juga mempunyai 3 prinsip yaitu “Janji di tepati, hutang dibayar dan amanah dijaga” ujar Guru Besar Universitas Sumatera Utara, saat beramah tamah dengan Nandang Sutrisno S.H., M.H., LLM., Ph.D, Rektor UII di sebuah resto seputaran Kampus UII Cik Ditiro Yogyakarta (24 Maret 2017).

3 Prinsip Prof. Zarlis - Rangkul Generasi MudaSebagai Anggota Bidang Pembangunan Komunikasi dan Teknologi Informasi, Asosiasi Profesor Indonesia, periode 2013-2017, Prof. Zarlis yang tampil selalu sebagai anak muda, mempunyai pengalaman tentang bagaimana bernegosiasi dengan manajemen sebuah institusi perbankan agar membuat sistem yang lebih humanis, hal tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk pengambil kebijakan. “Cukup 2 sks untuk menjelaskan hal tersebut” tegas Prof Zarlis yang aktif sebagai pengajar, peneliti, dan pembicara berbagai seminar tersebut.

Baca juga : Tim Asesor Visitasi Magister Teknik Informatika

Tampak hadir saat ramah tamah tersebut, Dekan FTI UII, Dr Imam Djati Widodo didampingi Wakil Dekan FTI UII, Dr. Sri Kusumadewi, Dr. R. Teduh Dirgahayu, Direktur Program Pascasarjana FTI UII, juga Izzati Muhimmah, Ph.D, Kepala Pusat Studi Informatika Medis dan Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom, Kepala Pusat Studi Digital Forensik. Selain itu juga ikut serta Domas Hata Fudloli, S.T, M.Sc, Ph.D dan Moh Idris, S.Kom, M.Kom serta Jerri Irgo, Liaison Officer Program Pascasarjana & Marketing FTI UII.

Jerri Irgo

Badan Cyber Nasional Mendesak Dibentuk

Yudi Prayudi

Pakar cybercrime Universitas Islam Indonesia (UII), Yudi Prayudi menandaskan perlu segera dibentuk Badan Cyber Nasional. Menyusul belum adanya koordinasi lintas sektoral dan multidimensi di antara lembaga yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas cyber (Lembaga Sandi Negara – Kementerian Komunikasi dan Informasi – Cybercrime Polri – Kementerian Pertahanan- Menteri Koordinatosi Politik dan Keamanan).

Yudi Prayudi mengemukakan hal tersebut kepada wartawan di kampus Fakultas Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta, Selasa (21/2/2017). Diharapkan keberadaan Badan Cyber Nasional bisa dilakukan koordinasi yang melibatkan sektor non goverment.

Saat ini, kata Yudi, infrastruktur sektor swasta masih ditangani secara mandiri. Sehingga pertahanan cyber kurang kuat saat menghadapi serangan. Karena itu, perlu ada koordinasi antara sektor swasta dan pemerintah.

Dijelaskan Yudi, berdasarkan hasil survei di Malaysia tahun 2015, semakin lama berinternet serangan semakin besar. Orang yang mengalokasikan waktu antara 1-24 jam per minggu online mendapatkan cybercrime sebanyak 64 persen. Selanjutnya, orang yang mengalokasikan waktu antara 24 – 49 jam/minggu untuk online mendapat serangan cybercrime sebesar 75 persen. Sedang yang mengalokasikan waktu online selama lebih dari 49 jam/minggu akan mendapat serangan cybercrime sebesar 79 persen.

Kata Yudi, ada tiga dampak dari serangan yaitu phishing, identity theft, hacking dan online harasment. Phishing adalah tindakan untuk memperoleh informasi pribadi seperti user ID, password dan data-data sensitif lainnya dengan menyamar sebagai orang atau organisasi yang berwenang melalui sebuah email.

“Melalui phising maka malware bisa masuk kedalam sistem ataupun akun bisa diambil alih. Data dari Verizon menunjukkan bahwa hampir 23 persen pengguna internet menjadi korban cyber crime melalui phising,” kata Yudi.

Sedang identity theft adalah meningkatnya aktivitas transaksi online serta prosedur pengisian form online menjadi media bagi pencurian data. Hacking adalah serangan terhadap sistem untuk maksud tertentu. Online harasment adalah kekerasan terhadap kelompok tertentu melalui media online,

Berdasarkan data dari Global Digital Snapshot bulan Januari 2017, populasi dunia sebesar 7.476 miliar jiwa. Sebanyak 3.773 miliar orang menggunakan internet atau 50 persen dari penduduk dunia. Pengguna internet terbagi 2.789 miliar orang atau 37 persen menggunakan media sosial, 4.917 miliar orang atau 66 persen menggunakan handphone, 2.549 miliar orang atau 34 persen pengguna active mobile sosial. “Saat ini, pengguna internet Indonesia sebesar 51 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan angka rata-rata dunia yang hanya 50 persen,” kata Yudi.

diberitakan di JogPaper

Jerri Irgo

No Log No Crime

 

15178124_10209686673896128_3132423433748782133_n

(Pekanbaru). dr. H. Taswin Yacob, Sp.S, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), membuka secara resmi Studium General Digital Forensic dengan tema “No Log No Crime”, menghadirkan Narasumber Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom Kepala Pusat Digital Forensik Universitas Islam Indonesia yang juga Dosen Magister Teknik Informatika PPs FTI UII Yogyakarta (30 November 2016).

Kegiatan yang dilaksanakan di Auditorium Universitas Muhammdiyah Riau (UMRI), tampak hadir Aryanto, SE, MIT, Ak, Dekan Fakultas Ilmu Komputer UMRI dan seluruh Mahasiswa Perwakilan dari Kampus di Pekanbaru yang memiliki Program Studi Komputer,

Mitra Unik, M.Kom, Dosen Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer UMRI dalam releasenya menyampaikan “Latar belakang kegiatan ini adalah sebagai semangat penyebaran informasi dan edukasi khususnya Digital Forensic di Pekanbaru Riau” ujar Mitra Unik di Kampus I UMRI – Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 88 Sukajadi, Pekanbaru.

“Di Pekanbaru, baru hanya UMRI yang mengajarkan Mata Kuliah Digital Forensic dan telah memiliki lulusan dengan topik tugas akhir Digital Forensic” ujar Mitra Unik, yang juga Lulusan Magister Teknik Infotmatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta.

“Dengan adanya Studium General ini diharapkan dapat menjadi stimulus perkembangan keilmuan khususnya Digital Forensik agar makin di ketahui oleh khalayak ramai khususnya oleh para pelaku  praktisi dan Akademisi” tegasnya.

Seusai Studium General dilanjutkan peresmian Studi Club Digital Forensik di bawah Program Studi Teknik Informatika UMRI, adapun salah satu tujuan dan harapannya adalah untuk melakukan riset dan eduksi dengan melibatkan multi stakeholder, termasuk Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Jerri Irgo

Empat Ilmu Dasar Yang Wajib Kita Kuasai.

Empat Ilmu  Dasar  Yang Wajib  Kita  Kuasai.  M Nuh MI PPs FTI UII

“Ada 4 ilmu dasar yang wajib kita kuasai untuk dapat menjadi orang hebat, yaitu menguasai listening, reading, speaking, dan writing. Dengan 4 hal tersebut, maka kita dapat menggapai apa yang kita inginkan dan semua hal tersebut tidak instan datang, melainkan harus dilatih sejak sekarang” ujar Didik Sudyana mengutip pesan Ketua Asosiasi Forensik Digital Indonesia (AFDI) periode 2014 – 2019, .AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, MSc., CHFI., CEI., ECIH.

Didik Sudyana, Mahasiswa Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) konsentrasi studi Forensika Digital menyampaikan hal tersebut seusai diskusi terbatas, yang diselenggarakan Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) UII di Ruang PPs 1, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII (9 Muharam 1438 Hi/11 Oktober 2016)

“Diskusi bersama AKBP Muhammad Nuh banyak memberikan beberapa ilmu tentang forensika digital diantaranya beberapa ilmu dasar mulai dari apa itu deleted file, lost file, dan jujur untuk hal ini saya juga lupa, untung diingatkan kembali” ujar Didik

Didik menambahkan “Selain itu juga materi-materi tentang apa itu pixel, dan juga pembahasan tentang bagaimana melakukan forensik terhadap sebuah CCTV. Kemudian juga ada membahas terkait mobile forensik. Tidak hanya memberikan pembahasan tentang beberapa teori dan praktis dalam forensika digital”

Selain mendapatkan ide baru terkait penelitian, kami semua mendapat ilmu forensika digital kekinian, bahkan dapat kembali mengingat teori dasar yang mungkin sudah terlupakan. Selain hal-hal teknis tentang forensika digital, beliau juga memberikan ilmu soft skills untuk kami semua yang sangat bermanfaat” ujarnya.

AKBP Muhammad Nuh yang didampingi Yudi Prayudi, M.Kom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital UII, juga memberikan saran dan nasihat yang sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. “Diantaranya saran tentang dalam hidup ini terdapat 5 kategori seseorang itu dapat dihormati, yaitu dari harta, keturunan, jabatan, paras wajah, dan terakhir ilmu pengetahuan. Keempat hal pertama dapat hilang, tapi ilmu pengetahuan tidak akan pernah hilang., oleh karena itu kami dituntut untuk terus dan tidak bosan belajar mencari ilmu pengetahuan” pungkas Didik.

Jerri Irgo

Multimedia Forensik Bagi Praktisi Dan Akademisi

Multimedia Forensik Nora PPs FTI UII akbp M Nuh

Nora Lizarti Mahasiswi Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) konsentrasi studi Forensika Digital menerima tantangan AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, MSc., CHFI., CEI., ECIH untuk menyelesaikan penelitian tentang Multimedia Forensik, lebih tepatnya ke Framework Investigasi Forensik khusus untuk Multimedia.

“Menurut AKBP Muhammad Nuh, Kasubbid Komputer Forensik Puslabfor Mabes Polri , topik kajian framework yang saya teliti ini terlalu berat dan susah karena yang dikaji adalah 3 buah framework berbeda, namun insyallah penelitian ini tetap saya lanjutkan karena menimbang kontribusi dan adanya tahapan-tahapan yang memiliki terminologi yang sama” ujar Nora. Hal tersebut disampaikan seusai diskusi terbatas, yang diselenggarakan Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) UII di Ruang PPs 1, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII (9 Muharam 1438 Hi/11 Oktober 2016)

Menurut Nora, “Metode composite logic yang diterapkan nantinya dapat menghasilkan framework investigasi multimudia forensik yang berguna bagi praktisi dan akademisi”. “Penelitian ini konsepnya membangun sebuah framework baru untuk multimedia forensik yang terintegrasi, karena selama ini framework multimedia masih terpisah antara audio, image dan video. Gap masalah penelitian ini timbul merujuk dari sebuah penelitian bohme yang mengatakan bahwa multimedia forensik bukanlah komputer forensik, sehingga tahapan investigasinya tidak dapat disamakan dengan tahapan investigasi komputer forensik” imbuhnya.

“Selain itu, pada multimedia forensik ada sebuah proses rekayasa terhadap barang bukti (enhancement) yang harus di lakukan demi mendapatkan informasi, sehingga diharapkan kedepannya dengan adanya framework ini maka pertanyaan di pengadilan (seperti pada kasus jesica) terkait “mengapa ada proses zooming? – berarti barang bukti dapat di edit atau direkayasa dan adanya tampering (perusakan pada barang bukti) dapat di anulir dengan dasar adanya prosedur dan tahapan tersebut pada framework yang bersifat ilmiah” ujar Nora

“Alhamdulillah dengan adanya kegiatan diskusi bersama AKBP Muhammad Nuh yang juga sebagai Ketua Asosiasi Forensik Digital Indonesia (AFDI) dan Yudi Prayudi, M.Kom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital UII, hal tersebut sangat membantu, selain sharing pengalaman juga mendapat pencerahan dan didengarkan serta ditanggapi secara langsung dari Ahli Digital Forensik” pungkasnya

Jerri Irgo