Posts

Tingkatkan Omset UMKM dengan Teknologi Informasi.

Peranan Teknologi Informasi dalam Peningkatan Omset dan Daya Saing Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi pokok diskusi terbatas antara Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) dengan Bank Syariah Mandiri (BSM) Cabang Yogyakarta.

11 - Jerri 3008 Inisiasi SIE dan BSM (6)

Saat ini masih banyak pelaku UMKM yang belum memahami pentingnya Teknologi Informasi, khususnya dalam memasarkan produk atau jasanya. Setiap UMKM memerlukan jenis teknologi yang berbeda-beda, sehingga perlu memutuskan untuk menerapkan teknologi apa saja yang diperlukan secara prioritas. “PPs FTI UII dalam hal ini Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise (SIE) berperan aktif mengedukasi dan mengimplementasikan langsung ke UMKM”

Hal tersebut disampaikan Dr. R Teduh Dirgahayu, Ketua Program Pascasarjana FTI UII dalam diskusi yang dilaksanakan di salah satu resto seputaran Jalan Kaliurang Yogyakarta (30 Agustus 2017).  Selain Dr. R Teduh Dirgahayu,  tampak hadir Jerri Irgo, Liaison officer PPs FTI UII.

Sementara Ira Kusuma Angreyliya, Area Micro Banking Manager, BSM cabang Yogyakarta menyatakan “BSM untuk mencapai akselerasi pertumbuhan perbankan syariah harus dengan support pemerintah dan sinergi antar stakeholder ekonomi syariah, termasuk diantaranya dengan perguruan tinggi”.

“UII dan BSM telah melakukan kerjasama yang ditandatangani oleh Direktur Utama BSM dan Rektor UII, penandatangan dilakukan saat sebanyak 115 Pimpinan Perguruan Tinggi Islam berkumpul di Yogyakarta pada acara Indonesia Islamic University Conference (25-26 Januari 2017)” ungkap Ira

Semoga, dengan adanya irisan tersebut, dalam waktu dekat ini, UII dan BSM dapat segera merealisasikan salah satu point kerjasamanya, diantaranya berfokus ke UMKM melalui kegiatan workshop untuk dapat meningkatkan omset dengan dukungan Teknologi Informasi.

Jerri Irgo

PusFid dan KPPU, selenggarakan Workshop untuk Investigator

(Kaliurang). Yogi S Wibowo, Kepala Bagian Kesejahteraan Pegawai Biro Organisasi dan SDM KPPU, membuka secara resmi Digital Forensics Workshop for KPPU Investigators yang merupakan kerjasama Pusat Studi Digital Forensik (PusFid) Universitas Islam Indonesia (UII)) bekerjasama dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

01 - PusFid dan KPPU Siapkan SDM Handal Ungkap Barang Bukti Digital. (2)

Kegiatan yang diikuti 25 Investigator KPPU dilaksanakan di Auditorium Lantai 3 Gedung KH Mas Mansur, Fakultas Teknologi Industri, Kampus Terpadu UII (29 Jumadal Awwal dan 1 Jumadal Akhirah 1438 H/ 27 dan 28 Februari 2017).

Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom, Kepala PusFid UII disela-sela kegiatan menyatakan “tujuan dari workshop ini adalah meningkatkan kemampuan SDM di lingkungan KPPU khususnya dalam hal penanganan barang bukti digital guna membantu proses investigasi terhadap kasus-kasus yang menjadi lingkup penanganan KPPU” ujarnya.

Yudi Prayudi yang juga sebagai Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana FTI UII, menambahkan “output dari workshop tersebut, diharapkan adanya kesiapan SDM KPPU dalam hal pengetahuan dan skill untuk menangani kasus-kasus yang melibatkan bukti digital” pungkas Yudi

Jerri Irgo

No Log No Crime

 

15178124_10209686673896128_3132423433748782133_n

(Pekanbaru). dr. H. Taswin Yacob, Sp.S, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), membuka secara resmi Studium General Digital Forensic dengan tema “No Log No Crime”, menghadirkan Narasumber Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom Kepala Pusat Digital Forensik Universitas Islam Indonesia yang juga Dosen Magister Teknik Informatika PPs FTI UII Yogyakarta (30 November 2016).

Kegiatan yang dilaksanakan di Auditorium Universitas Muhammdiyah Riau (UMRI), tampak hadir Aryanto, SE, MIT, Ak, Dekan Fakultas Ilmu Komputer UMRI dan seluruh Mahasiswa Perwakilan dari Kampus di Pekanbaru yang memiliki Program Studi Komputer,

Mitra Unik, M.Kom, Dosen Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer UMRI dalam releasenya menyampaikan “Latar belakang kegiatan ini adalah sebagai semangat penyebaran informasi dan edukasi khususnya Digital Forensic di Pekanbaru Riau” ujar Mitra Unik di Kampus I UMRI – Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 88 Sukajadi, Pekanbaru.

“Di Pekanbaru, baru hanya UMRI yang mengajarkan Mata Kuliah Digital Forensic dan telah memiliki lulusan dengan topik tugas akhir Digital Forensic” ujar Mitra Unik, yang juga Lulusan Magister Teknik Infotmatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta.

“Dengan adanya Studium General ini diharapkan dapat menjadi stimulus perkembangan keilmuan khususnya Digital Forensik agar makin di ketahui oleh khalayak ramai khususnya oleh para pelaku  praktisi dan Akademisi” tegasnya.

Seusai Studium General dilanjutkan peresmian Studi Club Digital Forensik di bawah Program Studi Teknik Informatika UMRI, adapun salah satu tujuan dan harapannya adalah untuk melakukan riset dan eduksi dengan melibatkan multi stakeholder, termasuk Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Jerri Irgo

IMFIF dengan menggunakan Composite Logic.

15168867_10206120462930176_2185426845378878038_o
Alhamdulillah, tantangan AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, MSc., CHFI., CEI., ECIH untuk menyelesaikan penelitian tentang Multimedia Forensik, lebih tepatnya ke Framework Investigasi Forensik khusus untuk Multimedia kepada Nora Lizarti, terbayar Lunas, saat dinyatakan tugas akhirnya dengan Konsep Integrated Multimedia Forensic Investigation Framework (IMFIF) dengan menggunakan Composite Logic dinyatakan lulus oleh Dewan Penguji Ujian Pendadaran (26 November 2016).

Nora, Mahasiswi Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) konsentrasi studi Forensika Digital, menyampaikan “Ide penelitian ini, berawal dari tugas perkuliahan yang diberikan oleh Pak Yudi Prayudi saat saya masih semester 2, sebuah paper digital forensik oleh Bohme (2009) yang berjudul “Multimedia Forensics its Not Computer Forensic” memicu ketertarikan saya terhadap multimedia forensik” ujar Nora seusai ujian pendadaran.

“Paper tersebut saya mengambil intisari bahwa multimedia forensik tidak sama dengan komputer forensik, karena didalam multimedia forensik mungkin saja dilakukan nya proses rekayasa terhadap barang bukti agar dapat memberikan informasi yang terkandung didalamnya tanpa bergantung pada informasi apapun selain dari konten digital itu sendiri berbeda dengan komputer forensik yang menganalisa deretan data bit per bit tanpa adanya proses perubahan pada barang bukti tersebut” ujarnya.

Sedangkan saat ini, kasus kasus yang melibatkan barang bukti digital sebagai barang bukti semakin meningkat tinggi termasuk kasus-kasus kejahatan yang melibatkan konten multimedia ( image, audio dan video), saya menilai adanya kebutuhan akan framework multimedia forensik dikarenakan saat ini, framework investigasi forensik digital yang berkembang lebih menekankan kepada investigasi komputer forensik secara umum dan tidak memberikan sebuah tahapan yang spesifik tentang multimedia forensik.

Seringnya dalam melakukan investigasi multimedia forensik seorang investigator menggunakan framework yang berbeda-beda menurut jenis konten multimedia yang akan dianalisa. “tentu saja hal tersebut menjadi tidak fleksibel dan kurang efisien, padahal konten multimedia memiliki kesamaan karakteristik sehingga memungkinkan untuk diintegrasikan menjadi sebuah kesatuan” jelas Nora

Nora menambahkan “Dalam penelitian ini saya menggunakan metode untuk mengkolaborasikan framework-framework terkait konten multimedia yang ada. Metode ini mampu mengkolaborasikan framework berdasarkan tujuan kesamaan tujuan dari setiap tahapan ataupun inputnya. Tentu saja ini sangat membantu saya dalam menyelesaikan penelitian ini”.

“Yudi Prayudi, S.Si. M.Kom dan pak Dr. Bambang Sugiantoro, MT sebagai pembimbing sangat membantu memberikan saran dan masukan agar penelitian ini menghasilkan hasil yang benar dan tepat secara keilmuan. Selain itu Ahmad Luthfi, S.Kom, M.Kom sebagai penguji pun turut andil dalam memberikan masukan-masukan penting dalam penelitian ini. Atas jasa mereka saya sangat mengucapkan terima kasih. Dan hari ini, 26 Nopember 2016 saya ujian pendadaran tesis saya, dan alhamdulillah dinyatakan lulus” ungkap Nora.

“Saya berharap penelitian saya ini dapat berkontribusi dalam perkembangan keilmuan multimedia forensik pada khususnya dan digital forensik pada umumnya. Selain itu, dengan adanya Integrated Multimedia Forensic Investigation Framework (IMFIF) ini, diharapkan dapat memberikan solusi atas belum adanya framework multimedia forensic yang terintgrasi sehingga IMFIF dapat digunakan sebagai acuan ketika terjadi perkara terkait media multimedia dipersidangan” pungkasnya.

Berita terkait : Multimedia Forensik Bagi Praktisi Dan Akademisi

Jerri Irgo

Analisis Teks Media Online dan Sosial

sie-dan-analisis-teks-media-online-dan-sosial

Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise, Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta, akan selenggrakan Kuliah Umum dengan Topik Analisis Teks Media Online dan Sosial. Kegiatan akan di helat pada hari Sabtu, 19 November 2016, dimulai jam 13.00 sd 15,.00 WIB. Kegiatan ini sekalian perkenalan dengan dosen baru Magister Informatika UII, Ismail Fahmi, Ph.D.

Dikutip dari berbagai sumber, Ismail Fahmi, Ph.D adalah seorang tokoh dibalik perkembangan perpustakaan digital dan jaringan perpustakaan digital One search di Indonesia, mengembangkan Teknologi Semantic Web di Perpustakaan Universitas Groningen (University of Groningen / Rijksuniversiteit Groningen) Belanda semasa menjadi Mahasiswa Program Doktoral di Universitas tersebut

Ismail Fahmi meraih Ph.D nya setelah menyelesaikan riset mengenai Natural Language Processing (NLP), dimana ia belajar bagaimana komputer dapat memahami bahasaalamiah manusia, dan dengan pengetahuannya ini komputer dapat memproses teks.

Sebagai contohnya, dari sebuah string kalimat, komputer bisa mengetahui mana subjek, predikat, atau objek. Juga tahu sebuah kata itu kata benda, kata kerja, kata sifat, atau yang lainnya. Dengan kemampuan menganalisa teks ini, komputer akhirnya dapat mengolah dokumen yang tidak terstruktur, bukan berbentuk data, menjadi data yang dapat dipahami oleh komputer. Bagaimana kita dapat membaca pola, trend, peta aktor, dan aktivitas dalam teks dimedia Online dan Sosial tersebut? Natural Language Processing (NLP) akan kita gunakan untuk melakukan analisa teks ini.

Jerri Irgo

Thesis Bootcamp on site – Gelombang 1

thesis-bootcamp-rsuiha-1

Kegiatan thesis bootcamp on site ini terselenggara sebagai bentuk kerjasama antara PPs FTI UII dan Rumah Sakit Umum Islam (RSUI) Harapan Anda, Tegal.

Berdasarkan kesepakatan dengan RSUI Harapan Anda, kegiatan ini terbuka bagi 5 (lima) mahasiswa Magister Teknik Informatika konsentrasi Informatika Medis dan Sistem Informasi Enterprise, yang siap tesis (telah lulus matakuliah Metodologi Penelitian).

Mahasiswa akan mengikuti serangkaian tahapan sebagai berikut:

  1. Pendaftaran dan diskusi topik penelitian, hingga 15 November 2016 di PPs FTI UII
  2. Observasi masalah, 17-21 November 2016 di RSUI Harapan Anda
  3. Proses penelitian tesis (pembimbingan, seminar proposal, seminar kemajuan, dan ujian tesis).

Pendaftaran dan diskusi topik penelitian dilakukan dengan menghubungi

  • Izzati Muhimmah, PhD. (Pusat Studi Informatika Medis)
  • Dr. R. Teduh Dirgahayu (Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise)

Berangkat dari Yogyakarta ke Tegal pada Rabu, 16 November 2016; pulang kembali dari ke Yogyakarta pada Senin, 21 November 2016. Mahasiswa mendapatkan tempat akomodasi dari RSUI Harapan Anda selama tinggal berada di Tegal.

Hasil akhir penelitian tesis akan disampaikan oleh dosen pembimbing kepada RSUI Harapan Anda. Hasil penelitian menjadi hak cipta bersama antara mahasiswa, dosen pembimbing (mewakili Program Magister Teknik Informatika PPs FTI UII) dan RSUI Harapan Anda.

 

Tips dan Trik Retno, Dapatkan Nilai Maksimal

Danar Retno Sari

Danar Retno Sari, Mahasiswi Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri (PPs FTI UII) berkesempatan membagi tips dan triks untuk mendapatkan nilai (IPK) secara maksimal atau meraih predikat Cum Laude.

Cum Laude adalah predikat tertinggi yang diberikan Perguruan Tinggi untuk prestasi akademik mahasiswanya. Ada beberapa predikat yang termasuk ke dalam Cum Laude seperti magna cum laude yang berarti lulus dengan banyak pujian dan summa cum laude yang artinya lulus dengan pujian terbanyak. “Sebenarnya sederhana sekali tips dan trik untuk dapat nilai yang maksimal” ujar Retno, melalui pesan singkatnya  (1 Shafar 1438 H/1 November 2016).

Mahasiswi asal Balikpapan, Kalimantan Timur, yang sedang menempuh semester 2 di konsentrasi Sistem Informasi Enterprise (SIE), saat ini tercatat meraih nilai maksimal di Kartu Hasil Studinya.

Alhamdulillah, semua berangkat dari pengalaman waktu kuliah S1, di semester akhir saya hanya ambil mata kuliah Skripsi dan 1 mata kuliah, sehingga saya hanya ke kampus 1 kali dalam seminggu, selebihnya hanya bimbingan yang saat itu juga dilakukan secara online, kemudian saya diberikan nasihat dari kakak sepupu saya yang alumni FTI UII juga, yang bilang ini waktu saya lagi mengerjakan skripsi .

“Skripsi walaupun tidak ada tatap muka dikelas, ada baiknya harus diperlakukan seperti mata kuliah yang lain. Apalagi Skripsi 6 SKS, jadi usahakan, satu hari itu kamu meluangkan waktu untuk mengerjakan Skripsi sama kayak kamu tiap hari kuliah” ujar Retno mengutip pesan kakak sepupunya.

“Hal itu terbawa hingga sekarang, walaupun mata kuliah S2 lebih sedikit, tapi ternyata tugasnya lebih banyak dari pada kuliahnya, sehingga walaupun kuliah hanya 2 kali dalam seminggu, tapi seolah olah saya kuliahnya 6 kali seminggu, 5 kalinya dipakai untuk “ngeliatin” tugas. Walaupun sehari paling hanya efektif 3-4 jam saja buat ngeliatin tugasnya, karena saya tidak sambil bekerja” jelas

“Tapi saya lebih salut lagi sama teman-teman yang kuliah sambil bekerja, teman-teman tersebut pasti manajemen waktunya keren banget. Membagi waktu untuk, kerja, kuliah, ngerjain tugas dan istirahat. Semoga saya dapat lebih banyak belajar dari mereka” pungkasnya.

Jerri Irgo

Ojek: Dunia Paralel atau Kesenjangan Digital?

fathul_wahid

Di Indonesia, ojek telah menjadi salah satu layanan transportasi publik informal sejak beberapa dekade lalu, mulai sekitar awal 1970an. Yang dulunya, ojek dilayani menggunakan sepeda, akhirnya beralih ke sepeda motor. Ojek telah memberikan alternatif menyenangkan ketika layanan transportasi publik formal yang cukup dan handal tidak tersedia. Layanan serupa ojek juga dapat ditemukan di beberapa negara Asia lain, seperti Thailand dan Vietnam.

Mulai sekitar lima tahun lalu, layanan ojek di Indonesia, mendapatkan warna baru, dengan hadirnya layanan ojek berbantuan aplikasi bergerak. Di awal kemunculannya, beberapa gejolak penolakan terekam dalam media cetak dan digital. Namun, saat ini berita serupa sudah tidak banyak ‘terdengar’.

Pesatnya kepemilikan ponsel pintar menjadi salah satu peluang yang dimanfaatkan pemain bisnis ini. Sampai kini, telah banyak pemain yang mencoba peruntungan di sektor ini.
Pertanyaannya adalah: apakah kehadiran ojek berbasis aplikasi ini mengganggu ojek tradisional? Jawaban singkatnya: bisa ya, bisa tidak. Tergantung. Obrolan saya dengan beberapa pengojek memberikan jawaban yang lebih realistis.

“Dulu, saya mengira kalau kehadiran ojek berbasis aplikasi akan banyak mengganggu,” ungkap Fulan, seorang pengojek. Fulan merasakan dua dunia ‘perojekan’ tersebut di atas. “Namun, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan,” lanjutnya. Mengapa?

Pertama, pasar ojek tradisional dan berbasis aplikasi berbeda. Yang pertama biasanya mempunyai paguyuban dan tempat mangkal bersama, seperti di dekat stasiun kereta api atau terminal bis. Pasar mereka adalah penumpang moda transportasi publik tersebut yang ingin melanjutkan perjalanan atau yang tidak mempunyai aplikasi terinstal di ponselnya. Ojek berbasis aplikasi mempunyai pasar spesifik, seperti kalangan muda dan mahasiswa. Kata Fulan, mereka tidak pernah atau jarang menggunakan layanan transportasi publik.

Kedua, penghasilan normal per hari tidak berbeda jauh. Fulan menyebut kisaran angka. Memang ketika menjalankan ojek berbasis aplikasi, uang yang didulang per hari lebih tinggi. Namun, ojek jenis ini membutuhkan biaya tambahan seperti potongan sekian persen untuk pengelola, dan biaya sewa jaket atau helm. Selain itu, ojek jenis ini harus ‘berkeliaran’ yang membutuhkan bensin 1,5 sampai 2 kali lipat daripada ojek yang ‘mangkal’.

Ketiga, Fulan menyebutkan bahwa pengojek tradisional mempunyai ritme yang lebih santai. Pengojek berbasis aplikasi, kata Fulan, sering mengejar bonus dengan mengumpulkan poin. Pengejaran ini seringkali tidak selalu mulus, karena banyak hal, seperti pesanan fiktif dan pembatalan pesanan. Aturan yang semakin ketat dari pengelola, menjadikan pengojek berbasis aplikasi kadang harus berpikir dua kali.

Tentu, pengojek lain mungkin mempunyai pengalaman yang berbeda dengan Fulan. Yang jelas, selain harus mempunyai ponsel pintar, pengojek berbasis aplikasi harus mampu mengoperasikan aplikasi di ponsel. Sebagian besar pengojek adalah muhajir digital (digital migrant) yang tidak mengenal ponsel sejak kecil. Namun di lapangan ditemukan, meski mempunyai dua kemampuan tersebut, tidak semua pengojek tradisional tertarik menjadi pengojek berbasis aplikasi, karena beragam alasan. Ini adalah pilihan sukarela.

Jika ini kasusnya, apakah fenomena ini merupakan kesenjangan digital ataukah pilihan sukarela, yang membentuk ‘dunia paralel’: dua dunia yang berjalan dengan asumsi dan caranya masing-masing. Paling tidak, sampai saat ini dan beberapa tahun ke depan.

Mengapa? Fulan percaya, bahwa ke depan, bisnis ojek berbasis aplikasi lebih menjanjikan. Ojek jenis ini melampaui layanan yang dapat diberikan oleh ojek tradisional. Bantuan pengantaran beragam produk dan layanan lain, adalah contohnya. Ketika ojek berbasis aplikasi semakin meluas di setiap pojok Indonesia, cerita lain bisa jadi akan muncul. Ketika para pribumi digital (digital native) masuk bisnis ini, bukan tidak mungkin kesenjanganlah yang membesar. Kehadiran teknologi informasi, alih-alih membawa semangat inklusi yang merangkul semua kalangan, justru akan memperlebar kesenjangan digital. Ujungnya, kesenjangan sosial yang tidak diharapkan. Wallahu a’lam.

Tulisan Fathul Wahid, Ph.D, Dosen Magister Teknik Informatika PPs FTI UII ini telah dimuat dalam Kolom Analisis Harian Kedaulatan Rakyat pada 29 Oktober 2016 dengan judul yang lebih pendek “Kesenjangan Digital”

Jerri Irgo

Prospektif Industri Properti 2017

Okt 25 - Prospektif Industri Properti 2017

Perekonomian Indonesia tahun depan (2017) akan lebih menjanjikan dan membaik, sehingga sejumlah bank menggenjot penyaluran kredit yang dinilai potensial, diantaranya infrastruktur, properti dan konstruksi, pada triwulan IV-2016 dan tahun depan. Langkah ini diyakini bakal mendorong kenaikan laba perbankan di samping tetap melaksanakan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dengan menjaga rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL).

Demikian rangkuman pendapat Harsya Kamra Sutan Maradjo, Kepala Cabang Sleman PT BPR Danagung Bakti Yogyakarta, saat melakukan silaturhami ke Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta (25 Oktober 2016).

Kunjungan silaturahmi yang diterima Dr. R. Teduh Dirgahayu, ST, M.Sc, Direktur Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia di Ruang Kerjanya, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII, Yogyakarta.

Salah satu agenda yang didiskusikan adalah tentang prospektif industri properti tahun 2017 di Yogyakarta. Secara umum sangat baik, apalagi saat ini sebagian masyarakat tidak lagi mempertimbangkan jarak lokasi perumahan incaran mereka yang umumnya sekitar 15-30 km dari pusat kota Yogyakarta.

“Bisnis properti tetap menunjukkan prospek yang baik, dengan indikator salah satunya kenaikan harga dari waktu ke waktu, oleh karena itu PT Danagung Bakti Yogyakarta berinisitif menggandeng PPs FTI UII memberikan apresiasi kepada Developer DIY dengan mengadakan Diskusi Terbatas Prospektif Industri Properti 2017, yang insha Allah akan dilaksanakan pada bulan November 2016” pungkas Harsya Kamra.

Jerri Irgo

PPs FTI UII – UPS Tandatangani Kerjasama

Okt 19 PPs FTI UII - UPS (2)

Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta bekerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Panca Sakti (UPS) Tegal dalam bidang Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu bidang pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Penandatangan Memorandum of (MoU) dilakukan di Ruang Dekanat, Gedung Fakultas Teknik Universitas Panca Sakti (UPS) Kampus Jl. Halmahera Km. 01, Kota Tegal, Jawa Tengah (19 Oktober 2016)

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Direktur Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia dan Dekan Fakultas Teknik UPS, Mustaqim, ST., M.Eng keduanya menyambut baik kerjasama tersebut. Kerjasama PPs FTI UII dan FT UPS yang merupakan sinergi yang sangat strategis dan saling menguntungkan.

Kerjasama yang dilakukan dalam ranah Tridarma Perguruan Tinggi. Nantinya tidak hanya melibatkan dosen namun juga mahasiswa. Kerjasama ini diharapkan dapat berujung pada masyarakat dan memberikan tambahan manfaat yang besar untuk masyarakat.

Jerri Irgo