Posts

IT as an enabler, Mengapa WiFi di UII bisa mencapai 200 Mbps

Dr. Andri Setiawan, Pengajar pada Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia
– – –
Menjawab permintaan om Hari (Heinrich Cheng Ho) yang meminta saya menulis aspek filosofis, mengapa internet di UII bisa menjadi secepat sekarang, insya Allah saya sajikan beberapa hal penting agar bisa memberikan gambaran, bagaimana proses perubahan itu terjadi.

Framework COBIT

Proses perubahan IT di UII diawali dari sebuah kesadaran, dan introspeksi bahwa ada yang salah dengan IT. Sebenarnya tidak butuh kejelian mata dalam memandang, cukup dengan perasaan saja kami di UII menyadari, there is something wrong with us. Hanya saja, kami memang pada akhirnya mengundang auditor eksternal untuk meng-assess kami. Sebelum dilakukan proses audit, saat berdiskusi dengan auditor eksternal, mereka cukup terkaget juga, karena baru kali ini mereka mendapatkan client audit dari institusi pendidikan. Selama ini mereka melakukan audit ke perbankan (dalam rangka memenuhi tuntutan aturan OJK biasanya), kemudian ke pertambangan (semacam Pertamina), dan berbagai industri lainnya, dan bahkan mereka jarang mendapatkan client dari luar Jakarta 😀 . Jadi membangun kesadaran bahwa ada yang salah dengan kita menjadi kata kunci pertama terjadinya perubahan IT. Audit yang dilakukan di UII didasarkan pada framework COBIT 4.
Selepas dilakukannya audit, maka kemudian kami selaku tim manajemen IT yang baru di UII merancang program yang kami sebut quick win initiatives. Saat itu departemen IT, yang kalau di UII dinamakan Badan Sistem Informasi, adalah badan yang memiliki tingkat kepercayaan publik termasuk paling rendah sendiri. Sehingga dibutuhkan strategi khusus untuk meningkatkan kembali kepercayaan pengguna. Salah satu program yang kami usulkan saat itu adalah UIIConnect. Saat itu sebenarnya saya terinspirasi oleh infrastruktur wireless pada waktu saya sekolah S3 dulu di Australia, di The University of Queensland, yang dinamakan UQConnect.

Saat itu saya sangat merasa terbantu sekali dengan keberadaan wifi yang bersifat ubiquitous, akses yang tersedia di mana-mana dengan kualitas yang sama, dimana bahkan saya sendiri seringkali bekerja/belajar di tepian danau di dalam kampus yang bernama UQ Lake. Tak jarang pula saya melihat kumpulan mahasiswa berdiskusi dan belajar, tidak hanya di ruang kelas saja, tapi juga di tengah taman, lapangan, di kantin, dan beragam tempat lainnya. Suasana dan atmosfer kampus begitu hidup.

Atmosfer belajar di UQ, Australia

Dari sinilah titik kesadaran tersebut dibangun, kami ingin menciptakan atmosfer serupa. Inisiatif IT yang hendak kami bangun mestilah memiliki tujuan besar, bukan sekedar menghabiskan anggaran, tapi kami ingin membangun atmosfer. Atmosfer yang saat kami sekolah dahulu di luar negeri kami terima begitu saja, taken for granted. Cita-cita kami sangat sederhana, kami ingin mahasiswa UII mendapatkan dan membangun atmosfer yang sama seperti dahulu kami merasakan ketika kuliah di luar negeri. Atmosfer itu tentu tidak mungkin terbangun kalau infrastruktur pendukungnya acak-acakan.

Melalui studi intensif yang serius di tim manajemen, kemudian saya juga melibatkan mahasiswa saya sendiri untuk mendiskusikan infrastruktur apa yang tepat untuk UII, maka lahirlah konsep UIIConnect yang menjadi backbone infrastruktur UII. Btw, saat ini mahasiswa saya yang membantu saya saat itu sudah memiliki sertifikasi Cisco tertinggi (CCIE) setahun setelah lulus kuliah, atau setahun setelah lepas membantu saya mendesain infrastruktur kampus, namanya Jumroh Arrasid, masih bujang dia hehehe 😀 siapa tahu ada yang tertarik untuk mengambil jadi menantu.

Kembali ke infrastruktur, kami menyadari bahwa UII adalah kelas berat, dia lebih enterprise dari banyak enterprise yang ada di Indonesia (seperti saya sebut di tulisan seri pertama). Kami menyadari, tidak mungkin kelas enterprise hanya berbicara seperti kelas warnet. User kami mencapai hampir 30,000 orang (dosen, staf, mahasiswa, dan tamu). Maka ketika merancang WiFi pun juga tidak main-main. Saat itu kami menggunakan pihak ketiga untuk melakukan survey lapangan, di beberapa kampus kami (yang tidak terpusat di satu tempat saja). Kami gunakan software seperti Ekahau untuk merancang, dan menentukan, posisi di mana saja Access Point (AP) harus dipasang. Untuk mendukung backbone, bahkan kami harus roll-out Fiber Optic baru sepanjang 6.6km dengan sekian puluh cores untuk mendukung konsumsi data di masa mendatang. Kami ganti pula core switch kami dengan Cisco 3850 yang didukung dengan puluhan ports yang sudah siap pada kapasitas 10Gbps bahkan disiapkan untuk sanggup mencapai 40Gbps.

Lalu di mana kami harus memasang AP? Pada prinsipnya, perubahan yang dilakukan harus dirasakan oleh semua pihak. Tidak ada lagi fakultas kaya, fakultas miskin, semua akses harus sama, tidak ada diskriminasi. Tidak ada cerita bahwa untuk mendapat akses internet cepat harus berada di tempat ini, di titik ini, dan di jam tertentu. Dan target pertama kami adalah mahasiswa harus happy. Mereka lah salah satu yang mendukung jalan hidup UII. Kalau dipilih dosen, ketika mereka mendapat akses cepat, belum tentu mahasiswa dapat akses yang cepat. Tapi kalau sebaliknya, mahasiswa mendapat akses cepat, tentu dosen pun akan dapat akses yang cepat. Kemudian sebagai upaya membangun atmosfer, kami letakkan pula AP di tempat yang bahkan oleh beberapa pihak dipandang aneh, yakni di Masjid. Kami adalah kampus Islam, tentu kami menginginkan mahasiswa kami dekat dengan masjid. Pada awalnya ya tentu saja ada sedikit protes, kok internet dipasang di masjid? Nanti ibadah menjadi tidak khusyu’. Kami berargumen, bahwa justru dengan adanya internet, paling tidak ketika mahasiswa ada di masjid, mereka lebih dekat dengan sholat, dengan kajian (walau pada akhirnya hadir tidak untuk berniat mengikuti kajian), dan setidaknya tidak akan mengakses yang aneh-aneh ketika di sana 😀 Dan Alhamdulillah, saat ini mahasiswa tidak hanya hadir di masjid saat waktu sholat saja. Suasana yang mendukung e.g. karpet empuk, AC, bisa belajar sambil tiduran, dan akses internet yang super cepat, menjadikan mahasiswa betah berada di sana.

Nilai seperti itulah yang menjadi spirit kami, bahwa seharusnya teknologi informasi bisa menjadi enabler, yang memungkinkan value yang diinginkan oleh universitas terjadi. Kami menginginkan IT bukan hanya menjadi alat dan perangkat, tapi dia menjadi salah satu akselerator perubahan, pembangun atmosfer akademik yang lebih baik. Dan hingga hari ini, kami masih terus berusaha melakukan perubahan, membawa value yang lebih baik lagi bagi kampus kami, dan bagi Indonesia secara umum melalui IT.

Kaliurang, 5 Februari 2018

Bagaimana (WiFi) Internet di UII bisa mencapai 200-an Mbps

Dr. Andri Setiawan, Pengajar pada Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia
– – –

 

Setiap kali saya menceritakan kalau kecepatan internet menggunakan WiFi di UII bisa mencapai 200an Mbps, sering kali ada wajah-wajah tidak percaya. Kok bisa? Sampai kemudian saya mendemokan speedtest di depan mereka (ketika berkunjung ke UII), dan malah membikin “jaw dropping” banyak orang, kalau orang Jawa bilang, bikin ngowoh hehe.

Pernah pada suatu ketika ada tamu dari salah satu universitas negeri di Jakarta berkunjung ke UII, kebetulan kami mendemokan beberapa sistem, dan browsing beberapa website, pertanyaan yang muncul berikutnya,”Kok membuka website di sini bisa cepat ya? Kok di tempat kami lambat ya?”. Yang lebih mengherankan, ketika saya tanya, berapa kapasitas bandwidth yang mereka miliki, ternyata jawabnya adalah sekitar dua kali lipat yang dimiliki oleh UII. Jadi, mengapa di UII bisa mendapatkan kecepatan sampai secepat ini, dan di kampus lain tidak?

Speedtest WiFi di kampus UII dengan menggunakan Mi 6 yang support 802.11ac

Dua tahun lalu (2016), sebenarnya di UII nasibnya tidak jauh berbeda dengan kebanyakan kampus di Indonesia pada umumnya. Kalau dicek di Twitter atau media sosial lain, tidak jarang mahasiswa UII mengeluh, macam “Ini internet kok kayak keong !!! lambat, dlsb”. Segala macam sumpah serapah, rasa frustrasi, dan berbagai macam hal sejenis seperti menjadi sebuah rutinitas. Terkoneksi wifi, tapi tidak bisa membuka website, dan kadang lebih parah, untuk sekedar memasukkan login saja, halaman login tidak muncul. Padahal UII sebenarnya saat itu sudah berlangganan hingga 400Mbps, tapi konsumsi se kampus paling banyak sebesar 150Mbps. Sounds familiar? Ya karena memang begitulah kebanyakan koneksi di kampus-kampus Indonesia.

Perubahan signifikan mulai terjadi pada pertengahan 2016. Yang tadinya kecepatan internet berkisar 1Mbps per pengguna, mulai beranjak naik secara bertahap, dari 2Mbps hingga pada akhirnya sekarang bisa lebih dari 200Mbps per pengguna. Kembali ke pertanyaan awal, mengapa bisa naik begitu cepat dalam jangka waktu tidak terlalu lama?

Jawaban pertama adalah filosofi atau value yang hendak kami capai. Internet, saat ini sudah seperti di hukum Maslow tentang kebutuhan dasar manusia, sandang, papan, dan pangan. Dia menjadi kebutuhan mendasar setiap stakeholder di UII, terutama MAHASISWA. Di sini perlu saya highlight kata kuncinya, MAHASISWA. Perubahan internet harus dirasakan pertama kali oleh mahasiswa, bukan dosen, dan bukan pula staf. Seringkali pihak kampus di banyak tempat melihat mahasiswa menempati prioritas terakhir, dosen beralasan mereka butuh kerja yang baik, sehingga wajar dapat prioritas tinggi di koneksi, sementara mahasiswa tidak. Padahal jumlah mahasiswa pasti lebih banyak daripada dosen, sehingga prioritas seharusnya ada di mereka. Dari sinilah kemudian perubahan mulai terjadi.

Kampus kami adalah kampus swasta, uang berasal dari mahasiswa, dan setiap semester mereka harus membayar biaya IT. Biaya inilah yang HARUS kami kembalikan ke mahasiswa, agar mereka mendapatkan balik fasilitas atas apa yang mereka bayarkan.

Perencanaan kemudian kami lakukan agar kami bisa mendapatkan yang terbaik. Maka langkah kedua yang dilakukan adalah, think like enterprise. Kampus sering mengira mereka bukanlah enterprise, padahal kampus adalah lebih enterprise daripada enterprise. Sehingga, seringkali perencanaan masih dibuat ala kadarnya. Pengelola IT kampus masih melihat koneksi WiFi seperti membangun hotspot warnet atau cafe. Padahal user base kampus berjumlah ribuan, bahkan puluhan ribu, bukan di angka puluhan saja. Ketika kemudian cara berfikir enterprise ini hadir, maka seluruh pendekatan pun akan berbeda.

Konsekuensi berfikir enterprise apa? Tentu di antaranya akan muncul angka-angka modal yang sedikit fantastis. Tapi, tentu melihatnya jangan melihat angka di awal. Melihatnya dengan cari membagi angka enterprise tadi dengan jumlah mahasiswa. Insya Allah harga akan menjadi murah. Implikasi teknis di lapangan seperti apa?

Ibarat sebuah tubuh, untuk menjamin lancarnya aliran darah, maka kolesterol-kolesterol pengganggu harus dibereskan. Begitu pula dengan network. Di UII, dilakukan perubahan besar-besaran (recabling WiFi), sampai titik terakhir. Kami menggunakan kabel jaringan Cat6A untuk menjamin kualitas link dan future proof. Begitu pula perangkat switch yang kami pilih adalah kelas enterprise. Kembali di sini, kampus harus sadar diri, kelas enterprise jangan memakai perangkat kelas SMB (small medium business).

Access Point (AP). Ini adalah hal terpenting kedua. Satu, dia harus berkelas enterprise, bisa dijejali hingga ratusan user, dan kapasitas alat per buah harus > 1 Gbps. Harga tentu saja akan menyesuaikan, tidak ada lagi AP di UII seharga satu juta per buah. Yang jelas, hasil berbicara 😀

Single SSID multiple VLAN. Di UII, kami hanya membroadcast beberapa sinyal SSID, baik dosen maupun mahasiswa akan terhubung ke SSID yang sama, akanb tetapi mereka akan mendapatkan VLAN berbeda-beda. Tidak ada lagi WiFi fakultas X, Wifi fakultas Y, dst. Yang ada adalah UIIConnect, eduroam dan UIIGuest. User internal bisa terhubung ke UIIConnect atau pun eduroam, sementara tamu bisa menggunakan eduroam (jika memungkinkan) atau UIIGuest.

802.1x. Konsep WiFi di UII adalah set and forget. Cukup sekali saja memasukkan username dan password, kemudian pengguna tidak akan pernah diminta kembali, kecuali mereka mangganti password mereka. Autentikasi dilakukan selanjutnya di belakang layar, tanpa interaksi user sama sekali. Perngkat yang akan otomatis melakukan proses autentikasi di belakang layar. Dengan konsep seperti ini, tidak ada lagi captive portal yang mengganggu user, dan menghambat user untuk terhubung ke jaringan. Dengan konsep ini, bahkan yang dahulu tidak merasa membutuhkan koneksi WiFi jadi merasa butuh, contohnya Satpam 🙂 Mengapa? Karena koneksi sangat mudah sekali. Saat ini, begitu user masuk ke kampus UII, smartphone mereka akan langsung terhubung secara otomatis.

Upstream internet yang besar. Begitu jalur di bawah (ke user) sudah lancar, maka sekarang tugas yang di atas untuk membesarkan kanal. Hingga tulisan ini dibuat, konsumsi internet UII telah mencapai > 2Gbps (total) di siang hari. Kemudian untuk menjamin kelancaran, koneksi harus dibuat redundan dari beberapa ISP.

Masih banyak lagi tips yang lain, tapi terlalu panjang untuk ditulis di sini. There, I’ve done it  kalau masih ada pertanyaan, silakan datang ke UII untuk diskusi infrastruktur dengan kami. Kami akan sangat senang berdiskusi.

Selamat datang internet cepat!

Yogyakarta,  2 February 2018

Membandingkan Tingkat Kemiripan Rekaman Suara

Ahmad Subki, Mahasiswa Konsentrasi Forensika Digital, Program Studi Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia

rsz_ahmad_subki_-_forensika_digital_magister_teknik_informatika_pps_fti_uii

Membandingkan Tingkat Kemiripan Rekaman Suara Voice Changer Dan Rekaman Suara Asli Menggunakan Metode Audio Forensik

Abstrak

Audio forensik merupakan penerapan ilmu pengetahuan dan metode ilmiah dalam penanganan barang bukti berupa audio demi mendukung pengungkapan berbagai kasus tindak kriminal dan mengungkap berbagai informasi yang diperlukan dalam proses persidangan. Namun, rekaman suara sangat rentan dan mudah untuk dirubah/dimanipulasi baik untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok. Misalnya menggunakan fasilitas aplikasi perubah suara/voicechanger yang banyak tersedia pada googleplaystore.

Dalam penelitian ini dilakukan analisis terkait tingkat kemiripan antara rekaman suara voicechanger dengan rekaman suara asli menggunakan metode audio forensik dengan pendekatan pitch, formant, graphical distribution dan spectogram.

Penelitian ini dihasilkan bahwa rekaman suara pada kasus voicechanger dengan rekaman suara asli hanya bisa di analisis dengan pendekatan formant, graphical distribution dan spectogram. Sedangkan untuk analisis pitch tidak dapat digunakan.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang didapatkan pada pembahasan maka penelitian Membandingkan Tingkat Kemiripan Rekaman Suara Voice changer dengan Rekaman Suara Asli Menggunakan Metode Audio Forensik dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Analisispitch, formant dan spectogramdapat digunakan untuk membandingkan tingkat kemiripan rekaman suara voice changer dengan rekaman suara asli, dengan memperhatikan tahap demi tahap sesuai dengan prosedur investigasi audio forensik.

Analisis rekaman suara yang dilakukan dengan satu aplikasi voicechanger dibandingkan dengan rekaman suara asli tidak dapat menggunakan analisis pitch,analisis hanya dapat digunakan menggunakan analisis formant, graphical distribution dan spectogram.

Berdasarkan ujicoba yang dilakukan menunjukkan bahwa rekaman suara voicechangerA memiliki tingkat kemiripan yang paling tinggi dengan rekaman suara asli pada posisi merendahkan pitch (low pitch), sedangkan voice changer yang lain lebih sulit untuk diidentifikasi.

Hal ini dikarenakan perbedaan algoritma/parameter timestretching dan pitch shifting yang digunakan masing-masing voice changer, Semakin nilai timestretching dan pitch shifting mendekati angka 1 (satu) maka suara output hasil konversi suara akan terdengar semakin mirip dengan suara asli, dan sebaliknya semakin nilai parameter timestretching dan pitch shifting menjauhi angka 1 (satu) maka suara output hasil konversi suara akan terdengar semakin berbeda dari suara input/asli.

Adapun saran-saran yang perlu diberikan dengan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
Perlu dilakukan penelitian terkait barang bukti rekaman suara yang dirubah menggunakan voice changer yang sulit untuk diidentifikasi seperti voice changerB dan C dan bagaimana solusinya.

Pada penelitian terkait voice changer selanjutnya, dilakukan dengan barang bukti suara yang di analisis lebih dari satu jenis rekaman suara, minimal menggunakan tiga jenis rekaman suara yang berbeda dengan masing-masing 20 kata.
Penelitian terkait dengan voicechanger ini juga bisa dilakukan pada voicechanger yang diterapkan oleh provider.

Yogyakarta, 25 Januari 2018

Pendekatan BPMN Untuk Pengembangan Digital Forensic Workflow Model

Subektiningsih, Mahasiswi Konsentrasi Forensika Digital, Program Studi Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia

rsz_subektiningsih_-_fd_pps_fti_uii_ver_2

Pendekatan BPMN Untuk Pengembangan Digital Forensic Workflow Model Menggunakan Design Science Research Methodology

Abstrak

Digital Forensic Workflow Model (DFWM) dikembangkan menggunakan paradigma Design Science Research Methodology dengan model bisnis menggunakan Business Process Model and Notation (BPMN) sub-model Collaboration. DFWM dikembangkan dari berbagai model penyelidikan forensik digital secara teori dari penelitian terdahulu yang dilengkapi dengan data wawancara dengan Kepolisian di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Semua model penyelidikan yang dipilih diekstraksi dan dilakukan pemetaan dengan mengkaitkan interaksi yang terjadi antara aktor dengan bukti, bukti dengan dokumentasi dan chain of Custody, aktor dengan proses, bukti dengan proses, serta menghilangkan bagian aktifitas yang tidak memiliki interaksi antar komponen tersebut. Memetakkan aktifitas yang diperoleh berdasarkan aktor yang melakukannya.
Tujuan pembuatan alur kerja yang dimodelkan menjadi DFWM ini untuk menjelaskan kompleksitas komponen yang berupa, Aktor, bukti, dan proses penyelidikan forensik digital dalam keterkaitan dan interaksinya. Sehingga, dapat diketahui peran dari setiap personil/aktor, jenis bukti yang mungkin diperoleh, dan urutan proses yang harus dilakukan. Validasi elemen dalam DFWM juga dilakukan untuk memastikan ketepatan penggunaan elemen sesuai aturan BPMN.

DFWM diuji dengan dua cara, yaitu; pengujian dengan sistem dan pengujian dengan kuesioner penerimanaan model. Pengujian dengan sistem menggunakan Bizagi Modeler yang bertujuan untuk memastikan alur proses terbentuk secara sistematis dan sesuai dengan aturan BPMN. Pengujian menggunakan kuesioner penerimaan model bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian DFWM dengan penyelidikan forensik digital dalam praktik.

Pengujian tersebut memberikan hasil bahwa bahwa DFWM secara keseluruhan dapat diterapkan untuk praktik penyelidikan forensik digital. Namun, dalam penerapannya dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu kondisi organisasi dan kondisi kasus. Kondisi organsasi dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya manusia, sarana prasarana, infrastruktur laboratorium, dan alat forensik yang dimiliki. Sedangkan, kondisi kasus dipengaruhi oleh spesifikasi kasus, kondisi tempat kejadian perkara, proses penyelidikan yang dilakukan.

DFWM diharapkan dapat menjadi solusi untuk perbaikan dan penambahan dalam proses penyelidikan dan penyidikan forensik digital yang lebih terintegrasi untuk organisasi dengan melakukan penyesuaian sesuai SOP internal yang ada dalam organisasi tersebut.

Kesimpulan

Bussiness Process Model and Notation (BPMN) dapat digunakan untuk mengembangkan Digital Forensic Workflow Model (DFWM) dengan melakukan ekstraksi berbagai model penyelidikan forensik digital dan mengkaitkan interaksi yang terjadi antara aktor dengan bukti, bukti dengan dokumentasi dan chain of Custody, aktor dengan proses, bukti dengan proses, serta menghilangkan bagian aktifitas yang tidak memiliki interaksi antar komponen. DFWM menunjukkan bahwa BPMN bukan hanya untuk pemodelan proses bisnis tetapi juga dapat digunakan untuk memodelkan aktifitas forensik digital berdasarkan aktor dan proses yang terjadi. Peran aktor menjadi lebih tepat dalam menjalankan alur kerja penyelidikan forensik digital.

Proses validasi notasi dan elemen untuk memastikan ketepatan pengunaan notasi dan elemen sesuai aturan BPMN. Validasi proses untuk memastikan proses yang ada dalam alur kerja dilakukan secara sistematis dan tidak terjadi stack atau looping di salah satu proses.

DFWM sudah sesuai dengan praktik forensik digital, namun terdapat beberapa proses forensik yang ada dalam DFWM tidak dilakukan dalam praktik forensik digital atau sebaliknya. Perbedaan dipengaruhi oleh kondisi dari organisasi dan kasus yang diselidiki. Hasil pengujian secara sistem maupun kuesioner penerimaan dengan responden dari pihak kepolisian, kejaksaan, dan Ahli menyatakan DFWM dapat diterapkan dalam praktik forensik digital dengan melakukan penyesuaian sesuai standar operasional organisasi.

Yogyakarta, 25 Januari 2018

Retail Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Hampir semua produsen tidak menjual produk-produknya secara langsung ke konsumen akhir. Antara produsen dan konsumen akhir ada perantara (intermediary) yang berfungsi sebagai saluran pemasaran (marketing channel). Saluran pemasaran ini dikenal juga sebagai saluran perdagangan (trade channel) atau saluran distribusi (distribution channel).

Saluran pemasaran banyak macamnya. Kita mengenal pedagang besar (wholesaler), grosir, distributor, dan pengecer (retailer). Saluran pemasaran memainkan peran penting dalam kesuksesan perusahaan dan memengaruhi semua faktor keputusan strategi pemasaran.

Saluran pemasaran yang menjual produk-produk langsung ke konsumen personal atau rumah tangga sebagai pengguna akhir produk dikenal retailer atau retailer store. Pengecer menjual aneka produk, mulai dari pakaian, makanan, peralatan rumah tangga, buku, peralatan elektronik, dan lain-lain.

Tidak masalah bagaimana produk-produk atau jasa tersebut dijual. Apakah penjualan produk-produk tersebut melalui tenaga penjualan, katalog, email, telepon, surat, vending machine, atau penjualan secara online. Demikian pula, di mana penjualan produk-produk dilakukan, apakah penjualan produk dilakukan di toko, jalan, atau bahkan di rumah konsumen.

Sektor ritel bergerak dan tumbuh sangat cepat, secepat perputaran penjualan produk-produknya. Beberapa peritel melakukan inovasi layanan, mengembangkan strategi jangka panjang, penggunaan teknologi terkini, penerapan sistem informasi yang canggih, dan pemanfaatan marketing tools secara efektif. Sebut saja misalnya, peritel global seperti Uniqlo, Zara, Zappos, H&M, Mango, Topshop, Walmart, dan lain-lain.

Mereka telah berhasil mengidentifikasi siapa segmen dan target pasar yang dituju, positioning, differentiation, membangun hubungan dengan pelanggan, menciptakan kesan dan pengalaman pelanggan, dan tentu saja mereka mampu menyediakan produk dan pelayanan dengan tepat.

Sektor ritel berperan penting dalam penjualan barang. Sektor ritel menjadi tempat penjualan berbagai barang kebutuhan konsumen rumah tangga, perkantoran, sekolahan, pemerintahan, dan lain-lain. Pelaku usaha di sektor ritel dikenal dengan pengecer atau peritel (retailer). Peritel mengelola toko. Jenis toko pengecer banyak macamnya. Kita mengenal peritel tradisional dan modern. Contoh peritel tradisional adalah kios di pasar-pasar tradisional, toko-toko, dan warung-warung kelontong. Sementara peritel modern, contohnya hypermarket, department store, supermarket, dan minimarket.

Umumnya jenis perputaran barang-barang yang dijual di toko ritel sangat cepat. Karenanya, barang-barang ini dikenal dengan sebutan fast moving consumer goods (FMCG). Barang-barang yang dijual di toko ritel banyak ragamnya sesuai jenis penamaan toko ritel.

Kita mengenal toko ritel khusus (specialty store). Toko ritel khusus adalah toko yang menjual jenis barang tertentu dengan berbagai macam variannya dengan jumlah persediaan barang dagangan yang cukup. Contoh toko khusus: toko buku, toko alat olah raga, toko kue, toko sepatu, dan lain-lain.

Selain itu, kita mengenal toko kelontong (convenience store). Toko kelontong adalah toko kecil yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari, makanan dan minuman kecil serta majalah dan koran. Toko kelontong terletak di dekat pemukiman penduduk. Contoh toko kelontong: Indomaret, Alfamart, Yomart, Circle K, Seven Eleven, dan lain-lain.

Bentuk toko ritel yang lain adalah toko swalayan (supermarket), toko serba ada (department store), toko kombinasi (combination store), hypermarket, toko diskon, factory outlet, dan katalog showroom (Kotler dan Keller, 2015).

Peran Logistik

Logistik ritel (retail logistics) akan menjamin ketersediaan produk-produk dari manufaktur dan pemasok lainnya untuk dijual di toko-toko ritel dalam jumlah yang mencukupi sesuai kebutuhan permintaan pasar, dengan kualitas produk yang terjaga, dan biaya logistik yang efisien.

Saat ini banyak toko ritel – terutama pasar swalayan, yang menjual produk-produk kategori produk-produk yang mudah rusak (perishable goods), seperti ikan segar, buah-buahan, sayur mayur, dan lain-lain. Produk-produk ini memerlukan sistem penyimpanan, transportasi, dan tempat dengan pengaturan temperatur dan kelembaban tertentu.

Logistik ritel telah bertransformasi, dari sekadar penyimpanan, pengangkutan, dan distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, namun logistik ritel saat ini mencakup pengelolaan demand chain dan supply chain.

Dalam mengelola logistik ritel, kita perlu memahami dan mengidentifikasi kebutuhan konsumen akan jenis produk, berapa banyak kuantitas produk yang diperlukan, dan kapan produk-produk tersebut diperlukan. Ini yang dikenal dengan demand chain.

Selain mengelola demand chain, logistik ritel mengelola supply chain. Pengelolaan supply chain dalam sektor ritel mencakup order pembelian, distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, pembayaran ke pemasok, dan pengelolaan informasi jenis produk, lokasi, dan kualitas produk yang perlu dipasok dari pemasok ke toko-toko peritel.

Fernie dan Sparks (2014) menyebutkan lima komponen penting dalam logistik ritel, yang dikenal dengan logistics mix sebagai berikut:

  1. Fasilitas penyimpanan (storage facilities)

Logistik ritel memerlukan fasilitas penyimpanan berupa gudang (warehouse) atau Distribution Center (DC) atau secara sederhana mungkin sekadar stock point yang menyimpan produk-produk dalam jumlah yang mencukupi untuk menjaga persediaan produk yang optimal, untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan permintaan. Selain itu, fasilitas penyimpanan diperlukan untuk menjaga kualitas dan keamanan produk.

  1. Persediaan (inventory)

Umumnya semua peritel menahan atau menyimpan persediaan. Pengelolaan persediaan ini mencakup keputusan penentuan berapa jumlah stock atau persediaan yang harus disimpan, lokasi penyimpanan, kapan melakukan order pembelian, dan berapa jumlah barang setiap order pembelian, untuk menjamin ketersediaan produk dengan biaya penyimpanan persediaan yang paling efisien.

  1. Pengangkutan (transportation)

Hampir semua produk memerlukan transportasi untuk memindahkan produk dari lokasi produksi ke lokasi konsumsi. Karenanya, peritel harus mengelola transportasi yang dihadapkan pada berbagai jenis moda transportasi, ukuran container, jenis armada kendaraan, jadwal keberangkatan dan kedatangan transportasi, ketersediaan dan kesiapan kendaraan termasuk sopirnya.

  1. Unitisasi dan pengepakan (unitization dan packaging)

Produk-produk consumer umumnya dijual di toko ritel dalam jumlah dan ukuran yang kecil. Sementara produk-produk yang dipasok dari manufaktur dalam ukuran dan jumlah besar seperti container. Karenanya, dalam logistik ritel diperlukan unitisasi dan pengepakan. Unitisasi akan menyatukan produk- produk ritel dalam satuan kecil menjadi ukuran yang lebih besar. Produk dalam kemasan dengan satuan kaleng atau piece misalnya, akan disatukan menjadi satuan karton, box, atau pallet. Selain itu, untuk kepentingan handling dalam logistik ritel menuntut pengepakan produk yang kuat, mudah, dan efisien ketika dilakukan handling selama proses transportasi, penyimpanan, material handling, dan pemajangan produk di rak (shelves management).

  1. Komunikasi (communications)

Komunikasi memegang peran penting dalam sistem logistik ritel. Untuk mendapatkan informasi dimana produk dijual, jenis produk, berapa banyak, kapan, dan siapa pembeli produk-produk ritel, diperlukan sistem informasi dan komunikasi yang memadai. Tidak hanya informasi mengenai sisi permintan dan penawaran produk, melainkan informasi mengenai volume, stock, harga, dan pergerakan atau fluktuasi penjualan produk. Informasi ini penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem operasi logistik ritel.

 

Kelima komponen logistik ritel ini saling berkaitan. Kinerja logistik ritel ditentukan oleh koordinasi, harmonisasi, dan integrasi antarkomponen. Pengepakan dan unitisasi produk dari manufaktur akan menentukan kinerja pengangkutan dan penyimpanan. Informasi demand dan supply chain akan menentukan jumlah persediaan, jenis produk, dan fasilitas dan lokasi penyimpanan untuk pendistribusian produk-produk di toko-toko ritel.

Tolok ukur keberhasilan logistik ritel sejatinya ditentukan oleh logistics cost dan service level. Logistics cost berhubungan dengan biaya logistik total mulai dari biaya pemesanan, pengangkutan, penyimpanan, distribusi, dan penataan produk di toko-toko ritel. Sementara service level terkait erat dengan ketepatan jenis produk, waktu, lokasi, keamanan, keutuhan, dan kualitas produk selama proses aktivitas logistik sampai produk digunakan consumer. Dalam pengelolaan logistik ritel, sebagian dikelola sendiri (in-house logistics) dan sebagian diserahkan ke pihak ketiga (outsourcing logistics) ke 3PL company.

Desain Logistik Ritel

Di era kompetisi bisnis yang semakin ketat, daya saing perusahaan tidak hanya ditentukan oleh keunggulan komparatif yang mengandalkan sumber daya dan kapabilitas organisasi. Saat ini kompetisi didasarkan pada kompetisi berbasis waktu (time-based competition).

Setidaknya ada tiga dimensi dalam time-based competition seperti diujarkan oleh Christopher dan Peck (2003). Organisasi perusahaan harus mengelola time-based competition secara efektif untuk merespon perubahan lingkungan bisnis. Ketiga time-based competition tersebut adalah:

  • time to market: kecepatan perusahaan untuk mengkomersialisasi peluang bisnis ke pasar;
  • time to serve: kecepatan perusahaan dalam memenuhi order pelanggan; dan
  • time to react: kecepatan perusahaan dalam menyesuaikan perubahan permintaan yang berfluktuasi secara

Pendekatan kompetisi berbasis waktu mendorong perusahaan untuk mengembangkan strategi leadtime dalam pengelolaan bisnis. Semakin cepat dan pendek lead-time, maka perusahaan akan unggul.

Kunci keberhasilan bisnis sektor ritel terletak pada pengelolaan strategi lead-time ini. Logistik ritel tidak hanya persoalan pengelolaan inventory, penyimpanan, dan transportasi. Logistik ritel mencakup pengelolaan supply chain dan customer chain. Bila perusahaan berhasil dalam mengelola supply chain dan customer chain, maka penciptaan nilai akan dihasilkan. Ini yang dikenal dengan value chain sebagaimana dicetuskan pertama kali oleh Porter (1985).

Dalam logistik ritel, distribusi dibedakan menjadi primary distribution dan secondary distribution. Primary distribution merupakan distribusi produk dari pabrik ke warehouse atau DC. Sementara secondary distribution merupakan distribusi produk dari warehouse atau DC ke toko peritel.

Kotler dan Keller memberikan penamaan market logistics untuk menyebut logistik ritel ini. Dalam pandangan Kotler dan Keller (2015), market logistics mencakup perencanaan infrastruktur logistik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, untuk selanjutnya mengimplementasikan dan mengendalikan aliran produk-produk consumer dari titik asal ke titik tujuan sesuai kebutuhan pelanggan secara efisien dan efektif.

Alan McKinnon (1996) dalam Fernie dan Sparks (2014) memberikan rekomendasi untuk peningkatan kinerja logistik ritel dalam era time-based competition.

  1. Perusahaan ritel harus meningkatkan pengendalian atas secondary distribution dengan cara menggunakan DC dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang Saat ini produk-produk ritel dipasok dari berbagai negara, selain itu ketergantungan antaraliran produk semakin tinggi. Karenanya, operasional logistik harus terintegrasi, utamanya dalam pemenuhan order, pengisian stock, dan pengendalian aliran informasi pergerakan dan penyimpanan barang.
  2. Perusahaan ritel harus melakukan restrukturisasi sistem logistiknya dengan cara mengurangi tingkat persediaan barang, meningkatkan efisiensi melalui pengembangan “composite distribution”, yaitu distribusi produk-produk yang memerlukan tingkat temperature sama dalam satu DC dan satu kendaraan. Selain itu, perusahaan harus menerapkan sentralisasi warehouse untuk produk-produk yang slower moving dengan cara penggunaan warehouse bersama (common stock rooms).
  3. Perusahaan hendaknya mengadopsi “Quick Response” (QR). Tujuan dari penerapan QR untuk memangkas tingkat persediaan dan meningkatkan kecepatan aliran produk. Penerapan QR dapat mengurangi order lead time dan frekuensi pergerakan delivery barang antara DC dan
  4. Perusahaan harus meningkatkan utilisasi aset dan infrastruktur logistik dengan cara mengintegrasikan sistem jaringan primary distribution dan secondary distribution melalui penerapan Electronic Data Interchange (EDI). Penerapan EDI ini akan mengurangi waste karena perencanaan aliran fisik produk, dokumen, dan keuangan dapat diatur dengan
  5. Perusahaan harus meningkatkan aliran return packaged material and handling equipment untuk recycling atau re-use dengan cara mengembangkan “reverse logistics”.
  6. Perusahaan mulai mengenalkan pendekatan Supply Chain Management (SCM) and Efficient Consumer Response (ECR) untuk meningkatkan efisiensi operasi logistik. Kolaborasi antarpemasok untuk memaksimalkan kapasitas logistik akan dicapai efisiensi logistik ritel. Penggunaan fasilitas pergudangan dan moda transportasi bersama akan meningkatkan skala ekonomis sistem

Perkembangan dan tantangan logitistik ritel semakin meningkat terutama dipicu oleh teknologi internet yang memungkinkan perusahaan menerapkan strategi penjualan produk secara online, online dan offline, dan bahkan strategi ritel telah berkembang menjadi strategi Omni-channel.

Kemajuan teknologi internet memang dapat mendisrupsi bisnis sektor ritel, utamanya para pebisnis ritel konvensional, yang masih menggunakan satu saluran penjualan dalam berinteraksi dengan pelanggannya. Atau, kalaupun mereka telah mulai mengembangkan berbagai saluran penjualan (multichannel), antarsaluran tersebut tidak terintegrasi.

Akibatnya, perusahaan tidak dapat menangkap dan memberikan pelayanan penjualan secara maksimal ke pelanggannya, utamanya pelanggan yang telah menggunakan berbagai saluran media komunikasi: media sosial online sebagai netizens.

Keberhasilan bisnis ritel sejatinya ditentukan oleh empat faktor: ketepatan (pacing), pandangan global (span), ketersediaan (availability), dan informasi (Fernie dan Sparks, 2014).

Peritel pakaian yang telah memiliki jaringan global dan sukses seperti Zara contohnya, kunci keberhasilannya terletak pada kecepatan dalam time to market, time to service, dan time to react. Toko-toko Zara ramai dikunjungi pelanggannya dan produk-produknya selalu dibeli karena desain produk pakaian Zara selalu baru, tidak jarang produk-produk tersebut tidak produksi dan dijual lagi. Akibatnya, pelanggan Zara selalu datang dan membeli produk-produk pakaian Zara.

Bila para produsen pakaian hanya meluncurkan mode pakaian satu tahun sekali, tidak seperti Zara. Zara selalu meluncurkan produk pakaian mode baru setiap 2 minggu sekali. Dalam mendesain produk-produk pakaian, Zara mendengar dan melibatkan pelanggannya. Zara mencari tahu banyak mode pakaian apa yang diinginkan pelanggannya, serta mode pakaian apa yang saat ini menjadi tren.

Zara mengintegrasikan desainer, pemasok, dan toko ritelnya melalui pendekatan SCM yang andal. Akibatnya, Zara dapat mempendek lead time dan men-deliver produk-produk pakaian ke pasar dengan tepat. Sekali lagi, kunci keberhasilan Zara terletak di pacing atau speed-nya.

Selain pacing, para peritel harus mengembangkan pandangan global. Saat ini komponen produk dipasok dari berbagai negara. Produsen dan peritel harus mencari sumber pasokan produk yang paling murah dan biaya logistik yang paling efisien.

Ketersediaan (availability) menjadi kunci keberhasilan. Para peritel harus memastikan produk tersedia baik di toko maupun online. Logistik berperan penting dalam menjamin ketersediaan produk di toko dan ketepatan dalam pengiriman produk ke konsumen.

Informasi, bukan hanya pergerakan fisik produk, yang perlu menjadi perhatian dalam logistik ritel. Informasi aliran produk sangat penting untuk perencanaan forecasting penjualan, pemesanan produk, penentuan tingkat inventory, penyimpanan produk di gudang, pengelonaan transportasi, dan penyimpanan produk di rak-rak toko ritel. Penerapan ICT sistem logistik yang andal menjadi kunci keberhasilan dalam sistem informasi manajemen logistik ritel.

***

Peran bisnis ritel sangat penting dalam penjualan produk-produk yang dihasilkan dari sektor primer dan sekunder, seperti manufaktur, pertanian, dan perikanan. Produk-produk tersebut didistribusikan ke toko-toko ritel secara tepat jenis produk, tepat waktu, tepat lokasi, dengan kondisi atau kualitas tetap terjaga, dan dengan biaya distribusi yang paling efisien.

Seringkali kita sebagai konsumen beranggapan bahwa ketersediaan produk di toko ritel dalam jumlah yang mencukupi dan dengan kualitas yang baik merupakan sesuatu yang biasa. Padahal, untuk menjamin ketersediaan produk (product availability) dengan tepat, baik tepat kuantitas maupun kualitas memerlukan solusi sistem logistik yang andal. Dalam hal ini, logistik berperan penting dalam bisnis ritel.

Referensi

Fernie & Sparks (Editor), Logistics and Retail Management: Emerging Issues and New Challenges in the Retail Supply Chain, 2014.

Kotler & Keller, Marketing Management, Global Edition, 2015.

ILC Reuni 212: Panggung ini Milik Siapa?

Ismail Fahmi, Ph.D,  Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia,

– – –

Acara ILC kemaren mengangkat tema “212: Perlukah Reuni?”

THE POWER OF ILC

Saya perhatikan, ILC ini merupakah sebuah acara yang sangat berpengaruh. Terlepas ada yang berpendapat bahwa ILC sekarang sudah tidak seperti dahulu, sekarang lebih banyak jadi ajang curhat, namun dalam banyak tema, ILC telah berhasil memberi panggung kepada tokoh-tokoh yang selama ini lantang namun tersembunyi. Publik yang lebih banyak membaca kegarangan para tokoh itu di media maya, lewat ILC ini publik bisa melihat dan membandingkan kualitas, kapasitas, dan apa yang sebenarnya ada di dalam kepala mereka.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (6)Para tokoh yang berkualitas, dia akan bisa membawa dirinya, menyampaikan gagasannya dengan runut, berisi, dan tak terpengaruh oleh bias rendahan. Sebaliknya, tokoh yang kurang berkualitas atau bermasalah, tanpa mereka sadari, akan mempertontonkah kualitas pribadi mereka yang ekonomis dalam nalar maupun moral. Ada juga yang setelah ILC, tokohnya diciduk.

Inilah kekuatan ILC. Dengan memberi panggung dan waktu berbicara kepada mereka yang pro dan kontra, hal-hal yang tersembunyi menjadi terbuka. ILC bukan ajang diskusi, tapi ajang membuka kualitas dan isi pikiran masing-masing kubu.

SIAPA BINTANG ILC KALI INI?

Baiklah sodara-sodara, kita lihat data dari Drone Emprit untuk menjawab pertanyaan ini. Dari kata kunci “ILC” saja, dengan filter harus huruf kapital dan berbahasa Indonesia, didapat trend percakapan yang naik pesat pada tanggal 6 kemaren.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (7)

Dari word cloud berita online, ada 4 tokoh yang menjadi bintang dalam ILC kali ini. Mereka adalah: Abu Janda, Felix Siauw, Denny Siregar, dan Mahfud MD. Yang lain adalah pemeran pendukung.

Dan dari most retweeted status di Twitter, mereka yang paling banyak dibicarakan bintangnya adalah Denny Siregar, Abu Janda, Fahri, Felix, dan Mahfud MD.

NETIZEN PALING POPULER

Siapa netizen di Twitter yang paling banyak mendapat ‘engagement’? Bentuk engagement bisa berupa ‘retweet’ atau ‘reply’. Lima orang paling populer dalam kategori ini adalah: @maspiyuuu, @karniilyas, @NetizenTofa, @mohmahfudmd, dan @darwistriadi.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (4)

Dalam pengukuran ini, Emprit ndak membedakan apakah retweet yang didapat itu dari robot atau dari real user. Kalau toh ada yang pakai robot, itu menunjukkan dia serius untuk mempromosikan dirinya dan opininya. Masih bermanfaat juga untuk membaca adanya niatan untuk melakukan propaganda.

THE RISE AND FALL OF ACTORS

Pasca ILC, diskusi ramai di media sosial dan online, membahas penampilan para tokoh itu. Aktor yang paling jelas mendapat sorotan yang kurang menyenangkan bagi mereka ada 3: Denny Siregar, Abu Janda, dan Aan Anshori.

Komentar Denny tentang ILC yang jadi ajang curhat, sontak dibalas oleh Karni Ilyas dengan sebuah pepatah “Kalau kamu tak pandai menari, jangan lantai kamu salahkan.” Netizen pun mendukung Karni. Siapapun yang selama ini pernah nonton ILC, pasti melihat komentar itu aneh. ILC adalah kesempatan bagi siapapun yang diundang untuk merek bersuara, menyampaikan posisi dia, opini, argumen tanpa disela. Hanya mereka yang tak mampu menyampaikan argumen kuat saja yang akan melihat kesempatan itu kurang bernilai.

Yang paling kurang beruntung adalah Abu Janda. Garangnya dia selama ini di media sosial, setelah diberi kesempatan menyampaikan argumennya langsung kepada opponen, ternyata 180 derajat kesan yang dibangunnya di ILC ini. Pasca ILC, cukup banyak yang kemudian membuat jarak darinya. Misalnya Yaqut Cholil bilang bahwa dia tidak mewakili banser. Ada juga yang menyebut dia bukan ustadz.

Apa yang terjdi di ILC tampaknya tidak berhenti di sana. Jika ada tokoh yang pendapatnya cukup kontroversial, setelah ILC, netizen yang berseberangan berusaha membuka profilenya. Misalnya Aan Anshori, oleh netizen banyak digali peran dan sepak terjangnya terkait LGBTQ dan liberalisme. Tulisannya tentang “Apakah Homoseksual Masuk Surga?” diungkit.

Kondisi sebaliknya dari mereka bisa dilihat pada Felix Siauw. Jawabannya yang dianggap telak atas pendapat Abu Janda, tentang bendera Rasulullah, Topkapi Palace, dan hadist, telah mendapat pujian dari netizen yang mendukungnya. The “rise” paling besar saya kira didapat oleh Felix, karena head to head dengan Abu Janda dan Denny Siregar, yang selama ini dianggap dua key opinion leader dari salah satu cluster.

Fahri Hamzah juga mendapat applaus luar biasa dari pendukungnya, yang kebanyakan dari MCA.

Di antara dua kubu di atas, ada Prof Mahmud MD, yang berdiri independen. Beliau mengkritik pandangan Abu Janda soal hadis, dan juga mengkritik Felix Siauw soal khilafah dan HTI. Akun Militan Jokowi merangkum pendapat beliau, “Menurut Mahfud MD tidak ada ajaran Khilafah didalam Islam. Hukum Primer Islam tidak mengenal konsep Khilafah. Dan jika ada yang memperjuangkan Khilafah untuk mengganti Pancasila yang telah disepakati oleh pendiri bangsa hal tersebut sudah melanggar hukum. Catet !!”

SNA: PETA YANG TAK SEIMBANG

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (5)

Kita lihat peta SNA untuk tanggal 6-7 Desember. Disitu tampak adanya dua cluster yang sangat-sangat tidak seimbang. Di sebelah kiri ada cluster @maspiyuuu, @netizentofa, @fadlizon, dll yang selama ini identik dengan MCA. Di antara mereka ada @Karniilyas sang presiden ILC. Cluster kiri ini sangat besar dibanding cluster kanan yang kecil.

Di kanan ada @dennysiregar7, @chicohakim, dkk. Tak tampak akun-akun lain yang selama ini bersama mereka. Mungkin karena jalannya dialog ILC malam itu kurang menguntungkan?

Yang menarik, di sini ada akun yang beru saya lihat, yaitu @darwistriadi. Kenapa dia mendapat begitu banyak retweet? Ternyata satu twitnya yang mengkritik Felix Siauw, mendapat dukungan besar dari cluster kanan. “ILC td malam, itu yg namanya Felix baru ngerti ilmu agama dikit, udh komen kaya gitu, ga sadar bahwa negara indonesia ini pancasila dan direbut dr penjajah dgn spirit pancasila..” Namun karena twit ini pula, dia mendapat begitu banyak response dan serangan dari cluster kiri.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (9)

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (2)

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (3)

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (8)

CLOSING

Dari peta SNA tampak jelas, siapa pemilik panggung ILC tentang “212: Perlukah Reuni?” Mereka yang di cluster besar di sebelah kiri lah yang memilikinya.

Dan kembali ke pertanyaan yang diangkat ILC, “Perlukah Reuni”, seolah ini tak terjawab. Malah muncul jawaban-jawaban baru atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini muncul di media sosial, tentang para tokoh di baliknya cuitan di media sosial itu.

ILC tak menjawab apakah reuni diperlukan. Tapi dia menjawab pertanyaan: “Siapakah Abu Janda?”, “Siapakah Denny Siregar?”, “Siapakah Felix Siauw”, dan “Mengapa HTI Berbahaya?”

Jadi, kalau anda diundang Karni Ilyas untuk ikut acara ILC, tapi khawatir tidak bisa memenangkan opini di sana, maka tinggal di rumah bisa jadi pilihan yang terbaik buat anda.

 

 

Tingkatkan Omset UMKM dengan Teknologi Informasi.

Peranan Teknologi Informasi dalam Peningkatan Omset dan Daya Saing Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi pokok diskusi terbatas antara Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) dengan Bank Syariah Mandiri (BSM) Cabang Yogyakarta.

11 - Jerri 3008 Inisiasi SIE dan BSM (6)

Saat ini masih banyak pelaku UMKM yang belum memahami pentingnya Teknologi Informasi, khususnya dalam memasarkan produk atau jasanya. Setiap UMKM memerlukan jenis teknologi yang berbeda-beda, sehingga perlu memutuskan untuk menerapkan teknologi apa saja yang diperlukan secara prioritas. “PPs FTI UII dalam hal ini Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise (SIE) berperan aktif mengedukasi dan mengimplementasikan langsung ke UMKM”

Hal tersebut disampaikan Dr. R Teduh Dirgahayu, Ketua Program Pascasarjana FTI UII dalam diskusi yang dilaksanakan di salah satu resto seputaran Jalan Kaliurang Yogyakarta (30 Agustus 2017).  Selain Dr. R Teduh Dirgahayu,  tampak hadir Jerri Irgo, Liaison officer PPs FTI UII.

Sementara Ira Kusuma Angreyliya, Area Micro Banking Manager, BSM cabang Yogyakarta menyatakan “BSM untuk mencapai akselerasi pertumbuhan perbankan syariah harus dengan support pemerintah dan sinergi antar stakeholder ekonomi syariah, termasuk diantaranya dengan perguruan tinggi”.

“UII dan BSM telah melakukan kerjasama yang ditandatangani oleh Direktur Utama BSM dan Rektor UII, penandatangan dilakukan saat sebanyak 115 Pimpinan Perguruan Tinggi Islam berkumpul di Yogyakarta pada acara Indonesia Islamic University Conference (25-26 Januari 2017)” ungkap Ira

Semoga, dengan adanya irisan tersebut, dalam waktu dekat ini, UII dan BSM dapat segera merealisasikan salah satu point kerjasamanya, diantaranya berfokus ke UMKM melalui kegiatan workshop untuk dapat meningkatkan omset dengan dukungan Teknologi Informasi.

Jerri Irgo

PusFid dan KPPU, selenggarakan Workshop untuk Investigator

(Kaliurang). Yogi S Wibowo, Kepala Bagian Kesejahteraan Pegawai Biro Organisasi dan SDM KPPU, membuka secara resmi Digital Forensics Workshop for KPPU Investigators yang merupakan kerjasama Pusat Studi Digital Forensik (PusFid) Universitas Islam Indonesia (UII)) bekerjasama dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

01 - PusFid dan KPPU Siapkan SDM Handal Ungkap Barang Bukti Digital. (2)

Kegiatan yang diikuti 25 Investigator KPPU dilaksanakan di Auditorium Lantai 3 Gedung KH Mas Mansur, Fakultas Teknologi Industri, Kampus Terpadu UII (29 Jumadal Awwal dan 1 Jumadal Akhirah 1438 H/ 27 dan 28 Februari 2017).

Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom, Kepala PusFid UII disela-sela kegiatan menyatakan “tujuan dari workshop ini adalah meningkatkan kemampuan SDM di lingkungan KPPU khususnya dalam hal penanganan barang bukti digital guna membantu proses investigasi terhadap kasus-kasus yang menjadi lingkup penanganan KPPU” ujarnya.

Yudi Prayudi yang juga sebagai Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana FTI UII, menambahkan “output dari workshop tersebut, diharapkan adanya kesiapan SDM KPPU dalam hal pengetahuan dan skill untuk menangani kasus-kasus yang melibatkan bukti digital” pungkas Yudi

Jerri Irgo

No Log No Crime

 

15178124_10209686673896128_3132423433748782133_n

(Pekanbaru). dr. H. Taswin Yacob, Sp.S, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), membuka secara resmi Studium General Digital Forensic dengan tema “No Log No Crime”, menghadirkan Narasumber Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom Kepala Pusat Digital Forensik Universitas Islam Indonesia yang juga Dosen Magister Teknik Informatika PPs FTI UII Yogyakarta (30 November 2016).

Kegiatan yang dilaksanakan di Auditorium Universitas Muhammdiyah Riau (UMRI), tampak hadir Aryanto, SE, MIT, Ak, Dekan Fakultas Ilmu Komputer UMRI dan seluruh Mahasiswa Perwakilan dari Kampus di Pekanbaru yang memiliki Program Studi Komputer,

Mitra Unik, M.Kom, Dosen Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer UMRI dalam releasenya menyampaikan “Latar belakang kegiatan ini adalah sebagai semangat penyebaran informasi dan edukasi khususnya Digital Forensic di Pekanbaru Riau” ujar Mitra Unik di Kampus I UMRI – Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 88 Sukajadi, Pekanbaru.

“Di Pekanbaru, baru hanya UMRI yang mengajarkan Mata Kuliah Digital Forensic dan telah memiliki lulusan dengan topik tugas akhir Digital Forensic” ujar Mitra Unik, yang juga Lulusan Magister Teknik Infotmatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta.

“Dengan adanya Studium General ini diharapkan dapat menjadi stimulus perkembangan keilmuan khususnya Digital Forensik agar makin di ketahui oleh khalayak ramai khususnya oleh para pelaku  praktisi dan Akademisi” tegasnya.

Seusai Studium General dilanjutkan peresmian Studi Club Digital Forensik di bawah Program Studi Teknik Informatika UMRI, adapun salah satu tujuan dan harapannya adalah untuk melakukan riset dan eduksi dengan melibatkan multi stakeholder, termasuk Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Jerri Irgo

IMFIF dengan menggunakan Composite Logic.

15168867_10206120462930176_2185426845378878038_o
Alhamdulillah, tantangan AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, MSc., CHFI., CEI., ECIH untuk menyelesaikan penelitian tentang Multimedia Forensik, lebih tepatnya ke Framework Investigasi Forensik khusus untuk Multimedia kepada Nora Lizarti, terbayar Lunas, saat dinyatakan tugas akhirnya dengan Konsep Integrated Multimedia Forensic Investigation Framework (IMFIF) dengan menggunakan Composite Logic dinyatakan lulus oleh Dewan Penguji Ujian Pendadaran (26 November 2016).

Nora, Mahasiswi Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) konsentrasi studi Forensika Digital, menyampaikan “Ide penelitian ini, berawal dari tugas perkuliahan yang diberikan oleh Pak Yudi Prayudi saat saya masih semester 2, sebuah paper digital forensik oleh Bohme (2009) yang berjudul “Multimedia Forensics its Not Computer Forensic” memicu ketertarikan saya terhadap multimedia forensik” ujar Nora seusai ujian pendadaran.

“Paper tersebut saya mengambil intisari bahwa multimedia forensik tidak sama dengan komputer forensik, karena didalam multimedia forensik mungkin saja dilakukan nya proses rekayasa terhadap barang bukti agar dapat memberikan informasi yang terkandung didalamnya tanpa bergantung pada informasi apapun selain dari konten digital itu sendiri berbeda dengan komputer forensik yang menganalisa deretan data bit per bit tanpa adanya proses perubahan pada barang bukti tersebut” ujarnya.

Sedangkan saat ini, kasus kasus yang melibatkan barang bukti digital sebagai barang bukti semakin meningkat tinggi termasuk kasus-kasus kejahatan yang melibatkan konten multimedia ( image, audio dan video), saya menilai adanya kebutuhan akan framework multimedia forensik dikarenakan saat ini, framework investigasi forensik digital yang berkembang lebih menekankan kepada investigasi komputer forensik secara umum dan tidak memberikan sebuah tahapan yang spesifik tentang multimedia forensik.

Seringnya dalam melakukan investigasi multimedia forensik seorang investigator menggunakan framework yang berbeda-beda menurut jenis konten multimedia yang akan dianalisa. “tentu saja hal tersebut menjadi tidak fleksibel dan kurang efisien, padahal konten multimedia memiliki kesamaan karakteristik sehingga memungkinkan untuk diintegrasikan menjadi sebuah kesatuan” jelas Nora

Nora menambahkan “Dalam penelitian ini saya menggunakan metode untuk mengkolaborasikan framework-framework terkait konten multimedia yang ada. Metode ini mampu mengkolaborasikan framework berdasarkan tujuan kesamaan tujuan dari setiap tahapan ataupun inputnya. Tentu saja ini sangat membantu saya dalam menyelesaikan penelitian ini”.

“Yudi Prayudi, S.Si. M.Kom dan pak Dr. Bambang Sugiantoro, MT sebagai pembimbing sangat membantu memberikan saran dan masukan agar penelitian ini menghasilkan hasil yang benar dan tepat secara keilmuan. Selain itu Ahmad Luthfi, S.Kom, M.Kom sebagai penguji pun turut andil dalam memberikan masukan-masukan penting dalam penelitian ini. Atas jasa mereka saya sangat mengucapkan terima kasih. Dan hari ini, 26 Nopember 2016 saya ujian pendadaran tesis saya, dan alhamdulillah dinyatakan lulus” ungkap Nora.

“Saya berharap penelitian saya ini dapat berkontribusi dalam perkembangan keilmuan multimedia forensik pada khususnya dan digital forensik pada umumnya. Selain itu, dengan adanya Integrated Multimedia Forensic Investigation Framework (IMFIF) ini, diharapkan dapat memberikan solusi atas belum adanya framework multimedia forensic yang terintgrasi sehingga IMFIF dapat digunakan sebagai acuan ketika terjadi perkara terkait media multimedia dipersidangan” pungkasnya.

Berita terkait : Multimedia Forensik Bagi Praktisi Dan Akademisi

Jerri Irgo