Posts

Jejak Digital

Fathul Wahid, Ph.D. Dosen Program Magister Informatika, Universitas Islam Indonesia (UII), Peminat Studi TIK di sektor Publik dan untuk Pembangunan. Saat ini dia adalah Chief Information Officer UII.

– – –

Jejak Digital

SEBUAH email yang masuk siang itu membuat saya dan beberapa kawan dosen di jurusan, tersenyum kecut dan sekaligus merasa kasihan. Seorang lulusan meminta penggatian berkas digital skripsi yang diunggah di repositori. Apa pasal?

Calon pasangannya mempunyai sebuah permintaan kepadanya untuk menghapus nama seseorang yang termaktub dalam daftar ucapan terima kasih skripsinya. Tentu, permintaan tersebut tidak kami kabulkan. Skripsi adalah dokumen akademik resmi.

Moral apa yang kita bisa petik? Kawan saya mengatakan, “jejak digital itu sangat kejam.” Saya sepakat. Terlalu banyak kisah di media daring, khususnya media sosial, yang memperkuat pendapat ini . Ketika seseorang ‘berulah’ dan memancing kemarahan banyak orang, tidak jarang dia ‘ditelanjangi’ dengan bukti dari jejak digital lampaunya. Bahkan, Pemerintah Amerika Serikat, menggunakan jejak digital di media sosial lima tahun terakhir sebagai salah satu dasar penerbitan visa pengunjung.

Sampai hari ini, masih banyak pengguna media sosial yang tidak sadar bahwa, layar gawai merupakan pintu gerbang ruang publik. Saat ini, pembatas ruang privat dan publik menjadi sangat tipis. Konten yang ke luar dari gawai ke media sosial laksana binatang binal keluar dari kandang. Kendali tidak lagi menjadi milik kita.

Kita bisa memproduksi konten di manapun, bahkan di kamar kecil yang pengap sekalipun, selama gawai terkoneksi Internet. Konten dapat dengan mudah menjadi viral di media daring tanpa seorang pun dapat mengendalikannya. Konten dan peredarannya akan membuat jejak digital. Sialnya, umur jejak ini berbeda dengan jejak kaki di tepi pantai yang mudah tersapu ombak. Jejak digital tetap ada selama repositori daring masih menyimpannya. Kita dapat menghapus jejak digital awal di halaman sosial media kita. Namun, siapa yang dapat menjamin bahwa konten tersebut tidak tersalin di tempat lain.

Apa yang bisa kita lakukan? Yakinkan bahwa konten yang kita unggah ke media daring atau kita sebar mempunyai manfaat. Manfaat bisa mewujud dalam banyak bentuk, mulai dari membagi kebahagian karena mendapat nikmat, menjalin persahabatan, menebar inspirasi, memompa semangat, sampai dengan menasihati diri sendiri dan orang lain. Pastikan ada unsur kebaikan di sana. Sebaliknya, hindari konten yang memantik fitnah, menebar kebencian, mengusik kedamaian, membuat polarisasi sosial, membunuh empati, dan melukai hati. Pesan Nabi Muhammad beberapa abad lalu masih valid sampai detik ini : “Katakanlah yang baik atau diam.”

Jejak digital dari konten ini akan menjadi wajah kita, membentuk konsepsi orang atas kita. Bisa jadi, saat ini, kita sudah berubah dan hijrah. Walapun konten negatif yang kita produksi bertahun-tahun lalu masih tersimpan di repositori daring dan masih dijadikan rujukan orang, bahkan anak-cucu, dalam melihat kita. Baca lagi ilustrasi pembuka tulisan ini. Konten produksi kita dapat menjadi sumber stigma.

Saat ini, adagium ‘mulutmu harimaumu’ perlu dilengkapi dengan ‘jarimu harimaumu’. Karenanya, tinggalkan jejak digital yang baik. Hati-hati dengan jari-jari kita!Jika tidak, penyesalan pasti muncul di kemudian hari.

Momentum Ramadan ini, ketika muslim diminta melatih kendali diri dan menebar manfaat untuk sesama, nampaknya sangat tepat untuk memulai gerakan ini. Mari!

Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 18 Mei 2018)

Model Attribute Based Access Control

Mohamad Fadli Panende, mendapatkan hasil pengujian Model Attribute Based Access Control (ABAC) dengan sampel data uji melalui rangkaian skenario, simulasi dan pengujian kinerja akses kontrol menggunakan tools yang dibuat khusus untuk menguji kinerja ABAC pada Lemari Penyimpanan Bukti Digital (LPBD) ini, didapatkan hasil bahwa akses kontrol yang dibuat telah berjalan dengan baik dan berfungsi sebagaimana mestinya yang diharapkan. Selain itu pendekatan menggunakan metode ABAC ini juga dapat menjadi solusi dalam meningkatkan tingkat keamanan sistem LPBD khususnya dalam hal identifikasi user.

Alhamdulillah, penelitian tersebut mengantarkan, Mohamad Fadli Panende, meraih gelar Magister Komputer dari Konsentrasi Forensika Digital Program Studi Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta

Perancangan Model Attribute Based Access Control (ABAC) Pada Lemari Penyimpanan Bukti Digital (LPBD) ini diawali dengan melakukan perancangan model ABAC, dilanjutkan dengan membuat konsep XACML policy untuk dapat menyesuaikan antara kebutuhan ABAC dan kebutuhan sistem LPBD, serta diimplementasikan dalam bentuk model halaman login pada LPBD. “Pendekatan menggunakan metodeABAC pada LPBD ini juga dapat menjadi solusiatas permasalahan akses kontrol LPBD yang dibuat sebelumnya” ungkap Fadli melalui pesan singkat (11 April 2018).

Penelitian Faktor Mohamad Fadli Panende menjawab salah satu hal penting dalam proses investigasi sebuah kasus cybercrime yaitu hal yang terkait dengan barang bukti yang ditemukan. Bukti elektronik maupun bukti digital yang ditemukan dalam sebuah kasus kejahatan harus tetap terjaga keasliannya untuk dapat dipertanggung jawabkan dipengadilan. Sistem lemari penyimpanan bukti digital (LPBD) menjadi salah satu solusi untuk permasalahan manajemen bukti digital ini yang berdasar pada digital evidence cabinet (DEC), hanya saja sistem tersebut belum dilengkapi dengan model akses kontrol yang baik.

Sistem LPBD seharusnya dibuat tidak hanya berdasar pada permasalahan-permasalahan tentang manajemen bukti digital saja, akan tetapi komponen-komponen penting lainnya dalam lemari penyimpanan bukti digital itu sendiri yaitu pengaturan aksesnya, sehingga skema atau desain akses kontrolpolicy terhadap LPBDmenjadi sangat penting. Akses kontrol yang gunakan terhadap LPBD sebelumnya dibuat hanya dengan mekanisme authefikasi dan authorisasi user saja, tidak adanya parameter lain yang lebih kompleks untuk mendukung sebuahpermintaan akses yang dilakukan pada sistem LPBD.

Penelitian ini dilakukan pada LPBD dengan tahapan yang dimulai dari melakukan identifikasi masalah, studi literature, pembuatan konsep ABAC, implementasi, simulasi dan skenario kasus, melakukan pengujian, hasil dan analisa, serta memberikan kesimpulan. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu membangun rancangan akses kontrol pada LPBD menggunakan pedekatan attribute based access control (ABAC) dan melakukan pengujian terhadap keamanan sistem LPBD dalam segi pemberian hak akses pada user.Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan menggunakan toolskhusus untuk menguji kinerja akses kontrol, didapatkan hasil bahwa rancangan ABAC yang dibangun dapat berjalan dengan baik sebagaimana mestinya yang diharapkan.

Pendekatan menggunakan ABAC ini dapat dijadikan solusi atas permasalahan akses kontrol LPBD sebelumnya, khususnya dalam proses identifikasi user. “Penggunaan pendekatan ABAC pada LPBD ini disebabkan ABAC merupakan model akses kontrol policyyang lebih fleksibel dalam penerapan atributterhadap user, dan hierarchy XACML yang dapat mendukung kebutuhan-kebutuhan akses kontrol yang digunakan pada LPBD” pungkasnya.

Selamat ya broo Mohamad Fadli Panende, makin sukses selalu !!

Jerri Irgo

Memahami Skandal Data Facebook dan Cambridge Analytica

Yudi Prayudi, M.Kom ; Kepala Pusat Studi Forensika Digital (PUSFID) Universitas Islam Indonesia; Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII)

Memahami Skandal Data Facebook dan Cambridge Analytica

Kekuatan Facebook : Social Graph
Kekuatan dari data yang dihimpun oleh Facebook adalah dalam sebuah konsep keterhubungan yang dikenal dengan Social Graph. Melalui konsep ini, maka Facebook berusaha untuk memetakan apapun yang dilakukan dalam ruang siber ketika seseorang aktif membuka Facebook. Respon terhadap apa yang diunggah oleh seseorang dalam bentuk : like atau symbol emosi lainnya serta komen dan tag akan secara otomatis membentuk graph (garis keterhubungan) yang menunjukkan relasi antara orang, tempat serta sesuatu yang menyebabkan seseorang berinteraksi saat online.

Prinsipnya hampir semua layanan aplikasi online melakukan upaya untuk pengumpulan data pengguna untuk kepentingan targeting informasi. Namun kedalaman data dan informasi yang diberikan berbeda satu sama lainnya. Google hanya akan memberikan data bahwa satu produk baju telah dicari oleh seseorang yang berada di jalan x kota y. Namun kekuatan Sosial Graph dari Facebook akan memberikan informasi bahwa si A telah membeli baju di toko z di jalan x kota y dan baju yang dibeli di A juga dibeli oleh si B dan si C. Data Social Graph ini muncul karena si A melakukan checkin di toko z serta foto bajunya diposting kemudian dilike dan di- komentari oleh si B dan si C.

Graph keterhubungan tersebut tidak murni dalam bentuk sebuah garis keterhubungan, namun pada prinsipnya adalah sebuah informasi yang tersimpan dalam sebuah struktur data yang sangat komplek yang kemudian dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan output yang diharapkan. Berdasarkan Social Graph inilah iklan yang muncul di halaman Facebook kita akan sesuai dengan kecenderungan minat, aktivitas, respon saat kita membuka Facebook. Dari aspek marketing, maka beriklan di Facebook akan sangat menguntungkan karena iklan yang dipasang akan muncul pada user yang relevan dengan konten pada iklan tersebut. Dengan kata lain, aktivitas seseorang saat membuka Facebook akan menjadi trigger dari munculnya iklan ataupun informasi yang relevan dengan kecenderungan aktivitas si penggunanya. Salah satu pendapatan terbesar dari Facebook adalah biaya pemasangan iklan.

Selain itu, data yang terkumpul melalui konsep Social Graph ternyata memiliki akurasi yang tinggi dalam melakukan prediksi sesuatu. Aleksandr Kogan dan beberapa koleganya dari
Cambridge University’s Psychometric Centre termasuk yang respek dengan kemampuan Social Graph dari Facebook dan dalam beberapa riset yang dijalankannya, data yang didapat dari Social Graph ini ternyata memiliki akurasi yang sangat baik. Para peneliti ini menyimpulkan bahwa pilihan dan kecenderungan seseorang dapat dilihat dari rekam jejak digital kebiasaan sehari-harinya dalam ruang siber. Dalam hal ini Kogan menyimpulkan bahwa hasil profiling terhadap data pengguna Facebook maka terdapat akurasi 95 % untuk hal yang terkait dengan Ras dan akurasi 85 % terkait dengan pilihan politik.

Kesuksesan Facebook dalam menerapkan konsep Social Graph kemudian mendorong pengembang Facebook untuk meningkatkan kemampuannya. Maka kemudian konsep dasar tersebut dikembangkan lagi melalui konsep Open Graph yang memungkinkan pihak ketiga di luar Facebook untuk juga memanfaatkan data social graph yang dimiliki oleh Facebook untuk membangun social graph bagi kepentingan aplikasinya. Demikian juga sebaliknya, bagi Facebook, konsep Open Graph akan membuat data social graph yang dikelola oleh Facebook menjadi semakin lengkap sehingga apapun aktivitas seseorang di internet akan dapat dipetakan dalam social graph yang dikelola oleh Facebook.

Open Graph API yang dikenalkan oleh Facebook pada tahun 2010 ini pada prinsipnya adalah memberikan ijin pengembang aplikasi di luar Facebook untuk juga dapat mengakses data user dari Facebook. Hal inilah yang kemudian mendasari Pemerintah Amerika pada tahun 2011, melalui Departement Perdagangannya (US Federal Trade Commission – FTC) untuk memberikan perlindungan kepada user dengan memaksa Facebook untuk mendatangi sebuah perjanjian yang intinya pernyataan setuju untuk tidak membagikan data penggunanya tanpa persetujuan mereka (user). Perjanjian ini secara umum mengatur tentang berbagai kewajiban Facebook untuk menjaga data dan privacy dari penggunanya. Dan disebutkan pula bahwa apabila terjadi pelanggaran terhadap kewajiban tersebut maka Facebook akan dikenakan denda sebesar 40.000 US$ per data user yang dilanggarnya. Sehingga bila kasus Cambridge Analytica yang melibatkan penggunaan 50 juta data pengguna Facebook adalah merupakan salah satu bentuk pelanggaran dari perjanjian tersebut, maka bisa dibayangkan berapa besar denda yang harus dibayarkan oleh Facebook. Hal inilah yang memunculkan issue bahwa Facebook akan bangkrut.

Selain kekuatannya dalam hal Social Graph, hal lain yang juga dimiliki oleh Facebook adalah kemampuannya dalam merekam semua aktivitas pengguna selama dirinya aktif menggunakan Facebook. Facebook menyimpan dengan baik semua history dari aktivitas yang pernah dilakukan oleh penggunanya. Setiap saat pengguna bisa meminta rekaman dari history tersebut. Dengan demikian, sekali data ini bisa diakses maka profile seseorang akan dapat diketahui sepenuhnya.

Quizz Online
Adalah seorang peneliti dari Cambridge University’s Psychometric Centre yang bernama Aleksandr Kogan yang menjadi pintu masuk dari skandal penyalahgunaan data pengguna Facebook. Sejak tahun 2007, Kogan telah sangat familiar dengan aplikasi Quiz dari Facebook dan telah memanfaatkannya untuk mendapatkan data personal dari user Facebook untuk kepentingan riset akademiknya. Sejalan dengan munculnya API dari Facebook maka kemudian Kogan memanfaatkannya untuk mengembangkan aplikasi sendiri yang mirip dengan aplikasi Quizz Facebook tersebut dan menjalankan terus proyek riset dan pengumpulan data akademiknya melalui perusahaannya sendiri yaitu Global Science Research (aplikasi bernama : thisisyourdigitallife).

Kemampuan Kogan dalam mengumpulkan data melalui API Facebook ini kemudian dimanfaatkan oleh perusahaan Cambridge Analytica untuk meminta dibuatkan Quiz Kepribadian yang kelak akan dipasang pada aplikasi Amazon. Dengan iming-iming bayaran 1-2 US$, dan dengan komitment data hanya untuk kepentingan akademik, maka Quiz tersebut telah mampu menarik pengguna sekitar 270.00 user. Namun tanpa disadari oleh pengguna Quiz tersebut, ternyata data yang mereka isikan pada Quiz tersebut, ternyata juga menjadi pintu masuk untuk akses terhadap data kawan-kawan dan pertemanan yang terkoneksi dengan akun pengguna Quiz tersebut. Hal inilah yang kemudian memunculkan angka hampir 50 juta data pengguna Facebook. Dalam hal ini, Aleksandr Kogan menyatakan bahwa tugas dia hanya mengumpulkan data saja untuk kepentingan analisis politik, sementara bagaimana penggunaan data tersebut diluar kepentingan analisis politik adalah tanggung jawab sepenuhnya dari Cambridge Analytica.

Restriksi API
Facebook mulai menyadari adanya hal yang diluar control dari akses dan penggunaan data pengguna Facebook yang didapat dari Open Graph API. Karenanya maka pada bulan April 2014, dilakukan redesign ulang kemampuan dari Open Graph API dengan sejumlah pembatasan akses kedalam data pengguna. Namun sayangnya hal ini tidak berlaku surut untuk aplikasi-aplikasi yang memanfaatkan API sebelum April 2014. Hal ini sangat menguntungkan Cambridge Analytica karena masih mampu melakukan akses terhadap data-data user Facebook walaupun sudah menerapkan berbagai pembatasan akses data. Bahkan seorang pegawai Cambridge Analytica yang bernama Christopher Wylie yang kemudian keluar dan mendirikan perusahaan Eunoia Technologies, hingga tahun 2015 masih dapat memanfaatkan data-data pengguna Facebook yang didapat sebelumnya ketika masih bekerja pada Cambridge Analytica. Wylie merupakan saksi penting yang menjadi kunci bagi terbukanya skandal data Cambridge Analytica ini.

Facebook sendiri mengklaim bahwa sejak April 2014 model bisnis yang mereka terapkan untuk pemanfaatan Open Graph API bagi pihak ketiga sudah sedemikian rupa dirancang untuk melindungi privacy dari pengguna Facebook. Salah satu bentuknya adalah disediakannya menu dimana user sendiri dapat mengontrol aplikasi mana saja yang diijinkan untuk akses data dan user bisa setiap saat menon-aktifkan aplikasi tersebut. Melalui pilihan menu Pengaturan – kemudian sub menu Aplikasi, maka terlihat daftar aplikasi yang diijinkan oleh pengguna untuk mengakses data dirinya yang disediakan oleh Facebook. Bila dirasakan list aplikasi tersebut tidak dikenal atau sudah tidak digunakan lagi, maka user bisa segera menghapus aplikasi tersebut.

Sanggahan dari Facebook
Upaya penyalahgunaan data pengguna Facebook oleh pihak ketiga melalui celah Open Graph API sudah mulai terdeteksi sejak tahun 2015. Saat itu, Facebook menyatakan bahwa Kogan dan Cambridge Analytica telah menyalahi kesepakatan yang dibuat antara mereka dengan Facebook dengan cara menjual data user Facebook yang mereka dapatkan kepada pihak lain. Facebook berusaha untuk menegaskan yang terjadi bukanlah pencurian data ataupun pelanggaran terhadap privacy dan adanya celah keamanan, namun semata-mata adanya pihak yang menyalahgunakan data yang didapat untuk tujuan yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

Untuk itu, Facebook telah memita kepada Kogan dan Cambridge Analytica untuk segera menghapus semua data yang diperoleh dari Facebook dengan cara yang tidak benar tersebut. Pihak Kogan dan Cambridge Analytica sendiri menyatakan bahwa mereka dan semua staff mereka telah berusaha untuk mematuhi permintaan tersebut. Sayangnya, karena sifat dan karakteristik dokumen digital, mereka sendiri tidak bisa memastikan sepenuhnya bahwa semua data yang dimaksud telah benar-benar dihapus. Hal ini didukung oleh hasil investigasi beberapa lembaga audit independen bahwa data yang dimaksud belum sepenuhnya dihapus sama sekali, dan diyakini masih disimpan oleh beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab.

Sanggahan dari Facebook menyatakan bahwa kesalahan penggunaan data user ini ada pada pihak Kogan dan Cambridge Analytica juga banyak dikritik oleh pengamat, mereka tidak yakin kalau Facebook tidak tahu ketika Cambridge Analytica menjadi konsultan politik dari kampanye Presiden Donald Trump telah memanfaatkan data-data Facebook yang didapat sebelumnya untuk kepentingan strategi pemenangan Donald Trump. Lambatnya respon Mark Zukerberg terhadap issue Cambridge Analytica itu sendiri baik secara personal maupun secara institusinal telah menimbulkan berbagai kecurigaan terhadap hubungan sesungguhnya yang terjadi antara Facebook dan Cambridge Analytica serta Presiden Donald Trump itu sendiri. Walaupun kemudian Mark sendiri menbantah semua kecurigaan tersebut dan menegaskan kembali bahwa apa yang terjadi adalah semata-mata karena adanya kebijakan Facebook yang dilanggar oleh pihak Kogan dan Cambridge Analytica. Hal yang disayangkan oleh banyak pihak, hingga saat ini Mark tidak pernah menyatakan hal yang terkait dengan permintaan maaf kepada pengguna Facebooknya namun Mark lebih banyak menjelaskan tentang berbagai perubahan kebijakan yang signifikan yang secara substansial akan mengubah apa yang pengembang pihak ketiga dapat lakukan dengan data pribadi yang terdapat pada Facebook. Mark menyampaikan sejumlah kebijakan baru dalam pemanfaatan Open Graph API serta kebijakan yang lebih ketat dalam hal keterlibatan pihak ketiga yang akan memanfaatkan Open Graph API dari Facebook. Kebijakan tersebut diharapkan akan mengembalikan rasa percaya dan trust pengguna Facebook terhadap keamanan dan privacy data mereka.

Penolakan terhadap Facebook
Sejak terungkapnya skandal data Facebook dan Cambridge Analytica pada pertengahan Maret 2018, maka Mark Zukerberg serta Facebook mendapat tekanan yang luar biasa dari sesama pebisnis digital dilingkungan Silicon Valley Amerika. Tidak hanya dari masyarakat luas, Mark juga mendapat tekanan dari mitra bisnis dari Facebook sendiri. Salah satu tekanan tersebut datang dari Brian Acton, salah satu pendiri Whatssap yang telah diakuisisi oleh Facebook. Acton menginisiasi sebuah tagar #deletefacebook.Sementara Tim Cook dari Apple sangat menyayangkan rendahnya komitmen Facebook dalam menjaga privacy dan data pengggunanya bila dibandingkan dengan Apple dan Iphone. Demikian juga dengan Roger McNamee, banyak berperan dalam pengembangan Facebook pada saat awal namun kemudian memilih keluar dari Facebook. McNamee membuka alasan dirinya hengkang dari Facebook adalah karena kecewa dengan strategi yang dijalankan oleh Mark Zukerberg dalam hal privacy dan keamanan.

Beberapa analis program keamanan computer bahkan menyatakan program API yang disediakan oleh Facebook tidak hanya mampu merekam aktivitas user didunia maya saja bahwa sms dan call record dari handphone yang digunakan untuk menjalankan aplikasi Facebook juga mampu direkam dengan baik. Sehingga Facebook benar-benar telah mampu menembus dinding privacy dari seseorang. Selain itu, pengguna Facebook juga tidak memiliki pilihan untuk menyembunyikan data dirinya dari upaya targeting iklan yang dipasang di Facebook. Hal inilah yang sangat disayangkan dan baru disadari oleh sebagian besar pengguna Facebook.

Beberapa produk dan perusahaan yang selama ini memanfaatkan Page Facebook sebagai media promosi utamanya juga menyayangkan rendahnya komitmen Facebook dalam menjaga privacy dan data user. Majalah dewasa Playboy memiliki Page di Facebook dengan lebih dari 25 juta followers menyatakan bersiap untuk meninggalkan Facebook. Demikian juga beberapa perusahaan lainnya yang selama ini memanfaatkan Page Facebook untuk kepentingan promosinya. Namun apakah gerakan #deletefacebook benar-benar terwujud ataukah hanya sekedar tekanan moral kepada Facebook untuk lebih aware dengan masalah privacy dan keamanan datanya, masih perlu dibuktikan dalam beberapa minggu kedepannya.

Sementara dari sisi para pemasang iklan itu sendiri, berbagai kebijakan terbaru dan pembatasan dalam hal penggunaan data Facebook oleh pihak ketiga belum sepenuhnya dirasakan oleh mereka. Namun bila kebijakan baru tersebut nantinya akan menurunkan efisiensi dan efektivitas mereka dalam pemasangan iklan tentunya mereka akan mempertimbangkan untuk mencari media lain yang lebih efektif dan efisien untuk kepentingan pemasangan iklan mereka.

Preventif dan Solusi Bagi Pengguna Facebook
Pada tahun 2018 ini, jumlah pengguna Facebook di Indonesia yang dikeluarkan oleh statistika.com menungkkan angka 96, 41 juta pengguna. Sementara data yang dicatat oleh internetworldstats.com menunjukkan angka 130 juta pengguna. Wajarlah bila kemudian dimata Facebook, Indonesia adalah sebuah pasar sangat besar untuk menjaga keberlanjutan
dari Facebook itu sendiri. Sebagai bentuk komitmennya, maka mulai Agustus 2017, Facebook membuka kantor perwakilannya di Jakarta.

Adalah sulit dan mustahil bagi pengguna aktif Facebook untuk dengan serta merta meninggalkan Facebook. Apalagi hingga saat ini belum ada aplikasi yang setara dengan Facebook dalam hal kenyamanan menjalankan aktivitas media social. Walaupun banyak aplikasi media social lainnya, seperti Instagram, Twitter, LinkedIn, namun ciri khas Facebook tetap tidak digantikan oleh aplikasi media social lainnya.

Bagi pengguna Facebook di Indonesia, issue skandal data Cambridge Analytica kelihatannya tidak terlalu berpengaruh. Hal ini terlihat dari postingan dan komentar status linimasa di Indonesia tidak banyak yang membahas tentang dampak Cambridge Analytica terhadap eksistensi dirinya dalam hal privacy dan keamanan. Hal ini berbeda dengan warga negara Amerika Serikat dimana data-data merekalah yang digunakan oleh Cambridge Analytica untuk kepentingan pemenangan kampanye Donald Trump. Barangkali karena ada praduga bahwa 50 juta data pengguna Facebook yang dipermsalahkan adalah pengguna Facebook di Amerika, bukannya di Indonesia sehingga hal ini tidak menimbulkan gejolak dan penolakan Facebook di Indonesia.

Namun demikian, apa yang dilakukan oleh Cambridge Analytica sebenarnya sangat mungkin dilakukan juga oleh perusahaan lainnya. Baik yang saat ini beroperasi didalam ataupun diluar negeri. Ada ratusan bahkan mungkin ribuan aplikasi pihak ketiga yang dijalankan dengan memanfaatkan Open Graph API dari Facebook. Sehingga potensi penggunaan data untuk hal yang tidak sesuai sangatlah terbuka.

Untuk itu ada 3 langkah keamanan dan 2 langkah preventif yang harus diperhatikan untuk pengguna Facebook. Tiga langkah adalah :

  1. Tinjau kembali semua setting privacy yang telah kita buat untuk akun Facebook kita. Setting privacy akan mengatur apa yang bisa dishare oleh kita kemudian siapa yang menerima sharing, kemudian bagaimana orang lain bisa berkomunikasi dengan kita. Termasuk mekanisme approve bila seseorang melakukan tag terhadap akun kita pada komentar ataupun foto sebelum bisa muncul dalam dinding Facebook kita.
  2. Lakukan setting privacy yang tepat untuk data yang berhubungan dengan privacy kita seperti: tempat dan tanggal lahir, lokasi tempat tinggal, nomor telepon. Data tersebut sebaiknya di setting sebagai hidden dari akses public.
  3. Perhatikan juga daftar aplikasi yang telah kita ijinkan untuk dapat mengakses data Facebook kita. Bila aplikasi tersebut sudah tidak lagi dipake atau malah tidak kita kenal maka segera hapus aplikasi tersebut dari daftar tersebut.

 

Sementara 2 langkah preventif yang harus dilakukan adalah :

  1. Bila akan bergabung dengan suatu web atau menjalankan sebuah aplikasi dengan memanfaatkan data Facebook (biasanya ada pilihan apakah login/daftar manual atau login/daftar dengan akun Facebook) maka pastikan bahwa web atau aplikasi tersebut benar-benar aplikasi yang terpercaya. Bila diragukan maka sebaiknya tidak menggunakan pilihan login dengan akun Facebook namun lakukan login dengan data manual. Minimalkan upaya untuk mengintegrasi Facebook dengan aplikasi external lainnya.
  2. Tidak mudah tergiur untuk menjalankan aplikasi yang berjalan dengan cara mengakses data dan aktivitas Facebook kita. Aplikasi lucu-lucuan seperti aplikasi yang memprediksi bagaimana wajah kita ketika tua, aplikasi yang memprediksi siapa artis yang mirip dengan kita, siapa sahabat terbaik kita dan sejenisnnya secara tidak langsung akan melakukan mekanisme akses terhadap foto, posting komentar, like comment, checkin lokasi yang kita lakukan di Facebook untuk kemudian diolah menjadi ouput yang diharapkan. Aplikasi sejenis ini, sifatnya walaupun hanya sekedar gurauan namun memiliki dampak yang sangat dalam terhadap akses privacy dan data kita. Sebaiknya kita hindari apliasi sejenis ini. Termasuk didalamnya adalah aplikasi Quis/survey yang banyak ditemukan dalam Facebook atupun di internet secara umum.

Yogyakarta, 30 Maret 2018

PPs FTI UII, Menerima Mahasiswa Baru

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Ketua Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta, membuka kesempatan bagi lulusan S1 untuk melanjutkan studi S2 di PPs FTI UII, disampaikan di ruang kerja ketua PPs FTI UII, lantai 1 Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII Yogyakarta (27 Maret 2018)

Merujuk Surat Keputusan No 130/Dir/20/PPs.FTI/III/2018 tentang Periode Pendaftaran Penerimaan Baru semester ganjil tahun 2018/2019, terdapat 3 periode pendaftaran.

  • Periode 1, pendaftaran mulai 2 April sd 25 Mei 2018, tes kolektif 26 Mei 2018 dan pengumuman pada tanggal 31 Mei 2018.
  • Periode 2. pendaftaran mulai 1 Juni sd 27 Juli 2018, tes kolektif 28 Juli dan pengumuman pada tanggal 31 Juli 2018
  • Periode 3. pendaftaran mulai 1 sd 24 Agustus 2018, tes kolektif 25 Agustus dan pengumuman pada tanggal 28 Agustus 2018

PPs FTI UII membuka Magister Teknik Industri dan Magister Teknik Informatika

Jerri Irgo

Teduh, Sambut Keluarga Baru Magister Teknik Informatika

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Ketua Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia, menyambut langsung keluarga baru, Mahasiswa Baru Magister Teknik Informatika (MI) di ruang Audiovisual FTI UII, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII Yogyakarta (23 Maret 2018).


“Selamat datang mahasiswa baru Magister Teknik Informatika (MI) UII, terima kasih telah mempercayai MI PPs FTI UII dalam melanjutkan studi S2 semoga dapat menyelesaikan studi dengan tepat waktu yaitu selama 4 semester” tutur Dr. R. Teduh Dirgahayu dalam sambutannya.

Magister Teknik Informatika PPs FTI UII pada Semester Genap Tahun 2017/2018, menerima 25 Mahasiswa Baru atau 41,7% dari jumlah seluruh pendaftar. Tercatat 8 mahasiswa mengambil konsentrasi Informatika Medis, konsentrasi Forensika Digital tercatat 7 mahasiswa dan konsentrasi Sistem Informasi Enterprise 10 mahasiswa.

“Kami ucapkan selamat atas keberhasilan saudara dalam seleksi di MI UII, perlu diingat bahwa saudara telah menyisihkan beberapa orang yang mestinya juga akan studi di MI UII ini, sehingga saudara harus melaksanakan amanah studi ini dengan baik dan agar dapat menyelesaikan tepat waktu, cukup 4 semester saja” tegasnya.

Baca : Danar dan Seabrek Prestasi Akademiknya

Kendala yang banyak ditemui adalah saat tesis. Tesis ditempuh di semester 4, namun mulai semester 2 sudah harus memulai merancang tesis yang akan ditulis. Insha Allah dengan memulai tesis di awal, target 4 semester selesai dapat terwujud.

Kegiatan Penyambutan Mahasiswa Baru MI PPs FTI UII, selain untuk memperkenalkan lingkungan kampus dan juga sebagai sarana penjelasan akademik serta konsultasi jika masih ditemukan beberapa masalah terkait perkuliahan.

Secara terpisah, Sujono, Mahasiswa Baru konsentrasi Sistem Informasi Enterprise ungkapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, bahagia sekali, diberikan amanah kembali untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, ini adalah impian yang telah lama ingin kuraih” ujarnya

“Semoga Allah berikan kemudahan dan kelancaran dalam menyelesaikan studi dan semoga ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi sesama dan kelak akan membersamai di akhirat. Bismillah, kunfayakun, Insha Allah, Allah akan menolongku… Aamiin” pungkas Sujono

Jerri Irgo

 

The War on MCA

Ismail Fahmi, Ph.D – Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia
– – – – – –

Baiklah.. Drone Emprit awalnya lagi sibuk dengan pengembangan fitur baru, jadi jarang bikin analisis. Namun terkait isu terbaru ini, yaitu tentang MCA, dan belum adanya analisis yang menggunakan data untuk rentang waktu yang panjang, sementara Drone Emprit masih menyimpan rekaman data ini, maka diputuskan untuk membuat analisa singkat.

Warning: tulisan ini agak panjang. Deskripsi dan analisis merefer ke slide2 yang dilampirkan sebagai gambar. Kalau ndak kebayang yang dimaksud dalam deskripsi, sempatkan lihat slide yang relevan di bawahnya. Atau bisa download PDF slidenya :

PENDAHULUAN

Setelah sebelumnya Polri melakukan “shock therapy” dengan mengumumkan penangkapan anggota “Sindikat Saracen”, kali ini Polri lebih berani lagi, yaitu mengumumkan penangkapan anggota “MCA”, sebuah jaringan yang jauh lebih besar dari Saracen.

Landasan penangkapan ini sangat kuat: “pembuatan dan penyebaran hoax yang sangat meresahkan masyarakat, yaitu tentang maraknya ‘orang gila’ yang meneror ulama” dan isu PKI oleh anggota MCA.

Kejutan kedua ini bisa dilihat setidaknya memiliki 2 tujuan:

  1. meredam hoax khususnya yang menyerang pemerintah,
  2. melemahkan MCA.

PERTANYAAN

Analisis kali ini ingin menjawab beberapa pertanyaan berikut:

  • Siapakan MCA itu?
  • Kapan MCA mulai muncul?
  • Bagaimana peta pertempuran “War on MCA” di media social?
  • Apakah ada indikasi kekuatan MCA bakal melemah setelah gempuran ini?
  • Bagaimana strategi MCA dalam melawan tekanan dan deligitimasi terhadap mereka?

Yang tidak akan dijawab oleh Drone Emprit adalah:

  • Apakah ada struktur organisasi terpusat atau jaringan terstruktur yang dimiliki MCA?
  • Apakah ada penyandang dananya, kalau ada siapa?

Yang terakhir ini bisa dijawab oleh pak Polisi.

KEYWORD

Untuk menangkap percakapan terkait MCA, saya gunakan dua kata kunci, yaitu “MCA” (kapital) dan “Muslim Cyber Army”. Filter bahasa tidak diaktifkan, sehingga kalau ada MCA yang merupakan kependekan dari nama lain di luar negeri, akan muncul juga dalam data. Namun ini tidak masalah, selama kemunculannya tidak dominan. Lewat SNA akan bisa dipisahkan.

DATA

Drone Emprit menampilkan data Twitter dan News sejak Mei 2016 hingga 4 Maret 2018 (hari ini). Data khusus untuk kata kunci MCA baru dikumpulkan sejak seminggu lalu. Namun sejak bulan Mei 2016, Drone Emprit sudah mengumpulkan data untuk berbagai topik dan isu. Salah satunya adalah soal “PKI”, yang sejak bulan itu hingga sekarang masih dikumpulkan. Juga soal Pilkada, dll, dimana kemungkinan besar MCA muncul.

Di sini kita tidak hendak melihat total absolut percakapan yang mengandung kata kunci MCA untuk periode Mei 2016 sd 23 Feb 2018. Dalam periode sebelum Drone Emprit memonitor khusus tentang MCA, kita hanya akan melihat trend kemunculan MCA dalam berbagai isu yang sempat dimonitor.

TREND DAN VOLUME DATA

Dari grafik trend sejak 1 Mei 2016 sd 4 Maret 2018, kita lihat pada awalnya mention tentang MCA sangat sedikit. Yang tertinggi adalah bulan Maret 2018, yaitu sejak penangkapan anggota MCA diumumkan polri.

Dalam periode tersebut, kita mendapatkan 237K mention di Twitter, dan 5,9K mention di media online. Kita tidak akan membahas percakapan di media online. Hanya yang di media sosial yang akan kita analisis leibh dalam untuk menjawab pertanyaan di atas.

KAPAN “MCA” MUNCUL?

Untuk melihat awal mula munculnya nama “MCA” atau “muslim cyber army”, kita zoom data dari 1 Mei 2016 sd 25 Maret 2018. Dengan menghilangkan periode dimana pemberitaan MCA meningkat, kita bisa melihat skala trend volume lebih jelas untuk periode awal. Dan dengan mengklik setiap puncak dalam grafik trend Drone Emprit, kita bisa lihat percakapan apa yang terjadi saat itu. Dari situ kita bisa tahu apakah topik percakapannya.

Dari hasil eksplorasi setiap puncak grafik trend, kita bisa lihat bahwa nama MCA atau muslim cyber army mulai digunakan pada bulan Desember 2016. Tepatnya tanggal berapa?

Kita zoom lagi grafik trend untuk untuk periode 1 Mei 2016 sd 31 Desember 2016. Di sana kita temukan bahwa ternyata semua puncak dalam grafik sebelum 13 Desember berbicara soal “MCA” yang merupakan nama sebuah partai ras tunggal di Malaysia (Malaysian Chinese Association).

Pada tanggal 13 Desember 2016 itulah, sebuah twit pertama kali menggunakan nama “Muslim Cyber Army”:

“Saya bangga menjadi bagian Muslim Cyber Army…#PenjarakanAhok” – @ahmadyani1178, 4:45 AM – 13 Dec 2016

Twit tersebut meretweet status sebelumnya pada hari yang sama:

“[Perang Media Sosial] Muslim Mega-Cyber Army Meluluhlantakkan Ahok Cyber Army https://goo.gl/fb/uGq0e9” – @maspiyuuu, 3:49 AM – 13 Dec 2016

Apakah ada penyebutan sebelum itu? Kemungkinan ada, karen data Drone Emprit terbatas. Namun, dari nama yang digunakan oleh akun @maspiyuuu, dia belum menyebut nama MCA atau kepanjangannya. Dia masih menyebut nama “Muslim Mega-Cyber Army”, dan memberi nama lawannya “Ahok Cyber Army”.

TONGGAK LAHIRNYA “MCA”

Selanjutnya pada tanggal 14 Desember, sebuah status dari @sineasmuslim (sekarang bernama @khoyyr) menulis:

“muslim cyber army bergerakalah cc : @hafidz_ary @SiBonekaKayu @perisiden @TerorisSocmed @TofaLemon @Gemacan70 @ronavioleta @CondetWarrior” – @sineasmuslim, 10:57 AM – 14 Dec 2016

Status ini berisi potongan video dari ceramah HRS, yang mengajak umat Islam untuk melakukan “perang cyber” melawan musuh-musuh Islam yang selalu membuat fitnah dan menyerang Islam. (URL: https://twitter.com/khoyyr/status/808974067101409281)

Dalam periode bulan Desember 2016, status ini mendapat retweet paling tinggi terkait MCA.

Twit berikutnya yang paling banyak diretwet adalah dari Adam Harveys, jurnalis ABC untuk Asia Tenggara:

“Radical Indonesian cleric Habib Rizieq says Jokowi is blocking him online. Calls for help from ‘Muslim Cyber Army'” – @adharves, 6:43 AM – 20 Dec 2016

Dalam twitnya, Adam menyatakan bahwa HRS menginformasikan kepada jamaah tentang akun-akun media sosialnya yang diblok oleh pemerintah. HRS mengajak umat untuk melakukan “perang cyber”, dan memanggail “Muslim Cyber Army” untuk turun.

Menurut catatan Drone Emprit, ini adalah awal munculnya MCA, dan pidato HRS itu adalah tonggak lahirnya MCA.

Hal ini atas terkonfirmasi dari grafik trend dari 1 Januari 2017 hingga 31 Desember 2017. Penyebutan MCA atau “muslim cyber army” secara konsisten muncul dalam setiap bulannya.

JEJAK “MCA” SELAMA 2017

Selama periode 2017, kita bisa melihat mention terkait MCA bersama isu yang lain secara konsisten selalu muncul. Di sana ada beberapa puncak trend, yang kalau kita lihat, itu menandakan peristiwa2 besar yang melibatkan MCA.

Misalnya, 17 Januari, ada seruan HRS terkait GMBI; 20 Mei dengan peak tertinggi di tahun itu, soal kasus chat mesum HRS; 23 Agustus juga peak tinggi, dimana warming-up Polri dalam menumpas hoax, dengan mengumumkan penangkapan sindikat Saracen; dan di akhir tahun tentang aksi bela Palestina.

MASA SEBELUM “MCA”

Sebelum nama MCA muncul, apakah yang menjadi cikal bakal jaringan ini?

Kita lihat SNA dari peristiwa Aksi 411 dan Aksi 212. Dalam persiapan Aksi 411, dari 17-31 Oktober 2016, kita lihat cluster Pro Aksi dikomandoi oleh akun-akun terkait FPI dan HRS. Akun yang lain adalah buzzer yang akan mengamplifiksi pesan kepada publik. Demikian juga dalam persiapan Aksi 212, akun HRS merupakan akun penting di sana. Pernyataan HRS dan ceramahnya yang mengajak umat melakukan perang cyber, menjadi motivator dari cluster ini.

Dari situ kita bisa lihat bahwa sebelum MCA, akun FPI dan HRS adalah sentral dari cluster yang sering mengkritik pemerintah di media sosial. Bersama akun ini, ada akun2 lain dari berbagai kalangan yang mengamplifikasi.

POSISI “MCA” DALAM PILKADA DKI

Kita ambil contoh salah satu SNA yang pernah dipublish Drone Emprit, yaitu pada tanggal 7-8 Februari pada saat debat pilkada. Dalam peta itu, kita lihat ada 4 cluster. Bukankah seharusnya ada 3 cluster, yang masing-masing adalah tim dari paslon yang bertanding?

Ternyata ada cluster keempat. Cluster ini secar jelas terpisah dari ketiga cluster lainnya. Dari analisis lebih dalam, cluster ini ternyata fokusnya hanya satu: menyerang cluser Ahok. Goal mereka adalah “asal bukan Ahok”.

Cluster ini tak tampak dalam mempromosikan dua paslon lawan Ahok. Ini dalah cluster MCA, dimana di dalamnya bergabung warganet dari berbagai kalangan yang memiliki goal yang sama.

THE WAR ON “MCA”

Sekarang kita analisis kejadian seminggu terakhir, dimana Polri mengumumkan penangkapan anggota MCA.

Dari grafik trend antara 23 Feb sd 4 Maret 2018, kita lihat trend naik tentang MCA terjadi mulai tanggal 27 Feb. Saat itu diberitakan bahwa Polri menangkap 14 anggota MCA dari berbagai kota di Indonesia. Berita itu langsung viral.

Kita lihat dan analisis percakapan ini dari hari per hari. Mulai tanggal 26 Feb. Saat itu, dunia MCA masih aman damai. Bahkan cluster MCA mendiskusikan ide untuk membuat aplikasi setara FB khusus untuk dakwah umat Islam di Indonesia. Sedangkan cluster Pro Pemerintah dimotori oleh @digembok, banyak mengungkap hasil profiling terhadap anggota dan motor MCA. Tujuannya untuk mendelegitimasi MCA dan menjatuhkan.

Pada tanggal 27 Feb 2018, hari H penangkapan anggota MCA yang dituduh menyebarkan hoax, top retweet didominasi oleh akun-akun yang pro pemerintah. Mereka secara massif memberi label bahwa MCA adalah “produsen hoax” yang tidak bisa lagi dipercaya.

Tentunya berita penangkapan ini akan membuat anggota MCA malu, karena jaringan, motif dan rahasia mereka terbongkar seiring dengan ditangkapnya pentolan mereka. Ini yang diharapkan. Dan kemudian publik tidak lagi percaya pada MCA.

Apakah benar seperti itu? Dari grafik SNA tanggal 27 Feb, kita lihat ternyata polarisasi cluster di sana hampir sama kuatnya. Cluster yang Pro Pemerintah memang lebih besar. Namun, untuk ukuran masifnya berita penangkapan, harusnya cluster MCA jauh lebih kecil. Kenyataannya, cluster MCA tetap besar.

Pada hari-hari berikutnya, kita bisa lihat SNA pada tanggal 28 Feb, 2 Maret, dan 3 Maret. Dalam setiap peta SNA, kita lihat cluster MCA bukannya makin kecil. Tetapi malah makin besar, mengimbangi cluster Pro Pemerintah. Dan bahkan kadang melebihi cluster lawannya.

Untuk tujuan “melemahkan MCA”, peta SNA tersebut memperlihatkan bahwa tujuan ini sulit tercapai. Sejak hari H penangkapan, warganet dalam cluster MCA bukannya malu menyatakan dirinya sebagai anggota MCA lalu bersembunyi, malah sebaliknya mereka diserukan oleh akun HRS untuk tetap maju dan tidak takut dalam pertempuran. Cluster MCA bukannya mengecil, tetapi tetap seimbang melawan cluster Pro Pemerintah, bahkan kadang lebih besar.

STRATEGI MASING-MASING CLUSTER

Cluster Pro Pemerintah berusaha membangun asosiasi “MCA pembuat Hoax” agar tidak dipercaya lagi oleh public. Dan sebaliknya, cluster MCA melakukan kontra narasi dengan menyatakan bahwa “MCA yang asli itu melawan fitnah.”

Cluster Pro Pemerintah membongkar profile mereka yang ditangkap oleh Polri, melalui jejak digital yang mereka kumpulkan. Ada beberapa akun khusus yang bertugas untuk membukanya. Sedangkan cluster MCA melihat titik celah dari tuduhan, serangan dan informasi yang dibuka oleh lawannya, lalu menggunakan celah yang ditemukan untuk menyerang balik. Misal, pernyataan Polri bahwa “salah satu anggota yang ditangkap sudah bergabung dengan MCA sejak 5 tahun yang lalu,” ini dimanfaatkan baik-baik untuk menyerang, dengan kontra narasi bahwa MCA baru ulang tahun sekali.

Polri menunjukkan bahwa MCA memiliki admin salah satunya “M Luth”. Cluster MCA melakukan kontra narasi dengan menyatakan bahwa akun @Cak_Luth itu adalah milik orang yang ditangkap Polri, yang ternyata adalah anggota Jasmev dan PSI. Tidak tahu apakah klaim MCA ini benar atau tidak.

AS dari cluster Pro Pemerintah turut menyebar foto yang memperlihatkan “sosok” mirip salah satu admin MCA yang ditangkap ternyata memiliki “asosiasi” dengan salah satu tokoh (FZ dan PS) dan partai tertentu. Cluster MCA melihat ada celah untuk melakukan kontra narasi, dengan menyatakan bahwa orang itu adalah salah satu fans PS yang rela berjalan kaki jauh-jauh ke Jakarta untuk bertemu dengan PS. Dan celah ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh FZ, dengan melaporkan AS ke kepolisian atas hoax/fitnah yang diserbar AS.

Dari tik-tak strategi tempur seperti di atas, akhirnya tak tampak lagi tujuan “memerangi hoax”. Tembakan jadi semakin liar, kemana-mana. Mungkin itu tujuannya?

CLOSING

Menurut saya, penangkapan anggota MCA yang dilakukan oleh Polri ini sebuah pertaruhan serius. Jika Polri bisa membuktikan bahwa MCA adalah sebuah jaringan yang ada penyandang dananya, ada tim inti, operator di lapangan, dan simpatisan, maka ini bisa mendelegitimasi MCA. MCA bisa diasosiasikan oleh public sebagai “pabrik hoax” yang tidak lagi dipercaya.

Namun jika ternyata MCA yang asli itu berbeda (sedikit atau banyak) dari yang dituduhkan oleh Polri, maka MCA akan bisa mendapatkan momentumnya untuk bangkit kembali dan lebih solid.

Hal positif yang saya lihat dari kasus ini adalah soal “perang melawan hoax”. Harusnya ini yang lebih dominan, lebih ditekankan oleh Polri dan semua pihak. Jika ini dilakukan, maka kita bisa bersama-sama, kedua cluster satu pandangan, untuk menghentikan pembuatan dan penyebaran hoax. Efek jera bisa menjadi fungsi control, karena hukum akan ditegakkan oleh Polri terhadap siapapun yang membuat hoax dan fitnah. Siapapun, artinya dari cluster manapun.

Namun yang saya tangkap, perang ini sepertinya lebih condong sebagai “The War on MCA”. Perang pembangunan asosiasi bahwa “MCA = Pabrik Hoax”. Bukan “The War On Hoax”, dimana siapapun, cluster manapun, punya potensi menjadi “Pabrik Hoax.”

Jika ternyata memang ada 2 jenis MCA, karena sifatnya yang terbuka dan tak terkontrol anggotanya, yaitu “produsen kritik” dan “produsen hoax”, maka ini adalah momentum untuk menghabisi ”MCA produsen hoax” dan ke depan MCA bisa lebih serius menjadi “produsen kritik.” Kritik yang cerdas, berbasis data. Mungkinkah?

Menghalau Hoax

Fathul Wahid, Ph.D. Dosen Program Magister Informatika, Universitas Islam Indonesia (UII), peminat studi TIK di sektor publik dan untuk pembangunan. Saat ini dia adalah Chief Information Officer UII.

– – –

DALAM beberapa hari terakhir, isu hoax kembali menjadi penghias media massa, elektronik, sosial Indonesia. Polisi diberitakan telah berhasil menangkap pelaku yang diduga penyebar hoax atau berita bohong. Menurut polisi, mereka adalah jaringan besar yang beranggotakan ratusan orang dengan beragam peran. Sebuah nama kelompok pun berasosiasi dengan mereka.

Siapapun pelakunya, penyebaran hoax adalah sebuah kejahatan. Penangkapan penyebar hoax, sayangnya, tidak serta merta menghentikan hoax yang sudah menyebar. Karenanya, bagi publik, ada yang lebih penting, yaitu memahami bagaimana hoax menyebar dan strategi menghalaunya. Jawaban keenam pertanyaan berikut, berdasar beragam riset, diharapkan berandil dalam mengedukasi publik.

Pertama, mengapa kita (manusia) menyebar hoax? Riset menunjukkan bahwa banyak keputusan yang kita ambil, seringkali bukan karena rasionalitas individu, tapi berdasar narasi kelompok. Di sini, kredibilitas sumber sangat mempengaruhi interpretasi sosial atas informasi. Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa kita adalah pencari informasi yang bias. Mereka mencari informasi yang mendukung pandangan kita dan mengabaikan informasi yang berseberangan. Karenanya, membetulkan informasi yang salah tidak serta merta mengubah kepercayaan orang. Hasilnya adalah kamar gema, ketika informasi senada berulang dan beredar di kalangan tertutup. Di sini, biasanya terjadi eksposur terpilih terhadap informasi yang beredar dan bias konfirmasi karena kecenderungan untuk mencari informasi yang mendukung pemahaman sebelumnya.

Kedua, bagaimana hoax menyebar? Fitur berbagi sosial media merupakan sumber kuat penyebar hoax. Proses berbagi ini dapat dilakukan oleh pegiat media sosial atau bot, program yang ditujukan untuk maksud serupa. Media sosial yang difasilitasi Internet telah menghadirkan kekayaan informasi di satu sisi, memunculkan kemiskinan atensi individu atas informasi di sisi lainnya. Hal ini, sampai tingkat tertentu, akan mencegah pemilahan informasi berdasar kualitas. Informasi berkualitas rendah dan tinggi sama-sama dapat menyebar dengan cepat.

Biasanya, informasi, baik hoax atau fakta, menjadi viral tidak melalui rangkaian pertukaran informasi yang panjang antarpengguna-biasa. Dalam konteks ini, media, pesohor, atau tokoh dengan banyak pengikut dapat menyebar informasi dengan jangkauan luas memperpendek rangkaian.

Ketiga, siapa penyebar hoax? Hoax dapat disebar oleh beragam aktor: individu, organisasi bermotivasi finansial/politis, atau bahkan pemerintah/negara.Kita dapat menjadi penyebar hoax ketika ‘ringan jari’ dalam membagi informasi tanpa verifikasi. Partai politik dan simpatisannya juga tidak kalis dari potensi menjadi pelaku jika menghalalkan semua cara dalam memenangkan kontestasi. Ketika pemerintah memberikan informasi yang menutupi fakta yang ada, tidak sulit menyatakan bahwa mereka juga dalam golongan ini.

Keempat, mengapa kita percaya atau tidak hoax? Setiap dari kita mempunyai pandangan dunia yang berdasar pada konsep, kepercayaan, dan pengalaman, untuk menginterpretasikan dan menilai realitas. Jika hoax yang kita terima sesuai dengan pandangan dunia kita, maka kita akan cenderung percaya dengan hoax tersebut. Persepsi terhadap ancaman yang muncul karena hoax juga mempengaruhi tingkat kepercayaan kita.

Kelima, apa dampak hoax? Beragam dampak hoaks dapat diidentifikasi dengan mudah. Segregasi atau polarisasi sosial adalah salah satunya. Tidak sulit mencari ilustrasi kasus ini di seputar musim pemilihan kepala daerah. Sialnya, polarisasi ini juga terbawa ke dunia nyata.

Dampak buruk lain adalah terbentuknya masyakarat masokhis tuna empati yang cenderung sarkastik dan menikmati penderitaan orang lain. Ujungnya adalah tertutupnya manfaat media sosial. Keenam, apa yang bisa kita lakukan untuk menghalau hoax? Biasakan menjadi manusia yang berpikiran terbuka dan terlatih dalam diskusi yang dilandasi fakta. Pendekatan ilmiah berbasis data tanpa bias diperlukan. Selain itu, suarakan kebenaran dengan lebih lantang. Di sini, publik perlu diedukasi untuk membentuk ëketahanan informasií, bersikap kritis terhadap setiap informasi yang diterima, tidak menelannya mentah-mentah, dan tidak asal menyebarkannya. Pemahaman dan ketaatan atas nilai-nilai kemanusiaan universal yang dibawa oleh norma agama juga menjadi sangat penting. Ini adalah rem paling pakem.

Tidak ada satupun agama yang mengajarkan umatnya untuk menyebar kebencian dan berperilaku antikedamaian dengan menyebar hoax.Mari, kita bersama usung kedamaian dan kurung kebencian!

(Fathul Wahid PhD. Dosen Program Magister Informatika Universitas Islam Indonesia. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 3 Maret 2018)

RKUHP, Polemik Pasal Penghinaan Kepada Presiden, Mayoritas Publik Menolak

Ismail Fahmi, Ph.D

Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia
– – – – – –

Di dalam rancangan KHUP terbaru, pemerintah dan DPR sepakat untuk memasukkan kembali pasal penghinaan terhadap presiden dan wapres. KontraS khawatir kalau pasal ini akan berdampak buruk bagi kebebasan berpendapat, karena definisi ‘penghinaan’ dan ‘kritik atau protes’ tidak jelas.

Misalnya, jika protes Ketua BEM UI dengan mengacungkan kartu kuning ke Jokowi tempo hari dianggap sebagai penghinaan, maka dia bisa dipidana. Dan maksimal hukuman adalah 5 tahun. Tergantung siapa yang menerjemahkan, sebuah aksi bisa dianggap penghinaan atau protes.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-1

Bagaimana publik dan media menanggapi bakal dihidupkannya lagi pasal ini? Kita lihat data dari Drone Emprit. Kita gunakan kata kunci RKUHP, yang difilter dengan “penghina, penghinaan”, serta dua hashtag pro-kontra yang digunakan oleh tim pendukung dan penolak, yaitu #JagaMarwahPresidenRI dan #TolakPasalPenghinaanPresiden.

VOLUME DAN TREND

Dari grafik volume, tampak bahwa percakapan di media sosial sangat tinggi dalam seminggu terakhir (2,9K mention), jauh lebih tinggi dibanding di media online (488 mention). Dan dari grafik tren, kita lihat percakapan itu mulai naik kemaren (6 Feb) dan hingga hari ini terus naik volumenya.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-2Organisasi yang paling konsisten dalam mengingatkan publik akan bahaya pasal ini adalah KontraS. Sejak awal bulan (1 Feb) sudah membuat sosialiasi tentang bahaya pasal ini, serta apa saran dan solusi yang diusulkan KontraS.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-3

KONTRAS SEPAKAT ADA PASAL PENGHINAAN, TETAPI…

KontraS menilai, pasal penghinaan ini masih diperlukan dalam KUHP. Namun, seharusnya tidak spesifik hanya untuk presiden dan wapres. Lembaga ini menyarankan agar pasal ini untuk seluruh warga negara, melindungin setiap warga dari penghinaan, dalam konteks personalnya.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-4

Seseorang, termasuk presiden, jika membuat kebijakan lalu ada yang mengkritik kebijakannya dengan keras, tdk bisa dikategorikan sebagai penghinaan. Penghinaan berlaku kepada serangan terhadap personalnya.

PETA SNA DAN PERANG HASHTAG

Bagaimana peta pro-kontra publik? Dari grafik SNA, ternyata kita lihat hanya ada 1 cluster besar, dan KontraS yang berada di luar cluster itu. Meski demikian, mereka mengangkat narasi yang serupa.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-5

Cluster besar ini berisi netizen yang selama ini kritis dan berjarak dari pemerintah. Dari grafik SNA Topik, kita lihat narasi mereka satu, yaitu #TolakPasalPenghinaanPresiden. Sedangkan KontraS mempromosikan hashtag #JanganPaksakan RKUHP.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-6

Kita tidak melihat adanya cluster yang pro pemerintah di situ. Hashtag #JagaMarwahPresidenRI yang dipromosikan oleh buzzer yang pro RKUHP tak cukup besar volumenya.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-7

Akun RadioElshinta merupakan salah satu key influencer dalam cluster besar tersebut. Itu didorong oleh polling yang dibuatnya, yang rupanya mendapat banyak suara dari cluster ini. Hasilnya, 70% dari 6,823 resonden menganggap pasal tersebut tidak perlu, 26% berpendapat perlu, dan sisanya 4% tidak tahu.

CLOSING

Saya tampilkan data ini apa adanya. Silahkan dimanfaatkan oleh mereka yang pro dan kontra dalam menyusun strategi masing-masing.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-8

Poin penting yang ingin saya tambahkan adalah, perlunya publik untuk aware, peduli, dan kepo terhadap rencana aturan dan undang-undang yg dibuat pemerintah bersama DPR, yang akan diberlakukan kepada mereka.

Melihat diskursus para tokoh parpol di DPR dimana tidak ada pro-kontra yang berarti, tampaknya pasal ini akan lolos. Tidak banyak wakil rakyat yang benar-benar bersuara menolak. Penolakan keras hanya terjadi di media sosial.

Untuk itu, strategi yang bisa diambil oleh publik agar pasal ini tidak merugikan mereka kelak adalah: mendukung usulan dari KontraS, agar definisi penghinaan itu dibuat jelas bedanya dengan kritik dan protes. Memastikan agar publik masih tetap bisa mengkritik dan memprotes “kebijakan” presiden dan wapres tanpa takut dipidana.

Sedangkan, penghinaan terhadap personal presiden dan wapres, misal mengedit2 gambar dan menggabungkan dengan gambar binatang dll, bisa masuk dalam definisi penghinaan. Bisa kena pidana.

Pertanyaannya, bagaimana jika pendukung presiden, buzzer pemerintah, membuat penghinaan kepada tokoh lawan presiden? Misal memasang hidung dan telinga babi kepada tokoh bukan presiden/wapres, dan seterusnya. Bagaimana KUHP ini bisa melindungi mereka?

IT as an enabler, Mengapa WiFi di UII bisa mencapai 200 Mbps

Dr. Andri Setiawan, Pengajar pada Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia
– – –
Menjawab permintaan om Hari (Heinrich Cheng Ho) yang meminta saya menulis aspek filosofis, mengapa internet di UII bisa menjadi secepat sekarang, insya Allah saya sajikan beberapa hal penting agar bisa memberikan gambaran, bagaimana proses perubahan itu terjadi.

Framework COBIT

Proses perubahan IT di UII diawali dari sebuah kesadaran, dan introspeksi bahwa ada yang salah dengan IT. Sebenarnya tidak butuh kejelian mata dalam memandang, cukup dengan perasaan saja kami di UII menyadari, there is something wrong with us. Hanya saja, kami memang pada akhirnya mengundang auditor eksternal untuk meng-assess kami. Sebelum dilakukan proses audit, saat berdiskusi dengan auditor eksternal, mereka cukup terkaget juga, karena baru kali ini mereka mendapatkan client audit dari institusi pendidikan. Selama ini mereka melakukan audit ke perbankan (dalam rangka memenuhi tuntutan aturan OJK biasanya), kemudian ke pertambangan (semacam Pertamina), dan berbagai industri lainnya, dan bahkan mereka jarang mendapatkan client dari luar Jakarta 😀 . Jadi membangun kesadaran bahwa ada yang salah dengan kita menjadi kata kunci pertama terjadinya perubahan IT. Audit yang dilakukan di UII didasarkan pada framework COBIT 4.
Selepas dilakukannya audit, maka kemudian kami selaku tim manajemen IT yang baru di UII merancang program yang kami sebut quick win initiatives. Saat itu departemen IT, yang kalau di UII dinamakan Badan Sistem Informasi, adalah badan yang memiliki tingkat kepercayaan publik termasuk paling rendah sendiri. Sehingga dibutuhkan strategi khusus untuk meningkatkan kembali kepercayaan pengguna. Salah satu program yang kami usulkan saat itu adalah UIIConnect. Saat itu sebenarnya saya terinspirasi oleh infrastruktur wireless pada waktu saya sekolah S3 dulu di Australia, di The University of Queensland, yang dinamakan UQConnect.

Saat itu saya sangat merasa terbantu sekali dengan keberadaan wifi yang bersifat ubiquitous, akses yang tersedia di mana-mana dengan kualitas yang sama, dimana bahkan saya sendiri seringkali bekerja/belajar di tepian danau di dalam kampus yang bernama UQ Lake. Tak jarang pula saya melihat kumpulan mahasiswa berdiskusi dan belajar, tidak hanya di ruang kelas saja, tapi juga di tengah taman, lapangan, di kantin, dan beragam tempat lainnya. Suasana dan atmosfer kampus begitu hidup.

Atmosfer belajar di UQ, Australia

Dari sinilah titik kesadaran tersebut dibangun, kami ingin menciptakan atmosfer serupa. Inisiatif IT yang hendak kami bangun mestilah memiliki tujuan besar, bukan sekedar menghabiskan anggaran, tapi kami ingin membangun atmosfer. Atmosfer yang saat kami sekolah dahulu di luar negeri kami terima begitu saja, taken for granted. Cita-cita kami sangat sederhana, kami ingin mahasiswa UII mendapatkan dan membangun atmosfer yang sama seperti dahulu kami merasakan ketika kuliah di luar negeri. Atmosfer itu tentu tidak mungkin terbangun kalau infrastruktur pendukungnya acak-acakan.

Melalui studi intensif yang serius di tim manajemen, kemudian saya juga melibatkan mahasiswa saya sendiri untuk mendiskusikan infrastruktur apa yang tepat untuk UII, maka lahirlah konsep UIIConnect yang menjadi backbone infrastruktur UII. Btw, saat ini mahasiswa saya yang membantu saya saat itu sudah memiliki sertifikasi Cisco tertinggi (CCIE) setahun setelah lulus kuliah, atau setahun setelah lepas membantu saya mendesain infrastruktur kampus, namanya Jumroh Arrasid, masih bujang dia hehehe 😀 siapa tahu ada yang tertarik untuk mengambil jadi menantu.

Kembali ke infrastruktur, kami menyadari bahwa UII adalah kelas berat, dia lebih enterprise dari banyak enterprise yang ada di Indonesia (seperti saya sebut di tulisan seri pertama). Kami menyadari, tidak mungkin kelas enterprise hanya berbicara seperti kelas warnet. User kami mencapai hampir 30,000 orang (dosen, staf, mahasiswa, dan tamu). Maka ketika merancang WiFi pun juga tidak main-main. Saat itu kami menggunakan pihak ketiga untuk melakukan survey lapangan, di beberapa kampus kami (yang tidak terpusat di satu tempat saja). Kami gunakan software seperti Ekahau untuk merancang, dan menentukan, posisi di mana saja Access Point (AP) harus dipasang. Untuk mendukung backbone, bahkan kami harus roll-out Fiber Optic baru sepanjang 6.6km dengan sekian puluh cores untuk mendukung konsumsi data di masa mendatang. Kami ganti pula core switch kami dengan Cisco 3850 yang didukung dengan puluhan ports yang sudah siap pada kapasitas 10Gbps bahkan disiapkan untuk sanggup mencapai 40Gbps.

Lalu di mana kami harus memasang AP? Pada prinsipnya, perubahan yang dilakukan harus dirasakan oleh semua pihak. Tidak ada lagi fakultas kaya, fakultas miskin, semua akses harus sama, tidak ada diskriminasi. Tidak ada cerita bahwa untuk mendapat akses internet cepat harus berada di tempat ini, di titik ini, dan di jam tertentu. Dan target pertama kami adalah mahasiswa harus happy. Mereka lah salah satu yang mendukung jalan hidup UII. Kalau dipilih dosen, ketika mereka mendapat akses cepat, belum tentu mahasiswa dapat akses yang cepat. Tapi kalau sebaliknya, mahasiswa mendapat akses cepat, tentu dosen pun akan dapat akses yang cepat. Kemudian sebagai upaya membangun atmosfer, kami letakkan pula AP di tempat yang bahkan oleh beberapa pihak dipandang aneh, yakni di Masjid. Kami adalah kampus Islam, tentu kami menginginkan mahasiswa kami dekat dengan masjid. Pada awalnya ya tentu saja ada sedikit protes, kok internet dipasang di masjid? Nanti ibadah menjadi tidak khusyu’. Kami berargumen, bahwa justru dengan adanya internet, paling tidak ketika mahasiswa ada di masjid, mereka lebih dekat dengan sholat, dengan kajian (walau pada akhirnya hadir tidak untuk berniat mengikuti kajian), dan setidaknya tidak akan mengakses yang aneh-aneh ketika di sana 😀 Dan Alhamdulillah, saat ini mahasiswa tidak hanya hadir di masjid saat waktu sholat saja. Suasana yang mendukung e.g. karpet empuk, AC, bisa belajar sambil tiduran, dan akses internet yang super cepat, menjadikan mahasiswa betah berada di sana.

Nilai seperti itulah yang menjadi spirit kami, bahwa seharusnya teknologi informasi bisa menjadi enabler, yang memungkinkan value yang diinginkan oleh universitas terjadi. Kami menginginkan IT bukan hanya menjadi alat dan perangkat, tapi dia menjadi salah satu akselerator perubahan, pembangun atmosfer akademik yang lebih baik. Dan hingga hari ini, kami masih terus berusaha melakukan perubahan, membawa value yang lebih baik lagi bagi kampus kami, dan bagi Indonesia secara umum melalui IT.

Kaliurang, 5 Februari 2018

Enterprise Architecture

Lathifah, Mahasiswa Konsentrasi Sistem Informasi Enterprise, Program Studi Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia

rsz_lathifah_sie_magister_teknik_informatika_pps_fti_uii_-_2

Enterprise Architecture

Pengantar

Enterprise architecture pada era saat ini memiliki peran yang begitu besar dan sangat luas salah satunya yaitu pada perguruan tinggi. Perguruan tinggi memandang pentingnya enterprise architecture guna untuk  keselarasan teknologi informasi dengan proses bisnis pada sistem informasi akademik.

Pemanfaatan enterprise architecturesangat dibutuhkan untuk dijadikan pedoman serta acuan sebuah model yang bisa digunakan jangka waktu yang panjang sesuai dengan kebutuhan  dan dapat digunakan secara optimal.

Penelitian mengambil potret pemanfaatan enterprise architecture terhadap 3 Perguruan Tinggi yaitu Universitas X, Universitas Y, dan Universitas Z. Data yang diambil dari hasil wawancara dan survey diolah menjadi instrumen.

Pembuatan instrumen tetap mengacu pada penelitian terdahulu yang menghasilkan 20 instrumen, sehingga memudahkan dalam mengukur empat proses bisnis enterprise architecturedengan menggunakan TOGAF. Hasil validasi menggunakan proses statistik yang melibatkan keterangan  dan nara sumber, sehingga hasil potret pemanfaat enterprise architecturepada perguruann tinggi memiliki nilai rata-rata 2,60.

Potret pemanfaat enterprise architecture dapat dirumuskan menjadi 3 objek penelitian yaitu penerapan enterprise architecture, pengaruh enterprise architecture, dan proses bisnisenterprisearchitecture yang didokumentasikan terhadap 3 Universitas, dapat disimpulkan enterprise architecture hampir selalu digunakan agar sistem informasi akademik dapat terintegrasi dengan baik. Namun Sistem informasi akademik yang berjalan tidak semuanya terpusat menjadi satu, sehingga proses dokumentasi tidak terkelola dengan baik dan ketika Universitas tersebut mengalami kesulitan tidak ada pedoman yang bisa dijadikan acuan saat melakukan setiap tindakan.

Sistem informasi akademik yang dibuat saat ini masih digunakan dalam jangka waktu pendek sebab aplikasi serta infrastruktur yang ada hanya sesuai dengan kebutuhan.

Hasil Penelitian / Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa menemukan formula untuk bisa melakukan potret pemanfaatan enterprise architecture pada perguruan tinggi merupakan hal yang penting.

Enterprise architecture sendiri ialah acuan yang sangat terstruktur dan detail yang sangat membantu suatu enterprise dalam hal ini sistem informasi akademik perguruan tinggi menjalankan proses bisnisnya.

Dalam perumusan instrumen dilakukan dari beberapa studi literatur, guna untuk mengetahui aspek pemanfaatan enterprise architecture pada sistem informasi akademik yang di-survey.
Aspek yang meliputi pemanfaatan enterprise architecture yaitu pengadaan, operasional, dan pemeliharaan sistem yang telah didokumentasikan pada perguruan tinggi.

Dari beberapa banyak studi literatur ada 4 (empat) peneliti terdahulu yang dijadikan acuan dalam membuat 20 (dua puluh) instrumen. Pembahasan dapat disimpulkan bahwa potret pemanfaat enterprise architecture dapat dirumuskan menjadi 3 (tiga) objek penelitian yaitu penerapan enterprise architecture, pengaruh enterprise architecture, dan proses bisnis enterprise architecture yang didokumentasikan.

Proses pembuatan 20 (dua puluh) instrumen mengacu pada 4 (empat) peneliti terdahulu yang dijadikan acuan pedoman dalam pembuatan instrumen. Ada 4 (empat) aspek pendukung dalam pemanfaatan proses enterprise architectureperguruan tinggi pada TOGAF antara lain architecture business, architecture application, architecture data, dan architecture technology.

Hasil dari instrumen diberi nilai serta ditentukan rentang skalanya, hasil nilai yang sudah diolah pada instrumen dijadikan patokan nilai dalam potret pemanfaatan enterprise architecture pada perguruan tinggi. Hasil potret pemanfaatan enterprise architecture pada 3 (tiga) Universitas di Yogyakarta berada di antara skala 2 (kadang-kadang) dan 3 (selalu) memanfaatkan enterprise architecture.

Kesimpulannya bahwa potret pemanfaatan enterprise architecture hampir selalu digunakan pada perguruan tinggi agar sistem informasi akademik yang berjalan dapat terintegrasi dengan baik.

Hasil menunjukan bahwa skala angka tinggi akan tetapi ada masalah yang munculya itu sistem informasi akademik yang berjalan tidak semuanya terpusat menjadi satu, sehingga proses dokumentasi tidak terkelola dengan baik.

Kemudian dan ketika Universitas tersebut juga mengalami kesulitan ketika tidak ada pedoman yang bisa dijadikan acuan saat melakukan setiap tindakan. Sistem informasi akademik yang dibuat saat ini masih digunakan dalam jangka waktu yang pendek sebab aplikasi serta infrastruktur disediakanhanya sesuai dengan kebutuhan.

Yogyakarta, 29 Januari 2018