Posts

RKUHP, Polemik Pasal Penghinaan Kepada Presiden, Mayoritas Publik Menolak

Ismail Fahmi, Ph.D

Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia
– – – – – –

Di dalam rancangan KHUP terbaru, pemerintah dan DPR sepakat untuk memasukkan kembali pasal penghinaan terhadap presiden dan wapres. KontraS khawatir kalau pasal ini akan berdampak buruk bagi kebebasan berpendapat, karena definisi ‘penghinaan’ dan ‘kritik atau protes’ tidak jelas.

Misalnya, jika protes Ketua BEM UI dengan mengacungkan kartu kuning ke Jokowi tempo hari dianggap sebagai penghinaan, maka dia bisa dipidana. Dan maksimal hukuman adalah 5 tahun. Tergantung siapa yang menerjemahkan, sebuah aksi bisa dianggap penghinaan atau protes.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-1

Bagaimana publik dan media menanggapi bakal dihidupkannya lagi pasal ini? Kita lihat data dari Drone Emprit. Kita gunakan kata kunci RKUHP, yang difilter dengan “penghina, penghinaan”, serta dua hashtag pro-kontra yang digunakan oleh tim pendukung dan penolak, yaitu #JagaMarwahPresidenRI dan #TolakPasalPenghinaanPresiden.

VOLUME DAN TREND

Dari grafik volume, tampak bahwa percakapan di media sosial sangat tinggi dalam seminggu terakhir (2,9K mention), jauh lebih tinggi dibanding di media online (488 mention). Dan dari grafik tren, kita lihat percakapan itu mulai naik kemaren (6 Feb) dan hingga hari ini terus naik volumenya.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-2Organisasi yang paling konsisten dalam mengingatkan publik akan bahaya pasal ini adalah KontraS. Sejak awal bulan (1 Feb) sudah membuat sosialiasi tentang bahaya pasal ini, serta apa saran dan solusi yang diusulkan KontraS.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-3

KONTRAS SEPAKAT ADA PASAL PENGHINAAN, TETAPI…

KontraS menilai, pasal penghinaan ini masih diperlukan dalam KUHP. Namun, seharusnya tidak spesifik hanya untuk presiden dan wapres. Lembaga ini menyarankan agar pasal ini untuk seluruh warga negara, melindungin setiap warga dari penghinaan, dalam konteks personalnya.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-4

Seseorang, termasuk presiden, jika membuat kebijakan lalu ada yang mengkritik kebijakannya dengan keras, tdk bisa dikategorikan sebagai penghinaan. Penghinaan berlaku kepada serangan terhadap personalnya.

PETA SNA DAN PERANG HASHTAG

Bagaimana peta pro-kontra publik? Dari grafik SNA, ternyata kita lihat hanya ada 1 cluster besar, dan KontraS yang berada di luar cluster itu. Meski demikian, mereka mengangkat narasi yang serupa.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-5

Cluster besar ini berisi netizen yang selama ini kritis dan berjarak dari pemerintah. Dari grafik SNA Topik, kita lihat narasi mereka satu, yaitu #TolakPasalPenghinaanPresiden. Sedangkan KontraS mempromosikan hashtag #JanganPaksakan RKUHP.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-6

Kita tidak melihat adanya cluster yang pro pemerintah di situ. Hashtag #JagaMarwahPresidenRI yang dipromosikan oleh buzzer yang pro RKUHP tak cukup besar volumenya.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-7

Akun RadioElshinta merupakan salah satu key influencer dalam cluster besar tersebut. Itu didorong oleh polling yang dibuatnya, yang rupanya mendapat banyak suara dari cluster ini. Hasilnya, 70% dari 6,823 resonden menganggap pasal tersebut tidak perlu, 26% berpendapat perlu, dan sisanya 4% tidak tahu.

CLOSING

Saya tampilkan data ini apa adanya. Silahkan dimanfaatkan oleh mereka yang pro dan kontra dalam menyusun strategi masing-masing.

ismail-fahmi-phd---polemik-pasal-penghinaan-presiden-8

Poin penting yang ingin saya tambahkan adalah, perlunya publik untuk aware, peduli, dan kepo terhadap rencana aturan dan undang-undang yg dibuat pemerintah bersama DPR, yang akan diberlakukan kepada mereka.

Melihat diskursus para tokoh parpol di DPR dimana tidak ada pro-kontra yang berarti, tampaknya pasal ini akan lolos. Tidak banyak wakil rakyat yang benar-benar bersuara menolak. Penolakan keras hanya terjadi di media sosial.

Untuk itu, strategi yang bisa diambil oleh publik agar pasal ini tidak merugikan mereka kelak adalah: mendukung usulan dari KontraS, agar definisi penghinaan itu dibuat jelas bedanya dengan kritik dan protes. Memastikan agar publik masih tetap bisa mengkritik dan memprotes “kebijakan” presiden dan wapres tanpa takut dipidana.

Sedangkan, penghinaan terhadap personal presiden dan wapres, misal mengedit2 gambar dan menggabungkan dengan gambar binatang dll, bisa masuk dalam definisi penghinaan. Bisa kena pidana.

Pertanyaannya, bagaimana jika pendukung presiden, buzzer pemerintah, membuat penghinaan kepada tokoh lawan presiden? Misal memasang hidung dan telinga babi kepada tokoh bukan presiden/wapres, dan seterusnya. Bagaimana KUHP ini bisa melindungi mereka?

IT as an enabler, Mengapa WiFi di UII bisa mencapai 200 Mbps

Dr. Andri Setiawan, Pengajar pada Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia
– – –
Menjawab permintaan om Hari (Heinrich Cheng Ho) yang meminta saya menulis aspek filosofis, mengapa internet di UII bisa menjadi secepat sekarang, insya Allah saya sajikan beberapa hal penting agar bisa memberikan gambaran, bagaimana proses perubahan itu terjadi.

Framework COBIT

Proses perubahan IT di UII diawali dari sebuah kesadaran, dan introspeksi bahwa ada yang salah dengan IT. Sebenarnya tidak butuh kejelian mata dalam memandang, cukup dengan perasaan saja kami di UII menyadari, there is something wrong with us. Hanya saja, kami memang pada akhirnya mengundang auditor eksternal untuk meng-assess kami. Sebelum dilakukan proses audit, saat berdiskusi dengan auditor eksternal, mereka cukup terkaget juga, karena baru kali ini mereka mendapatkan client audit dari institusi pendidikan. Selama ini mereka melakukan audit ke perbankan (dalam rangka memenuhi tuntutan aturan OJK biasanya), kemudian ke pertambangan (semacam Pertamina), dan berbagai industri lainnya, dan bahkan mereka jarang mendapatkan client dari luar Jakarta 😀 . Jadi membangun kesadaran bahwa ada yang salah dengan kita menjadi kata kunci pertama terjadinya perubahan IT. Audit yang dilakukan di UII didasarkan pada framework COBIT 4.
Selepas dilakukannya audit, maka kemudian kami selaku tim manajemen IT yang baru di UII merancang program yang kami sebut quick win initiatives. Saat itu departemen IT, yang kalau di UII dinamakan Badan Sistem Informasi, adalah badan yang memiliki tingkat kepercayaan publik termasuk paling rendah sendiri. Sehingga dibutuhkan strategi khusus untuk meningkatkan kembali kepercayaan pengguna. Salah satu program yang kami usulkan saat itu adalah UIIConnect. Saat itu sebenarnya saya terinspirasi oleh infrastruktur wireless pada waktu saya sekolah S3 dulu di Australia, di The University of Queensland, yang dinamakan UQConnect.

Saat itu saya sangat merasa terbantu sekali dengan keberadaan wifi yang bersifat ubiquitous, akses yang tersedia di mana-mana dengan kualitas yang sama, dimana bahkan saya sendiri seringkali bekerja/belajar di tepian danau di dalam kampus yang bernama UQ Lake. Tak jarang pula saya melihat kumpulan mahasiswa berdiskusi dan belajar, tidak hanya di ruang kelas saja, tapi juga di tengah taman, lapangan, di kantin, dan beragam tempat lainnya. Suasana dan atmosfer kampus begitu hidup.

Atmosfer belajar di UQ, Australia

Dari sinilah titik kesadaran tersebut dibangun, kami ingin menciptakan atmosfer serupa. Inisiatif IT yang hendak kami bangun mestilah memiliki tujuan besar, bukan sekedar menghabiskan anggaran, tapi kami ingin membangun atmosfer. Atmosfer yang saat kami sekolah dahulu di luar negeri kami terima begitu saja, taken for granted. Cita-cita kami sangat sederhana, kami ingin mahasiswa UII mendapatkan dan membangun atmosfer yang sama seperti dahulu kami merasakan ketika kuliah di luar negeri. Atmosfer itu tentu tidak mungkin terbangun kalau infrastruktur pendukungnya acak-acakan.

Melalui studi intensif yang serius di tim manajemen, kemudian saya juga melibatkan mahasiswa saya sendiri untuk mendiskusikan infrastruktur apa yang tepat untuk UII, maka lahirlah konsep UIIConnect yang menjadi backbone infrastruktur UII. Btw, saat ini mahasiswa saya yang membantu saya saat itu sudah memiliki sertifikasi Cisco tertinggi (CCIE) setahun setelah lulus kuliah, atau setahun setelah lepas membantu saya mendesain infrastruktur kampus, namanya Jumroh Arrasid, masih bujang dia hehehe 😀 siapa tahu ada yang tertarik untuk mengambil jadi menantu.

Kembali ke infrastruktur, kami menyadari bahwa UII adalah kelas berat, dia lebih enterprise dari banyak enterprise yang ada di Indonesia (seperti saya sebut di tulisan seri pertama). Kami menyadari, tidak mungkin kelas enterprise hanya berbicara seperti kelas warnet. User kami mencapai hampir 30,000 orang (dosen, staf, mahasiswa, dan tamu). Maka ketika merancang WiFi pun juga tidak main-main. Saat itu kami menggunakan pihak ketiga untuk melakukan survey lapangan, di beberapa kampus kami (yang tidak terpusat di satu tempat saja). Kami gunakan software seperti Ekahau untuk merancang, dan menentukan, posisi di mana saja Access Point (AP) harus dipasang. Untuk mendukung backbone, bahkan kami harus roll-out Fiber Optic baru sepanjang 6.6km dengan sekian puluh cores untuk mendukung konsumsi data di masa mendatang. Kami ganti pula core switch kami dengan Cisco 3850 yang didukung dengan puluhan ports yang sudah siap pada kapasitas 10Gbps bahkan disiapkan untuk sanggup mencapai 40Gbps.

Lalu di mana kami harus memasang AP? Pada prinsipnya, perubahan yang dilakukan harus dirasakan oleh semua pihak. Tidak ada lagi fakultas kaya, fakultas miskin, semua akses harus sama, tidak ada diskriminasi. Tidak ada cerita bahwa untuk mendapat akses internet cepat harus berada di tempat ini, di titik ini, dan di jam tertentu. Dan target pertama kami adalah mahasiswa harus happy. Mereka lah salah satu yang mendukung jalan hidup UII. Kalau dipilih dosen, ketika mereka mendapat akses cepat, belum tentu mahasiswa dapat akses yang cepat. Tapi kalau sebaliknya, mahasiswa mendapat akses cepat, tentu dosen pun akan dapat akses yang cepat. Kemudian sebagai upaya membangun atmosfer, kami letakkan pula AP di tempat yang bahkan oleh beberapa pihak dipandang aneh, yakni di Masjid. Kami adalah kampus Islam, tentu kami menginginkan mahasiswa kami dekat dengan masjid. Pada awalnya ya tentu saja ada sedikit protes, kok internet dipasang di masjid? Nanti ibadah menjadi tidak khusyu’. Kami berargumen, bahwa justru dengan adanya internet, paling tidak ketika mahasiswa ada di masjid, mereka lebih dekat dengan sholat, dengan kajian (walau pada akhirnya hadir tidak untuk berniat mengikuti kajian), dan setidaknya tidak akan mengakses yang aneh-aneh ketika di sana 😀 Dan Alhamdulillah, saat ini mahasiswa tidak hanya hadir di masjid saat waktu sholat saja. Suasana yang mendukung e.g. karpet empuk, AC, bisa belajar sambil tiduran, dan akses internet yang super cepat, menjadikan mahasiswa betah berada di sana.

Nilai seperti itulah yang menjadi spirit kami, bahwa seharusnya teknologi informasi bisa menjadi enabler, yang memungkinkan value yang diinginkan oleh universitas terjadi. Kami menginginkan IT bukan hanya menjadi alat dan perangkat, tapi dia menjadi salah satu akselerator perubahan, pembangun atmosfer akademik yang lebih baik. Dan hingga hari ini, kami masih terus berusaha melakukan perubahan, membawa value yang lebih baik lagi bagi kampus kami, dan bagi Indonesia secara umum melalui IT.

Kaliurang, 5 Februari 2018

Enterprise Architecture

Lathifah, Mahasiswa Konsentrasi Sistem Informasi Enterprise, Program Studi Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia

rsz_lathifah_sie_magister_teknik_informatika_pps_fti_uii_-_2

Enterprise Architecture

Pengantar

Enterprise architecture pada era saat ini memiliki peran yang begitu besar dan sangat luas salah satunya yaitu pada perguruan tinggi. Perguruan tinggi memandang pentingnya enterprise architecture guna untuk  keselarasan teknologi informasi dengan proses bisnis pada sistem informasi akademik.

Pemanfaatan enterprise architecturesangat dibutuhkan untuk dijadikan pedoman serta acuan sebuah model yang bisa digunakan jangka waktu yang panjang sesuai dengan kebutuhan  dan dapat digunakan secara optimal.

Penelitian mengambil potret pemanfaatan enterprise architecture terhadap 3 Perguruan Tinggi yaitu Universitas X, Universitas Y, dan Universitas Z. Data yang diambil dari hasil wawancara dan survey diolah menjadi instrumen.

Pembuatan instrumen tetap mengacu pada penelitian terdahulu yang menghasilkan 20 instrumen, sehingga memudahkan dalam mengukur empat proses bisnis enterprise architecturedengan menggunakan TOGAF. Hasil validasi menggunakan proses statistik yang melibatkan keterangan  dan nara sumber, sehingga hasil potret pemanfaat enterprise architecturepada perguruann tinggi memiliki nilai rata-rata 2,60.

Potret pemanfaat enterprise architecture dapat dirumuskan menjadi 3 objek penelitian yaitu penerapan enterprise architecture, pengaruh enterprise architecture, dan proses bisnisenterprisearchitecture yang didokumentasikan terhadap 3 Universitas, dapat disimpulkan enterprise architecture hampir selalu digunakan agar sistem informasi akademik dapat terintegrasi dengan baik. Namun Sistem informasi akademik yang berjalan tidak semuanya terpusat menjadi satu, sehingga proses dokumentasi tidak terkelola dengan baik dan ketika Universitas tersebut mengalami kesulitan tidak ada pedoman yang bisa dijadikan acuan saat melakukan setiap tindakan.

Sistem informasi akademik yang dibuat saat ini masih digunakan dalam jangka waktu pendek sebab aplikasi serta infrastruktur yang ada hanya sesuai dengan kebutuhan.

Hasil Penelitian / Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa menemukan formula untuk bisa melakukan potret pemanfaatan enterprise architecture pada perguruan tinggi merupakan hal yang penting.

Enterprise architecture sendiri ialah acuan yang sangat terstruktur dan detail yang sangat membantu suatu enterprise dalam hal ini sistem informasi akademik perguruan tinggi menjalankan proses bisnisnya.

Dalam perumusan instrumen dilakukan dari beberapa studi literatur, guna untuk mengetahui aspek pemanfaatan enterprise architecture pada sistem informasi akademik yang di-survey.
Aspek yang meliputi pemanfaatan enterprise architecture yaitu pengadaan, operasional, dan pemeliharaan sistem yang telah didokumentasikan pada perguruan tinggi.

Dari beberapa banyak studi literatur ada 4 (empat) peneliti terdahulu yang dijadikan acuan dalam membuat 20 (dua puluh) instrumen. Pembahasan dapat disimpulkan bahwa potret pemanfaat enterprise architecture dapat dirumuskan menjadi 3 (tiga) objek penelitian yaitu penerapan enterprise architecture, pengaruh enterprise architecture, dan proses bisnis enterprise architecture yang didokumentasikan.

Proses pembuatan 20 (dua puluh) instrumen mengacu pada 4 (empat) peneliti terdahulu yang dijadikan acuan pedoman dalam pembuatan instrumen. Ada 4 (empat) aspek pendukung dalam pemanfaatan proses enterprise architectureperguruan tinggi pada TOGAF antara lain architecture business, architecture application, architecture data, dan architecture technology.

Hasil dari instrumen diberi nilai serta ditentukan rentang skalanya, hasil nilai yang sudah diolah pada instrumen dijadikan patokan nilai dalam potret pemanfaatan enterprise architecture pada perguruan tinggi. Hasil potret pemanfaatan enterprise architecture pada 3 (tiga) Universitas di Yogyakarta berada di antara skala 2 (kadang-kadang) dan 3 (selalu) memanfaatkan enterprise architecture.

Kesimpulannya bahwa potret pemanfaatan enterprise architecture hampir selalu digunakan pada perguruan tinggi agar sistem informasi akademik yang berjalan dapat terintegrasi dengan baik.

Hasil menunjukan bahwa skala angka tinggi akan tetapi ada masalah yang munculya itu sistem informasi akademik yang berjalan tidak semuanya terpusat menjadi satu, sehingga proses dokumentasi tidak terkelola dengan baik.

Kemudian dan ketika Universitas tersebut juga mengalami kesulitan ketika tidak ada pedoman yang bisa dijadikan acuan saat melakukan setiap tindakan. Sistem informasi akademik yang dibuat saat ini masih digunakan dalam jangka waktu yang pendek sebab aplikasi serta infrastruktur disediakanhanya sesuai dengan kebutuhan.

Yogyakarta, 29 Januari 2018

Membandingkan Tingkat Kemiripan Rekaman Suara

Ahmad Subki, Mahasiswa Konsentrasi Forensika Digital, Program Studi Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia

rsz_ahmad_subki_-_forensika_digital_magister_teknik_informatika_pps_fti_uii

Membandingkan Tingkat Kemiripan Rekaman Suara Voice Changer Dan Rekaman Suara Asli Menggunakan Metode Audio Forensik

Abstrak

Audio forensik merupakan penerapan ilmu pengetahuan dan metode ilmiah dalam penanganan barang bukti berupa audio demi mendukung pengungkapan berbagai kasus tindak kriminal dan mengungkap berbagai informasi yang diperlukan dalam proses persidangan. Namun, rekaman suara sangat rentan dan mudah untuk dirubah/dimanipulasi baik untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok. Misalnya menggunakan fasilitas aplikasi perubah suara/voicechanger yang banyak tersedia pada googleplaystore.

Dalam penelitian ini dilakukan analisis terkait tingkat kemiripan antara rekaman suara voicechanger dengan rekaman suara asli menggunakan metode audio forensik dengan pendekatan pitch, formant, graphical distribution dan spectogram.

Penelitian ini dihasilkan bahwa rekaman suara pada kasus voicechanger dengan rekaman suara asli hanya bisa di analisis dengan pendekatan formant, graphical distribution dan spectogram. Sedangkan untuk analisis pitch tidak dapat digunakan.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang didapatkan pada pembahasan maka penelitian Membandingkan Tingkat Kemiripan Rekaman Suara Voice changer dengan Rekaman Suara Asli Menggunakan Metode Audio Forensik dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Analisispitch, formant dan spectogramdapat digunakan untuk membandingkan tingkat kemiripan rekaman suara voice changer dengan rekaman suara asli, dengan memperhatikan tahap demi tahap sesuai dengan prosedur investigasi audio forensik.

Analisis rekaman suara yang dilakukan dengan satu aplikasi voicechanger dibandingkan dengan rekaman suara asli tidak dapat menggunakan analisis pitch,analisis hanya dapat digunakan menggunakan analisis formant, graphical distribution dan spectogram.

Berdasarkan ujicoba yang dilakukan menunjukkan bahwa rekaman suara voicechangerA memiliki tingkat kemiripan yang paling tinggi dengan rekaman suara asli pada posisi merendahkan pitch (low pitch), sedangkan voice changer yang lain lebih sulit untuk diidentifikasi.

Hal ini dikarenakan perbedaan algoritma/parameter timestretching dan pitch shifting yang digunakan masing-masing voice changer, Semakin nilai timestretching dan pitch shifting mendekati angka 1 (satu) maka suara output hasil konversi suara akan terdengar semakin mirip dengan suara asli, dan sebaliknya semakin nilai parameter timestretching dan pitch shifting menjauhi angka 1 (satu) maka suara output hasil konversi suara akan terdengar semakin berbeda dari suara input/asli.

Adapun saran-saran yang perlu diberikan dengan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
Perlu dilakukan penelitian terkait barang bukti rekaman suara yang dirubah menggunakan voice changer yang sulit untuk diidentifikasi seperti voice changerB dan C dan bagaimana solusinya.

Pada penelitian terkait voice changer selanjutnya, dilakukan dengan barang bukti suara yang di analisis lebih dari satu jenis rekaman suara, minimal menggunakan tiga jenis rekaman suara yang berbeda dengan masing-masing 20 kata.
Penelitian terkait dengan voicechanger ini juga bisa dilakukan pada voicechanger yang diterapkan oleh provider.

Yogyakarta, 25 Januari 2018

Pendekatan BPMN Untuk Pengembangan Digital Forensic Workflow Model

Subektiningsih, Mahasiswi Konsentrasi Forensika Digital, Program Studi Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia

rsz_subektiningsih_-_fd_pps_fti_uii_ver_2

Pendekatan BPMN Untuk Pengembangan Digital Forensic Workflow Model Menggunakan Design Science Research Methodology

Abstrak

Digital Forensic Workflow Model (DFWM) dikembangkan menggunakan paradigma Design Science Research Methodology dengan model bisnis menggunakan Business Process Model and Notation (BPMN) sub-model Collaboration. DFWM dikembangkan dari berbagai model penyelidikan forensik digital secara teori dari penelitian terdahulu yang dilengkapi dengan data wawancara dengan Kepolisian di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Semua model penyelidikan yang dipilih diekstraksi dan dilakukan pemetaan dengan mengkaitkan interaksi yang terjadi antara aktor dengan bukti, bukti dengan dokumentasi dan chain of Custody, aktor dengan proses, bukti dengan proses, serta menghilangkan bagian aktifitas yang tidak memiliki interaksi antar komponen tersebut. Memetakkan aktifitas yang diperoleh berdasarkan aktor yang melakukannya.
Tujuan pembuatan alur kerja yang dimodelkan menjadi DFWM ini untuk menjelaskan kompleksitas komponen yang berupa, Aktor, bukti, dan proses penyelidikan forensik digital dalam keterkaitan dan interaksinya. Sehingga, dapat diketahui peran dari setiap personil/aktor, jenis bukti yang mungkin diperoleh, dan urutan proses yang harus dilakukan. Validasi elemen dalam DFWM juga dilakukan untuk memastikan ketepatan penggunaan elemen sesuai aturan BPMN.

DFWM diuji dengan dua cara, yaitu; pengujian dengan sistem dan pengujian dengan kuesioner penerimanaan model. Pengujian dengan sistem menggunakan Bizagi Modeler yang bertujuan untuk memastikan alur proses terbentuk secara sistematis dan sesuai dengan aturan BPMN. Pengujian menggunakan kuesioner penerimaan model bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian DFWM dengan penyelidikan forensik digital dalam praktik.

Pengujian tersebut memberikan hasil bahwa bahwa DFWM secara keseluruhan dapat diterapkan untuk praktik penyelidikan forensik digital. Namun, dalam penerapannya dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu kondisi organisasi dan kondisi kasus. Kondisi organsasi dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya manusia, sarana prasarana, infrastruktur laboratorium, dan alat forensik yang dimiliki. Sedangkan, kondisi kasus dipengaruhi oleh spesifikasi kasus, kondisi tempat kejadian perkara, proses penyelidikan yang dilakukan.

DFWM diharapkan dapat menjadi solusi untuk perbaikan dan penambahan dalam proses penyelidikan dan penyidikan forensik digital yang lebih terintegrasi untuk organisasi dengan melakukan penyesuaian sesuai SOP internal yang ada dalam organisasi tersebut.

Kesimpulan

Bussiness Process Model and Notation (BPMN) dapat digunakan untuk mengembangkan Digital Forensic Workflow Model (DFWM) dengan melakukan ekstraksi berbagai model penyelidikan forensik digital dan mengkaitkan interaksi yang terjadi antara aktor dengan bukti, bukti dengan dokumentasi dan chain of Custody, aktor dengan proses, bukti dengan proses, serta menghilangkan bagian aktifitas yang tidak memiliki interaksi antar komponen. DFWM menunjukkan bahwa BPMN bukan hanya untuk pemodelan proses bisnis tetapi juga dapat digunakan untuk memodelkan aktifitas forensik digital berdasarkan aktor dan proses yang terjadi. Peran aktor menjadi lebih tepat dalam menjalankan alur kerja penyelidikan forensik digital.

Proses validasi notasi dan elemen untuk memastikan ketepatan pengunaan notasi dan elemen sesuai aturan BPMN. Validasi proses untuk memastikan proses yang ada dalam alur kerja dilakukan secara sistematis dan tidak terjadi stack atau looping di salah satu proses.

DFWM sudah sesuai dengan praktik forensik digital, namun terdapat beberapa proses forensik yang ada dalam DFWM tidak dilakukan dalam praktik forensik digital atau sebaliknya. Perbedaan dipengaruhi oleh kondisi dari organisasi dan kasus yang diselidiki. Hasil pengujian secara sistem maupun kuesioner penerimaan dengan responden dari pihak kepolisian, kejaksaan, dan Ahli menyatakan DFWM dapat diterapkan dalam praktik forensik digital dengan melakukan penyesuaian sesuai standar operasional organisasi.

Yogyakarta, 25 Januari 2018

Pengaruh Dimensi Budaya Terhadap Penggunaan E-Commerce

Danar Retno Sari, Mahasiswa Konsentrasi Sistem Informasi Enterprise Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana FTI UII

rsz_danar_retno_sari_magister_teknik_informatika_pps_fti_uii

Pengaruh Dimensi Budaya terhadap Penggunaan e-Commerce – Studi Kasus : Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kalimantan Timur

Abstrak

Tahun 2016 transaksi e-commerce mencapai hingga Rp. 66,4 triliun (Adhi, 2016). Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa dimensi budaya memiliki pengaruh terhadap penggunaan teknologi e-commerce. Menurut Hofstede (1984), budaya terdiri dari lima dimensi yaitu power distance, individualism, masculinity, uncertainty avoidance, dan long-term orientation.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dimensi budaya yang berpengaruh terhadap perilaku penggunaan e-commerce di Indonesia. Menggunakan model yang dari Theory of Planned Behavior (TPB), untuk menguji dan melakukan perilaku pengunaan e-commerce. Dimensi budaya digunakan sebagai indikator pada model TPB untuk mendukung pengujian terhadap perilaku individu dalam menggunakan e-commerce.

Temuan penelitian ini adalah dimensi power distance dan masculinity berpengaruh terhadap perilaku penggunaan e-commerce di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan dimensi budaya uncertainty avoidance berpengaruh terhadap perilaku penggunaan e-commerce di Kalimantan Timur.

Dimensi budaya yang berpengaruh dapat dijadikan sebagai parameter alternatif dalam meningkatkan penjualan produk menggunakan layanan e-commerce bagi penyedia layanan maupun penjual di masing-masing daerah. Sedangkan di dalam bidang akademik, penelitian ini menyajikan informasi tentang pengaruh dimensi budaya pada penggunaan e-commerce dari sisi perilaku.

Kesimpulan

Penelitian ini dilakukan untuk melihat mengetahui pengaruh dimensi budaya yang mempengaruhi terhadap perilaku penggunaan e-commerce di dua wilayah yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kalimantan Timur. Dimensi budaya di kedua wilayah memiliki nilai yang relatif sama, di mana power distance, individualsm, uncertainty avoidance dan long term orientation memiliki nilai yang cukup tinggi. Sedangkan, untuk dimensi budaya masculinity memiliki nilai yang seimbang dengan dimensi budaya femininity.

Dimensi budaya yang berpengaruh terhadap perilaku penggunaan e-commerce di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah dimensi budaya masculinity dan power distance. Kedua dimensi budaya ini memiliki pengaruh positif terhadap subjective norm yang merupakan prediktor terhadap human intention bersama dengan perceived behavioral control. Masculinity dan power distance merupakan dimensi budaya yang erat kaitannya dengan lingkungan sosial, di mana pengakuan eksistensi individu pada dimensi budaya masculiniy menjadi sangat penting dan hirarki sosial sangat berpengaruh terhadap dimensi budaya power distance.

Sedangkan, untuk wilayah Kalimantan Timur, dimensi budaya yang berpengaruh terhadap perilaku penggunaan e-commerce adalah dimensi budaya uncertainty avoidance. Dimensi ini berpengaruh terhadap variabel perceived behavioral control dalam memprediksi human intention dalam perilaku penggunaan e-commerce bersama dengan variabel attitude. Dimensi budaya uncertainty avoidance memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap perceived behavioral control, di mana semakin tinggi tingkat penghindaran ketidakpastian terhadap suatu kondisi akan mengakibatkan rendahnyatingkat kepercayaan diri individu melakukan suatu tindakan pada kondisi tersebut. Hal ini juga berlaku pada perilaku penggunaan e-commerce.

Hubungan antara variabel dari model Theory Planned Behavior pada penggunaan e-commerce menghasilkan pengaruh yang berbeda di kedua wilayah. Hal ini menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan e-commerce bergantung pada konteks masing-masing wilayah. Model ini dapat di jadikan alternatif untuk penelitian yang bertujuan untuk meneliti lebih lanjut tentang faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan teknologi khususnya e-commerce dari sisi perilaku atau psikologis.perilaku

Dimensi budaya pada konteks perilaku penggunaan e-commerce memiliki pengaruh di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kalimantan Timur Penyedia layanan dan pengguna e-commerce khususnya penjual dapat menjadikan variabel dari dimensi budaya maupun variabel Theory Planned Behavior sebagai parameter alternatif dalam meningkatkan penjualan produk menggunakan layanan e-commerce.

Sedangkan untuk pembaca, penelitian ini memberikan informasi bahwa perilaku penggunaan e-commerce dipengaruhi oleh dimensi budaya yang terdapat pada masing-masing individu.

Yogyakarta, 22 Januari 2018

ILC Reuni 212: Panggung ini Milik Siapa?

Ismail Fahmi, Ph.D,  Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia,

– – –

Acara ILC kemaren mengangkat tema “212: Perlukah Reuni?”

THE POWER OF ILC

Saya perhatikan, ILC ini merupakah sebuah acara yang sangat berpengaruh. Terlepas ada yang berpendapat bahwa ILC sekarang sudah tidak seperti dahulu, sekarang lebih banyak jadi ajang curhat, namun dalam banyak tema, ILC telah berhasil memberi panggung kepada tokoh-tokoh yang selama ini lantang namun tersembunyi. Publik yang lebih banyak membaca kegarangan para tokoh itu di media maya, lewat ILC ini publik bisa melihat dan membandingkan kualitas, kapasitas, dan apa yang sebenarnya ada di dalam kepala mereka.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (6)Para tokoh yang berkualitas, dia akan bisa membawa dirinya, menyampaikan gagasannya dengan runut, berisi, dan tak terpengaruh oleh bias rendahan. Sebaliknya, tokoh yang kurang berkualitas atau bermasalah, tanpa mereka sadari, akan mempertontonkah kualitas pribadi mereka yang ekonomis dalam nalar maupun moral. Ada juga yang setelah ILC, tokohnya diciduk.

Inilah kekuatan ILC. Dengan memberi panggung dan waktu berbicara kepada mereka yang pro dan kontra, hal-hal yang tersembunyi menjadi terbuka. ILC bukan ajang diskusi, tapi ajang membuka kualitas dan isi pikiran masing-masing kubu.

SIAPA BINTANG ILC KALI INI?

Baiklah sodara-sodara, kita lihat data dari Drone Emprit untuk menjawab pertanyaan ini. Dari kata kunci “ILC” saja, dengan filter harus huruf kapital dan berbahasa Indonesia, didapat trend percakapan yang naik pesat pada tanggal 6 kemaren.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (7)

Dari word cloud berita online, ada 4 tokoh yang menjadi bintang dalam ILC kali ini. Mereka adalah: Abu Janda, Felix Siauw, Denny Siregar, dan Mahfud MD. Yang lain adalah pemeran pendukung.

Dan dari most retweeted status di Twitter, mereka yang paling banyak dibicarakan bintangnya adalah Denny Siregar, Abu Janda, Fahri, Felix, dan Mahfud MD.

NETIZEN PALING POPULER

Siapa netizen di Twitter yang paling banyak mendapat ‘engagement’? Bentuk engagement bisa berupa ‘retweet’ atau ‘reply’. Lima orang paling populer dalam kategori ini adalah: @maspiyuuu, @karniilyas, @NetizenTofa, @mohmahfudmd, dan @darwistriadi.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (4)

Dalam pengukuran ini, Emprit ndak membedakan apakah retweet yang didapat itu dari robot atau dari real user. Kalau toh ada yang pakai robot, itu menunjukkan dia serius untuk mempromosikan dirinya dan opininya. Masih bermanfaat juga untuk membaca adanya niatan untuk melakukan propaganda.

THE RISE AND FALL OF ACTORS

Pasca ILC, diskusi ramai di media sosial dan online, membahas penampilan para tokoh itu. Aktor yang paling jelas mendapat sorotan yang kurang menyenangkan bagi mereka ada 3: Denny Siregar, Abu Janda, dan Aan Anshori.

Komentar Denny tentang ILC yang jadi ajang curhat, sontak dibalas oleh Karni Ilyas dengan sebuah pepatah “Kalau kamu tak pandai menari, jangan lantai kamu salahkan.” Netizen pun mendukung Karni. Siapapun yang selama ini pernah nonton ILC, pasti melihat komentar itu aneh. ILC adalah kesempatan bagi siapapun yang diundang untuk merek bersuara, menyampaikan posisi dia, opini, argumen tanpa disela. Hanya mereka yang tak mampu menyampaikan argumen kuat saja yang akan melihat kesempatan itu kurang bernilai.

Yang paling kurang beruntung adalah Abu Janda. Garangnya dia selama ini di media sosial, setelah diberi kesempatan menyampaikan argumennya langsung kepada opponen, ternyata 180 derajat kesan yang dibangunnya di ILC ini. Pasca ILC, cukup banyak yang kemudian membuat jarak darinya. Misalnya Yaqut Cholil bilang bahwa dia tidak mewakili banser. Ada juga yang menyebut dia bukan ustadz.

Apa yang terjdi di ILC tampaknya tidak berhenti di sana. Jika ada tokoh yang pendapatnya cukup kontroversial, setelah ILC, netizen yang berseberangan berusaha membuka profilenya. Misalnya Aan Anshori, oleh netizen banyak digali peran dan sepak terjangnya terkait LGBTQ dan liberalisme. Tulisannya tentang “Apakah Homoseksual Masuk Surga?” diungkit.

Kondisi sebaliknya dari mereka bisa dilihat pada Felix Siauw. Jawabannya yang dianggap telak atas pendapat Abu Janda, tentang bendera Rasulullah, Topkapi Palace, dan hadist, telah mendapat pujian dari netizen yang mendukungnya. The “rise” paling besar saya kira didapat oleh Felix, karena head to head dengan Abu Janda dan Denny Siregar, yang selama ini dianggap dua key opinion leader dari salah satu cluster.

Fahri Hamzah juga mendapat applaus luar biasa dari pendukungnya, yang kebanyakan dari MCA.

Di antara dua kubu di atas, ada Prof Mahmud MD, yang berdiri independen. Beliau mengkritik pandangan Abu Janda soal hadis, dan juga mengkritik Felix Siauw soal khilafah dan HTI. Akun Militan Jokowi merangkum pendapat beliau, “Menurut Mahfud MD tidak ada ajaran Khilafah didalam Islam. Hukum Primer Islam tidak mengenal konsep Khilafah. Dan jika ada yang memperjuangkan Khilafah untuk mengganti Pancasila yang telah disepakati oleh pendiri bangsa hal tersebut sudah melanggar hukum. Catet !!”

SNA: PETA YANG TAK SEIMBANG

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (5)

Kita lihat peta SNA untuk tanggal 6-7 Desember. Disitu tampak adanya dua cluster yang sangat-sangat tidak seimbang. Di sebelah kiri ada cluster @maspiyuuu, @netizentofa, @fadlizon, dll yang selama ini identik dengan MCA. Di antara mereka ada @Karniilyas sang presiden ILC. Cluster kiri ini sangat besar dibanding cluster kanan yang kecil.

Di kanan ada @dennysiregar7, @chicohakim, dkk. Tak tampak akun-akun lain yang selama ini bersama mereka. Mungkin karena jalannya dialog ILC malam itu kurang menguntungkan?

Yang menarik, di sini ada akun yang beru saya lihat, yaitu @darwistriadi. Kenapa dia mendapat begitu banyak retweet? Ternyata satu twitnya yang mengkritik Felix Siauw, mendapat dukungan besar dari cluster kanan. “ILC td malam, itu yg namanya Felix baru ngerti ilmu agama dikit, udh komen kaya gitu, ga sadar bahwa negara indonesia ini pancasila dan direbut dr penjajah dgn spirit pancasila..” Namun karena twit ini pula, dia mendapat begitu banyak response dan serangan dari cluster kiri.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (9)

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (2)

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (3)

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (8)

CLOSING

Dari peta SNA tampak jelas, siapa pemilik panggung ILC tentang “212: Perlukah Reuni?” Mereka yang di cluster besar di sebelah kiri lah yang memilikinya.

Dan kembali ke pertanyaan yang diangkat ILC, “Perlukah Reuni”, seolah ini tak terjawab. Malah muncul jawaban-jawaban baru atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini muncul di media sosial, tentang para tokoh di baliknya cuitan di media sosial itu.

ILC tak menjawab apakah reuni diperlukan. Tapi dia menjawab pertanyaan: “Siapakah Abu Janda?”, “Siapakah Denny Siregar?”, “Siapakah Felix Siauw”, dan “Mengapa HTI Berbahaya?”

Jadi, kalau anda diundang Karni Ilyas untuk ikut acara ILC, tapi khawatir tidak bisa memenangkan opini di sana, maka tinggal di rumah bisa jadi pilihan yang terbaik buat anda.

 

 

Tim Asesor visitasi Magister Teknik Informatika

Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) memberikan tugas Tim Asesor-nya Prof. Dr. Muhammad Zarlis, M.Sc dan Wahyu Catur Wibowo, Ir., M.Sc., Ph.D untuk melakukan visitasi ke Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII), 24 dan 25 Maret 2017.

Tim Asesor Visitasi Magister Teknik Informatika

Peringkat akreditasi Sangat Baik adalah status akreditasi Magister Teknik Informatika saat ini dan berharap dengan upaya optimal untuk dapat mempertahankan atau meraih status Unggul. Hal tersebut, selaras dengan tujuan Pemerintah yang menargetkan standar Pendidikan Tinggi Indonesia ke tingkat Internasional, ini menjadi tantangan bagi Magister Teknik Informatika untuk terus bergerak maju agar kualitasnya dapat bersaing ditingkat Internasional.

Baca juga : Prof. Zarlis, 3 Prinsip rangkul Generasi Muda

Prof. Dr. Muhammad Zarlis, Guru Besar Universitas Sumatera Utara dan Wahyu Catur Wibowo, Ir., M.Sc., Ph.D, Dosen Universitas Indonesia akan melihat secara langsung tujuh standar sesuai borang, yaitu visi misi, kurikulum, kemahasiswaan, sarana dan prasarana, penelitian, kerjasama dan keuangan.

“Ada 2 falsafah Tim Asesor saat melakukan visitasi, yaitu katakan sejujurnya mengutip judul lagu Rinto Harahap dan Jangan Ada Dusta Diantara Kita judul lagunya Broery Marantika” ujar Prof. Dr. Muhammad Zarlis sesaat sebelum memulai proses visitasi.

Secara terpisah, Nandang Sutrisno S.H., M.H., LLM., Ph.D., Rektor UII dalam pesan tertulisnya menyatakan “Magister Teknik Informtika sudah mengalami kemajuan yang pesat, jika dibandingkan dengan ketika akreditasi yang lalu ketika itu saya dampingi. Oleh karena itu dengan upaya yang optimal dari Pengelola MTI maupun FTI keseluruhan, saya doakan mendapat re-akreditasi yang maksimal” mengutip pesan singkatnya.

Jerri Irgo

PusFid dan KPPU, selenggarakan Workshop untuk Investigator

(Kaliurang). Yogi S Wibowo, Kepala Bagian Kesejahteraan Pegawai Biro Organisasi dan SDM KPPU, membuka secara resmi Digital Forensics Workshop for KPPU Investigators yang merupakan kerjasama Pusat Studi Digital Forensik (PusFid) Universitas Islam Indonesia (UII)) bekerjasama dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

01 - PusFid dan KPPU Siapkan SDM Handal Ungkap Barang Bukti Digital. (2)

Kegiatan yang diikuti 25 Investigator KPPU dilaksanakan di Auditorium Lantai 3 Gedung KH Mas Mansur, Fakultas Teknologi Industri, Kampus Terpadu UII (29 Jumadal Awwal dan 1 Jumadal Akhirah 1438 H/ 27 dan 28 Februari 2017).

Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom, Kepala PusFid UII disela-sela kegiatan menyatakan “tujuan dari workshop ini adalah meningkatkan kemampuan SDM di lingkungan KPPU khususnya dalam hal penanganan barang bukti digital guna membantu proses investigasi terhadap kasus-kasus yang menjadi lingkup penanganan KPPU” ujarnya.

Yudi Prayudi yang juga sebagai Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana FTI UII, menambahkan “output dari workshop tersebut, diharapkan adanya kesiapan SDM KPPU dalam hal pengetahuan dan skill untuk menangani kasus-kasus yang melibatkan bukti digital” pungkas Yudi

Jerri Irgo