Posts

Mengajarkan Pendidikan Kewirausahaan

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistik Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Mengajarkan Pendidikan Kewirausahaan

Kemanfaatan wirausaha bagi ekonomi tidak diragukan lagi. Aktivitas usaha yang dijalankan wirausaha tidak hanya memberikan hasil ekonomi bagi diri wirausaha dan keluarganya, namun nilai ekonomi yang dihasilkan mampu menggerakkan dan menghidupkan ekonomi bagi masyarakat luas. Para ekonom menyebutnya dampak multiplier karena adanya trickle-down effect.

Masalahnya, jumlah dan kualitas wirausaha di Indonesia masih relatif kecil. Tidak lebih dari 1% dari penduduk total di Indonesia yang menjalankan kegiatan usaha. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir jumlah angka absolut wirausaha di Indonesia semakin meningkat.

Dalam beberapa tahun terakhir, minat para pemuda dan lulusan perguruan tinggi untuk memilih menjalankan usaha alih-alih menjadi pegawai atau pekerja, semakin tinggi. Antusiasme generasi muda dan mahasiswa khususnya untuk menekuni usaha perlu disiapkan dengan baik. Kewirausahaan dapat diajarkan di bangku sekolah, ruang-ruang kelas di perguruan tinggi, dan bahkan kewirausahaan dapat disimulasikan dalam praktik-praktik di ruang laboratorium.

Menjalankan usaha menuntut keahlian, ketrampilan, dan mental pejuang untuk mengenali masalah, peluang, serta mengelola sistem dan model bisnis, sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi atas suatu produk atau jasa.

Karakteristik wirausaha

Pengenalan masalah dan menemukan akar masalah merupakan langkah awal dan penting dalam memulai usaha. Masalah ada di mana-mana. Kejelian dalam mengenali masalah dalam berbagai konteks dan perspektif merupakan peluang usaha.

Masalah ini bisa berupa ketiadaan solusi yang tepat atas kebutuhan konsumen atau masyarakat luas terhadap produk dan jasa. Konsumen menginginkan dan membutuhkan produk atau jasa, namun belum ada produk atau jasa yang menyediakannya. Dalam ilmu strategi pemasaran, situasi ini dikenal dengan unmet demand. Mengubah masalah menjadi peluang dan memberikan solusi atas masalah merupakan pemikiran dan terobosan yang dihasilkan dari seorang wirausaha.

Solusi masalah ini tidak harus dengan menyediakan produk atau jasa yang sama sekali baru. Seringkali solusi ini hanya berupa cara atau konteksnya yang baru.

Permasalahan kemacetan di banyak kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan misalnya, warga kota tersebut memerlukan sarana dan akses transportasi yang mudah, nyaman, dan lancar. Solusi transportasi bukanlah solusi baru. Dari dulu transportasi disediakan melalui taksi, angkutan kota, ojek, dan commuter line. Manakala kemudian hadir solusi transportasi berbasis on-line seperti Grab dan Go-Jek, dapat memenuhi unmet demand ini dengan menawarkan kemudahan akses, fleksibel, dan lancar.

Orang-orang yang mampu secara jeli dalam melihat permasalahan, kemudian mencari solusi atas permasalahan inilah yang membedakan dengan orang lain. Merekalah sejatinya wirausaha.

Bila masalah sudah dipetakan dan solusi masalah telah dikembangkan, maka langkah selanjutnya adalah merealisasikan solusi masalah menjadi produk atau jasa yang memiliki nilai komersial. Dalam hal ini, seorang wirausaha harus mampu mengkomersialisasikan ide menjadi solusi produk atau jasa. Seberapa cepat dan tepat (timing) dalam mengkomersialkan ide menjadi produk dan jasa yang bernilai komersial merupakan hal yang krusial. Dalam hal ini diperlukan kegesitan eksekusi.

Eksekusi bisnis memerlukan pengelolaan dalam semua aspek fungsi-fungsi manajemen bisnis, seperti pemasaran, operasi, produksi, teknologi, keuangan, sumber daya manusia, layanan konsumen, dan lain-lain. Seorang wirausaha memerlukan pemahaman dan ketrampilan dalam pengelolaan bisnis.

Pengelolaan manajemen bisnis menuntut keahlian dan ketrampilan komunikasi, relationship, dan kolaborasi, baik dengan kolega, bawahan, mitra usaha, dan para pemangku kepentingan untuk mendukung kemajuan usahanya.

Model Pembelajaran

Membentuk karakteristik wirausaha merupakan tantangan bagi pendidikan di Indonesia. Pertanyaannya adalah, apakah kewirausahaan dapat diajarkan di bangku pendidikan, seperti perguruan tinggi? Bagaimana mengajarkan kewirausahaan di perguruan tinggi secara efektif?

Umumnya pembelajaran mencakup ranah kognitif dan afektif. Ranah kognitif banyak berhubungan dengan pengetahuan dan keahlian. Sementara afektif lebih kepada ketrampilan dan perilaku.

Pengajaran kewirausahaan di perguraan tinggi umumnya sebatas kognitif, mengenalkan dan menyampaikan pengetahuan manajemen bisnis kepada para mahasiswa. Akibatnya, lulusan perguruan tinggi hanya pintar teori manajemen bisnis, namun mereka kesulitan menerapkan teori untuk mengenali masalah, peluang, dan memberikan solusinya sesuai konteks lingkungan bisnis yang dihadapi.

Pembelajaran kewirausahaan di perguruan tinggi perlu diperkaya dengan simulasi, penciptaan ide bisnis (business creation), dan menjalankan bisnis dengan menerapkan pengetahuan manajemen.

Berwirausaha atau menjalankan usaha sangatlah kompleks dan dinamis. Pengalaman berharga dari para wirausaha perlu disusun dalam bentuk case study untuk dicatat, didokumentasikan, dan diajarkan ke para mahasiswa, agar mereka tidak harus jatuh ke lubang yang sama dengan mengalami berbagai kegagalan-kegagalan karena ketidaktahuan atau ketidaksiapan dalam menjalankan usaha.

Peran kampus atau perguruan tinggi dalam mengajarkan kewirausahaan dilakukan dengan cara memberikan asistensi dan coaching bagi para mahasiswa yang menjalankan usaha sejak mereka masih kuliah.

Mahasiswa haruslah benar-benar diajarkan untuk menjalankan usaha secara riil. Tidak hanya pengetahuan di kelas, namun mereka harus mengelola bisnis. Mulai dari identifikasi unmet demand, solusi masalah, prototype produk atau jasa, serta pengorganisasian untuk pengelolaan aspek-aspek fungsi manajemen secara komprehensif.

Kampus memfasilitasi dengan sarana laboratorium, seperti laboratorium penyaringan ide bisnis, laboratorium uji prototype produk, laboratorium riset pasar dan pemasaran, laboratorium proses produksi, pengepakan, distribusi, keuangan, dan sebagainya.

Dalam menjalankan usaha ini mahasiswa membentuk kelompok. Mereka berpatungan dalam penempatan dana untuk sumber pemodalan. Dari modal tersebut kemudian mereka memutuskan investasi bisnis yang akan dimasuki. Selanjutnya mereka menjalankan usaha dengan asistensi dan coaching dari mentor.

Mentor memberikan asistensi dan coaching untuk meningkatkan skala bisnis usaha mahasiswa. Mentor ini bisa berasal dari dosen, praktisi profesional, atau pengusaha tulen. Gabungan dari berbagai latar belakang pengetahuan dan pengalaman para mentor ini akan memberikan warna dalam menciptakan wirausahawan yang dilahirkan dari lulusan perguruan tinggi.

Tolok ukur keberhasilan pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi adalah jumlah wirausaha muda dari mahasiswa atau lulusan perguraan tinggi di berbagai sektor usaha, khususnya usaha kreatif. Peningkatan skala usaha, seperti peningkatan penjualan, penambahan basis pelanggan, jumlah pekerja, aset, laba, dan lain-lain menjadi indikator keberhasilan proses pembelajaran kewirausahaan.

***
Disadari bersama bahwa wirausaha menjadi salah satu indikator daya saing dan ketahanan ekonomi suatu bangsa. Perguruan tinggi berperan penting dalam proses pembelajaran kewirausahaan ini dengan pendekatan yang lebih efektif, sehingga mampu menghasilkan menerapkan pengetahuan menjadi solusi dan model bisnis yang dijalankan para mahasiswa. Mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk menjadi seorang wirausaha.

Bandung, 19 Mei 2018

Mengelola Piutang

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistik Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Mengelola Piutang

Umumnya, perusahaan penyedia jasa logistik melayani pelanggan kategori bisnis atau sering dikenal dengan Business to Business (B2B). Karakteristik pelanggan B2B ini adalah melakukan pembelian secara kredit. Bagi perusahaan penyedia jasa logistik, penjualan secara kredit akan menimbulkan piutang. Piutang merupakan sumber utama modal kerja perusahaan. Piutang menjadi sumber likuiditas perusahaan untuk mendanai kegiatan operasional. Pengelolaan piutang yang efektif akan dapat menjamin ketersediaan kas untuk menjaga likuiditas dan kelangsungan operasional perusahaan.

Sebagian besar perusahaan melakukan transaksi penjualan barang dan jasa ke pelanggannya secara kredit. Kebijakan penjualan secara kredit selain memberikan manfaat bagi pelanggan – karena mereka dapat memperoleh barang dan jasa terlebih dahulu, baru pelanggan melakukan pembayaran kemudian, juga perusahaan dapat mengikat pelanggan dalam jangka panjang melalui perjanjian kerjasama.

Penjualan barang dan jasa secara kredit umumnya didasarkan pada kesepakatan dalam kontrak yang menyebutkan ketentuan dan syarat pembayaran (term of payment). Ketentuan term of payment (ToP) “Net 30”, artinya pembayaran dilakukan dalam waktu sampai 30 hari dari tanggal invoice. Net 30 bisa diganti dengan Net 15 atau Net 40.

Ketentuan term of payment dapat juga dinyatakan dalam “2/10, Net 30”, artinya pembeli akan mendapatkan diskon sebesar 2% bila pembeli melakukan pembayaran dalam waktu 10 hari sejak tanggal invoice, dan jatuh tempo seluruh pembayaran sampai 30 hari sejak tanggal invoice.

Bagi perusahaan sebagai pembeli, keputusan apakah akan menggunakan diskon atau tidak dapat didasarkan pada pertimbangan cost of fund. Dalam term of payment 2/10, Net 30, misalnya, perusahaan dapat menghitung effective annual rate (EAR). Contoh, transaksi pembelian Rp100 juta, dengan ToP 2/10, Net 30, bila perusahaan mengambil diskon, maka perusahaan harus melakukan pembayaran maksimal 10 hari sejak tanggal invoice agar mendapatkan diskon 2% x Rp100 juta = Rp2 juta. Dalam hal ini perusahaan hanya membayar sebesar Rp100 juta – Rp2 juta = Rp98 juta.

Perusahaan akan membandingkan apakah mengambil diskon 2% dengan pinjam modal kerja dari bank atau tidak mengambil diskon. Perhitungan effective annual rate (EAR) sebagai berikut:

  • Mengambil diskon 2%, dengan pinjam modal kerja dari bank Rp98 juta, interest rate selama (30 – 10 = 20 hari) adalah Rp 2 juta/Rp98 juta = 2,04%, maka EAR selama 365 hari adalah: EAR = (1 + r)n -1 atau EAR = (1,0204)365/20 – 1 = 44,6%.
  • Bila interest rate pinjaman modal kerja bank rata-rata per tahun 11%, maka perusahaan sebaiknya mengambil diskon 2% tersebut, dengan cara pinjam modal kerja Rp98 juta selama jangka waktu 20 hari, dengan membayar bunga pinjaman 2% x 20/365 x Rp98 juta = 397, jauh lebih kecil daripada Rp2.000.000 dari diskon yang diperoleh.

Akuntansi Piutang

Penjualan barang dan jasa secara kredit akan berimplikasi piutang (receivable). Piutang merupakan aset lancar perusahaan yang cukup signifikan. Implikasinya, perusahaan harus memberikan perhatian serius terhadap pengelolaan piutang. Piutang yang telah tertagih menjadi sumber penerimaan kas untuk menjaga likuiditas perusahaan.

Istilah piutang merujuk hak perusahaan atas sejumlah nilai tagih yang telah jatuh tempo baik dari individual maupun perusahaan. Piutang diharapkan dapat ditagih untuk menjadi kas.

Dari perspektif keuangan, piutang dikelompokkan berdasarkan estimasi jangka waktu tertagihnya. Berdasarkan jangka waktu penagihan piutang, piutang dibedakan menjadi piutang lancar (current receivables) dan piutang tidak lancar atau jangka panjang (non-current receivables).

Piutang lancar atau piutang jangka pendek merupakan piutang yang diharapkan dapat tertagih dalam waktu paling lama satu tahun, atau sesuai siklus operasi perusahaan, mana yang lebih cepat. Sementara piutang tidak lancar atau piutang jangka panjang merupakan piutang yang diperkirakan tidak dapat tertagih dalam waktu 1 tahun atau siklus operasi perusahaan.

Selain pengelompokkan piutang berdasarkan jangka waktu penagihan, perusahaan juga mengelompokkan piutang berdasarkan jenis piutang atau sumber piutang: (1) piutang yang berasal dari kegiatan operasional bisnis (trade receivable) dan (2) piutang yang berasal bukan dari operasional bisnis (non-trade receivable).

Trade receivable, umumnya nilainya cukup signifikan, perusahaan membaginya ke dalam piutang dagang (accounts receivable) dan piutang wesel atau wesel tagih (notes receivable). Bedanya accounts receivable dengan notes receivable, kalau accounts receivable hanya didasarkan pada tagihan (invoice) yang menyebutkan hak tagih perusahaan atas sejumlah nilai nominal tertentu sesuai dengan jatuh tempo term of payment yang disepakati dalam transaksi penjualan barang dan jasa. Sementara notes receivable, hak tagih perusahaan dinyatakan secara tertulis dalam promissory note yang menyebutkan nilai nominal, tanggal jatuh tempo, dan tingkat bunga.

Isu accounting yang terkait dengan accounts receivable mencakup: (1) Pengakuan accounts receivable dan (2) Penilaian dan pelaporan accounts receivable.

Pengakuan accounts receivable. Prinsipnya, pencatatan pengakuan accounts receivable dilakukan pada saat barang diserahkan dan jasa diselesaikan. Pada perusahaan jasa, pencatatan pengakuan accounts receivable dilakukan dengan mendebit Accounts Receivable dan mengkredit Revenue. Sementara pada perusahaan dagang dan manufaktur, pencatatan pengakuan accounts receivable dilakukan dengan cara mendebit Accounts Receivable dan mengkredit Sales.

Penilaian dan pelaporan accounts receivable. Manakala perusahaan telah mencatat pengakuan accounts receivable atas penjualan secara kredit, persoalan berikutnya adalah bagaimana menilainya atau mengukurnya pada pelaporan keuangan di Laporan Posisi Keuangan. Perusahaan melaporan account receivable sebagai aset lancar pada Laporan Posisi Keuangan. Penentuan berapa nilai accounts receivable yang harus dicatat didasarkan pada nilai accounts receivable yang diperkirakan dapat ditagih (net realizable value). Standar akuntansi keuangan mensyaratkan bahwa accounts receivable dilaporkan sebagai aset lancar dalam Laporan Posisi Keuangan sesuai dengan net realizable value.

Berdasarkan standar akuntansi keuangan ini, perusahaan mengalokasikan provisi atas nilai accounts receivable yang diperkirakan tidak dapat tertagih. Pertimbangannya, tidak semua accounts receivable perusahaan dapat ditagih pada saat jatuh tempo sesuai dengan kesepakatan term of payment dengan pelanggan.

Dalam beberapa kondisi, perusahaan mengalami kesulitan untuk melakukan penagihan accounts receivable. Penyebabnya antara lain, pelanggan mengalami kesulitan likuiditas, sehingga pelanggan tidak dapat membayar kewajiban penyelesaian piutang tepat waktu. Selain itu, banyak piutang yang tidak dapat ditagih karena ketidaklengkapan administrasi kontrak transaksi penjualan, keakuratan dan kelengkapan lampiran invoice, dan lain-lain.

Provisi atas piutang yang tidak dapat ditagih menggunakan dua metode (Kimmel, Weygandt, dan Kieso, 2017), yaitu: (1) metode penghapusan langsung (direct write-off method), dan (2) metode pencadangan (allowance method).

Pada metode penghapusan langsung, perusahaan melakukan penghapusan langsung atas piutang yang diperkirakan tidak dapat ditagih per pelanggan. Penghapusan langsung atas piutang yang tidak dapat ditagih dengan mendebit sebagai bad debt expense dan mengkredit accounts receivable pelanggan. Metode ini mencatat penghapusan piutang secara langsung sesuai nilai aktual kerugian dari piutang pelanggan yang diperkirakan tidak dapat ditagih.

Penggunaan metode langsung dalam pencatatan uncollectible accounts akan dapat mengurangi nilai kegunaan informasi akuntansi, baik dalam laporan posisi keuangan maupun laporan laba rugi komprehensif. Karenanya, standar akuntansi tidak membolehkan menggunakan metode direct write- off ini dalam pencatatan uncollectible accounts.

Umumnya penghitungan berapa estimasi uncollectible accounts dapat didasarkan pada nilai penjualan atau nilai piutang.

Penghitungan uncollectible accounts dari penjualan dengan pertimbangan bahwa dari penjualan kredit total selama tahun berjalan, berapa persen yang diperkirakan tidak dapat tertagih. Nilai penjualan kredit tahun berjalan yang tidak dapat tertagih ini selanjutnya diperhitungkan sebagai “Beban Penyisihan Piutang” atau “Bad Debts Expense” dan menambahkan “Cadangan Penyisihan Piutang” atau “Allowance for Doubtful Accounts”.

Sementara penghitungan uncollectible accounts dari piutang didasarkan pada persentase dari umur piutang (aging the accounts receivable). Perusahaan perlu menyiapkan daftar umur piutang per pelanggan, kemudian menentukan persentase piutang yang diperkirakan tidak dapat tertagih dari setiap kelompok umur piutang.

Contoh penghitungan uncollectible accounts dari umur piutang. PT Jasa Logistik Indonesia (JLI) menyusun Daftar Umur Piutang untuk menentukan estimasi piutang yang tidak dapat tertagih posisi 31 Desember 2017. Kebijakan akuntansi PT Jasa Logistik Indonesia menetapkan persentase piutang yang tidak dapat teragih sesuai kelompok umur piutang sebagai berikut:

Berdasarkan tabel tersebut, estimasi piutang tidak tertagih total posisi 31 Desember 2017 sebesar Rp2.228. Bila saldo “Allowance for doubtful accounts” PT Jasa Logistik Indonesia per 31 Desember 2017 sebesar saldo kredit Rp528, “Allowance for Doubtful Accounts” di-adjust sebesar Rp1.700 (Rp2.228 – 528), maka JLI mencatat jurnal penyesuaian sebagai berikut:

Manajemen piutang
Perusahaan perlu mengelola piutang secara efektif. Piutang yang tidak tertagih akan mengganggu likuiditas perusahaan. Perusahaan menggantungkan sumber penerimaan kasnya dari penagihan piutang.

Berk dan DeMarzo (2017) memberikan panduan pengelolaan piutang sebagai berikut:
1. Menetapkan kebijakan kredit.
2. Menetapkan ketentuan term of payment.
3. Menetapkan kebijakan penagihan piutang.

Kebijakan kredit. Perusahaan perlu menetapkan kebijakan kredit dalam keputusan transaksi penjualan kepada pelanggan. Transaksi penjualan merupakan hasil closing proses penjualan yang dilakukan oleh tim sales force perusahaan. Dalam memberikan fasilitas pembayaran kredit, perusahaan perlu memastikan tingkat risiko kredit setiap pelanggan.

Analisis risiko kredit pelanggan didasarkan pada pertimbangan antara lain tingkat likuiditas pelanggan, prospek dan risiko bisnis pelanggan, rekam jejak pelanggan, dan bila memungkinkan perusahaan agar mendapatkan informasi peringkat kredit (credit rating) pelanggan.

Ketentuan term of payment. Kebijakan berapa lama jangka waktu pembayaran seringkali didasarkan pada siklus operasi atas transaksi penjualan barang dan jasa. Pada perusahaan dagang, siklus operasi mulai dari saat pembelian merchandise inventory sampai dengan transaksi penjualan. Kebijakan penetapan ToP umumnya dapat ditentukan dengan pasti, misalnya 10 hari, 20 hari, atau 30 hari sejak tanggal invoice.

Pada perusahaan manufaktur, siklus operasi lebih lama, karena dimulai dari pembelian raw material, proses produksi, sampai transaksi penjualan finished goods. Kebijakan penetapan ToP pada perusahaan manufaktur agar memperhitunghkan kecukupan modal kerja perusahaan. Umumnya, perusahaan manufaktur menetapkan kebijakan ToP “Net 30”.

Sementara perusahaan jasa, siklus operasinya relatif bervariasi, tergantung pada jenis jasanya. Pada perusahaan logistik, siklus operasi dimulai pada saat pick-up sampai penyerahan kiriman di lokasi penerima. Siklus operasi perusahaan logistik bisa 10 hari, 30 hari, bahkan sampai 40 hari. Penetapan ToP pada perusahaan jasa umumnya 15 hari dan30 hari.

Kebijakan term of payment perlu mempertimbangkan kebijakan diskon. Diskon diberikan kepada pelanggan dengan maksud untuk mempercepat pembayarannya. Perusahaan perlu menetapkan kebijakan diskon baik ketentuan berapa persentase diskon maupun periode diskon.

Kebijakan penagihan piutang. Manakala barang telah diserahkan atau pekerjaan telah selesai dilaksanakan, perusahaan mengirimkan invoice kepada pelanggan. Perusahaan perlu memonitor pembayaran tagihan dari pelanggan dan menetapkan unit atau pihak mana yang secara intensif melakukan tugas penagihan ke pelanggan.

Pengukuran kinerja pengelolaan piutang
Perusahaan perlu mengukur kinerja pengelolan piutang. Pengukuran kinerja pengelolaan piutang dilakukan dengan evaluasi kinerja accounts receivable days dan aging schedule.

Accounts receivable days. Accounts receivable days atau sering dikenal dengan collection periods merupakan rata-rata jumlah hari piutang yang dihitung sejak tanggal invoice sampai dengan penerimaan kas dapat diperoleh dari penagihan piutang. Jika kebijakan term of payment katakanlah “Net 30”, namun ternyata rata-rata outstanding piutang 50 hari, maka pelanggan terlambat 20 hari dalam melakukan pembayaran tagihan.

Accounts receivable days dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: (kiri) Sementara receivable turnover ratio dihitung dengan cara (kanan)

Accounts receivable days menunjukkan likuiditas dan efektivitas pengelolaan piutang. Semakin kecil
accounts receivable days, maka perusahaan semakin likuid dan efektif dalam mengelola piutangnya.

Aging schedule. Aging schedule mengelompokkan piutang berdasarkan kategori umur piutang. Aging schedule sebaiknya disusun secara periodik. Perusahaan harus memonitor aging schedule untuk memastikan efektivitas pengelolaan piutang.

Contoh aging schedule disajikan sebagai berikut:

Perusahaan dapat menganalisis efektivitas pengelolaan piutang berdasarkan aging schedule tersebut. Bila persentase piutang lebih banyak kategori “bottom-heavy”, yaitu days outstanding lebih dari 31 hari, sementara ToP-nya Net 30, maka perusahaan perlu segera melakukan evaluasi dan perbaikan atas pemberian kredit, ketentuan term of payment, dan penagihan piutang.

 

Zaroni, Indonesia Masih Sulit Temukan Produk Halal

Dr. Zaroni Samadi, Peneliti Senior Supply Chain Indonesia mengatakan produk yang ada sekarang hanya dijamin halal dari isi produk. “Saya belum menemukan makanan bisa halal atau tidak dan menjamin proses logistik dari angkutan sampai kontainer yang halal prosesnya,” katanya kepada Bisnis, Minggu (6 Mei 2018).

“Ternyata, sampai saat ini sulit menemukan makanan halal sesuai syariat Islam yang benar-benar terjamin dari ladang sampai dihidangkan di meja makan” ungkap Dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana FTI UII tersebut

Berdasarkan syariat ajaran agama, produk yang boleh dimakan memiliki kriteria halal dari sisi zat yang sudah ditetapkan berdasarkan kitab suci. Bukan hanya itu, makanan tersebut juga halal dari cara perolehan dan pengolahannya.

Jika ditafsir lebih dalam, ini berarti pangan yang halal mencakup rangkaian kegiatan untuk penyediaan bahan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, penjualan, dan penyajian produk.

Zaroni menjelaskan permintaan produk halal di Indonesia sangat besar. Berdasarkan data State of the Global Islamic Economy tahun 2016/2017, pada 2015 pertumbuhan pasar halal dunia mencapai US$1,9 triliun.

Sementara itu tahun 2019 diharapkan bisa tumbuh di kisaran US$2,54 triliun atau 21,2% dari total belanja dunia. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia belum melihat potensi besar ini.

Masih berdasarkan penelitian yang sama, Indonesia berada pada posisi ke-10 dengan poin 36 sebagai negara industri halal. Posisi Ini kalah jauh dari Malaysia yang berada di tempat pertama dengan skor 121.

Diberitakan Bisnis

Jerri Irgo

PPs FTI UII, Menerima Mahasiswa Baru

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Ketua Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta, membuka kesempatan bagi lulusan S1 untuk melanjutkan studi S2 di PPs FTI UII, disampaikan di ruang kerja ketua PPs FTI UII, lantai 1 Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII Yogyakarta (27 Maret 2018)

Merujuk Surat Keputusan No 130/Dir/20/PPs.FTI/III/2018 tentang Periode Pendaftaran Penerimaan Baru semester ganjil tahun 2018/2019, terdapat 3 periode pendaftaran.

  • Periode 1, pendaftaran mulai 2 April sd 25 Mei 2018, tes kolektif 26 Mei 2018 dan pengumuman pada tanggal 31 Mei 2018.
  • Periode 2. pendaftaran mulai 1 Juni sd 27 Juli 2018, tes kolektif 28 Juli dan pengumuman pada tanggal 31 Juli 2018
  • Periode 3. pendaftaran mulai 1 sd 24 Agustus 2018, tes kolektif 25 Agustus dan pengumuman pada tanggal 28 Agustus 2018

PPs FTI UII membuka Magister Teknik Industri dan Magister Teknik Informatika

Jerri Irgo

Tren Hijab: Perspektif Supply Chain & Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

Dalam satu dekade terakhir, kita menyaksikan kaum perempuan banyak memakai hijab. Hijab tidak hanya menunjukkan jati diri pemakainya sebagai muslimah, namun hijab telah menjadi bagian dari fashion yang semakin stylish, trendi, modern, dan colorful. Semakin banyak wanita muslimah memakai hijab ketika pergi ke sekolah, kampus, kantor, pasar, mal, dan bersosialisasi dengan komunitas. Hijab tidak sekadar kerudung, namun hijab sebagai busana muslimah sesuai kaidah-kaidah ajaran Islam. Fenomena seperti ini berbeda sepuluh atau lima belas tahun lalu. Dulu pemakai hijab identik dengan santriwati atau ibu-ibu yang memakainya saat pengajian.

Menarik untuk kita cermati, banyaknya pemakai hijab ini tidak lepas dari perubahan nilai-nilai yang terjadi pada konsumen muslim, utamanya konsumen muslim kelas menengah (Yuswohady et al, 2015). Menurut Yuswohady, ada dua perubahan nilai-nilai yang paling mendasar pada konsumen kelas menengah muslim saat ini.

Pertama, semakin pentingnya nilai-nilai religiusitas dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran kaum muslim untuk menerapkan syariah ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari semakin meningkat, termasuk kesadaran dalam memakai hijab bagi kaum perempuan. Selain itu, kita juga melihat kaum muslim semakin menyadari pentingnya pilihan produk makanan-minuman dan kosmetik yang halal dan thoyib – berkualitas baik dan hygienic.

Kedua, terjadinya fenomena kaum muslimah memakai hijab karena didorong oleh cara berpikir yang semakin terbuka terhadap berbagai perubahan yang ada, seperti teknologi dan fesyen. Wawasan atau pengetahuan perempuan muslim yang semakin tinggi dan koneksi sosial yang luas membuat pola pikir mereka semakin terbuka. Keterbukaan dalam cara berpikir ini memengaruhi mereka dalam memilih produk dengan pertimbangan rasional dan memerhatikan kaidah-kaidah ajaran Islam.

Selain itu, di tempat kerja, sekolah, kampus, bahkan kini di lingkungan kerja TNI dan Polri semakin menerima dan toleran terhadap pemakai hijab. Tidak ada lagi larangan dan batasan perempuan muslimah yang berhijab. Akibatnya, kini kita menyaksikan hampir sebagian besar perempuan muslimah memakai hijab untuk berbagai aktivitas. Hijab telah menjadi suatu kebutuhan dan kesadaaran.

Permintaan hijab yang semakin meningkat mendorong penawaran produk hijab yang beragam. Baik dari kualitas, mode, motif, maupun harga. Permintaan telah menciptakan penawaran, demikian ekonom John Maynard Keynes (1883 – 1946) pernah berujar. Kenaikan permintaan hijab memicu pasar untuk memproduksi hijab, mulai dari produksi skala home industry, usaha kecil dan menengah sampai produksi pabrikan. Bahkan kita menyaksikan berbagai busana muslimah bermerek bermunculan seperti Dian Pelangi, Aprilia, Normamoi, Irna La Perle, Zoya, Shafira, Rabbani, Ukhti, dan lain-lain. Produk busana muslimah dengan merek-merek ini sangat diminati pasar, sehingga harganya pun cukup mahal.

Kunci Keberhasilan

Di Indonesia, pasar produk hijab – termasuk busana muslimah memang sangat menarik. Tidak saja karena populasi perempuan muslimah yang cukup besar di negeri ini (kini jumlah konsumen muslim mencapai 87% dari seluruh penduduk Indonesia) serta kesadaran perempuan muslimah untuk memakai busana muslim, namun saat ini banyak penduduk muslim berada di kelas menengah (middle-class Muslim). Mereka, konsumen muslim kelas menengah ini, memiliki daya beli, wawasan, pengetahuan, dan komunitas sosial yang luas, sehingga permintaan produk hijab, kosmetik, dan asesoris busana muslimah yang berkualitas dan brand ternama terus meningkat.

Produk hijab telah memberikan banyak kesempatan bagi pengusaha kecil dan pemula (start- up) untuk memproduksi dan memasarkan hijab dan busana muslimah. Lapangan kerja pun terbuka, karena sebagian besar hijab dan busana muslimah diproduksi dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja, mulai dari desainer, penjahit, distributor, dan penjual retailer.

Permintaan produk hijab dan busana muslimah tetap ada dan kecenderungannya semakin meningkat. Tingkat kompetisi produsen hijab dan busana muslimah pun semakin tinggi dengan banyaknya pelaku usaha di produk ini. Karenanya, produsen produk hijab dan busana muslimah perlu meningkatkan keunggulan daya saingnya agar produknya tetap diminati konsumen.

Bagaimana meningkatkan daya saing produk? Porter (1985), ahli manajemen strategi dari Harvard University, memberikan nasihat bahwa untuk unggul dalam pasar, produk harus unik (differentiation) dan diproduksi dengan biaya rendah (cost leadership).

Produk dikatakan unik bila konsumen pemakai produk tersebut memposisikan berbeda dengan produk lain yang ditawarkan oleh produsen lain. Keunikan produk ini bisa disebabkan oleh kualitas, karakteristik produk, bahan baku produk, motif, corak warna, mode, style, dan lain-lain. Terlebih produk fashion, keunikan produk menjadi hal penting.

Selain produk harus unik, produsen harus mampu memproduksi suatu produk dengan biaya yang paling rendah. Biaya rendah memungkinkan produsen memeroleh margin yang mencukupi meski dengan harga jual yang sama dengan pesaing. Dengan margin yang memadai, produsen dapat mengalokasikan bagian margin ini untuk riset, pengembangan, dan inovasi produk.

Saat ini, keunggulan daya saing produk tidak cukup hanya kualitas dan biaya yang rendah. Dalam perspektif supply chain dan logistics, selain produk yang berkualitas dan biaya yang rendah, perusahaan harus responsif, andal (reliable), dan lincah (agile) dalam memenuhi dan mengantisipasi perubahan pasar (Fernie & Spark, 2014).

Produk hijab dan busana muslimah termasuk kategori produk fashion. Produk fashion selain memberikan manfaat fungsional, produk fashion harus mewakili aspirasi dan nilai-nilai pemakainya. Dalam beberapa konsumen, bahkan produk fashion menunjukkan kemewahan (luxury).

Pengusaha produk hijab dan busana muslimah perlu menetapkan siapa target konsumennya untuk perumusan strategi positioning, branding dan differentiation produk. Pemahaman nilai-nilai (psychographics), perilaku (behavior) dari konsumen pemakai hijab dan busana muslimah menjadi hal penting, tidak sekadar data demografis seperti kelompok umur, status sosial dan ekonomi, pekerjaan, pendidikan, dan lain-lain. Kondisi demografis bersifat statis dan kurang insightful untuk perumusan strategi dan program branding.

Dari analisis target konsumen ini, selanjutnya menjadi referensi tim produksi dalam membuat produk hijab dan busana muslimah sesuai dengan kualitas produk yang diinginkan dari target konsumen. Konsumen muslim kelas menengah, umumnya mereka menginginkan hijab dan busana muslimah dengan kualitas bahan baku yang baik, desain, warna, dan style yang memberikan rasa kenyamanan dan kemewahan bila dipakai.

Pilihan bahan baku yang tepat menjadi kunci keberhasilan dalam menghasilkan produk hijab dan busana muslimah yang memenuhi selera target konsumen. Selain itu, kontinuitas pasokan dan keandalan pemasok bahan baku seperti kain, aksesoris, kemasan, dan lain-lain, menjadi perhatian pengusaha produk hijab agar bahan baku dapat memenuhi standar kuantitas, kualitas, dan ketepatan waktu untuk proses produksi.

Bahan baku yang kurang berkualitas akan mengakibatkan banyak produk defect. Kuantitas pasokan bahan baku yang tidak tepat akan mengganggu produksi. Bahan baku yang overstock akan berisiko rusak atau hilang, selain tentu saja mengakibatkan modal kerja yang idle. Demikian juga understock, produksi akan terganggu karena kekurangan pasokan bahan baku pada saat dibutuhkan.

Jadwal kedatangan bahan baku yang terlambat akan mengakibatkan produksi terhenti, karena harus menunggu bahan baku. Bahan baku yang tiba terlalu cepat akan menimbulkan biaya penyimpanan bahan baku yang lebih besar, selain risiko kerusakan, kehilangan, dan penurunan kualitas bahan baku. Karenanya, ketepatan pengiriman bahan baku menjadi hal penting dalam keberhasilan produksi produk hijab dan busana muslimah.

Untu menjamin pasokan dan kualitas bahan baku, pengusaha produk hijab perlu membangun kemitraan dengan pemasok dalam jangka panjang, tidak sekadar hubungan bisnis transaksional. Secara berkala perlu dilakukan evaluasi dan perbaikan hubungan kemitraan, baik evaluasi kualitas, kuantitas, harga, dan ketepatan pengiriman bahan baku.

Umumnya, banyak pengusaha produk hijab dan busana muslimah memilih strategi “maklon”, yaitu pengusaha mensubkontrakkan pekerjaan pembuatan produk ke pihak lain, sementara pemilihan bahan baku, desain, dan standar kualitas produk jadi ditetapkan dan diawasi oleh pemberi kerja, dalam hal ini pemegang merek produk. Strategi maklon ini dapat membuka kesempatan kerja yang luas dengan melibatkan para ibu rumah tangga untuk menjadi mitra maklon. Pengusaha produk hijab perlu melakukan pemilihan mitra maklon dan penerapan standar kualitas produk hijab yang diproduksi oleh maklon.

Berapa banyak produk hijab dan busana muslimah yang harus diproduksi sangat bergantung pada peramalan permintaan produk. Penggunaan data pasar, data historis, dan data permintaan musiman (seasonal), seperti tahun ajaran sekolah atau perkuliahan, bulan puasa,
lebaran, dan musim umrah/haji, menjadi referensi penting dalam penentuan kuantitas produksi hijab dan busana muslimah.

Produk hijab dan busana muslimah sangat dipengaruhi oleh trend dan mode, sesuai dengan selera konsumen. Ada produk hijab dan busana muslimah dengan mode, desain, dan corak yang awet (everlasting), sehingga menjadi mode legacy dan legenda. Produk seperti ini dapat diproduksi sepanjang masa. Sebaliknya, produk hijab yang desainnya kekinian sangat terpengaruh oleh selera konsumen, sehingga kecepatan dalam merespon selera konsumen, lalu mewujudkannya menjadi produk hijab dan busana muslimah yang dapat dibeli konsumen sesuai market timing, merupakan kunci keberhasilan bisnis produk ini.

Pengusaha produk hijab dan busana muslimah sebaiknya membangun dan mengelola brand produk dengan tepat. Brand produk mewakili persepsi dan positioning seperti yang diharapkan konsumen. Sejatinya, banyak konsumen lebih memilih brand dalam memutuskan pembelian suatu produk. Karenanya, pengelolaan brand menjadi penting. Pengelolaan brand ini harus konsisten, artinya antara yang dijanjikan (promise) dengan yang disampaikan (deliver) harus selaras.

Selain brand, untuk mengadvokasi dan mendorong pemakaian produk hijab dengan brand anda, ada baiknya mengajak artis, ustadzah, atau tokoh tertentu yang menjadi role model untuk meng-endorse produk hijab anda. Ini penting untuk meng-endorse target konsumen muda metropop. Banyak sederet nama artis yang telah mengenakan hijab dan menjadi trendsetter seperti Dewi Sandra, Inneke Koesherawati, Zaskia Adya Mecca, Nuri Maulida, Zaskia Sungkar, Risty Tagor, dan lainnya. Mereka dapat banyak dijadikan endorse suatu produk hijab brand tertentu, khususnya produk hijab luxury.

Bila anda yang masih pengusaha pemula, tentu tidak perlu harus mengeluarkan banyak biaya untuk iklan dengan endorse para artis tersebut. Anda bisa memanfaatkan celebrities lokal seperti siswi atau mahasiswi berprestasi di kampus, untuk meng-endorse brand produk hijab anda.

Membangun komunikasi dengan target konsomen hijaber ini perlu dilakukan. Anda sebaiknya masuk di komunitas hijaber baik online maupun offline, untuk mendengarkan aspirasi, keinginan, harapan, dan penilaian mereka atas suatu produk hijab dan busana muslimah.

Setelah brand dan membangun komunikasi dengan pelanggan, keberhasilan bisnis produk hijab dan busana muslimah ditentukan oleh keandalan dan jangkauan distribusi. Anda perlu menetapkan strategi distribusi dengan tepat. Pemilihan model saluran distribusi, baik melalui online maupun distribusi konvensional perlu mempertimbangkan target pasar yang anda tuju.

Yuswohady mengungkapkan bahwa salah satu perubahan penting pada nilai-nilai konsumen kelas menengah muslim adalah tingginya koneksi sosial (high socially-connected). Penyebabnya adalah pendidikan tinggi dan pergaulan yang luas. Mereka aktif di berbagai komunitas hijab dan banyak berinteraksi di dunia internet. Salah satu perilaku menarik mereka adalah perilaku membeli secara online.

Yuswohady menambahkan, mereka pun tidak sekadar memiliki marketplace di internet, tapi juga gerai fisik seperti toko atau butik. Menariknya, seperti yang disampaikan pendiri Hijup.com, Diajeng Lestari, bahwa tipe pembeli konsumen Indonesia tidak hanya bisa memesan di online shop, melainkan juga perlu melihat dan mengecek kualitas sendiri barang yang akan dibeli. Karenanya, selain anda menjual produk hijab dan busana muslimah di marketplace, anda tetap harus memiliki outlet yang buka setiap hari untuk melayani pembeli konsumen.

Penjualan produk hijab dan busana muslimah melalui online mensyaratkan keandalan pengiriman produk ke alamat penerima secara tepat. Anda bisa menjalin kerjasama dengan kantor pos atau perusahaan kurir lainnya untuk mempercayakan pengiriman produk hijab anda ke konsumen.

Peningkatan penjualan produk hijab anda dilakukan melalui program pemasaran yang efektif seperti membangun brand, meng-endorse brand, menyelenggarakan event, tutorial memakai hijab, membangun komunikasi dengan pelanggan dan hijabers community, serta menjaga keandalan distribusi dan pengiriman produk, sehingga produk hijab anda selalu tersedia di pasar dan diterima konsumen tepat waktu. Integrasi pemasaran dengan supply chain dan logistics menjadi kunci keberhasilan bisnis hijab dan busana muslimah.

***

Menarik untuk disampaikan hasil penelitian Gallup pada tahun 2009, Indonesia masuk dalam daftar 10 negara paling religius. Gallup menemukan bahwa 99 persen orang Indonesia menilai agama merupakan hal penting dalam kehidupan keseharian mereka. Gallup menyebut Indonesia sebagai paradoks. Mengapa? Umumnya, demikian kata Gallup, ketika suatu negara mengalami peningkatan pendapatan per kapita, maka masyarakat di dalamnya akan semakin sekuler.

Pandangan ini tidak terjadi di Indonesia. Tatkala penduduk Indonesia semakin meningkat pendapatannya, mereka justru semakin religius. Agama dinilai sebagai faktor penting dalam kehidupan sehari-hari mereka. Fenomena ini kita saksikan dalam tren perempuan muslimah berhijab, seiring dengan semakin banyak penduduk muslim kelas menengah.

Tren berhijab mendorong semakin banyak pengusaha memasuki bisnis produk hijab dan busana muslimah. Peluang ini perlu diwujudkan dengan membangun dan mengembangkan bisnis produk hijab dan busana muslimah dengan mengintegrasikan pemasaran dan supply chain management. Logistik berperan penting di dalamnya untuk memastikan perencanaan produksi, keandalan pasokan bahan baku, proses produksi, distribusi, dan pengiriman produk hijab dan busana muslimah dengan tepat.

Bandung, 18 Maret 2018,

Artikel ini saya tulis untuk Jerri Irgo, Merisha Hastarina dan Hijab Start-up Entrepreneurs

Tren Industri Jilbab di Indonesia

Tidak pantas rasanya bagi kita untuk melupakan perintah-Nya jika kita ingin selalu diingat-Nya. Tidak pantas rasanya jika membuka aurat kita, jika kelak kita ingin bertemu dengan yang Maha Suci. Tidak kah kita merasa malu jika menginginkan begitu banyak kebahagiaan dan cinta dari- Nya, tanpa memberikan apapun bahkan tak mengikuti apa-apa yang telah menjadi seruan-Nya.

Goresan tangan Merisha Hastarina, ST., M.Eng, Sekretaris Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Palembang, tersebut meraih Juara III Lomba Esai PPM (Pemberdayaan dan Pemuliaan Muslimah) bekerja sama dengan Divisi Dakwah Indonesian Muslim Society in Korea (IMUSKA) diposting 2011.

“Jilbab bukan hanya budaya semata, dikenakan bukan karena sekarang ini sedang banyak orang yang memakainya, bukan agar kita dipandang sebagai orang yang lebih beriman, bukan pula hanya karena satu peraturan yang harus kita patuhi. Kerudung adalah sebuah pilihan, komitmen diri untuk berpegang dan terus berjalan dalam kehidupan Islami”, ungkapnya melalui pesan singkatnya seusia  penandatangan Nota Kesepahaman antara FTI UII dan FT Universitas Muhammadiyah Palembang tentang Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (14 Maret 2018).

Baca : UII dan UMP, Kerjasama Pengembangan IPTEK 

Tulisan Merisha tersebut ikut menggaungkan bahwa Indonesia akan menjadi pusat mode Muslim dunia pada 2020. Ada yang mendukung, ada pula yang meragukan dan faktanya tren industri Hijab pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini mengalami tren positif naik secara dinamis.

Trend tersebut tentu patut untuk diapresiasi tinggi, karena sangat beralasan, dimana industri fashion kreatif ini pada umumnya didominasi oleh orang-orang muda yang berada di usia 18-35 tahun. Bidang fashion ini tidak hanya menyerap banyak tenaga kerja, tetapi juga secara sistematik dan berkelanjutan meningkatkan perekonomian Indonesia semakin baik.

Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perekonomian pernah  merilis “Industri fashion menyumbangkan hampir tujuh milyar dollar, dan mengalami peningkatan 2-3% dari sisi ekspor dan fashion busana muslim, menjadi salah satu penyumbang terbesar untuk pertumbuhan ekonomi”.

Mendukung rilis tersebut, mengutip Perkembangan Fashion Hijab Indonesia yang Mendunia yang direlease (7 Februari 2018) oleh Kara Indonesia yang termasuk kedalam salah satu Industri Fashion Kreatif bergerak di bidang fashion muslim yang berkembang pesat. Brand (Kara Indonesia) ini berdiri tahun 2012 bersama Hijaber Community dengan berbagai macam fashion style juga hijab.

Baca : Trend Industri Jilbab di Indonesia dalam Perspektif Logistic & Supply Chain Management, analisis Dr, Zaroni CISCP, CFMP

“Untuk kalian yang baru memulai berjilbab sedikit demi sedikit perbaiki jilbab dan pemahaman kita tentang agama. Jangan takut dicela. Mudah-mudahan Allah nanti kasih pemahaman ke kita”. Pesan dari Ambu selaku CEO dari Kara Indonesia dengan koleksi Kara Indonesia yang memadukan beberapa warna yang dianggap tidak terlalu mencolok, seperti warna-warna pastel, hitam putih yang terkesan soft.

Jerri Irgo

Beasiswa Alumni – MTI UII

Beasiswa Alumni dari Program Studi (Prodi) S1 Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) adalah program bagi Alumninya untuk melanjutkan Studi S2 di Magister Teknik Industri (MTI) Program Pascasarjana FTI UII. Adapun pendaftaran sampai dengan Sabtu, 24 Maret 2018, Perkulihan mulai tanggal Senin, 2 April 2018.

Hal tersebut disampaikan Dr Ir Elisa Kusrini MT CPIM CSCP, Sekretaris Program Pascasarjana FTI UII di ruang kerjanya Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km 14,4 Sleman Daerah istimewa Yogyakarta (16 Maret 2018)

Baca : Berma, Kuliah di MTI Sangat Menyenangkan 

Dr. Ir. Elisa Kusrini, menambahkan Keunggulan Kuliah di MTI PPs FTI UII, adalah  selain Akreditasi B dari BAN PT, juga dapat meraih Double Designation: gelar Magister Teknik (MT) dan gelar Sertifikasi Internasional – Certified International Project Manager (CPIM) atau Accredited Supply Chain Analyst (ASCA) (Optional). “Mahasiswa juga mendapatkan kesempatan mengambil Sertifikasi Keahlian dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi / BNSP – (Certified Risk management Officer) dan tersedia Beasiswa dalam bentuk SPP dan Bantuan Biaya Riset (Tesis)” pungkasnya

Adapun info detail Beasiswa Alumni – MTI UII  hubungi sdr Jerri Irgo – 0813.9246.9391

Jerri Irgo

Urban Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

Dunia mengalami peningkatan urbanisasi. Lebih dari separuh penduduk dunia kini tinggal di perkotaan. Tren ini semakin meningkat dalam beberapa dekade ke depan. Pada tahun 2050 diprediksi dua pertiga penduduk dunia tinggal di kota. Pada tahun 2020 diperkirakan kota dengan penduduk lebih dari 5 juta meningkat dari 50 kota menjadi 70 kota.

Sebagian besar kota-kota dengan penduduk lebih 5 juta tersebut berada di negara-negara Asia dan Afrika. Banyak pemicu yang menyebabkan terjadinya peningkatan penduduk di kota, antara lain pertumbuhan ekonomi, peningkatan kegiatan dan produksi di sektor industri, jasa, dan perdagangan baik domestik maupun internasional. Selain itu, faktor penting lainnya sebagai pemicu peningkatan penduduk kota adalah kemajuan internet yang mendorong pertumbuhan e-commerce.

Warga kota memerlukan berbagai infrastruktur untuk mendukung kehidupannya sesuai perkembangan sosial, gaya hidup, tren teknologi, dan lingkungan. Transportasi massal disediakan untuk mobilisasi warga kota dari rumah ke tempat kerja, sekolah, toko, pasar, pabrik, tempat rekreasi, dan lain-lain.

Penyediaan transportasi massal dalam bentuk kereta dan bis memerlukan pembangunan infrastruktur seperti terminal, stasiun, dan jalur kereta bawah tanah (subway). Di beberapa kota besar di negara-negara maju, sistem dan infrastruktur transportasi massal sudah berjalan dengan andal dan efektif sehingga dapat memenuhi kebutuhan mobilitas warga kotanya tanpa menimbulkan kemacetan di jalan raya.

Namun di banyak kota di negara-negara sedang berkembang misalnya, sistem dan infrastruktur transportasi massal ini masih belum memadai, sehingga belum memenuhi dan menjadi pilihan warga kota untuk menggunakan transportasi massal. Akibatnya, kemacetan terjadi karena warga kota memilih menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil pribadi untuk kebutuhan transportasi.

Selain transportasi orang, untuk mendukung kehidupan warga kota memerlukan logistik yang dapat menyediakan barang-barang, utamanya barang kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, dan pakaian. Dengan jumlah penduduk yang banyak, antara 2 sampai 5 juta, setiap harinya perlu disediakan makanan dan minuman dalam jumlah yang besar.

Warga kota mendapatkan makanan dan minuman di toko ritel modern, warung, dan pasar tradisional yang terdekat dengan mereka, baik di lokasi perumahan, perkantoran, sekolah, kampus, pabrik, dan lain-lain.

Barang-barang, produk, dan komoditi didatangkan dari berbagai wilayah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga kota. Komoditi hasil pertanian seperti beras, jagung, kedelai, dan sayuran didatangkan dari pedesaan. Komoditi perikanan dipasok dari daerah pesisir. Produk- produk hasil industri dikirim dari kawasan industri yang biasanya berada di pinggiran kota.

Selain kebutuhan transportasi orang, di kota memerlukan transportasi barang. Di kota setiap hari selama 24 jam dan 7 hari dalam seminggu terjadi kesibukan pengiriman barang dan bongkar muat barang dari truk untuk didistribusikan ke toko ritel, pasar raya, warung, pasar tradisional, dan mal. Kegiatan transportasi dan bongkar muat barang untuk memenuhi penyediaan barang-barang, produk, dan komoditi di kota dikenal dengan logistik perkotaan (urban logistics atau city logistics).

Pergeseran gaya hidup warga kota dalam berbelanja dari belanja konvensional ke belanja melalui e-commerce semakin meningkat. Belanja melaui e-commerce memberikan banyak kemudahan dan kepraktisan. Pilihan produk beragam yang disediakan oleh merchant di beberapa marketplace.

Pertumbuhan transaksi e-commerce B2C (Business-to-Consumer) dan C2C (Consumer-to- Consumer) yang pesat dan penggunaan mobile commerce memerlukan layanan logistik – sering dikenal dengan e-commerce logistics, utamanya layanan fulfillment dan last-mile delivery. Tak ayal lagi, kebutuhan e-commerce logistics untuk transaksi e-commerce konsumen di perkotaan memerlukan pengelolaan urban logistics yang efektif.

Data dari UN menyebutkan bahwa selama tahun 2016 tidak kurang dari 55% transaksi e- commerce berasal dari warga kota, sementara 46% berasal dari warga pedesaan. Persentase ini diprediksi akan meningkat pada tahun 2030, dari transaksi e-commerce total, 60%-nya berasal dari warga kota. Sisanya 40% berasal dari warga pedesaan.

Peningkatan belanja e-commerce ini memerlukan layanan urban logistics yang cepat, fleksibel, informatif, dan efisien. Di suatu kota, saat ini urban logistics terutama diperlukan untuk menyediakan solusi logistik ritel dan logistik e-commerce.

Logistik Ritel

Logistik ritel untuk mengelola penyediaan barang dan bahan pokok kebutuhan warga kota di setiap toko ritel. Pengelolaan logistik ritel ini mencakup transportasi, pergudangan, dan distribusi.

Umumnya sasaran logistik ritel ini adalah memenuhi permintaan pengisian barang di toko ritel dengan 7 kriteria tepat: jenis barang, kuantitas, kualitas, lokasi, penerima, waktu, dan biaya.

Barang, bahan pokok, material, dan produk diangkut dari pemasok ke gudang. Gudang ini bisa berupa distribution center yang berfungsi sebagai fulfillment center untuk memenuhi permintaan pengiriman barang ke toko-toko ritel. Selanjutnya dari fulfillment center, barang didistribusikan ke toko-toko ritel.

Dalam konteks desain urban logistics, jumlah dan lokasi toko ritel perlu direncanakan dengan mempertimbangkan keterjangkauan konsumen dan accessibility kendaraan pengiriman barang. Perencanaan logistik ritel untuk urban logistics meliputi:

  1. Penentuan gudang fulfillment. Fungsi gudang fulfillment untuk penerimaan barang- barang produk ritel dari pemasok, penempatan barang di rak-rak gudang, penyimpanan, picking sesuai order pemenuhan (replenishment), pengepakan, penyiapan pengiriman barang, dan pemuatan barang ke truck untuk pendistribusian barang ke toko-toko pengecer. Perencanaan gudang fulfillment mencakup: berapa banyak gudang fulfillment, jenis gudang apakah gudang umum atau gudang khusus, kapasitas gudang, dan lokasi gudang. Beberapa perusahaan ritel modern mengelola gudang fulfillment sendiri, namun banyak diantara mereka menyerahkan pengelolaan gudang fulfillment ini ke perusahaan penyedia jasa logistik (third-party logistics). Perusahaan 3rd party logistics yang mengelola gudang fulfillment untuk logistik ritel misalnya Pos Logistik yang mengelola pergudangan dan distribusi produk-produk ritel ke toko-toko ritel LEU Mart, dan Wira Logistik yang memberikan layanan logistik ritel Matahari. Pengelolaan gudang fulfillment saat ini menggunakan teknologi dan otomatisasi peralatan pemindahan barang (material handling equipment) baik handling system yang berbasis palletized dan non-palletized. Penentuan lokasi gudang fulfillment dalam logistik ritel untuk urban logistics sebaiknya di kawasan pergudangan yang berada di luar kota (suburban). Truck-truck yang digunakan untuk transportasi barang ritel dari pemasok ke gudang fulfillment umumnya menggunakan truck kapasitas besar, sehingga seringkali ada pembatasan akses truck untuk jalan di perkotaan. Oleh karena itu, lokasi gudang fulfillment di luar kota akan memudahkan akses truck untuk pengiriman barang ke gudang fulfillment.
  2. Pemilihan moda atau jenis dan kapasitas kendaraan. Transportasi dalam logistik ritel meliputi transportasi produk-produk ritel dari pemasok ke gudang fulfillment. Umumnya pengelolaan transportasi ini dikelola oleh pemasok bekerjasama dengan perusahaan transporter atau 3rd party logistics. Perbaikan sistem transportasi untuk logistik ritel ini utamanya efisiensi penggunaan truck dengan mengoptimalkan kapasitas truck. Upaya ini dicapai dengan melakukan penggabungan atau konsolidasi pengiriman untuk mendapatkan efisiensi biaya transportasi per unit (ton per kilometer). Selain itu, konsolidasi pengiriman dimaksudkan untuk mengurangi jumlah truck yang digunakan, sehingga mengurangi tingkat kemacetan dan polusi udara. Dengan demikian, sasaran perbaikan sistem transportasi untuk logistik ritel ini adalah penurunan biaya transportasi, mengurangi kemacetan di jalan raya, dan mengurangi pencemaran udara.
  3. Pengaturan rute dan jadwal keberangkatan kendaraan. Jalur mana yang akan ditempuh truck dan kapan jadwal keberangkatan dan kedatangan truck perlu dirancang dengan baik. Beberapa model yang diajarkan dalam Operation Research dapat digunakan untuk mensolusikan rute atau jalur transportasi dari pemasok ke gudang fulfillment dengan rute terpendek dan waktu tempuh tercepat. Dalam konteks urban logistics, pembatasan jalur dan jam-jam akses truck perlu dilakukan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di perkotaan.
  4. Lokasi bongkar muat barang. Di lokasi mana sebaiknya bongkar muat barang dilakukan perlu menjadi perhatian perancang logistik ritel dalam konteks urban logistics. Kita menjumpai banyak kegiatan bongkar muat barang ritel dilakukan di lokasi-lokasi yang menyebabkan kemacetan. Tidak ada pengaturan waktu dan lokasi bongkar muat barang. Akibatnya, kegiatan bongkar muat logistik ritel ini menyumbang tingkat kemacetan di beberapa titik di kawasan perkotaan.

Logistik E-Commerce

Logistik e-commerce termasuk dalam logistik ritel. Produk-produk yang diperdagangkan dalam e-commerce umumnya produk-produk ritel, produk yang digunakan consumer akhir.

Dalam beberapa tahun terakhir, e-commerce menjadi kontributor perkembangan urban logistics, khususnya layanan city courier atau parcel delivery. Peningkatan transaksi perdagangan e-commerce memerlukan solusi last-mile delivery – pengiriman barang ke penerima akhir.

Belanja melalui e-commerce telah menjadi bagian dari gaya hidup warga perkotaan. Menariknya, bila dicermati dari kategori usia, umumnya generasi milenial paling banyak menggunakan e-commerce dalam belanja kebutuhan mereka seperti fashion, gadget, buku, dan produk-produk accessoris lainnya.

Model operasi logistik e-commerce melibatkan serangkaian aktivitas transportasi, fulfillment, dan delivery. Transportasi produk-produk e-commerce dari pemasok ke gudang fulfillment. Beberapa produk-produk e-commerce dikirim dari luar negeri (cross-border) yang memerlukan layanan pengurusan kepabeanan (customs clearance).Produk yang diterima di gudang fulfillment, selanjutnya ditempatkan di rak-rak gudang, disimpan, dan dilakukan picking untuk dilakukan pengantaran ke penerima.

Peningkatan transaksi e-commerce memerlukan ruang, gudang, dan kendaraan untuk aktivitas urban logistics. Penelitian tentang urban logistics yang dipublikasikan oleh Cushman & Wakefield (2017) menyebutkan bahwa kebutuhan jumlah kendaraan (van) dan ruang (space) untuk bongkar muat dapat ditentukan dengan model perhitungan sebagai berikut:

  1. Pertama, menghitung Volume parcel per kota:
    Jumlah eShopper X Transaksi per eShopper X Rata-rata parcel per transaksi
  2. Selanjutnya, kita dapat menghitung berapa banyak van yang diperlukan untuk pengantaran parcel:
    Volume parcel per kota X Rata-rata loading per van
  3. Akhirnya, kita bisa menghitung kebutuhan space yang diperlukan:
    Jumlah van yang diperlukan X Rasio van

Setelah kebutuhan space untuk urban logistics diketahui, keputusan berikutnya adalah menentukan tingkat pelayanan (service level) berapa jam proses penanganan order sampai paket diterima penerima. Dalam terminologi logistics, hal ini disebut lead time, yaitu waktu yang diperlukan sejak sampai produk diterima.

Evolusi Pengantaran

Saat ini lead time untuk transaksi e-commerce semakin pendek. Pelanggan semakin menuntut proses pengiriman barang semakin cepat. Sejak pelanggan melakukan order pembelian sampai penerimaan barang, mereka mengingkat waktu yang sesingkat-singkatnya. Kalau dulu lead time ini hitungannya hari, sekarang pelanggan mengingkan hitungan jam. Banyak pelanggan saat ini menginginkan penerimaan barang pada hari yang sama (same-day delivery)

Studi yang dilakukan McKinsey (Maret, 2014) dengan publikasi yang diberi judul “Same-day delivery: The next evolutionary step in parcel logistics” menjelaskan evolusi pengantaran parcel dalam model B2C:

Kebutuhan layanan same-day delivery semakin meningkat, terutama untuk transaksi belanja produk-produk yang dijual di convenience store yang semakin banyak melalui e-Commerce atau e-Shopping.

Survei McKinsey (2014) mengenai fitur yang paling diperlukan pelanggan dalam e-Commerce, menyajikan temuan sebagai berikut:

  • Kecepatan, misalnya same-day delivery, 28%
  • Harga, 28%
  • Alternatif tujuan delivery, misalnya pengantaran di alamat kantor, rumah, atau locker, 15%
  • Fleksibilitas waktu pengantaran, misalnya pengantaran dilakukan pada malam hari ketika penerima sudah di rumah setelah pulang dari kantor, 11%
  • Lain-lain, 18%.

Fitur kecepatan, harga, dan alternatif tujuan delivery menjadi preferensi konsumen dalam memilih layanan last-mile delivery untuk belanja melalui e-Commerce.

Bagaimana penyedia jasa logistik memenuhi permintaan pelanggan dengan lead time delivery dalam waktu 12 jam, sejak dari order pembelian sampai barang-barang belanjaan diterima di depan pintu rumah mereka, merupakan tantangan tersendiri. Karenanya, penyedia jasa urban logistics perlu merancang sistem operasi yang memungkinkan dapat memenuhi lead time 12 jam.

Saat ini penyedia jasa logistik/kurir di kota-kota Indonesia tidak banyak yang menyediakan layanan same-day delivery, bahkan dengan skala volume yang relatif masih sedikit dan

pengantaran dalam kota (intracity). Beberapa penyedia jasa logistik yang dapat memberikan layanan same-day delivery masih mengelola proses operasinya secara khusus dengan kapasitas volume delivery yang sangat terbatas.

Ketika volume parcel yang diantar dalam jumlah besar tentu pemenuhan lead time 12 jam dengan pengantaran pada hari yang sama tidak bisa dilakukan. Alternatif solusi dan perbaikan pola operasi perlu dilakukan untuk menjamin same-day delivery.

  1. Penyedia jasa logistik atau kurir dapat memanfaatkan crowded-delivery seperti Uber, Go-Jek, Grab, dan logistics market place lainnya berdasarkan on-demand. Di era sharing economy dan disrupsi teknologi, crowded-delivery mampu memberikan solusi pengantaran same-day. Pengelola e-commerce logistics bekerjasama dengan beberapa operator crowded-delivery untuk melakukan pick-up parcel di fulfillment center atau merchant sesuai order pembelian dari market place, untuk selanjutnya dilakukan pengantaran ke penerima.  Penerimaan order pembelian melalui market place diproses oleh sistem aplikasi e- commerce, untuk selanjutnya perintah penyiapan pengantaran ke penyedia jasa logistik e-commerce. Produk pesanan di-picking sesuai order, packing, sortir, dan pengaturan rute dan skedul pengantaran. Konsolidasi kiriman parcel tetap dilakukan untuk mengoptimalkan kapasitas pengantaran. Sortir kiriman parcel dilakukan sesuai rute dan skedul pengantaran agar memenuhi lead time 12 jam.Kelebihan pemanfaatan crowded-delivery adalah semua biaya pengantaran dapat dikonversi secara variabel, tidak perlu investasi yang cukup besar baik investasi kendaraan maupun rekruitmen pengantar. Namun demikian, kapasitas crowded- delivery masih terbatas. Diperlukan pola kemitraan yang stratejik antara operator logistik e-commerce dengan pengelola crowded-delivery untuk memastikan keandalan pencapaian lead-time 12 jam dengan volume pengantaran parcel yang sangat besar.
  2. Mengelola sendiri pengantaran same-day. Bila same-day delivery dikelola sendiri, operator logistik perlu merancang desain dan pola operasi yang menjamin lead time 12 jam, sejak proses order pembelian sampai pengantaran parcel ke penerima. Desain operasi perusahaan penyedia jasa logistik/pos yang menyediakan layanan same-day delivery sebagai berikut:
  • Menentukan jumlah dan lokasi distribution center di lokasi dengan radius tertentu untuk memastikan dapat melakukan pick-up ke outlet merchant dengan jangkauan waktu sesuai lead time.
  • Melakukan cross-docking dan konsolidasi pengantaran di distribution center, sesuai lokasi titik antaran.
  • Melakukan pengantaran ke penerima.
  • Pengaturan jam order pembelian perlu dilakukan, misalnya DHL menerapkan jadwal order pembelian belanja melalui e-commerce pada jam 06.00 sampai jam 08.00 dan jam 08.00 sampai jam 10.00 dapat dilakukan pengantaran same-day.

Pilihan Moda Pengantaran

Beberapa moda pengantaran parcel dalam urban logistics dapat dipilih sesuai dengan service level dan karakteristik wilayah kota masing-masing.

  1. Kendaraan van. Penggunaan kendaraan van lazim digunakan oleh perusahaan penyedia jasa logistik/pos untuk pengantaran parcel di wilayah perkotaan. Kendaraan van dapat menampung sejumlah parcel sesuai dengan kapasitas kendaraannya. Kelebihan penggunaan van untuk pengantaran parcel mampu membawa parcel dalam jumlah cukup banyak untuk diantar penerima secara multi-drop. Namun demikian, tingkat kemacetan di beberapa kota, khususnya di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Yogyakarta, dan lain-lain, penggunaan kendaraan van untuk pengantaran dalam kota tidak dapat memberikan kepastian sesuai lead time yang distandarkan, khususnya untuk pengantaran same-day. Selain itu, polusi udara yang ditimbulkan dari kendaraan van dan penggunaan bahan bakar menjadi isu go green.
  2. Sepeda motor. Kemudahan akses pengantaran dan kecepatan dengan menggunakan sepeda motor menjadi pertimbangan dalam pengantaran parcel di perkotaan, meskipun kapasitas jumlah parcel yang dapat diantar terbatas.
  3. Sepeda. Beberapa penyedia jasa logistik/pos saat ini menggunakan kembali sepeda untuk pengantaran parcel di wilayah perkotaan. Bila zaman dulu Pak Pos identik dengan sepeda untuk pengantaran surat, paket, dan wesel, saat ini penggunaan sepeda untuk pengantaran parcel di wilayan perkotaan kembali diterapkan. Umumnya kemudahan akses pengantaran dan go green menjadi pertimbangan dalam penggunaan sepeda untuk pengantaran.
  4. Drone. Pengantaran dengan “pesawat tanpa awak” atau yang dikenal dengan “drone” mulai popular digunakan oleh beberapa perusahaan seperti Amazon dan DHL. Penggunaan drone merupakan lompatan dari konvergensi teknologi internet, satelit, geografi spasial, dan pesawat untuk pengantaran parcel di wiayah perkotaan tanpa awak dengan tingkat keakuratan sangat tinggi dan dapat menjangkau ke titik lokasi pengantaran secara luas. Teknologi drone dan regulasi implementasinya masih terus disempurnakan.
  5. Autonomous ground vehicles (AGVs) Di kota-kota negara maju seperti Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Singapura, dan Cina mulai dikenalkan penggunaan AGV untuk pengantaran parcel dengan locker tanpa perlu intervensi manusia. Semuanya dilakukan secara otomatis. Cara kerja AGV seperti ini, penerima diberikan notifikasi kapan jadwal pengantaran dilakukan. Penempatan parcel di kendaraan AGV menggunakan locker. Begitu AGV tiba di lokasi penerima, penerima mengambil parcel sesuai kode locker di AGV tersebut. AGV merupakan penerapan teknologi kendaraan tanpa sopir yang saat ini mulai digunakan di beberapa negara.

***
Dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi pergeseran konsentrasi penduduk dan pusat ekonomi dari kawasan pedesaan ke kawasan kota. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi kawasan perkotaan mengalami peningkatan. Peningkatan pertumbuhan ekonomi perkotaan memerlukan keandalan pasokan barang dan komoditas untuk memenuhi kebutuhan sektor industri dan sektor rumah tangga. Jenis barang dan komoditas ini sangat beragam, mulai dari komoditas pangan, produk-produk kesehatan, barang industri, bahan bangunan, dan lain sebagainya.

Kondisi ini menyebabkan aktivitas logistik perkotaan semakin meningkat. Peningkatan aktivitas logistik perkotaan melibatkan peningkatan arus transportasi barang, penyediaan gudang untuk distribution center dan fulfillment center, dan last-mile delivery.

Pertumbuhan ekonomi perkotaan yang semakin meningkat, perlu solusi logistik perkotaan yang efisien dan ramah terhadap lingkungan. Implementasi kebijakan kawasan logistik perkotaan sebagai gudang pusat konsolidasi dengan prinsip cross-docking, dan penggunaan perusahaan penyedia jasa logistik untuk melayani pengelolaan pergudangan, pengelolaan pengiriman barang-barang dari pemasok, dan distribusi barang-barang ke pengecer atau konsumen, merupakan beberapa cara praktik-praktik terbaik untuk mencapai efisiensi logistik perkotaan.

Bandung, Jln. Riau, 12 Maret 2018

 

Referensi

Cushman & Wakefield, Urban Logistics. 2017
Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Urban Freight and Logistics: The State of Practices in India, 2016
McKinsey, Parcel Delivery The Future of Last Mile. Transport and Logistics, September 2016.
McKinsey, Same-Day Delivery The Next Evolutionary Step in Parcel Logistics. Transport and Logistics, March 2014.

 

 

Retail Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

Hampir semua produsen tidak menjual produk-produknya secara langsung ke konsumen akhir. Antara produsen dan konsumen akhir ada perantara (intermediary) yang berfungsi sebagai saluran pemasaran (marketing channel). Saluran pemasaran ini dikenal juga sebagai saluran perdagangan (trade channel) atau saluran distribusi (distribution channel)

Saluran pemasaran banyak macamnya. Kita mengenal pedagang besar (wholesaler), grosir, distributor, dan pengecer (retailer). Saluran pemasaran memainkan peran penting dalam kesuksesan perusahaan dan memengaruhi semua faktor keputusan strategi pemasaran.

Saluran pemasaran yang menjual produk-produk langsung ke konsumen personal atau rumah tangga sebagai pengguna akhir produk dikenal retailer atau retailer store. Pengecer menjual aneka produk, mulai dari pakaian, makanan, peralatan rumah tangga, buku, peralatan elektronik, dan lain-lain

Tidak masalah bagaimana produk-produk atau jasa tersebut dijual. Apakah penjualan produkproduk tersebut melalui tenaga penjualan, katalog, email, telepon, surat, vending machine, atau penjualan secara online. Demikian pula, di mana penjualan produkproduk dilakukan, apakah penjualan produk dilakukan di toko, jalan, atau bahkan di rumah konsumen.

Sektor ritel bergerak dan tumbuh sangat cepat, secepat perputaran penjualan produk-produknya.

Beberapa peritel melakukan inovasi layanan, mengembangkan strategi jangka panjang, penggunaan teknologi terkini, penerapan sistem informasi yang canggih, dan pemanfaatan marketing tools secara efektif. Sebut saja misalnya, peritel global seperti Uniqlo, Zara, Zappos, H&M, Mango, Topshop, Walmart, dan lain-lain.

Bentuk toko ritel yang lain adalah toko swalayan (supermarket), toko serba ada (department store), toko kombinasi (combination store), hypermarket, toko diskon, factory outlet, dan katalog showroom (Kotler dan Keller, 2015).

Peran Logistik

Logistik ritel (retail logistics) akan menjamin ketersediaan produk-produk dari manufaktur dan pemasok lainnya untuk dijual di toko-toko ritel dalam jumlah yang mencukupi sesuai kebutuhan permintaan pasar, dengan kualitas produk yang terjaga, dan biaya logistik yang efisien.

Saat ini banyak toko ritel – terutama pasar swalayan, yang menjual produk-produk kategori produk-produk yang mudah rusak (perishable goods), seperti ikan segar, buahbuahan, sayur mayur, dan lain-lain. Produk-produk ini memerlukan sistem penyimpanan, transportasi, dan tempat dengan pengaturan temperatur dan kelembaban tertentu.

Logistik ritel telah bertrans formasi, dari sekadar penyimpanan, pengangkutan, dan distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, namun logistik ritel saat ini mencakup pengelolaan demand chain dan supply chain.

Dalam mengelola logistik ritel, kita perlu memahami dan mengidentifikasi kebutuhan konsumen akan jenis produk, berapa banyak kuantitas produk yang diperlukan, dan kapan
produk-produk tersebut diperlukan. Ini yang dikenal dengan demand chain.

Selain mengelola demand chain, logistik ritel mengelola supply chain. Pengelolaan supply chain dalam sektor ritel mencakup order pembelian, distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, pembayaran ke pemasok, dan pengelolaan informasi jenis produk, lokasi, dan kualitas produk yang perlu dipasok dari pemasok ke toko-toko peritel.

Fernie dan Sparks (2014) menyebutkan lima komponen penting dalam logistik ritel, yang dikenal dengan logistics mix sebagai berikut:

  1. Fasilitas penyimpanan (storage facilities). Logistik ritel memerlukan fasilitas penyimpanan berupa gudang (warehouse) atau Distribution Center (DC) atau secara sederhana mungkin sekadar stock point yang menyimpan produk-produk dalam jumlah yang mencukupi untuk menjaga persediaan produk yang optimal, untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan permintaan. Selain itu, fasilitas penyimpanan diperlukan untuk menjaga kualitas dan keamanan produk.
  2. Persediaan (inventory). Umumnya semua peritel menahan atau menyimpan persediaan. Pengelolaan persediaan ini mencakup keputusan penentuan berapa jumlah stock atau persediaan yang harus disimpan, lokasi penyimpanan, kapan melakukan order pembelian, dan berapa jumlah barang setiap order pembelian, untuk menjamin ketersediaan produk dengan biaya penyimpanan persediaan yang paling efisien.
  3. Pengangkutan (transportation). Hampir semua produk memerlukan transportasi untuk
    memindahkan produk dari lokasi produksi ke lokasi konsumsi. Karenanya, peritel harus mengelola transportasi yang dihadapkan pada berbagai jenis moda transportasi, ukuran
    container, jenis armada kendaraan, jadwal keberangkatan dan kedatangan transportasi, ketersediaan dan kesiapan kendaraan termasuk sopirnya.
  4. Unitisasi dan pengepakan (unitization dan packaging) Produk-produk consumer umumnya dijual di toko ritel dalam jumlah dan ukuran yang kecil. Sementara produk-produk yang dipasok dari manufaktur dalam ukuran dan jumlah besar seperti container. Karenanya, dalam logistik ritel diperlukan unitisasi dan pengepakan. Unitisasi akan menyatukan produkproduk ritel dalam satuan kecil menjadi ukuran yang lebih besar. Produk dalam kemasan dengan satuan kaleng atau piece misalnya, akan disatukan menjadi satuan karton, box, atau pallet. Selain itu, untuk kepentingan handling dalam logistik ritel menuntut pengepakan produk yang kuat, mudah, dan efisien ketika dilakukan handling selama proses transportasi, penyimpanan, material handling, dan pemajangan produk di rak (shelves management).
  5. Komunikasi (communications). Komunikasi memegang peran penting dalam sistem logistik ritel. Untuk mendapatkan informasi dimana produk dijual, jenis produk, berapa banyak, kapan, dan siapa pembeli produk-produk ritel, diperlukan sistem informasi dan komunikasi yangmemadai. Tidak hanya informasi mengenai sisi permintan dan penawaran produk, melainkan informasi mengenai volume, stock, harga, dan pergerakan atau fluktuasi penjualan produk. Informasi ini penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem operasi logistik ritel.

Kelima komponen logistik ritel ini saling berkaitan. Kinerja logistik ritel ditentukan oleh
koordinasi, harmonisasi, dan integrasi antarkomponen. Pengepakan dan unitisasi produk dari manufaktur akan menentukan kinerja pengangkutan dan penyimpanan. Informasi demand dan supply chain akan menentukan jumlah persediaan, jenis produk, dan fasilitas dan lokasi penyimpanan untuk pendistribusian produk-produk di toko-toko ritel.

Tolok ukur keberhasilan logistik ritel sejatinya ditentukan oleh logistics cost dan service level. Logistics cost berhubungan dengan biaya logistik total mulai dari biaya pemesanan, pengangkutan, penyimpanan, distribusi, dan penataan produk di toko-toko ritel. Sementara service level terkait erat dengan ketepatan jenis produk, waktu, lokasi, keamanan, keutuhan, dan kualitas produk selama proses aktivitas logistik sampai produk digunakan consumer. Dalam pengelolaan logistik ritel, sebagian dikelola sendiri (in-house logistics) dan sebagian diserahkan ke pihak ketiga (outsourcing logistics) ke 3PL company

Desain Logistik Ritel

Di era kompetisi bisnis yang semakin ketat, daya saing perusahaan tidak hanya ditentukan oleh keunggulan komparatif yang mengandalkan sumber daya dan kapabilitas organisasi. Saat ini kompetisi didasarkan pada kompetisi berbasis waktu (timebased competition).

Setidaknya ada tiga dimensi dalam time-based competition seperti diujarkan oleh Christopher dan Peck (2003). Organisasi perusahaan harus mengelola time-based competition secara efektif untuk merespon perubahan lingkungan bisnis. Ketiga time-based competition tersebut adalah:

  • time to market : kecepatan perusahaan untuk mengkomersialisasi peluang bisnis ke pasar;
  • time to serve : kecepatan perusahaan dalam memenuhi order pelanggan; dan
  • time to react : kecepatan perusahaan dalam menyesuaikan perubahan permintaan yang berfluktuasi secara cepat.

Pendekatan kompetisi berbasis waktu mendorong perusahaan untuk mengembangkan strategi lead-time dalam pengelolaan bisnis. Semakin cepat dan pendek lead-time, maka perusahaan akan unggul.

Kunci keberhasilan bisnis sektor ritel terletak pada pengelolaan strategi lead-time ini. Logistik ritel tidak hanya persoalan pengelolaan inventory, penyimpanan, dan transportasi. Logistik ritel mencakup pengelolaan supply chain dan customer chain. Bila perusahaan berhasil dalam mengelola supply chain dan customer chain, maka penciptaan nilai akan dihasilkan. Ini yang
dikenal dengan value chain sebagaimana dicetuskan pertama kali oleh Porter (1985).

Dalam logistik ritel, distribusi dibedakan menjadi primary distribution dan secondary distribution. Primary distribution merupakan distribusi produk dari pabrik ke warehouse atau DC. Sementara secondary distribution merupakan distribusi produk dari warehouse atau DC ke toko peritel.

Kotler dan Keller memberikan penamaan market logistics untuk menyebut logistik ritel ini. Dalam pandangan Kotler dan Keller (2015), market logistics mencakup perencanaan infrastruktur logistik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, untuk selanjutnya mengimplementasikan dan mengendalikan aliran produk-produk consumer dari titik asal ke titik tujuan sesuai kebutuhan pelanggan secara efisien dan efektif.

Alan McKinnon (1996) dalam Fernie dan Sparks (2014) memberikan rekomendasi untuk peningkatan kinerja logistik ritel dalam era time-based competition.

  1. Perusahaan ritel harus meningkatkan pengendalian atas secondary distribution dengan
    cara menggunakan DC dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang
    andal. Saat ini produk-produk ritel dipasok dari berbagai negara, selain itu
    ketergantungan antaraliran produk semakin tinggi. Karenanya, operasional
    logistik harus terintegrasi, utamanya dalam pemenuhan order, pengisian
    stock, dan pengendalian aliran informasi pergerakan dan penyimpanan barang.
  2. Perusahaan ritel harus melakukan restrukturisasi sistem logistiknya dengan cara
    mengurangi tingkat persediaan barang, meningkatkan efisiensi melalui
    pengembangan “composite distribution”, yaitu distribusi produk-produk yang
    memerlukan tingkat temperature sama dalam satu DC dan satu kendaraan.
    Selain itu, perusahaan harus menerapkan sentralisasi warehouse untuk produk-produk yang slower moving dengan cara penggunaan warehouse bersama (common stock
    rooms).
  3. Perusahaan hendaknya mengadopsi “Quick Response” (QR). Tujuan dari penerapan QR untuk memangkas tingkat persediaan dan meningkatkan kecepatan aliran produk. Penerapan QR dapat mengurangi order lead time dan frekuensi pergerakan delivery barang antara DC dan toko.
  4. Perusahaan harus meningkatkan utilisasi aset dan infrastruktur logistik dengan cara mengintegrasikan sistem jaringan primary distribution dan secondary distribution melalui penerapan Electronic Data Interchange (EDI). Penerapan EDI ini akan mengurangi waste karena perencanaan aliran fisik produk, dokumen, dan keuangan
    dapat diatur dengan baik.
  5. Perusahaan harus meningkatkan aliran return packaged material and handling equipment untuk recycling atau re-use dengan cara mengembangkan “reverse logistics”.
  6. Perusahaan mulai mengenalkan pendekatan Supply Chain Management (SCM) and Efficient Consumer Response (ECR) untuk meningkatkan efisiensi operasi logistik. Kolaborasi antarpemasok untuk memaksimalkan kapasitas logistik akan dicapai efisiensi logistik ritel. Penggunaan fasilitas pergudangan dan moda transportasi bersama akan meningkatkan skala ekonomis sistem logistik.

Perkembangan dan tantangan logitistik ritel semakin meningkat terutama dipicu oleh
teknologi internet yang memungkinkan perusahaan menerapkan strategi penjualan
produk secara online, online dan offline, dan bahkan strategi ritel telah berkembang menjadi
strategi Omni-channel.

Kemajuan teknologi internet memang dapat mendisrupsi bisnis sektor ritel, utamanya para pebisnis ritel konvensional, yang masih menggunakan satu saluran penjualan dalam berinteraksi dengan pelanggannya. Atau, kalaupun mereka telah mulai mengembangkan berbagai saluran penjualan (multichannel), antarsaluran tersebut tidak terintegrasi.

Akibatnya, perusahaan tidak dapat menangkap dan memberikan pelayanan penjualan secara maksimal ke pelanggannya, utamanya pelanggan yang telah menggunakan berbagai saluran media komunikasi: media sosial online sebagai netizens.

Keberhasilan bisnis ritel sejatinya ditentukan oleh empat faktor: ketepatan (pacing), pandangan global (span), ketersediaan (availability), dan informasi (Fernie dan
Sparks, 2014).

Peritel pakaian yang telah memiliki jaringan global dan sukses seperti Zara contohnya, kunci keberhasilannya terletak pada kecepatan dalam time to market, time to service, dan time to react. Toko-toko Zara ramai dikunjungi pelanggannya dan produk-produknya selalu dibeli karena desain produk pakaian Zara selalu baru, tidak jarang produk-produk tersebut tidak produksi dan dijual lagi.

Akibatnya, pelanggan Zara selalu datang dan membeli produk-produk pakaian Zara.
Bila para produsen pakaian hanya meluncurkan mode pakaian satu tahun sekali, tidak seperti Zara. Zara selalu meluncurkan produk pakaian mode baru setiap 2 minggu sekali. Dalam mendesain produk-produk pakaian, Zara mendengar dan melibatkan pelanggannya. Zara mencari tahu banyak mode pakaian apa yang diinginkan pelanggannya, serta mode pakaian apa yang saat ini menjadi tren.

Zara mengintegrasikan desainer, pemasok, dan toko ritelnya melalui pendekatan SCM yang andal. Akibatnya, Zara dapat mempendek lead time dan mendeliver produk-produk pakaian ke pasar dengan tepat.

Sekali lagi, kunci keberhasilan Zara terletak di pacing atau speed-nya. Selain pacing, para peritel harus mengembangkan pandangan global. Saat ini komponen produk dipasok dari
berbagai negara. Produsen dan peritel harus mencari sumber pasokan produk yang paling murah dan biaya logistik yang paling efisien.

Ketersediaan (availability) menjadi kunci keberhasilan. Para peritel harus memastikan produk tersedia baik di toko maupun online. Logistik berperan penting dalam menjamin ketersediaan produk di toko dan ketepatan dalam pengiriman produk ke konsumen.

Informasi, bukan hanya pergerakan fisik produk, yang perlu menjadi perhatian dalam logistik ritel. Informasi aliran produk sangat penting untuk perencanaan forecasting penjualan, pemesanan produk, penentuan tingkat inventory, penyimpanan produk di gudang, pengelonaan transportasi, dan penyimpanan produk di rak-rak toko ritel.

Penerapan ICT sistem logistik yang andal menjadi kunci keberhasilan dalam sistem informasi manajemen logistik ritel.

Peran bisnis ritel sangat penting dalam penjualan produk-produk yang dihasilkan dari
sektor primer dan sekunder, seperti manufaktur, pertanian, dan perikanan. Produk-produk
tersebut didistribusikan ke toko-toko ritel secara tepat jenis produk, tepat waktu, tepat lokasi,
dengan kondisi atau kualitas tetap terjaga, dan dengan biaya distribusi yang paling efisien.

Seringkali kita sebagai konsumen beranggapan bahwa ketersediaan produk di toko ritel dalam jumlah yang mencukupi dan dengan kualitas yang baik merupakan sesuatu yang biasa. Padahal, untuk menjamin ketersediaan produk (product availability) dengan tepat, baik tepat kuantitas maupun kualitas memerlukan solusi sistem logistik yang andal. Dalam hal ini, logistik berperan penting dalam bisnis ritel.

Detail : Artikel ini dimuat  di Truck Magz – 45 / IV / MARCH 2018 (page 42 – 47)

Logistics & Supply Chain Review

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

Materi : Logistics & Supply Chain Review