Posts

Jejak Digital

Fathul Wahid, Ph.D. Dosen Program Magister Informatika, Universitas Islam Indonesia (UII), Peminat Studi TIK di sektor Publik dan untuk Pembangunan. Saat ini dia adalah Chief Information Officer UII.

– – –

Jejak Digital

SEBUAH email yang masuk siang itu membuat saya dan beberapa kawan dosen di jurusan, tersenyum kecut dan sekaligus merasa kasihan. Seorang lulusan meminta penggatian berkas digital skripsi yang diunggah di repositori. Apa pasal?

Calon pasangannya mempunyai sebuah permintaan kepadanya untuk menghapus nama seseorang yang termaktub dalam daftar ucapan terima kasih skripsinya. Tentu, permintaan tersebut tidak kami kabulkan. Skripsi adalah dokumen akademik resmi.

Moral apa yang kita bisa petik? Kawan saya mengatakan, “jejak digital itu sangat kejam.” Saya sepakat. Terlalu banyak kisah di media daring, khususnya media sosial, yang memperkuat pendapat ini . Ketika seseorang ‘berulah’ dan memancing kemarahan banyak orang, tidak jarang dia ‘ditelanjangi’ dengan bukti dari jejak digital lampaunya. Bahkan, Pemerintah Amerika Serikat, menggunakan jejak digital di media sosial lima tahun terakhir sebagai salah satu dasar penerbitan visa pengunjung.

Sampai hari ini, masih banyak pengguna media sosial yang tidak sadar bahwa, layar gawai merupakan pintu gerbang ruang publik. Saat ini, pembatas ruang privat dan publik menjadi sangat tipis. Konten yang ke luar dari gawai ke media sosial laksana binatang binal keluar dari kandang. Kendali tidak lagi menjadi milik kita.

Kita bisa memproduksi konten di manapun, bahkan di kamar kecil yang pengap sekalipun, selama gawai terkoneksi Internet. Konten dapat dengan mudah menjadi viral di media daring tanpa seorang pun dapat mengendalikannya. Konten dan peredarannya akan membuat jejak digital. Sialnya, umur jejak ini berbeda dengan jejak kaki di tepi pantai yang mudah tersapu ombak. Jejak digital tetap ada selama repositori daring masih menyimpannya. Kita dapat menghapus jejak digital awal di halaman sosial media kita. Namun, siapa yang dapat menjamin bahwa konten tersebut tidak tersalin di tempat lain.

Apa yang bisa kita lakukan? Yakinkan bahwa konten yang kita unggah ke media daring atau kita sebar mempunyai manfaat. Manfaat bisa mewujud dalam banyak bentuk, mulai dari membagi kebahagian karena mendapat nikmat, menjalin persahabatan, menebar inspirasi, memompa semangat, sampai dengan menasihati diri sendiri dan orang lain. Pastikan ada unsur kebaikan di sana. Sebaliknya, hindari konten yang memantik fitnah, menebar kebencian, mengusik kedamaian, membuat polarisasi sosial, membunuh empati, dan melukai hati. Pesan Nabi Muhammad beberapa abad lalu masih valid sampai detik ini : “Katakanlah yang baik atau diam.”

Jejak digital dari konten ini akan menjadi wajah kita, membentuk konsepsi orang atas kita. Bisa jadi, saat ini, kita sudah berubah dan hijrah. Walapun konten negatif yang kita produksi bertahun-tahun lalu masih tersimpan di repositori daring dan masih dijadikan rujukan orang, bahkan anak-cucu, dalam melihat kita. Baca lagi ilustrasi pembuka tulisan ini. Konten produksi kita dapat menjadi sumber stigma.

Saat ini, adagium ‘mulutmu harimaumu’ perlu dilengkapi dengan ‘jarimu harimaumu’. Karenanya, tinggalkan jejak digital yang baik. Hati-hati dengan jari-jari kita!Jika tidak, penyesalan pasti muncul di kemudian hari.

Momentum Ramadan ini, ketika muslim diminta melatih kendali diri dan menebar manfaat untuk sesama, nampaknya sangat tepat untuk memulai gerakan ini. Mari!

Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 18 Mei 2018)

PPs FTI UII, Menerima Mahasiswa Baru

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Ketua Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta, membuka kesempatan bagi lulusan S1 untuk melanjutkan studi S2 di PPs FTI UII, disampaikan di ruang kerja ketua PPs FTI UII, lantai 1 Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII Yogyakarta (27 Maret 2018)

Merujuk Surat Keputusan No 130/Dir/20/PPs.FTI/III/2018 tentang Periode Pendaftaran Penerimaan Baru semester ganjil tahun 2018/2019, terdapat 3 periode pendaftaran.

  • Periode 1, pendaftaran mulai 2 April sd 25 Mei 2018, tes kolektif 26 Mei 2018 dan pengumuman pada tanggal 31 Mei 2018.
  • Periode 2. pendaftaran mulai 1 Juni sd 27 Juli 2018, tes kolektif 28 Juli dan pengumuman pada tanggal 31 Juli 2018
  • Periode 3. pendaftaran mulai 1 sd 24 Agustus 2018, tes kolektif 25 Agustus dan pengumuman pada tanggal 28 Agustus 2018

PPs FTI UII membuka Magister Teknik Industri dan Magister Teknik Informatika

Jerri Irgo

Bagaimana (WiFi) Internet di UII bisa mencapai 200-an Mbps

Dr. Andri Setiawan, Pengajar pada Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia
– – –

 

Setiap kali saya menceritakan kalau kecepatan internet menggunakan WiFi di UII bisa mencapai 200an Mbps, sering kali ada wajah-wajah tidak percaya. Kok bisa? Sampai kemudian saya mendemokan speedtest di depan mereka (ketika berkunjung ke UII), dan malah membikin “jaw dropping” banyak orang, kalau orang Jawa bilang, bikin ngowoh hehe.

Pernah pada suatu ketika ada tamu dari salah satu universitas negeri di Jakarta berkunjung ke UII, kebetulan kami mendemokan beberapa sistem, dan browsing beberapa website, pertanyaan yang muncul berikutnya,”Kok membuka website di sini bisa cepat ya? Kok di tempat kami lambat ya?”. Yang lebih mengherankan, ketika saya tanya, berapa kapasitas bandwidth yang mereka miliki, ternyata jawabnya adalah sekitar dua kali lipat yang dimiliki oleh UII. Jadi, mengapa di UII bisa mendapatkan kecepatan sampai secepat ini, dan di kampus lain tidak?

Speedtest WiFi di kampus UII dengan menggunakan Mi 6 yang support 802.11ac

Dua tahun lalu (2016), sebenarnya di UII nasibnya tidak jauh berbeda dengan kebanyakan kampus di Indonesia pada umumnya. Kalau dicek di Twitter atau media sosial lain, tidak jarang mahasiswa UII mengeluh, macam “Ini internet kok kayak keong !!! lambat, dlsb”. Segala macam sumpah serapah, rasa frustrasi, dan berbagai macam hal sejenis seperti menjadi sebuah rutinitas. Terkoneksi wifi, tapi tidak bisa membuka website, dan kadang lebih parah, untuk sekedar memasukkan login saja, halaman login tidak muncul. Padahal UII sebenarnya saat itu sudah berlangganan hingga 400Mbps, tapi konsumsi se kampus paling banyak sebesar 150Mbps. Sounds familiar? Ya karena memang begitulah kebanyakan koneksi di kampus-kampus Indonesia.

Perubahan signifikan mulai terjadi pada pertengahan 2016. Yang tadinya kecepatan internet berkisar 1Mbps per pengguna, mulai beranjak naik secara bertahap, dari 2Mbps hingga pada akhirnya sekarang bisa lebih dari 200Mbps per pengguna. Kembali ke pertanyaan awal, mengapa bisa naik begitu cepat dalam jangka waktu tidak terlalu lama?

Jawaban pertama adalah filosofi atau value yang hendak kami capai. Internet, saat ini sudah seperti di hukum Maslow tentang kebutuhan dasar manusia, sandang, papan, dan pangan. Dia menjadi kebutuhan mendasar setiap stakeholder di UII, terutama MAHASISWA. Di sini perlu saya highlight kata kuncinya, MAHASISWA. Perubahan internet harus dirasakan pertama kali oleh mahasiswa, bukan dosen, dan bukan pula staf. Seringkali pihak kampus di banyak tempat melihat mahasiswa menempati prioritas terakhir, dosen beralasan mereka butuh kerja yang baik, sehingga wajar dapat prioritas tinggi di koneksi, sementara mahasiswa tidak. Padahal jumlah mahasiswa pasti lebih banyak daripada dosen, sehingga prioritas seharusnya ada di mereka. Dari sinilah kemudian perubahan mulai terjadi.

Kampus kami adalah kampus swasta, uang berasal dari mahasiswa, dan setiap semester mereka harus membayar biaya IT. Biaya inilah yang HARUS kami kembalikan ke mahasiswa, agar mereka mendapatkan balik fasilitas atas apa yang mereka bayarkan.

Perencanaan kemudian kami lakukan agar kami bisa mendapatkan yang terbaik. Maka langkah kedua yang dilakukan adalah, think like enterprise. Kampus sering mengira mereka bukanlah enterprise, padahal kampus adalah lebih enterprise daripada enterprise. Sehingga, seringkali perencanaan masih dibuat ala kadarnya. Pengelola IT kampus masih melihat koneksi WiFi seperti membangun hotspot warnet atau cafe. Padahal user base kampus berjumlah ribuan, bahkan puluhan ribu, bukan di angka puluhan saja. Ketika kemudian cara berfikir enterprise ini hadir, maka seluruh pendekatan pun akan berbeda.

Konsekuensi berfikir enterprise apa? Tentu di antaranya akan muncul angka-angka modal yang sedikit fantastis. Tapi, tentu melihatnya jangan melihat angka di awal. Melihatnya dengan cari membagi angka enterprise tadi dengan jumlah mahasiswa. Insya Allah harga akan menjadi murah. Implikasi teknis di lapangan seperti apa?

Ibarat sebuah tubuh, untuk menjamin lancarnya aliran darah, maka kolesterol-kolesterol pengganggu harus dibereskan. Begitu pula dengan network. Di UII, dilakukan perubahan besar-besaran (recabling WiFi), sampai titik terakhir. Kami menggunakan kabel jaringan Cat6A untuk menjamin kualitas link dan future proof. Begitu pula perangkat switch yang kami pilih adalah kelas enterprise. Kembali di sini, kampus harus sadar diri, kelas enterprise jangan memakai perangkat kelas SMB (small medium business).

Access Point (AP). Ini adalah hal terpenting kedua. Satu, dia harus berkelas enterprise, bisa dijejali hingga ratusan user, dan kapasitas alat per buah harus > 1 Gbps. Harga tentu saja akan menyesuaikan, tidak ada lagi AP di UII seharga satu juta per buah. Yang jelas, hasil berbicara 😀

Single SSID multiple VLAN. Di UII, kami hanya membroadcast beberapa sinyal SSID, baik dosen maupun mahasiswa akan terhubung ke SSID yang sama, akanb tetapi mereka akan mendapatkan VLAN berbeda-beda. Tidak ada lagi WiFi fakultas X, Wifi fakultas Y, dst. Yang ada adalah UIIConnect, eduroam dan UIIGuest. User internal bisa terhubung ke UIIConnect atau pun eduroam, sementara tamu bisa menggunakan eduroam (jika memungkinkan) atau UIIGuest.

802.1x. Konsep WiFi di UII adalah set and forget. Cukup sekali saja memasukkan username dan password, kemudian pengguna tidak akan pernah diminta kembali, kecuali mereka mangganti password mereka. Autentikasi dilakukan selanjutnya di belakang layar, tanpa interaksi user sama sekali. Perngkat yang akan otomatis melakukan proses autentikasi di belakang layar. Dengan konsep seperti ini, tidak ada lagi captive portal yang mengganggu user, dan menghambat user untuk terhubung ke jaringan. Dengan konsep ini, bahkan yang dahulu tidak merasa membutuhkan koneksi WiFi jadi merasa butuh, contohnya Satpam 🙂 Mengapa? Karena koneksi sangat mudah sekali. Saat ini, begitu user masuk ke kampus UII, smartphone mereka akan langsung terhubung secara otomatis.

Upstream internet yang besar. Begitu jalur di bawah (ke user) sudah lancar, maka sekarang tugas yang di atas untuk membesarkan kanal. Hingga tulisan ini dibuat, konsumsi internet UII telah mencapai > 2Gbps (total) di siang hari. Kemudian untuk menjamin kelancaran, koneksi harus dibuat redundan dari beberapa ISP.

Masih banyak lagi tips yang lain, tapi terlalu panjang untuk ditulis di sini. There, I’ve done it  kalau masih ada pertanyaan, silakan datang ke UII untuk diskusi infrastruktur dengan kami. Kami akan sangat senang berdiskusi.

Selamat datang internet cepat!

Yogyakarta,  2 February 2018

Virtualisasi Server Forensic

soni-wirayudha

“Virtualisasi server ini merupakan teknologi yang memungkinan menjalankan beberapa system operasi dalam waktu yang sama dan menjalankan fungsinya masing-masing. Dimana sekarang ini banyak perusahaan yang memanfaatkan serta menggunakan virtualisasi server, sehingga dengan banyaknya penggunaan virtualisasi server ini tentu akan memunculkan celah kejahatan baru apabila salah satu servernya digunakan untuk melakukan tindak kejahatan”.

Soni Wirayudha, menjadikan hal tersebut alasan melakukan penelitian tugas akhirnya sebagai Mahasiswa Konsentrasi Digital Forensik Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri (PPs FTI UII).

“Hal ini tentunya akan menimbulkan sebuah tantangan dan menyulitkan penyidik dalam mengungkapkan dan menemukan petunjuk bukti dgital yang tertinggal dalam mesin vrtualnya” ujarnya sesaat setelah dinyatakan Lulus sebagai Magister Komputer (24 Desember 2016).

Mahasiswa asal Riau ini menambahkan “Walaupun saat ini belum banyak kejahatan yang memanfaatkan virtualisasi server sebagai media kejahatan namun untuk kedepannya sangat berpotensi untuk digunakan oelh para pelaku kejahatan. Dalam penelitian ini, saya menggunakan metode live forensic dan melakukan tiga buah model teknik akuisisi virtualisasi. Dari ketiga teknik ini akan dilakukan implementasi serta uji coba untuk mengakuisisi salah satu server nya saja tanpa mengganggu atau mematikan system operasi lainnya yang sedang berjalan”.

Berdasarakan uji coba yang dilakukan ini diketahui apabila dilihat dari sisi waktu teknik akuisisi model merupakan teknik akuisisi yang lebih baik karena penggunaan yang lebh sedikti dari kedua teknik akusisi lainnya, sedangkan apabila digunakan untuk cloud maka teknik akuisisi model II adalah teknik akuisi yang paling di rekomendasikan karena ada fitur backup melalui portalweb yang telah dimiliki langsung oleh virtualiasi servernya.

“Jadi ketika mengakuisi ttidak perlu datang langsung ke penyedia layanan servernya . Untuk indicator teknik mana yang direkomendasikan dan paling baik tentu saja tergantung dari situasi dan kondisi serta kebutuhan dari kasus yang akan terjadi” tegasnya

“Alhamdulillah perjuangan dalam menempuh studi , semua tidak lepas dari dukungan dan bantuan dari Yudi Prayudi, S.Si., M.Kom dan Dr. Bambang Sugiantoro, MT selaku pembimbing sangat membantu sekali dalam proses menyelesaikan penelitian saya. Banyak masukan dan arahan yang diberikan kepada saya. Dan juga dosen penguji Ahmad Luthfi , S.Kom., M.Kom selaku dosen penguji juga sangat membantu dalam memberikan masukan dan saran-saran untuk penelitian ini” pungkas Soni.

Jerri Irgo