Posts

Berma, Kuliah di MTI Sangat Menyenangkan

Berma Septiyanda, Mahasiswa Magister Teknik Industri (MTI) Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta,  ungkapkan alasan mengapa kuliah di MTI.

“Selain memiliki Konsentrasi yang sesuai dengan minat dan ter-update seperti Logistik, Supply Chain dan Ergonomi K3. MTI memiliki metode belajar yang menarik, fleksibel memungkinkan  untuk Mahasiswa dan Dosen selalu berinteraksi walaupun diluar ruang kelas” ungkapnya saat ditemui di ruang kuliah PPs 1 FTI UII Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII Yogyakarta (24 Februari 2018).

Baca : Tantangan Profesional Teknik Industri

Hal tersebut sangat beralasan karena MTI PPs FTI UII saat ini memiliki 4 konsentrasi yaitu Teknik Industri, Manajemen Industri, Ergonomi dan Keselamatan & Kesehatan Industri dan Logistic & Supply Chain Management. Serta dukungan staf pengajar dari profesional salah satunya Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia juga menjabat Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) periode 2018-2023.

Berma Septiyanda, menambahkan “Selain itu, banyak program yang dapat menunjang kebutuhan untuk kedepannya, seperti pelatihan, kunjungan. Pastinya Kuliah di MTI sangat menyenangkan” tutur mahasiswa MTI angkatan 2016 tersebut

Baca Juga : Knowledge, Skill dan Attitude

Secara terpisah Dr. Ir. Elisa Kusrini, MT, CPIM, CSCP, Sekretaris PPs FTI UII melengkapi keunggulan mengapa Kuliah di MTI PPs FTI UII, diantaranya selain Akreditasi B dari BAN PT, juga dapat meraih Double Designation: gelar Magister Teknik (MT) dan gelar Sertifikasi Internasional – Certified International Project Manager (CPIM) atau Accredited Supply Chain Analyst (ASCA) (Optional). “Mahasiswa juga mendapatkan kesempatan mengambil Sertifikasi Keahlian dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi / BNSP – (Certified Risk management Officer) dan tersedia Beasiswa dalam bentuk SPP dan Bantuan Biaya Riset (Tesis)” pungkasnya

Jerri Irgo.

Kapabilitas Jasa Logistik Inovatif

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Selamat siang, salam sukses mulia untuk kita semua

Perkenankan saya mewakili praktisi pelaku usaha perusahaan jasa logistik, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Sdr. Darjat Sudrajat, Promovendus Program Doktor Ilmu Manajemen Binus.

Penelitian Sdr. Darjat mengenai Kapabilitas Jasa Logistik Inovatif ini sangat relevan dan memberikan insight bagi kami, para pelaku perusahaan jasa logistik Indonesia, di tengah era disrupsi berbagai bisnis, tidak kecuali perusahaan jasa logistik.

Izinkan saya menyampaikan pandangan pentingnya peningkatan kapabilitas jasa logistik inovatif ini, dari sisi konteks maupun praktik-praktik terbaiknya.

Bapak, Ibu, hadirin yang saya hormati,
Perubahan lingkungan bisnis sangat cepat. Utamanya perubahan ini dipicu oleh perkembangan kemajuan teknologi dan perubahan sosial dan bisnis. Implikasi dari perubahan lingkungan bisnis ini memengaruhi tren logistik dalam 5 sampai dengan 10 tahun mendatang.

Logistik dipandang sebagai bagian dari aktivitas supply chain, berperan dalam perencanaan, implementasi, dan pengendalian arus barang dan informasi, dari titik asal ke titik tujuan secara efisien dan efektif. Dalam banyak perusahaan, aktivitas logistik ini sebagian dialihdayakan (outsource) ke perusahaan penyedia jasa logistik, yang dikenal dengan perusahaan 3PL (third- party logistics). Inti dari aktivitas logistik ini adalah pengelolaan transportasi, pergudangan, dan distribusi, baik untuk tujuan domestik maupun internasional.

Dari perspektif strategi, perubahan lingkungan bisnis dipetakan menjadi dua dimensi. Dimensi pertama adalah dampak perubahannya terhadap perubahan model bisnis. Dimensi lainnya adalah dampak perubahannya dari sisi waktu. Dimensi waktu ini dibedakan menjadi rentang waktu kurang dari 5 tahun dan lebih dari 5 tahun.

Tren logistik dalam beberapa tahun mendatang dipengaruhi oleh tren sosial, bisnis, dan tren teknologi. Tren sosial & bisnis dipicu oleh perubahan perilaku masyarakat dan pebinis.

Pemerintah telah menerbitkan Paket Kebijakan XV dengan fokus untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan daya saing perusahaan penyedia jasa logistik nasional. Pertimbangan penerbitan paket kebijakan ini didasari fakta bahwa rasio biaya logistik Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih cukup tinggi, yaitu berkisar antara 24% sampai dengan 26%.

Dibandingkan dengan negara-negara lain biaya logistik Indonesia relatif tinggi. Biaya logistik di Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman antara 8% sampai 9%. India 11% dan Tiongkok 17% (ADB, 2012).

Sementara dari komponen harga jual produk-produk ritel (consumer goods), di Indonesia biaya logistik menyerap 40% dari harga jual produk ritel. Komponen terbesar biaya logistik 72%-nya merupakan biaya transportasi.

Perhatian Pemerintah untuk mengembangkan usaha dan peningkatan daya saing perusahaan penyedia jasa logistik nasional sangat tepat. Perusahaan penyedia jasa logistik berperan penting dalam turut berkontribusi terhadap biaya logistik secara agregat di Indonesia.

Umumnya, perusahaan menyerahkan pengelolaan aktivitas logistiknya ke perusahaan penyedia jasa logistik. Kualitas layanan dan efisiensi biaya dalam pengelolaan logistik oleh perusahaan penyedia jasa logistik ini akan menentukan kinerja logistik dan biaya logistik perusahaan secara mikro dan biaya logistik nasional secara agregrat.

Paket Kebijakan XV ini juga menunjukkan perhatian pemerintah terhadap perusahaan- perusahaan penyedia jasa logistik nasional, alih-alih perusahaan penyedia jasa logistik asing.

Perusahaan penyedia jasa logistik hadir untuk memberikan solusi pengelolaan logistik. Perkembangan perusahaan logistik semakin pesat seiring dengan adanya kebutuhan perusahaan-perusahaan untuk meng-out source-kan aktivitas logistik ke perusahaan penyedia jasa logistik.

Peningkatan kinerja logistik dan penurunan biaya logistik nasional dapat dilakukan dengan melakukan continuous improvement dan inovasi layanan perusahaan-perusahaan penyedia jasa logistik nasional, utamanya perusahaan 2PL dan 3PL.

Fokus continuous improvement dilakukan pada peningkatan kualitas layanan dan cost reduction perusahaan penyedia jasa logistik. Peningkatan kinerja perusahaan penyedia jasa logistik

mencakup performance level (1) reliability, (2) responsiveness, (3) flexibility, (4) costs, dan (5) assets management.

Perusahaan penyedia jasa logistik nasional perlu membangun dan meningkatkan kualitas relationship management dengan pelanggannya. Perusahaan penyedia jasa logistik perlu memahami perspektif dan aspirasi pelanggan:
•    Pelanggan menuntut kualitas layanan logistik yang superior;
•    Pelanggan menuntut kepercayaan, keterbukaan, dan information sharing;
•    Pelanggan menuntut inovasi solusi atas permasalahan logistics dan supply chain yang mereka hadapi;
•    Sistem IT yang capable dan andal;
•    Pelanggan menuntut kejelasan service level  agrements;
•    Pelanggan menuntut service offering yang selaras dengan customer strategy dan pemahaman industri pelanggan secara mendalam.

Penerapan dan pengembangan ICT (information and communication technology) dalam pengelolaan logistics dan supply chain yang advanced, baik penerapan ICT untuk core logistics service seperti transportation management system (TMS), warehouse management system (WMS), freight management system (FMS), order management system (OMS), maupun penerapan supply chain technology innovations seperti internet of things, mobile connectivity, dan functional automation.

Inovasi dan pengembangan layanan logistik yang berbasis logistics & supply chain solution menjadi kebutuhan pelanggan saat ini, tidak hanya layanan basic logistics services. Perusahaan penyedia jasa logistik nasional perlu melakukan inovasi dan pengembangan layanan logistik seperti reverse logistics, cross-docking, freight bill auditing and payment, transportation planning and management, inventory management, product labeling, packaging, assembly, kitting, order management and fulfillment, service part logistics, fleet management, information technology (IT) services, supply chain consultancy services, dan customer service untuk memberikan solusi supply chain management pelanggan.

Dalam konteks makro, menjadi tugas pemerintah untuk menciptakan iklim usaha sektor perusahaan penyedia jasa logistik nasional agar efisien dan memiliki daya saing tinggi. Penyediaan dan perbaikan kualitas infrastruktur logistik seperti jalan, pelabuhan, rel kereta api, stasiun, terminal, teknologi telekomunikasi, dan lain-lain untuk meningkatkan kinerja layanan perusahaan penyedia jasa logistik nasional, dan meningkatkan connectivity desa-kota, pusat dan hub logistics domestik dan international.

Perbaikan sistem dan prosedur birokrasi pemerintah, mulai proses perizinan, pengawasan dan pembinaan, customs, perpajakan, perbankan, dan pasar modal, yang memungkinkan perusahaan penyedia jasa logistik nasional mampu bersaing dengan perusahaan penyedia jasa logistik asing, serta mendorong agar perusahaan penyedia jasa logistik nasional go to global market.

Tidak kalah penting, peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan organisasi perusahaan penyedia jasa logistik nasional melalui pengajaran dan riset keilmuan logistics dan supply chain management, pendidikan vokasi logistik, dan sertifikasi perlu menjadi perhatian pemerintah untuk membangun kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia dan organisasi sebagai “inti daya saing” perusahaan penyedia jasa logistik nasional.

Hadirin yang terhormat,
Dalam konteks inilah hasil penelitian Sdr. Darjat memberikan panduan stratejik bagi kami, dari aspek manajerial, untuk selalu mengembangan inovasi layanan logistik, agar perusahaan jasa logistik Indonesia mampu memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggannya dan turut berkontribusi dalam peningkatkan kinerja logistik nasional.

Tren perubahan sosial, bisnis, dan teknologi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan akan terus terjadi dalam beberapa tahun ke depan, selain memberikan peluang-peluang dalam penyediaan layanan logistik juga akan mendisrupsi bisnis logistik.

Perusahaan penyedia jasa logistik harus terus melakukan inovasi, eksplorasi strategi baru, pemanfaatan teknologi ICT, dan pengelolaan bisnis secara lincah (agile) dan seamless untuk memberikan solusi logistik yang tetap relevan dengan dinamika perubahan zaman.

Redefinisi bisnis, peninjauan model bisnis, dan upaya peningkatan hubungan dengan pelanggan agar tercipta kepuasan, loyalitas, dan pengalaman mengesankan dalam menggunakan jasa logistik, perlu menjadi paradigma baru para pemimpin perusahaan penyedia jasa logistik saat ini dan di masa mendatang.

Demikian pandangan kami, terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh Jakarta, 29 Januari 2018
Zaroni

 

Sumber : Sambutan Dr Zaroni saat Sidang Promosi Doktor Darjat Sudrajat di Binus Jakarta

Jalan Panjang Implementasi Green Logistics di Indonesia

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  CEO Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Inti dari aktivitas logistik adalah memindahkan material dari pemasok ke produsen untuk proses produksi, dan memindahkan barang dari produsen ke konsumen. Aktivitas logistik memerlukan transportasi, peralatan penanganan material (material handling equipment), dan gudang. Selain itu, untuk mendukung aktivitas transportasi, diperlukan bahan bakar dan infrastruktur berupa jalan raya, rel kereta api, terminal, depo, stasiun, dermaga, pelabuhan, dan bandar udara. Lebih dari 70% aktivitas logistik berasal dari transportasi.

 

Peningkatan aktivitas sektor ekonomi, baik sektor primer seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan pertambangan, sektor sekunder seperti manufaktur dan industri pengolahan, maupun sektor tersier seperti jasa, akan mendorong peningkatan aktivitas logistik. Transportasi pun semakin meningkat, baik jumlah kendaraan, volume barang yang diangkut, frekuensi angkutan, maupun rute yang dilayani.

 

Transportasi berdampak pada penurunan kualitas lingkungan dan kesehatan melaui polusi udara, kemacetan, dan kebisingan suara. Peningkatan jejak karbon, terutama karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), dan particular matter (PM) yang dihasilkan dari emisi pembakaran bahan bakar di mesin kendaraan berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Selain itu, aktivitas transportasi berisiko pada kecelakaan.

 

Peningkatan pemasanan global, perubahan iklim dunia, dan efek gas rumah kaca (GRK) atau greenhouse gas emission (GGH) telah menjadi kecemasan global penduduk bumi menyangkut masa depan bumi dan masa depan manusia. Data dari Bank Dunia, kontribusi Indonesia dalam emisi gas rumah kaca saat ini berkisar 4,47% atau setara 2.161 metric ton CO2 (MtCO2e) dari emisi total di negara-negara seluruh dunia yang sebanyak 48.257 MtCO2e (bandingkan dengan Tiongkok 11,7% atau setara 5.646 MtCO2e).

 

Bila dihitung emisi per kapita, kontribusi Indonesia di atas rata-rata emisi per kapita penduduk dunia, yaitu 8,6 MtCO2e, sementara rata-rata emisi per kapita penduduk dunia 6,72 MtCO2e. Karenanya, upaya penurunan emisi GRK selalu menjadi perhatian serius berbagai kalangan, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat secara luas. Sektor logistik salah satunya.

 

Dalam konteks logistik, kontribusi emisi CO2 terbanyak dihasilkan dari aktivitas transportasi, menyumbang hampir 90%. Perbaikan manajemen transportasi untuk penurunan emisi CO2 perlu dilakukan secara kontinu dan konsisten.

 

Perbaikan Transportasi

Proses perbaikan transportasi untuk logistik dilakukan secara komprehensif dan efektif. Langkah pertama adalah menetapkan sasaran utama fokus perbaikan transportasi logistik, yaitu penurunan emisi CO2. Pemikiran selanjutnya dapat dikembangkan dengan mengidentifikasi apa saja pemicu (driver) emisi CO2 dalam aktivitas transportasi logistik? Jelasnya, peningkatan emisi CO2 itu disebabkan apa? Jumlah kendaraan yang digunakan dalam transportasi? Jenis kendaraan? Teknologi mesin kendaraan? Bahan bakar yang

 

digunakan? Perilaku sopir dalam mengendarai truck? Kualitas infrastruktur jalan? Utilisasi kapasitas kendaraan? Pengaturan rute? Frekuensi? Desain jaringan transportasi? Dan masih banyak lagi penyebab emisi CO2 yang dihasilkan dari aktivitas transportasi logistik.

 

Sasaran penurunan emisi CO2 perlu dieloborasi dalam penetapan indikator kinerja emisi, seperti rata-rata jumlah liter bahan bakar per ton kilometer, jumlah kilometer kendaraan kosong (empty container atau truck), tingkat utilisasi kendaraan, jumlah kendaraan yang digunakan, sampai kepada pengukuran yang lebih spesifik, yaitu jumlah emisi CO2.

 

Ukuran indikator kinerja emisi ini dijadikan KPIs (key performance indicators). KPIs ini dijadikan tolok ukur target penurunan emisi oleh para operator penyedia jasa logistik – baik transporter, pemilik barang (produsen), maupun perusahaan 3rd-party logistics (3PL). Pemerintah melalui kementerian atau dinas terkait seperti Dinas Perhubungan dan Dinas Lingkungan memonitor pencapaian indikator penurunan emisi CO2.

 

Setelah KPI penurunan emisi ditetapkan, langkah selanjutnya adalah menilai (assessment) setiap KPIs saat ini. Berapa nilai untuk setiap KPI penurunan emisi? Kemudian, berapa target KPIs untuk penurunan emisi CO2? Selisih atau gap antara nilai KPIs saat ini (current state KPIs emission) dengan target KPIs yang diinginkan (future state KPIs emission) merupakan target perbaikan. Dari target perbaikan ini selanjutnya dikembangkan berbagai alternatif perbaikan logistik untuk menurunkan emisi CO2 sesuai KPI penurunan emisi yang ditetapkan.

 

Sejatinya, penurunan emisi CO2 dari aktivitas transportasi logistik dilakukan dengan mengurangi pemakaian bahan bakar dan optimalisasi penggunaan kendaraan. Ini sejalan dengan prinsip reduce pada strategi 3R (reduce, reuse, dan recycle) dalam mengurangi limbah dan emisi CO2.

 

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan transporter, produsen, dan perusahaan 3PL untuk mengurangi emisi CO2.

 

  1. Distribution Center (DC) dengan Sistem Hub & Spoke. Sasaran dari strategi ini adalah pengurangan jumlah truck sehingga akan mengurangi pemakaian bahan bakar. Pengurangan pemakaian bahan bakar akan mengurangi emisi CO2. Seringkali perusahaan, baik itu produsen, distributor, maupun grosir menggunakan banyak truck secara langsung dari produsen ke distributor dan ke pengecer untuk melayani distribusi barang.

 

Pengurangan jumlah truck dalam transportasi pada saluran distribusi dilakukan dengan strategi jaringan hub & spoke. Dalam rantai pasokan untuk saluran distribusi ditetapkan beberapa hub atau lebih populer dengan istilah distribution center (DC) yang dibangun untuk melayani beberapa grosir atau toko pengecer. Penetapan berapa banyak DC dan di lokasi mana didasarkan pada pertimbangan volume, frekuensi pengiriman, jarak, dan waktu tempuh pengiriman. Semakin sedikit penggunaan truck dalam desain distribusi, semakin baik.

 

  1. Konsolidasi Pengiriman. Strategi ini sejalan dengan DC sistem hub & spoke. Konsolidasi pengiriman dilakukan dengan cara mengkonsolidasi barang yang akan

 

dikirim dalam volume besar, untuk selanjutnya diangkut dengan menggunakan truck yang memiliki kapasitas lebih besar. Efisiensi dicapai melalui skala ekonomi. Penurunan pemakaian truck terjadi, sehingga penurunan emisi CO2 pun dapat diwujudkan.

 

  1. Pengalihan Moda Transportasi. Penggunaan truck untuk transportasi logistik berdampak pada peningkatan emisi CO2. Kapasitas truck relatif sedikit bila dibandingkan dengan moda transportasi lain seperti kereta api dan kapal. Karena kapasitas truck sedikit, untuk mengangkut volume barang dalam jumlah besar diperlukan banyak truck. Tentu, penggunaan truck yang banyak, selain peningkatan emisi CO2, juga menimbulkan kemacetan yang semakin parah, baik di jalan perkotaan maupun jalan antarkota.

 

Pada jarak yang lebih dari 500 kilometer, penggunaan moda kereta api lebih efektif dan efisien. Utamanya dari pertimbangan ramah lingkungan, karena emisi CO2 yang dihasilkan kereta api lebih sedikit bila dibandingkan dengan truck dalam satuan emisi CO2 per ton per kilometer. Demikian juga, penggunaan moda kapal laut untuk jarak angkut lebih dari 1.000 kilometer akan lebih efektif, karena pengurangan emisi CO2, mengurangi kemacetan di jalan raya, dan menurunkan biaya transportasi per ton.

 

  1. Perilaku Safety dan Eco-driving. Perilaku sopir dalam mengemudikan truck memengaruhi tingkat keselamatan dan pemakaian bahan bakar. Pengkomunikasian dan pelatihan mengenai safety dan eco-driving perlu dilakukan, agar para sopir memahami dan mampu mengemudikan truck dengan selamat, aman, dan hemat bahan bakar.

 

  1. Penerapan Transport Management System. Aplikasi ini akan dapat dicapai efisiensi dan efektivitas transportasi, melalui optimalisasi rute, jenis kapasitas truck, jumlah truck yang digunakan, jarak dan waktu tempuh truck, dan utilisasi kapasitas truk dengan pengisian barang kembali (balen). Selain itu, aplikasi TMS yang terhubung dengan GPS dan CCTV di dalam truck yang dapat memonitor perilaku sopir selama mengemudikan kendaraan akan dapat memastikan pelaksanaan safety dan eco- driving.

 

  1. Penggunaan Moda Transportasi Bersama. Di era resources sharing ini memungkinkan untuk dilakukan kolaborasi antarpemilik barang, baik produsen, distributor, maupun grosir untuk berbagi kapasitas transportasi dalam pengiriman barang. Efisiensi akan dicapai dari kolaborasi resource sharing ini.

 

  1. Penggunaan Bahan Bakar atau Energi Alternatif. Bahan bakar jenis fosil menjadi penyebab utama peningkatan emisi CO2. Karenanya, bahan bakar alternatif untuk transportasi mulai dikembangkan dan digunakan. Bahan bakar alternatif seperti Compressed Natural Gas (CNG), Liquefied Natural Gas (LNG), Liquefied Petroleum Gas (LPG), bio-diesel, electric power, Dimethyl Ether (DME), dan Ethanol, menjadi alternatif pengganti bahan bakar dari fosil untuk mengurangi emisi CO2.

 

 

Jalan Panjang

Keberhasilan implementasi strategi dan program-program penurunan emisi CO2dalam sektor logistik, yang dikenal dengan green logistics atau logistik hijau, logistik yang ramah lingkungan

– memerlukan komitmen dan keseriusan dari pengusaha, pemerintah, dan masyarakat.

 

Dari kalangan pengusaha di sektor logistik, kontribusi nyata yang dapat dilakukan untuk turut mengurangi emisi CO2, adalah pengurangan jumlah kendaraan dan penggunaan energi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.

 

Kesungguhan para pengusaha, utamanya produsen pemilik barang dan pengusaha operator kendaraan untuk menerapkan desain jaringan hub & spoke, konsolidasi pengiriman, pengalihan moda transportasi dari truck ke kereta api dan kapal untuk jarak transportasi jauh, dan pelatihan secara intensif ke para sopir untuk berperilaku safety & eco-driving, menjadi kunci keberhasilan green logistics ini.

 

Kerelaan untuk berbagi resource, utamanya penggunaan bersama kendaraan dengan produsen pemilik barang lain, sehingga dapat dicapai skala ekonomis dan optimaliasi kapasitas kendaraan, juga menjadi kunci keberhasilan green logistics.

 

Pemerintah perlu secara intensif melakukan pemutakhiran regulasi dan kebijakan pelaksanaan green logistics ini, dengan peraturan yang lebih sederhana dan mudah dilaksanakan. Tolok ukur peran pemerintah bukanlah dari ukuran banyaknya peraturan yang telah dihasilkan, namun yang lebih penting adalah efektivitas pelaksanaan dari peraturan tersebut. Pengawasan dan penegakan peraturan menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan green logistics. Selain itu, pemberian insentif berupa penurunan bunga pembiayaan, insentif pajak, dan lain-lain dapat diterapkan bagi perusahaan yang berhasil menurunkan emisi CO2.

 

Konsumen sebagai bagian dari masyarakat dapat berkontribusi untuk turut mendorong implementasi green logistics ini dengan cara memilih produk yang dihasilkan dari produsen yang menerapkan green logistics. Selain itu, membiasakan perilaku 3R (reduce, reuse, dan recycle) atas produk-produk yang digunakan sehari-hari, dengan sasaran mengurangi emisi CO2.

 

***

 

Bumi dan seisinya perlu kita jaga keasrian dan keberlangsungnnya. Lingkungan yang asri, bersih, dan sehat merupakan tanggung jawab bersama. Kesadaran global dalam menjaga kelestarian lingkungan bumi dan alam semesta mendorong para pemimpin organisasi bisnis, pemerintah, dan masyarakat untuk memerhatikan dampak lingkungan.

 

Kesadaran bahwa bumi yang kita huni saat ini perlu kita rawat dan jaga kelestariannya, agar anak-anak generasi mendatang tetap dapat tinggal nyaman dan damai di bumi. Sebab, bukankah sejatinya kita meminjam bumi ini dari mereka?

 

Bandung, 2 Desember 2017

 

 

Dr. Zaroni, CISCP, CFMP – Logistik dan Supply Chain Management

Dr, Zaroni CISCP, CFMP – Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Materi :

  1. Manajemen Logistik dan Penanggulangan Bencana 
  2. Daya Saing Perusahaan Penyedia Jasa Logistik Nasional

Catatan : Apabila meng copy materi tersebut, tidak lupa menuliskan sumbernya