Posts

Model Attribute Based Access Control

Mohamad Fadli Panende, mendapatkan hasil pengujian Model Attribute Based Access Control (ABAC) dengan sampel data uji melalui rangkaian skenario, simulasi dan pengujian kinerja akses kontrol menggunakan tools yang dibuat khusus untuk menguji kinerja ABAC pada Lemari Penyimpanan Bukti Digital (LPBD) ini, didapatkan hasil bahwa akses kontrol yang dibuat telah berjalan dengan baik dan berfungsi sebagaimana mestinya yang diharapkan. Selain itu pendekatan menggunakan metode ABAC ini juga dapat menjadi solusi dalam meningkatkan tingkat keamanan sistem LPBD khususnya dalam hal identifikasi user.

Alhamdulillah, penelitian tersebut mengantarkan, Mohamad Fadli Panende, meraih gelar Magister Komputer dari Konsentrasi Forensika Digital Program Studi Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta

Perancangan Model Attribute Based Access Control (ABAC) Pada Lemari Penyimpanan Bukti Digital (LPBD) ini diawali dengan melakukan perancangan model ABAC, dilanjutkan dengan membuat konsep XACML policy untuk dapat menyesuaikan antara kebutuhan ABAC dan kebutuhan sistem LPBD, serta diimplementasikan dalam bentuk model halaman login pada LPBD. “Pendekatan menggunakan metodeABAC pada LPBD ini juga dapat menjadi solusiatas permasalahan akses kontrol LPBD yang dibuat sebelumnya” ungkap Fadli melalui pesan singkat (11 April 2018).

Penelitian Faktor Mohamad Fadli Panende menjawab salah satu hal penting dalam proses investigasi sebuah kasus cybercrime yaitu hal yang terkait dengan barang bukti yang ditemukan. Bukti elektronik maupun bukti digital yang ditemukan dalam sebuah kasus kejahatan harus tetap terjaga keasliannya untuk dapat dipertanggung jawabkan dipengadilan. Sistem lemari penyimpanan bukti digital (LPBD) menjadi salah satu solusi untuk permasalahan manajemen bukti digital ini yang berdasar pada digital evidence cabinet (DEC), hanya saja sistem tersebut belum dilengkapi dengan model akses kontrol yang baik.

Sistem LPBD seharusnya dibuat tidak hanya berdasar pada permasalahan-permasalahan tentang manajemen bukti digital saja, akan tetapi komponen-komponen penting lainnya dalam lemari penyimpanan bukti digital itu sendiri yaitu pengaturan aksesnya, sehingga skema atau desain akses kontrolpolicy terhadap LPBDmenjadi sangat penting. Akses kontrol yang gunakan terhadap LPBD sebelumnya dibuat hanya dengan mekanisme authefikasi dan authorisasi user saja, tidak adanya parameter lain yang lebih kompleks untuk mendukung sebuahpermintaan akses yang dilakukan pada sistem LPBD.

Penelitian ini dilakukan pada LPBD dengan tahapan yang dimulai dari melakukan identifikasi masalah, studi literature, pembuatan konsep ABAC, implementasi, simulasi dan skenario kasus, melakukan pengujian, hasil dan analisa, serta memberikan kesimpulan. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu membangun rancangan akses kontrol pada LPBD menggunakan pedekatan attribute based access control (ABAC) dan melakukan pengujian terhadap keamanan sistem LPBD dalam segi pemberian hak akses pada user.Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan menggunakan toolskhusus untuk menguji kinerja akses kontrol, didapatkan hasil bahwa rancangan ABAC yang dibangun dapat berjalan dengan baik sebagaimana mestinya yang diharapkan.

Pendekatan menggunakan ABAC ini dapat dijadikan solusi atas permasalahan akses kontrol LPBD sebelumnya, khususnya dalam proses identifikasi user. “Penggunaan pendekatan ABAC pada LPBD ini disebabkan ABAC merupakan model akses kontrol policyyang lebih fleksibel dalam penerapan atributterhadap user, dan hierarchy XACML yang dapat mendukung kebutuhan-kebutuhan akses kontrol yang digunakan pada LPBD” pungkasnya.

Selamat ya broo Mohamad Fadli Panende, makin sukses selalu !!

Jerri Irgo

Membandingkan Tingkat Kemiripan Rekaman Suara

Ahmad Subki, Mahasiswa Konsentrasi Forensika Digital, Program Studi Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia

rsz_ahmad_subki_-_forensika_digital_magister_teknik_informatika_pps_fti_uii

Membandingkan Tingkat Kemiripan Rekaman Suara Voice Changer Dan Rekaman Suara Asli Menggunakan Metode Audio Forensik

Abstrak

Audio forensik merupakan penerapan ilmu pengetahuan dan metode ilmiah dalam penanganan barang bukti berupa audio demi mendukung pengungkapan berbagai kasus tindak kriminal dan mengungkap berbagai informasi yang diperlukan dalam proses persidangan. Namun, rekaman suara sangat rentan dan mudah untuk dirubah/dimanipulasi baik untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok. Misalnya menggunakan fasilitas aplikasi perubah suara/voicechanger yang banyak tersedia pada googleplaystore.

Dalam penelitian ini dilakukan analisis terkait tingkat kemiripan antara rekaman suara voicechanger dengan rekaman suara asli menggunakan metode audio forensik dengan pendekatan pitch, formant, graphical distribution dan spectogram.

Penelitian ini dihasilkan bahwa rekaman suara pada kasus voicechanger dengan rekaman suara asli hanya bisa di analisis dengan pendekatan formant, graphical distribution dan spectogram. Sedangkan untuk analisis pitch tidak dapat digunakan.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang didapatkan pada pembahasan maka penelitian Membandingkan Tingkat Kemiripan Rekaman Suara Voice changer dengan Rekaman Suara Asli Menggunakan Metode Audio Forensik dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Analisispitch, formant dan spectogramdapat digunakan untuk membandingkan tingkat kemiripan rekaman suara voice changer dengan rekaman suara asli, dengan memperhatikan tahap demi tahap sesuai dengan prosedur investigasi audio forensik.

Analisis rekaman suara yang dilakukan dengan satu aplikasi voicechanger dibandingkan dengan rekaman suara asli tidak dapat menggunakan analisis pitch,analisis hanya dapat digunakan menggunakan analisis formant, graphical distribution dan spectogram.

Berdasarkan ujicoba yang dilakukan menunjukkan bahwa rekaman suara voicechangerA memiliki tingkat kemiripan yang paling tinggi dengan rekaman suara asli pada posisi merendahkan pitch (low pitch), sedangkan voice changer yang lain lebih sulit untuk diidentifikasi.

Hal ini dikarenakan perbedaan algoritma/parameter timestretching dan pitch shifting yang digunakan masing-masing voice changer, Semakin nilai timestretching dan pitch shifting mendekati angka 1 (satu) maka suara output hasil konversi suara akan terdengar semakin mirip dengan suara asli, dan sebaliknya semakin nilai parameter timestretching dan pitch shifting menjauhi angka 1 (satu) maka suara output hasil konversi suara akan terdengar semakin berbeda dari suara input/asli.

Adapun saran-saran yang perlu diberikan dengan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
Perlu dilakukan penelitian terkait barang bukti rekaman suara yang dirubah menggunakan voice changer yang sulit untuk diidentifikasi seperti voice changerB dan C dan bagaimana solusinya.

Pada penelitian terkait voice changer selanjutnya, dilakukan dengan barang bukti suara yang di analisis lebih dari satu jenis rekaman suara, minimal menggunakan tiga jenis rekaman suara yang berbeda dengan masing-masing 20 kata.
Penelitian terkait dengan voicechanger ini juga bisa dilakukan pada voicechanger yang diterapkan oleh provider.

Yogyakarta, 25 Januari 2018

Pendekatan BPMN Untuk Pengembangan Digital Forensic Workflow Model

Subektiningsih, Mahasiswi Konsentrasi Forensika Digital, Program Studi Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia

rsz_subektiningsih_-_fd_pps_fti_uii_ver_2

Pendekatan BPMN Untuk Pengembangan Digital Forensic Workflow Model Menggunakan Design Science Research Methodology

Abstrak

Digital Forensic Workflow Model (DFWM) dikembangkan menggunakan paradigma Design Science Research Methodology dengan model bisnis menggunakan Business Process Model and Notation (BPMN) sub-model Collaboration. DFWM dikembangkan dari berbagai model penyelidikan forensik digital secara teori dari penelitian terdahulu yang dilengkapi dengan data wawancara dengan Kepolisian di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Semua model penyelidikan yang dipilih diekstraksi dan dilakukan pemetaan dengan mengkaitkan interaksi yang terjadi antara aktor dengan bukti, bukti dengan dokumentasi dan chain of Custody, aktor dengan proses, bukti dengan proses, serta menghilangkan bagian aktifitas yang tidak memiliki interaksi antar komponen tersebut. Memetakkan aktifitas yang diperoleh berdasarkan aktor yang melakukannya.
Tujuan pembuatan alur kerja yang dimodelkan menjadi DFWM ini untuk menjelaskan kompleksitas komponen yang berupa, Aktor, bukti, dan proses penyelidikan forensik digital dalam keterkaitan dan interaksinya. Sehingga, dapat diketahui peran dari setiap personil/aktor, jenis bukti yang mungkin diperoleh, dan urutan proses yang harus dilakukan. Validasi elemen dalam DFWM juga dilakukan untuk memastikan ketepatan penggunaan elemen sesuai aturan BPMN.

DFWM diuji dengan dua cara, yaitu; pengujian dengan sistem dan pengujian dengan kuesioner penerimanaan model. Pengujian dengan sistem menggunakan Bizagi Modeler yang bertujuan untuk memastikan alur proses terbentuk secara sistematis dan sesuai dengan aturan BPMN. Pengujian menggunakan kuesioner penerimaan model bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian DFWM dengan penyelidikan forensik digital dalam praktik.

Pengujian tersebut memberikan hasil bahwa bahwa DFWM secara keseluruhan dapat diterapkan untuk praktik penyelidikan forensik digital. Namun, dalam penerapannya dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu kondisi organisasi dan kondisi kasus. Kondisi organsasi dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya manusia, sarana prasarana, infrastruktur laboratorium, dan alat forensik yang dimiliki. Sedangkan, kondisi kasus dipengaruhi oleh spesifikasi kasus, kondisi tempat kejadian perkara, proses penyelidikan yang dilakukan.

DFWM diharapkan dapat menjadi solusi untuk perbaikan dan penambahan dalam proses penyelidikan dan penyidikan forensik digital yang lebih terintegrasi untuk organisasi dengan melakukan penyesuaian sesuai SOP internal yang ada dalam organisasi tersebut.

Kesimpulan

Bussiness Process Model and Notation (BPMN) dapat digunakan untuk mengembangkan Digital Forensic Workflow Model (DFWM) dengan melakukan ekstraksi berbagai model penyelidikan forensik digital dan mengkaitkan interaksi yang terjadi antara aktor dengan bukti, bukti dengan dokumentasi dan chain of Custody, aktor dengan proses, bukti dengan proses, serta menghilangkan bagian aktifitas yang tidak memiliki interaksi antar komponen. DFWM menunjukkan bahwa BPMN bukan hanya untuk pemodelan proses bisnis tetapi juga dapat digunakan untuk memodelkan aktifitas forensik digital berdasarkan aktor dan proses yang terjadi. Peran aktor menjadi lebih tepat dalam menjalankan alur kerja penyelidikan forensik digital.

Proses validasi notasi dan elemen untuk memastikan ketepatan pengunaan notasi dan elemen sesuai aturan BPMN. Validasi proses untuk memastikan proses yang ada dalam alur kerja dilakukan secara sistematis dan tidak terjadi stack atau looping di salah satu proses.

DFWM sudah sesuai dengan praktik forensik digital, namun terdapat beberapa proses forensik yang ada dalam DFWM tidak dilakukan dalam praktik forensik digital atau sebaliknya. Perbedaan dipengaruhi oleh kondisi dari organisasi dan kasus yang diselidiki. Hasil pengujian secara sistem maupun kuesioner penerimaan dengan responden dari pihak kepolisian, kejaksaan, dan Ahli menyatakan DFWM dapat diterapkan dalam praktik forensik digital dengan melakukan penyesuaian sesuai standar operasional organisasi.

Yogyakarta, 25 Januari 2018

Empat Ilmu Dasar Yang Wajib Kita Kuasai.

Empat Ilmu  Dasar  Yang Wajib  Kita  Kuasai.  M Nuh MI PPs FTI UII

“Ada 4 ilmu dasar yang wajib kita kuasai untuk dapat menjadi orang hebat, yaitu menguasai listening, reading, speaking, dan writing. Dengan 4 hal tersebut, maka kita dapat menggapai apa yang kita inginkan dan semua hal tersebut tidak instan datang, melainkan harus dilatih sejak sekarang” ujar Didik Sudyana mengutip pesan Ketua Asosiasi Forensik Digital Indonesia (AFDI) periode 2014 – 2019, .AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, MSc., CHFI., CEI., ECIH.

Didik Sudyana, Mahasiswa Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) konsentrasi studi Forensika Digital menyampaikan hal tersebut seusai diskusi terbatas, yang diselenggarakan Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) UII di Ruang PPs 1, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII (9 Muharam 1438 Hi/11 Oktober 2016)

“Diskusi bersama AKBP Muhammad Nuh banyak memberikan beberapa ilmu tentang forensika digital diantaranya beberapa ilmu dasar mulai dari apa itu deleted file, lost file, dan jujur untuk hal ini saya juga lupa, untung diingatkan kembali” ujar Didik

Didik menambahkan “Selain itu juga materi-materi tentang apa itu pixel, dan juga pembahasan tentang bagaimana melakukan forensik terhadap sebuah CCTV. Kemudian juga ada membahas terkait mobile forensik. Tidak hanya memberikan pembahasan tentang beberapa teori dan praktis dalam forensika digital”

Selain mendapatkan ide baru terkait penelitian, kami semua mendapat ilmu forensika digital kekinian, bahkan dapat kembali mengingat teori dasar yang mungkin sudah terlupakan. Selain hal-hal teknis tentang forensika digital, beliau juga memberikan ilmu soft skills untuk kami semua yang sangat bermanfaat” ujarnya.

AKBP Muhammad Nuh yang didampingi Yudi Prayudi, M.Kom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital UII, juga memberikan saran dan nasihat yang sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. “Diantaranya saran tentang dalam hidup ini terdapat 5 kategori seseorang itu dapat dihormati, yaitu dari harta, keturunan, jabatan, paras wajah, dan terakhir ilmu pengetahuan. Keempat hal pertama dapat hilang, tapi ilmu pengetahuan tidak akan pernah hilang., oleh karena itu kami dituntut untuk terus dan tidak bosan belajar mencari ilmu pengetahuan” pungkas Didik.

Jerri Irgo

Periode Pertama, Penerimaan Mahasiswa Baru PPs FTI UII

Pembukaan Penerimaan Mahasiswa Baru S2 Periode Pertama Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII), telah dimulai 19 September sampai dengan 21 Oktober 2016. Adapun Ujian Kolektif akan dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2016, selanjutnya Pengumuman hasil Ujian Periode Pertama tanggal 31 Oktober 2016

Hal tersebut sebagaimana release dari Surat Keputusan Direktur Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia No: 244/Dir/20/PPs.FTI/IX/2016, ditetapkan tanggal 19 September 2016 tentang Periode Pendaftaran Seemester Ganjil Tahun 2016/2017

tanggal

Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) berdiri pada tahun 2006, dengan diselenggarakannya Program Magister Teknik Industri. Pada tahun 2010, PPs FTI UII mulai menyelenggarakan Program Magister Teknik Informatika.

Magister Teknik Industri terakreditasi “B” dari BAN-PT dengan SK BAN-PT nomor 343/SK/BAN-PT/Akred/M/V/2015. Program magister ini menawarkan tiga konsentrasi studi, yaitu Teknik Industri, Manajemen Industri dan Ergonomi dan Keselamatan & Kesehatan Industri.

Sedangkan Magister Teknik Informatika terakreditasi “B” dari BAN-PT dengan SK BAN-PT nomor 003/BAN-PT/Ak-X/S2/V/2012. Program magister ini menawarkan tiga konsentrasi studi, yaitu Informatika Medis, Sistem Informasi Enterprise dan Forensika Digital.

Jerri Irgo

Selamat Datang Mahasiswa Baru PPs FTI UII

Mahasiswa Magister Teknik Informatika Angk 14 - PPs FTI UII

Photo session Mahasiswa Magister Teknik Informatika PPs FTI UII – Angkatan 14

Mahasiswa Magister Teknik Industri Angk 21 - PPs FTI UII

Photo session Mahasiswa Magister Teknik Industri PPs FTI UII – Angkatan 21

Sebanyak 40 Mahasiswa Baru Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta, mulai mengikuti perkuliahan 14 Dzul Hijjah 1437 H / 16 September 2016.  Mahasiswa tersebut terdiri dari Magister Teknik Industri angkatan 21 terdapat sejumlah 17 mahasiswa dan Mahasiswa Magiter Teknik Informatika angkatan 14 terdapat sejumlah 23 mahasiswa.

Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) berdiri pada tahun 2006, dengan diselenggarakannya Program Magister Teknik Industri. Pada tahun 2010, PPs FTI UII mulai menyelenggarakan Program Magister Teknik Informatika.

Magister Teknik Industri terakreditasi “B” dari BAN-PT dengan SK BAN-PT nomor 343/SK/BAN-PT/Akred/M/V/2015. Program magister ini menawarkan tiga konsentrasi studi, yaitu Teknik Industri, Manajemen Industri dan Ergonomi dan Keselamatan & Kesehatan Industri.

Sedangkan Magister Teknik Informatika terakreditasi “B” dari BAN-PT dengan SK BAN-PT nomor 003/BAN-PT/Ak-X/S2/V/2012. Program magister ini menawarkan tiga konsentrasi studi, yaitu Informatika Medis, Sistem Informasi Enterprise dan Forensika Digital.

Jerri Irgo

Jurusan Teknik Informatika Menjadi Inisiator Pembentukan AFDI

Bertempat di Gedung Serba Guna Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jalan Medan Merdeka Barat Jakarta Pusat pada Tanggal 17 November 2015 yang lalu, Menteri Kominfo Rudiantara bersama dengan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, Komjen Pol. Dr. Anang Iskandar membuka Kick Off Pembentukan Asosiasi Forensik Digital Indonesia (AFDI).

Suatu kehormatan bagi Jurusan Teknik Informatika UII, karena pada momen bersejarah ini diberi kesempatan untuk memberikan paparan singkat dengan tema “Digital Forensics dalam Perspektif Akademik” yang sampaikan oleh Direktur Pusat Studi Forensika Digital UII Yudi Prayudi. Dalam presentasinya, Yudi Prayudi memberikan pandangan domain Forensik Digital dalam dunia akademik termasuk di dalamnya mengenalkan profil kluster Forensika Digital UII dan beberapa hasil karya mahasiswa dalam bentuk penelitian maupun produk piranti lunak khusus bidang Forensik Digital.

Dalam perjalanan terbentuknya AFDI, Jurusan Teknik Informatika yang diwakili bapak Yudi Prayudi dan Ahmad Luthfi telah dipercaya untuk menjadi tim insiator bersama-sama dengan Direktorat Keamanan Informasi Kominfo, AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar (Kasubdid Komputer Forensik Puslabfor Mabes Polri) yang terpilih secara aklamasi sebagai Ketua AFDI periode 2015-2019, Ruby Alamsyah (Senior Digital Forensics Analyst), Universitas Gunadarma, dan Telkom University.

kick-off-afdi

Diberitakan di Teknik Informatika UII

AFDI Resmi Terbentuk, Dukung Polisi Lacak Jejak Digital

TEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika mendukung pembentukan Asosisasi Forensik Digital Indonesia (AFDI) yang digagas sejumlah praktisi Digital Forensik. “Kami mendukung diluncurkan suatu wadah baru namanya AFDI, tempat berkumpulnya para ahli yang mempunyai kapasitas di bidang forensic digital,” ujar Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara, Selasa, 17 November 2015.

Dukungan tersebut dilakukan melalui penyelenggaraan Kick Off Pembentukan Asosiasi Forensik Digital Indonesia di Ruang Serbaguna Kementerian Komunikasi. AFDI ini kelak bisa membantu aparat penegak hukum untuk melacak jejak digital yang terkait dengan kriminal.

Rudiantara membuka langsung acara Kick Off Pembentukan Asosiasi Forensik Digital Indonesia yang dihadiri sekitar 100 Analis Forensik Digital Indonesia. Menurut Rudiantara, dalam ranah cybercrimes, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008. UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) itu mengatur perbuatan-perbuatan yang dilarang beserta ancaman pidananya.

Selain itu, UU ITE mengatur mengenai bukti digital. Bukti digital dianggap sah dan dapat diajukan ke persidangan dengan syarat bahwa informasi yang tercantum di dalamnya secara teknis dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat dipertanggungjawabkan. “Agar bukti digital dianggap sah dan dapat diajukan ke persidangan maka diperlukan tindakan forensik digital yang terdiri dari pengumpulan, akuisisi, pemulihan, penyimpanan, dan pemeriksaan bukti digital berdasarkan cara dan dengan alat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk kepentingan pembuktian,” ujar Rudiantara.

Rudiantara menyampaikan bahwa dalam kegiatan forensik digital, terdapat dua hal penting yang harus diperhatikan, yaitu prosedur pemeriksaan forensik digital dan ahli yang melakukan pemeriksaan. Berkenaan dengan prosedur forensik digital saat ini, Kementerian Komunikasi sedang merumuskan rancangan peraturan menteri terkait standar panduan teknis dalam melakukan identifikasi, pengumpulan, akuisisi, dan pemeliharaan bukti digital berdasarkan ISO/SNI 27037. “Dibutuhkan ahli forensik digital untuk menangani tindak pidana siber,” ujar Rudiantara.

“Pembentukan Asosiasi Forensik Digital Indonesia (AFDI) bertujuan untuk menghimpun dan mengkoordinasi para analis dan peminat forensik digital dalam suatu wadah asosiasi,” ujar Kasubbid Komputer Forensik Puslabfor Mabes Polri Ajun Komisaris Besar M. Nuh Al Azhar, Selasa, 17 November 2015. Nuh menambahkan, hal tersebut bermanfaat baik untuk kemajuan anggota asosiasi sendiri maupun bagi bangsa dan negara, serta memberikan edukasi dan sosialisasi tentang forensik digital kepada masyarakat Indonesia.
Selain itu, AFDI diharapkan menjadi referensi bagi antaranggota asosiasi untuk memahami dan menambah pengetahuan tentang seluk-beluk forensik digital, serta menjadi sarana komunikasi, sarana tukar informasi, dan interaksi anggota asosiasi sehingga mampu mengakselerasi perkembangan dan penerapan forensik digital Indonesia.

“AFDI akan menjalin hubungan profesional dengan stakeholder lain, termasuk menjadi mitra kritis dan konstruktif bagi pemerintah,” ujar Nuh. Selain itu, Nuh menambahkan kalau AFDI akan menyusun dan mengembangkan standar kompetensi analisis forensik digital, juga kode etik profesi analis forensik digital Indonesia.

Selain Rudiantara, sejumlah pemapar yang berbicara dalam Kick Off Asosisasi Forensik Digital Indonesia antara lain Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Anang Iskandar, Dirjen Aplikasi Informatika Bambang Heru Tjahjono, serta Ruby Alamsyah (Profesional), Kasubbid Computer Forensik Puslabfor Mabes POLRI selaku Ketua Tim Formatur Pembentukan Asosiasi AKBP M. Nuh Al-Azhar, dan Kepala Pusat Studi Forensika Digital Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Yudi Prayudi.

Diberitakan Tempo Online

Twit Forensic, Aplikasi Pengungkap Cyber Crime

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA — Alumni Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII Yogyakarta, Arif Nugrahanto mengembangkan aplikasi twit forensic. Aplikasi ini bisa membantu penegak hukum untuk mengungkap kejahatan dengan barang bukti Twitter.

Demikian diungkapkan Yudi Prayudi, Kepala Pusat Studi Forensika Digital FTI UII Yogyakarta kepada wartawan di Yogyakarta, Sabtu (18/4). Aplikasi Twit Forensic dapat digunakan sebagai alat investigasi artefak digital Twitter dengan cara melakukan analisa aktivitas pemilik akun yang bersangkutan.

“Ketersediaan aplikasi ini membantu penegak hukum dalam melakukan analisis dan identifikasi untuk mendukung proses penyidikan,” kata Yudi Prayudi.

Walaupun belum maksimal, kata Yudi, aplikasi ini cukup handal untuk memberikan support ketersediaan informasi awal yang diperlukan dalam proses penyidikan. “Aplikasi ini tidak kalah dengan berbagai tools forensic yang dihasilkan vendor luar negeri,” katanya.

Untuk keperluaan investigasi, ketersediaan barang bukti twitter forensic juga dapat diperoleh dari penyedia tools. Namun untuk mendapatkan data yang dibutuhkan memerlukan prosedur yang rumit. “Adanya aplikasi ini bisa mempermudah para penegak hukum,” katanya.

Twitter, kata Yudi, merupakan media sosial yang semakin banyak digunakan sebagian besar masyarakat dunia. Hingga kuarter 4 tahun 2014, pengguna aktif twitter ada 288 juta di dunia.

Saat ini, Indonesia termasuk salah satu Top Countries yang aktif mengakses Twitter. Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah pengakses sebesar 6,5 persen dari keseluruhan pengakses Twitter.

Pengguna Twitter juga memberi manfaat positif bagi teknologi komunikasi di Indonesia. Di antaranya, penyebaran informasi positif dan media jual beli barang/jasa. Kemudahan tersebut juga membawa dampak negatif tersendiri. Seperti informasi yang disebarkan tidak benar atau bahkan menjelekan nama orang lain.

Pengaduan masyarakat tentang informasi yang merugikan berdasarkan aktivitas seseorang melalui Twitter sudah mulai banyak diterima penegak hukum. “Kondisi ini menutut penegak hukum untuk memiliki kemampuan, baik dari aspek teknologi, pengetahuan maupun ketrampilan untuk mengungkap kasus-kasus yang ditanganinya yang didasarkan pada barang bukti berupa aktivitas twitter,” tandasnya.

 

Diberitakan di Republika On Line

Mahasiswa UII Kembangkan Aplikasi Twit Forensic

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Di tengah era digital yang saat ini semakin berkembang, keberadaan jejaring sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi sebagian orang. Sudah menjadi hal yang jamak jika saat ini seseorang membagikan kegiatan sehari-hari mereka di jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook.

Karena telah menjadi bagian dari pribadi pemiliknya, tak jarang jejaring sosial bisa menjadi petunjuk awal pengungkapan sebuah kasus. Berangkat dari hal tersebut mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) jurusan Teknik Informatika Arif Nugrahanto menciptakan aplikasi Twit Forensic.

“Dalam tiga tahun terakhir ini semakin banyak pengungkapan kasus kejahatan dengan barang bukti menggunakan twitter,” ujar Arif, saat ditemui di gedung Fakultas Teknik Industri, jalan Kaliurang km 14,5 Yogyakarta, Sabtu (18/4).

Twit Forensic adalah sebuah aplikasi yang dapat digunakan sebagai alat invesitigasi artefak digital twitter dengan cara melakukan analisa aktivitas pemilik akun yang diinginkan. Aplikasi tersebut mampu menampilkan informasi awal yang diperlukan dalam proses penyidikan sebuah kasus.

Tanpa harus masuk ke laman twitter, pengguna Twit Forensic bisa mengetahui status, mention, folower, folowing, dari sebuah akun.

“Meskipun hal-hal tersebut bisa kita lihat di laman akun twitter seseorang, dengan aplikasi ini kita lebih mudah memetakan aktivitas dari sebuah akun,” ujarnya.

Seperti jika kita ingin melihat status dari sebuah akun, kita akan mendapatkan informasi kapan status tersebut dibuat, direplay oleh siapa saja, diretwet oleh siapa saja. Data tersebut tersaji dalam satu halaman, sehingga mudah untuk melakukan identifikasi terhadap aktivitas akun twitter.

Arif Nugrahanto menambahkan, aplikasi yang dikembangkannya mampu menggali dan menampilkan 3200 status yang telah diposting. Sedang untuk aktivitas mantion, aplikasi ini mampu menggali mantion yang masuk ke sebuah akun dalam rentan waktu sebulan kebelakang.

Ditambahkan Yudi Prayudi selaku Kepala Pusat Studi Forensik Digital FTI UII, saat ini di Indonesia belum terdapat aplikasi yang memiliki fungsi sama seperti dengan Twit Forensic.

“Jika buatan luar negeri memang sudah ada. Tetapi dengan perkembangan media sosial yang sedemikian pesat, kita harus memiliki alat untuk kegiatan forensik di media sosial, tidak selalu tergantung dengan vendor asing,” ujanya.(*)

Diberitakan di Tribun Jogja