Posts

Retail Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Hampir semua produsen tidak menjual produk-produknya secara langsung ke konsumen akhir. Antara produsen dan konsumen akhir ada perantara (intermediary) yang berfungsi sebagai saluran pemasaran (marketing channel). Saluran pemasaran ini dikenal juga sebagai saluran perdagangan (trade channel) atau saluran distribusi (distribution channel).

Saluran pemasaran banyak macamnya. Kita mengenal pedagang besar (wholesaler), grosir, distributor, dan pengecer (retailer). Saluran pemasaran memainkan peran penting dalam kesuksesan perusahaan dan memengaruhi semua faktor keputusan strategi pemasaran.

Saluran pemasaran yang menjual produk-produk langsung ke konsumen personal atau rumah tangga sebagai pengguna akhir produk dikenal retailer atau retailer store. Pengecer menjual aneka produk, mulai dari pakaian, makanan, peralatan rumah tangga, buku, peralatan elektronik, dan lain-lain.

Tidak masalah bagaimana produk-produk atau jasa tersebut dijual. Apakah penjualan produk-produk tersebut melalui tenaga penjualan, katalog, email, telepon, surat, vending machine, atau penjualan secara online. Demikian pula, di mana penjualan produk-produk dilakukan, apakah penjualan produk dilakukan di toko, jalan, atau bahkan di rumah konsumen.

Sektor ritel bergerak dan tumbuh sangat cepat, secepat perputaran penjualan produk-produknya. Beberapa peritel melakukan inovasi layanan, mengembangkan strategi jangka panjang, penggunaan teknologi terkini, penerapan sistem informasi yang canggih, dan pemanfaatan marketing tools secara efektif. Sebut saja misalnya, peritel global seperti Uniqlo, Zara, Zappos, H&M, Mango, Topshop, Walmart, dan lain-lain.

Mereka telah berhasil mengidentifikasi siapa segmen dan target pasar yang dituju, positioning, differentiation, membangun hubungan dengan pelanggan, menciptakan kesan dan pengalaman pelanggan, dan tentu saja mereka mampu menyediakan produk dan pelayanan dengan tepat.

Sektor ritel berperan penting dalam penjualan barang. Sektor ritel menjadi tempat penjualan berbagai barang kebutuhan konsumen rumah tangga, perkantoran, sekolahan, pemerintahan, dan lain-lain. Pelaku usaha di sektor ritel dikenal dengan pengecer atau peritel (retailer). Peritel mengelola toko. Jenis toko pengecer banyak macamnya. Kita mengenal peritel tradisional dan modern. Contoh peritel tradisional adalah kios di pasar-pasar tradisional, toko-toko, dan warung-warung kelontong. Sementara peritel modern, contohnya hypermarket, department store, supermarket, dan minimarket.

Umumnya jenis perputaran barang-barang yang dijual di toko ritel sangat cepat. Karenanya, barang-barang ini dikenal dengan sebutan fast moving consumer goods (FMCG). Barang-barang yang dijual di toko ritel banyak ragamnya sesuai jenis penamaan toko ritel.

Kita mengenal toko ritel khusus (specialty store). Toko ritel khusus adalah toko yang menjual jenis barang tertentu dengan berbagai macam variannya dengan jumlah persediaan barang dagangan yang cukup. Contoh toko khusus: toko buku, toko alat olah raga, toko kue, toko sepatu, dan lain-lain.

Selain itu, kita mengenal toko kelontong (convenience store). Toko kelontong adalah toko kecil yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari, makanan dan minuman kecil serta majalah dan koran. Toko kelontong terletak di dekat pemukiman penduduk. Contoh toko kelontong: Indomaret, Alfamart, Yomart, Circle K, Seven Eleven, dan lain-lain.

Bentuk toko ritel yang lain adalah toko swalayan (supermarket), toko serba ada (department store), toko kombinasi (combination store), hypermarket, toko diskon, factory outlet, dan katalog showroom (Kotler dan Keller, 2015).

Peran Logistik

Logistik ritel (retail logistics) akan menjamin ketersediaan produk-produk dari manufaktur dan pemasok lainnya untuk dijual di toko-toko ritel dalam jumlah yang mencukupi sesuai kebutuhan permintaan pasar, dengan kualitas produk yang terjaga, dan biaya logistik yang efisien.

Saat ini banyak toko ritel – terutama pasar swalayan, yang menjual produk-produk kategori produk-produk yang mudah rusak (perishable goods), seperti ikan segar, buah-buahan, sayur mayur, dan lain-lain. Produk-produk ini memerlukan sistem penyimpanan, transportasi, dan tempat dengan pengaturan temperatur dan kelembaban tertentu.

Logistik ritel telah bertransformasi, dari sekadar penyimpanan, pengangkutan, dan distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, namun logistik ritel saat ini mencakup pengelolaan demand chain dan supply chain.

Dalam mengelola logistik ritel, kita perlu memahami dan mengidentifikasi kebutuhan konsumen akan jenis produk, berapa banyak kuantitas produk yang diperlukan, dan kapan produk-produk tersebut diperlukan. Ini yang dikenal dengan demand chain.

Selain mengelola demand chain, logistik ritel mengelola supply chain. Pengelolaan supply chain dalam sektor ritel mencakup order pembelian, distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, pembayaran ke pemasok, dan pengelolaan informasi jenis produk, lokasi, dan kualitas produk yang perlu dipasok dari pemasok ke toko-toko peritel.

Fernie dan Sparks (2014) menyebutkan lima komponen penting dalam logistik ritel, yang dikenal dengan logistics mix sebagai berikut:

  1. Fasilitas penyimpanan (storage facilities)

Logistik ritel memerlukan fasilitas penyimpanan berupa gudang (warehouse) atau Distribution Center (DC) atau secara sederhana mungkin sekadar stock point yang menyimpan produk-produk dalam jumlah yang mencukupi untuk menjaga persediaan produk yang optimal, untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan permintaan. Selain itu, fasilitas penyimpanan diperlukan untuk menjaga kualitas dan keamanan produk.

  1. Persediaan (inventory)

Umumnya semua peritel menahan atau menyimpan persediaan. Pengelolaan persediaan ini mencakup keputusan penentuan berapa jumlah stock atau persediaan yang harus disimpan, lokasi penyimpanan, kapan melakukan order pembelian, dan berapa jumlah barang setiap order pembelian, untuk menjamin ketersediaan produk dengan biaya penyimpanan persediaan yang paling efisien.

  1. Pengangkutan (transportation)

Hampir semua produk memerlukan transportasi untuk memindahkan produk dari lokasi produksi ke lokasi konsumsi. Karenanya, peritel harus mengelola transportasi yang dihadapkan pada berbagai jenis moda transportasi, ukuran container, jenis armada kendaraan, jadwal keberangkatan dan kedatangan transportasi, ketersediaan dan kesiapan kendaraan termasuk sopirnya.

  1. Unitisasi dan pengepakan (unitization dan packaging)

Produk-produk consumer umumnya dijual di toko ritel dalam jumlah dan ukuran yang kecil. Sementara produk-produk yang dipasok dari manufaktur dalam ukuran dan jumlah besar seperti container. Karenanya, dalam logistik ritel diperlukan unitisasi dan pengepakan. Unitisasi akan menyatukan produk- produk ritel dalam satuan kecil menjadi ukuran yang lebih besar. Produk dalam kemasan dengan satuan kaleng atau piece misalnya, akan disatukan menjadi satuan karton, box, atau pallet. Selain itu, untuk kepentingan handling dalam logistik ritel menuntut pengepakan produk yang kuat, mudah, dan efisien ketika dilakukan handling selama proses transportasi, penyimpanan, material handling, dan pemajangan produk di rak (shelves management).

  1. Komunikasi (communications)

Komunikasi memegang peran penting dalam sistem logistik ritel. Untuk mendapatkan informasi dimana produk dijual, jenis produk, berapa banyak, kapan, dan siapa pembeli produk-produk ritel, diperlukan sistem informasi dan komunikasi yang memadai. Tidak hanya informasi mengenai sisi permintan dan penawaran produk, melainkan informasi mengenai volume, stock, harga, dan pergerakan atau fluktuasi penjualan produk. Informasi ini penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem operasi logistik ritel.

 

Kelima komponen logistik ritel ini saling berkaitan. Kinerja logistik ritel ditentukan oleh koordinasi, harmonisasi, dan integrasi antarkomponen. Pengepakan dan unitisasi produk dari manufaktur akan menentukan kinerja pengangkutan dan penyimpanan. Informasi demand dan supply chain akan menentukan jumlah persediaan, jenis produk, dan fasilitas dan lokasi penyimpanan untuk pendistribusian produk-produk di toko-toko ritel.

Tolok ukur keberhasilan logistik ritel sejatinya ditentukan oleh logistics cost dan service level. Logistics cost berhubungan dengan biaya logistik total mulai dari biaya pemesanan, pengangkutan, penyimpanan, distribusi, dan penataan produk di toko-toko ritel. Sementara service level terkait erat dengan ketepatan jenis produk, waktu, lokasi, keamanan, keutuhan, dan kualitas produk selama proses aktivitas logistik sampai produk digunakan consumer. Dalam pengelolaan logistik ritel, sebagian dikelola sendiri (in-house logistics) dan sebagian diserahkan ke pihak ketiga (outsourcing logistics) ke 3PL company.

Desain Logistik Ritel

Di era kompetisi bisnis yang semakin ketat, daya saing perusahaan tidak hanya ditentukan oleh keunggulan komparatif yang mengandalkan sumber daya dan kapabilitas organisasi. Saat ini kompetisi didasarkan pada kompetisi berbasis waktu (time-based competition).

Setidaknya ada tiga dimensi dalam time-based competition seperti diujarkan oleh Christopher dan Peck (2003). Organisasi perusahaan harus mengelola time-based competition secara efektif untuk merespon perubahan lingkungan bisnis. Ketiga time-based competition tersebut adalah:

  • time to market: kecepatan perusahaan untuk mengkomersialisasi peluang bisnis ke pasar;
  • time to serve: kecepatan perusahaan dalam memenuhi order pelanggan; dan
  • time to react: kecepatan perusahaan dalam menyesuaikan perubahan permintaan yang berfluktuasi secara

Pendekatan kompetisi berbasis waktu mendorong perusahaan untuk mengembangkan strategi leadtime dalam pengelolaan bisnis. Semakin cepat dan pendek lead-time, maka perusahaan akan unggul.

Kunci keberhasilan bisnis sektor ritel terletak pada pengelolaan strategi lead-time ini. Logistik ritel tidak hanya persoalan pengelolaan inventory, penyimpanan, dan transportasi. Logistik ritel mencakup pengelolaan supply chain dan customer chain. Bila perusahaan berhasil dalam mengelola supply chain dan customer chain, maka penciptaan nilai akan dihasilkan. Ini yang dikenal dengan value chain sebagaimana dicetuskan pertama kali oleh Porter (1985).

Dalam logistik ritel, distribusi dibedakan menjadi primary distribution dan secondary distribution. Primary distribution merupakan distribusi produk dari pabrik ke warehouse atau DC. Sementara secondary distribution merupakan distribusi produk dari warehouse atau DC ke toko peritel.

Kotler dan Keller memberikan penamaan market logistics untuk menyebut logistik ritel ini. Dalam pandangan Kotler dan Keller (2015), market logistics mencakup perencanaan infrastruktur logistik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, untuk selanjutnya mengimplementasikan dan mengendalikan aliran produk-produk consumer dari titik asal ke titik tujuan sesuai kebutuhan pelanggan secara efisien dan efektif.

Alan McKinnon (1996) dalam Fernie dan Sparks (2014) memberikan rekomendasi untuk peningkatan kinerja logistik ritel dalam era time-based competition.

  1. Perusahaan ritel harus meningkatkan pengendalian atas secondary distribution dengan cara menggunakan DC dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang Saat ini produk-produk ritel dipasok dari berbagai negara, selain itu ketergantungan antaraliran produk semakin tinggi. Karenanya, operasional logistik harus terintegrasi, utamanya dalam pemenuhan order, pengisian stock, dan pengendalian aliran informasi pergerakan dan penyimpanan barang.
  2. Perusahaan ritel harus melakukan restrukturisasi sistem logistiknya dengan cara mengurangi tingkat persediaan barang, meningkatkan efisiensi melalui pengembangan “composite distribution”, yaitu distribusi produk-produk yang memerlukan tingkat temperature sama dalam satu DC dan satu kendaraan. Selain itu, perusahaan harus menerapkan sentralisasi warehouse untuk produk-produk yang slower moving dengan cara penggunaan warehouse bersama (common stock rooms).
  3. Perusahaan hendaknya mengadopsi “Quick Response” (QR). Tujuan dari penerapan QR untuk memangkas tingkat persediaan dan meningkatkan kecepatan aliran produk. Penerapan QR dapat mengurangi order lead time dan frekuensi pergerakan delivery barang antara DC dan
  4. Perusahaan harus meningkatkan utilisasi aset dan infrastruktur logistik dengan cara mengintegrasikan sistem jaringan primary distribution dan secondary distribution melalui penerapan Electronic Data Interchange (EDI). Penerapan EDI ini akan mengurangi waste karena perencanaan aliran fisik produk, dokumen, dan keuangan dapat diatur dengan
  5. Perusahaan harus meningkatkan aliran return packaged material and handling equipment untuk recycling atau re-use dengan cara mengembangkan “reverse logistics”.
  6. Perusahaan mulai mengenalkan pendekatan Supply Chain Management (SCM) and Efficient Consumer Response (ECR) untuk meningkatkan efisiensi operasi logistik. Kolaborasi antarpemasok untuk memaksimalkan kapasitas logistik akan dicapai efisiensi logistik ritel. Penggunaan fasilitas pergudangan dan moda transportasi bersama akan meningkatkan skala ekonomis sistem

Perkembangan dan tantangan logitistik ritel semakin meningkat terutama dipicu oleh teknologi internet yang memungkinkan perusahaan menerapkan strategi penjualan produk secara online, online dan offline, dan bahkan strategi ritel telah berkembang menjadi strategi Omni-channel.

Kemajuan teknologi internet memang dapat mendisrupsi bisnis sektor ritel, utamanya para pebisnis ritel konvensional, yang masih menggunakan satu saluran penjualan dalam berinteraksi dengan pelanggannya. Atau, kalaupun mereka telah mulai mengembangkan berbagai saluran penjualan (multichannel), antarsaluran tersebut tidak terintegrasi.

Akibatnya, perusahaan tidak dapat menangkap dan memberikan pelayanan penjualan secara maksimal ke pelanggannya, utamanya pelanggan yang telah menggunakan berbagai saluran media komunikasi: media sosial online sebagai netizens.

Keberhasilan bisnis ritel sejatinya ditentukan oleh empat faktor: ketepatan (pacing), pandangan global (span), ketersediaan (availability), dan informasi (Fernie dan Sparks, 2014).

Peritel pakaian yang telah memiliki jaringan global dan sukses seperti Zara contohnya, kunci keberhasilannya terletak pada kecepatan dalam time to market, time to service, dan time to react. Toko-toko Zara ramai dikunjungi pelanggannya dan produk-produknya selalu dibeli karena desain produk pakaian Zara selalu baru, tidak jarang produk-produk tersebut tidak produksi dan dijual lagi. Akibatnya, pelanggan Zara selalu datang dan membeli produk-produk pakaian Zara.

Bila para produsen pakaian hanya meluncurkan mode pakaian satu tahun sekali, tidak seperti Zara. Zara selalu meluncurkan produk pakaian mode baru setiap 2 minggu sekali. Dalam mendesain produk-produk pakaian, Zara mendengar dan melibatkan pelanggannya. Zara mencari tahu banyak mode pakaian apa yang diinginkan pelanggannya, serta mode pakaian apa yang saat ini menjadi tren.

Zara mengintegrasikan desainer, pemasok, dan toko ritelnya melalui pendekatan SCM yang andal. Akibatnya, Zara dapat mempendek lead time dan men-deliver produk-produk pakaian ke pasar dengan tepat. Sekali lagi, kunci keberhasilan Zara terletak di pacing atau speed-nya.

Selain pacing, para peritel harus mengembangkan pandangan global. Saat ini komponen produk dipasok dari berbagai negara. Produsen dan peritel harus mencari sumber pasokan produk yang paling murah dan biaya logistik yang paling efisien.

Ketersediaan (availability) menjadi kunci keberhasilan. Para peritel harus memastikan produk tersedia baik di toko maupun online. Logistik berperan penting dalam menjamin ketersediaan produk di toko dan ketepatan dalam pengiriman produk ke konsumen.

Informasi, bukan hanya pergerakan fisik produk, yang perlu menjadi perhatian dalam logistik ritel. Informasi aliran produk sangat penting untuk perencanaan forecasting penjualan, pemesanan produk, penentuan tingkat inventory, penyimpanan produk di gudang, pengelonaan transportasi, dan penyimpanan produk di rak-rak toko ritel. Penerapan ICT sistem logistik yang andal menjadi kunci keberhasilan dalam sistem informasi manajemen logistik ritel.

***

Peran bisnis ritel sangat penting dalam penjualan produk-produk yang dihasilkan dari sektor primer dan sekunder, seperti manufaktur, pertanian, dan perikanan. Produk-produk tersebut didistribusikan ke toko-toko ritel secara tepat jenis produk, tepat waktu, tepat lokasi, dengan kondisi atau kualitas tetap terjaga, dan dengan biaya distribusi yang paling efisien.

Seringkali kita sebagai konsumen beranggapan bahwa ketersediaan produk di toko ritel dalam jumlah yang mencukupi dan dengan kualitas yang baik merupakan sesuatu yang biasa. Padahal, untuk menjamin ketersediaan produk (product availability) dengan tepat, baik tepat kuantitas maupun kualitas memerlukan solusi sistem logistik yang andal. Dalam hal ini, logistik berperan penting dalam bisnis ritel.

Referensi

Fernie & Sparks (Editor), Logistics and Retail Management: Emerging Issues and New Challenges in the Retail Supply Chain, 2014.

Kotler & Keller, Marketing Management, Global Edition, 2015.

ILC Reuni 212: Panggung ini Milik Siapa?

Ismail Fahmi, Ph.D,  Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia,

– – –

Acara ILC kemaren mengangkat tema “212: Perlukah Reuni?”

THE POWER OF ILC

Saya perhatikan, ILC ini merupakah sebuah acara yang sangat berpengaruh. Terlepas ada yang berpendapat bahwa ILC sekarang sudah tidak seperti dahulu, sekarang lebih banyak jadi ajang curhat, namun dalam banyak tema, ILC telah berhasil memberi panggung kepada tokoh-tokoh yang selama ini lantang namun tersembunyi. Publik yang lebih banyak membaca kegarangan para tokoh itu di media maya, lewat ILC ini publik bisa melihat dan membandingkan kualitas, kapasitas, dan apa yang sebenarnya ada di dalam kepala mereka.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (6)Para tokoh yang berkualitas, dia akan bisa membawa dirinya, menyampaikan gagasannya dengan runut, berisi, dan tak terpengaruh oleh bias rendahan. Sebaliknya, tokoh yang kurang berkualitas atau bermasalah, tanpa mereka sadari, akan mempertontonkah kualitas pribadi mereka yang ekonomis dalam nalar maupun moral. Ada juga yang setelah ILC, tokohnya diciduk.

Inilah kekuatan ILC. Dengan memberi panggung dan waktu berbicara kepada mereka yang pro dan kontra, hal-hal yang tersembunyi menjadi terbuka. ILC bukan ajang diskusi, tapi ajang membuka kualitas dan isi pikiran masing-masing kubu.

SIAPA BINTANG ILC KALI INI?

Baiklah sodara-sodara, kita lihat data dari Drone Emprit untuk menjawab pertanyaan ini. Dari kata kunci “ILC” saja, dengan filter harus huruf kapital dan berbahasa Indonesia, didapat trend percakapan yang naik pesat pada tanggal 6 kemaren.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (7)

Dari word cloud berita online, ada 4 tokoh yang menjadi bintang dalam ILC kali ini. Mereka adalah: Abu Janda, Felix Siauw, Denny Siregar, dan Mahfud MD. Yang lain adalah pemeran pendukung.

Dan dari most retweeted status di Twitter, mereka yang paling banyak dibicarakan bintangnya adalah Denny Siregar, Abu Janda, Fahri, Felix, dan Mahfud MD.

NETIZEN PALING POPULER

Siapa netizen di Twitter yang paling banyak mendapat ‘engagement’? Bentuk engagement bisa berupa ‘retweet’ atau ‘reply’. Lima orang paling populer dalam kategori ini adalah: @maspiyuuu, @karniilyas, @NetizenTofa, @mohmahfudmd, dan @darwistriadi.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (4)

Dalam pengukuran ini, Emprit ndak membedakan apakah retweet yang didapat itu dari robot atau dari real user. Kalau toh ada yang pakai robot, itu menunjukkan dia serius untuk mempromosikan dirinya dan opininya. Masih bermanfaat juga untuk membaca adanya niatan untuk melakukan propaganda.

THE RISE AND FALL OF ACTORS

Pasca ILC, diskusi ramai di media sosial dan online, membahas penampilan para tokoh itu. Aktor yang paling jelas mendapat sorotan yang kurang menyenangkan bagi mereka ada 3: Denny Siregar, Abu Janda, dan Aan Anshori.

Komentar Denny tentang ILC yang jadi ajang curhat, sontak dibalas oleh Karni Ilyas dengan sebuah pepatah “Kalau kamu tak pandai menari, jangan lantai kamu salahkan.” Netizen pun mendukung Karni. Siapapun yang selama ini pernah nonton ILC, pasti melihat komentar itu aneh. ILC adalah kesempatan bagi siapapun yang diundang untuk merek bersuara, menyampaikan posisi dia, opini, argumen tanpa disela. Hanya mereka yang tak mampu menyampaikan argumen kuat saja yang akan melihat kesempatan itu kurang bernilai.

Yang paling kurang beruntung adalah Abu Janda. Garangnya dia selama ini di media sosial, setelah diberi kesempatan menyampaikan argumennya langsung kepada opponen, ternyata 180 derajat kesan yang dibangunnya di ILC ini. Pasca ILC, cukup banyak yang kemudian membuat jarak darinya. Misalnya Yaqut Cholil bilang bahwa dia tidak mewakili banser. Ada juga yang menyebut dia bukan ustadz.

Apa yang terjdi di ILC tampaknya tidak berhenti di sana. Jika ada tokoh yang pendapatnya cukup kontroversial, setelah ILC, netizen yang berseberangan berusaha membuka profilenya. Misalnya Aan Anshori, oleh netizen banyak digali peran dan sepak terjangnya terkait LGBTQ dan liberalisme. Tulisannya tentang “Apakah Homoseksual Masuk Surga?” diungkit.

Kondisi sebaliknya dari mereka bisa dilihat pada Felix Siauw. Jawabannya yang dianggap telak atas pendapat Abu Janda, tentang bendera Rasulullah, Topkapi Palace, dan hadist, telah mendapat pujian dari netizen yang mendukungnya. The “rise” paling besar saya kira didapat oleh Felix, karena head to head dengan Abu Janda dan Denny Siregar, yang selama ini dianggap dua key opinion leader dari salah satu cluster.

Fahri Hamzah juga mendapat applaus luar biasa dari pendukungnya, yang kebanyakan dari MCA.

Di antara dua kubu di atas, ada Prof Mahmud MD, yang berdiri independen. Beliau mengkritik pandangan Abu Janda soal hadis, dan juga mengkritik Felix Siauw soal khilafah dan HTI. Akun Militan Jokowi merangkum pendapat beliau, “Menurut Mahfud MD tidak ada ajaran Khilafah didalam Islam. Hukum Primer Islam tidak mengenal konsep Khilafah. Dan jika ada yang memperjuangkan Khilafah untuk mengganti Pancasila yang telah disepakati oleh pendiri bangsa hal tersebut sudah melanggar hukum. Catet !!”

SNA: PETA YANG TAK SEIMBANG

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (5)

Kita lihat peta SNA untuk tanggal 6-7 Desember. Disitu tampak adanya dua cluster yang sangat-sangat tidak seimbang. Di sebelah kiri ada cluster @maspiyuuu, @netizentofa, @fadlizon, dll yang selama ini identik dengan MCA. Di antara mereka ada @Karniilyas sang presiden ILC. Cluster kiri ini sangat besar dibanding cluster kanan yang kecil.

Di kanan ada @dennysiregar7, @chicohakim, dkk. Tak tampak akun-akun lain yang selama ini bersama mereka. Mungkin karena jalannya dialog ILC malam itu kurang menguntungkan?

Yang menarik, di sini ada akun yang beru saya lihat, yaitu @darwistriadi. Kenapa dia mendapat begitu banyak retweet? Ternyata satu twitnya yang mengkritik Felix Siauw, mendapat dukungan besar dari cluster kanan. “ILC td malam, itu yg namanya Felix baru ngerti ilmu agama dikit, udh komen kaya gitu, ga sadar bahwa negara indonesia ini pancasila dan direbut dr penjajah dgn spirit pancasila..” Namun karena twit ini pula, dia mendapat begitu banyak response dan serangan dari cluster kiri.

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (9)

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (2)

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (3)

Ismail Fahmi PhD - ILC Reuni 212 Panggung ini Milik Siapa - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII (8)

CLOSING

Dari peta SNA tampak jelas, siapa pemilik panggung ILC tentang “212: Perlukah Reuni?” Mereka yang di cluster besar di sebelah kiri lah yang memilikinya.

Dan kembali ke pertanyaan yang diangkat ILC, “Perlukah Reuni”, seolah ini tak terjawab. Malah muncul jawaban-jawaban baru atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini muncul di media sosial, tentang para tokoh di baliknya cuitan di media sosial itu.

ILC tak menjawab apakah reuni diperlukan. Tapi dia menjawab pertanyaan: “Siapakah Abu Janda?”, “Siapakah Denny Siregar?”, “Siapakah Felix Siauw”, dan “Mengapa HTI Berbahaya?”

Jadi, kalau anda diundang Karni Ilyas untuk ikut acara ILC, tapi khawatir tidak bisa memenangkan opini di sana, maka tinggal di rumah bisa jadi pilihan yang terbaik buat anda.

 

 

Smart City melalui Sistem Cerdas Pengolahan Citra.

Izzati Muhimmah, Ph.D menerima potongan tumpeng dari Ause Labellapansa, S.T., M.Cs., M.Kom

Izzati Muhimmah, Ph.D menerima ungkapan rasa syukur dari Ause Labellapansa, S.T., M.Cs., M.Kom

(Pekanbaru, UII News). Program Studi Teknik Informatika (Prodi TI) Fakultas Teknik Universitas Islam Riau (FT UIR) Riau, mengadakan Kuliah Umum dengan tema “Percepatan Pembangunan Smart City Kota Pekanbaru melalui Sistem Cerdas Pengolahan Citra” yang menghadirkan narasumber Izzati Muhimmah, Ph.D, Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta.

“Alhamdulillah, Kuliah Umum berjalan dengan lancar.  Kegiatan yang merupakan lanjutan dari Memorandum of Understanding (MoU) antara Walikota Pekanbaru dengan Universitas Islam Riau, dalam rangka Percepatan Pekanbaru Smart City” ujar Ause Labellapansa, S.T., M.Cs., M.Kom, Ketua Program Studi Teknik Informatika FT UIR  (21 November 2016).

“Untuk mewujudkan kota Pekanbaru menjadi Smart City tersebut, Program Studi Teknik Informatika FT UIR berinisiatif mempersiapkan dan memberikan wawasan keilmuan bagi Mahasiswanya, dengan membuat salah satu tema penelitian melalui Sistem Cerdas Pengolahan Citra” ujarnya, seusai kegiatan bertempat di Aula Pasca Sarjana UIR, Jl. Kaharudin Nasution No 113, Pekanbaru.

Dalam paparannya Izzati Muhimmah, Ph.D, menyampaikan beberapa tema tugas akhir Mahasiswa yang sekiranya dapat dikerjakan oleh Mahasiswa dan Dosen di Program Studi Teknik Informatika Fakuktas Teknik UIR.

“Kuliah Umum yang dihadiri sekitar 300 san Mahasiswa tersebut sekaligus sebagai ungkapkan rasa syukur bagi Program Studi Teknik Informatika Fakuktas Teknik UIR yang telah meraih Akreditasi B dari Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi (BAN-PT)” pungkas Ause Labellapansa.

Jerri Irgo

Ojek: Dunia Paralel atau Kesenjangan Digital?

fathul_wahid

Di Indonesia, ojek telah menjadi salah satu layanan transportasi publik informal sejak beberapa dekade lalu, mulai sekitar awal 1970an. Yang dulunya, ojek dilayani menggunakan sepeda, akhirnya beralih ke sepeda motor. Ojek telah memberikan alternatif menyenangkan ketika layanan transportasi publik formal yang cukup dan handal tidak tersedia. Layanan serupa ojek juga dapat ditemukan di beberapa negara Asia lain, seperti Thailand dan Vietnam.

Mulai sekitar lima tahun lalu, layanan ojek di Indonesia, mendapatkan warna baru, dengan hadirnya layanan ojek berbantuan aplikasi bergerak. Di awal kemunculannya, beberapa gejolak penolakan terekam dalam media cetak dan digital. Namun, saat ini berita serupa sudah tidak banyak ‘terdengar’.

Pesatnya kepemilikan ponsel pintar menjadi salah satu peluang yang dimanfaatkan pemain bisnis ini. Sampai kini, telah banyak pemain yang mencoba peruntungan di sektor ini.
Pertanyaannya adalah: apakah kehadiran ojek berbasis aplikasi ini mengganggu ojek tradisional? Jawaban singkatnya: bisa ya, bisa tidak. Tergantung. Obrolan saya dengan beberapa pengojek memberikan jawaban yang lebih realistis.

“Dulu, saya mengira kalau kehadiran ojek berbasis aplikasi akan banyak mengganggu,” ungkap Fulan, seorang pengojek. Fulan merasakan dua dunia ‘perojekan’ tersebut di atas. “Namun, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan,” lanjutnya. Mengapa?

Pertama, pasar ojek tradisional dan berbasis aplikasi berbeda. Yang pertama biasanya mempunyai paguyuban dan tempat mangkal bersama, seperti di dekat stasiun kereta api atau terminal bis. Pasar mereka adalah penumpang moda transportasi publik tersebut yang ingin melanjutkan perjalanan atau yang tidak mempunyai aplikasi terinstal di ponselnya. Ojek berbasis aplikasi mempunyai pasar spesifik, seperti kalangan muda dan mahasiswa. Kata Fulan, mereka tidak pernah atau jarang menggunakan layanan transportasi publik.

Kedua, penghasilan normal per hari tidak berbeda jauh. Fulan menyebut kisaran angka. Memang ketika menjalankan ojek berbasis aplikasi, uang yang didulang per hari lebih tinggi. Namun, ojek jenis ini membutuhkan biaya tambahan seperti potongan sekian persen untuk pengelola, dan biaya sewa jaket atau helm. Selain itu, ojek jenis ini harus ‘berkeliaran’ yang membutuhkan bensin 1,5 sampai 2 kali lipat daripada ojek yang ‘mangkal’.

Ketiga, Fulan menyebutkan bahwa pengojek tradisional mempunyai ritme yang lebih santai. Pengojek berbasis aplikasi, kata Fulan, sering mengejar bonus dengan mengumpulkan poin. Pengejaran ini seringkali tidak selalu mulus, karena banyak hal, seperti pesanan fiktif dan pembatalan pesanan. Aturan yang semakin ketat dari pengelola, menjadikan pengojek berbasis aplikasi kadang harus berpikir dua kali.

Tentu, pengojek lain mungkin mempunyai pengalaman yang berbeda dengan Fulan. Yang jelas, selain harus mempunyai ponsel pintar, pengojek berbasis aplikasi harus mampu mengoperasikan aplikasi di ponsel. Sebagian besar pengojek adalah muhajir digital (digital migrant) yang tidak mengenal ponsel sejak kecil. Namun di lapangan ditemukan, meski mempunyai dua kemampuan tersebut, tidak semua pengojek tradisional tertarik menjadi pengojek berbasis aplikasi, karena beragam alasan. Ini adalah pilihan sukarela.

Jika ini kasusnya, apakah fenomena ini merupakan kesenjangan digital ataukah pilihan sukarela, yang membentuk ‘dunia paralel’: dua dunia yang berjalan dengan asumsi dan caranya masing-masing. Paling tidak, sampai saat ini dan beberapa tahun ke depan.

Mengapa? Fulan percaya, bahwa ke depan, bisnis ojek berbasis aplikasi lebih menjanjikan. Ojek jenis ini melampaui layanan yang dapat diberikan oleh ojek tradisional. Bantuan pengantaran beragam produk dan layanan lain, adalah contohnya. Ketika ojek berbasis aplikasi semakin meluas di setiap pojok Indonesia, cerita lain bisa jadi akan muncul. Ketika para pribumi digital (digital native) masuk bisnis ini, bukan tidak mungkin kesenjanganlah yang membesar. Kehadiran teknologi informasi, alih-alih membawa semangat inklusi yang merangkul semua kalangan, justru akan memperlebar kesenjangan digital. Ujungnya, kesenjangan sosial yang tidak diharapkan. Wallahu a’lam.

Tulisan Fathul Wahid, Ph.D, Dosen Magister Teknik Informatika PPs FTI UII ini telah dimuat dalam Kolom Analisis Harian Kedaulatan Rakyat pada 29 Oktober 2016 dengan judul yang lebih pendek “Kesenjangan Digital”

Jerri Irgo

Videotron dan Pornografi di Jakarta Selatan

Yudi Prayudi Digital Forensik Magister Teknik Informatika PPs FTI UII

Munculnya tayangan video porno pada videotron yang terpasang pada salah satu sudut jalan di wilayah Jakarta Selatan. Kesengajaan ataukah bukan tentunya tidak bisa disimpulkan secara cepat, namun memerlukan penyelidikan lebih lanjut. “Demikian juga dengan dugaan apakah ini kedua kejadian tersebut merupakan sebuah modus dari cybercrime ataupun bukan juga tidak bisa disimpulkan begitu saja tanpa melihat fakta yang terungkap dari proses penyelidikan tersebut” ujar Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom, Direktur Pusat Studi Forensika Digital (PUSFID) UII Yogyakarta.

Yudi, menambahkan “Dalam kasus videotron di Jakarta Selatan ini, dugaan sementaranya adalah admin atau operator dari komputer tersebut, tengah menonton/memutar video porno di komputer melalui layanan streaming video dari alamat tertentu. Namun tanpa disadari, komputer yang digunakan untuk mengakses layanan streaming video tersebut ternyata sedang terhubung ke videotron tertentu yang terletak di Jakarta Selatan tersebut”

“Dengan fakta tersebut maka ada beberapa kemungkinan munculnya konten tersebut pada videotron, yang pertama Operator /admin computer tidak sengaja melakukannya, yang bersangkutan sedang membuka videostreaming alamat tertentu dan tidak menyadari kalau komputernya sebenarnya sedang terkoneksi pada videotron yang berdampak apa yang dilihat pada komputernya akhirnya terlihat pula di videotron” ujarnya.

Kemungkinan lain, katanya “adalah komputer operator/admin terkena sebuah virus semacam RAT (remote access Trojan) yang memungkinkan computer tertentu dapat mengakses computer lainnya dan kemudian menjalankan aktivitas tertentu. Hal ini sejalan dengan klaim dari pihak manajemen pengelola videotron yang mengklaim bahwa terjadi penyusupan file tertentu yang mengakibatkan videotron tersebut tidak dapat dikendalikan oleh admin dan diarahkan oleh pihak tertentu untuk akhirnya mengakses alamat tertentu dan akhirnya menampilkan konten illegal.”

“Dan yang ketiga adanya aktifitas hacking yang sangat canggih yang dikenal istilah air gap hacking, yaitu hacking peralatan elektronik (umumnya adalah alat-alat yang dikendalikan secara remote misalnya : videotron, traffic lalu lintas bahkan kendaraan yang sudah menerapkan system computer).

Teknik yang dilakukan adalah memanfaatkan frekuensi gelombang untuk melakukan transfer data atau pengambil alihan control alat. Jadi tidak lagi digunakan koneksi internet namun memanfaatkan celah frekuensi yang ada pada alat elektronik tersebut. Bila ini yang terjadi, berarti memang sedang ada seseorang yang sedang mencoba untuk menerapkan teknik hacking ini pada alat videotron yang menjadi target tersebut.

“Dapat dipastikan orang tersebut memiliki skill computer dan elektronika yang sangat baik karena menerapkan teknik hacking yang cukup canggih. Mana yang paling benar adalah wewenang dari tim penyidik serta mempertimbangkan berbagai temuan artefak digital yang terdapat pada videotron maupun computer perusahaannya” ” pungkas Yudi yang juga Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri UII

Berita Terkait

Media Indonesia Ini Kemungkinan Penyebab Kasus Videotron 

Republika : Kominfo Dinilai Sudah Tangkal Situs Porno Secara Maksimal

Metro News : Analisa Ahli Soal Misteri Video Porno Muncul di Papan Iklan

Jerri Irgo