Tren Industri Jilbab di Indonesia

Tidak pantas rasanya bagi kita untuk melupakan perintah-Nya jika kita ingin selalu diingat-Nya. Tidak pantas rasanya jika membuka aurat kita, jika kelak kita ingin bertemu dengan yang Maha Suci. Tidak kah kita merasa malu jika menginginkan begitu banyak kebahagiaan dan cinta dari- Nya, tanpa memberikan apapun bahkan tak mengikuti apa-apa yang telah menjadi seruan-Nya.

Goresan tangan Merisha Hastarina, ST., M.Eng, Sekretaris Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Palembang, tersebut meraih Juara III Lomba Esai PPM (Pemberdayaan dan Pemuliaan Muslimah) bekerja sama dengan Divisi Dakwah Indonesian Muslim Society in Korea (IMUSKA) diposting 2011.

“Jilbab bukan hanya budaya semata, dikenakan bukan karena sekarang ini sedang banyak orang yang memakainya, bukan agar kita dipandang sebagai orang yang lebih beriman, bukan pula hanya karena satu peraturan yang harus kita patuhi. Kerudung adalah sebuah pilihan, komitmen diri untuk berpegang dan terus berjalan dalam kehidupan Islami”, ungkapnya melalui pesan singkatnya seusia  penandatangan Nota Kesepahaman antara FTI UII dan FT Universitas Muhammadiyah Palembang tentang Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (14 Maret 2018).

Baca : UII dan UMP, Kerjasama Pengembangan IPTEK 

Tulisan Merisha tersebut ikut menggaungkan bahwa Indonesia akan menjadi pusat mode Muslim dunia pada 2020. Ada yang mendukung, ada pula yang meragukan dan faktanya tren industri Hijab pada kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini mengalami tren positif naik secara dinamis.

Trend tersebut tentu patut untuk diapresiasi tinggi, karena sangat beralasan, dimana industri fashion kreatif ini pada umumnya didominasi oleh orang-orang muda yang berada di usia 18-35 tahun. Bidang fashion ini tidak hanya menyerap banyak tenaga kerja, tetapi juga secara sistematik dan berkelanjutan meningkatkan perekonomian Indonesia semakin baik.

Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perekonomian pernah  merilis “Industri fashion menyumbangkan hampir tujuh milyar dollar, dan mengalami peningkatan 2-3% dari sisi ekspor dan fashion busana muslim, menjadi salah satu penyumbang terbesar untuk pertumbuhan ekonomi”.

Mendukung rilis tersebut, mengutip Perkembangan Fashion Hijab Indonesia yang Mendunia yang direlease (7 Februari 2018) oleh Kara Indonesia yang termasuk kedalam salah satu Industri Fashion Kreatif bergerak di bidang fashion muslim yang berkembang pesat. Brand (Kara Indonesia) ini berdiri tahun 2012 bersama Hijaber Community dengan berbagai macam fashion style juga hijab.

Baca : Trend Industri Jilbab di Indonesia dalam Perspektif Logistic & Supply Chain Management, analisis Dr, Zaroni CISCP, CFMP

“Untuk kalian yang baru memulai berjilbab sedikit demi sedikit perbaiki jilbab dan pemahaman kita tentang agama. Jangan takut dicela. Mudah-mudahan Allah nanti kasih pemahaman ke kita”. Pesan dari Ambu selaku CEO dari Kara Indonesia dengan koleksi Kara Indonesia yang memadukan beberapa warna yang dianggap tidak terlalu mencolok, seperti warna-warna pastel, hitam putih yang terkesan soft.

Jerri Irgo

Beasiswa Alumni – MTI UII

Beasiswa Alumni dari Program Studi (Prodi) S1 Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) adalah program bagi Alumninya untuk melanjutkan Studi S2 di Magister Teknik Industri (MTI) Program Pascasarjana FTI UII. Adapun pendaftaran sampai dengan Sabtu, 24 Maret 2018, Perkulihan mulai tanggal Senin, 2 April 2018.

Hal tersebut disampaikan Dr Ir Elisa Kusrini MT CPIM CSCP, Sekretaris Program Pascasarjana FTI UII di ruang kerjanya Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km 14,4 Sleman Daerah istimewa Yogyakarta (16 Maret 2018)

Baca : Berma, Kuliah di MTI Sangat Menyenangkan 

Dr. Ir. Elisa Kusrini, menambahkan Keunggulan Kuliah di MTI PPs FTI UII, adalah  selain Akreditasi B dari BAN PT, juga dapat meraih Double Designation: gelar Magister Teknik (MT) dan gelar Sertifikasi Internasional – Certified International Project Manager (CPIM) atau Accredited Supply Chain Analyst (ASCA) (Optional). “Mahasiswa juga mendapatkan kesempatan mengambil Sertifikasi Keahlian dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi / BNSP – (Certified Risk management Officer) dan tersedia Beasiswa dalam bentuk SPP dan Bantuan Biaya Riset (Tesis)” pungkasnya

Adapun info detail Beasiswa Alumni – MTI UII  hubungi sdr Jerri Irgo – 0813.9246.9391

Jerri Irgo

Tingkatkan Literasi Siber, Jogja Mendaras Data

YOGYAKARTA — Untuk meningkatkan literasi dalam beraktivitas di media sosial pada era siber, sejumlah dosen di Yogyakarta mendirikan Jogja Mendaras Data (JMD).

“Jogja Mendaras Data ini merupakan inisiatif dari sejumlah dosen di Yogyakarta agar masyarakat siber tidak gampang terjerumus dan bermain informasi hoax di media sosial. Sesuai namanya mendaras, artinya mengkaji atau belajar dengan sungguh agar cerdas dalam menggunakan media sosial”.Demikian disampaikan Fathul Wahid, dosen Program Magister Informatika, Universitas Islam Indonesia (UII), salah satu inisiator JMD, yang juga Kepala Badan Sistem Informasi (BSI) UII, dalam konferensi pers peluncuran JMD di kampus UII Yogyakarta (15/3).

“Kami memiliki perangkat teknologi yang memungkinkan digunakan untuk menyimpan dan menganalisis data percakapan warganet melalui media sosial seperti Twitter. Data ini menjadi sangat penting untuk mendeteksi apakah sebuah topik yang lagi hangat menjadi perbincangan warganet sengaja digerakkan oleh kelompok kepentingan, atau benar-benar murni kepentingan publik”, tambah Andri Setiawan, dosen Program Magister Informatika, yang juga Wakil Kepala BSI UII.

“Kelak JMD akan menyediakan data bagi publik tentang apa saja terkait berbagai isu aktual yang menjadi perbincangan publik”, ungkap Bagus Fajriya Hakim, Ketua Program Studi Statistika UII.

Turut hadir dalam peluncuruan JMD, Ismail Fahmi yang juga pengajar Program Magister Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII, Yogyakarta. Kepada media, Fahmi menjelaskan, dalam pengoperasiannya JMD akan dibantu oleh Drone Emprit yang dikembangkan oleh Media Kernels Indonesia, yang sudah berpengalaman terlebih dahulu dalam pendataan dan pemetaan pembicaraan warganet di media sosial.

“Data yang tersimpan nanti dapat diakses oleh siapa saja. Kami akan buat mekanisme teknisnya agar banyak orang dapat mengakses data percakapan warganet di media sosial secara gratis”, jelasnya. “Namun, akan dibuat mekanisme yang mengendalikan keteraksesannya,” lanjutnya.

“Fokus JMD sejalan dengan ide Program Pascasarjana FTI UII yang sedang menggodog pembukaan konsentrasi baru dalam bidang sains data atau analitika data”, jelas Teduh Dirgahayu, Kepala Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise dan Direktur Program Pascasarjana FTI UII.

Sementara itu pengamat sosial media UIN Sunan Kalijaga, Iswandi Syahputra yang juga tergabung dalam JMD menjelaskan, JMD dapat membantu membersihkan informasi pada era media baru.”Saat ini siapa saja bisa membuat dan menyebar informasi tentang apa saja di media sosial. Informasi menjadi berlimpah ruah. Apalagi memasuki tahun politik. Informasi dapat menjadi komoditas politik. Informasi bersih dan kotor atau tersamar menjadi bercampur di media sosial. JMD dapat menjadi alat pembersih informasi berbasis data. Demokrasi virtual tidak dapat dibangun dari informasi yang kotor”, jelasnya.

“JMD ingin mendedikasikan diri untuk mengembangkan kajian dan penelitan bidang media sosial terkait isu-isu kontemporer. Harapannya, masyarakat semakin cerdas dalam bermedia sosial, bicara berbasis data, dan terhindar dari berita palsu (hoax)”, tambah Subhan Afifi, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta.

“JMD terbuka untuk berkolaborasi dan bekerja bersama berbagai pihak yang memiliki visi dan dedikasi sama, yaitu publik yang cerdas dalam bermedia, iklim media sosial yang sehat, dan informasi yang bersih”, papar MuzayinNazaruddin Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UII Yogyakarta.

Jerri Irgo

Polda DIY & Pusfid, Update Teknologi Kekinian

Delegasi Direktorat Intelijen dan Keamanan (DitIntelkam) Polda DIY melakukan kunjungan silaturahmi ke Pusat Studi Forensika Digital Universitas Islam Indonesia (UII), sebagaimana salah satu misi dari DitIntelkam yaitu membangun dan mengembangkan kerjasama dengan badan-badan di luar Instansi Polri sebagai salah satu wujud pemelihaan keamanan.

Delegasi yang terdiri Gatot Wahyu, SE., Muh Asnawi, SEI dan Menase, SH diterima Yudi Prayudi, Kepala Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) UII didampingi Ketua Program Pascasarjana FTI UII, Dr. R. Teduh Dirgahayu dan Fietyata Yudha, Peneliti Pusat Studi Forensika Digital.

“Mengingat keterbatasan SDM Polda DIY, maka diharapkan dengan adanya kerjasama yang akan dibangun antara Pusfid serta Digital Forensik dengan DitIntelkam Polda DIY upaya untuk melakukan eksplorasi alat teknologi  dapat dikerjakan bersama sehingga dapat saling melengkapi pengetahuan dan skill” ungkap Yudi Prayudi saat ditemui di Lantai 2 Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII (27 Februari 2018), seusai menerima delegasi.

Yudi menuturkan, “intinya mereka berharap agar ada komunikasi dengan kita agar update teknologi yang mereka terima lewat pengadaan alat dapat digunakan secara maksimal. Selama ini ada kendala dalam memaksimal pemanfaatkan alat dan teknologi yg dimilikinya” tuturnya

Semoga inisiasi dapat segera diwujudkan untuk mencetak profesional unggul, terpercaya, berkepribaidan dan semakin dicintai masyarakat, aamiinn

Jerri Irgo

Berma, Kuliah di MTI Sangat Menyenangkan

Berma Septiyanda, Mahasiswa Magister Teknik Industri (MTI) Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta,  ungkapkan alasan mengapa kuliah di MTI.

“Selain memiliki Konsentrasi yang sesuai dengan minat dan ter-update seperti Logistik, Supply Chain dan Ergonomi K3. MTI memiliki metode belajar yang menarik, fleksibel memungkinkan  untuk Mahasiswa dan Dosen selalu berinteraksi walaupun diluar ruang kelas” ungkapnya saat ditemui di ruang kuliah PPs 1 FTI UII Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII Yogyakarta (24 Februari 2018).

Baca : Tantangan Profesional Teknik Industri

Hal tersebut sangat beralasan karena MTI PPs FTI UII saat ini memiliki 4 konsentrasi yaitu Teknik Industri, Manajemen Industri, Ergonomi dan Keselamatan & Kesehatan Industri dan Logistic & Supply Chain Management. Serta dukungan staf pengajar dari profesional salah satunya Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia juga menjabat Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) periode 2018-2023.

Berma Septiyanda, menambahkan “Selain itu, banyak program yang dapat menunjang kebutuhan untuk kedepannya, seperti pelatihan, kunjungan. Pastinya Kuliah di MTI sangat menyenangkan” tutur mahasiswa MTI angkatan 2016 tersebut

Baca Juga : Knowledge, Skill dan Attitude

Secara terpisah Dr. Ir. Elisa Kusrini, MT, CPIM, CSCP, Sekretaris PPs FTI UII melengkapi keunggulan mengapa Kuliah di MTI PPs FTI UII, diantaranya selain Akreditasi B dari BAN PT, juga dapat meraih Double Designation: gelar Magister Teknik (MT) dan gelar Sertifikasi Internasional – Certified International Project Manager (CPIM) atau Accredited Supply Chain Analyst (ASCA) (Optional). “Mahasiswa juga mendapatkan kesempatan mengambil Sertifikasi Keahlian dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi / BNSP – (Certified Risk management Officer) dan tersedia Beasiswa dalam bentuk SPP dan Bantuan Biaya Riset (Tesis)” pungkasnya

Jerri Irgo.

Media Cetak Lebih Kredibel

“Teknologi baru, paradigma baru yang berbeda, berpengaruh arah majalah cetak kedepan. Sehingga apa yang harus dilakukan, adalah lakukan apa yang dapat kita lakukan. Mengutip hasil survei Nielsen Consumer & Media View pada kuartal III/2017 menyatakan media cetak (koran-red) masih kredibel, 10 tahun kedepan media cetak”

Erwin Kustiman, Pemimpin Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat sampaikan hal tersebut saat menjadi Narasumber Upgrading Skill Pengurus UII News bertempat di Aula Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jawa Barat (21 Februari 2018).

Masih eksisnya koran dan media cetak lainnya merupakan hasil survei Nielsen Consumer & Media View pada kuartal III/2017. Survei dilakukan di 11 kota dan dengan responden berjumlah 17.000 orang. Nielsen mengungkapkan saat ini media cetak memiliki penetrasi 8% dan dibaca oleh 4,5 juta orang. Dari jumlah tersebut, 83%-nya membaca koran.

Elemen trust terhadap konten tentu berpengaruh terhadap iklan yang ada di dalamnya, sehingga keberadaan koran sebagai media beriklan sangat penting untuk produk yang mengutamakan unsur trust, misalnya produk perbankan dan asuransi. Meskipun jumlah pendapatan belanja iklan turun 11% dari 2013 ke tahun 2017, total pendapatan iklan koran yang masih tetap berada di angka Rp 21 triliun. Fakta ini menggambarkan bahwa media cetak masih memiliki peluang mendapatkan kue iklan yang signifikan. “berdasar data yang ada potensi iklan untuk media sebesar 50,3%, baru 10% terserap di portal berita, selebihnya masih dikuasai Google (Google Ads –red)” ujarnya.

Berdasarkan publikasi survei Nielsen, profil pembaca, media cetak di Indonesia cenderung dikonsumsi oleh konsumen dari rentang usia 20-49 tahun (74%), memiliki pekerjaan sebagai karyawan (32%), dan mayoritas berasal dari kelas atas (54%). Fakta ini mengindikasikan pembaca media cetak masih produktif dan dari kalangan yang mapan.

Walaupun masih setia pada media cetak, para pembaca media cetak juga mengikuti perkembangan teknologi. Mereka juga menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari. Frekuensi mereka menggunakan internet bahkan terbilang sangat tinggi, yakni mencapai 86% atau di atas rata-rata yang sebesar 61%. “Hal ini semakin memperkuat fakta bahwa pembaca media cetak berasal dari kalangan yang lebih affluent,” tuturnya.

Tati Humas Harian Umum Pikiran Rakyat tampak hadir mendapingi, sementara lainnya Ari Wibowo, SH., SHI., MH. Pemimpin Umum dan Nadia Wasta Utami, S.I.Kom., MA. Pemimpin Umum Redaksi juga repoter representatif dari 8 Fakultas di Lingkungan UII termasuk Jerri Irgo, representatif dari Fakultas Teknologi Industri UII

Jerri Irgo

Kami Mencari Orang Yang Terus Bertanya Dan Mau Berkembang

Bisnis digital ekonomi di Indonesia masih kekurangan pasokan sumberdaya manusia, saat ini Indonesia mengalami talent shortage di bidang Teknologi Informasi, bahkan kesulitan mendapatkan programmer”

Silaturahmi UMP Purwokerto - 01022018 - Ver 2

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Ketua Program Pascasarjana FTI UII, ungkapkan hal tersebut saat kunjungan silaturahmi dan share session bersama Dosen dan Mahasiswa Program Studi Informatika di Ruang Sidang Fakultas Teknik & Sains, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (1 Februari 2018)

“Hal tersebut sangat beralasan, Indonesia masih kesulitan mencukupi kebutuhan tenaga ahli karena sekitar  75% lulusan sarjana tidak mengembangkan kemampuan atau terlibat dalam pengembangan Teknologi Informasi” ujarnya

“Di Indonesia mencari programer itu susah setengah mati, Tiap beberapa bulan metode teknis berganti dan selalu ada hal baru, banyak perusahaan mencari orang yang terus bertanya dan mau berkembang.  Berbeda dengan tim engineering dari India sudah sangat mapan, bukan semata-mata dari segi kemampuan dan kecerdasan, melainkan juga pola pikir (mindset)” jelas Dr. R Teduh Dirgahayu

Sementara itu, Hindayati Mustafidah, S.Si., M.Kom, Wakil Dekan I, Fakultas Teknik & Sains, Universitas Muhammadiyah Purwokerto menyambut baik kunjungan silaturahmi dan share session “Semoga apa yang direncanakan bersilaturahmi dan seminar berjalan lancar” tuturnya saat membuka kegiatan bersama tersebut.

Materi : Meningkatkan Daya Saing Profesional TI di Era Global

Jerri Irgo

Silaturahmi & Sharing Session ITTelkom Purwokerto

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Ketua Program Pascasarjana FTI UII bersama Delegasi melakukan kunjungan silaturahmi ke Kampus Institut Teknologi Telkom Purwokerto. Delegasi PPs FTI UII disambut langsung Alfin Hikmaturokhman, M.T. Wakil Rektor I (Akademik dan Riset) di Kampus Jl. D. I. Panjaitan No. 128 Purwokerto Jawa Tengah. Selain silaturahmi sekaligus melakukan sharing session Tantangan Profesional Bidang Logistic & Supply Chain di Indonesia (1 Februari 2018)

Silaturahmi ITTelkom Purwokerto - 001022018

Sharing session menghadirkan narasumber Dr.Ir. Elisa Kusrini, MT, CPIM, CSCP., Sekretaris Program Pascasarjana FTI UII, juga sebagai Pengajar pada Magister Teknik Industri PPs FTI UII memaparkan Tantangan dan Peluang di Industri dan Riset.

“Tantangan Profesional salah satu tantangan terberat menghadapi pasar terbuka Asean tersebut adalah pemanfaatan tenaga ahli bidang logistik. Saat ini kebutuhan tenaga ahli logistik sekitar 17.000 orang per tahun, untuk memenuhi minimal dua ahli logistik di setiap perusahaan besar dan menengah yang bergerak baik di bidang manufacturing, perdagangan, retail, dan distribusi” ungkap Dr.Ir. Elisa Kusrini.

Kegiatan sharing session dihadiri Dosen dan Mahasiswa ITTelkom.

Materi : Logistic & SCM – Tantangan dan Peluang di Industri dan Riset

Jerri Irgo

Perancangan Model Bisnis Cinderamata

Perancangan Model Bisnis Cinderamata sebagai Implementasi Social Entrepreneurship, mengantarkan Rifa’i  meraih gelar Master dari Magister Teknik Industri (MTI), Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII)

rsz_perancangan_model_bisnis_cinderamata_-_rifai_mti_uii

Mahasiswa bimbingan Muhammad Ridwan Andi Purnomo, Ph.D dan Dr Taufiq Immawan ini memaparkan dari hasil penelitian “Model bisnis Souvenir dan Cinderamata Banten brand Ore Bae agar sesuai dengan kondisi sekarang, dibutuhkan perbaikan dari model bisnis awal dengan menambah segmen pelanggan baru berupa desainner kostum, menghilangkan komponen harga murah pada proposisi nilai yang ditawarkan, menambah saluran distribusi produk di titik-titik tempat berpotensi (Bandara Soekarno Hatta, pusat Kota Tangerang, pusat  Kota Tangerang Selatan dan Pelabuhan Merak)” ujarnya di ruang PPs 1, FTI UII, Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII Yogyakarta (15 Januari 2018)

Rifai menambahkan “Selain itu juga perlunya memaksimalkan fungsi saluran yang sudah tersedia baik secara direct dan indirect yang bersifat online maupun offline serta menambah event Banten pada website Ore Bae sebagai jasa periklanan”

Hal tersebut didukung dengan penambahan sumberdaya utama yang memiliki kemampuan dibidang IT support untuk mengelola dan merawat saluran berbasis online serta jaringan didalam administrasi. Dalam menjalin hubungan terhadap pelanggan, maka diperlukan pelayanan tambahan berupa personal assistance dan customer care yang digunakan sebagai layanan informasi proposisi nilai yang terkandung didalam produk dan pemberian pelatihan terhadap pelanggan. “Dari inovasi model bisnis baru ini, diharapkan dapat memberikan manfaat lebih dari model bisnis yang lama” tegas Rifai.

Jerri Irgo

Mengintip Teknologi Sritex Produksi Seragam Militer

PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) menggarap bisnis tekstil mulai hulu hingga hilir, terdiri atas pasokan bahan baku, terutama serat rayon, riset pengembangan hutan tanaman industri, pemintalan benang (spinning), pertenunan (weaving), pencelupan dan pengecatan (dyeing dan printing), serta garmen. Sritex memproduksi seragam militer 31 negara, seragam beberapa perusahaan, dan garmen prinsipal global.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan Mahasiswa Magister Teknik Industri (MTI) Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) melakukan kunjungan industri ke Sritex.

Photo Kunjungan Industri MTI PPs FTI UII - Sritex - Des 2017 - Jerri Irgo
Dr. Taufik Himawan, Dosen Pendamping dalam sambutannya sampaikan “rasa syukur dan terima kasih telah diberikan kesempatan kepada Mahasiswa MTI untuk melakukan kunjungan ke Perusahaan Tekstil Terpadu terbesar se Asia Tenggara, banyak hal baru dan dapat menjadi tema thesis” ungkap Taufik juga sebagai Dosen Magister Teknik Industri PPs FTI UII (14 Desember 2017).

Delegasi PPs FTI UII, diterima Utami dan Rena Humas serta Agung GM Produksi Sritex. Saat menjelaskan kepada mahasiswa Utama sampaikan produk kain Sritex telah digunakan oleh angkatan militer beragam negara. Tidak hanya Indonesia tapi juga negara-negara seperti Timor Leste, Jerman, Inggris, Swedia, dan Australia.

Bukan hanya kualitas mutu yang teruji, Sritex juga melakukan beragam inovasi produk melalui pengunaan teknologi.  Salah satunya adalah Sritex berhasil memproduksi seragam militer anti sinar infra merah, anti serangga, anti api, dan anti radiasi nuklir.

“Inovasi akan selalu kami kembangkan. Kami selalu berusaha berada di garis depan dalam teknologi terbaru. Ini sesuai dengan tujuan kami yakni mutu yang tinggi, harga baik, serta pekerjan tepat waktu bisa terus kami jaga dengan baik” jelas Utami,

Selain itu Sritex memiliki satu keunggulan yang berbeda dengan perusahaan lainnya, yaitu tidak ada membedakan karyawan kontrak dan permanen, semua mendapat hal dan kewajian yang sama apalagi   “karyawan berpegang pada konsep Trilogi Sritex, yang terdiri atas tiga poin, yakni perusahaan adalah sawah ladang kita bersama, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini, serta kita terikat sebagai keluarga besar Sritex yang mengutamakan persatuan dan kesatuan” ujarnya.

Selanjutnya Utami menambahkan ada filosofi Tri Dharma, “yang juga terdiri atas tiga poin, yakni melu handarbeni atau ikut merasa memiliki, melu hangrungkebi atau ikut bertanggung jawab, dan mulat sariro hangrosowani atau selalu mawas diri”

Jerri Irgo