Polda DIY & Pusfid, Update Teknologi Kekinian

Delegasi Direktorat Intelijen dan Keamanan (DitIntelkam) Polda DIY melakukan kunjungan silaturahmi ke Pusat Studi Forensika Digital Universitas Islam Indonesia (UII), sebagaimana salah satu misi dari DitIntelkam yaitu membangun dan mengembangkan kerjasama dengan badan-badan di luar Instansi Polri sebagai salah satu wujud pemelihaan keamanan.

Delegasi yang terdiri Gatot Wahyu, SE., Muh Asnawi, SEI dan Menase, SH diterima Yudi Prayudi, Kepala Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) UII didampingi Ketua Program Pascasarjana FTI UII, Dr. R. Teduh Dirgahayu dan Fietyata Yudha, Peneliti Pusat Studi Forensika Digital.

“Mengingat keterbatasan SDM Polda DIY, maka diharapkan dengan adanya kerjasama yang akan dibangun antara Pusfid serta Digital Forensik dengan DitIntelkam Polda DIY upaya untuk melakukan eksplorasi alat teknologi  dapat dikerjakan bersama sehingga dapat saling melengkapi pengetahuan dan skill” ungkap Yudi Prayudi saat ditemui di Lantai 2 Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII (27 Februari 2018), seusai menerima delegasi.

Yudi menuturkan, “intinya mereka berharap agar ada komunikasi dengan kita agar update teknologi yang mereka terima lewat pengadaan alat dapat digunakan secara maksimal. Selama ini ada kendala dalam memaksimal pemanfaatkan alat dan teknologi yg dimilikinya” tuturnya

Semoga inisiasi dapat segera diwujudkan untuk mencetak profesional unggul, terpercaya, berkepribaidan dan semakin dicintai masyarakat, aamiinn

Jerri Irgo

Berma, Kuliah di MTI Sangat Menyenangkan

Berma Septiyanda, Mahasiswa Magister Teknik Industri (MTI) Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta,  ungkapkan alasan mengapa kuliah di MTI.

“Selain memiliki Konsentrasi yang sesuai dengan minat dan ter-update seperti Logistik, Supply Chain dan Ergonomi K3. MTI memiliki metode belajar yang menarik, fleksibel memungkinkan  untuk Mahasiswa dan Dosen selalu berinteraksi walaupun diluar ruang kelas” ungkapnya saat ditemui di ruang kuliah PPs 1 FTI UII Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII Yogyakarta (24 Februari 2018).

Baca : Tantangan Profesional Teknik Industri

Hal tersebut sangat beralasan karena MTI PPs FTI UII saat ini memiliki 4 konsentrasi yaitu Teknik Industri, Manajemen Industri, Ergonomi dan Keselamatan & Kesehatan Industri dan Logistic & Supply Chain Management. Serta dukungan staf pengajar dari profesional salah satunya Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia juga menjabat Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) periode 2018-2023.

Berma Septiyanda, menambahkan “Selain itu, banyak program yang dapat menunjang kebutuhan untuk kedepannya, seperti pelatihan, kunjungan. Pastinya Kuliah di MTI sangat menyenangkan” tutur mahasiswa MTI angkatan 2016 tersebut

Baca Juga : Knowledge, Skill dan Attitude

Secara terpisah Dr. Ir. Elisa Kusrini, MT, CPIM, CSCP, Sekretaris PPs FTI UII melengkapi keunggulan mengapa Kuliah di MTI PPs FTI UII, diantaranya selain Akreditasi B dari BAN PT, juga dapat meraih Double Designation: gelar Magister Teknik (MT) dan gelar Sertifikasi Internasional – Certified International Project Manager (CPIM) atau Accredited Supply Chain Analyst (ASCA) (Optional). “Mahasiswa juga mendapatkan kesempatan mengambil Sertifikasi Keahlian dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi / BNSP – (Certified Risk management Officer) dan tersedia Beasiswa dalam bentuk SPP dan Bantuan Biaya Riset (Tesis)” pungkasnya

Jerri Irgo.

Media Cetak Lebih Kredibel

“Teknologi baru, paradigma baru yang berbeda, berpengaruh arah majalah cetak kedepan. Sehingga apa yang harus dilakukan, adalah lakukan apa yang dapat kita lakukan. Mengutip hasil survei Nielsen Consumer & Media View pada kuartal III/2017 menyatakan media cetak (koran-red) masih kredibel, 10 tahun kedepan media cetak”

Erwin Kustiman, Pemimpin Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat sampaikan hal tersebut saat menjadi Narasumber Upgrading Skill Pengurus UII News bertempat di Aula Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jawa Barat (21 Februari 2018).

Masih eksisnya koran dan media cetak lainnya merupakan hasil survei Nielsen Consumer & Media View pada kuartal III/2017. Survei dilakukan di 11 kota dan dengan responden berjumlah 17.000 orang. Nielsen mengungkapkan saat ini media cetak memiliki penetrasi 8% dan dibaca oleh 4,5 juta orang. Dari jumlah tersebut, 83%-nya membaca koran.

Elemen trust terhadap konten tentu berpengaruh terhadap iklan yang ada di dalamnya, sehingga keberadaan koran sebagai media beriklan sangat penting untuk produk yang mengutamakan unsur trust, misalnya produk perbankan dan asuransi. Meskipun jumlah pendapatan belanja iklan turun 11% dari 2013 ke tahun 2017, total pendapatan iklan koran yang masih tetap berada di angka Rp 21 triliun. Fakta ini menggambarkan bahwa media cetak masih memiliki peluang mendapatkan kue iklan yang signifikan. “berdasar data yang ada potensi iklan untuk media sebesar 50,3%, baru 10% terserap di portal berita, selebihnya masih dikuasai Google (Google Ads –red)” ujarnya.

Berdasarkan publikasi survei Nielsen, profil pembaca, media cetak di Indonesia cenderung dikonsumsi oleh konsumen dari rentang usia 20-49 tahun (74%), memiliki pekerjaan sebagai karyawan (32%), dan mayoritas berasal dari kelas atas (54%). Fakta ini mengindikasikan pembaca media cetak masih produktif dan dari kalangan yang mapan.

Walaupun masih setia pada media cetak, para pembaca media cetak juga mengikuti perkembangan teknologi. Mereka juga menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari. Frekuensi mereka menggunakan internet bahkan terbilang sangat tinggi, yakni mencapai 86% atau di atas rata-rata yang sebesar 61%. “Hal ini semakin memperkuat fakta bahwa pembaca media cetak berasal dari kalangan yang lebih affluent,” tuturnya.

Tati Humas Harian Umum Pikiran Rakyat tampak hadir mendapingi, sementara lainnya Ari Wibowo, SH., SHI., MH. Pemimpin Umum dan Nadia Wasta Utami, S.I.Kom., MA. Pemimpin Umum Redaksi juga repoter representatif dari 8 Fakultas di Lingkungan UII termasuk Jerri Irgo, representatif dari Fakultas Teknologi Industri UII

Jerri Irgo

Kami Mencari Orang Yang Terus Bertanya Dan Mau Berkembang

Bisnis digital ekonomi di Indonesia masih kekurangan pasokan sumberdaya manusia, saat ini Indonesia mengalami talent shortage di bidang Teknologi Informasi, bahkan kesulitan mendapatkan programmer”

Silaturahmi UMP Purwokerto - 01022018 - Ver 2

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Ketua Program Pascasarjana FTI UII, ungkapkan hal tersebut saat kunjungan silaturahmi dan share session bersama Dosen dan Mahasiswa Program Studi Informatika di Ruang Sidang Fakultas Teknik & Sains, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (1 Februari 2018)

“Hal tersebut sangat beralasan, Indonesia masih kesulitan mencukupi kebutuhan tenaga ahli karena sekitar  75% lulusan sarjana tidak mengembangkan kemampuan atau terlibat dalam pengembangan Teknologi Informasi” ujarnya

“Di Indonesia mencari programer itu susah setengah mati, Tiap beberapa bulan metode teknis berganti dan selalu ada hal baru, banyak perusahaan mencari orang yang terus bertanya dan mau berkembang.  Berbeda dengan tim engineering dari India sudah sangat mapan, bukan semata-mata dari segi kemampuan dan kecerdasan, melainkan juga pola pikir (mindset)” jelas Dr. R Teduh Dirgahayu

Sementara itu, Hindayati Mustafidah, S.Si., M.Kom, Wakil Dekan I, Fakultas Teknik & Sains, Universitas Muhammadiyah Purwokerto menyambut baik kunjungan silaturahmi dan share session “Semoga apa yang direncanakan bersilaturahmi dan seminar berjalan lancar” tuturnya saat membuka kegiatan bersama tersebut.

Materi : Meningkatkan Daya Saing Profesional TI di Era Global

Jerri Irgo

Silaturahmi & Sharing Session ITTelkom Purwokerto

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Ketua Program Pascasarjana FTI UII bersama Delegasi melakukan kunjungan silaturahmi ke Kampus Institut Teknologi Telkom Purwokerto. Delegasi PPs FTI UII disambut langsung Alfin Hikmaturokhman, M.T. Wakil Rektor I (Akademik dan Riset) di Kampus Jl. D. I. Panjaitan No. 128 Purwokerto Jawa Tengah. Selain silaturahmi sekaligus melakukan sharing session Tantangan Profesional Bidang Logistic & Supply Chain di Indonesia (1 Februari 2018)

Silaturahmi ITTelkom Purwokerto - 001022018

Sharing session menghadirkan narasumber Dr.Ir. Elisa Kusrini, MT, CPIM, CSCP., Sekretaris Program Pascasarjana FTI UII, juga sebagai Pengajar pada Magister Teknik Industri PPs FTI UII memaparkan Tantangan dan Peluang di Industri dan Riset.

“Tantangan Profesional salah satu tantangan terberat menghadapi pasar terbuka Asean tersebut adalah pemanfaatan tenaga ahli bidang logistik. Saat ini kebutuhan tenaga ahli logistik sekitar 17.000 orang per tahun, untuk memenuhi minimal dua ahli logistik di setiap perusahaan besar dan menengah yang bergerak baik di bidang manufacturing, perdagangan, retail, dan distribusi” ungkap Dr.Ir. Elisa Kusrini.

Kegiatan sharing session dihadiri Dosen dan Mahasiswa ITTelkom.

Materi : Logistic & SCM – Tantangan dan Peluang di Industri dan Riset

Jerri Irgo

Perancangan Model Bisnis Cinderamata

Perancangan Model Bisnis Cinderamata sebagai Implementasi Social Entrepreneurship, mengantarkan Rifa’i  meraih gelar Master dari Magister Teknik Industri (MTI), Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII)

rsz_perancangan_model_bisnis_cinderamata_-_rifai_mti_uii

Mahasiswa bimbingan Muhammad Ridwan Andi Purnomo, Ph.D dan Dr Taufiq Immawan ini memaparkan dari hasil penelitian “Model bisnis Souvenir dan Cinderamata Banten brand Ore Bae agar sesuai dengan kondisi sekarang, dibutuhkan perbaikan dari model bisnis awal dengan menambah segmen pelanggan baru berupa desainner kostum, menghilangkan komponen harga murah pada proposisi nilai yang ditawarkan, menambah saluran distribusi produk di titik-titik tempat berpotensi (Bandara Soekarno Hatta, pusat Kota Tangerang, pusat  Kota Tangerang Selatan dan Pelabuhan Merak)” ujarnya di ruang PPs 1, FTI UII, Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII Yogyakarta (15 Januari 2018)

Rifai menambahkan “Selain itu juga perlunya memaksimalkan fungsi saluran yang sudah tersedia baik secara direct dan indirect yang bersifat online maupun offline serta menambah event Banten pada website Ore Bae sebagai jasa periklanan”

Hal tersebut didukung dengan penambahan sumberdaya utama yang memiliki kemampuan dibidang IT support untuk mengelola dan merawat saluran berbasis online serta jaringan didalam administrasi. Dalam menjalin hubungan terhadap pelanggan, maka diperlukan pelayanan tambahan berupa personal assistance dan customer care yang digunakan sebagai layanan informasi proposisi nilai yang terkandung didalam produk dan pemberian pelatihan terhadap pelanggan. “Dari inovasi model bisnis baru ini, diharapkan dapat memberikan manfaat lebih dari model bisnis yang lama” tegas Rifai.

Jerri Irgo

Mengintip Teknologi Sritex Produksi Seragam Militer

PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) menggarap bisnis tekstil mulai hulu hingga hilir, terdiri atas pasokan bahan baku, terutama serat rayon, riset pengembangan hutan tanaman industri, pemintalan benang (spinning), pertenunan (weaving), pencelupan dan pengecatan (dyeing dan printing), serta garmen. Sritex memproduksi seragam militer 31 negara, seragam beberapa perusahaan, dan garmen prinsipal global.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan Mahasiswa Magister Teknik Industri (MTI) Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) melakukan kunjungan industri ke Sritex.

Photo Kunjungan Industri MTI PPs FTI UII - Sritex - Des 2017 - Jerri Irgo
Dr. Taufik Himawan, Dosen Pendamping dalam sambutannya sampaikan “rasa syukur dan terima kasih telah diberikan kesempatan kepada Mahasiswa MTI untuk melakukan kunjungan ke Perusahaan Tekstil Terpadu terbesar se Asia Tenggara, banyak hal baru dan dapat menjadi tema thesis” ungkap Taufik juga sebagai Dosen Magister Teknik Industri PPs FTI UII (14 Desember 2017).

Delegasi PPs FTI UII, diterima Utami dan Rena Humas serta Agung GM Produksi Sritex. Saat menjelaskan kepada mahasiswa Utama sampaikan produk kain Sritex telah digunakan oleh angkatan militer beragam negara. Tidak hanya Indonesia tapi juga negara-negara seperti Timor Leste, Jerman, Inggris, Swedia, dan Australia.

Bukan hanya kualitas mutu yang teruji, Sritex juga melakukan beragam inovasi produk melalui pengunaan teknologi.  Salah satunya adalah Sritex berhasil memproduksi seragam militer anti sinar infra merah, anti serangga, anti api, dan anti radiasi nuklir.

“Inovasi akan selalu kami kembangkan. Kami selalu berusaha berada di garis depan dalam teknologi terbaru. Ini sesuai dengan tujuan kami yakni mutu yang tinggi, harga baik, serta pekerjan tepat waktu bisa terus kami jaga dengan baik” jelas Utami,

Selain itu Sritex memiliki satu keunggulan yang berbeda dengan perusahaan lainnya, yaitu tidak ada membedakan karyawan kontrak dan permanen, semua mendapat hal dan kewajian yang sama apalagi   “karyawan berpegang pada konsep Trilogi Sritex, yang terdiri atas tiga poin, yakni perusahaan adalah sawah ladang kita bersama, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini, serta kita terikat sebagai keluarga besar Sritex yang mengutamakan persatuan dan kesatuan” ujarnya.

Selanjutnya Utami menambahkan ada filosofi Tri Dharma, “yang juga terdiri atas tiga poin, yakni melu handarbeni atau ikut merasa memiliki, melu hangrungkebi atau ikut bertanggung jawab, dan mulat sariro hangrosowani atau selalu mawas diri”

Jerri Irgo

Dukungan Forensika Digital dalam Reformasi Perpajakan.

Yudi Prayudi, S.Si., M.Kom., Kepala Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) Universitas Islam Indonesia, mendampingi kunjungan industri, mahasiswa konsentrasi Forensika Digital Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan – Republik Indonesia, Jakarta.

Kunjungan Industri - Digital Forensik - Direkorat Jenderal Pajak Kemenkeu RI - Magister Teknik Informatika PPs FTI UII - Jerri Irgo

Delegasi PPs FTI UII disambut langsung Direktur Direktorat Penegakan Hukum DJP, Yuli Kristiono, didampingi Joni Isparianto, Kasubdit Forensika dan Barang Bukti di lantai 3 Gedung Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan di Jl Gatot Subroto Jakarta Selatan. (13 Desember 2017).

Yuli Kristiono, menyampaikan “Perlu adanya sinergi antara DJP dan Perguruan Tinggi, take and give yang bermanfaat, ini menjadi penting, agar eksistensi kita dapat diterima sepenuhnya” ujarnya saat membuka kegiatan kunjungan industri dengan tema Implementasi Forensik Digital dalam Mendukung Reformasi Perpajakan di Indonesia menjadi tema kegiatan kunjungan industri tahun 2017.

Yuli menambahkan “Bukan sekedarnya, namun dapat diperluas dengan berkolaborasi yang dapat menjawab tantangan dan harus dapat diterima masyarakat” tegasnya

Selanjutnya Joni dalam paparannya menjelaskan bahwa ada “Peningkatan target penerimaan pajak setiap tahun, pada APBN 2017 menetapkan penerimaan perpajakan Rp1.498,9 triliun atau mencapai 85,6% dari pendapatan negara. Program reformasi perpajakan secara komprehensif, yaitu antara kebijakan dan administrasi serta penegakan hukum di bidang perpajakan dan penggunaan Teknologi Informasi oleh Wajib Pajak, dengan hal tersebut DJP memandang perlu metode khusus untuk memperoleh data elektronik, dengan Forensik Digital melalui pengembangan unit Forensik Digital” ujar Joni

Materi : Implementasi Forensik Digital dalam Mendukung Reformasi Perpajakan di Indonesia Direktorat Jenderal Pajak

Menjawab tantangan tersebut, DJP sudah membentuk “Sub Direktorat Forensik dan Barang Bukti, yang disahkan oleh Menteri Keuangan pada tahun 2016 dengan melakukan perencanaan strategis, pengembangan SOP, pelatihan SDM, turun lapangan, dan evaluasi Forensik Digital melalui pengembangan Gugus Tugas Forensik Digital di setiap kanwil” pungkas Joni

Jerri Irgo

Kolaborasi UII, BI & Unesco, Pemasaran Industri Kreatif Melalui Medsos

“Strategi dasar media sosial adalah sarana interaksi, maka berinteraksilah, jangan sekedar sebar iklan” ungkap Dr. R. Teduh Dirgahayu, Kepala Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise saat memaparkan materi  di Workshop Pemasaran Industri Kreatif Melalui Media Sosial.

Kolaborasi UII BI Unesco Latih Pemasaran Industri Kreatif Medsos jerri irgo

Rektor UII bersama Delegasi Bank Indonesia dan Unesco

Kegiatan diskusi dan workshop, dilaksanakan kerjasama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawah Tengah dan Unesco. Bank Indonesia dan Unesco melakukan peningkatan sumber daya manusia (SDM) dan Unesco berkonsentrasi untuk melestarikan seni dan budaya warisan leluhur, mengambil tempat di Laboratorium IT Centrum,  Gedung KH Mas Mansur, FTI UII, Kampus Terpadu UII Yogyakarta (29 November 2017),

Adapun pesertanya adalah anggota Asosiasi Kesenian Rakyat Borobudur (Askrab), mereka dilatih untuk membuat promosi melalui media sosial, Facebook.

Media sosial secara umum dapat di artikan sebagai situs yang menyediakan wadah bagi penggunanya untuk saling berinteraksi secara online, Dr. R Teduh mengatakan “Mengapa melakukan pemasaran di media sosial, banyak alasan, diantaranya selain dengan cepat dapat memperluas pengenalan brand/merk , juga dapat meningkatkan peluang penjualan dan mempererat kesetiaan pelanggan. Namun kita perlu pikirkan apa tawaran unik yang kita tawarkan, karena tawaran unik atau unique selling proposition sangat menentukan posisi tawar di pasar yang membedakan produk” ujarnya

Mengapa kita memilih facebook, karena menjadi salah satu media sosial yang populer di Dunia. “Hal tersebut sangat beralasan diantaranya saat ini total pengguna aktif lebih dari 2 milyar, data per Juni 2017, selain itu seorang pengguna mempunyai rata-rata 338 orang dan tersedianya fitur analis informasi pasar – FB Insight” ungkap Dr. R Teduh Dirgahayu yang juga sebagai Ketua Program Pascasarjana FTI UII.

Facebook adalah salah satu situs media sosial yang dapat membantu dalam kegiatan promosi bisnis kita karena situs media sosial ini memiliki user yang sangat banyak dan terus bertambah dari waktu ke waktu. Boleh dikatakan bahwa saat ini memiliki Facebook Fans Page adalah sebuah keharusan dalam kegiatan inbound marketing bisnis kita.

Hanya saja perlu diingat, saat kita membuat Facebook Fans Page sedapat mungkin “proporsional yaitu sebaiknya 70% adalah konten yang bermanfaat bagi follower dan membangun merk/brand kita, selanjutnya 20% adalah konten orang lain, post, twet, foto dan video serta 10% adalah diskon, event dan produk baru” ujar Dr. R Teduh.

Rektor UII, Nandang Sutrisno SH MH LLM PhD mengatakan pelatihan bagi pelaku industri kreatif ini merupakan implementasi pengabdian masyarakat. Perguruan Tinggi wajib melakukan penelitian yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

“Adanya pelatihan ini diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk meningkatkan kesejahteraannya. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton, tetapi harus terlibat di dalamnya. Agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi informasi, perguruan tinggi harus mendampinginya,” tandas Nandang.

Sementara Dian Nugraha, Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah mengatakan bangga dapat bekerjasama dengan UII dan Unesco untuk Askrab. Selama ini pihaknya telah memberdayakan Askrab dengan pemberian fasilitas seperti pelatihan, pemberian dua perangkat gamelan perunggu (pelog dan slendro), dan lain-lain.

Adanya fasilitas itu, Askrab telah berani tampil pada even-even yang ada di Kabupaten Magelang. “Kelompok kerawitan Askrab telah berhasil menjadi juara dua pada lomba kerawitan se Kabupaten Magelang,” pungkas Dian.

Jerri Irgo

Jelang ISO 55000, SDM Manajemen Aset Minim

International Standard Organization (ISO) telah meluncurkan ISO 55000 yang menyatakan semakin pentingnya manajemen aset yang berkualitas. ISO yang dirilis tahun 2014 ini menggantikan British Standards Institution PAS 55 yang diadopsi secara internasional oleh perusahaan manufaktur, peralatan, pertambangan dan transportasi. ISO 55000 memiliki standar internasional yang memiliki wawasan lebih luas, mencakup aset keuangan dan fisik.

Winda Nur Cahyo PhD

Demikian diungkapkan Winda Nur Cahyo ST, MT, PhD, dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII Yogyakarta kepada wartawan Selasa (28/11/2017). Aset adalah segala sesuatu yang dimiliki sebuah organisasi dan memiliki nilai aktual atau potensial.

“Setiap perusahaan secara umum mempunyai aset, baik berupa aset finansial atau bersifat fisik, tangiabel atau intangiabel,” kata Winda yang menyelesaikan Doktor of Philosophy dari Universitas Wollonggong, Australia ini.

Menurut Winda, saat ini, Indonesia belum menerapkan ISO 55000, karena masih menunggu verifikasi oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN). Jika ISO ini diterapkan akan terjadi booming kebutuhan SDM bidang aset manajemen untuk perusahaan swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dijelaskan Winda, semakin besar organisasi akan memiliki aset yang semakin banyak dan komplek. Sehingga organisasi tersebut memerlukan sumber daya tersendiri dalam pengelolaanya. Karena itu, ke depan, banyak perusahaan besar mulai berpikir bagaimana mengelola aset yang komplek secara efektif dan efisien.

“Kebutuhan ini memunculkan cabang ilmu baru dari manajemen yaitu aset manajemen beserta standar sistem manajemennya. Untuk memenuhi SDM, Magister Teknik Industri PPs FTI UII telah mempersiapkan untuk mendidik SDM menjadi tenaga ahli dan profesional di bidang aset manajemen.

Dengan mengimplementasikan manajemen aset, ujar Winda, sebuah organisasi akan dapat memahami dan mengoptimalkan nilai aset yang dimiliki. Selain itu, juga dapat mendukung pencapaian tujuan organisasi melalui pengelolaan aset secara efektif, efisien, konsisten dan berkesinambungan.

Namun, kata Winda, tidak mudah menerapkan manajemen aset perusahaan karena kompleksitas. Sebab proses pengelolaan aset sering terjadi tarik menarik kepentingan dari pihak-pihak atau departemen yang terlibat, khususnya sistem produksi.

Tarik menarik itu, kata Winda, terjadi karena masing-masing departemen mempunyai Key Performance Indicator (KPI) yang harus dicapai. Misalnya, dalam pengelolaan mesin produksi, kepentingan dari finance dan purchasing adalah meminimalkan harga atau biaya. Sedang departemen maintenance dan produksi adalah keandalan (keandalan tinggi akan berujung pada biaya yang juga tinggi).

Tarik menarik kepentingan, ujar Winda, sudah sering dalam sistem industri. Kontribusi dari aset manajemen dalam kasus ini adalah bagaimana membuat sebuah sistem, strategi dan kebijakan untuk menyeimbangkan biaya, resiko, dan kinerja dari aset untuk mencapai tujuan organisasi.

Berdasarkan hasil penelitian dalam tesisnya, Winda mengusulkan perlu adanya sebuah framework dan model yang dapat membantu menyelesaikan konflik kepentingan. Sehingga pimpinan organisasi atau korporat bisa menyelesaikan konflik dengan optimal.

diberitakan : JogPaper