Ramadhan dan Lebaran: Perspektif Logistik

Dr, Zaroni CISCP, CFMP – Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistik Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Ramadhan dan Lebaran: Perspektif Logistik

Ramadhan dan lebaran selalu dinanti umat Islam. Umat Islam menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh suka cita. Selama sebulan penuh umat Islam mengisi laku dan memaknai Ramadhan dengan berbagai kegiatan amal ibadah untuk meraih rahmat kasih sayang Allah SWT, ampunan, dan ketaqwaan. Berbagai kesibukan untuk menyiapkan hidangan makanan sahur dan berbuka puasa turut serta mewarnainya. Menjelang lebaran kesibukan meningkat untuk menyiapkan kue dan jamuan lebaran merayakan hari kemenangan.

Dalam perspektif ekonomi, Ramadhan dan lebaran merupakan siklus ekonomi musiman (seasonal economy) yang ditandai dengan peningkatan konsumsi rumah tangga yang mendorong peningkatan konsumsi agregat. Peningkatan konsumsi rumah tangga ini utamanya permintaan akan komoditas pangan seperti beras, daging ayam ras, daging sapi atau kerbau, kacang tanah, bawang merah, cabai rawit, cabai besar, telur ayam ras, minyak goreng, kedelai, tepung terigu, dan gula pasir.

Peningkatan permintaan komoditas pangan selama Ramadhan dan lebaran selalu diantisipasi oleh produsen dan pedagang komoditas pangan dengan menyediakan stock pangan yang mencukupi. Bila stock pangan tidak mencukupi akan menimbulkan kekurangan (shortage) yang berakibat pada kelangkaan dan lonjakan harga pangan.

Fenomena lonjakan/gejolak harga pangan kerap jadi momok setiap Ramadhan dan lebaran. Pemerintah melalui berbagai kebijakan dan operasi pasar melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan harga bahan pangan pada Ramadhan dan lebaran.

Belajar dari pengalaman buruk gejolak harga pada beberapa siklus Ramadhan dan lebaran, pemerintah tampaknya bekerja lebih keras dan serius dalam pengendalian harga kali ini. Penyiapan stok sejumlah komoditas pangan jauh hari sebelum Ramadhan, mengintensifkan penyelenggaraan operasi pasar/pasar sembako murah yang dilakukan oleh Bulog dan Pemerintah Daerah, hingga pelibatan berbagai komponen dalam pemerintahan, dilakukan dalam upaya stabilisasi harga pangan.

Beberapa terobosan kebijakan juga dilakukan, di antaranya lewat penetapan harga acuan dalam rangka lebih menjamin ketersediaan, kestabilan, dan kepastian harga pangan, baik di tingkat petani maupun konsumen. Jenis pangan yang ditetapkan harga acuannya ditambah. Pemberlakuan juga diperluas tak hanya di gerai ritel modern, tetapi juga pasar tradisional.

Sinergi dan koordinasi pemerintah pusat dengan BUMN dan Pemda telah banyak dilakukan. Dalam beberapa kesempatan bahkan melibatkan aparat keamanan untuk ikut mengawal kestabilan harga di pasar. Untuk pengendalian inflasi, BI dan pemerintah telah meluncurkan sistem penyediaan informasi harga komoditas pangan harian, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, meliputi 10 komoditas pangan penting penyumbang 50 persen inflasi pangan selama ini. (www.kompas.id diakses tanggal 27 Mei 2018).

Secara makro, momentum lebaran menjadi instrumen penting dalam menggerakkan ekonomi dan pemerataan. Penyediaan dana tunai tidak kurang dari Rp200 triliun yang digelontorkan BI ke perekonomian harus diarahkan agar bisa lebih menggerakkan ekonomi daerah/nasional secara keseluruhan.

Siklus ekonomi Ramadhan bisa menjadi momentum positif dalam mempercepat pemulihan perekonomian, khususnya dari sisi permintaan domestik. Pembangunan berbagai infrastruktur di luar Jawa, seperti Trans-Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua, membutuhkan waktu cukup panjang, selain anggaran yang besar. Namun, begitu jadi, infrastruktur akan mendorong investasi dan aktivitas bisnis. Hal ini akan menyebabkan permintaan konsumsi domestik merangkak naik secara lebih merata (A Prasetyantoko, 2017).

Berbagai terobosan dalam upaya stabilisasi harga, khususnya pada momen-momen khusus seperti hari raya keagamaan, perlu terus dilakukan. Termasuk sinergi dengan swasta, lebih mengefektifkan Tim Pengendali Inflasi Daerah, dan menindak tegas spekulan.

Perbaikan logistik pangan
Peningkatan permintaan pangan pada bulan Ramadhan dan menjelang lebaran memerlukan solusi logistik utamanya distribusi pangan dari produsen dan pedagang pangan ke konsumen akhir.

Langkah yang ditempuh juga harus menyentuh hulu persoalan pangan dan pilar ketahanan pangan, mulai dari produksi, penguatan stok, hingga kelancaran distribusi. Dengan demikian, problem klasik gejolak harga dan kelangkaan pangan, baik akibat lonjakan permintaan maupun gangguan pasokan, bisa ditekan seminal mungkin.

Logistik pangan mencakup perencanaan dan pelaksanaan proses aliran pangan dari berbagai pihak yang terlibat dalam supply chain komoditas pangan yang terdiri dari produsen (petani dan peternak, importir, pedagang pengepul, distributor, agen, pedagang grosir, pedagang eceran, dan konsumen akhir.

Selain aliran fisik komoditas pangan, rantai pasokan pangan memerlukan informasi lengkap mengenai pasokan dan permintaan pangan, yang mencakup setiap jenis komoditas pangan, ketersediaan stock, lokasi penyimpanan, akses transportasi, waktu yang diperlukan untuk pengiriman, harga, dan lain- lain.

Menjaga keseimbangan pasar komoditas pangan selama Ramadhan dan lebaran menjadi prioritas penting untuk perbaikan rantai pasokan dan logistik pangan. Logistik berperan penting dalam

percepatan pengiriman pangan ke konsumen akhir secara tepat jenis komoditas pangan, tepat kuantitas, tepat kualitas, tepat pemilhan moda transportasi, tepat lokasi penjemputan (pick-up), tepat penerima, dengan biaya distribusi yang paling efisien.

(Sumber: www.kompas.id diakses tanggal 27 Mei 2018)

Dari sisi produsen dan pedagang diharapkan tidak melakukan penimbunan dan penahanan stock pangan yang dilatari motif spekulasi untuk mendapatkan keuntungan (rent seeking behavior). Penimbunan dan penahanan stock jenis komoditas pangan hanyalah akan menyebabkan kekurangan pasokan pangan dan lonjakan harga. Ujungnya konsumen akhir yang akan menanggung kerugian.

Pemilhan moda transportasi yang sesuai dengan jenis komoditas pangan, karakteristik komoditas, dan volume dapat mengefisiensikan biaya distribusi pangan, selain menjaga kualitas pangan dan lead time proses distribusi.

Karakteristik pangan yang umumnya bergantung pada siklus pertanian, mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan, perlu menjadi pertimbangan dalam menghitung ketepatan ketersediaan stock pangan. Gudang penyimpanan menjadi solusi efektif untuk menjaga tingkat stock pangan aman ketika terjadi lonjakan peningkatan permintaan pangan pada Ramadhan dan lebaran.

Sinergi pemerintah, baik melalui Kementerian dan Lembaga, BUMN pertanian dan logistik, dan sektor pengusaha swasta perlu terus dilakukan untuk menjaga ketersediaan stock dan stabilitas harga pangan. Demikian pula, perbaikan infrastrukur transportasi dan pelayanan untuk mendukung kelancaran distribusi pangan perlu terus dilakukan.

Kerap terjadi bahwa menjelang lebaran banyak dimanfaatkan berbagai pihak untuk mengeruk keuntungan besar melalui perilaku rent seeking, dengan mengorbankan kesejahteraan konsumen dan masyarakat secara luas. Kenaikan biaya transportasi, khususnya transportasi penumpang selama arus mudik dapat memicu kenaikan harga barang dan jasa lain, meski tidak secara langsung.

Praktik-praktik pungli yang masih dijumpai di jalanan perlu ditindak tegas. Praktik pungli ini selain menyebabkan membengkaknya biaya transportasi distribusi pangan selama Ramadhan dan lebaran, juga mendorong kenaikan harga pangan, karena pada akhirnya para produsen dan pedagang akan membebankan biaya pungli ke harga produk. Dus, konsumen akhirlah yang menanggung.

***

Perbaikan distribusi pangan selama Ramadhan dan lebaran perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari hulu sampai hilir. Perbaikan manajemen supply chain dan logistik pangan yang menjamin ketersediaan stock pangan pada jumlah yang mencukupi dengan harga wajar yang terjangkau oleh konsumen. Menjadi tugas bersama untuk mewujudkannya, sehingga momentum Ramadhan dan lebaran memberikan keberkahan bagi semuanya. Keberkahan dalam menggapai rahmat, ampunan, ketaqwaan, dan kemenangan untuk kembali ke fitrah yang suci.

Bandara Husein Sastranegara, 27 Mei 2018