Konsentrasi baru: Sains Data

Untuk merespon perkembangan keilmuan dan kebutuhan profesional di bidang pengolahan big data, Program Magister Teknik Informatika membuka konsentrasi baru, yakni Sains Data. Konsentrasi ini diselenggarakan  bekerja sama dengan Program Studi Statistik  UII. Pembahasan konten kurikulum konsentrasi Sains Data juga melibatkan praktisi sekaligus founder PT. Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, PhD., yang telah lama berkecimpung dalam dunia big data, baik di sektor swasta maupun pemerintahan.

 

 

Kurikulum konsentrasi Sains Data terdiri dari 4 mata kuliah umum, 7 mata kuliah konsentrasi, dan tesis. Mata kuliah konsentrasi antara lain: Eksplorasi dan Visualisasi Data, Pembelajaran Mesin, Analisis Data Spasial, Process Mining dan Data Mining.

Baca: Kurikulum konsentrasi Sains Data.

Pendaftar konsentrasi ini diharapkan dari lulusan S1 Teknik Informatika, Ilmu Komputer, Statistika, Matematika dan disiplin lain yang serumpun, dengan IPK lebih dari 2,75 (skala 4). Prosedur pendaftaran dapat dibaca di sini.

Konsentrasi Sains Data menambah konsentrasi yang telah ada di Program Magister Teknik Informatika, yakni Informatika Medis, Forensika Digital dan Sistem Informasi Enterprise.

Ramadhan dan Lebaran: Perspektif Logistik

Dr, Zaroni CISCP, CFMP – Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistik Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Ramadhan dan Lebaran: Perspektif Logistik

Ramadhan dan lebaran selalu dinanti umat Islam. Umat Islam menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh suka cita. Selama sebulan penuh umat Islam mengisi laku dan memaknai Ramadhan dengan berbagai kegiatan amal ibadah untuk meraih rahmat kasih sayang Allah SWT, ampunan, dan ketaqwaan. Berbagai kesibukan untuk menyiapkan hidangan makanan sahur dan berbuka puasa turut serta mewarnainya. Menjelang lebaran kesibukan meningkat untuk menyiapkan kue dan jamuan lebaran merayakan hari kemenangan.

Dalam perspektif ekonomi, Ramadhan dan lebaran merupakan siklus ekonomi musiman (seasonal economy) yang ditandai dengan peningkatan konsumsi rumah tangga yang mendorong peningkatan konsumsi agregat. Peningkatan konsumsi rumah tangga ini utamanya permintaan akan komoditas pangan seperti beras, daging ayam ras, daging sapi atau kerbau, kacang tanah, bawang merah, cabai rawit, cabai besar, telur ayam ras, minyak goreng, kedelai, tepung terigu, dan gula pasir.

Peningkatan permintaan komoditas pangan selama Ramadhan dan lebaran selalu diantisipasi oleh produsen dan pedagang komoditas pangan dengan menyediakan stock pangan yang mencukupi. Bila stock pangan tidak mencukupi akan menimbulkan kekurangan (shortage) yang berakibat pada kelangkaan dan lonjakan harga pangan.

Fenomena lonjakan/gejolak harga pangan kerap jadi momok setiap Ramadhan dan lebaran. Pemerintah melalui berbagai kebijakan dan operasi pasar melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan harga bahan pangan pada Ramadhan dan lebaran.

Belajar dari pengalaman buruk gejolak harga pada beberapa siklus Ramadhan dan lebaran, pemerintah tampaknya bekerja lebih keras dan serius dalam pengendalian harga kali ini. Penyiapan stok sejumlah komoditas pangan jauh hari sebelum Ramadhan, mengintensifkan penyelenggaraan operasi pasar/pasar sembako murah yang dilakukan oleh Bulog dan Pemerintah Daerah, hingga pelibatan berbagai komponen dalam pemerintahan, dilakukan dalam upaya stabilisasi harga pangan.

Beberapa terobosan kebijakan juga dilakukan, di antaranya lewat penetapan harga acuan dalam rangka lebih menjamin ketersediaan, kestabilan, dan kepastian harga pangan, baik di tingkat petani maupun konsumen. Jenis pangan yang ditetapkan harga acuannya ditambah. Pemberlakuan juga diperluas tak hanya di gerai ritel modern, tetapi juga pasar tradisional.

Sinergi dan koordinasi pemerintah pusat dengan BUMN dan Pemda telah banyak dilakukan. Dalam beberapa kesempatan bahkan melibatkan aparat keamanan untuk ikut mengawal kestabilan harga di pasar. Untuk pengendalian inflasi, BI dan pemerintah telah meluncurkan sistem penyediaan informasi harga komoditas pangan harian, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, meliputi 10 komoditas pangan penting penyumbang 50 persen inflasi pangan selama ini. (www.kompas.id diakses tanggal 27 Mei 2018).

Secara makro, momentum lebaran menjadi instrumen penting dalam menggerakkan ekonomi dan pemerataan. Penyediaan dana tunai tidak kurang dari Rp200 triliun yang digelontorkan BI ke perekonomian harus diarahkan agar bisa lebih menggerakkan ekonomi daerah/nasional secara keseluruhan.

Siklus ekonomi Ramadhan bisa menjadi momentum positif dalam mempercepat pemulihan perekonomian, khususnya dari sisi permintaan domestik. Pembangunan berbagai infrastruktur di luar Jawa, seperti Trans-Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua, membutuhkan waktu cukup panjang, selain anggaran yang besar. Namun, begitu jadi, infrastruktur akan mendorong investasi dan aktivitas bisnis. Hal ini akan menyebabkan permintaan konsumsi domestik merangkak naik secara lebih merata (A Prasetyantoko, 2017).

Berbagai terobosan dalam upaya stabilisasi harga, khususnya pada momen-momen khusus seperti hari raya keagamaan, perlu terus dilakukan. Termasuk sinergi dengan swasta, lebih mengefektifkan Tim Pengendali Inflasi Daerah, dan menindak tegas spekulan.

Perbaikan logistik pangan
Peningkatan permintaan pangan pada bulan Ramadhan dan menjelang lebaran memerlukan solusi logistik utamanya distribusi pangan dari produsen dan pedagang pangan ke konsumen akhir.

Langkah yang ditempuh juga harus menyentuh hulu persoalan pangan dan pilar ketahanan pangan, mulai dari produksi, penguatan stok, hingga kelancaran distribusi. Dengan demikian, problem klasik gejolak harga dan kelangkaan pangan, baik akibat lonjakan permintaan maupun gangguan pasokan, bisa ditekan seminal mungkin.

Logistik pangan mencakup perencanaan dan pelaksanaan proses aliran pangan dari berbagai pihak yang terlibat dalam supply chain komoditas pangan yang terdiri dari produsen (petani dan peternak, importir, pedagang pengepul, distributor, agen, pedagang grosir, pedagang eceran, dan konsumen akhir.

Selain aliran fisik komoditas pangan, rantai pasokan pangan memerlukan informasi lengkap mengenai pasokan dan permintaan pangan, yang mencakup setiap jenis komoditas pangan, ketersediaan stock, lokasi penyimpanan, akses transportasi, waktu yang diperlukan untuk pengiriman, harga, dan lain- lain.

Menjaga keseimbangan pasar komoditas pangan selama Ramadhan dan lebaran menjadi prioritas penting untuk perbaikan rantai pasokan dan logistik pangan. Logistik berperan penting dalam

percepatan pengiriman pangan ke konsumen akhir secara tepat jenis komoditas pangan, tepat kuantitas, tepat kualitas, tepat pemilhan moda transportasi, tepat lokasi penjemputan (pick-up), tepat penerima, dengan biaya distribusi yang paling efisien.

(Sumber: www.kompas.id diakses tanggal 27 Mei 2018)

Dari sisi produsen dan pedagang diharapkan tidak melakukan penimbunan dan penahanan stock pangan yang dilatari motif spekulasi untuk mendapatkan keuntungan (rent seeking behavior). Penimbunan dan penahanan stock jenis komoditas pangan hanyalah akan menyebabkan kekurangan pasokan pangan dan lonjakan harga. Ujungnya konsumen akhir yang akan menanggung kerugian.

Pemilhan moda transportasi yang sesuai dengan jenis komoditas pangan, karakteristik komoditas, dan volume dapat mengefisiensikan biaya distribusi pangan, selain menjaga kualitas pangan dan lead time proses distribusi.

Karakteristik pangan yang umumnya bergantung pada siklus pertanian, mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan, perlu menjadi pertimbangan dalam menghitung ketepatan ketersediaan stock pangan. Gudang penyimpanan menjadi solusi efektif untuk menjaga tingkat stock pangan aman ketika terjadi lonjakan peningkatan permintaan pangan pada Ramadhan dan lebaran.

Sinergi pemerintah, baik melalui Kementerian dan Lembaga, BUMN pertanian dan logistik, dan sektor pengusaha swasta perlu terus dilakukan untuk menjaga ketersediaan stock dan stabilitas harga pangan. Demikian pula, perbaikan infrastrukur transportasi dan pelayanan untuk mendukung kelancaran distribusi pangan perlu terus dilakukan.

Kerap terjadi bahwa menjelang lebaran banyak dimanfaatkan berbagai pihak untuk mengeruk keuntungan besar melalui perilaku rent seeking, dengan mengorbankan kesejahteraan konsumen dan masyarakat secara luas. Kenaikan biaya transportasi, khususnya transportasi penumpang selama arus mudik dapat memicu kenaikan harga barang dan jasa lain, meski tidak secara langsung.

Praktik-praktik pungli yang masih dijumpai di jalanan perlu ditindak tegas. Praktik pungli ini selain menyebabkan membengkaknya biaya transportasi distribusi pangan selama Ramadhan dan lebaran, juga mendorong kenaikan harga pangan, karena pada akhirnya para produsen dan pedagang akan membebankan biaya pungli ke harga produk. Dus, konsumen akhirlah yang menanggung.

***

Perbaikan distribusi pangan selama Ramadhan dan lebaran perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari hulu sampai hilir. Perbaikan manajemen supply chain dan logistik pangan yang menjamin ketersediaan stock pangan pada jumlah yang mencukupi dengan harga wajar yang terjangkau oleh konsumen. Menjadi tugas bersama untuk mewujudkannya, sehingga momentum Ramadhan dan lebaran memberikan keberkahan bagi semuanya. Keberkahan dalam menggapai rahmat, ampunan, ketaqwaan, dan kemenangan untuk kembali ke fitrah yang suci.

Bandara Husein Sastranegara, 27 Mei 2018

Strategi dan Perencanaan Distribusi

Dr, Zaroni CISCP, CFMP – Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistik Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Strategi dan Perencanaan Distribusi

Model bisnis sektor ritel mengalami perubahan besar dalam satu dekade terakhir ini. Bermula dari Amazon.com – perusahaan ritel yang dirintis oleh Jeff Bezos lebih dari 20 tahun lalu, telah men- disrupsi model bisnis ritel dengan memberikan kemudahan akses bagi pelanggan untuk melakukan pemesanan barang di “Toko Amazon” dari mana pun, kapan pun, dan media apa pun, dengan memberikan fleksibilitas jadwal dan lokasi pengantaran barang, dan pengembalian barang dari mana pun.

Dalam transformasi model bisnis ritel, pemesanan barang tidak lagi hanya dari transaksi penjualan langsung di toko oleh walking customer, pemesanan melalui telepon, atau pemesanan melalui media sosial dalam internet, seperti Facebook, Instagram, dan lain-lain. Pemesanan barang dilakukan dalam platform Omni-channel.

Model bisnis ritel telah berubah total. Konsumen yang terhubung secara digital saat ini lebih diberdayakan dan mendapat informasi yang sangat melimpah. Istilah “Omni” berarti “semua: dalam segala hal, tempat, dan lain-lain, dengan “tanpa batas”. Dalam konteks pemasaran, Omni bermakna akses konsumen ke produk dan layanan perusahaan setiap saat, setiap tempat, dan setiap media atau perangkat (anytime, anywhere, dan any devices).

Pendekatan Omni-channel dalam bisnis ritel telah mengubah pengelolaan Distribution Center (DC) yang kini dikenal menjadi Fulfillment Center (FC).

Peran distribusi dalam supply chain

Dalam dunia pasar sempurna (perfect market), penawaran dan permintaan barang akan selalu seimbang. Tidak ada kelebihan dan kekurangan barang di pasar. Produk yang dihasilkan langsung diserap pasar. Demikian pula bila pasar menginginkan produk, produk bisa langsung dibawa dari produsen ke lokasi pasar yang memerlukan.

Sayangnya, kondisi pasar sempurna di dunia nyata sangatlah jarang terjadi – untuk tidak mengatakan tidak pernah terjadi. Di dunia nyata, kita sering menemukan ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi. Ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan. Ketika produksi barang berkurang, entah karena gagal panen, bencana alam, kapasitas produksi kurang, pasokan bahan baku terganggu, mogok buruh, dan lain-lain, tetap diperlukan ketersediaan produk untuk menjamin kontinuitas pasokan. Demikian pula, bila terjadi kelebihan produksi barang, permintaan tidak cukup untuk menyerap semua produk yang dihasilkan.

Dari perspektif ekonomi mikro, kelebihan dan kekurangan produk merupakan indikasi kegagalan pasar (market failure). Kelebihan produk berakibat harga produk atau komoditas menurun, sementara kekurangan produk akan berdampak pada kenaikan harga. Karenanya, diperlukan intervensi pasar, salah satunya adalah pendirian gudang sebagai pusat distribusi.

Contoh peran penting gudang dalam menjaga stabilitas produk, khususnya untuk barang pokok dan penting adalah Bulog. Bulog berperan dalam menjaga stabilitas harga pasar dan ketersediaan barang. Bulog melakukan pembelian beras di tingkat petani pada saat panen beras melimpah untuk disimpan dalam gudang. Ketika pasokan beras di suatu daerah menurun, Bulog mengeluarkan stock beras yang disimpan di gudang untuk dijual. Dalam hal ini gudang Bulog berperan sebagai gudang penyangga untuk menjamin ketahanan pangan.

Gudang merupakan fasilitas penting dalam fungsi distribusi. Ada beberapa bentuk gudang dalam fasilitas distribusi yang kita kenal, yaitu: distribution center, warehouse, cross-dock, fulfillment center, dan retail store. Fasilitas dan aktivitas operasional gudang mencakup inventory handling, storage, dan processing yang sangat penting untuk menciptakan nilai manfaat waktu dan tempat (time and place utility) dari suatu barang dalam serangkaian proses supply chain.

Dalam industri manufaktur, penyiapan bahan baku dan komponen untuk proses produksi sesuai kebutuhan pada saat diperlukan akan meningkatkan nilai waktu dan tempat dari barang tersebut. Demikian pula, produk selesai (finished goods) harus selalu tersedia kapan dan di mana pada saat dibutuhkan. Operasional distribusi akan menyingkat lead time, meningkatkan ketersediaan produk, dan penurunan biaya delivery. Secara keseluruhan, operasional distribusi diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses supply chain untuk meningkatkan keunggulan bersaing perusahaan.

Coyle dkk. (2017) menyebutkan peran distribusi dalam supply chain:

  • Menyeimbangkan penawaran dan permintaan. Fasilitas operasional distribusi berperan gudang cadangan untuk memenuhi penawaran dan permintaan musiman, seperti pasokan komoditas pertanian yang dipengaruhi musim panen dan permintaan musiman pada hari lebaran dan liburan sekolah.
  • Melindungi dari ketidakpastian. Fasilitas distribusi diperlukan untuk menyimpan barang sebagai antisipasi kekeliruan peramalan, gangguan dalam pasokan penawaran, dan permintaan yang melonjak.
  • Memanfaatkan diskon pembelian. Seringkali pemasok memberikan insentif berupa diskon untuk pembelian dalam kuantitas besar. Bila perusahaan ingin memanfaatkan diskon pembelian, maka perusahaan harus menyediakan fasilitas gudang untuk penyimpanan barang yang dibeli dalam jumlah besar.
  • Memenuhi persyaratan produksi. Beberapa bahan baku harus disimpan terlebih dulu sampai umur tertentu, seperti bahan baku tembakau untuk pembuatan sigaret rokok kretek, anggur untuk pembuatan wine, dan lain-lain. Gudang diperlukan untuk menyimpan bahan baku sebelum didistribusikan ke pabrik.
  • Memenuhi permintaan omni-channel. Pemenuhan pengantaran dalam transaksi order penjualan omni-channel memerlukan gudang-gudang distribusi yang mendekati dengan lokasi alamat penerima barang.
  • Mencapai skala ekonomis transportasi. Biaya transportasi per unit semakin rendah manakala volume barang yang diangkut semakin besar. Gudang berperan penting dalam konsolidasi barang agar mencapai skala ekonomis dalam pengangkutan.

Perencanaan distribusi

Berapa banyak gudang yang harus disiapkan, lokasi gudang, layout gudang, peralatan yang diperlukan untuk handling barang di gudang, pemilihan teknologi dan sistem aplikasi warehouse management system, transportation management system, dan lain-lain sangat bergantung pada keputusan strategi distribusi.

Dalam merencanakan distribusi dan penetapan fasilitas distribusi perlu keputusan strategi distribusi. Coyle dkk. (2017) memberikan panduan dalam keputusan strategi distribusi sebagai berikut:

  • Persyaratan kapabilitas. Pertama kali yang harus diperhatikan ketika mendesain sistem dan
    fasilitas distribusi adalah karakteristik produk. Nilai produk, ketahanan produk, sensitivitas produk terhadap temperatur, kadaluarsa produk, volume, densitas, dan lain-lain merupakan karakteristik yang menjadi pertimbangan dalam mendesain sistem dan fasilitas distribusi.

Selain karakteristik produk, dalam mendesain sistem dan fasilitas distribusi perlu memperhatikan kebutuhan aliran barang. Ada dua opsi yang dipilih dalam aliran barang: (a) pengiriman langsung dari pabrik ke toko ritel atau konsumen, dan (b) pengiriman barang ke toko ritel atau konsumen melalui fasilitas distribusi.

Kebutuhan atau persyaratan untuk layanan value-added dalam proses distribusi barang juga menentukan sistem dan fasilitas distribusi. Beberapa barang mensyaratkan adanya akumulasi, pemilahan, alokasi, dan lain-lain sehingga berimplikasi pada desain warehouse, apakah warehouse menggunakan sistem manual atau otomotisasi.

  • Desain jaringan. Dalam mendesain jaringan distribusi perlu memperhatikan positioning
    inventory, jumlah dan lokasi fasilitas distribusi, dan kepemilikan gudang.

Di mana sebaiknya penempatan lokasi inventory, apakah inventory disentralisasi atau didesentralisasi? Beberapa perusahaan seperti Amazon.com menerapkan strategi penyimpanan inventory secara desentralisasi untuk buku-buku best seller, sementara buku- buku yang kurang laku atau slow-moving disimpan secara sentralisasi. Unilever Indonesia menerapkan strategi sentralisasi inventory untuk produk es krim Walls di mega distribution center-nya. Umumnya, keputusan strategi sentralisasi atau desentralisasi stocking point didasarkan pada permintaan produk, ekspektasi konsumen, dan biaya penyimpanan inventory.

Penempatan lokasi inventory menentukan desain jaringan distribusi. Manfaat dari sentralisasi inventory adalah penghematan biaya transportasi per unit yang diperoleh dari konsolidasi pengiriman. Selain itu, sentralisasi inventory dapat mengurangi risiko variabilitas permintaan. Namun demikian, sentralisasi penyimpanan inventory berakibat lead time yang lebih lama untuk menjangkau pengantaran barang ke konsumen.

Jumlah dan lokasi fasilitas distribusi ditentukan oleh strategi penempatan lokasi inventory. Sentralisasi inventory membutuhkan jumlah fasilitas distribusi yang lebih sedikit. Biaya distribusi total dipengaruhi oleh jumlah warehouse. Ada tradeoffs antara biaya distribusi total dengan banyaknya jumlah warehouse. Biaya distribusi terdiri dari biaya transportasi, biaya pergudangan, dan biaya inventory. Selain biaya tersebut, perlu dipertimbangkan potensi kehilangan penjualan (cost of lost sales) karena kehabisan stock.

Gambar 1. Tradeoff biaya distribusi dan jumlah warehouse Sumber: Bardi dalam Coyle (2017)

Penambahan warehouse akan meningkatkan biaya warehouse dan biaya inventory. Fasilitas warehouse yang banyak akan meningkatkan biaya adminstrasi dan biaya operasional warehouse. Setiap warehouse membutuhkan tim personil, teknologi, dan administrasi yang dapat mendorong kenaikan biaya. Sementara itu, penambahan penyimpanan inventory (stocking point) akan berimplikasi pada penambahan tingkat safety stock dan biaya penyimpanan stock di gudang.

Di sisi lain, penambahan warehouse akan mengurangi biaya transportasi dan potensi kehilangan penjualan (cost of lost sales). Penambahan warehouse akan mendekatkan gudang penyimpanan barang ke lokasi pelanggan terdekat, akibatnya biaya outbound logsitik akan turun. Sementara penambahan warehouse akan meningkatkan ketersediaan inventory untuk memenuhi pesanan pelanggan (order fill rates).

Berapa sebaiknya jumlah warehouse yang optimal? Jumlah fasilitas warehouse yang optimal ditentukan berdasarkan biaya logistik total yang paling rendah.

Setelah penentuan berapa banyak warehouse yang harus disediakan, keputusan berikutnya adalah menentukan lokasi warehouse. Lokasi warehouse sebaiknya ditempatkan di lokasi yang mendekati pasar atau pelanggan, pasokan bahan baku, dan ketersediaan infrastruktur jalan, listrik, air, dan lain-lain yang diperlukan untuk kelancaran transportasi, pengoperasionalan pergudangan, dan distribusi.

Keputusan berikutnya, kepemilikan warehouse. Apakah warehouse dimiliki sendiri, sewa, atau kontrak dengan perusahaan 3PL? Pertimbangan kapabilitas perusahaan, ketersediaan dana untuk investasi, dan risiko, menjadi dasar dalam keputusan kepemilikan dan pengelolaan warehouse.

Umumnya, opsi kepemilikan dan pengelolaan warehouse dibedakan menjadi: (1) private warehouse, (2) public warehouse, dan (3) contract warehouse.

Private warehouse merupakan fasilitas dan operasional warehouse yang dikelola sendiri. Fasilitas private warehouse diperoleh dengan cara menyewa warehouse atau menggunakan warehouse milik sendiri. Semua operasional warehouse dikelola sendiri.

Sementara public warehouse merupakan warehouse yang disediakan oleh pemilik dan pengelola warehouse untuk disewakan ke pemilik barang dalam jangka waktu tertentu dan bersifat transaksional. Umumnya, penyedia jasa public warehouse memfokuskan pengelolaan produk yang memerlukan penanganan pergudangan secara khusus seperti produk berpendingin (refrigerated goods) dan bulk storage.

Contract warehouse merupakan pengelolaan warehouse oleh perusahaan penyedia jasa logistik (3PL). Contract warehouse merupakan kustomisasi pengelolaan public warehouse yang dilakukan secara dedicated dalam jangka waktu tertentu sesuai periode kontrak kerjasama. Perusahaan 3PL pengelolaan contract warehouse menyiapkan gudang, tenaga kerja, fasilitas MHE (material handling equipment) untuk memberikan solusi logistik dan distribusi ke pelanggannya. Produk-produk yang dikelola umumnya produk yang memerlukan pengelolaan secara khusus seperti produk farmasi, elektronik, consumer goods, dan produk manufaktur yang bernilai tinggi.

Pertimbangan perusahaan dalam menentukan keputusan apakah pengelolaan warehouse secara private, public, dan contract didasarkan pada beberapa aspek seperti: troughput volume, demand variability, market density, special physical control needs, security requirements, customer services requirements, dan multiple use needs.

Produk dengan volume troughput tinggi, pola permintaan yang stabil, densitas pasar yang tinggi, produk yang memerlukan pengawasan dan pengamanan khusus, dan produk yang memerlukan layanan pelanggan sesuai kebutuhan pelanggan, umumnya lebih tepat bila warehouse dikelola secara privat.

Sebaliknya, bila volume troughput relatif rendah, pola permintaan yang berfluktuasi, densitas pasar yang rendah, dan produk yang tidak memerlukan pengawasan dan pengawasan secara khusus, pengelolaan warehouse oleh perusahaan 3PL akan lebih tepat.

Penting untuk diperhatikan, dalam keputusan pengelolaan warehouse apakah dikelola sendiri atau diserahkan pengelolaannya ke perusahaan 3PL, pertimbangannya bukan hanya cost dalam analisis “make versus buy”. Pertimbangan tingkat layanan dan karakteristik permintaan produk harus menjadi pertimbangan penting.

  • Pertimbangan fasilitas warehouse. Keputusan stratejik dalam perencanaan warehousing selain capability requirement dan network design adalah fasilitas warehouse. Fasilitas warehouse ini mencakup keputusan ukuran luas warehouse sesuai kebutuhan operasional, interior layout, dan lokasi produk.

***
Distribusi memegang peran penting dalam supply chain untuk memenuhi order pelanggan. Pertimbangan service level dan biaya distribusi menjadi penting dalam keputusan strategi dan perencanaan distribusi. Dalam konteks pasar, peran distribusi untuk menjaga keseimbangan pasokan barang agar tidak terjadi kekurangan dan kelebihan barang di pasar sesuai harga equilibrium antara supply dan demand.

Fasilitas distribusi mengintegrasikan aliran produk dari manufaktur, pengecer, dan konsumen akhir. Strategi dan perencanaan distribusi perlu dirancang secara cost-effective. Pemenuhan order secara akurat dan cepat dengan biaya yang terendah merupakan tantangan dan tujuan dari peran distribusi untuk meningkatkan keunggulan bersaing perusahaan dalam menyediakan layanan pelanggan.

Cilengkrang, Bandung, 26 Mei 2018

Memperhatikan Kesejahteraan Pekerja

Andar Dhini Esti Setianingrum, Mahasiswa Konsentrasi Ergonomi dan Keselamatan & Kesehatan Industri, Magister Teknik Indystri Program Pascasarjana FTI UII

Memperhatikan Kesejahteraan Pekerja

Tingginya angka kecelakaan kerja tidak dapat dipungkiri melihat banyaknya pembangunan yang sedang dikerjakan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini sangat disayangkan mengingat Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 5/PRT/M/2014 tentang Pedoman Sistem Manajeman Keselamataan Dan Kesehatan Kerja (SMK3) Kontruksi Bidang Pekerjaan Umum, mewajibkan pekerja kontruksi memenuhi syarat-syarat tentang keamaanan, keselamatan dan kesehatan kerja pada tempat kegiatan konstruksi.

Meski pengadaan K3 dinilai cukup tinggi namun hal ini sangat lah penting baik bagi pekerja maupun bagi perusahaan. Pengadaan K3 adalah upaya agar dapat mengindari atau meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja pada saat proses kerja.

Sumber Photo: Tirto.id

Dilihat dari setahun terakhir banyak terjadi kecelakaan kerja yang menelan korban jiwa baik luka ringan, cacat permanen hingga meninggal dunia. Hal ini perlu ditelusuri lebih lanjut penyebeb terjadinya kecelakaan kerja. Apakah waktu kerja yang melampaui batas sehingga pekerja kelelahan dan tidak dalam keadaan yangt baik, atau tidak berjalan dengan baiknya sop k3 sehingga terjadi kelalaian yang berdampak fatal.

Yang sangat disayangkan adalah hal ini terjadi oleh persahaan ternama bahkan dibawah naungan BUMN yang sudah memiliki track record yang baik dalam pembangunan namun belakangan mengalami beberapa kejadian yang sangat mengecewakan.

Diharapkan perusahaan dibidang konstruksi lebih memperhatikan kesejahteraan pekerja salah satu cara dengan memeperbaiki sistem dan menjalankan SOP K3 dengan baik sehingga dapat meminimalisir nya kecelakaan yang ada khusunya di bidang konstruksi.

Mengajarkan Pendidikan Kewirausahaan

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistik Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Mengajarkan Pendidikan Kewirausahaan

Kemanfaatan wirausaha bagi ekonomi tidak diragukan lagi. Aktivitas usaha yang dijalankan wirausaha tidak hanya memberikan hasil ekonomi bagi diri wirausaha dan keluarganya, namun nilai ekonomi yang dihasilkan mampu menggerakkan dan menghidupkan ekonomi bagi masyarakat luas. Para ekonom menyebutnya dampak multiplier karena adanya trickle-down effect.

Masalahnya, jumlah dan kualitas wirausaha di Indonesia masih relatif kecil. Tidak lebih dari 1% dari penduduk total di Indonesia yang menjalankan kegiatan usaha. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir jumlah angka absolut wirausaha di Indonesia semakin meningkat.

Dalam beberapa tahun terakhir, minat para pemuda dan lulusan perguruan tinggi untuk memilih menjalankan usaha alih-alih menjadi pegawai atau pekerja, semakin tinggi. Antusiasme generasi muda dan mahasiswa khususnya untuk menekuni usaha perlu disiapkan dengan baik. Kewirausahaan dapat diajarkan di bangku sekolah, ruang-ruang kelas di perguruan tinggi, dan bahkan kewirausahaan dapat disimulasikan dalam praktik-praktik di ruang laboratorium.

Menjalankan usaha menuntut keahlian, ketrampilan, dan mental pejuang untuk mengenali masalah, peluang, serta mengelola sistem dan model bisnis, sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi atas suatu produk atau jasa.

Karakteristik wirausaha

Pengenalan masalah dan menemukan akar masalah merupakan langkah awal dan penting dalam memulai usaha. Masalah ada di mana-mana. Kejelian dalam mengenali masalah dalam berbagai konteks dan perspektif merupakan peluang usaha.

Masalah ini bisa berupa ketiadaan solusi yang tepat atas kebutuhan konsumen atau masyarakat luas terhadap produk dan jasa. Konsumen menginginkan dan membutuhkan produk atau jasa, namun belum ada produk atau jasa yang menyediakannya. Dalam ilmu strategi pemasaran, situasi ini dikenal dengan unmet demand. Mengubah masalah menjadi peluang dan memberikan solusi atas masalah merupakan pemikiran dan terobosan yang dihasilkan dari seorang wirausaha.

Solusi masalah ini tidak harus dengan menyediakan produk atau jasa yang sama sekali baru. Seringkali solusi ini hanya berupa cara atau konteksnya yang baru.

Permasalahan kemacetan di banyak kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan misalnya, warga kota tersebut memerlukan sarana dan akses transportasi yang mudah, nyaman, dan lancar. Solusi transportasi bukanlah solusi baru. Dari dulu transportasi disediakan melalui taksi, angkutan kota, ojek, dan commuter line. Manakala kemudian hadir solusi transportasi berbasis on-line seperti Grab dan Go-Jek, dapat memenuhi unmet demand ini dengan menawarkan kemudahan akses, fleksibel, dan lancar.

Orang-orang yang mampu secara jeli dalam melihat permasalahan, kemudian mencari solusi atas permasalahan inilah yang membedakan dengan orang lain. Merekalah sejatinya wirausaha.

Bila masalah sudah dipetakan dan solusi masalah telah dikembangkan, maka langkah selanjutnya adalah merealisasikan solusi masalah menjadi produk atau jasa yang memiliki nilai komersial. Dalam hal ini, seorang wirausaha harus mampu mengkomersialisasikan ide menjadi solusi produk atau jasa. Seberapa cepat dan tepat (timing) dalam mengkomersialkan ide menjadi produk dan jasa yang bernilai komersial merupakan hal yang krusial. Dalam hal ini diperlukan kegesitan eksekusi.

Eksekusi bisnis memerlukan pengelolaan dalam semua aspek fungsi-fungsi manajemen bisnis, seperti pemasaran, operasi, produksi, teknologi, keuangan, sumber daya manusia, layanan konsumen, dan lain-lain. Seorang wirausaha memerlukan pemahaman dan ketrampilan dalam pengelolaan bisnis.

Pengelolaan manajemen bisnis menuntut keahlian dan ketrampilan komunikasi, relationship, dan kolaborasi, baik dengan kolega, bawahan, mitra usaha, dan para pemangku kepentingan untuk mendukung kemajuan usahanya.

Model Pembelajaran

Membentuk karakteristik wirausaha merupakan tantangan bagi pendidikan di Indonesia. Pertanyaannya adalah, apakah kewirausahaan dapat diajarkan di bangku pendidikan, seperti perguruan tinggi? Bagaimana mengajarkan kewirausahaan di perguruan tinggi secara efektif?

Umumnya pembelajaran mencakup ranah kognitif dan afektif. Ranah kognitif banyak berhubungan dengan pengetahuan dan keahlian. Sementara afektif lebih kepada ketrampilan dan perilaku.

Pengajaran kewirausahaan di perguraan tinggi umumnya sebatas kognitif, mengenalkan dan menyampaikan pengetahuan manajemen bisnis kepada para mahasiswa. Akibatnya, lulusan perguruan tinggi hanya pintar teori manajemen bisnis, namun mereka kesulitan menerapkan teori untuk mengenali masalah, peluang, dan memberikan solusinya sesuai konteks lingkungan bisnis yang dihadapi.

Pembelajaran kewirausahaan di perguruan tinggi perlu diperkaya dengan simulasi, penciptaan ide bisnis (business creation), dan menjalankan bisnis dengan menerapkan pengetahuan manajemen.

Berwirausaha atau menjalankan usaha sangatlah kompleks dan dinamis. Pengalaman berharga dari para wirausaha perlu disusun dalam bentuk case study untuk dicatat, didokumentasikan, dan diajarkan ke para mahasiswa, agar mereka tidak harus jatuh ke lubang yang sama dengan mengalami berbagai kegagalan-kegagalan karena ketidaktahuan atau ketidaksiapan dalam menjalankan usaha.

Peran kampus atau perguruan tinggi dalam mengajarkan kewirausahaan dilakukan dengan cara memberikan asistensi dan coaching bagi para mahasiswa yang menjalankan usaha sejak mereka masih kuliah.

Mahasiswa haruslah benar-benar diajarkan untuk menjalankan usaha secara riil. Tidak hanya pengetahuan di kelas, namun mereka harus mengelola bisnis. Mulai dari identifikasi unmet demand, solusi masalah, prototype produk atau jasa, serta pengorganisasian untuk pengelolaan aspek-aspek fungsi manajemen secara komprehensif.

Kampus memfasilitasi dengan sarana laboratorium, seperti laboratorium penyaringan ide bisnis, laboratorium uji prototype produk, laboratorium riset pasar dan pemasaran, laboratorium proses produksi, pengepakan, distribusi, keuangan, dan sebagainya.

Dalam menjalankan usaha ini mahasiswa membentuk kelompok. Mereka berpatungan dalam penempatan dana untuk sumber pemodalan. Dari modal tersebut kemudian mereka memutuskan investasi bisnis yang akan dimasuki. Selanjutnya mereka menjalankan usaha dengan asistensi dan coaching dari mentor.

Mentor memberikan asistensi dan coaching untuk meningkatkan skala bisnis usaha mahasiswa. Mentor ini bisa berasal dari dosen, praktisi profesional, atau pengusaha tulen. Gabungan dari berbagai latar belakang pengetahuan dan pengalaman para mentor ini akan memberikan warna dalam menciptakan wirausahawan yang dilahirkan dari lulusan perguruan tinggi.

Tolok ukur keberhasilan pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi adalah jumlah wirausaha muda dari mahasiswa atau lulusan perguraan tinggi di berbagai sektor usaha, khususnya usaha kreatif. Peningkatan skala usaha, seperti peningkatan penjualan, penambahan basis pelanggan, jumlah pekerja, aset, laba, dan lain-lain menjadi indikator keberhasilan proses pembelajaran kewirausahaan.

***
Disadari bersama bahwa wirausaha menjadi salah satu indikator daya saing dan ketahanan ekonomi suatu bangsa. Perguruan tinggi berperan penting dalam proses pembelajaran kewirausahaan ini dengan pendekatan yang lebih efektif, sehingga mampu menghasilkan menerapkan pengetahuan menjadi solusi dan model bisnis yang dijalankan para mahasiswa. Mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk menjadi seorang wirausaha.

Bandung, 19 Mei 2018

Jejak Digital

Fathul Wahid, Ph.D. Dosen Program Magister Informatika, Universitas Islam Indonesia (UII), Peminat Studi TIK di sektor Publik dan untuk Pembangunan. Saat ini dia adalah Chief Information Officer UII.

– – –

Jejak Digital

SEBUAH email yang masuk siang itu membuat saya dan beberapa kawan dosen di jurusan, tersenyum kecut dan sekaligus merasa kasihan. Seorang lulusan meminta penggatian berkas digital skripsi yang diunggah di repositori. Apa pasal?

Calon pasangannya mempunyai sebuah permintaan kepadanya untuk menghapus nama seseorang yang termaktub dalam daftar ucapan terima kasih skripsinya. Tentu, permintaan tersebut tidak kami kabulkan. Skripsi adalah dokumen akademik resmi.

Moral apa yang kita bisa petik? Kawan saya mengatakan, “jejak digital itu sangat kejam.” Saya sepakat. Terlalu banyak kisah di media daring, khususnya media sosial, yang memperkuat pendapat ini . Ketika seseorang ‘berulah’ dan memancing kemarahan banyak orang, tidak jarang dia ‘ditelanjangi’ dengan bukti dari jejak digital lampaunya. Bahkan, Pemerintah Amerika Serikat, menggunakan jejak digital di media sosial lima tahun terakhir sebagai salah satu dasar penerbitan visa pengunjung.

Sampai hari ini, masih banyak pengguna media sosial yang tidak sadar bahwa, layar gawai merupakan pintu gerbang ruang publik. Saat ini, pembatas ruang privat dan publik menjadi sangat tipis. Konten yang ke luar dari gawai ke media sosial laksana binatang binal keluar dari kandang. Kendali tidak lagi menjadi milik kita.

Kita bisa memproduksi konten di manapun, bahkan di kamar kecil yang pengap sekalipun, selama gawai terkoneksi Internet. Konten dapat dengan mudah menjadi viral di media daring tanpa seorang pun dapat mengendalikannya. Konten dan peredarannya akan membuat jejak digital. Sialnya, umur jejak ini berbeda dengan jejak kaki di tepi pantai yang mudah tersapu ombak. Jejak digital tetap ada selama repositori daring masih menyimpannya. Kita dapat menghapus jejak digital awal di halaman sosial media kita. Namun, siapa yang dapat menjamin bahwa konten tersebut tidak tersalin di tempat lain.

Apa yang bisa kita lakukan? Yakinkan bahwa konten yang kita unggah ke media daring atau kita sebar mempunyai manfaat. Manfaat bisa mewujud dalam banyak bentuk, mulai dari membagi kebahagian karena mendapat nikmat, menjalin persahabatan, menebar inspirasi, memompa semangat, sampai dengan menasihati diri sendiri dan orang lain. Pastikan ada unsur kebaikan di sana. Sebaliknya, hindari konten yang memantik fitnah, menebar kebencian, mengusik kedamaian, membuat polarisasi sosial, membunuh empati, dan melukai hati. Pesan Nabi Muhammad beberapa abad lalu masih valid sampai detik ini : “Katakanlah yang baik atau diam.”

Jejak digital dari konten ini akan menjadi wajah kita, membentuk konsepsi orang atas kita. Bisa jadi, saat ini, kita sudah berubah dan hijrah. Walapun konten negatif yang kita produksi bertahun-tahun lalu masih tersimpan di repositori daring dan masih dijadikan rujukan orang, bahkan anak-cucu, dalam melihat kita. Baca lagi ilustrasi pembuka tulisan ini. Konten produksi kita dapat menjadi sumber stigma.

Saat ini, adagium ‘mulutmu harimaumu’ perlu dilengkapi dengan ‘jarimu harimaumu’. Karenanya, tinggalkan jejak digital yang baik. Hati-hati dengan jari-jari kita!Jika tidak, penyesalan pasti muncul di kemudian hari.

Momentum Ramadan ini, ketika muslim diminta melatih kendali diri dan menebar manfaat untuk sesama, nampaknya sangat tepat untuk memulai gerakan ini. Mari!

Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 18 Mei 2018)

Mengelola Piutang

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistik Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Mengelola Piutang

Umumnya, perusahaan penyedia jasa logistik melayani pelanggan kategori bisnis atau sering dikenal dengan Business to Business (B2B). Karakteristik pelanggan B2B ini adalah melakukan pembelian secara kredit. Bagi perusahaan penyedia jasa logistik, penjualan secara kredit akan menimbulkan piutang. Piutang merupakan sumber utama modal kerja perusahaan. Piutang menjadi sumber likuiditas perusahaan untuk mendanai kegiatan operasional. Pengelolaan piutang yang efektif akan dapat menjamin ketersediaan kas untuk menjaga likuiditas dan kelangsungan operasional perusahaan.

Sebagian besar perusahaan melakukan transaksi penjualan barang dan jasa ke pelanggannya secara kredit. Kebijakan penjualan secara kredit selain memberikan manfaat bagi pelanggan – karena mereka dapat memperoleh barang dan jasa terlebih dahulu, baru pelanggan melakukan pembayaran kemudian, juga perusahaan dapat mengikat pelanggan dalam jangka panjang melalui perjanjian kerjasama.

Penjualan barang dan jasa secara kredit umumnya didasarkan pada kesepakatan dalam kontrak yang menyebutkan ketentuan dan syarat pembayaran (term of payment). Ketentuan term of payment (ToP) “Net 30”, artinya pembayaran dilakukan dalam waktu sampai 30 hari dari tanggal invoice. Net 30 bisa diganti dengan Net 15 atau Net 40.

Ketentuan term of payment dapat juga dinyatakan dalam “2/10, Net 30”, artinya pembeli akan mendapatkan diskon sebesar 2% bila pembeli melakukan pembayaran dalam waktu 10 hari sejak tanggal invoice, dan jatuh tempo seluruh pembayaran sampai 30 hari sejak tanggal invoice.

Bagi perusahaan sebagai pembeli, keputusan apakah akan menggunakan diskon atau tidak dapat didasarkan pada pertimbangan cost of fund. Dalam term of payment 2/10, Net 30, misalnya, perusahaan dapat menghitung effective annual rate (EAR). Contoh, transaksi pembelian Rp100 juta, dengan ToP 2/10, Net 30, bila perusahaan mengambil diskon, maka perusahaan harus melakukan pembayaran maksimal 10 hari sejak tanggal invoice agar mendapatkan diskon 2% x Rp100 juta = Rp2 juta. Dalam hal ini perusahaan hanya membayar sebesar Rp100 juta – Rp2 juta = Rp98 juta.

Perusahaan akan membandingkan apakah mengambil diskon 2% dengan pinjam modal kerja dari bank atau tidak mengambil diskon. Perhitungan effective annual rate (EAR) sebagai berikut:

  • Mengambil diskon 2%, dengan pinjam modal kerja dari bank Rp98 juta, interest rate selama (30 – 10 = 20 hari) adalah Rp 2 juta/Rp98 juta = 2,04%, maka EAR selama 365 hari adalah: EAR = (1 + r)n -1 atau EAR = (1,0204)365/20 – 1 = 44,6%.
  • Bila interest rate pinjaman modal kerja bank rata-rata per tahun 11%, maka perusahaan sebaiknya mengambil diskon 2% tersebut, dengan cara pinjam modal kerja Rp98 juta selama jangka waktu 20 hari, dengan membayar bunga pinjaman 2% x 20/365 x Rp98 juta = 397, jauh lebih kecil daripada Rp2.000.000 dari diskon yang diperoleh.

Akuntansi Piutang

Penjualan barang dan jasa secara kredit akan berimplikasi piutang (receivable). Piutang merupakan aset lancar perusahaan yang cukup signifikan. Implikasinya, perusahaan harus memberikan perhatian serius terhadap pengelolaan piutang. Piutang yang telah tertagih menjadi sumber penerimaan kas untuk menjaga likuiditas perusahaan.

Istilah piutang merujuk hak perusahaan atas sejumlah nilai tagih yang telah jatuh tempo baik dari individual maupun perusahaan. Piutang diharapkan dapat ditagih untuk menjadi kas.

Dari perspektif keuangan, piutang dikelompokkan berdasarkan estimasi jangka waktu tertagihnya. Berdasarkan jangka waktu penagihan piutang, piutang dibedakan menjadi piutang lancar (current receivables) dan piutang tidak lancar atau jangka panjang (non-current receivables).

Piutang lancar atau piutang jangka pendek merupakan piutang yang diharapkan dapat tertagih dalam waktu paling lama satu tahun, atau sesuai siklus operasi perusahaan, mana yang lebih cepat. Sementara piutang tidak lancar atau piutang jangka panjang merupakan piutang yang diperkirakan tidak dapat tertagih dalam waktu 1 tahun atau siklus operasi perusahaan.

Selain pengelompokkan piutang berdasarkan jangka waktu penagihan, perusahaan juga mengelompokkan piutang berdasarkan jenis piutang atau sumber piutang: (1) piutang yang berasal dari kegiatan operasional bisnis (trade receivable) dan (2) piutang yang berasal bukan dari operasional bisnis (non-trade receivable).

Trade receivable, umumnya nilainya cukup signifikan, perusahaan membaginya ke dalam piutang dagang (accounts receivable) dan piutang wesel atau wesel tagih (notes receivable). Bedanya accounts receivable dengan notes receivable, kalau accounts receivable hanya didasarkan pada tagihan (invoice) yang menyebutkan hak tagih perusahaan atas sejumlah nilai nominal tertentu sesuai dengan jatuh tempo term of payment yang disepakati dalam transaksi penjualan barang dan jasa. Sementara notes receivable, hak tagih perusahaan dinyatakan secara tertulis dalam promissory note yang menyebutkan nilai nominal, tanggal jatuh tempo, dan tingkat bunga.

Isu accounting yang terkait dengan accounts receivable mencakup: (1) Pengakuan accounts receivable dan (2) Penilaian dan pelaporan accounts receivable.

Pengakuan accounts receivable. Prinsipnya, pencatatan pengakuan accounts receivable dilakukan pada saat barang diserahkan dan jasa diselesaikan. Pada perusahaan jasa, pencatatan pengakuan accounts receivable dilakukan dengan mendebit Accounts Receivable dan mengkredit Revenue. Sementara pada perusahaan dagang dan manufaktur, pencatatan pengakuan accounts receivable dilakukan dengan cara mendebit Accounts Receivable dan mengkredit Sales.

Penilaian dan pelaporan accounts receivable. Manakala perusahaan telah mencatat pengakuan accounts receivable atas penjualan secara kredit, persoalan berikutnya adalah bagaimana menilainya atau mengukurnya pada pelaporan keuangan di Laporan Posisi Keuangan. Perusahaan melaporan account receivable sebagai aset lancar pada Laporan Posisi Keuangan. Penentuan berapa nilai accounts receivable yang harus dicatat didasarkan pada nilai accounts receivable yang diperkirakan dapat ditagih (net realizable value). Standar akuntansi keuangan mensyaratkan bahwa accounts receivable dilaporkan sebagai aset lancar dalam Laporan Posisi Keuangan sesuai dengan net realizable value.

Berdasarkan standar akuntansi keuangan ini, perusahaan mengalokasikan provisi atas nilai accounts receivable yang diperkirakan tidak dapat tertagih. Pertimbangannya, tidak semua accounts receivable perusahaan dapat ditagih pada saat jatuh tempo sesuai dengan kesepakatan term of payment dengan pelanggan.

Dalam beberapa kondisi, perusahaan mengalami kesulitan untuk melakukan penagihan accounts receivable. Penyebabnya antara lain, pelanggan mengalami kesulitan likuiditas, sehingga pelanggan tidak dapat membayar kewajiban penyelesaian piutang tepat waktu. Selain itu, banyak piutang yang tidak dapat ditagih karena ketidaklengkapan administrasi kontrak transaksi penjualan, keakuratan dan kelengkapan lampiran invoice, dan lain-lain.

Provisi atas piutang yang tidak dapat ditagih menggunakan dua metode (Kimmel, Weygandt, dan Kieso, 2017), yaitu: (1) metode penghapusan langsung (direct write-off method), dan (2) metode pencadangan (allowance method).

Pada metode penghapusan langsung, perusahaan melakukan penghapusan langsung atas piutang yang diperkirakan tidak dapat ditagih per pelanggan. Penghapusan langsung atas piutang yang tidak dapat ditagih dengan mendebit sebagai bad debt expense dan mengkredit accounts receivable pelanggan. Metode ini mencatat penghapusan piutang secara langsung sesuai nilai aktual kerugian dari piutang pelanggan yang diperkirakan tidak dapat ditagih.

Penggunaan metode langsung dalam pencatatan uncollectible accounts akan dapat mengurangi nilai kegunaan informasi akuntansi, baik dalam laporan posisi keuangan maupun laporan laba rugi komprehensif. Karenanya, standar akuntansi tidak membolehkan menggunakan metode direct write- off ini dalam pencatatan uncollectible accounts.

Umumnya penghitungan berapa estimasi uncollectible accounts dapat didasarkan pada nilai penjualan atau nilai piutang.

Penghitungan uncollectible accounts dari penjualan dengan pertimbangan bahwa dari penjualan kredit total selama tahun berjalan, berapa persen yang diperkirakan tidak dapat tertagih. Nilai penjualan kredit tahun berjalan yang tidak dapat tertagih ini selanjutnya diperhitungkan sebagai “Beban Penyisihan Piutang” atau “Bad Debts Expense” dan menambahkan “Cadangan Penyisihan Piutang” atau “Allowance for Doubtful Accounts”.

Sementara penghitungan uncollectible accounts dari piutang didasarkan pada persentase dari umur piutang (aging the accounts receivable). Perusahaan perlu menyiapkan daftar umur piutang per pelanggan, kemudian menentukan persentase piutang yang diperkirakan tidak dapat tertagih dari setiap kelompok umur piutang.

Contoh penghitungan uncollectible accounts dari umur piutang. PT Jasa Logistik Indonesia (JLI) menyusun Daftar Umur Piutang untuk menentukan estimasi piutang yang tidak dapat tertagih posisi 31 Desember 2017. Kebijakan akuntansi PT Jasa Logistik Indonesia menetapkan persentase piutang yang tidak dapat teragih sesuai kelompok umur piutang sebagai berikut:

Berdasarkan tabel tersebut, estimasi piutang tidak tertagih total posisi 31 Desember 2017 sebesar Rp2.228. Bila saldo “Allowance for doubtful accounts” PT Jasa Logistik Indonesia per 31 Desember 2017 sebesar saldo kredit Rp528, “Allowance for Doubtful Accounts” di-adjust sebesar Rp1.700 (Rp2.228 – 528), maka JLI mencatat jurnal penyesuaian sebagai berikut:

Manajemen piutang
Perusahaan perlu mengelola piutang secara efektif. Piutang yang tidak tertagih akan mengganggu likuiditas perusahaan. Perusahaan menggantungkan sumber penerimaan kasnya dari penagihan piutang.

Berk dan DeMarzo (2017) memberikan panduan pengelolaan piutang sebagai berikut:
1. Menetapkan kebijakan kredit.
2. Menetapkan ketentuan term of payment.
3. Menetapkan kebijakan penagihan piutang.

Kebijakan kredit. Perusahaan perlu menetapkan kebijakan kredit dalam keputusan transaksi penjualan kepada pelanggan. Transaksi penjualan merupakan hasil closing proses penjualan yang dilakukan oleh tim sales force perusahaan. Dalam memberikan fasilitas pembayaran kredit, perusahaan perlu memastikan tingkat risiko kredit setiap pelanggan.

Analisis risiko kredit pelanggan didasarkan pada pertimbangan antara lain tingkat likuiditas pelanggan, prospek dan risiko bisnis pelanggan, rekam jejak pelanggan, dan bila memungkinkan perusahaan agar mendapatkan informasi peringkat kredit (credit rating) pelanggan.

Ketentuan term of payment. Kebijakan berapa lama jangka waktu pembayaran seringkali didasarkan pada siklus operasi atas transaksi penjualan barang dan jasa. Pada perusahaan dagang, siklus operasi mulai dari saat pembelian merchandise inventory sampai dengan transaksi penjualan. Kebijakan penetapan ToP umumnya dapat ditentukan dengan pasti, misalnya 10 hari, 20 hari, atau 30 hari sejak tanggal invoice.

Pada perusahaan manufaktur, siklus operasi lebih lama, karena dimulai dari pembelian raw material, proses produksi, sampai transaksi penjualan finished goods. Kebijakan penetapan ToP pada perusahaan manufaktur agar memperhitunghkan kecukupan modal kerja perusahaan. Umumnya, perusahaan manufaktur menetapkan kebijakan ToP “Net 30”.

Sementara perusahaan jasa, siklus operasinya relatif bervariasi, tergantung pada jenis jasanya. Pada perusahaan logistik, siklus operasi dimulai pada saat pick-up sampai penyerahan kiriman di lokasi penerima. Siklus operasi perusahaan logistik bisa 10 hari, 30 hari, bahkan sampai 40 hari. Penetapan ToP pada perusahaan jasa umumnya 15 hari dan30 hari.

Kebijakan term of payment perlu mempertimbangkan kebijakan diskon. Diskon diberikan kepada pelanggan dengan maksud untuk mempercepat pembayarannya. Perusahaan perlu menetapkan kebijakan diskon baik ketentuan berapa persentase diskon maupun periode diskon.

Kebijakan penagihan piutang. Manakala barang telah diserahkan atau pekerjaan telah selesai dilaksanakan, perusahaan mengirimkan invoice kepada pelanggan. Perusahaan perlu memonitor pembayaran tagihan dari pelanggan dan menetapkan unit atau pihak mana yang secara intensif melakukan tugas penagihan ke pelanggan.

Pengukuran kinerja pengelolaan piutang
Perusahaan perlu mengukur kinerja pengelolan piutang. Pengukuran kinerja pengelolaan piutang dilakukan dengan evaluasi kinerja accounts receivable days dan aging schedule.

Accounts receivable days. Accounts receivable days atau sering dikenal dengan collection periods merupakan rata-rata jumlah hari piutang yang dihitung sejak tanggal invoice sampai dengan penerimaan kas dapat diperoleh dari penagihan piutang. Jika kebijakan term of payment katakanlah “Net 30”, namun ternyata rata-rata outstanding piutang 50 hari, maka pelanggan terlambat 20 hari dalam melakukan pembayaran tagihan.

Accounts receivable days dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: (kiri) Sementara receivable turnover ratio dihitung dengan cara (kanan)

Accounts receivable days menunjukkan likuiditas dan efektivitas pengelolaan piutang. Semakin kecil
accounts receivable days, maka perusahaan semakin likuid dan efektif dalam mengelola piutangnya.

Aging schedule. Aging schedule mengelompokkan piutang berdasarkan kategori umur piutang. Aging schedule sebaiknya disusun secara periodik. Perusahaan harus memonitor aging schedule untuk memastikan efektivitas pengelolaan piutang.

Contoh aging schedule disajikan sebagai berikut:

Perusahaan dapat menganalisis efektivitas pengelolaan piutang berdasarkan aging schedule tersebut. Bila persentase piutang lebih banyak kategori “bottom-heavy”, yaitu days outstanding lebih dari 31 hari, sementara ToP-nya Net 30, maka perusahaan perlu segera melakukan evaluasi dan perbaikan atas pemberian kredit, ketentuan term of payment, dan penagihan piutang.

 

Berpikir Seperti Ekonom

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

Berpikir Seperti Ekonom

Keberhasilan dalam mengelola bisnis sangat ditentukan seberapa anda memahami pasar di mana berbisnis. Tidak peduli seberapa besar ukuran perusahaan anda. Tidak peduli usia operasional perusahaan anda. Tidak peduli jenis usaha anda.

Tidak masalah jenis organisasi anda, apakah organisasi bisnis yang berorientasi profit atau institusi nirlaba seperti rumah sakit dan sekolahan.

Memahami pasar berarti mampu mengenali peluang, kendala, dan tantangan yang dihadapi untuk memaksimalkan tujuan dan nilai organisasi. Bagi organisasi bisnis, tujuan perusahaan adalah memaksimalkan profit melalui pelayanan pelanggan dan pengembangan bisnis dan produk. Sementara bagi organisasi nirlaba, tujuan institusi adalah memberikan pelayanan publik atau anggota organisasi secara efektif dengan menggunakan sumber daya yang paling efisien.

Pengelolaan organisasi bisnis memerlukan pilihan keputusan strategi dan eksekusi strategi yang efektif.

Teori dan konsep-konsep ilmu ekonomi dapat digunakan untuk menentukan keputusan strategi dan bagaimana memilih berbagai alternatif keputusan. Umumnya bidang ilmu ekonomi yang paling banyak digunakan dalam pengambilan keputusan bisnis adalah ekonomi mikro (microeconomics). Bidang ilmu ekonomi mikro ini mempelajari bagaimana perilaku individu dari konsumen dan perusahaan dalam memenuhi kebutuhannya untuk memaksimalkan kepuasan atau nilai perusahaan.

Ekonom menggunakan asumsi dalam menganalisis permasalahan dan pengambilan keputusan atau kebijakan.

Asumsi dapat menyederhanakan dunia yang kompleks dan memudahkan dalam memahami persoalan. Untuk mempelajari pengaruh perdagangan internasional, misalnya, ekonom mengasumsikan bahwa dunia hanya ada dua negara dan setiap negara hanya menghasilkan dua barang.

Tentu saja, dalam kenyataannya di dunia ini ada banyak negara dan setiap negara menghasilkan banyak produk dan jasa. Tetapi, dengan mengasumsikan dunia hanya terdiri dari negara dan dua jenis produk, ekonom dapat memfokuskan pada inti permasalahan, yaitu perdagangan internasional. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai perdagangan internasional dalam dunia imajiner yang disederhanakan, maka ekonom dapat memahami persoalan perdagangan internasional yang lebih kompleks.

Selain penggunaan asumsi, ekonom kerap menggunakan model ekonomi (economic models). Model merupakan penyederhanaan dari realitas. Umumnya ekonom menggunakan model ekonomi The Circular-Flow Diagram dan The Production Possibilities Frontier.

Model pertama: the circular-flow diagram

Perekonomian suatu negara terdiri dari banyak jutaan orang yang melaksanakan berbagai aktivitas seperti pembelian, penjualan, bekerja, rekruitmen tenaga kerja, produksi, investasi, dan lain-lain. Untuk memahami bagaimana perekonomian bekerja, ekonom menggunakan model The Circular-Flow Diagram. Model ini menjelaskan hubungan antara pelaku ekonomi dalam suatu perekonomian. Dalam model The Circular-Flow Diagram, pelaku ekonomi disederhanakan hanya dua: rumah tangga (households) dan perusahaan (firms).

Rumah tangga membeli dan mengkonsumsi barang dan jasa. Selain itu rumah tangga juga menyediakan faktor produksi seperti tanah dan tenaga kerja. Rumah tangga menerima income atas upah dari tenaga kerja yang diberikan, penerimaan hasil penyewaaan atas tanah, dan hasil penggunaan modal.

Sementara itu, perusahaan memproduksi dan menjual barang dan jasa ke rumah tangga. Perusahaan mempekerjakan tenaga kerja dan menggunakan faktor produksi yang disediakan rumah tangga. Perusahaan menerima pendapatan dari rumah tangga atas hasil penjualan barang dan jasa.

Perusahaan membayar upah, sewa, dan imbal hasil atas penggunaan modal dari rumah tangga.

The Circular-Flow Diagram merupakan skema representasi organisasi sektor ekonomi dalam suatu perekonomian. Keputusan dibuat oleh rumah tangga dan perusahaan. Rumah tangga dan perusahaan saling berinteraksi dalam pasar barang dan jasa (dimana perusahaan sebagai penjual dan rumah tangga sebagai pembeli) dan pasar input faktor-faktor produksi (dimana perusahaan sebagai pembeli dan rumah tangga sebagai penjual).

Model kedua: the production possibilities frontier

The Production Possibilities Frontier merupakan grafik yang menunjukkan kombinasi output dalam perekonomian yang mungkin dapat dihasilkan dengan faktor produksi dan teknologi yang tersedia.

Dalam Production Possibilities Frontier, perekonomian diasumsikan hanya memiliki kemampuan untuk menghasilkan dua kombinasi produk, misalnya mobil dan komputer.
Perekonomian mampu menghasilkan kombinasi output mobil dan komputer dalam dan di titik sepanjang production possibilities frontier. Peningkatan kapasitas produksi dimungkinkan dengan peningkatan teknologi dan produktivitas tenaga kerja.

Konsep-konsep ekonomi yang dapat kita pelajari dari model Production Possibilities Frontier adalah: scarcity, efficiency, trade-offs, opportunity cost, dan economic growth.
Perekonomian mencapai kondisi efisien manakala menghasilkan produk pada titik sepanjang production possibilities frontier.

Keputusan produksi suatu produk dilakukan secara trade-offs, meningkatkan output produk dengan menurunkan output produk lain. Keputusan trade-offs ini juga menimbulkan opportunity cost. Dalam production possibilities frontier kita juga mengenal konsep economic growth, pertumbuhan ekonomi suatu negara meningkat manakala terjadi shifting dalam production possibilities frontier.

Penggunaan konsep ekonomi dalam bisnis Sejatinya, manajer mengelola bisnis dimaksudkan untuk menghasilkan keuntungan atau profit melalui penyediaan produk dan jasa kepada pelanggan. Secara sederhana, profit dicapai bila pendapatan yang diperoleh melebihi biaya yang dikeluarkan. Sebaliknya, bila pendapatan tidak dapat menutupi biaya, maka perusahaan menderita kerugian. Setiap keputusan yang dilakukan manajer diarahkan untuk mendapatkan profit secara maksimal.

Dalam mengelola bisnis, keputusan penting yang harus diambil oleh manajer adalah berapa unit output yang harus diproduksi atau dijual untuk mendapatkan profit maksimal dengan sumber daya faktor produksi yang terbatas.

Untuk melayani pelanggan dengan menyediakan produk dan jasa, manajer mengelola sumber daya. Dalam ilmu ekonomi sumber daya ini merupakan faktor-faktor produksi sebagai input dalam fungsi produksi.

Contoh faktor produksi yang umum digunakan dalam model fungsi produksi adalah labor dan kapital, yang lazim dinotasikan sebagai Q = f (L,K). Fungsi ini cukup mewakili dari keseluruhan fungsi produksi Q = f (X1, X2, …, Xn). Dimana L dan K masing-masing melambangkan labor dan capital.

Penggunaan sumber daya faktor produksi menimbulkan cost. Dalam ilmu ekonomi, kita mengenal berbagai jenis dan konsep cost: variabel cost, fixed cost, sunk cost, avoidable cost, opportunity cost, explicit cost, dan implicit cost. Menariknya, konsep cost dalam ilmu ekonomi lebih komprehensif dibandingkan dengan konsep cost yang diajarkan dalam akuntansi.

Karenanya, dalam ilmu ekonomi kita menyebut economic profit, yang dihitung dari total revenue dikurangi explicit costs dan implicit costs. Sementara profit yang umum dikenal dalam perhitungan profit perusahaan adalah accounting profit. Dalam accounting profit, cost yang diperhitungkan hanyalah explicit cost.

Memaksimalkan economic profit merupakan misi utama manajer dalam mengelola bisnis. Ilmu ekonomi mengajarkan konsep marginal analysis untuk pengambilan keputusan yang paling optimal. Konsep marginal analysis didasarkan pada berapa output atau benefit yang paling optimal atas keputusan perubahan tingkat input atau aktivitas yang diperlukan untuk menghasilkan output.

Pemahaman manajer mengenai konsep permintaan (demand), penawaran (supply), dan keseimbangan pasar (market equilibrium) penting untuk mengenali dan melayani konsumen dalam konteks persaingan pasar. Dalam ilmu ekonomi, setidaknya tingkat persaingan pasar dibedakan sesuai struktur pasar menjadi pasar dengan persaingan sempurna (competitive market), pasar dengan monopoli (market power), monopolistics competition, dan pasar oligopoli. Pemahaman tingkat persaingan pasar mengarahkan manajer dalam keputusan strategi harga dan keputusan produksi yang paling optimal.

Dalam pasar persaingan sempurna, banyak perusahaan yang menjual produk yang sama atau tidak ada differentiated, tidak ada hambatan bagi perusahaan untuk masuk atau keluar pasar.

Pada struktur pasar seperti ini, manajer akan mengikuti harga pasar (price-taker). Dengan harga yang sudah ditentukan oleh pasar melalui keseimbangan permintaan dan penawaran, keputusan rasional seorang manajer adalah menentukan berapa unit output yang harus diproduksi dan dijual untuk memaksimalkan profit.

Pada pasar monopoli, sebaliknya, hanya ada satu perusahaan yang menyediakan produk atau jasa di pasar. Umumnya hambatan untuk memasuki pasar terjadi karena beberapa penyebab, antara lain sumber daya monopoli, proteksi dari pemerintah atau hak eksklusif yang diberikan pemerintah kepada suatu perusahaan. Manajer memiliki kebebasan dalam menentukan harga produk untuk memaksimalkan profit.

Pada pasar monopolistics competition, merupakan antara monopoli dan persaingan sempurna. Pada struktur pasar mopolistik, banyak perusahaan menjual produk yang serupa namun tidak sama. Karakteristik utama dari struktur pasar monopolistik adalah diferensiasi produk. Adanya product differentiation ini, manajer pada struktur pasar monopolistik tetap sebagai price-setter, alih-alih sebagai price-taker.

Pada setiap struktur pasar di atas, baik pasar persaingan sempurna, monopoli, maupun monopolistik, manajer tidak perlu mempertimbangkan reaksi pesaing dalam melakukan strategi perubahan harga. Manajer fokus pada penentuan unit output atau harga secara independen. Kondisi ini tidak bisa terjadi pada struktur pasar oligopoli. Dalam pasar oligopoli, keputusan harga dan penentuan output akan direspon oleh pesaing. Karenanya, manajer perlu memahami keputusan dan reaksi pesaing atas strategi yang dilakukan perusahaan.

Permintaan suatu produk menentukan tingkat penjualan. Pemahaman yang baik mengenai bagaimana hukum permintaan bekerja dan faktor-faktor apa saja yang memengaruhi tingkat permintaan penting bagi para manajer dalam keputusan bisnis.

Ilmu ekonomi mengajarkan konsep yang sangat menarik mengenai permintaan yang melahirkan hukum permintaan (the law of demand). Dalam ilmu ekonomi, hukum permintaan disederhanakan dengan melihat hubungan antara harga (price) dan jumlah unit barang yang diminta (quantity demanded).

Hukum permintaan menyatakan bahwa dengan asumsi faktor-faktor lain tetap – sering disebut dengan istilah ceteris paribus, kuantitas barang yang diminta akan menurun manakala harga barang tersebut naik.

Ilmu ekonomi menyajikan keterkaitan antara harga dan kuantitas barang yang diminta dalam kurve permintaan. Dari kurve permintaan ini, manajer dapat menganalisis keputusan strategi harga apakah penaikan harga atau penurunan harga untuk menentukan jumlah penjualan yang paling optimal.

Menariknya, tidak selalu keputusan penurunan kenaikan harga jual dapat meningkatkan penjualan total. Ilmu ekonomi mengingatkan para manajer untuk memerhatikan elastisitas permintaan sebelum para manajer menaikkan atau menurunkan harga barang dan melihat pengaruhnya terhadap penjualan total.

Permintaan pasar merupakan penjumlahan secara agregat permintaan individu dari setiap konsumen. Kurve permintaan dapat pindah (shifting) dari kurve D1 ke kurve D2, D3, dan seterusnya.

Perpindahan dari D1 ke D2, D3, dan seterusnya dimungkinkan karena perubahan income, perubahan harga produk-produk subsitusi dan komplimenter, perubahan selera konsumen, ekspektasi terhadap kondisi masa depan, jumlah pembeli dalam pasar.

Dalam mengelola bisnis, manajer perlu memahami dinamika perubahan permintaan pasar ini agar dapat melalukan peramalan permintaan suatu produk dan jasa dengan lebih baik.
Di sisi penawaran, ilmu ekonomi mengajarkan kurve penawaran untuk menganalisis keterkaitan antara harga produk dengan kuantitas produk yang ditawarkan di pasar. Semakin tinggi harga produk, maka banyak perusahaan yang bersedia memproduksi atau menjual produk ke pasar.

Perpindahan kurve penawaran dimungkinkan bila ada perubahan harga faktor input produksi, penerapan dan kemajuan teknoologi, ekspektasi, dan jumlah penjual di dalam pasar.

Dari kurve permintaan dan penawaran diperoleh titik keseimbangan pasar (market equilibrium). Suatu kondisi keseimbangan pasar pada harga dan kuantitas tertentu. Pada keseimbangan pasar tidak terjadi surplus atau shortage barang.

***

Banyak konsep dan cara pemikiran ekonom yang dapat diadaptasi oleh manajer dalam mengelola bisnis untuk memaksimalkan nilai perusahaan melalui pengelolaan sumber daya yang terbatas secara efisien dan efektif.

Terminologi dan konsep-konsep dalam ilmu ekonomi seperti marginal revenue, total revenue, marginal product, average product, total product, marginal cost, hukum permintaan, hukum penawaran, keseimbangan pasar, elastisitas, production possibilities frontier, price discrimination, profit maximization, economies of scale and scope, cost-minimizing, game theory, dan lain-lain perlu digali dan dipelajari kembali, sehingga manajer mampu memiliki pemahaman yang baik, pemikiran, dan pertimbangan keputusan bisnis yang komprehensif di tengah perubahan lingkungan bisnis yang sangat dinamis ini.

Peningkatan Daya Saing Profesional TI di Era Global

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Ketua Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise / Ketua Program Pascasarjana FTI UII

Materi Kuliah Umum : Peningkatan Daya Saing Profesional TI di Era Global

Disampaikan di STIMIK Balikpapan – 06 Mei 2018

Zaroni, Indonesia Masih Sulit Temukan Produk Halal

Dr. Zaroni Samadi, Peneliti Senior Supply Chain Indonesia mengatakan produk yang ada sekarang hanya dijamin halal dari isi produk. “Saya belum menemukan makanan bisa halal atau tidak dan menjamin proses logistik dari angkutan sampai kontainer yang halal prosesnya,” katanya kepada Bisnis, Minggu (6 Mei 2018).

“Ternyata, sampai saat ini sulit menemukan makanan halal sesuai syariat Islam yang benar-benar terjamin dari ladang sampai dihidangkan di meja makan” ungkap Dosen Magister Teknik Industri Program Pascasarjana FTI UII tersebut

Berdasarkan syariat ajaran agama, produk yang boleh dimakan memiliki kriteria halal dari sisi zat yang sudah ditetapkan berdasarkan kitab suci. Bukan hanya itu, makanan tersebut juga halal dari cara perolehan dan pengolahannya.

Jika ditafsir lebih dalam, ini berarti pangan yang halal mencakup rangkaian kegiatan untuk penyediaan bahan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, penjualan, dan penyajian produk.

Zaroni menjelaskan permintaan produk halal di Indonesia sangat besar. Berdasarkan data State of the Global Islamic Economy tahun 2016/2017, pada 2015 pertumbuhan pasar halal dunia mencapai US$1,9 triliun.

Sementara itu tahun 2019 diharapkan bisa tumbuh di kisaran US$2,54 triliun atau 21,2% dari total belanja dunia. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia belum melihat potensi besar ini.

Masih berdasarkan penelitian yang sama, Indonesia berada pada posisi ke-10 dengan poin 36 sebagai negara industri halal. Posisi Ini kalah jauh dari Malaysia yang berada di tempat pertama dengan skor 121.

Diberitakan Bisnis

Jerri Irgo