Bagi-Bagi Sembako Di Monas

Ismail Fahmi, Ph.D – Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia
– – – – – –

 

Weekend kemaren ada dua event besar di Jakarta. Hari Sabtu di Monas, ada acara bagi-bagi sembako oleh Forum Untukmu Indonesia; lalu hari MInggunya ada CFD dimana massa dengan kaos #2019GantiPresiden tumpek blek. Kedua acara ini bisa dibilang tidak happy ending citranya. Acara di Monas dinodai oleh lautan sampah dan taman yang rusak, serta massa yang kepanasan, kelaparan, ada yang pingsan, dan anak yang hilang. Sedangkan acara di CFD rusak citranya karena adanya intimidasi dari sebagian peserta #2019GantiPresiden kepada ibu dan anak yang mengenakan kaos #DiaSibukKerja.

Nah, sekarang kita lihat dulu acara “Pesta Rakyat” di Monas dari kacamata Drone Emprit. Di postingan berikutnya baru kita lihat acara di CFD itu.

Data

Kita gunakan kata kunci “monas” dan “forum untukmu indonesia” dari tanggal 28-29 April. Dalam periode ini didapat 15K percakapan, dengan trend yang terus naik. Tanggal 30 April kemungkinan masih tinggi.

SNA

Pemetaan warganet yang terlibat percakapan itu menggunakan SNA, menampilkan dua buah cluster yang sangat tidak imbang. Satu cluster sangat besar, mendominasi percakapan; ini cluster oposisi. Cluster satunya sangat kecil; biasanya ini cluster pro pemerintah.

Kecilnya cluster pro menandakan mereka tidak tertarik untuk membahas soal acara di monas itu.

Cluster Dan Narasi

Key opinion leader yang ada di cluster pro tidak banyak yang muncul. Dari sebagian yang muncul, hampir semua menyuarakan narasi yang sama. Yaitu, kekacauan di acara bagi-bagi sembako di Monas itu adalah karena kebijakan Anies yang membuka Monas untuk acara publik, dan menuding acara ini disponsori atau diprakarsai oleh Pemprov DKI.

 

Sementara itu, cluster oposisi banyak meretweet penjelasan dari Pemprov DKI yang menunjukkan bukti berupa surat keterangan dari panitia Forum Untukmu Indonesia bahwa Pemprov DKI tidak bertanggung jawab dan tidak terlibat dalam acara ini.

Cluster ini juga membahas opini Seword yang menyalahkan Anies, gara2 kebijakannya terjadi lautan sampah di Monas. Selain menyoroti lautan sampah, cluster ini juga menyoroti adanya simbol agama tertentu dalam poster yang dibawa anak-anak berkeliling area taman Monas, isi nasi kotak yang berupa nasi dan dua potong nugget, dan profesionalitas penyelenggara.

Closing

Acara di Monas ini kalau dilihat dari penyelengaranya, acaranya, dan peserta yang diundang hadir, sebenarnya bisa menjadi isu yang sensitif. Namun saya lihat pembahasan di media sosial ada kecenderungan dari cluster oposisi untuk tidak menjadikan isu agama sebagai sentral. Mereka mencoba menghindari isu ini. Dan ini bagus, karena kalau masuk ke isu identitas lebih merugikan bagi bangsa.

Ini yang perlu menjadi renungan, sekaligus melihat cermin kondisi masyarakat kita saat ini. Mengapa setiap ada acara bagi-bagi sembako animo publik begitu besar?

Apakah mereka sedang kesulitan ekonomi? Apakah sembako untuk beberapa hari saja itu sudah sangat berharga bagi mereka, sehingga mereka rela antri dalam panasnya lapangan Monas? Apakah bagi-bagi sembako adalah solusi bijak untuk menolong mereka?

Apakah mereka sedang kesulitan ekonomi? Apakah sembako untuk beberapa hari saja itu sudah sangat berharga bagi mereka, sehingga mereka rela antri dalam panasnya lapangan Monas? Apakah bagi-bagi sembako adalah solusi bijak untuk menolong mereka?

Kejadian ini harusnya jadi bahan gagasan buat disampaikan ke publik bagi capres yang akan tampil di balik hestek #2019GantiPresiden, dan bahan untuk menunjukkan kinerja selama ini dari #DiaSibukKerja. Bagaimana mereka punya gagasan untuk mengentaskan kemiskinan, atau apa yang sudah dikerjakan oleh mereka dalam kesibukan bekerja mengentaskan kemiskinan selama ini?

 

Model Attribute Based Access Control

Mohamad Fadli Panende, mendapatkan hasil pengujian Model Attribute Based Access Control (ABAC) dengan sampel data uji melalui rangkaian skenario, simulasi dan pengujian kinerja akses kontrol menggunakan tools yang dibuat khusus untuk menguji kinerja ABAC pada Lemari Penyimpanan Bukti Digital (LPBD) ini, didapatkan hasil bahwa akses kontrol yang dibuat telah berjalan dengan baik dan berfungsi sebagaimana mestinya yang diharapkan. Selain itu pendekatan menggunakan metode ABAC ini juga dapat menjadi solusi dalam meningkatkan tingkat keamanan sistem LPBD khususnya dalam hal identifikasi user.

Alhamdulillah, penelitian tersebut mengantarkan, Mohamad Fadli Panende, meraih gelar Magister Komputer dari Konsentrasi Forensika Digital Program Studi Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta

Perancangan Model Attribute Based Access Control (ABAC) Pada Lemari Penyimpanan Bukti Digital (LPBD) ini diawali dengan melakukan perancangan model ABAC, dilanjutkan dengan membuat konsep XACML policy untuk dapat menyesuaikan antara kebutuhan ABAC dan kebutuhan sistem LPBD, serta diimplementasikan dalam bentuk model halaman login pada LPBD. “Pendekatan menggunakan metodeABAC pada LPBD ini juga dapat menjadi solusiatas permasalahan akses kontrol LPBD yang dibuat sebelumnya” ungkap Fadli melalui pesan singkat (11 April 2018).

Penelitian Faktor Mohamad Fadli Panende menjawab salah satu hal penting dalam proses investigasi sebuah kasus cybercrime yaitu hal yang terkait dengan barang bukti yang ditemukan. Bukti elektronik maupun bukti digital yang ditemukan dalam sebuah kasus kejahatan harus tetap terjaga keasliannya untuk dapat dipertanggung jawabkan dipengadilan. Sistem lemari penyimpanan bukti digital (LPBD) menjadi salah satu solusi untuk permasalahan manajemen bukti digital ini yang berdasar pada digital evidence cabinet (DEC), hanya saja sistem tersebut belum dilengkapi dengan model akses kontrol yang baik.

Sistem LPBD seharusnya dibuat tidak hanya berdasar pada permasalahan-permasalahan tentang manajemen bukti digital saja, akan tetapi komponen-komponen penting lainnya dalam lemari penyimpanan bukti digital itu sendiri yaitu pengaturan aksesnya, sehingga skema atau desain akses kontrolpolicy terhadap LPBDmenjadi sangat penting. Akses kontrol yang gunakan terhadap LPBD sebelumnya dibuat hanya dengan mekanisme authefikasi dan authorisasi user saja, tidak adanya parameter lain yang lebih kompleks untuk mendukung sebuahpermintaan akses yang dilakukan pada sistem LPBD.

Penelitian ini dilakukan pada LPBD dengan tahapan yang dimulai dari melakukan identifikasi masalah, studi literature, pembuatan konsep ABAC, implementasi, simulasi dan skenario kasus, melakukan pengujian, hasil dan analisa, serta memberikan kesimpulan. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu membangun rancangan akses kontrol pada LPBD menggunakan pedekatan attribute based access control (ABAC) dan melakukan pengujian terhadap keamanan sistem LPBD dalam segi pemberian hak akses pada user.Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan menggunakan toolskhusus untuk menguji kinerja akses kontrol, didapatkan hasil bahwa rancangan ABAC yang dibangun dapat berjalan dengan baik sebagaimana mestinya yang diharapkan.

Pendekatan menggunakan ABAC ini dapat dijadikan solusi atas permasalahan akses kontrol LPBD sebelumnya, khususnya dalam proses identifikasi user. “Penggunaan pendekatan ABAC pada LPBD ini disebabkan ABAC merupakan model akses kontrol policyyang lebih fleksibel dalam penerapan atributterhadap user, dan hierarchy XACML yang dapat mendukung kebutuhan-kebutuhan akses kontrol yang digunakan pada LPBD” pungkasnya.

Selamat ya broo Mohamad Fadli Panende, makin sukses selalu !!

Jerri Irgo

Ekonomi Keberkahan di Kopi Klotok

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –Ekonomi Keberkahan di Kopi Klotok

Bagi para pelanggannya, kopi klotok di Kledokan Pakem, Jalan Kaliurang Jogjakarta selalu memberikan suasana tentram dan terasa pulang ke rumah kampung halaman. Pelanggan yang pernah datang dan menikmati menu makanan di warung kopi klotok ingin kembali lagi.

Di kopi klotok, pelanggan disuguhi segelas kopi panas dengan rasa dan aroma kopi yang khas, menu makanan masakan Jawa rumahan dengan rasa kenangan masa kecil. Penyajian makanan secara prasmanan. Selayaknya tamu, pelanggan bebas mengambil menu masakan sendiri, langsung dari dapur.

Nama kopi klotok disematkan dari proses memasak minuman kopi. Klotok atau nglotok – Bahasa Jawa, berarti mengelupas. Proses mengelupasnya kopi adalah saat air disiramkan ke panci yang lengket dengan kopi yang dimasak tanpa air. Penyajian kopi klotok dihasilkan dari kopi bubuk yang dimasak dalam panci panas tanpa air. Setelah beraroma sedikit gosong, panci disiram dengan air hingga mendidih. Kopi bubuk di panci pun mengelupas – nglotok.

Kopi klotok menjadi menu favorit setiap tamu di warung yang berada di kampung pedesaan ini. Rasa pahit yang pas dan aroma kopi yang sedap, mengingatkan penikmat kopi klotok kenangan masa kecil. Para tamu menikmati kopi klotok dengan pisang goreng atau menu masakan nasi dan lauk rumahan seperti sayur atau jangan lodeh lombok ijo, lodeh terong, dan lodeh kluwih. Semuanya menu disajikan di dapur atau pawon. Proses memasak dengan tungku yang dipanaskan dari kayu bakar.

Harga minuman dan makanan di kopi klotok sangatlah terjangkau. Bahkan beberapa menu, pelanggan diberikan kebebasan untuk mengambil porsi tambahan sepuasnya, dengan harga tetap satu porsi.

Pelanggan kopi klotok menikmati minuman kopi dan makanan di warung yang dibangun dalam bentuk rumah joglo limasan yang teduh, di tengah pemandangan sawah dan pohon- pohon pedesaan yang asri.

Belajar Ekonomi Keberkahan

Pelanggan yang datang ke kopi klotok tidak hanya menemukan kepuasan dalam menikmati minum kopi dan masakan rumahan di masa kecil. Pelanggan juga menemukan kebahagiaan dan kedamaian.

Dari obrolon dengan Jerri Irgo, sahabat yang selalu menemani dan mengajak saya ke kopi klotok setelah saya selesai mengajar di kelas logistik program magister teknik industri fakultas teknologi industri UII Jogja, saya mendapatkan pelajaran di kopi klotok ini.

Mbak Yani, pemilik kopi klotok, dulunya adalah eksekutif bank nasional. Mulai merintis usaha warung kopi klotok sejak tahun 2015. Dalam mengelola bisnis ini, Mbak Yani ikut melebur bersama karyawannya meladeni pelanggannya, para tamunya. Bersama karyawannya, Mbak Yani menerima tamu yang berkunjung di kopi klotok. Mencarikan tempat duduk, menyuguhkan kopi, makanan, hingga mengambil dan membersihkan meja, gelas, dan piring yang sudah terpakai. Semuanya dilakukan dengan santai, seperti halnya melayani tamu-tamu yang berkunjung ke rumah. Ia tak tampak sebagai pemilik, pengusaha kopi klotok.

Dari Mbak Yani, pelanggan belajar bagaimana menjadi mengelola usaha dengan nilai-nilai “handarbeni”. Ia meneladankan kepada semua karyawannya, untuk merasa duwe lan handarbeni, pemilik yang memiliki. Setiap karyawan dicontohkan untuk secara tulus melayani pelanggan selayaknya saudara dan kerabat yang menjadi tamu di rumahnya. Menyapa secara personal.

Pelanggan pun memiliki pengalaman yang mengesankan selama berkunjung di kopi klotok. Tidak hanya kebutuhan fungsional yang terpenuhi dari segelas kopi, pisang goreng, dan masakan sayur lodeh rumahan. Di kopi klotok, pelanggan akan mendapatkan rasa tentram, menginspirasi, bahkan nilai-nilai keberkahan.

Menyoal nilai-nilai keberkahan ini, saya mendapatkan pelajaran menarik dari model pengelolaan bisnis warung kopi klotok ini.

Dengan kebebasan pelanggan mengambil dan memesan makanan, tentunya dari perspektif sistem akuntansi, proses bisnis seperti ini sangat berisiko. Pasalnya, bisa saja pelanggan mengambil makanan 5, namun membayar 1. Sebutan Darmaji, menurut kawan saya yang dari penutur Bahasa Sunda. “Dahar lima, membayar hiji”. Makan lima makanan, namun hanya membayar satu.

Tidak ada catatan atau nota pesanan dari pelanggan yang dicatat petugas warung. Pelanggan datang, mengambil makanan, memesan kopi dan pisang goreng sepuasnya. Bila pelanggan sudah selesai makan, cukup melapor ke kasir berapa banyak dan jenis makanan dan minuman apa yang telah dimakan. Kasir menginput di mesin cash register sesuai perkataan pelanggan. Kasir percaya apa yang dikatakan pelanggan. Kasir tidak memerlukan nota atau catatan pesanan pelanggan. Harga total yang harus dibayar pun tertera di struk cash register. Tanpa perlu verifikasi. Pelanggan pun membayarnya.

Model proses bisnis dan sistem pemrosesan transaksi ini pun merupakan “anomali” dalam sistem akuntansi. Anda tahu, bahwa sistem akuntansi mengharuskan adanya catatan, bukti pesanan, dan verifikasi atas setiap transaksi untuk meminimalkan risiko fraud dan potensi kerugian perusahaan dari pelanggan yang melakukan “kecurangan”.

Di kopi klotok, kaidah sistem pengendalian internal seperti yang diajarkan di bangku kuliah kelas sistem akuntansi tidak berlaku. Mbak Yani memahami potensi risiko ini, namun tidak mempersoalkannya. Mbak Yani berpikiran positif, bahwa setiap pelanggan yang datang ke kopi klotok selalu menerapkan kejujuran dalam bertransaksi.

Para wanita hamil di kopi klotok mendapat perlakuan istimewa. Mbak Yani tidak membebankan tagihan atas order minuman dan makanan yang dipesan wanita hamil. Mbak Yani mengelola warung kopi klotok dengan menggunakan nilai-nilai mulia ekonomi keberkahan.

Bagi sebagian pengusaha dan pelaku bisnis umumnya, pengelolaan bisnis cara kopi klotok tidaklah “rasional”. Di zaman yang lebih mengedepankan perilaku rasional, semuanya didasarkan pada pertimbangan keuntungan finansial, yang dihitung dari kalkulasi untung dan rugi.

Namun, kopi klotok membuktikan bahwa berbisnis tidak selalu rasional bagi akal manusia yang segala sesuatu ditakar dalam perhitungan keuntungan finansial semata. Model bisnis cara kopi klotok telah melampaui perhitungan rasional. Setiap harinya, pelanggan ramai bertamu di kopi klotok. Jumlah pelanggan meningkat hampir lima kali lipat pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur. Hari di mana orang-orang kota sejenak ingin keluar dari rasionalitas bisnis untung-rugi. Orang-orang kota ingin merasakan dan kembali pada fitrah manusia: ketulusan, pelayanan, berbagi, dan keberkahan, dengan menikmati segelas kopi dan pisang goreng di rumah kopi klotok.

Kita merindukan ekonomi keberkahan dengan mengelola bisnis yang membeikan keberkahan bagi pelanggan, pekerja, pemasok, dan masyarakat sekitar.

Keberkahan bagi pelanggan, karena merasakan kepuasan dan kabahagiaan ketika bertamu ke rumah kopi klotok. Keberkahan bagi pekerjanya, karena semua pekerja merasa “handarbeni” dan melayani dengan tulus setiap pelanggan yang bertamu. Keberkahan bagi pemasok sayur, beras, telur, lombok ijo, dan lain-lain yang umumnya petani dan pedagang di pedesaan. Keberkahan bagi tukang parkir, dan keberkahan bagi semesta.

Dari usaha kopi klotok, pertumbuhan ekonomi pedesaan pun tumbuh dan menyejahterakan pekerja, pemilik, pemasok, masyarakat sekitar, dan ekosistemnya. Buah dari keberkahan.

Jogjakarta, 7 April 2018
Untuk Ismail Fahmi, Jerri Irgo, dan pelanggan kopi klotok.

#2019GantiPresiden vs #Jokowi2 Periode dalam Perspektif Drone Emprit

Ismail Fahmi, Ph.D – Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia / Founder Media Kernels Indonesia
– – – – – –

#2019GantiPresiden vs #Jokowi2 Periode dalam Perspektif Drone Emprit

Lagi ramai dibahas soal kaos dan dua hashtag pada judul di atas. Ada yang bilang kalau hashtag #2019GantiPresiden merupakan anti tesis dari hashtag #Jokowi2Periode yang sudah terlebih dahulu dipromosikan. Opini lain bilang kalau #2019GantiPresiden hanyalah gerakan dari segelintir orang, emosional, dan tidak jelas maunya apa karena tidak dijelaskan siapa penggantinya.

Dan yang paling epic adalah komentar dari presiden sendiri tentang kaos #2019GantiPresiden, yang mempertanyakan apakah kaos bisa mengganti presiden 🙂

Allright, bagaimana Drone Emprit memandang tik-tak kedua hashtag ini?

DATA

Drone Emprit menggunakan kedua hashtags, #2019GantiPresiden dan #Jokowi2Periode. Data didapat sejak 1 April hingga sekarang. Selama periode ini, didapat 110 ribu mention di Twitter tentang hashtag #2019GantiPresiden, dan hanya 18 ribu mention untuk #Jokowi2Periode.

JOKOWI TOP PROMOTER #2019GantiPresiden

Dari tren volume percakapan, kita lihat pada tanggal 8 April, total mention harian hashtag ini meningkat sangat pesat sekitar 300%. Sebelumnya maksimal 7 ribu per hari, menjadi 37 ribu pada tanggal ini. Siapa top promoter dari kenaikan ini?

Dari grafik trend, kita bisa telusuri percakapan di media online. Pada tanggal 7 April, sehari sebelumnya, diberitakan bahwa Presiden Jokowi menyindir hashtag #2019GantiPresiden: “Masa kaus bisa ganti presiden?” Dan butuh kira2 setengah hari untuk mendapatkan response masif dari warganet. Pada hari berikutnya, hashtag ini mencapai puncak popularitasnya.

HASHTAG #Jokowi2Periode BELUM DIGENJOT?

Agak jauh sebelum hashtag #2019GantiPresiden, wacana yang banyak berkembang adalah: tidak ada calon presiden lain yang mumpuni, hanya Jokowi yang sanggup. Sehingga, berbagai survey dan wacana yang dibangun adalah tentang “siapa calon wapres” yang pantas. Bersamaan dengan itu, wacana #Jokowi2Periode yang paling dominan berkembang.

Namun, dalam periode monitoring Drone Emprit, volume percakapan #Jokowi2Periode sepertinya kurang atau belum digenjot oleh para promotornya. Hashtag lain seperti #T3tapJokowi juga tidak terlalu ramai. Para promotor yang biasanya muncul dalam cluster pro pemerintah tidak muncul di sini.

Dibandingkan dengan volume percakapan untuk #2019GantiPresiden, bedanya jauh sekali. Apakah kerena belum digenjot dan ada narasi lain yang sedang digarap? Mungkin saja. Suatu saat nanti akan naik tinggi dengan dukungan penuh.

SNA: SIAPA PENDUKUNG #2019GantiPresiden?

Apakah benar hashtag ini hanya kerjaan segelintir orang? Kita lihat peta SNA yang ditampilkan Drone Emprit untuk hashtag ini. Dari peta ini kita lihat, hanya ada satu cluster yang sangat besar, dan sangat keciiil cluster yang kontra.

Cluster besar dan dominan itu berisi para promotor lengkap alias full team yang selama ini muncul dalam cluster MCA. Twit-twit mereka diretweet oleh sesama mereka, juga oleh follower yang kebanyakan polanya seperti akun asli, bukan robot. Hal ini bisa dilihat dalam profile relasi opinion leader dalam grafik SNA.

Selain artikel dari Kumparan dan Detik.com, cluster tersebut juga banyak menyebarkan artikel dari portal bikinan sendiri seperti portal islam. Isinya berupa berita tentang pidato Jokowi, response terhadap pidato itu, juga bagaimana kaos dengan hashtag ini banyak dibuat dan diperjualbelikan di portal ecommerce.

Dalam cluster ini, politikus PKS Mardani Ali Sera mengajak bikin gerakan #2019GantiPresiden pada 5 April. Dia ajak agar netizen fokus pada topik ini. Di sisi lain, presiden PKS Sohibul Iman mencoba melunakkan hashtag ini dengan argumen realistis bahwa saat ini belum ada paslon alternatif dan petahana masih sangat kuat.

Khumaini membantah bahwa gerakan ini tidak didukung oleh rakyat. Dia tunjukkan bukti sebuah lapak yang menjual kaos ini sedang ramai diserbu oleh pembeli. Mereka rela merogoh kocek, dan bukan sekedar menerima kaos drop-dropan dari pusat.

Cluster yang kontra hashtag ini sangat kecil. Hanya ada beberapa opinion leader di sana. Rustamibrahim mengritik hashtag #2019GantiPresiden ini, dan sebaliknya menyerang PKS dengan #2019GantiPKS. Namun ajakan dia bagi yang setuju dengan gagasan ini kurang mendapat banyak retweet (hanya 536), dibandingkan twit Mustafa Nahra yang mendapat 1898 retweet untuk sindiran ke aparat bahwa admin group WA #2019GantiPresiden akan ditangkap seperti halnya kasus Saracen dan MCA.

SNA: SIAPA PENDUKUNG #Jokowi2Periode?

Sekarang kita lihat SNA untuk percakapan #Jokowi2Periode. Dengan jumlah percakapan yang relatif lebih sedikit, kita lihat ada 2 cluster. Cluster yang kontra cukup aktif retweetnya, meski opinion leadernya tdak sebanyak dalam percakapan tentang #2019GantiPresiden. Cluster yang pro opinion leadernya tak terlalu terkenal, dan mereka yang biasanya aktif dalam cluster pemerintah tak muncul di sini.

Satu yang muncul yaitu @PartaiSocmed. Akun ini unik. Dia cenderung dalam cluster pro pemerintah. Namun dalam peta SNA, dia berada di antara kedua cluster. Artinya, twitnya ternyata juga diretweet oleh netizen yang berada dalam cluster kontra.

Mengapa demikian? Ternyata twitnya yang mengandung hashtag #Jokowi2Periode berisi kritikan kepada para pendukung Jokowi. Dia bilang, mainan hestek ini sampai berbusa-busa tidak akan berdampak jika di lapangan premium masih langka. Dia sadar, tak semua pemilih Jokowi main sosmed. Ini adalah self-critics yang membangun, dan diaminkan oleh mereka yang kontra.

Apakah karena ini juga hashtag #Jokowi2Periode tidak terlalu ramai, karena mereka sadar itu ndak akan terdengar sampai di telinga para pemiliih Jokowi?

PERANG HASHTAG

Dalam peta hashtag yang dibandingkan antara kedua data, kita temukan hal menarik. Untuk percakapan tentang #Jokowi2Periode, hashtag berikutnya yang paling populer adalah #2019GantiPresiden, yaitu anti-tesisnya sendiri. Sedangkan untuk percakapan tentang #2019GantiPresiden, hashtag berikutnya yang paling populer adalah #2019PresidenBaru; baru yang ketiga adalah #Jokowi2Periode.

Dalam perang hashtag ini, tampaknya pendukung #2019GantiPresiden sangat menguasai percakapan dalam media sosial.

CLOSING

Kita sudah lihat bagaiman perang hashtag dan kaos ini. Jika ini adalah gambaran dari tensi politik menjelang pilpres, semoga ini menjadi jalur penyaluran yang positif dan kreatif. Dari pada perang narasi topiknya tajam dan sensitif, perang melalui hashtag dan kaos saya rasa lebih ringan mudharatnya.

Bahkan saya lihat ada sisi positifnya. Masing-masing mengeluarkan kreatifitas dalam membuat kaos, desain, dll. Penyampaikan aspirasi dan kritik akhirnya tidak berupa turun ke jalan. Tetapi melalui produk seni yang kreatif. Para desainer dan pendagang kaos juga mendapat manfaat ekonomi yang lumayan. Itu pandangan Drone Emprit dari sisi kreatifitas dan ekonomi.

Dari sisi demokrasi, saya lihat gerakan gagasan melalui hashtag #2019GantiPresiden ini memiliki makna positif bagi proses demokrasi. Sangat tidak lucu jika pilpres hanya ada satu calon dan satu kotak kosong. Seolah bangsa ini begitu ekonomis dalam hal kepemimpinan nasional dan gagasan dalam membangun bangsa. Tidak ada tokoh lain yang pantas untuk diajukan.

Pernah dalam sebuah masa ketika pemilihan ketua IA ITB, ada seorang anak muda yang belum banyak relasi dan pengalamannya dibanding alumni lain, dia nekat mencalonkan diri. Meski tahu tak akan terpilih, dia tetap maju. Keberanian patut diacungi jempol, karena itu memperlihatkan bahwa banyak potensi dari alumni, bukan hanya satu, meski masih muda.

Saya lihat gerakan ini arahnya ke sana. Untuk menyakinkan bangsa bahwa kita ini bangsa besar, yang punya stok calon pemimpin. Meski sekarang belum kelihatan, namun narasi dan gagasan ini akan membangun keyakinan pada calon-calon tersebut, juga pada rakyat bahwa kita tidak ekonomis dalam intelektualitas, leadership, managemen, dan keberanian.

Masak ndak ada yang berani, dan kalah sama anak muda ITB itu?

= = kita tunggu tulisan Dr Zaroni, terkait #2019GantiPresiden vs #Jokowi2 Periode dalam Perspektif Logistics & Supply Chain