Urban Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta – Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) 2018-2023

– – –

Dunia mengalami peningkatan urbanisasi. Lebih dari separuh penduduk dunia kini tinggal di perkotaan. Tren ini semakin meningkat dalam beberapa dekade ke depan. Pada tahun 2050 diprediksi dua pertiga penduduk dunia tinggal di kota. Pada tahun 2020 diperkirakan kota dengan penduduk lebih dari 5 juta meningkat dari 50 kota menjadi 70 kota.

Sebagian besar kota-kota dengan penduduk lebih 5 juta tersebut berada di negara-negara Asia dan Afrika. Banyak pemicu yang menyebabkan terjadinya peningkatan penduduk di kota, antara lain pertumbuhan ekonomi, peningkatan kegiatan dan produksi di sektor industri, jasa, dan perdagangan baik domestik maupun internasional. Selain itu, faktor penting lainnya sebagai pemicu peningkatan penduduk kota adalah kemajuan internet yang mendorong pertumbuhan e-commerce.

Warga kota memerlukan berbagai infrastruktur untuk mendukung kehidupannya sesuai perkembangan sosial, gaya hidup, tren teknologi, dan lingkungan. Transportasi massal disediakan untuk mobilisasi warga kota dari rumah ke tempat kerja, sekolah, toko, pasar, pabrik, tempat rekreasi, dan lain-lain.

Penyediaan transportasi massal dalam bentuk kereta dan bis memerlukan pembangunan infrastruktur seperti terminal, stasiun, dan jalur kereta bawah tanah (subway). Di beberapa kota besar di negara-negara maju, sistem dan infrastruktur transportasi massal sudah berjalan dengan andal dan efektif sehingga dapat memenuhi kebutuhan mobilitas warga kotanya tanpa menimbulkan kemacetan di jalan raya.

Namun di banyak kota di negara-negara sedang berkembang misalnya, sistem dan infrastruktur transportasi massal ini masih belum memadai, sehingga belum memenuhi dan menjadi pilihan warga kota untuk menggunakan transportasi massal. Akibatnya, kemacetan terjadi karena warga kota memilih menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil pribadi untuk kebutuhan transportasi.

Selain transportasi orang, untuk mendukung kehidupan warga kota memerlukan logistik yang dapat menyediakan barang-barang, utamanya barang kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, dan pakaian. Dengan jumlah penduduk yang banyak, antara 2 sampai 5 juta, setiap harinya perlu disediakan makanan dan minuman dalam jumlah yang besar.

Warga kota mendapatkan makanan dan minuman di toko ritel modern, warung, dan pasar tradisional yang terdekat dengan mereka, baik di lokasi perumahan, perkantoran, sekolah, kampus, pabrik, dan lain-lain.

Barang-barang, produk, dan komoditi didatangkan dari berbagai wilayah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga kota. Komoditi hasil pertanian seperti beras, jagung, kedelai, dan sayuran didatangkan dari pedesaan. Komoditi perikanan dipasok dari daerah pesisir. Produk- produk hasil industri dikirim dari kawasan industri yang biasanya berada di pinggiran kota.

Selain kebutuhan transportasi orang, di kota memerlukan transportasi barang. Di kota setiap hari selama 24 jam dan 7 hari dalam seminggu terjadi kesibukan pengiriman barang dan bongkar muat barang dari truk untuk didistribusikan ke toko ritel, pasar raya, warung, pasar tradisional, dan mal. Kegiatan transportasi dan bongkar muat barang untuk memenuhi penyediaan barang-barang, produk, dan komoditi di kota dikenal dengan logistik perkotaan (urban logistics atau city logistics).

Pergeseran gaya hidup warga kota dalam berbelanja dari belanja konvensional ke belanja melalui e-commerce semakin meningkat. Belanja melaui e-commerce memberikan banyak kemudahan dan kepraktisan. Pilihan produk beragam yang disediakan oleh merchant di beberapa marketplace.

Pertumbuhan transaksi e-commerce B2C (Business-to-Consumer) dan C2C (Consumer-to- Consumer) yang pesat dan penggunaan mobile commerce memerlukan layanan logistik – sering dikenal dengan e-commerce logistics, utamanya layanan fulfillment dan last-mile delivery. Tak ayal lagi, kebutuhan e-commerce logistics untuk transaksi e-commerce konsumen di perkotaan memerlukan pengelolaan urban logistics yang efektif.

Data dari UN menyebutkan bahwa selama tahun 2016 tidak kurang dari 55% transaksi e- commerce berasal dari warga kota, sementara 46% berasal dari warga pedesaan. Persentase ini diprediksi akan meningkat pada tahun 2030, dari transaksi e-commerce total, 60%-nya berasal dari warga kota. Sisanya 40% berasal dari warga pedesaan.

Peningkatan belanja e-commerce ini memerlukan layanan urban logistics yang cepat, fleksibel, informatif, dan efisien. Di suatu kota, saat ini urban logistics terutama diperlukan untuk menyediakan solusi logistik ritel dan logistik e-commerce.

Logistik Ritel

Logistik ritel untuk mengelola penyediaan barang dan bahan pokok kebutuhan warga kota di setiap toko ritel. Pengelolaan logistik ritel ini mencakup transportasi, pergudangan, dan distribusi.

Umumnya sasaran logistik ritel ini adalah memenuhi permintaan pengisian barang di toko ritel dengan 7 kriteria tepat: jenis barang, kuantitas, kualitas, lokasi, penerima, waktu, dan biaya.

Barang, bahan pokok, material, dan produk diangkut dari pemasok ke gudang. Gudang ini bisa berupa distribution center yang berfungsi sebagai fulfillment center untuk memenuhi permintaan pengiriman barang ke toko-toko ritel. Selanjutnya dari fulfillment center, barang didistribusikan ke toko-toko ritel.

Dalam konteks desain urban logistics, jumlah dan lokasi toko ritel perlu direncanakan dengan mempertimbangkan keterjangkauan konsumen dan accessibility kendaraan pengiriman barang. Perencanaan logistik ritel untuk urban logistics meliputi:

  1. Penentuan gudang fulfillment. Fungsi gudang fulfillment untuk penerimaan barang- barang produk ritel dari pemasok, penempatan barang di rak-rak gudang, penyimpanan, picking sesuai order pemenuhan (replenishment), pengepakan, penyiapan pengiriman barang, dan pemuatan barang ke truck untuk pendistribusian barang ke toko-toko pengecer. Perencanaan gudang fulfillment mencakup: berapa banyak gudang fulfillment, jenis gudang apakah gudang umum atau gudang khusus, kapasitas gudang, dan lokasi gudang. Beberapa perusahaan ritel modern mengelola gudang fulfillment sendiri, namun banyak diantara mereka menyerahkan pengelolaan gudang fulfillment ini ke perusahaan penyedia jasa logistik (third-party logistics). Perusahaan 3rd party logistics yang mengelola gudang fulfillment untuk logistik ritel misalnya Pos Logistik yang mengelola pergudangan dan distribusi produk-produk ritel ke toko-toko ritel LEU Mart, dan Wira Logistik yang memberikan layanan logistik ritel Matahari. Pengelolaan gudang fulfillment saat ini menggunakan teknologi dan otomatisasi peralatan pemindahan barang (material handling equipment) baik handling system yang berbasis palletized dan non-palletized. Penentuan lokasi gudang fulfillment dalam logistik ritel untuk urban logistics sebaiknya di kawasan pergudangan yang berada di luar kota (suburban). Truck-truck yang digunakan untuk transportasi barang ritel dari pemasok ke gudang fulfillment umumnya menggunakan truck kapasitas besar, sehingga seringkali ada pembatasan akses truck untuk jalan di perkotaan. Oleh karena itu, lokasi gudang fulfillment di luar kota akan memudahkan akses truck untuk pengiriman barang ke gudang fulfillment.
  2. Pemilihan moda atau jenis dan kapasitas kendaraan. Transportasi dalam logistik ritel meliputi transportasi produk-produk ritel dari pemasok ke gudang fulfillment. Umumnya pengelolaan transportasi ini dikelola oleh pemasok bekerjasama dengan perusahaan transporter atau 3rd party logistics. Perbaikan sistem transportasi untuk logistik ritel ini utamanya efisiensi penggunaan truck dengan mengoptimalkan kapasitas truck. Upaya ini dicapai dengan melakukan penggabungan atau konsolidasi pengiriman untuk mendapatkan efisiensi biaya transportasi per unit (ton per kilometer). Selain itu, konsolidasi pengiriman dimaksudkan untuk mengurangi jumlah truck yang digunakan, sehingga mengurangi tingkat kemacetan dan polusi udara. Dengan demikian, sasaran perbaikan sistem transportasi untuk logistik ritel ini adalah penurunan biaya transportasi, mengurangi kemacetan di jalan raya, dan mengurangi pencemaran udara.
  3. Pengaturan rute dan jadwal keberangkatan kendaraan. Jalur mana yang akan ditempuh truck dan kapan jadwal keberangkatan dan kedatangan truck perlu dirancang dengan baik. Beberapa model yang diajarkan dalam Operation Research dapat digunakan untuk mensolusikan rute atau jalur transportasi dari pemasok ke gudang fulfillment dengan rute terpendek dan waktu tempuh tercepat. Dalam konteks urban logistics, pembatasan jalur dan jam-jam akses truck perlu dilakukan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di perkotaan.
  4. Lokasi bongkar muat barang. Di lokasi mana sebaiknya bongkar muat barang dilakukan perlu menjadi perhatian perancang logistik ritel dalam konteks urban logistics. Kita menjumpai banyak kegiatan bongkar muat barang ritel dilakukan di lokasi-lokasi yang menyebabkan kemacetan. Tidak ada pengaturan waktu dan lokasi bongkar muat barang. Akibatnya, kegiatan bongkar muat logistik ritel ini menyumbang tingkat kemacetan di beberapa titik di kawasan perkotaan.

Logistik E-Commerce

Logistik e-commerce termasuk dalam logistik ritel. Produk-produk yang diperdagangkan dalam e-commerce umumnya produk-produk ritel, produk yang digunakan consumer akhir.

Dalam beberapa tahun terakhir, e-commerce menjadi kontributor perkembangan urban logistics, khususnya layanan city courier atau parcel delivery. Peningkatan transaksi perdagangan e-commerce memerlukan solusi last-mile delivery – pengiriman barang ke penerima akhir.

Belanja melalui e-commerce telah menjadi bagian dari gaya hidup warga perkotaan. Menariknya, bila dicermati dari kategori usia, umumnya generasi milenial paling banyak menggunakan e-commerce dalam belanja kebutuhan mereka seperti fashion, gadget, buku, dan produk-produk accessoris lainnya.

Model operasi logistik e-commerce melibatkan serangkaian aktivitas transportasi, fulfillment, dan delivery. Transportasi produk-produk e-commerce dari pemasok ke gudang fulfillment. Beberapa produk-produk e-commerce dikirim dari luar negeri (cross-border) yang memerlukan layanan pengurusan kepabeanan (customs clearance).Produk yang diterima di gudang fulfillment, selanjutnya ditempatkan di rak-rak gudang, disimpan, dan dilakukan picking untuk dilakukan pengantaran ke penerima.

Peningkatan transaksi e-commerce memerlukan ruang, gudang, dan kendaraan untuk aktivitas urban logistics. Penelitian tentang urban logistics yang dipublikasikan oleh Cushman & Wakefield (2017) menyebutkan bahwa kebutuhan jumlah kendaraan (van) dan ruang (space) untuk bongkar muat dapat ditentukan dengan model perhitungan sebagai berikut:

  1. Pertama, menghitung Volume parcel per kota:
    Jumlah eShopper X Transaksi per eShopper X Rata-rata parcel per transaksi
  2. Selanjutnya, kita dapat menghitung berapa banyak van yang diperlukan untuk pengantaran parcel:
    Volume parcel per kota X Rata-rata loading per van
  3. Akhirnya, kita bisa menghitung kebutuhan space yang diperlukan:
    Jumlah van yang diperlukan X Rasio van

Setelah kebutuhan space untuk urban logistics diketahui, keputusan berikutnya adalah menentukan tingkat pelayanan (service level) berapa jam proses penanganan order sampai paket diterima penerima. Dalam terminologi logistics, hal ini disebut lead time, yaitu waktu yang diperlukan sejak sampai produk diterima.

Evolusi Pengantaran

Saat ini lead time untuk transaksi e-commerce semakin pendek. Pelanggan semakin menuntut proses pengiriman barang semakin cepat. Sejak pelanggan melakukan order pembelian sampai penerimaan barang, mereka mengingkat waktu yang sesingkat-singkatnya. Kalau dulu lead time ini hitungannya hari, sekarang pelanggan mengingkan hitungan jam. Banyak pelanggan saat ini menginginkan penerimaan barang pada hari yang sama (same-day delivery)

Studi yang dilakukan McKinsey (Maret, 2014) dengan publikasi yang diberi judul “Same-day delivery: The next evolutionary step in parcel logistics” menjelaskan evolusi pengantaran parcel dalam model B2C:

Kebutuhan layanan same-day delivery semakin meningkat, terutama untuk transaksi belanja produk-produk yang dijual di convenience store yang semakin banyak melalui e-Commerce atau e-Shopping.

Survei McKinsey (2014) mengenai fitur yang paling diperlukan pelanggan dalam e-Commerce, menyajikan temuan sebagai berikut:

  • Kecepatan, misalnya same-day delivery, 28%
  • Harga, 28%
  • Alternatif tujuan delivery, misalnya pengantaran di alamat kantor, rumah, atau locker, 15%
  • Fleksibilitas waktu pengantaran, misalnya pengantaran dilakukan pada malam hari ketika penerima sudah di rumah setelah pulang dari kantor, 11%
  • Lain-lain, 18%.

Fitur kecepatan, harga, dan alternatif tujuan delivery menjadi preferensi konsumen dalam memilih layanan last-mile delivery untuk belanja melalui e-Commerce.

Bagaimana penyedia jasa logistik memenuhi permintaan pelanggan dengan lead time delivery dalam waktu 12 jam, sejak dari order pembelian sampai barang-barang belanjaan diterima di depan pintu rumah mereka, merupakan tantangan tersendiri. Karenanya, penyedia jasa urban logistics perlu merancang sistem operasi yang memungkinkan dapat memenuhi lead time 12 jam.

Saat ini penyedia jasa logistik/kurir di kota-kota Indonesia tidak banyak yang menyediakan layanan same-day delivery, bahkan dengan skala volume yang relatif masih sedikit dan

pengantaran dalam kota (intracity). Beberapa penyedia jasa logistik yang dapat memberikan layanan same-day delivery masih mengelola proses operasinya secara khusus dengan kapasitas volume delivery yang sangat terbatas.

Ketika volume parcel yang diantar dalam jumlah besar tentu pemenuhan lead time 12 jam dengan pengantaran pada hari yang sama tidak bisa dilakukan. Alternatif solusi dan perbaikan pola operasi perlu dilakukan untuk menjamin same-day delivery.

  1. Penyedia jasa logistik atau kurir dapat memanfaatkan crowded-delivery seperti Uber, Go-Jek, Grab, dan logistics market place lainnya berdasarkan on-demand. Di era sharing economy dan disrupsi teknologi, crowded-delivery mampu memberikan solusi pengantaran same-day. Pengelola e-commerce logistics bekerjasama dengan beberapa operator crowded-delivery untuk melakukan pick-up parcel di fulfillment center atau merchant sesuai order pembelian dari market place, untuk selanjutnya dilakukan pengantaran ke penerima.  Penerimaan order pembelian melalui market place diproses oleh sistem aplikasi e- commerce, untuk selanjutnya perintah penyiapan pengantaran ke penyedia jasa logistik e-commerce. Produk pesanan di-picking sesuai order, packing, sortir, dan pengaturan rute dan skedul pengantaran. Konsolidasi kiriman parcel tetap dilakukan untuk mengoptimalkan kapasitas pengantaran. Sortir kiriman parcel dilakukan sesuai rute dan skedul pengantaran agar memenuhi lead time 12 jam.Kelebihan pemanfaatan crowded-delivery adalah semua biaya pengantaran dapat dikonversi secara variabel, tidak perlu investasi yang cukup besar baik investasi kendaraan maupun rekruitmen pengantar. Namun demikian, kapasitas crowded- delivery masih terbatas. Diperlukan pola kemitraan yang stratejik antara operator logistik e-commerce dengan pengelola crowded-delivery untuk memastikan keandalan pencapaian lead-time 12 jam dengan volume pengantaran parcel yang sangat besar.
  2. Mengelola sendiri pengantaran same-day. Bila same-day delivery dikelola sendiri, operator logistik perlu merancang desain dan pola operasi yang menjamin lead time 12 jam, sejak proses order pembelian sampai pengantaran parcel ke penerima. Desain operasi perusahaan penyedia jasa logistik/pos yang menyediakan layanan same-day delivery sebagai berikut:
  • Menentukan jumlah dan lokasi distribution center di lokasi dengan radius tertentu untuk memastikan dapat melakukan pick-up ke outlet merchant dengan jangkauan waktu sesuai lead time.
  • Melakukan cross-docking dan konsolidasi pengantaran di distribution center, sesuai lokasi titik antaran.
  • Melakukan pengantaran ke penerima.
  • Pengaturan jam order pembelian perlu dilakukan, misalnya DHL menerapkan jadwal order pembelian belanja melalui e-commerce pada jam 06.00 sampai jam 08.00 dan jam 08.00 sampai jam 10.00 dapat dilakukan pengantaran same-day.

Pilihan Moda Pengantaran

Beberapa moda pengantaran parcel dalam urban logistics dapat dipilih sesuai dengan service level dan karakteristik wilayah kota masing-masing.

  1. Kendaraan van. Penggunaan kendaraan van lazim digunakan oleh perusahaan penyedia jasa logistik/pos untuk pengantaran parcel di wilayah perkotaan. Kendaraan van dapat menampung sejumlah parcel sesuai dengan kapasitas kendaraannya. Kelebihan penggunaan van untuk pengantaran parcel mampu membawa parcel dalam jumlah cukup banyak untuk diantar penerima secara multi-drop. Namun demikian, tingkat kemacetan di beberapa kota, khususnya di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Yogyakarta, dan lain-lain, penggunaan kendaraan van untuk pengantaran dalam kota tidak dapat memberikan kepastian sesuai lead time yang distandarkan, khususnya untuk pengantaran same-day. Selain itu, polusi udara yang ditimbulkan dari kendaraan van dan penggunaan bahan bakar menjadi isu go green.
  2. Sepeda motor. Kemudahan akses pengantaran dan kecepatan dengan menggunakan sepeda motor menjadi pertimbangan dalam pengantaran parcel di perkotaan, meskipun kapasitas jumlah parcel yang dapat diantar terbatas.
  3. Sepeda. Beberapa penyedia jasa logistik/pos saat ini menggunakan kembali sepeda untuk pengantaran parcel di wilayah perkotaan. Bila zaman dulu Pak Pos identik dengan sepeda untuk pengantaran surat, paket, dan wesel, saat ini penggunaan sepeda untuk pengantaran parcel di wilayan perkotaan kembali diterapkan. Umumnya kemudahan akses pengantaran dan go green menjadi pertimbangan dalam penggunaan sepeda untuk pengantaran.
  4. Drone. Pengantaran dengan “pesawat tanpa awak” atau yang dikenal dengan “drone” mulai popular digunakan oleh beberapa perusahaan seperti Amazon dan DHL. Penggunaan drone merupakan lompatan dari konvergensi teknologi internet, satelit, geografi spasial, dan pesawat untuk pengantaran parcel di wiayah perkotaan tanpa awak dengan tingkat keakuratan sangat tinggi dan dapat menjangkau ke titik lokasi pengantaran secara luas. Teknologi drone dan regulasi implementasinya masih terus disempurnakan.
  5. Autonomous ground vehicles (AGVs) Di kota-kota negara maju seperti Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Singapura, dan Cina mulai dikenalkan penggunaan AGV untuk pengantaran parcel dengan locker tanpa perlu intervensi manusia. Semuanya dilakukan secara otomatis. Cara kerja AGV seperti ini, penerima diberikan notifikasi kapan jadwal pengantaran dilakukan. Penempatan parcel di kendaraan AGV menggunakan locker. Begitu AGV tiba di lokasi penerima, penerima mengambil parcel sesuai kode locker di AGV tersebut. AGV merupakan penerapan teknologi kendaraan tanpa sopir yang saat ini mulai digunakan di beberapa negara.

***
Dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi pergeseran konsentrasi penduduk dan pusat ekonomi dari kawasan pedesaan ke kawasan kota. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi kawasan perkotaan mengalami peningkatan. Peningkatan pertumbuhan ekonomi perkotaan memerlukan keandalan pasokan barang dan komoditas untuk memenuhi kebutuhan sektor industri dan sektor rumah tangga. Jenis barang dan komoditas ini sangat beragam, mulai dari komoditas pangan, produk-produk kesehatan, barang industri, bahan bangunan, dan lain sebagainya.

Kondisi ini menyebabkan aktivitas logistik perkotaan semakin meningkat. Peningkatan aktivitas logistik perkotaan melibatkan peningkatan arus transportasi barang, penyediaan gudang untuk distribution center dan fulfillment center, dan last-mile delivery.

Pertumbuhan ekonomi perkotaan yang semakin meningkat, perlu solusi logistik perkotaan yang efisien dan ramah terhadap lingkungan. Implementasi kebijakan kawasan logistik perkotaan sebagai gudang pusat konsolidasi dengan prinsip cross-docking, dan penggunaan perusahaan penyedia jasa logistik untuk melayani pengelolaan pergudangan, pengelolaan pengiriman barang-barang dari pemasok, dan distribusi barang-barang ke pengecer atau konsumen, merupakan beberapa cara praktik-praktik terbaik untuk mencapai efisiensi logistik perkotaan.

Bandung, Jln. Riau, 12 Maret 2018

 

Referensi

Cushman & Wakefield, Urban Logistics. 2017
Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ), Urban Freight and Logistics: The State of Practices in India, 2016
McKinsey, Parcel Delivery The Future of Last Mile. Transport and Logistics, September 2016.
McKinsey, Same-Day Delivery The Next Evolutionary Step in Parcel Logistics. Transport and Logistics, March 2014.