Bagaimana (WiFi) Internet di UII bisa mencapai 200-an Mbps

Dr. Andri Setiawan, Pengajar pada Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia
– – –

 

Setiap kali saya menceritakan kalau kecepatan internet menggunakan WiFi di UII bisa mencapai 200an Mbps, sering kali ada wajah-wajah tidak percaya. Kok bisa? Sampai kemudian saya mendemokan speedtest di depan mereka (ketika berkunjung ke UII), dan malah membikin “jaw dropping” banyak orang, kalau orang Jawa bilang, bikin ngowoh hehe.

Pernah pada suatu ketika ada tamu dari salah satu universitas negeri di Jakarta berkunjung ke UII, kebetulan kami mendemokan beberapa sistem, dan browsing beberapa website, pertanyaan yang muncul berikutnya,”Kok membuka website di sini bisa cepat ya? Kok di tempat kami lambat ya?”. Yang lebih mengherankan, ketika saya tanya, berapa kapasitas bandwidth yang mereka miliki, ternyata jawabnya adalah sekitar dua kali lipat yang dimiliki oleh UII. Jadi, mengapa di UII bisa mendapatkan kecepatan sampai secepat ini, dan di kampus lain tidak?

Speedtest WiFi di kampus UII dengan menggunakan Mi 6 yang support 802.11ac

Dua tahun lalu (2016), sebenarnya di UII nasibnya tidak jauh berbeda dengan kebanyakan kampus di Indonesia pada umumnya. Kalau dicek di Twitter atau media sosial lain, tidak jarang mahasiswa UII mengeluh, macam “Ini internet kok kayak keong !!! lambat, dlsb”. Segala macam sumpah serapah, rasa frustrasi, dan berbagai macam hal sejenis seperti menjadi sebuah rutinitas. Terkoneksi wifi, tapi tidak bisa membuka website, dan kadang lebih parah, untuk sekedar memasukkan login saja, halaman login tidak muncul. Padahal UII sebenarnya saat itu sudah berlangganan hingga 400Mbps, tapi konsumsi se kampus paling banyak sebesar 150Mbps. Sounds familiar? Ya karena memang begitulah kebanyakan koneksi di kampus-kampus Indonesia.

Perubahan signifikan mulai terjadi pada pertengahan 2016. Yang tadinya kecepatan internet berkisar 1Mbps per pengguna, mulai beranjak naik secara bertahap, dari 2Mbps hingga pada akhirnya sekarang bisa lebih dari 200Mbps per pengguna. Kembali ke pertanyaan awal, mengapa bisa naik begitu cepat dalam jangka waktu tidak terlalu lama?

Jawaban pertama adalah filosofi atau value yang hendak kami capai. Internet, saat ini sudah seperti di hukum Maslow tentang kebutuhan dasar manusia, sandang, papan, dan pangan. Dia menjadi kebutuhan mendasar setiap stakeholder di UII, terutama MAHASISWA. Di sini perlu saya highlight kata kuncinya, MAHASISWA. Perubahan internet harus dirasakan pertama kali oleh mahasiswa, bukan dosen, dan bukan pula staf. Seringkali pihak kampus di banyak tempat melihat mahasiswa menempati prioritas terakhir, dosen beralasan mereka butuh kerja yang baik, sehingga wajar dapat prioritas tinggi di koneksi, sementara mahasiswa tidak. Padahal jumlah mahasiswa pasti lebih banyak daripada dosen, sehingga prioritas seharusnya ada di mereka. Dari sinilah kemudian perubahan mulai terjadi.

Kampus kami adalah kampus swasta, uang berasal dari mahasiswa, dan setiap semester mereka harus membayar biaya IT. Biaya inilah yang HARUS kami kembalikan ke mahasiswa, agar mereka mendapatkan balik fasilitas atas apa yang mereka bayarkan.

Perencanaan kemudian kami lakukan agar kami bisa mendapatkan yang terbaik. Maka langkah kedua yang dilakukan adalah, think like enterprise. Kampus sering mengira mereka bukanlah enterprise, padahal kampus adalah lebih enterprise daripada enterprise. Sehingga, seringkali perencanaan masih dibuat ala kadarnya. Pengelola IT kampus masih melihat koneksi WiFi seperti membangun hotspot warnet atau cafe. Padahal user base kampus berjumlah ribuan, bahkan puluhan ribu, bukan di angka puluhan saja. Ketika kemudian cara berfikir enterprise ini hadir, maka seluruh pendekatan pun akan berbeda.

Konsekuensi berfikir enterprise apa? Tentu di antaranya akan muncul angka-angka modal yang sedikit fantastis. Tapi, tentu melihatnya jangan melihat angka di awal. Melihatnya dengan cari membagi angka enterprise tadi dengan jumlah mahasiswa. Insya Allah harga akan menjadi murah. Implikasi teknis di lapangan seperti apa?

Ibarat sebuah tubuh, untuk menjamin lancarnya aliran darah, maka kolesterol-kolesterol pengganggu harus dibereskan. Begitu pula dengan network. Di UII, dilakukan perubahan besar-besaran (recabling WiFi), sampai titik terakhir. Kami menggunakan kabel jaringan Cat6A untuk menjamin kualitas link dan future proof. Begitu pula perangkat switch yang kami pilih adalah kelas enterprise. Kembali di sini, kampus harus sadar diri, kelas enterprise jangan memakai perangkat kelas SMB (small medium business).

Access Point (AP). Ini adalah hal terpenting kedua. Satu, dia harus berkelas enterprise, bisa dijejali hingga ratusan user, dan kapasitas alat per buah harus > 1 Gbps. Harga tentu saja akan menyesuaikan, tidak ada lagi AP di UII seharga satu juta per buah. Yang jelas, hasil berbicara 😀

Single SSID multiple VLAN. Di UII, kami hanya membroadcast beberapa sinyal SSID, baik dosen maupun mahasiswa akan terhubung ke SSID yang sama, akanb tetapi mereka akan mendapatkan VLAN berbeda-beda. Tidak ada lagi WiFi fakultas X, Wifi fakultas Y, dst. Yang ada adalah UIIConnect, eduroam dan UIIGuest. User internal bisa terhubung ke UIIConnect atau pun eduroam, sementara tamu bisa menggunakan eduroam (jika memungkinkan) atau UIIGuest.

802.1x. Konsep WiFi di UII adalah set and forget. Cukup sekali saja memasukkan username dan password, kemudian pengguna tidak akan pernah diminta kembali, kecuali mereka mangganti password mereka. Autentikasi dilakukan selanjutnya di belakang layar, tanpa interaksi user sama sekali. Perngkat yang akan otomatis melakukan proses autentikasi di belakang layar. Dengan konsep seperti ini, tidak ada lagi captive portal yang mengganggu user, dan menghambat user untuk terhubung ke jaringan. Dengan konsep ini, bahkan yang dahulu tidak merasa membutuhkan koneksi WiFi jadi merasa butuh, contohnya Satpam 🙂 Mengapa? Karena koneksi sangat mudah sekali. Saat ini, begitu user masuk ke kampus UII, smartphone mereka akan langsung terhubung secara otomatis.

Upstream internet yang besar. Begitu jalur di bawah (ke user) sudah lancar, maka sekarang tugas yang di atas untuk membesarkan kanal. Hingga tulisan ini dibuat, konsumsi internet UII telah mencapai > 2Gbps (total) di siang hari. Kemudian untuk menjamin kelancaran, koneksi harus dibuat redundan dari beberapa ISP.

Masih banyak lagi tips yang lain, tapi terlalu panjang untuk ditulis di sini. There, I’ve done it  kalau masih ada pertanyaan, silakan datang ke UII untuk diskusi infrastruktur dengan kami. Kami akan sangat senang berdiskusi.

Selamat datang internet cepat!

Yogyakarta,  2 February 2018