Logistic & SCM – Tantangan dan Peluang di Industri dan Riset

Dr.Ir. Elisa Kusrini, MT, CPIM, CSCP., Sekretaris Program pascasarjana FTI UII, Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

Materi : Logistic & SCM – Tantangan dan Peluang di Industri dan Riset

Disampaikan di Kampus IT Telkom Purwokerto (1 Februari 2018)

Enterprise Architecture

Lathifah, Mahasiswa Konsentrasi Sistem Informasi Enterprise, Program Studi Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia

rsz_lathifah_sie_magister_teknik_informatika_pps_fti_uii_-_2

Enterprise Architecture

Pengantar

Enterprise architecture pada era saat ini memiliki peran yang begitu besar dan sangat luas salah satunya yaitu pada perguruan tinggi. Perguruan tinggi memandang pentingnya enterprise architecture guna untuk  keselarasan teknologi informasi dengan proses bisnis pada sistem informasi akademik.

Pemanfaatan enterprise architecturesangat dibutuhkan untuk dijadikan pedoman serta acuan sebuah model yang bisa digunakan jangka waktu yang panjang sesuai dengan kebutuhan  dan dapat digunakan secara optimal.

Penelitian mengambil potret pemanfaatan enterprise architecture terhadap 3 Perguruan Tinggi yaitu Universitas X, Universitas Y, dan Universitas Z. Data yang diambil dari hasil wawancara dan survey diolah menjadi instrumen.

Pembuatan instrumen tetap mengacu pada penelitian terdahulu yang menghasilkan 20 instrumen, sehingga memudahkan dalam mengukur empat proses bisnis enterprise architecturedengan menggunakan TOGAF. Hasil validasi menggunakan proses statistik yang melibatkan keterangan  dan nara sumber, sehingga hasil potret pemanfaat enterprise architecturepada perguruann tinggi memiliki nilai rata-rata 2,60.

Potret pemanfaat enterprise architecture dapat dirumuskan menjadi 3 objek penelitian yaitu penerapan enterprise architecture, pengaruh enterprise architecture, dan proses bisnisenterprisearchitecture yang didokumentasikan terhadap 3 Universitas, dapat disimpulkan enterprise architecture hampir selalu digunakan agar sistem informasi akademik dapat terintegrasi dengan baik. Namun Sistem informasi akademik yang berjalan tidak semuanya terpusat menjadi satu, sehingga proses dokumentasi tidak terkelola dengan baik dan ketika Universitas tersebut mengalami kesulitan tidak ada pedoman yang bisa dijadikan acuan saat melakukan setiap tindakan.

Sistem informasi akademik yang dibuat saat ini masih digunakan dalam jangka waktu pendek sebab aplikasi serta infrastruktur yang ada hanya sesuai dengan kebutuhan.

Hasil Penelitian / Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa menemukan formula untuk bisa melakukan potret pemanfaatan enterprise architecture pada perguruan tinggi merupakan hal yang penting.

Enterprise architecture sendiri ialah acuan yang sangat terstruktur dan detail yang sangat membantu suatu enterprise dalam hal ini sistem informasi akademik perguruan tinggi menjalankan proses bisnisnya.

Dalam perumusan instrumen dilakukan dari beberapa studi literatur, guna untuk mengetahui aspek pemanfaatan enterprise architecture pada sistem informasi akademik yang di-survey.
Aspek yang meliputi pemanfaatan enterprise architecture yaitu pengadaan, operasional, dan pemeliharaan sistem yang telah didokumentasikan pada perguruan tinggi.

Dari beberapa banyak studi literatur ada 4 (empat) peneliti terdahulu yang dijadikan acuan dalam membuat 20 (dua puluh) instrumen. Pembahasan dapat disimpulkan bahwa potret pemanfaat enterprise architecture dapat dirumuskan menjadi 3 (tiga) objek penelitian yaitu penerapan enterprise architecture, pengaruh enterprise architecture, dan proses bisnis enterprise architecture yang didokumentasikan.

Proses pembuatan 20 (dua puluh) instrumen mengacu pada 4 (empat) peneliti terdahulu yang dijadikan acuan pedoman dalam pembuatan instrumen. Ada 4 (empat) aspek pendukung dalam pemanfaatan proses enterprise architectureperguruan tinggi pada TOGAF antara lain architecture business, architecture application, architecture data, dan architecture technology.

Hasil dari instrumen diberi nilai serta ditentukan rentang skalanya, hasil nilai yang sudah diolah pada instrumen dijadikan patokan nilai dalam potret pemanfaatan enterprise architecture pada perguruan tinggi. Hasil potret pemanfaatan enterprise architecture pada 3 (tiga) Universitas di Yogyakarta berada di antara skala 2 (kadang-kadang) dan 3 (selalu) memanfaatkan enterprise architecture.

Kesimpulannya bahwa potret pemanfaatan enterprise architecture hampir selalu digunakan pada perguruan tinggi agar sistem informasi akademik yang berjalan dapat terintegrasi dengan baik.

Hasil menunjukan bahwa skala angka tinggi akan tetapi ada masalah yang munculya itu sistem informasi akademik yang berjalan tidak semuanya terpusat menjadi satu, sehingga proses dokumentasi tidak terkelola dengan baik.

Kemudian dan ketika Universitas tersebut juga mengalami kesulitan ketika tidak ada pedoman yang bisa dijadikan acuan saat melakukan setiap tindakan. Sistem informasi akademik yang dibuat saat ini masih digunakan dalam jangka waktu yang pendek sebab aplikasi serta infrastruktur disediakanhanya sesuai dengan kebutuhan.

Yogyakarta, 29 Januari 2018

Kapabilitas Jasa Logistik Inovatif

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Selamat siang, salam sukses mulia untuk kita semua

Perkenankan saya mewakili praktisi pelaku usaha perusahaan jasa logistik, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Sdr. Darjat Sudrajat, Promovendus Program Doktor Ilmu Manajemen Binus.

Penelitian Sdr. Darjat mengenai Kapabilitas Jasa Logistik Inovatif ini sangat relevan dan memberikan insight bagi kami, para pelaku perusahaan jasa logistik Indonesia, di tengah era disrupsi berbagai bisnis, tidak kecuali perusahaan jasa logistik.

Izinkan saya menyampaikan pandangan pentingnya peningkatan kapabilitas jasa logistik inovatif ini, dari sisi konteks maupun praktik-praktik terbaiknya.

Bapak, Ibu, hadirin yang saya hormati,
Perubahan lingkungan bisnis sangat cepat. Utamanya perubahan ini dipicu oleh perkembangan kemajuan teknologi dan perubahan sosial dan bisnis. Implikasi dari perubahan lingkungan bisnis ini memengaruhi tren logistik dalam 5 sampai dengan 10 tahun mendatang.

Logistik dipandang sebagai bagian dari aktivitas supply chain, berperan dalam perencanaan, implementasi, dan pengendalian arus barang dan informasi, dari titik asal ke titik tujuan secara efisien dan efektif. Dalam banyak perusahaan, aktivitas logistik ini sebagian dialihdayakan (outsource) ke perusahaan penyedia jasa logistik, yang dikenal dengan perusahaan 3PL (third- party logistics). Inti dari aktivitas logistik ini adalah pengelolaan transportasi, pergudangan, dan distribusi, baik untuk tujuan domestik maupun internasional.

Dari perspektif strategi, perubahan lingkungan bisnis dipetakan menjadi dua dimensi. Dimensi pertama adalah dampak perubahannya terhadap perubahan model bisnis. Dimensi lainnya adalah dampak perubahannya dari sisi waktu. Dimensi waktu ini dibedakan menjadi rentang waktu kurang dari 5 tahun dan lebih dari 5 tahun.

Tren logistik dalam beberapa tahun mendatang dipengaruhi oleh tren sosial, bisnis, dan tren teknologi. Tren sosial & bisnis dipicu oleh perubahan perilaku masyarakat dan pebinis.

Pemerintah telah menerbitkan Paket Kebijakan XV dengan fokus untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan daya saing perusahaan penyedia jasa logistik nasional. Pertimbangan penerbitan paket kebijakan ini didasari fakta bahwa rasio biaya logistik Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih cukup tinggi, yaitu berkisar antara 24% sampai dengan 26%.

Dibandingkan dengan negara-negara lain biaya logistik Indonesia relatif tinggi. Biaya logistik di Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman antara 8% sampai 9%. India 11% dan Tiongkok 17% (ADB, 2012).

Sementara dari komponen harga jual produk-produk ritel (consumer goods), di Indonesia biaya logistik menyerap 40% dari harga jual produk ritel. Komponen terbesar biaya logistik 72%-nya merupakan biaya transportasi.

Perhatian Pemerintah untuk mengembangkan usaha dan peningkatan daya saing perusahaan penyedia jasa logistik nasional sangat tepat. Perusahaan penyedia jasa logistik berperan penting dalam turut berkontribusi terhadap biaya logistik secara agregat di Indonesia.

Umumnya, perusahaan menyerahkan pengelolaan aktivitas logistiknya ke perusahaan penyedia jasa logistik. Kualitas layanan dan efisiensi biaya dalam pengelolaan logistik oleh perusahaan penyedia jasa logistik ini akan menentukan kinerja logistik dan biaya logistik perusahaan secara mikro dan biaya logistik nasional secara agregrat.

Paket Kebijakan XV ini juga menunjukkan perhatian pemerintah terhadap perusahaan- perusahaan penyedia jasa logistik nasional, alih-alih perusahaan penyedia jasa logistik asing.

Perusahaan penyedia jasa logistik hadir untuk memberikan solusi pengelolaan logistik. Perkembangan perusahaan logistik semakin pesat seiring dengan adanya kebutuhan perusahaan-perusahaan untuk meng-out source-kan aktivitas logistik ke perusahaan penyedia jasa logistik.

Peningkatan kinerja logistik dan penurunan biaya logistik nasional dapat dilakukan dengan melakukan continuous improvement dan inovasi layanan perusahaan-perusahaan penyedia jasa logistik nasional, utamanya perusahaan 2PL dan 3PL.

Fokus continuous improvement dilakukan pada peningkatan kualitas layanan dan cost reduction perusahaan penyedia jasa logistik. Peningkatan kinerja perusahaan penyedia jasa logistik

mencakup performance level (1) reliability, (2) responsiveness, (3) flexibility, (4) costs, dan (5) assets management.

Perusahaan penyedia jasa logistik nasional perlu membangun dan meningkatkan kualitas relationship management dengan pelanggannya. Perusahaan penyedia jasa logistik perlu memahami perspektif dan aspirasi pelanggan:
•    Pelanggan menuntut kualitas layanan logistik yang superior;
•    Pelanggan menuntut kepercayaan, keterbukaan, dan information sharing;
•    Pelanggan menuntut inovasi solusi atas permasalahan logistics dan supply chain yang mereka hadapi;
•    Sistem IT yang capable dan andal;
•    Pelanggan menuntut kejelasan service level  agrements;
•    Pelanggan menuntut service offering yang selaras dengan customer strategy dan pemahaman industri pelanggan secara mendalam.

Penerapan dan pengembangan ICT (information and communication technology) dalam pengelolaan logistics dan supply chain yang advanced, baik penerapan ICT untuk core logistics service seperti transportation management system (TMS), warehouse management system (WMS), freight management system (FMS), order management system (OMS), maupun penerapan supply chain technology innovations seperti internet of things, mobile connectivity, dan functional automation.

Inovasi dan pengembangan layanan logistik yang berbasis logistics & supply chain solution menjadi kebutuhan pelanggan saat ini, tidak hanya layanan basic logistics services. Perusahaan penyedia jasa logistik nasional perlu melakukan inovasi dan pengembangan layanan logistik seperti reverse logistics, cross-docking, freight bill auditing and payment, transportation planning and management, inventory management, product labeling, packaging, assembly, kitting, order management and fulfillment, service part logistics, fleet management, information technology (IT) services, supply chain consultancy services, dan customer service untuk memberikan solusi supply chain management pelanggan.

Dalam konteks makro, menjadi tugas pemerintah untuk menciptakan iklim usaha sektor perusahaan penyedia jasa logistik nasional agar efisien dan memiliki daya saing tinggi. Penyediaan dan perbaikan kualitas infrastruktur logistik seperti jalan, pelabuhan, rel kereta api, stasiun, terminal, teknologi telekomunikasi, dan lain-lain untuk meningkatkan kinerja layanan perusahaan penyedia jasa logistik nasional, dan meningkatkan connectivity desa-kota, pusat dan hub logistics domestik dan international.

Perbaikan sistem dan prosedur birokrasi pemerintah, mulai proses perizinan, pengawasan dan pembinaan, customs, perpajakan, perbankan, dan pasar modal, yang memungkinkan perusahaan penyedia jasa logistik nasional mampu bersaing dengan perusahaan penyedia jasa logistik asing, serta mendorong agar perusahaan penyedia jasa logistik nasional go to global market.

Tidak kalah penting, peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan organisasi perusahaan penyedia jasa logistik nasional melalui pengajaran dan riset keilmuan logistics dan supply chain management, pendidikan vokasi logistik, dan sertifikasi perlu menjadi perhatian pemerintah untuk membangun kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia dan organisasi sebagai “inti daya saing” perusahaan penyedia jasa logistik nasional.

Hadirin yang terhormat,
Dalam konteks inilah hasil penelitian Sdr. Darjat memberikan panduan stratejik bagi kami, dari aspek manajerial, untuk selalu mengembangan inovasi layanan logistik, agar perusahaan jasa logistik Indonesia mampu memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggannya dan turut berkontribusi dalam peningkatkan kinerja logistik nasional.

Tren perubahan sosial, bisnis, dan teknologi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan akan terus terjadi dalam beberapa tahun ke depan, selain memberikan peluang-peluang dalam penyediaan layanan logistik juga akan mendisrupsi bisnis logistik.

Perusahaan penyedia jasa logistik harus terus melakukan inovasi, eksplorasi strategi baru, pemanfaatan teknologi ICT, dan pengelolaan bisnis secara lincah (agile) dan seamless untuk memberikan solusi logistik yang tetap relevan dengan dinamika perubahan zaman.

Redefinisi bisnis, peninjauan model bisnis, dan upaya peningkatan hubungan dengan pelanggan agar tercipta kepuasan, loyalitas, dan pengalaman mengesankan dalam menggunakan jasa logistik, perlu menjadi paradigma baru para pemimpin perusahaan penyedia jasa logistik saat ini dan di masa mendatang.

Demikian pandangan kami, terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh Jakarta, 29 Januari 2018
Zaroni

 

Sumber : Sambutan Dr Zaroni saat Sidang Promosi Doktor Darjat Sudrajat di Binus Jakarta

Membandingkan Tingkat Kemiripan Rekaman Suara

Ahmad Subki, Mahasiswa Konsentrasi Forensika Digital, Program Studi Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia

rsz_ahmad_subki_-_forensika_digital_magister_teknik_informatika_pps_fti_uii

Membandingkan Tingkat Kemiripan Rekaman Suara Voice Changer Dan Rekaman Suara Asli Menggunakan Metode Audio Forensik

Abstrak

Audio forensik merupakan penerapan ilmu pengetahuan dan metode ilmiah dalam penanganan barang bukti berupa audio demi mendukung pengungkapan berbagai kasus tindak kriminal dan mengungkap berbagai informasi yang diperlukan dalam proses persidangan. Namun, rekaman suara sangat rentan dan mudah untuk dirubah/dimanipulasi baik untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok. Misalnya menggunakan fasilitas aplikasi perubah suara/voicechanger yang banyak tersedia pada googleplaystore.

Dalam penelitian ini dilakukan analisis terkait tingkat kemiripan antara rekaman suara voicechanger dengan rekaman suara asli menggunakan metode audio forensik dengan pendekatan pitch, formant, graphical distribution dan spectogram.

Penelitian ini dihasilkan bahwa rekaman suara pada kasus voicechanger dengan rekaman suara asli hanya bisa di analisis dengan pendekatan formant, graphical distribution dan spectogram. Sedangkan untuk analisis pitch tidak dapat digunakan.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang didapatkan pada pembahasan maka penelitian Membandingkan Tingkat Kemiripan Rekaman Suara Voice changer dengan Rekaman Suara Asli Menggunakan Metode Audio Forensik dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Analisispitch, formant dan spectogramdapat digunakan untuk membandingkan tingkat kemiripan rekaman suara voice changer dengan rekaman suara asli, dengan memperhatikan tahap demi tahap sesuai dengan prosedur investigasi audio forensik.

Analisis rekaman suara yang dilakukan dengan satu aplikasi voicechanger dibandingkan dengan rekaman suara asli tidak dapat menggunakan analisis pitch,analisis hanya dapat digunakan menggunakan analisis formant, graphical distribution dan spectogram.

Berdasarkan ujicoba yang dilakukan menunjukkan bahwa rekaman suara voicechangerA memiliki tingkat kemiripan yang paling tinggi dengan rekaman suara asli pada posisi merendahkan pitch (low pitch), sedangkan voice changer yang lain lebih sulit untuk diidentifikasi.

Hal ini dikarenakan perbedaan algoritma/parameter timestretching dan pitch shifting yang digunakan masing-masing voice changer, Semakin nilai timestretching dan pitch shifting mendekati angka 1 (satu) maka suara output hasil konversi suara akan terdengar semakin mirip dengan suara asli, dan sebaliknya semakin nilai parameter timestretching dan pitch shifting menjauhi angka 1 (satu) maka suara output hasil konversi suara akan terdengar semakin berbeda dari suara input/asli.

Adapun saran-saran yang perlu diberikan dengan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
Perlu dilakukan penelitian terkait barang bukti rekaman suara yang dirubah menggunakan voice changer yang sulit untuk diidentifikasi seperti voice changerB dan C dan bagaimana solusinya.

Pada penelitian terkait voice changer selanjutnya, dilakukan dengan barang bukti suara yang di analisis lebih dari satu jenis rekaman suara, minimal menggunakan tiga jenis rekaman suara yang berbeda dengan masing-masing 20 kata.
Penelitian terkait dengan voicechanger ini juga bisa dilakukan pada voicechanger yang diterapkan oleh provider.

Yogyakarta, 25 Januari 2018

Pendekatan BPMN Untuk Pengembangan Digital Forensic Workflow Model

Subektiningsih, Mahasiswi Konsentrasi Forensika Digital, Program Studi Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia

rsz_subektiningsih_-_fd_pps_fti_uii_ver_2

Pendekatan BPMN Untuk Pengembangan Digital Forensic Workflow Model Menggunakan Design Science Research Methodology

Abstrak

Digital Forensic Workflow Model (DFWM) dikembangkan menggunakan paradigma Design Science Research Methodology dengan model bisnis menggunakan Business Process Model and Notation (BPMN) sub-model Collaboration. DFWM dikembangkan dari berbagai model penyelidikan forensik digital secara teori dari penelitian terdahulu yang dilengkapi dengan data wawancara dengan Kepolisian di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Semua model penyelidikan yang dipilih diekstraksi dan dilakukan pemetaan dengan mengkaitkan interaksi yang terjadi antara aktor dengan bukti, bukti dengan dokumentasi dan chain of Custody, aktor dengan proses, bukti dengan proses, serta menghilangkan bagian aktifitas yang tidak memiliki interaksi antar komponen tersebut. Memetakkan aktifitas yang diperoleh berdasarkan aktor yang melakukannya.
Tujuan pembuatan alur kerja yang dimodelkan menjadi DFWM ini untuk menjelaskan kompleksitas komponen yang berupa, Aktor, bukti, dan proses penyelidikan forensik digital dalam keterkaitan dan interaksinya. Sehingga, dapat diketahui peran dari setiap personil/aktor, jenis bukti yang mungkin diperoleh, dan urutan proses yang harus dilakukan. Validasi elemen dalam DFWM juga dilakukan untuk memastikan ketepatan penggunaan elemen sesuai aturan BPMN.

DFWM diuji dengan dua cara, yaitu; pengujian dengan sistem dan pengujian dengan kuesioner penerimanaan model. Pengujian dengan sistem menggunakan Bizagi Modeler yang bertujuan untuk memastikan alur proses terbentuk secara sistematis dan sesuai dengan aturan BPMN. Pengujian menggunakan kuesioner penerimaan model bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian DFWM dengan penyelidikan forensik digital dalam praktik.

Pengujian tersebut memberikan hasil bahwa bahwa DFWM secara keseluruhan dapat diterapkan untuk praktik penyelidikan forensik digital. Namun, dalam penerapannya dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu kondisi organisasi dan kondisi kasus. Kondisi organsasi dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya manusia, sarana prasarana, infrastruktur laboratorium, dan alat forensik yang dimiliki. Sedangkan, kondisi kasus dipengaruhi oleh spesifikasi kasus, kondisi tempat kejadian perkara, proses penyelidikan yang dilakukan.

DFWM diharapkan dapat menjadi solusi untuk perbaikan dan penambahan dalam proses penyelidikan dan penyidikan forensik digital yang lebih terintegrasi untuk organisasi dengan melakukan penyesuaian sesuai SOP internal yang ada dalam organisasi tersebut.

Kesimpulan

Bussiness Process Model and Notation (BPMN) dapat digunakan untuk mengembangkan Digital Forensic Workflow Model (DFWM) dengan melakukan ekstraksi berbagai model penyelidikan forensik digital dan mengkaitkan interaksi yang terjadi antara aktor dengan bukti, bukti dengan dokumentasi dan chain of Custody, aktor dengan proses, bukti dengan proses, serta menghilangkan bagian aktifitas yang tidak memiliki interaksi antar komponen. DFWM menunjukkan bahwa BPMN bukan hanya untuk pemodelan proses bisnis tetapi juga dapat digunakan untuk memodelkan aktifitas forensik digital berdasarkan aktor dan proses yang terjadi. Peran aktor menjadi lebih tepat dalam menjalankan alur kerja penyelidikan forensik digital.

Proses validasi notasi dan elemen untuk memastikan ketepatan pengunaan notasi dan elemen sesuai aturan BPMN. Validasi proses untuk memastikan proses yang ada dalam alur kerja dilakukan secara sistematis dan tidak terjadi stack atau looping di salah satu proses.

DFWM sudah sesuai dengan praktik forensik digital, namun terdapat beberapa proses forensik yang ada dalam DFWM tidak dilakukan dalam praktik forensik digital atau sebaliknya. Perbedaan dipengaruhi oleh kondisi dari organisasi dan kasus yang diselidiki. Hasil pengujian secara sistem maupun kuesioner penerimaan dengan responden dari pihak kepolisian, kejaksaan, dan Ahli menyatakan DFWM dapat diterapkan dalam praktik forensik digital dengan melakukan penyesuaian sesuai standar operasional organisasi.

Yogyakarta, 25 Januari 2018

Pengaruh Dimensi Budaya Terhadap Penggunaan E-Commerce

Danar Retno Sari, Mahasiswa Konsentrasi Sistem Informasi Enterprise Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana FTI UII

rsz_danar_retno_sari_magister_teknik_informatika_pps_fti_uii

Pengaruh Dimensi Budaya terhadap Penggunaan e-Commerce – Studi Kasus : Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kalimantan Timur

Abstrak

Tahun 2016 transaksi e-commerce mencapai hingga Rp. 66,4 triliun (Adhi, 2016). Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa dimensi budaya memiliki pengaruh terhadap penggunaan teknologi e-commerce. Menurut Hofstede (1984), budaya terdiri dari lima dimensi yaitu power distance, individualism, masculinity, uncertainty avoidance, dan long-term orientation.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dimensi budaya yang berpengaruh terhadap perilaku penggunaan e-commerce di Indonesia. Menggunakan model yang dari Theory of Planned Behavior (TPB), untuk menguji dan melakukan perilaku pengunaan e-commerce. Dimensi budaya digunakan sebagai indikator pada model TPB untuk mendukung pengujian terhadap perilaku individu dalam menggunakan e-commerce.

Temuan penelitian ini adalah dimensi power distance dan masculinity berpengaruh terhadap perilaku penggunaan e-commerce di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan dimensi budaya uncertainty avoidance berpengaruh terhadap perilaku penggunaan e-commerce di Kalimantan Timur.

Dimensi budaya yang berpengaruh dapat dijadikan sebagai parameter alternatif dalam meningkatkan penjualan produk menggunakan layanan e-commerce bagi penyedia layanan maupun penjual di masing-masing daerah. Sedangkan di dalam bidang akademik, penelitian ini menyajikan informasi tentang pengaruh dimensi budaya pada penggunaan e-commerce dari sisi perilaku.

Kesimpulan

Penelitian ini dilakukan untuk melihat mengetahui pengaruh dimensi budaya yang mempengaruhi terhadap perilaku penggunaan e-commerce di dua wilayah yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kalimantan Timur. Dimensi budaya di kedua wilayah memiliki nilai yang relatif sama, di mana power distance, individualsm, uncertainty avoidance dan long term orientation memiliki nilai yang cukup tinggi. Sedangkan, untuk dimensi budaya masculinity memiliki nilai yang seimbang dengan dimensi budaya femininity.

Dimensi budaya yang berpengaruh terhadap perilaku penggunaan e-commerce di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah dimensi budaya masculinity dan power distance. Kedua dimensi budaya ini memiliki pengaruh positif terhadap subjective norm yang merupakan prediktor terhadap human intention bersama dengan perceived behavioral control. Masculinity dan power distance merupakan dimensi budaya yang erat kaitannya dengan lingkungan sosial, di mana pengakuan eksistensi individu pada dimensi budaya masculiniy menjadi sangat penting dan hirarki sosial sangat berpengaruh terhadap dimensi budaya power distance.

Sedangkan, untuk wilayah Kalimantan Timur, dimensi budaya yang berpengaruh terhadap perilaku penggunaan e-commerce adalah dimensi budaya uncertainty avoidance. Dimensi ini berpengaruh terhadap variabel perceived behavioral control dalam memprediksi human intention dalam perilaku penggunaan e-commerce bersama dengan variabel attitude. Dimensi budaya uncertainty avoidance memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap perceived behavioral control, di mana semakin tinggi tingkat penghindaran ketidakpastian terhadap suatu kondisi akan mengakibatkan rendahnyatingkat kepercayaan diri individu melakukan suatu tindakan pada kondisi tersebut. Hal ini juga berlaku pada perilaku penggunaan e-commerce.

Hubungan antara variabel dari model Theory Planned Behavior pada penggunaan e-commerce menghasilkan pengaruh yang berbeda di kedua wilayah. Hal ini menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan e-commerce bergantung pada konteks masing-masing wilayah. Model ini dapat di jadikan alternatif untuk penelitian yang bertujuan untuk meneliti lebih lanjut tentang faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan teknologi khususnya e-commerce dari sisi perilaku atau psikologis.perilaku

Dimensi budaya pada konteks perilaku penggunaan e-commerce memiliki pengaruh di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kalimantan Timur Penyedia layanan dan pengguna e-commerce khususnya penjual dapat menjadikan variabel dari dimensi budaya maupun variabel Theory Planned Behavior sebagai parameter alternatif dalam meningkatkan penjualan produk menggunakan layanan e-commerce.

Sedangkan untuk pembaca, penelitian ini memberikan informasi bahwa perilaku penggunaan e-commerce dipengaruhi oleh dimensi budaya yang terdapat pada masing-masing individu.

Yogyakarta, 22 Januari 2018

Perancangan Model Bisnis Cinderamata

Perancangan Model Bisnis Cinderamata sebagai Implementasi Social Entrepreneurship, mengantarkan Rifa’i  meraih gelar Master dari Magister Teknik Industri (MTI), Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII)

rsz_perancangan_model_bisnis_cinderamata_-_rifai_mti_uii

Mahasiswa bimbingan Muhammad Ridwan Andi Purnomo, Ph.D dan Dr Taufiq Immawan ini memaparkan dari hasil penelitian “Model bisnis Souvenir dan Cinderamata Banten brand Ore Bae agar sesuai dengan kondisi sekarang, dibutuhkan perbaikan dari model bisnis awal dengan menambah segmen pelanggan baru berupa desainner kostum, menghilangkan komponen harga murah pada proposisi nilai yang ditawarkan, menambah saluran distribusi produk di titik-titik tempat berpotensi (Bandara Soekarno Hatta, pusat Kota Tangerang, pusat  Kota Tangerang Selatan dan Pelabuhan Merak)” ujarnya di ruang PPs 1, FTI UII, Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII Yogyakarta (15 Januari 2018)

Rifai menambahkan “Selain itu juga perlunya memaksimalkan fungsi saluran yang sudah tersedia baik secara direct dan indirect yang bersifat online maupun offline serta menambah event Banten pada website Ore Bae sebagai jasa periklanan”

Hal tersebut didukung dengan penambahan sumberdaya utama yang memiliki kemampuan dibidang IT support untuk mengelola dan merawat saluran berbasis online serta jaringan didalam administrasi. Dalam menjalin hubungan terhadap pelanggan, maka diperlukan pelayanan tambahan berupa personal assistance dan customer care yang digunakan sebagai layanan informasi proposisi nilai yang terkandung didalam produk dan pemberian pelatihan terhadap pelanggan. “Dari inovasi model bisnis baru ini, diharapkan dapat memberikan manfaat lebih dari model bisnis yang lama” tegas Rifai.

Jerri Irgo

Strategi Logistik dan Implikasinya Terhadap Keuangan

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Strategi logistik yang dieksekusi perusahaan banyak ragamnya. Antarperusahaan bisa saja berbeda strategi logistik yang dijalankan. Keputusan strategi logistik yang diambil akan berimplikasi pada kinerja keuangan perusahaan. Para pemimpin organisasi bisa menggunakan strategi logistik untuk menentukan kinerja keuangan.

Umumnya perusahaan menggunakan return on investment (ROI) sebagai ukuran kinerja keuangan. ROI mengukur kinerja keuangan perusahaan dari perspektif investor, baik investor ekuitas maupun investor kreditor.

ROI merupakan rasio yang mengukur profitabilitas perusahaan dari return yang dihasilkan atas penggunaan aset untuk menghasilkan penjualan (capital employed). Secara sederhana, ROI dihitung dengan membagi laba bersih dengan aset.

Dari rumus tersebut, untuk meningkatkan ROI, paling tidak ada dua faktor yang harus dikendalikan perusahaan, yaitu laba dan aset. Laba merupakan selisih antara penjualan dengan biaya total. Sementara aset dalam penghitugan ROI adalah aset yang digunakan untuk menghasilkan penjualan. Dalam banyak buku literatur keuangan, aset yang digunakan (capital employed) terdiri dari kas, piutang, persediaan, dan aset tetap.

Para pemimpin organisasi perusahaan berusaha meningkatkan ROI, meskipun tidak ada standar yang pasti berapa ROI yang harus dicapai. Standar ROI untuk setiap perusahaan berbeda, tergantung dari sektor industri, ukuran perusahaan, dan ekspektasi investor.

Umumnya investor menetapkan standar ROI sesuai dengan tingkat return yang diharapkan dengan mempertimbangkan risiko bisnis sesuai sektor industrinya. Dalam hal ini berlaku hukum “high risk, high return”. Semakin tinggi risiko bisnis, investor mengharapkan return atau imbal hasil yang tinggi.

Dalam literatur keuangan, return ini diproksikan dengan beberapa pendekatan atau proksi. Salah satunya adalah CAPM (Capital Asset Pricing Model). Model ini memproksikan return yang

ditentukan dari parameter tingkat return pada investasi bebas risiko (risk free), beta imbal hasil pasar, dan tingkat return premium yang merupakan selisih antara return pasar dan return investasi aset bebas risiko.

Investor akan menempatkan dananya pada perusahaan yang menghasilkan ROI tinggi. Karenanya, menjadi tugas manajer perusahaan untuk selalu menjaga dan meningkatkan ROI, agar perusahaan yang dikelola menjadi pilihan para investor.

Peran Strategi Logistik
Menariknya, pilihan strategi logistik yang dijalankan perusahaan dapat menentukan ROI. Mengapa demikian? Penjelasannya sangat mudah dengan memahami rumus ROI kita dapat melakukan simulasi atas pilihan strategi logistik yang akan dieksekusi perusahaan dan apa implikasinya terhadap kinerja keuangan yang diproksikan dengan ROI ini.

Sejatinya strategi logistik dimaksudkan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas logistik. Efisiensi diartikan pencapaian biaya logistik yang paling rendah. Sementara efektif merujuk pada ketepatan dan keandalan pengelolaan aktivitas logistik, seperti transportasi, pergudangan, dan distribusi, untuk memastikan material atau barang tersedia pada saat diperlukan.

Aktivitas logistik ini mencakup inbound logistics atau sering disebut dengan production logistics dan outbound logistics atau marketing logistics. Inbound logistics ini untuk memastikan material dan komponen (part) tersedia dengan tepat sesuai kebutuhan produksi. Outbound logistics, pengelolaan logistik distribusi produk jadi (finished goods) dari gudang pabrik atau produsen ke konsumen akhir.

Pengelolaan aktivitas logistik memerlukan investasi infrastruktur seperti gudang, kendaraan, peralatan pemindahan material (material handling equipment), ICT, dan biaya operasional. Jenis dan berapa infrastruktur logistik yang harus disiapkan perusahaan dipengaruhi oleh strategi logistik yang dipilih.

Strategi merupakan salah satu bagian dari perencanaan. Dalam perspektif horizon waktu perencanaan, kita mengenal perencanaan stratejik (strategic planning), perencaan taktis (tactical planning), dan perencanaan operasional (operational planning).

Perencanaan stratejik memiliki implikasi jangka panjang, setidaknya keputusan stratejik yang diambil perusahaan dalam strategi logistik akan berimplikasi terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan sampai 5 tahun mendatang. Keputusan dalam perencanaan strategi

logistik ini contohnya saluran distribusi (channel of distribution), titik pasokan (supply points), lokasi produksi (production locations), konfigurasi gudang, jenis dan jumlah gudang, lokasi dan ukuran gudang, jenis dan moda transportasi, pengelolaan logistik secara dikelola sendiri (inhouse logistics) atau menggunakan penyedia jasa logistik (third party logistics), strategi distribusi, dan kebijakan tingkat persediaan.

Pilihan strategi logistik ini akan menentukan perencanaan taktis dan operasional logistik yang berakibat pada investasi dan biaya operasional logistik perusahaan. Investasi dan biaya operasional ini merupakan dua komponen penting dalam ROI. Karenanya, pilihan keputusan perencanaan logistik berdampak terhadap kinerja keuangan perusahaan.

Pertanyaannya, bagaimana keputusan strategi logistik berdampak pada keuangan? Bagaimana meningkatkan kinerja keuangan melalui strategi logistik?

Komponen pertama ROI adalah laba atau profit. Secara sederhana, profit dihitung dari penjualan dikurangi biaya total. Dalam perusahaan manufaktur, umumnya biaya terdiri dari beban pokok penjualan, biaya penjualan dan pemasaran, biaya administrasi dan umum, dan biaya non usaha.

Beban pokok penjualan dihitung dari persediaan produk jadi awal ditambah beban pokok produksi dikurangi dengan persediaan produk jadi akhir. Sementara biaya penjualan dan pemasaran merupakan semua biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproses order penjualan, pengiriman dan pendistribusian produk sampai ke konsumen. Termasuk dalam biaya penjualan dan pemasaran ini adalah biaya untuk mendapatkan pelanggan baru, meretensi pelanggan, dan promosi.

Biaya administrasi dan umum biasanya merupakan biaya penyelenggaraan organisasi perusahaan, contohnya biaya gaji karyawan non produksi, biaya sewa gedung kantor, biaya penyusutan gedung kantor, dan lain-lain. Sementara biaya non usaha merupakan biaya selain biaya operasional perusahaan, contohnya biaya bunga pinjaman.

Dalam konteks peningkatan ROI, perhatian manajemen terutama adalah meningkatkan profit dan mengoptimalkan penggunaan aset secara efisien.

Peningkatan profit dilakukan dengan menaikkan penjualan atau mengurangi biaya. Penjualan dapat dinaikkan dengan menaikkan harga jual atau meningkatkan volume penjualan barang. Dalam ilmu pemasaran, harga jual bisa dinaikkan dengan meningkatkan “value” produk dan service sehingga konsumen bersedia membayar lebih.

Value produk dan service ini mencakup antar lain upaya peningkatan kualitas produk, fitur, daya guna produk, aspek emosional, pelayanan, dan pengalaman konsumen dalam menggunakan produk.

Para pemimpin organisasi perusahaan harus selalu meningkatkan value produk ini melalui inovasi dan peningkatan pelayanan agar konsumen menikmati pengalaman yang mengesankan. Peningkatan harga jual produk tanpa diimbangi dengan peningkatan value produk tidak akan dapat meningkatkan penjualan, alih-alih konsumen berpaling ke produk kompetitor.

Selain peningkatan harga jual dan penjualan, peningkatan profit juga dapat dilakukan dengan pengurangan biaya. Perhatian para pemimpin organisasi perusahaan untuk meningkatkan profit dengan cara mengurangi beban pokok penjualan, biaya penjualan, biaya pemasaran, biaya administrasi, dan biaya non usaha.

Dalam konteks strategi logistik, peningkatan penjualan dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

  • menaikkan OTIF (on time in full) deliveries, yaitu peningkatan kinerja pengiriman barang secara tepat waktu.
  • peningkatan service level dari semua aspek kualitas produk dan service.
  • membangun hubungan dengan pelanggan untuk menciptakan kepuasan dan intimacy.
  • layanan purna jual.

Pengurangan biaya dilakukan melalui upaya penyederhanaan proses bisnis, pengurangan aktivitas dan sumber daya yang tidak memberikan nilai tambah bagi pelanggan, dan penggunaan sumber daya bersama (resources sharing).

Dalam perspektif logistik, perhatian manajemen adalah melalukan pengurangan biaya logistik. Pengurangan biaya logistik dilakukan dengan cara:

  • pengelolaan transportasi secara efisien, melalui penetapan desain transportasi, penentuan rute, skedul, moda, jenis dan kapasitas armada transportasi, safety driving, dan konsolidasi kiriman. Pengelolaan transportasi yang efisien akan berdampak langsung terhadap penurunan biaya operasional transportasi.
  • pengelolaan pergudangan secara efisien, melalui penggunaan warehouse management system untuk penyimpanan, pengambilan, dan pengiriman barang. Selain itu, kebijakan lokasi persediaan (stock location) dan pengendalian persediaan perlu ditetapkan yang dapat mengoptimalkan inventory management.
  • pengurangan tingkat inventory melalui penerapan EOQ (economic order quantity), ABC inventory system, dan pendekatan JIT (just-in time). Pengurangan inventory akan berdampak langsung pada pengurangan modal kerja yang harus disediakan untuk stock.

Tidak kalah pentingnya, selain peningkatan penjualan dan pengurangan biaya, pemimpin perusahaan harus mengoptimalkan penggunaan aset, baik aset lancar seperti kas, piutang, maupun aset tetap seperti warehouse, MHE, dan transport.

Pengoptimalan aset ini dimaksudkan untuk meningkatkan perputaran (turnover) aset. Upaya yang harus dilakukan pemimpin perusahaan untuk menaikkan asset turnover ini adalah:

  • peningkatan cash cycle, pengurangan collection periods melalui pengelolaan piutang usaha.
  • peningkatan oder cycle time.
  • peningkatan inventory accuracy.
  • pengoptimalan warehouse space dan transportasi.
  • outsourcing logistik ke third party logistics company.

Keputusan manajemen perusahaan atas berbagai pilihan strategi logistik akan berdampak pada investasi infrastruktur dan biaya operasional logistik. Dua hal terakhir ini ujungnya memengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Para pemimpin organisasi perlu mempertimbangkan dengan cermat setiap keputusan strategi logistik yang akan dieksekusi.

 

Referensi

Berk, DeMarzo, Corporate Finance, 4th Edition, Person, 2018.

Rushton, Croucher, Baker, The Handbook of Logistics & Distribution Management: Understanding The Supply Chain, 5th Editon, The Chartered of Logistics and Transport (UK), Kogan Page, 2014.

 

Bandung, 13 January 2018

Retail Logistics

Dr, Zaroni CISCP, CFMP –  Chief Financial Officer (CFO) Pos Logistics Indonesia / Pengajar pada Program Executive Learning Institute – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta / Pengajar pada Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

– – –

 

Hampir semua produsen tidak menjual produk-produknya secara langsung ke konsumen akhir. Antara produsen dan konsumen akhir ada perantara (intermediary) yang berfungsi sebagai saluran pemasaran (marketing channel). Saluran pemasaran ini dikenal juga sebagai saluran perdagangan (trade channel) atau saluran distribusi (distribution channel).

Saluran pemasaran banyak macamnya. Kita mengenal pedagang besar (wholesaler), grosir, distributor, dan pengecer (retailer). Saluran pemasaran memainkan peran penting dalam kesuksesan perusahaan dan memengaruhi semua faktor keputusan strategi pemasaran.

Saluran pemasaran yang menjual produk-produk langsung ke konsumen personal atau rumah tangga sebagai pengguna akhir produk dikenal retailer atau retailer store. Pengecer menjual aneka produk, mulai dari pakaian, makanan, peralatan rumah tangga, buku, peralatan elektronik, dan lain-lain.

Tidak masalah bagaimana produk-produk atau jasa tersebut dijual. Apakah penjualan produk-produk tersebut melalui tenaga penjualan, katalog, email, telepon, surat, vending machine, atau penjualan secara online. Demikian pula, di mana penjualan produk-produk dilakukan, apakah penjualan produk dilakukan di toko, jalan, atau bahkan di rumah konsumen.

Sektor ritel bergerak dan tumbuh sangat cepat, secepat perputaran penjualan produk-produknya. Beberapa peritel melakukan inovasi layanan, mengembangkan strategi jangka panjang, penggunaan teknologi terkini, penerapan sistem informasi yang canggih, dan pemanfaatan marketing tools secara efektif. Sebut saja misalnya, peritel global seperti Uniqlo, Zara, Zappos, H&M, Mango, Topshop, Walmart, dan lain-lain.

Mereka telah berhasil mengidentifikasi siapa segmen dan target pasar yang dituju, positioning, differentiation, membangun hubungan dengan pelanggan, menciptakan kesan dan pengalaman pelanggan, dan tentu saja mereka mampu menyediakan produk dan pelayanan dengan tepat.

Sektor ritel berperan penting dalam penjualan barang. Sektor ritel menjadi tempat penjualan berbagai barang kebutuhan konsumen rumah tangga, perkantoran, sekolahan, pemerintahan, dan lain-lain. Pelaku usaha di sektor ritel dikenal dengan pengecer atau peritel (retailer). Peritel mengelola toko. Jenis toko pengecer banyak macamnya. Kita mengenal peritel tradisional dan modern. Contoh peritel tradisional adalah kios di pasar-pasar tradisional, toko-toko, dan warung-warung kelontong. Sementara peritel modern, contohnya hypermarket, department store, supermarket, dan minimarket.

Umumnya jenis perputaran barang-barang yang dijual di toko ritel sangat cepat. Karenanya, barang-barang ini dikenal dengan sebutan fast moving consumer goods (FMCG). Barang-barang yang dijual di toko ritel banyak ragamnya sesuai jenis penamaan toko ritel.

Kita mengenal toko ritel khusus (specialty store). Toko ritel khusus adalah toko yang menjual jenis barang tertentu dengan berbagai macam variannya dengan jumlah persediaan barang dagangan yang cukup. Contoh toko khusus: toko buku, toko alat olah raga, toko kue, toko sepatu, dan lain-lain.

Selain itu, kita mengenal toko kelontong (convenience store). Toko kelontong adalah toko kecil yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari, makanan dan minuman kecil serta majalah dan koran. Toko kelontong terletak di dekat pemukiman penduduk. Contoh toko kelontong: Indomaret, Alfamart, Yomart, Circle K, Seven Eleven, dan lain-lain.

Bentuk toko ritel yang lain adalah toko swalayan (supermarket), toko serba ada (department store), toko kombinasi (combination store), hypermarket, toko diskon, factory outlet, dan katalog showroom (Kotler dan Keller, 2015).

Peran Logistik

Logistik ritel (retail logistics) akan menjamin ketersediaan produk-produk dari manufaktur dan pemasok lainnya untuk dijual di toko-toko ritel dalam jumlah yang mencukupi sesuai kebutuhan permintaan pasar, dengan kualitas produk yang terjaga, dan biaya logistik yang efisien.

Saat ini banyak toko ritel – terutama pasar swalayan, yang menjual produk-produk kategori produk-produk yang mudah rusak (perishable goods), seperti ikan segar, buah-buahan, sayur mayur, dan lain-lain. Produk-produk ini memerlukan sistem penyimpanan, transportasi, dan tempat dengan pengaturan temperatur dan kelembaban tertentu.

Logistik ritel telah bertransformasi, dari sekadar penyimpanan, pengangkutan, dan distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, namun logistik ritel saat ini mencakup pengelolaan demand chain dan supply chain.

Dalam mengelola logistik ritel, kita perlu memahami dan mengidentifikasi kebutuhan konsumen akan jenis produk, berapa banyak kuantitas produk yang diperlukan, dan kapan produk-produk tersebut diperlukan. Ini yang dikenal dengan demand chain.

Selain mengelola demand chain, logistik ritel mengelola supply chain. Pengelolaan supply chain dalam sektor ritel mencakup order pembelian, distribusi produk dari pemasok ke toko peritel, pembayaran ke pemasok, dan pengelolaan informasi jenis produk, lokasi, dan kualitas produk yang perlu dipasok dari pemasok ke toko-toko peritel.

Fernie dan Sparks (2014) menyebutkan lima komponen penting dalam logistik ritel, yang dikenal dengan logistics mix sebagai berikut:

  1. Fasilitas penyimpanan (storage facilities)

Logistik ritel memerlukan fasilitas penyimpanan berupa gudang (warehouse) atau Distribution Center (DC) atau secara sederhana mungkin sekadar stock point yang menyimpan produk-produk dalam jumlah yang mencukupi untuk menjaga persediaan produk yang optimal, untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan permintaan. Selain itu, fasilitas penyimpanan diperlukan untuk menjaga kualitas dan keamanan produk.

  1. Persediaan (inventory)

Umumnya semua peritel menahan atau menyimpan persediaan. Pengelolaan persediaan ini mencakup keputusan penentuan berapa jumlah stock atau persediaan yang harus disimpan, lokasi penyimpanan, kapan melakukan order pembelian, dan berapa jumlah barang setiap order pembelian, untuk menjamin ketersediaan produk dengan biaya penyimpanan persediaan yang paling efisien.

  1. Pengangkutan (transportation)

Hampir semua produk memerlukan transportasi untuk memindahkan produk dari lokasi produksi ke lokasi konsumsi. Karenanya, peritel harus mengelola transportasi yang dihadapkan pada berbagai jenis moda transportasi, ukuran container, jenis armada kendaraan, jadwal keberangkatan dan kedatangan transportasi, ketersediaan dan kesiapan kendaraan termasuk sopirnya.

  1. Unitisasi dan pengepakan (unitization dan packaging)

Produk-produk consumer umumnya dijual di toko ritel dalam jumlah dan ukuran yang kecil. Sementara produk-produk yang dipasok dari manufaktur dalam ukuran dan jumlah besar seperti container. Karenanya, dalam logistik ritel diperlukan unitisasi dan pengepakan. Unitisasi akan menyatukan produk- produk ritel dalam satuan kecil menjadi ukuran yang lebih besar. Produk dalam kemasan dengan satuan kaleng atau piece misalnya, akan disatukan menjadi satuan karton, box, atau pallet. Selain itu, untuk kepentingan handling dalam logistik ritel menuntut pengepakan produk yang kuat, mudah, dan efisien ketika dilakukan handling selama proses transportasi, penyimpanan, material handling, dan pemajangan produk di rak (shelves management).

  1. Komunikasi (communications)

Komunikasi memegang peran penting dalam sistem logistik ritel. Untuk mendapatkan informasi dimana produk dijual, jenis produk, berapa banyak, kapan, dan siapa pembeli produk-produk ritel, diperlukan sistem informasi dan komunikasi yang memadai. Tidak hanya informasi mengenai sisi permintan dan penawaran produk, melainkan informasi mengenai volume, stock, harga, dan pergerakan atau fluktuasi penjualan produk. Informasi ini penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem operasi logistik ritel.

 

Kelima komponen logistik ritel ini saling berkaitan. Kinerja logistik ritel ditentukan oleh koordinasi, harmonisasi, dan integrasi antarkomponen. Pengepakan dan unitisasi produk dari manufaktur akan menentukan kinerja pengangkutan dan penyimpanan. Informasi demand dan supply chain akan menentukan jumlah persediaan, jenis produk, dan fasilitas dan lokasi penyimpanan untuk pendistribusian produk-produk di toko-toko ritel.

Tolok ukur keberhasilan logistik ritel sejatinya ditentukan oleh logistics cost dan service level. Logistics cost berhubungan dengan biaya logistik total mulai dari biaya pemesanan, pengangkutan, penyimpanan, distribusi, dan penataan produk di toko-toko ritel. Sementara service level terkait erat dengan ketepatan jenis produk, waktu, lokasi, keamanan, keutuhan, dan kualitas produk selama proses aktivitas logistik sampai produk digunakan consumer. Dalam pengelolaan logistik ritel, sebagian dikelola sendiri (in-house logistics) dan sebagian diserahkan ke pihak ketiga (outsourcing logistics) ke 3PL company.

Desain Logistik Ritel

Di era kompetisi bisnis yang semakin ketat, daya saing perusahaan tidak hanya ditentukan oleh keunggulan komparatif yang mengandalkan sumber daya dan kapabilitas organisasi. Saat ini kompetisi didasarkan pada kompetisi berbasis waktu (time-based competition).

Setidaknya ada tiga dimensi dalam time-based competition seperti diujarkan oleh Christopher dan Peck (2003). Organisasi perusahaan harus mengelola time-based competition secara efektif untuk merespon perubahan lingkungan bisnis. Ketiga time-based competition tersebut adalah:

  • time to market: kecepatan perusahaan untuk mengkomersialisasi peluang bisnis ke pasar;
  • time to serve: kecepatan perusahaan dalam memenuhi order pelanggan; dan
  • time to react: kecepatan perusahaan dalam menyesuaikan perubahan permintaan yang berfluktuasi secara

Pendekatan kompetisi berbasis waktu mendorong perusahaan untuk mengembangkan strategi leadtime dalam pengelolaan bisnis. Semakin cepat dan pendek lead-time, maka perusahaan akan unggul.

Kunci keberhasilan bisnis sektor ritel terletak pada pengelolaan strategi lead-time ini. Logistik ritel tidak hanya persoalan pengelolaan inventory, penyimpanan, dan transportasi. Logistik ritel mencakup pengelolaan supply chain dan customer chain. Bila perusahaan berhasil dalam mengelola supply chain dan customer chain, maka penciptaan nilai akan dihasilkan. Ini yang dikenal dengan value chain sebagaimana dicetuskan pertama kali oleh Porter (1985).

Dalam logistik ritel, distribusi dibedakan menjadi primary distribution dan secondary distribution. Primary distribution merupakan distribusi produk dari pabrik ke warehouse atau DC. Sementara secondary distribution merupakan distribusi produk dari warehouse atau DC ke toko peritel.

Kotler dan Keller memberikan penamaan market logistics untuk menyebut logistik ritel ini. Dalam pandangan Kotler dan Keller (2015), market logistics mencakup perencanaan infrastruktur logistik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, untuk selanjutnya mengimplementasikan dan mengendalikan aliran produk-produk consumer dari titik asal ke titik tujuan sesuai kebutuhan pelanggan secara efisien dan efektif.

Alan McKinnon (1996) dalam Fernie dan Sparks (2014) memberikan rekomendasi untuk peningkatan kinerja logistik ritel dalam era time-based competition.

  1. Perusahaan ritel harus meningkatkan pengendalian atas secondary distribution dengan cara menggunakan DC dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang Saat ini produk-produk ritel dipasok dari berbagai negara, selain itu ketergantungan antaraliran produk semakin tinggi. Karenanya, operasional logistik harus terintegrasi, utamanya dalam pemenuhan order, pengisian stock, dan pengendalian aliran informasi pergerakan dan penyimpanan barang.
  2. Perusahaan ritel harus melakukan restrukturisasi sistem logistiknya dengan cara mengurangi tingkat persediaan barang, meningkatkan efisiensi melalui pengembangan “composite distribution”, yaitu distribusi produk-produk yang memerlukan tingkat temperature sama dalam satu DC dan satu kendaraan. Selain itu, perusahaan harus menerapkan sentralisasi warehouse untuk produk-produk yang slower moving dengan cara penggunaan warehouse bersama (common stock rooms).
  3. Perusahaan hendaknya mengadopsi “Quick Response” (QR). Tujuan dari penerapan QR untuk memangkas tingkat persediaan dan meningkatkan kecepatan aliran produk. Penerapan QR dapat mengurangi order lead time dan frekuensi pergerakan delivery barang antara DC dan
  4. Perusahaan harus meningkatkan utilisasi aset dan infrastruktur logistik dengan cara mengintegrasikan sistem jaringan primary distribution dan secondary distribution melalui penerapan Electronic Data Interchange (EDI). Penerapan EDI ini akan mengurangi waste karena perencanaan aliran fisik produk, dokumen, dan keuangan dapat diatur dengan
  5. Perusahaan harus meningkatkan aliran return packaged material and handling equipment untuk recycling atau re-use dengan cara mengembangkan “reverse logistics”.
  6. Perusahaan mulai mengenalkan pendekatan Supply Chain Management (SCM) and Efficient Consumer Response (ECR) untuk meningkatkan efisiensi operasi logistik. Kolaborasi antarpemasok untuk memaksimalkan kapasitas logistik akan dicapai efisiensi logistik ritel. Penggunaan fasilitas pergudangan dan moda transportasi bersama akan meningkatkan skala ekonomis sistem

Perkembangan dan tantangan logitistik ritel semakin meningkat terutama dipicu oleh teknologi internet yang memungkinkan perusahaan menerapkan strategi penjualan produk secara online, online dan offline, dan bahkan strategi ritel telah berkembang menjadi strategi Omni-channel.

Kemajuan teknologi internet memang dapat mendisrupsi bisnis sektor ritel, utamanya para pebisnis ritel konvensional, yang masih menggunakan satu saluran penjualan dalam berinteraksi dengan pelanggannya. Atau, kalaupun mereka telah mulai mengembangkan berbagai saluran penjualan (multichannel), antarsaluran tersebut tidak terintegrasi.

Akibatnya, perusahaan tidak dapat menangkap dan memberikan pelayanan penjualan secara maksimal ke pelanggannya, utamanya pelanggan yang telah menggunakan berbagai saluran media komunikasi: media sosial online sebagai netizens.

Keberhasilan bisnis ritel sejatinya ditentukan oleh empat faktor: ketepatan (pacing), pandangan global (span), ketersediaan (availability), dan informasi (Fernie dan Sparks, 2014).

Peritel pakaian yang telah memiliki jaringan global dan sukses seperti Zara contohnya, kunci keberhasilannya terletak pada kecepatan dalam time to market, time to service, dan time to react. Toko-toko Zara ramai dikunjungi pelanggannya dan produk-produknya selalu dibeli karena desain produk pakaian Zara selalu baru, tidak jarang produk-produk tersebut tidak produksi dan dijual lagi. Akibatnya, pelanggan Zara selalu datang dan membeli produk-produk pakaian Zara.

Bila para produsen pakaian hanya meluncurkan mode pakaian satu tahun sekali, tidak seperti Zara. Zara selalu meluncurkan produk pakaian mode baru setiap 2 minggu sekali. Dalam mendesain produk-produk pakaian, Zara mendengar dan melibatkan pelanggannya. Zara mencari tahu banyak mode pakaian apa yang diinginkan pelanggannya, serta mode pakaian apa yang saat ini menjadi tren.

Zara mengintegrasikan desainer, pemasok, dan toko ritelnya melalui pendekatan SCM yang andal. Akibatnya, Zara dapat mempendek lead time dan men-deliver produk-produk pakaian ke pasar dengan tepat. Sekali lagi, kunci keberhasilan Zara terletak di pacing atau speed-nya.

Selain pacing, para peritel harus mengembangkan pandangan global. Saat ini komponen produk dipasok dari berbagai negara. Produsen dan peritel harus mencari sumber pasokan produk yang paling murah dan biaya logistik yang paling efisien.

Ketersediaan (availability) menjadi kunci keberhasilan. Para peritel harus memastikan produk tersedia baik di toko maupun online. Logistik berperan penting dalam menjamin ketersediaan produk di toko dan ketepatan dalam pengiriman produk ke konsumen.

Informasi, bukan hanya pergerakan fisik produk, yang perlu menjadi perhatian dalam logistik ritel. Informasi aliran produk sangat penting untuk perencanaan forecasting penjualan, pemesanan produk, penentuan tingkat inventory, penyimpanan produk di gudang, pengelonaan transportasi, dan penyimpanan produk di rak-rak toko ritel. Penerapan ICT sistem logistik yang andal menjadi kunci keberhasilan dalam sistem informasi manajemen logistik ritel.

***

Peran bisnis ritel sangat penting dalam penjualan produk-produk yang dihasilkan dari sektor primer dan sekunder, seperti manufaktur, pertanian, dan perikanan. Produk-produk tersebut didistribusikan ke toko-toko ritel secara tepat jenis produk, tepat waktu, tepat lokasi, dengan kondisi atau kualitas tetap terjaga, dan dengan biaya distribusi yang paling efisien.

Seringkali kita sebagai konsumen beranggapan bahwa ketersediaan produk di toko ritel dalam jumlah yang mencukupi dan dengan kualitas yang baik merupakan sesuatu yang biasa. Padahal, untuk menjamin ketersediaan produk (product availability) dengan tepat, baik tepat kuantitas maupun kualitas memerlukan solusi sistem logistik yang andal. Dalam hal ini, logistik berperan penting dalam bisnis ritel.

Referensi

Fernie & Sparks (Editor), Logistics and Retail Management: Emerging Issues and New Challenges in the Retail Supply Chain, 2014.

Kotler & Keller, Marketing Management, Global Edition, 2015.