PusFid dan KPPU, selenggarakan Workshop untuk Investigator

(Kaliurang). Yogi S Wibowo, Kepala Bagian Kesejahteraan Pegawai Biro Organisasi dan SDM KPPU, membuka secara resmi Digital Forensics Workshop for KPPU Investigators yang merupakan kerjasama Pusat Studi Digital Forensik (PusFid) Universitas Islam Indonesia (UII)) bekerjasama dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

01 - PusFid dan KPPU Siapkan SDM Handal Ungkap Barang Bukti Digital. (2)

Kegiatan yang diikuti 25 Investigator KPPU dilaksanakan di Auditorium Lantai 3 Gedung KH Mas Mansur, Fakultas Teknologi Industri, Kampus Terpadu UII (29 Jumadal Awwal dan 1 Jumadal Akhirah 1438 H/ 27 dan 28 Februari 2017).

Yudi Prayudi, S.Si, M.Kom, Kepala PusFid UII disela-sela kegiatan menyatakan “tujuan dari workshop ini adalah meningkatkan kemampuan SDM di lingkungan KPPU khususnya dalam hal penanganan barang bukti digital guna membantu proses investigasi terhadap kasus-kasus yang menjadi lingkup penanganan KPPU” ujarnya.

Yudi Prayudi yang juga sebagai Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana FTI UII, menambahkan “output dari workshop tersebut, diharapkan adanya kesiapan SDM KPPU dalam hal pengetahuan dan skill untuk menangani kasus-kasus yang melibatkan bukti digital” pungkas Yudi

Jerri Irgo

Badan Cyber Nasional Mendesak Dibentuk

Yudi Prayudi

Pakar cybercrime Universitas Islam Indonesia (UII), Yudi Prayudi menandaskan perlu segera dibentuk Badan Cyber Nasional. Menyusul belum adanya koordinasi lintas sektoral dan multidimensi di antara lembaga yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas cyber (Lembaga Sandi Negara – Kementerian Komunikasi dan Informasi – Cybercrime Polri – Kementerian Pertahanan- Menteri Koordinatosi Politik dan Keamanan).

Yudi Prayudi mengemukakan hal tersebut kepada wartawan di kampus Fakultas Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta, Selasa (21/2/2017). Diharapkan keberadaan Badan Cyber Nasional bisa dilakukan koordinasi yang melibatkan sektor non goverment.

Saat ini, kata Yudi, infrastruktur sektor swasta masih ditangani secara mandiri. Sehingga pertahanan cyber kurang kuat saat menghadapi serangan. Karena itu, perlu ada koordinasi antara sektor swasta dan pemerintah.

Dijelaskan Yudi, berdasarkan hasil survei di Malaysia tahun 2015, semakin lama berinternet serangan semakin besar. Orang yang mengalokasikan waktu antara 1-24 jam per minggu online mendapatkan cybercrime sebanyak 64 persen. Selanjutnya, orang yang mengalokasikan waktu antara 24 – 49 jam/minggu untuk online mendapat serangan cybercrime sebesar 75 persen. Sedang yang mengalokasikan waktu online selama lebih dari 49 jam/minggu akan mendapat serangan cybercrime sebesar 79 persen.

Kata Yudi, ada tiga dampak dari serangan yaitu phishing, identity theft, hacking dan online harasment. Phishing adalah tindakan untuk memperoleh informasi pribadi seperti user ID, password dan data-data sensitif lainnya dengan menyamar sebagai orang atau organisasi yang berwenang melalui sebuah email.

“Melalui phising maka malware bisa masuk kedalam sistem ataupun akun bisa diambil alih. Data dari Verizon menunjukkan bahwa hampir 23 persen pengguna internet menjadi korban cyber crime melalui phising,” kata Yudi.

Sedang identity theft adalah meningkatnya aktivitas transaksi online serta prosedur pengisian form online menjadi media bagi pencurian data. Hacking adalah serangan terhadap sistem untuk maksud tertentu. Online harasment adalah kekerasan terhadap kelompok tertentu melalui media online,

Berdasarkan data dari Global Digital Snapshot bulan Januari 2017, populasi dunia sebesar 7.476 miliar jiwa. Sebanyak 3.773 miliar orang menggunakan internet atau 50 persen dari penduduk dunia. Pengguna internet terbagi 2.789 miliar orang atau 37 persen menggunakan media sosial, 4.917 miliar orang atau 66 persen menggunakan handphone, 2.549 miliar orang atau 34 persen pengguna active mobile sosial. “Saat ini, pengguna internet Indonesia sebesar 51 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan angka rata-rata dunia yang hanya 50 persen,” kata Yudi.

diberitakan di JogPaper

Jerri Irgo

MTI Inisiasi Kerjasama Penelitian

(Solo). Delegasi Magister Teknik Industri Program (MTI) Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) melakukan kunjungan silaturahmi dan inisiasi kerjasama penelitian ke Akademi Teknik Warga dan Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Surakarta (16 Februari 2017).

Direktur ATW, Y. Yulianto Kristiawan berfoto bersama Delegasi MTI PPs FTI UII

Direktur ATW, Y. Yulianto Kristiawan berfoto bersama Delegasi MTI PPs FTI UII

Ketua Delegasi, Dr. Elisa Kusrini, MT, CPIM, CSCP, Sekretaris Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) menyatakan “selain melakukan silaturahmi, juga melakukan inisiasi kerjasama penelitian” ujarnya.

Dr. Elisa Kusrini juga menyampaikan “Magister Teknik Industri telah membuka konsentrasi baru yaitu Logistic & Supply Chain, dari tiga sebelumnya yang sudah ada, yaitu Teknik Industri, Manajemen Industri dan Ergonomi dan Keselamatan & Kesehatan Industri. dibukanya konsentrasi baru tersebut, sebagai komitmen MTI mengambil peran meningkatkan kompetensi SDM dalam menjawab tuntutan bisnis sekarang sudah mengarah pada adanya jaringan antar perusahaan dan kolabarasi antar perusahaan” tegasnya.

Delegasi MTI PPs FTI UII photo bersama Dr. Eko Setiawan serta Pimpinan Prodi Teknik Industri UMS

Delegasi MTI PPs FTI UII photo bersama Dr. Eko Setiawan serta Pimpinan Prodi Teknik Industri UMS

Secara terpisah, Direktur ATW, Y. Yulianto Kristiawan dan Ketua Program Studi Teknik Industri UMS Dr. Eko Setiawan, menyambut baik dan sangat senang sekali dengan tawaran dari MTI tersebut, segera akan dilanjutkan dengan langkah-langkah strategis dalam waktu dekat ini.

Jerri Irgo

Supply Chain Jawab Tuntutan Bisnis.

01 Magister Teknik Industri - Supply Chain Jawab Tuntutan Bisnis

(Kaliurang). Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) membuka konsentrasi baru Logistic & Supply Chain. “Alasannya karena persainagn bisnis sekarang sudah bergeser dari persaingan antar perusahaan ke persaingan antar jaringan. Sehingga perusahaan dituntut untuk menguatkan jaringannya dwngen berkolaborasi dari hulu ke hilir. Oleh karena itu dibutuhkan profesional yang dapat mengelola bisnis untuk menjawab tuntutan tersebut”

Dr. Ir. Elisa Kusrini., MT, CPIM, CSCP, Sekretaris Program Pascasarjana FTI UII, menyampaikan hal tersebut saat release di Ruang PPs 1, lantai 1, Gedung KH Mas Mansur Kampus Terpadu UII Yogyakarta (5 Jumadal Awwal 1438 H/3 Februari 2017).

“Magister Teknik Industri mengambil peran meningkatkan kompetensi SDM dalam menjawab tuntutan bisnis sekarang sudah mengarah pada adanya jaringan antar perusahaan dan kolabarasi antar perusahaan, dengan membuka konsentrasi baru dari tiga sebelumnya yang sudah ada, yaitu Teknik Industri, Manajemen Industri dan Ergonomi dan Keselamatan & Kesehatan Industri” tegas Dr. Elisa Kusrini

Selain itu, perkembangan teknologi informasi terkini telah mampu membantu untuk merealisasikan suatu sistem yang terpadu sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan efisiensi biaya dan waktu dalam ruang lingkup yang lebih luas. Tujuan mengefisiensikan dan mensinkronisasikan demand supply inilah yang melatar belakangi lahirnya konsep Supply Chain Management (SCM).

Supply Chain Management adalah suatu konsep atau mekanisme untuk meningkatkan produktivitas total jaringan perusahaan dalam rantai suplai melalui peningkatan efektivitas aliran material,uang dan informasi antar perusahaan dalam jaringan rantai pasok. Dalam hal ini konsep SCM cocok diterapkan pada masa sekarang, karena sistem ini memiliki kelebihan dimana mampu meningkatkan customer service disatu sisi dan menurunkan cost disisi yang lain. “Supply Chain Management itu sangat luas dan sangat customized tergantung industrinya” pungkas Dr. Elisa Kusrini.

Jerri Irgo