Multimedia Forensik Bagi Praktisi Dan Akademisi

Multimedia Forensik Nora PPs FTI UII akbp M Nuh

Nora Lizarti Mahasiswi Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) konsentrasi studi Forensika Digital menerima tantangan AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, MSc., CHFI., CEI., ECIH untuk menyelesaikan penelitian tentang Multimedia Forensik, lebih tepatnya ke Framework Investigasi Forensik khusus untuk Multimedia.

“Menurut AKBP Muhammad Nuh, Kasubbid Komputer Forensik Puslabfor Mabes Polri , topik kajian framework yang saya teliti ini terlalu berat dan susah karena yang dikaji adalah 3 buah framework berbeda, namun insyallah penelitian ini tetap saya lanjutkan karena menimbang kontribusi dan adanya tahapan-tahapan yang memiliki terminologi yang sama” ujar Nora. Hal tersebut disampaikan seusai diskusi terbatas, yang diselenggarakan Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) UII di Ruang PPs 1, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII (9 Muharam 1438 Hi/11 Oktober 2016)

Menurut Nora, “Metode composite logic yang diterapkan nantinya dapat menghasilkan framework investigasi multimudia forensik yang berguna bagi praktisi dan akademisi”. “Penelitian ini konsepnya membangun sebuah framework baru untuk multimedia forensik yang terintegrasi, karena selama ini framework multimedia masih terpisah antara audio, image dan video. Gap masalah penelitian ini timbul merujuk dari sebuah penelitian bohme yang mengatakan bahwa multimedia forensik bukanlah komputer forensik, sehingga tahapan investigasinya tidak dapat disamakan dengan tahapan investigasi komputer forensik” imbuhnya.

“Selain itu, pada multimedia forensik ada sebuah proses rekayasa terhadap barang bukti (enhancement) yang harus di lakukan demi mendapatkan informasi, sehingga diharapkan kedepannya dengan adanya framework ini maka pertanyaan di pengadilan (seperti pada kasus jesica) terkait “mengapa ada proses zooming? – berarti barang bukti dapat di edit atau direkayasa dan adanya tampering (perusakan pada barang bukti) dapat di anulir dengan dasar adanya prosedur dan tahapan tersebut pada framework yang bersifat ilmiah” ujar Nora

“Alhamdulillah dengan adanya kegiatan diskusi bersama AKBP Muhammad Nuh yang juga sebagai Ketua Asosiasi Forensik Digital Indonesia (AFDI) dan Yudi Prayudi, M.Kom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital UII, hal tersebut sangat membantu, selain sharing pengalaman juga mendapat pencerahan dan didengarkan serta ditanggapi secara langsung dari Ahli Digital Forensik” pungkasnya

Jerri Irgo