Ojek: Dunia Paralel atau Kesenjangan Digital?

fathul_wahid

Di Indonesia, ojek telah menjadi salah satu layanan transportasi publik informal sejak beberapa dekade lalu, mulai sekitar awal 1970an. Yang dulunya, ojek dilayani menggunakan sepeda, akhirnya beralih ke sepeda motor. Ojek telah memberikan alternatif menyenangkan ketika layanan transportasi publik formal yang cukup dan handal tidak tersedia. Layanan serupa ojek juga dapat ditemukan di beberapa negara Asia lain, seperti Thailand dan Vietnam.

Mulai sekitar lima tahun lalu, layanan ojek di Indonesia, mendapatkan warna baru, dengan hadirnya layanan ojek berbantuan aplikasi bergerak. Di awal kemunculannya, beberapa gejolak penolakan terekam dalam media cetak dan digital. Namun, saat ini berita serupa sudah tidak banyak ‘terdengar’.

Pesatnya kepemilikan ponsel pintar menjadi salah satu peluang yang dimanfaatkan pemain bisnis ini. Sampai kini, telah banyak pemain yang mencoba peruntungan di sektor ini.
Pertanyaannya adalah: apakah kehadiran ojek berbasis aplikasi ini mengganggu ojek tradisional? Jawaban singkatnya: bisa ya, bisa tidak. Tergantung. Obrolan saya dengan beberapa pengojek memberikan jawaban yang lebih realistis.

“Dulu, saya mengira kalau kehadiran ojek berbasis aplikasi akan banyak mengganggu,” ungkap Fulan, seorang pengojek. Fulan merasakan dua dunia ‘perojekan’ tersebut di atas. “Namun, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan,” lanjutnya. Mengapa?

Pertama, pasar ojek tradisional dan berbasis aplikasi berbeda. Yang pertama biasanya mempunyai paguyuban dan tempat mangkal bersama, seperti di dekat stasiun kereta api atau terminal bis. Pasar mereka adalah penumpang moda transportasi publik tersebut yang ingin melanjutkan perjalanan atau yang tidak mempunyai aplikasi terinstal di ponselnya. Ojek berbasis aplikasi mempunyai pasar spesifik, seperti kalangan muda dan mahasiswa. Kata Fulan, mereka tidak pernah atau jarang menggunakan layanan transportasi publik.

Kedua, penghasilan normal per hari tidak berbeda jauh. Fulan menyebut kisaran angka. Memang ketika menjalankan ojek berbasis aplikasi, uang yang didulang per hari lebih tinggi. Namun, ojek jenis ini membutuhkan biaya tambahan seperti potongan sekian persen untuk pengelola, dan biaya sewa jaket atau helm. Selain itu, ojek jenis ini harus ‘berkeliaran’ yang membutuhkan bensin 1,5 sampai 2 kali lipat daripada ojek yang ‘mangkal’.

Ketiga, Fulan menyebutkan bahwa pengojek tradisional mempunyai ritme yang lebih santai. Pengojek berbasis aplikasi, kata Fulan, sering mengejar bonus dengan mengumpulkan poin. Pengejaran ini seringkali tidak selalu mulus, karena banyak hal, seperti pesanan fiktif dan pembatalan pesanan. Aturan yang semakin ketat dari pengelola, menjadikan pengojek berbasis aplikasi kadang harus berpikir dua kali.

Tentu, pengojek lain mungkin mempunyai pengalaman yang berbeda dengan Fulan. Yang jelas, selain harus mempunyai ponsel pintar, pengojek berbasis aplikasi harus mampu mengoperasikan aplikasi di ponsel. Sebagian besar pengojek adalah muhajir digital (digital migrant) yang tidak mengenal ponsel sejak kecil. Namun di lapangan ditemukan, meski mempunyai dua kemampuan tersebut, tidak semua pengojek tradisional tertarik menjadi pengojek berbasis aplikasi, karena beragam alasan. Ini adalah pilihan sukarela.

Jika ini kasusnya, apakah fenomena ini merupakan kesenjangan digital ataukah pilihan sukarela, yang membentuk ‘dunia paralel’: dua dunia yang berjalan dengan asumsi dan caranya masing-masing. Paling tidak, sampai saat ini dan beberapa tahun ke depan.

Mengapa? Fulan percaya, bahwa ke depan, bisnis ojek berbasis aplikasi lebih menjanjikan. Ojek jenis ini melampaui layanan yang dapat diberikan oleh ojek tradisional. Bantuan pengantaran beragam produk dan layanan lain, adalah contohnya. Ketika ojek berbasis aplikasi semakin meluas di setiap pojok Indonesia, cerita lain bisa jadi akan muncul. Ketika para pribumi digital (digital native) masuk bisnis ini, bukan tidak mungkin kesenjanganlah yang membesar. Kehadiran teknologi informasi, alih-alih membawa semangat inklusi yang merangkul semua kalangan, justru akan memperlebar kesenjangan digital. Ujungnya, kesenjangan sosial yang tidak diharapkan. Wallahu a’lam.

Tulisan Fathul Wahid, Ph.D, Dosen Magister Teknik Informatika PPs FTI UII ini telah dimuat dalam Kolom Analisis Harian Kedaulatan Rakyat pada 29 Oktober 2016 dengan judul yang lebih pendek “Kesenjangan Digital”

Jerri Irgo

Prospektif Industri Properti 2017

Okt 25 - Prospektif Industri Properti 2017

Perekonomian Indonesia tahun depan (2017) akan lebih menjanjikan dan membaik, sehingga sejumlah bank menggenjot penyaluran kredit yang dinilai potensial, diantaranya infrastruktur, properti dan konstruksi, pada triwulan IV-2016 dan tahun depan. Langkah ini diyakini bakal mendorong kenaikan laba perbankan di samping tetap melaksanakan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dengan menjaga rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL).

Demikian rangkuman pendapat Harsya Kamra Sutan Maradjo, Kepala Cabang Sleman PT BPR Danagung Bakti Yogyakarta, saat melakukan silaturhami ke Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta (25 Oktober 2016).

Kunjungan silaturahmi yang diterima Dr. R. Teduh Dirgahayu, ST, M.Sc, Direktur Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia di Ruang Kerjanya, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII, Yogyakarta.

Salah satu agenda yang didiskusikan adalah tentang prospektif industri properti tahun 2017 di Yogyakarta. Secara umum sangat baik, apalagi saat ini sebagian masyarakat tidak lagi mempertimbangkan jarak lokasi perumahan incaran mereka yang umumnya sekitar 15-30 km dari pusat kota Yogyakarta.

“Bisnis properti tetap menunjukkan prospek yang baik, dengan indikator salah satunya kenaikan harga dari waktu ke waktu, oleh karena itu PT Danagung Bakti Yogyakarta berinisitif menggandeng PPs FTI UII memberikan apresiasi kepada Developer DIY dengan mengadakan Diskusi Terbatas Prospektif Industri Properti 2017, yang insha Allah akan dilaksanakan pada bulan November 2016” pungkas Harsya Kamra.

Jerri Irgo

SIE Kenalkan Tata Kelola Teknologi Informasi Perbankan

 

Okt 22 - SIE Kenalkan Tata Kelola Teknologi Informasi Perbankan-2

Dr. R. Teduh Dirgahayu, ST, M.Sc, Kepala Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise melakukan kunjungan ke PT BPR Danagung Bakti Yogyakarta, selain silaturahmi juga memperkenalkan Proses Tata Kelola Berbasis Teknologi Informasi di Sektor Perbankan. Proses Tata Kelola Teknologi Informasi dapat berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lain, apalagi implementasi di sektor perbankan, unsur keamanan dan prosedur berlapis dapat saja digunakan. (22 Oktober 2016).

 

“Alhamdulillah, kami senang sekali, PT BPR Danagung Bakti memberikan respon baik dan bersedia melakukan kerjasama, diantaranya bersedia menjadi mitra program BootCamp. yaitu salah satu cara Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise memperkenalkan Tata Kelola Teknologi Informasi di Sektor Perbankan” ujar Dr. R. Teduh Dirgahayu yang juga sebagai Direktur PPs FTI UII.

Delegasi Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise (SIE), yang terdiri dari Jerri Irgo, Liaison Officer PPs FTI UII dan Ria Devina, Mahasiswa Magister Teknik Informatika PPs FTI UII diterima langsung Tedy Alamsyah, Direktur Utama PT BPR Danagung Bakti di Resto Hot Hot Crispy (H2C).

Secara terpisah Tedy Alamsyah “PT BPR Danagung Bakti menyatakn selalu berkomitmen untuk melakukan upaya pertumbuhan bisnis dengan menciptakan nilai tambah sehingga sangat tertarik dengan adanya Program BootCamp yang melibatkan S2 Mahasiswa Magister Teknik Informatika PPs FTI UII, setidaknya sebagai langkah awal dapat memetakan permasalahan, khususnya dalam proses tata kelola berbasis teknologi informasi di Danagung Bakti” ujar Tedy Alamsyah yang juga pemilik H2C, salah satu Resto di kawasan Demangan Yogyakarta.

Jerri Irgo

Internet of Things in Manufactur

Okt 19 - Smart Manufacturing 2

Internet of Things (IoT) telah menjadi topik yang hangat untuk dibicarakan akhir-akhir ini, termasuk yang menjadi suatu konsep yang mempengaruhi proses di Manufactur. Dr. R Teduh Dirgahayu, Kepala Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise Universitas Islam Indonesia (SIE UII), menjadikan Internet of Things in Manufactur sebagai tema Kuliah Umum bagi Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Panca Sakti, Tegal, Jawa Tengah (19 Oktober 2016).

Internet of Thing (IoT) adalah sebuah konsep dimana suatu objek yang memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke komputer. IoT telah berkembang dari konvergensi teknologi nirkabel, micro-electromechanical systems (MEMS), dan Internet.

Dr. R. Teduh Dirgahayu, dalam paparannya menyampaikan “Industri Internet of Things (IOT) adalah penggunaan Internet of Things (IOT) teknologi di industri, termasuk di Manufactur dengan tujuan agar dapat menjadikan Smart Manufacturing” ujarnya.

Smart Manufacturing membutuhkan teknologi untuk memastikan semua mesin bekerja, materi mengalir terlihat secara real-time, dan tim pekerja mengatur seluruh proses.

“Manfaat dari penggunaan Internet of Things (IOT) teknologi di bidang manufaktur, adalah efisiensi operasional jauh lebih baik melalui pemeliharaan prediktif dan manajemen remote, selanjutnya munculnya hasil secara ekonomi, yang didorong oleh layanan software-driven; inovasi dalam hardware; peningkatan visibilitas produk, proses produksi, layanan pelanggan dan mitra” pungkas Dr. R Teduh.

Materi Internet of Things Dr. R Teduh Dirgahayu

Jerri Irgo

PPs FTI UII – UPS Tandatangani Kerjasama

Okt 19 PPs FTI UII - UPS (2)

Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) Yogyakarta bekerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Panca Sakti (UPS) Tegal dalam bidang Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu bidang pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Penandatangan Memorandum of (MoU) dilakukan di Ruang Dekanat, Gedung Fakultas Teknik Universitas Panca Sakti (UPS) Kampus Jl. Halmahera Km. 01, Kota Tegal, Jawa Tengah (19 Oktober 2016)

Dr. R. Teduh Dirgahayu, Direktur Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia dan Dekan Fakultas Teknik UPS, Mustaqim, ST., M.Eng keduanya menyambut baik kerjasama tersebut. Kerjasama PPs FTI UII dan FT UPS yang merupakan sinergi yang sangat strategis dan saling menguntungkan.

Kerjasama yang dilakukan dalam ranah Tridarma Perguruan Tinggi. Nantinya tidak hanya melibatkan dosen namun juga mahasiswa. Kerjasama ini diharapkan dapat berujung pada masyarakat dan memberikan tambahan manfaat yang besar untuk masyarakat.

Jerri Irgo

BootCamp, Rancang Sistem Informasi Rumah Sakit

Okt 19 - BootCamp Rancang Sistem Informasi Rumah Sakit (2)
Mahasiswa Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri (PPs FTI UII) Yogyakarta, mendapat challenge dari Zaki Afiff, SE, Ketua Yayasan Rumah Sakit Umum Islam (RSUI) Harapan Anda Tegal saat Kunjungan Industri – Hospital Tour. berupa kegiatan penelitian yang dapat yang mendukung Sistem Informasi Rumah Sakit, Sudah banyak hasil penelitian Mahasiswa dan Dosen PPs FTI UII yang sangat menarik, sehingga bila dapat dikembangkan, maka sangat membantu Sistem Informasi Rumah Sakit, khususnya RSUI Harapan Anda.

Challenge tersebut disambut baik Dr. R Teduh Dirgahayu, Direktur Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) dengan melakukan diskusi terbatas di ruang kerja Zaki Afiff, SE, Gedung Utama RSUI Harapan Anda Jl. Ababil No.42, Randugunting, Tegal Sel., Kota Tegal, Jawa Tengah. Agenda diskusi diantaranya menjajaki kerjasama dalam hal penelitian bersama dengan program BootCamp bagi Mahasiswa yang mengambil konsentrasi Informatika Medis dan Sistem Informasi Enterprise. (19 Oktober 2016)

Hadir dalam diskusi, dokter Shahabiyah MMR, Direktur RSUI Harapan Anda dan dokter Silvia Wakil Direktur RSUI Harapan Anda serta Jerri Irgo, Liaison Officer PPs FTI UII.

Selain program BootCamp, juga disepakti untuk melakukan kegiatan penelitian bersama dan publikasi hasil penelitian serta seminar dengan topik kekinian. “Insha Allah, periode pertama akan dilaksanakan pada bulan November 2016, ditawarkan kepada 5 Mahasiswa, untuk mengikuti program BootCamp : Rancang Sistem Informasi Rumah Sakit ini” ujar Dr R Teduh

Jerri Irgo

Empat Ilmu Dasar Yang Wajib Kita Kuasai.

Empat Ilmu  Dasar  Yang Wajib  Kita  Kuasai.  M Nuh MI PPs FTI UII

“Ada 4 ilmu dasar yang wajib kita kuasai untuk dapat menjadi orang hebat, yaitu menguasai listening, reading, speaking, dan writing. Dengan 4 hal tersebut, maka kita dapat menggapai apa yang kita inginkan dan semua hal tersebut tidak instan datang, melainkan harus dilatih sejak sekarang” ujar Didik Sudyana mengutip pesan Ketua Asosiasi Forensik Digital Indonesia (AFDI) periode 2014 – 2019, .AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, MSc., CHFI., CEI., ECIH.

Didik Sudyana, Mahasiswa Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) konsentrasi studi Forensika Digital menyampaikan hal tersebut seusai diskusi terbatas, yang diselenggarakan Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) UII di Ruang PPs 1, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII (9 Muharam 1438 Hi/11 Oktober 2016)

“Diskusi bersama AKBP Muhammad Nuh banyak memberikan beberapa ilmu tentang forensika digital diantaranya beberapa ilmu dasar mulai dari apa itu deleted file, lost file, dan jujur untuk hal ini saya juga lupa, untung diingatkan kembali” ujar Didik

Didik menambahkan “Selain itu juga materi-materi tentang apa itu pixel, dan juga pembahasan tentang bagaimana melakukan forensik terhadap sebuah CCTV. Kemudian juga ada membahas terkait mobile forensik. Tidak hanya memberikan pembahasan tentang beberapa teori dan praktis dalam forensika digital”

Selain mendapatkan ide baru terkait penelitian, kami semua mendapat ilmu forensika digital kekinian, bahkan dapat kembali mengingat teori dasar yang mungkin sudah terlupakan. Selain hal-hal teknis tentang forensika digital, beliau juga memberikan ilmu soft skills untuk kami semua yang sangat bermanfaat” ujarnya.

AKBP Muhammad Nuh yang didampingi Yudi Prayudi, M.Kom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital UII, juga memberikan saran dan nasihat yang sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. “Diantaranya saran tentang dalam hidup ini terdapat 5 kategori seseorang itu dapat dihormati, yaitu dari harta, keturunan, jabatan, paras wajah, dan terakhir ilmu pengetahuan. Keempat hal pertama dapat hilang, tapi ilmu pengetahuan tidak akan pernah hilang., oleh karena itu kami dituntut untuk terus dan tidak bosan belajar mencari ilmu pengetahuan” pungkas Didik.

Jerri Irgo

Multimedia Forensik Bagi Praktisi Dan Akademisi

Multimedia Forensik Nora PPs FTI UII akbp M Nuh

Nora Lizarti Mahasiswi Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) konsentrasi studi Forensika Digital menerima tantangan AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, MSc., CHFI., CEI., ECIH untuk menyelesaikan penelitian tentang Multimedia Forensik, lebih tepatnya ke Framework Investigasi Forensik khusus untuk Multimedia.

“Menurut AKBP Muhammad Nuh, Kasubbid Komputer Forensik Puslabfor Mabes Polri , topik kajian framework yang saya teliti ini terlalu berat dan susah karena yang dikaji adalah 3 buah framework berbeda, namun insyallah penelitian ini tetap saya lanjutkan karena menimbang kontribusi dan adanya tahapan-tahapan yang memiliki terminologi yang sama” ujar Nora. Hal tersebut disampaikan seusai diskusi terbatas, yang diselenggarakan Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) UII di Ruang PPs 1, Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII (9 Muharam 1438 Hi/11 Oktober 2016)

Menurut Nora, “Metode composite logic yang diterapkan nantinya dapat menghasilkan framework investigasi multimudia forensik yang berguna bagi praktisi dan akademisi”. “Penelitian ini konsepnya membangun sebuah framework baru untuk multimedia forensik yang terintegrasi, karena selama ini framework multimedia masih terpisah antara audio, image dan video. Gap masalah penelitian ini timbul merujuk dari sebuah penelitian bohme yang mengatakan bahwa multimedia forensik bukanlah komputer forensik, sehingga tahapan investigasinya tidak dapat disamakan dengan tahapan investigasi komputer forensik” imbuhnya.

“Selain itu, pada multimedia forensik ada sebuah proses rekayasa terhadap barang bukti (enhancement) yang harus di lakukan demi mendapatkan informasi, sehingga diharapkan kedepannya dengan adanya framework ini maka pertanyaan di pengadilan (seperti pada kasus jesica) terkait “mengapa ada proses zooming? – berarti barang bukti dapat di edit atau direkayasa dan adanya tampering (perusakan pada barang bukti) dapat di anulir dengan dasar adanya prosedur dan tahapan tersebut pada framework yang bersifat ilmiah” ujar Nora

“Alhamdulillah dengan adanya kegiatan diskusi bersama AKBP Muhammad Nuh yang juga sebagai Ketua Asosiasi Forensik Digital Indonesia (AFDI) dan Yudi Prayudi, M.Kom, Kepala Pusat Studi Forensika Digital UII, hal tersebut sangat membantu, selain sharing pengalaman juga mendapat pencerahan dan didengarkan serta ditanggapi secara langsung dari Ahli Digital Forensik” pungkasnya

Jerri Irgo

Zero Month Waiting Time For Find A Job

twente_pps_fti_uii_belanda_indonesia_magister_teknik_informatika (3)

Average of 0 month waiting time for find a job after the study” hal tersebut disampaikan Dr. Luis Ferreira Pires, Program Director of MSc BIT, Faculty of Electrical Engineering, Mathematics and Computer Science, University of Twente, Netherlands, dihadapan Mahasiswa konsentrasi Sistem Informasi Enterprise Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII), pada kegiatan Studium Generale, bertempat di Audiovisual Gedung KH Mas Mansur, Rabu 5 Oktober 2016.

Dr. Luis Ferreira Pires menambahkan “setelah lulus, pilihannya dapat menjadi Researcher, Designer atau Entrepreneur”. Kegiatan tersebut adalah salah satu bentuk realisasi kerjasama antara UII dan University of Twente,  Delegasi Twente, selain Dr. Luis Ferreira Pires, Program Director of MSc BIT, Faculty of Electrical Engineering, Mathematics and Computer Science, juga hadir Stephan Maathuis, Faculty Director dan Janke Rademaker, International Affairs.

Selaku tuan rumah, Dr. R. Teduh Dirgahayu, Direktur Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII) juga melakukan rangkaian kegiatan diantaranya silaturahmi dengan Dr. Imam Djati Widodo, Dekan FTI UII, yang didampingi Hendrik, S.T., M.Eng., SAP IHL, OCA. Ketua Program Studi Teknik Informatika dan Hanson Prihantoro, ST., MT, Koordinator Bidang Keilmuan Magister Teknik Informatika PPs FTI UII serta Izzati Muhimmah ST, MSc, PhD, Ketua Pusat Studi Informatika Medis UII.

Belanda merupakan salah satu negara yang royal untuk menggelontorkan dana beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa asing yang berprestasi untuk belajar di Belanda. Tidak hanya beasiswa short course namun menyediakan beasiswa penuh bagi mahasiswa dari seluruh dunia.

“Sebagai universitas riset internasional terkemuka, Universitas Twente menawarkan suasana akademis yang menginspirasi bagi mahasiswa. Kami berkomitmen untuk memadukan ilmu sosial dan teknik serta menyediakan pengajaran dan penelitian berkualitas tinggi” pungkas Dr. Luis Ferreira Pires

Berita terkait : Belajar dan Bekerja di Belanda.

Jerri Irgo