Manajemen Risiko Picu Ilmu Praktis

teduh_dirgahayu_muhammad_zamkhani_asuransi_jiwasraya_pps_fti_uii_2016

YOGYAKARTA– Pengetahuan akan manajemen risiko dinilai perlu diketahui oleh mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja. Melalui penguasaan manajemen risiko, diharapkan mahasiswa memiliki keilmuan praktis saat menghadapi berbagai tantangan dan persoalan. “Bagi kami sendiri di program magister, pengetahuan akan ma najemen risiko cukup penting. Karenanya, baik di prodi magister teknik industri maupun di magister teknik informatika, kami memiliki mata kuliah khusus manajemen risiko.

Dengan memahaminya kami berharap mahasiswa kami bisa meningkatkan pengetahuan teknis secara komprehensif,” kata Direktur Program Pascasarjana FTI Universitas Islam Indonesia (UII)  Dr Teduh Dirgahayu ST MSc,  kemarin. Kepada wartawan di Kampus UII, Teduh menuturkan, asumsi pertumbuhan ekonomi nasional ke depan dapat lebih baik dari saat ini. Untuk itu berbagai perusahaan dapat berkembang lebih baik.

Dengan strategi manajemen risiko yang baik, perusahaan dapat berjalan dan tidak akan terlalu terganggu dengan tantangan-tantangan yang ada ataupun akan dihadapi. “Manajemen risiko tidak hanya sebagai strategi ke depan, tapi bisa juga meninjau kembali strategi yang telah diterapkan. Sehingga dapat lebih relevan dengan situasi yang berkembang. Kami ingin para mahasiswa kami bisa memiliki pengalaman teori maupun praktis terkait manajemen risiko ini,” ucapnya.

Guna membuka wawasan yang luas terkait manajemen risiko, Pascasarjana FTI UII pun menggelar kuliah perdana bertajuk Penerapan Manajemen Risiko pada Perkembangan Perusahaan Asuransi di Indonesia . Salah satu pembicara dalam kuliah perdana tersebut ialah Direktur PT Asuransi Jiwasraya, Muhamad Zamkhani. “Manajemen risiko merupakan hal yang wajib diterapkan oleh seluruh perusahaan ataupun industri, termasuk perbankan.

Hal ini untuk mengubah budaya yang biasanya reaktif menjadi budaya antisipatif. Apalagi seperti kami di industri perbankan, di mana dana dari publik dikumpulkan. Manajemen risiko inilah untuk mencegah kegelisahan atau kegoncangan,” ungkap Zamkhani.

Menurut dia, perusahaan di industri perbankan setiap tahunnya wajib melaporkan strategi manajemen risiko mereka ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Manajemen risiko sendiri baginya sangat perlu guna mengetahui mana saja risiko yang bisa dihindari, diantisipasi atau bahkan ditransfer. Dengan manajemen risiko pula, risiko yang tidak dapat dihindari bisa diminimalisasi.

“Kami hadir untuk berbagi pengetahuan praktis dengan mahasiswa UII. Dengan mengetahui apa dan bagaimana itu manajemen risiko, harapannya para mahasiswa bisa memiliki gambaran terkait karier dan peran mereka dalam dunia kerja. Apalagi di tiap keilmuan, sebenarnya manajemen risiko selalu punya peran,” tuturnya.

Diberitakan Sindo 

Jerri Irgo