Kejahatan Mengancam, Hati-hati Transaksi e-Commerce dengan Smartphone

Yudi Prayudi M Kom.Kejahatan Mengancam, Hati-hati Transaksi e-Commerce dengan SmartphoneYOGYAKARTA — Kepala Pusat Studi Forensik Digital (Pusfid) Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII), Yudi Prayudi MKom menegaskan agar masyarakat lebih hati-hati bertransaksi e-commerce dan perbankan melalui smartphone. Menyusul meningkatnya kejahatan cyber atau cybercrime yang terjadi akhir-akhir ini.

“Berdasarkan data yang dirilis RSA, kerugian akibat cybercrime tahun 2015 mencapai 516 billion dolar Amerika Serikat. Sebagian besar korban berbasis smartphone. Angka ini meningkat 173 persen atau hampir 200 persen dibandingkan dengan kejahatan yang sama pada tahun 2013,” kata Yudi Prayudi kepada wartawan di Kampus FTI UII Yogyakarta, Rabu (3/8/2016).

Karena itu, Yudi menilai merasa perlu untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang cybercrime. Sehingga masyarakat bisa menjaga keamanan dalam bertransaksi e-commerce dan perbankan menggunakan smartphone.

Kata Yudi, salah satu upaya untuk pembelajaran bagi masyarakat, FTI akan menggelar Hacking and Digital Forensics Exposed (HADFEX) yang digelar Kamis-Sabtu (4-6/8/2016). Rangkaian HADFEX ini meliputi workshop dasar tentang forensik digital serta teknik forensik digital untuk smartphone dan aktivitas media sosial.

Lebih lanjut Yudi menjelaskan cybercrime merupakan salah satu industri yang selalu tumbuh dari tahun ke tahun dengan tingkat return yang sangat besar, tetapi resiko kecil. “Berkembangnya industri blackmarket, meningkatkan teknologi e-currency (bit coin), semakin mudahnya mendapatkan tools yang tergolong sebagai crime toolskit serta munculnya berbagai teknologi baru untuk keamanan data dan komunikasi yang disalahgunakan fungsinya menjadi salah satu faktor dari meningkatnya aktivitas cybercrime,” kata Yudi.

Secara garis besar, kata Yudi, ada tiga kelompok yang menjadi korban dari aktivitas cybercrime yaitu perusahaan/organisasi/institusi, individu dan masyarakat. Kelompok perusahaan/organisasi/institusi mudah diserang cybercrime karena memiliki sumber daya manusia dan infrastruktur keamanan komputer minim.

Kedua, individu. Untuk kelompok ini terdapat tiga tipe individu yang mudah menjadi sasaran, unaware individual, don’t care individual, dan innocent by stander. Unaware individual adalah individu yang sama sekali tidak mengetahui adanya bahaya cybercrime. Kelompok don’t care individual adalah individu yang tahu ada bahaya cybercrime terhadap dirinya, tetapi tidak terlalu peduli terhadap bahaya cybercrime. Sedang kelompok innocent by stander adalah karena ketidakhati-hatian serta kurang waspada maka akhirnya kelompok ini menjadi korban cybercrime.

Meningkatnya serangan cybercrime, kata Yudi, dibutuhkan ahli forensika digital. Hal ini dimaksudkan tidak hanya untuk kepentingan penegakan hukum saja, tetapi juga untuk berbagai kepentingan lain. Di antaranya, organisasi atau perusahaan dapat selalu siap dan tanggap seandainya ada tuntutan hukum yang melanda dirinya, terutama dalam mempersiapkan bukti-bukti pendukung yang dibutuhkan. Seandainya, terjadi peristiwa kejahatan yang membutuhkan investigasi lebih lanjut, dampak gangguan terhadap operasional organisasi atau perusahaan dapat diminimalisir.

“Para pelaku kejahatan akan berpikir dua kali sebelum menjalankan aksi kejahatannya terhadap organisasi atau perusahaan tertentu yang memiliki kapabilitas forensik komputer,” tandas Yudi.

Diberitakan JogPaper