Mahasiswa UII Ciptakan Aplikasi EWS Demam Berdarah

Billy SabellaYOGYAKARTA — Mahasiswa Magister Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII), Billy Sabella berhasil menciptakan aplikasi early warning system (EWS) penyakit demam berdarah (DBD). Melalui aplikasi ini suatu daerah dapat diketahui waktu penularan penyakit demam berdarah.

Billy membuat aplikasi ini berdasarkan data-data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kotamadya Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Selama ini, data-data tersebut hanya dikumpulkan dan belum digunakan secara optimal.

“Ada tiga faktor yang menjadi penyebab menularnya penyakit demam berdarah yaitu faktor host, faktor lingkungan, dan faktor perilaku. Semakin berkembangnya penyebaran penyakit demam berdarah menjadikan indikator penyebab penyebaran penyakit semakin bertambah,” kata Billy Sabella kepada wartawan yang didampingi Lizda Iswari ST MSc, Aridhayati Arifin ST MCs (dosen Prodi Teknik Informatika), dan Izzati Muhimmah ST MSc PhD (Ketua Pusat Studi Informatika Medis) di Yogyakarta, Selasa (9/8/2016).

Lebih lanjut Billy menjelaskan faktor host meliputi umur, jenis kelamin, mobilitas. Faktor lingkungan meliputi kepadatan rumah, tempat perindukan nyamuk, tempat peristirahatan nyamuk, kepadatan nyamuk, angka bebas jentik, curah hujan. Sedangkan faktor perilaku meliputi pola tidur, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, menguras/membuang/mengubur sarang nyamuk.

“Untuk mengetahui hubungan antar parameter terhadap penyebaran penyakit demam berdarah digunakan pengujian analisis korelasi. Setelah pengujian korelasi, dilakukan teknik diskretisasi pada data parameter yang mempunyai pengaruh terhadap kejadian penyakit demam berdarah,” jelas Billy.

Berdasarkan hasil pengujian korelasi dengan nilai signifikan, curah hujan, kelembaban udara, kelompok usia penderita demam berdarah dan kepadatan penduduk terdapat hubungan yang signifikan. Kelembaban udara pada kelas 7 atau kisaran 85-87 persen dan dengan kejadian kasus demam berdarah pada kelas 1 atau sebanyak 0-7 kasus akan mempengaruhi kejadian kasus demam berdarah pada kelompok usia 0-4 tahun sebesar 94 persen. “Jadi wilayah dengan curah hujan tinggi, kelembaban tinggi, wilayah padat penduduk dan jumlah kelompok usia anak-anak akan meningkatkan penyebaran penyakit demam berdarah,” kata Billy.

Menurut Lizda Iswari, aplikasi yang ditemukan Billy Sabella masih merupakan aplikasi desktop dan belum dikembangkan sebagai aplikasi website. Pengguna aplikasi ini masih banyak ditujukan kepada pegawai Dinas Kesehatan. “Namun tidak tertutup kemungkinan aplikasi ini bisa menjadi pre-early warning sytem,” kata Lizda Iswari.

diberitakan JogPaper