Kombinasikan Tiga Macam Bed Menjadi Satu

Dalam dunia fisioterapi, bed atau tempat tidur terapi menjadi salah satu alat penunjang bagi pasien sekaligus memudahkan proses terapi. Sayangnya, sampai saat ini belum ada bed yang multifungsi karena tiap bed yang ada memiliki jenis bed terapi yang berdiri sendiri.

Berangkat dari permasalahan kebutuhan akan bed terapi multifungsi itulah, mahasiswa Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Farit Ardiyanto membuat bed terapi multifungsi. Bed yang dibuatnya tersebut bahkan disesuaikan dengan antropometri masyarakat Indonesia. “Bed terapi saat ini juga menjadi salah satu modal kerja para fisioterapis dalam membuka klinik mandiri.

Tidak mungkin tiap fisioterapis memiliki bermacam-macam bed terapi. Selain harga yang mahal karena harus beli beberapa, efisiensi tempat pun tidak tercapai. Sehingga kebutuhannya pun kalau bisa satu bed untuk semua jenis terapis,” ujarnya, kemarin. Kepada wartawan di kampus setempat, Farit menjelaskan, beberapa macam bed terapi fisik adalah bed terapi manual, bed terapi traksi, dan bed terapi tilting table .

Pada bed terapi buatannya, Farit mengombinasikan ketiga macam bed menjadi satu bed multifungsi. “Lewat penelitian, saya pun awalnya mencari tahu apa saja yang dibutuhkan para pasien maupun terapis. Tujuannya tentu agar bed yang jadi bisa memberi kepuasan pada penggunanya.

Ditemukanlah apa keinginan konsumen terhadap desain bed , mulai dari rangka yang harus kuat, cover bed awet dan tidak tembus air, mudah dibersihkan, nyaman saat pasien berbaring, serta posisi bed bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan,” paparnya. Dari segi harga, Farit pun menjamin harga bed multifungsinya lebih murah daripada bed terapi yang sudah ada di pasaran.

Ia sendiri mematok harga sekitar Rp8 juta untuk tiap bed yang sudah memiliki fungsi tiga macam bed terapis sekaligus. Sebagai perbandingan, satu bed dengan satu fungsi terapi yang ada di pasaran saat ini rata-rata seharga Rp6 juta, bahkan untuk bed normal saja harga pasaran sudah mencapai Rp4 juta.

“Bisa dikatakan ini lebih hemat. Saya sendiri sampai saat ini sudah menjual beberapa bed terapi multifungsi yang saya produksi sendiri. Selanjutnya saya berencana untuk mematenkan produk buatan saya ini dulu, baru saya akan membuka kesempatan bagi pihak industri yang berniat memproduksi secara massal,” katanya.

Farit mengaku membutuhkan waktu tiga pekan untuk penelitiannya tersebut hingga benar-benar bisa menghasilkan bed yang sesuai kebutuhan konsumen. Meski telah berhasil membuat bed terapi multifungsi, ia berencana melakukan beberapa penyempurnaan lagi agar bed buatannya tersebut benar-benar bisa mempermudah proses terapi pasien.

“Sepertinya masih perlu dibuatkan rail khusus yang digunakan untuk mengatur kabel kontrol yang dipakai agar lebih rapi. Untuk hak paten sendiri semoga bisa segera diurus,” tuturnya.

RATIH KESWARA – Yogyakarta – Sindo