Penerimaan Mahasiswa Pascasarjana PPs FTI UII

Pendaftaran calon mahasiswa baru Program Pascasarjana PPs FTI UII gelombang ketiga untuk periode perkuliahan September 2016 dilaksanakan sampai dengan tanggal 20 Agustus 2016, pukul 15.00 WIB (adapun syarat sebagaimana tautan persyaratan-persyaratan dan ketentuan)

Hal tersebut disampaikan Dr. R Teduh Dirgahayu, Direktur Program Pascasarjana FTI UII, di ruang kerjanya (17 Syawwal 1437 H/22 Juli 2016) Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII Yogyakarta.

PPs FTI UII, memiliki Magister Teknik Industri dan Magister Teknik Informatika. Magister Teknik Industri dengan konsentrasi studi Teknik Industri, Manajemen Industri serta Ergonomi dan Keselamatan & Kesehatan Industri, sedangkan Magister Teknik Informatika dengan konsentrasi studi Informatika Medis, Sistem Informasi Enterprise dan Forensika Digital

“Raihan akreditasi Magister Teknik Industri dan Magister Teknik Informatika PPs FTI UII, keduanya telah terakreditasi B – dari BAN PT. Selama ini PPs FTI UII telah berusaha secara optimal dalam bidang penelitian, kerja sama nasional dan internasional, penjaminan mutu, pembaruan sistem dan teknologi informasi, peningkatan kualitas dosen dan karyawan, internasionalisasi jurnal, dan mengutamakan kepuasan masyarakat. Beberapa hal tersebut sangat membantu capaian akreditasi” tutup Dr. R Teduh Dirgahayu.

Jerri Irgo

Polemik Game mobile Pokemon Go

Polemik game berbasis teknologi, Game mobile Pokemon Go, menjadi salah satu game mobile yang lagi booming akhir-akhir ini. Game Pokemon Go dianggap berbahaya untuk Indonesia, demikian disampaikan Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informasi Henri Subiakto. Pokemon Go yang awal Juli lalu diluncurkan oleh John Hanke di Amerika Serikat, Australia dan New Zealand, tidak cocok dimainkan di Indonesia.

Dikutip dari berbagai sumber, Pokemon di Game Boy dan DS (Nintendo) tadinya adalah program kartun dengan teknologi sederhana serta permainan kartu untuk ditukar, namun baru kali ini menjadi game di ponsel pintar. Menggunakan GPS (Sistem Pemosisi Global) memunculkan kembali monster-monster Nintendo Game Boy yang populer di tahun 90-an.

Menanggapi pesatnya pemanfaatan Teknologi Informasi tersebut, Hendrik, S.T., M.Eng., SAP IHL, OCA. Ketua Program Studi (Prodi) Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) mempunyai pendapat berbeda, dalam releasenya (14 Syawwal 1437 H / 19 Juli 2016) di ruang kerjanya Gedung KH Mas Mansur, Kampus Terpadu UII, Yogyakarta.

“Dianggap berbahaya, karena saat ini game yang menggunakan teknologi augmented reality, menggabungkan dunia maya yang ada di kamera ponsel pintar dengan tampilan fisik, belum menambahkan piranti rambu-rambu semacam alarm sebagai petunjuk” ujar Hendrik yang juga Tenaga Ahli di Pusat Studi Sistem Informasi Enterprise Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana FTI UII.

“Sehingga dengan adanya rambu-rambu semacam alarm tersebut akan dapat membantu pemain, walau harus berjalan mencari makhluk Pokemon yang tersebar di rumah, jalan, taman, masjid, dan tempat-tempat strategis lainnya. Dengan demikian, John Hanke, orang yang berada di belakang aplikasi Pokemon Go tersebut akan dapat membuat masyarakat lebih produktif dan tidak membahayakan serta aman dari persoalan cyber security” tuturnya.

“Menambahkan rambu-rambu semacam alarm tersebut bukanlah hal yang sulit bagi Niantic, perusahaan berbasis di San Francisco. Bahkan, prediksi saham Nintendo telah terus melejit lebih dari 25 persen berkat aplikasi yang berada di puncak Apple Store, karena terus melakukan inovasi dan memberikan nilai tambah yaitu mengingatkan pemain, sehingga walau asyik mengejar Pokemon para pemain tidak akan terlena” pungkasnya.

Jerri Irgo

Kombinasikan Tiga Macam Bed Menjadi Satu

Dalam dunia fisioterapi, bed atau tempat tidur terapi menjadi salah satu alat penunjang bagi pasien sekaligus memudahkan proses terapi. Sayangnya, sampai saat ini belum ada bed yang multifungsi karena tiap bed yang ada memiliki jenis bed terapi yang berdiri sendiri.

Berangkat dari permasalahan kebutuhan akan bed terapi multifungsi itulah, mahasiswa Magister Teknik Industri Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Farit Ardiyanto membuat bed terapi multifungsi. Bed yang dibuatnya tersebut bahkan disesuaikan dengan antropometri masyarakat Indonesia. “Bed terapi saat ini juga menjadi salah satu modal kerja para fisioterapis dalam membuka klinik mandiri.

Tidak mungkin tiap fisioterapis memiliki bermacam-macam bed terapi. Selain harga yang mahal karena harus beli beberapa, efisiensi tempat pun tidak tercapai. Sehingga kebutuhannya pun kalau bisa satu bed untuk semua jenis terapis,” ujarnya, kemarin. Kepada wartawan di kampus setempat, Farit menjelaskan, beberapa macam bed terapi fisik adalah bed terapi manual, bed terapi traksi, dan bed terapi tilting table .

Pada bed terapi buatannya, Farit mengombinasikan ketiga macam bed menjadi satu bed multifungsi. “Lewat penelitian, saya pun awalnya mencari tahu apa saja yang dibutuhkan para pasien maupun terapis. Tujuannya tentu agar bed yang jadi bisa memberi kepuasan pada penggunanya.

Ditemukanlah apa keinginan konsumen terhadap desain bed , mulai dari rangka yang harus kuat, cover bed awet dan tidak tembus air, mudah dibersihkan, nyaman saat pasien berbaring, serta posisi bed bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan,” paparnya. Dari segi harga, Farit pun menjamin harga bed multifungsinya lebih murah daripada bed terapi yang sudah ada di pasaran.

Ia sendiri mematok harga sekitar Rp8 juta untuk tiap bed yang sudah memiliki fungsi tiga macam bed terapis sekaligus. Sebagai perbandingan, satu bed dengan satu fungsi terapi yang ada di pasaran saat ini rata-rata seharga Rp6 juta, bahkan untuk bed normal saja harga pasaran sudah mencapai Rp4 juta.

“Bisa dikatakan ini lebih hemat. Saya sendiri sampai saat ini sudah menjual beberapa bed terapi multifungsi yang saya produksi sendiri. Selanjutnya saya berencana untuk mematenkan produk buatan saya ini dulu, baru saya akan membuka kesempatan bagi pihak industri yang berniat memproduksi secara massal,” katanya.

Farit mengaku membutuhkan waktu tiga pekan untuk penelitiannya tersebut hingga benar-benar bisa menghasilkan bed yang sesuai kebutuhan konsumen. Meski telah berhasil membuat bed terapi multifungsi, ia berencana melakukan beberapa penyempurnaan lagi agar bed buatannya tersebut benar-benar bisa mempermudah proses terapi pasien.

“Sepertinya masih perlu dibuatkan rail khusus yang digunakan untuk mengatur kabel kontrol yang dipakai agar lebih rapi. Untuk hak paten sendiri semoga bisa segera diurus,” tuturnya.

RATIH KESWARA – Yogyakarta – Sindo