Pemerintah Perlu Beri Pendampingan UKM

YOGYAKARTA – Kejahatan cyber semakin lama semakin menyebar luas dan tidak pandang bulu. Jika selama ini sektor bisnis yang sering menjadi sasaran ialah perusahaan besar, kini usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga banyak yang menjadi korban.
“Pemerintah sekarang ini tidak cukup jika hanya memberikan pelatihan internet dan teknologi informasi sebagai solusi meningkatkan daya saing dan kapasitas bisnis UKM. Program pendampingan terkait peningkatan kewaspadaan keamanan di kalangan pelaku bisnis UMKM juga sama pentingnya agar mereka tidak menjadi korban kejahatan cyber,” kata Ke pala Pusat Studi Forensika Digital (Pusfid) Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta Yudi Prayudi MKom di Kampus UII Yogyakarta, kemarin.
Menurut Yudi, pada umumnya pemilik bisnis UMKM, pegawai dan pelanggannya belum memiliki kesadaran yang baik mengenai pentingnya sistem keamanan komputer serta seluk-beluk dunia cyber crime. Lemahnya SDM itulah yang juga menjadi salah satu faktor yang dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk masuk dan membobol sistem yang ada dengan sejumlah malware dan ransomware.
“Di sini saya melihat ada kekeliruan pola pikir pada pelaku UMKM sendiri. Para pelaku bisnis ini justru seringnya beranggapan skala usaha mereka masih kecil sehingga tidak mungkin dijadikan sasaran aktivitas cybercrime. Padahal sekarang bukan besar kecil usaha bukan pertimbangan melakukan kejahatan,” kata Yudi. Yudi mengatakan, untuk menghindari atau setidaknya meminimalisasi UMKM sebagai target aktivitas kejahatan cyber , sistem keamanan dan policy perusahaan serta karyawan perlu diperketat.
“Para pelaku bisnis UMKM sudah selayaknya juga memberlakukan kebijakan sistem password yang ketat terhadap setiap sistem yang dimiliki. Kebijakan ini antara lain mengenai karakter minimal serta kebijakan update password secara reguler,” kata Yudi. Koordinator Kopertis Wilayah V DIY Dr Ir Bambang Supriyadi CES DEA mengatakan, perkembangan teknologi informasi kini telah menjadi strategi di kalangan masyarakat dalam menghadapi daya saing MEA.
Contoh nyatanya ialah munculnya aplikasi online seperti taksi online maupun ojek online. Hal tersebut juga membuktikan perkembangan TI menjadi berkah tersendiri untuk ekonomi baru yang lebih efisien, inovatif, dan bisa dijangkau untuk semua lapisan masyarakat.
Jerri Irgo