Profesi Investigator Forensik Digital Miliki Peluang Karir yang Menjanjikan

Semakin tingginya ancaman kejahatan siber telah membuat perusahaan-perusahaan dan institusi pemerintah meningkatkan kewaspadaannya. Sebagaimana mengutip data dari PwC (PricewaterhouseCoopers) dan RSA Security LLC, cybercrime telah menjadi ancaman serius dengan nilai kerugian secara global menyamai pendapatan nasional sebuah negara. Untuk mencegah dan menanggulangi hal itu, telah berkembang sebuah ilmu yakni forensik digital yang berupaya menggali dan menganalisis barang bukti digital untuk mengungkap pelaku kejahatan siber. Namun sayangnya, para ahli dan praktisi forensik digital hingga saat ini jumlahnya masih sangat terbatas.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Studi Forensika Digital (PUSFID) UII, Yudi Prayudi, M.Kom kepada awak media yang menghadiri jumpa pers penyelenggaraan acara Hacking and Digital Forensic Exposed (HADFEX). Acara berlangsung di Indoluxe Hotel, Jalan Palagan Tentara Pelajar, Jogja pada Sabtu (28/11).

“Di kalangan penegak hukum sendiri, penyidik yang memiliki kemampuan sebagai investigator digital masih di bawah 10%. Sebagian besar justru diambil alih oleh pihak swasta yang dikenal sebagai private investigator”, katanya. Sudah bukan rahasia lagi, jika institusi perbankan, asuransi, dan perusahaan multinasional kerap memakai jasa profesi ini untuk melindungi institusinya dari ulah penjahat siber. Bahkan, secara internal mereka terkadang memiliki unit tersendiri untuk menangani kasus yang mengarah pada cybercrime.

Oleh karena itu, ia yakin bahwa prospek profesi investigator digital ke depannya akan memberi peluang karir yang menjanjikan. Sebab tingginya kebutuhan akan keahlian digital forensic di pasar belum diimbangi dengan ketersediaan sumberdaya manusia yang memadai. “Saat ini jurusan Teknik Informatika UII juga tengah fokus menyiapkan kebutuhan SDM di bidang forensika digital”, tambahnya.

Hal ini juga dibenarkan oleh AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, salah seorang narasumber HADFEX, bahwa gaji seorang private investigator digital di luar negeri sangat tinggi. “Saya pernah mendapat tawaran untuk bekerja di Inggris sebagai investigator forensik digital, mereka menawarkan gaji fantastis karena sadar betul akan pentingnya profesi ini untuk melindungi keamanan perusahaan”, ujar pria lulusan University of Strathclyde, Skotlandia tersebut. Namun dirinya menampik tawaran itu dan lebih memilih mengabdi di Lab digital forensic Puslabfor Mabes Polri.

Beberapa narasumber lain yang juga mengisi HADFEX, antara lain Ardi K. Suteja dari ICSF (Indonesia Cyber Security Forum), Charles Lim dari Swiss German University, Yasser Hadiputra dari CISO Magazine, Roni Sadrah dari Bounga Solusi Informatika, dan Tintin Hadijanto dari EC-Council.

Diberitakan di UII.