Twit Forensic, Aplikasi Pengungkap Cyber Crime

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA — Alumni Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII Yogyakarta, Arif Nugrahanto mengembangkan aplikasi twit forensic. Aplikasi ini bisa membantu penegak hukum untuk mengungkap kejahatan dengan barang bukti Twitter.

Demikian diungkapkan Yudi Prayudi, Kepala Pusat Studi Forensika Digital FTI UII Yogyakarta kepada wartawan di Yogyakarta, Sabtu (18/4). Aplikasi Twit Forensic dapat digunakan sebagai alat investigasi artefak digital Twitter dengan cara melakukan analisa aktivitas pemilik akun yang bersangkutan.

“Ketersediaan aplikasi ini membantu penegak hukum dalam melakukan analisis dan identifikasi untuk mendukung proses penyidikan,” kata Yudi Prayudi.

Walaupun belum maksimal, kata Yudi, aplikasi ini cukup handal untuk memberikan support ketersediaan informasi awal yang diperlukan dalam proses penyidikan. “Aplikasi ini tidak kalah dengan berbagai tools forensic yang dihasilkan vendor luar negeri,” katanya.

Untuk keperluaan investigasi, ketersediaan barang bukti twitter forensic juga dapat diperoleh dari penyedia tools. Namun untuk mendapatkan data yang dibutuhkan memerlukan prosedur yang rumit. “Adanya aplikasi ini bisa mempermudah para penegak hukum,” katanya.

Twitter, kata Yudi, merupakan media sosial yang semakin banyak digunakan sebagian besar masyarakat dunia. Hingga kuarter 4 tahun 2014, pengguna aktif twitter ada 288 juta di dunia.

Saat ini, Indonesia termasuk salah satu Top Countries yang aktif mengakses Twitter. Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah pengakses sebesar 6,5 persen dari keseluruhan pengakses Twitter.

Pengguna Twitter juga memberi manfaat positif bagi teknologi komunikasi di Indonesia. Di antaranya, penyebaran informasi positif dan media jual beli barang/jasa. Kemudahan tersebut juga membawa dampak negatif tersendiri. Seperti informasi yang disebarkan tidak benar atau bahkan menjelekan nama orang lain.

Pengaduan masyarakat tentang informasi yang merugikan berdasarkan aktivitas seseorang melalui Twitter sudah mulai banyak diterima penegak hukum. “Kondisi ini menutut penegak hukum untuk memiliki kemampuan, baik dari aspek teknologi, pengetahuan maupun ketrampilan untuk mengungkap kasus-kasus yang ditanganinya yang didasarkan pada barang bukti berupa aktivitas twitter,” tandasnya.

 

Diberitakan di Republika On Line

Mahasiswa UII Kembangkan Aplikasi Twit Forensic

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Di tengah era digital yang saat ini semakin berkembang, keberadaan jejaring sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi sebagian orang. Sudah menjadi hal yang jamak jika saat ini seseorang membagikan kegiatan sehari-hari mereka di jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook.

Karena telah menjadi bagian dari pribadi pemiliknya, tak jarang jejaring sosial bisa menjadi petunjuk awal pengungkapan sebuah kasus. Berangkat dari hal tersebut mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) jurusan Teknik Informatika Arif Nugrahanto menciptakan aplikasi Twit Forensic.

“Dalam tiga tahun terakhir ini semakin banyak pengungkapan kasus kejahatan dengan barang bukti menggunakan twitter,” ujar Arif, saat ditemui di gedung Fakultas Teknik Industri, jalan Kaliurang km 14,5 Yogyakarta, Sabtu (18/4).

Twit Forensic adalah sebuah aplikasi yang dapat digunakan sebagai alat invesitigasi artefak digital twitter dengan cara melakukan analisa aktivitas pemilik akun yang diinginkan. Aplikasi tersebut mampu menampilkan informasi awal yang diperlukan dalam proses penyidikan sebuah kasus.

Tanpa harus masuk ke laman twitter, pengguna Twit Forensic bisa mengetahui status, mention, folower, folowing, dari sebuah akun.

“Meskipun hal-hal tersebut bisa kita lihat di laman akun twitter seseorang, dengan aplikasi ini kita lebih mudah memetakan aktivitas dari sebuah akun,” ujarnya.

Seperti jika kita ingin melihat status dari sebuah akun, kita akan mendapatkan informasi kapan status tersebut dibuat, direplay oleh siapa saja, diretwet oleh siapa saja. Data tersebut tersaji dalam satu halaman, sehingga mudah untuk melakukan identifikasi terhadap aktivitas akun twitter.

Arif Nugrahanto menambahkan, aplikasi yang dikembangkannya mampu menggali dan menampilkan 3200 status yang telah diposting. Sedang untuk aktivitas mantion, aplikasi ini mampu menggali mantion yang masuk ke sebuah akun dalam rentan waktu sebulan kebelakang.

Ditambahkan Yudi Prayudi selaku Kepala Pusat Studi Forensik Digital FTI UII, saat ini di Indonesia belum terdapat aplikasi yang memiliki fungsi sama seperti dengan Twit Forensic.

“Jika buatan luar negeri memang sudah ada. Tetapi dengan perkembangan media sosial yang sedemikian pesat, kita harus memiliki alat untuk kegiatan forensik di media sosial, tidak selalu tergantung dengan vendor asing,” ujanya.(*)

Diberitakan di Tribun Jogja

Hariyanto: Supply Chain Manajemen Berbantuan Teknologi Informasi

Hariyanto, SE, MM, Direktur Utama PT Pos Logistik Indonesia, akan hadir sebagai Pembicara Kuliah Perdana Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (PPs FTI UII), bertempat di Auditorium Gedung KH Mas Mansur, FTI UII, Kampus Terpadu UII, Jl Kaliurang Km 14,4 Sleman Yogyakarta pada hari Sabtu 25 April 2015.

“Adapun tema Kuliah Perdananya adalah Supply Chain Manajemen Berbantuan Teknologi Informasi”, hal tersebut disampaikan oleh Zaroni, Chief Head of Planning and Business Development PT Pos Logistik Indonesia melalui pesan singkatnya (14/4/2015)

Hariyanto bukan lah sosok yang baru di dunia jasa pengiriman dan logistik di Indonesia. Putra Makassar ini telah berpuluh tahun malang melintang di PT Pos Indonesia (Persero) dalam berbagai penugasan. Dunia jasa pengiriman surat dan paket (jasa pos) yang membawa dirinya naik menjadi Direktur Utama PT Pos Logistik atau yang disingkat dengan PosLog.

PT Pos Logistik Indonesia adalah Anak perusahaan PT Pos Indonesia (Persero), mempunyai visi Pos Logistik “Menjadi penyedia solusi logistik terpadu yang terpercaya, terluas, dan terkemuka di Indonesia”. Sebagai profesional, Hariyanto selalu berusaha meninggalkan legacy yang baik bagi organisasi yang dipimpinnya.

Jerri Irgo

Sistem Keamanan Web dan Jaringan Komputer

“Sistem Keamanan web dan jaringan komputer merupakan proses untuk mencegah dan mengidentifikasi penggunaan yang tidak sah dari web dan jaringan komputer menjadi latar belakang kegiatan Pekan Teknologi dan Informatika (PETA) 2015, Universitas Siliwangi Tasikmalaya”

Nur Widiyasono, Dosen Teknik Informatika Universitas Siliwangi Tasikmalaya yang juga  ahli digital forensik Indonesia menyampaikan hal tersebut sesaat setelah Drs. H. Budi Budiman, Walikota Tasikmalaya membuka  Seminar Nasional Sistem Kemananan Web dan Jaringan Komputer di Gedung Mandala Kampus Universitas Siliwangi Tasikmalaya Jawa Barat (11/04/2015)

“Antisipasi terhadap resiko penyalahangunaan baik berupa bentuk ancaman fisik maupun logik secara langsung ataupun tidak langsung dapat mengganggu aktivitas yang sedang berlangsung dalam jaringan komputer”  ujar Nur yang juga sebagai narasumber seminar.

Nur Widiyasono,  yang saat ini sedang menyelesaikan penelitiannya, untuk mendapatkan Master di Magister Teknik Informatika Program pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (MI PPs FTI UII) Yogyakarta menambahkan  “Cyber Crime & Digital Forensics menjadi tahapan penting bagi pencegahan yang membantu untuk menghentikan pengguna yang tidak sah dalam mengakses setiap bagian baik web maupuan sistem jaringan komputer”

Tampak hadir selain Nur Widiyasono, juga hadir Onno Widodo Purbo tokoh dan pakar di bidang teknologi informasi Indonesia.

Jerri Irgo